Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Teknik Industri’ Category

Ini berkaitan dengan pengalaman saya selama ini ketika berselancar di dunia maya mencari artikel-artikel yang berkaitan dengan teknik industri. Ternyata kok susah ya? Apalagi artikel-artikel yang berbahasa Indonesia sangat jarang. Tentunya bagi Industrial engineer newbie pasti akan menyulitkan. Coba lihat tulisan di Wikipedia mengenai teknik industri, ternyata memang teknik industri itu sangat luas. Barangkali karena [...]
  • Comments Off
  • Filed under: Internet, TI, Teknik Industri
  • Polemik Plagiat

    Beberapa waktu yang lalu, salah satu teman saya tertunda sidang Tugas Akhirnya karena terkena dugaan plagiat. Sampai sekarang, kasus tersebut belum juga tuntas. Dari isu yang beredar, hukuman paling ringan berupa mengulang tugas akhir sedangkan hukuman paling berat berupa dicabut status mahasiswanya alias Drop Out. Astaga! Dampak dari adanya kejadian tersebut, banyak mahasiswa TI yang [...]
  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, TI, Teknik Industri, akademik
  • Ketika Boyband Masih Berjaya

    Saya gak tahu kapan pertama kali boyband ada. Boyband modern, seingat saya, sangat ngehit sekitar tahun 90-an awal. Waktu itu, saya ingat kakak perempuan saya ngefans banget dengan Jonathan Knight, saudara dari Jordan Knight. Keduanya personil dari New Kids On The Block, belakangan sering disingkat NKOTB. Personil lainnya ialah Joe Mcintyre, Donny Wahlberg, dan Danny something (sorry ga inget). Hitsnya terutama lagu-lagu mellow atau yang ngedance. Dulu, di TPI jam setengah delapan sampe ada kartunnya, yang isinya nothing kecuali cerita bahwa personil NKOTB ini dikejer-kejer ama cewek-cewek.

    Sekarang nggak kedengeran lagi kabar mereka. Mark, adik Donny Wahlberg, malah lebih eksis sebagai bintang film. Joe sempat bikin solo. Yang lain udah pada jadi bapak-bapak kali.

    Waktu saya SMP, saya juga inget saya sampe bela-belain beli kaset (waktu itu masih zamannya kaset...) Backstreet Boys. Saya nggak ngefans-ngefans banget sih, tapi lagunya emang ringan dan earcatching koq (aduh malu ngakunya...he33x). Saya juga sempat beli Boyzone, yang ada lagu Words-nya itu lho...

    Ih, banci lo! Biarin! Namanya juga masih muda, banyak membuat kesalahan = p. Dan saya juga gak ngerasa less masculin dengan dengerin boyband. Lagian perasaan saat itu semua temen saya juga suka. Teman SMP saya yang kemudian berjumpa lagi di TI malah lebih ngefans. Dia sempet punya kaset Code Red (ada yang inget boyband ini?), dan satu boyband lagi yang saya lupa namanya, yang video klipnya itu settingnya perang vietnam (yeah right, boyband di perang Vietnam! Green Day aja kalah!), dan salah satu personilnya naksir gadis lokal sana yang seinget saya cakep banget = p. Saya gak punya, dan saya pinjem ke dia...he33x, segitunya yak?

    Awal 2000-an era boyband akhirnya surut (biarpun sekarang ada aja segerombolan pemuda yang ketinggalan jaman dan belagak boyband...hareeeee gineeeeee???). Kata yang sinis, boyband sekarang diganti ama pemuda-pemuda ’manis’ yang nyanyiin lagu sweet pop atau punk pop. Beberapa personil boyband di akhir masa jayanya bernasib mengenaskan. Selain gendut, jenggotan (tapi untungnya, gak khotbah...=p ), ada yang kecanduan alkohol, mengaku dirinya gay, dan serta merta menghancurkan ribuan pemuja wanitanya (dan sayangnya juga, segmen pendengar lain, para gay, tidak berubah jadi ngefans ama nih personil boyband. Poor him...). Ada juga yang akhirnya ngaku poligami! Hah? Oh sorry, yang itu bukan personil boyband ya? = p.

    Mode narsis: ON

    Tetapi di TI 2002, sisa kejayaan boyband itu masih ada. Ini contoh aksinya. (siap-siap kantong buat muntah).

    Ini boyband pertama yang terpotret. Dipilih lewat kontes yang mirip boyband idol, atau apalahitunamanya. Ini salah satu personilnya sedang dengan tak tahu malu berkicau. Maksudnya, sedang show.

    Boyband yang berisi trio itu sangat tidak nyaman. Bayangkan, atensi fans-fans mereka hanya terbagi untuk tiga orang! Wow. Terus terang, mereka rasa itu sangat berat. Akhirnya mereka bubar.

    Tetapi personil yang satu itu memutuskan bergabung dengan boyband lain, sehingga ada lima personil. Secara ekonomis, itu pilihan cerdas. Beban tampil terbagi lima, pangsa pasar yang diambil makin banyak (karena personilnya makin banyak dan beragam), dan terutama, atensi dan kegilaan para fans pun terbagi lima juga. Ini fotonya, dengan pose standar boyband.

    Zaman berubah, era boyband surut. Begitu juga boyband di TI 2002. Para personilnya menempuh jalan masing-masing, dan semua mengaku kapok berada lagi di dunia showbiz.

    Mode narsis: OFF

    Sebenernya kemaren ada buka bareng a la seleb (dicoret soalnya ntar yang bikin pundung = p) TI 2002 yang penuh hikmah dan kenangan, terus diliatin juga foto-foto kenangan jaman dulu.

    Dan harus saya akui, foto-foto diatas adalah yang terbaik (mode narsis: gagal di-OFF! = p).

    Mode narsis: really OFF

    Aduh, saya rindu banget masa-masa itu...

    NB: this blog is getting personal again!

    NB lagi: sebenernya sih ngisi kekosongan postingan aja sih (gile, bulan ini tanpa postingan berarti!)…hehehe, ketauan deh motifnya. Tulisan yang benernya ntar deh (kalo ada dan kalo niat).

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri, daily, kehidupan, me
  • TEKNIK INDUSTRI ITB ANGKATAN 2002 (yang tidak datang telat sewaktu difoto)
    Para pria berdiri di belakang (ki-ka): Godong, Chris, Hendry, Adit, Suntar, Fajar, Bonar, Iboy, Raja, Ismail, Komang, Krishna, Adit Solo, Aan
    Para wanita di tengah: Astri, Rina, Intan, Adita, Vetri, Dini, Elva, Mariena, Anggia, Ratna, Nadia, Aliva, Tarcil, Julie
    Duduk di depan: Saya, Roja, Trian, Ical, Bon2, Yuyut, Viar, Beben, Ubrit, Olga, Echa, Tarde, Diko, Dilla, Anis, Dissy.
    Foto bagus ini diambil di depan gedung Labtek III TI oleh temennya Ubrit (sorry, lupa namanya...)


    Suka nonton LOST? Kisah tentang penerbangan Oceanic 815 yang jatuh terdampar di pulau antah berantah yang penuh misteri. Ada beragam karakter yang menarik disana, dan interaksi antar karakter, respon mereka terhadap beragam peristiwa, melahirkan banyak episode yang sangat bagus, terkadang inspiratif.

    Saya selalu merasa keberadaan kami di ITB ini, pada suatu tahun yang akhirnya dinisbatkan kepada kami (Angkatan 2002 TI-ITB), somehow analog dengan kisah di serial favorit saya itu. Seperti penumpang Oceanic 815, kami tidak saling mengenal (OK, beberapa memang telah saling mengenal) sebelum jatuh terdampar di rimba TI-ITB. Seperti juga mereka, kami masing-masing punya beragam latar belakang dan motif sehingga terdampar di TI ini. Tapi tiba-tiba, atas kuasa-Nya, begitu saja kami dipertemukan dan bahkan diharuskan utnuk mau tidak mau bersama untuk survive, seperti juga Jack dan kawan-kawannya yang mau tidak mau harus bersama dan bekerja sama untuk tetap survive di pulau antah berantah tersebut. Sudah nasibnya…

    Kami tidak dipimpin oleh orang seperti JAck yang dokter, macho, atletis dan sangat kompeten, tapi kami juga tak pernah mengeluh dipimpin oleh JAlu yang chubby dan sangat berwibawa (yah…minimal awalan “JA” dari Jalu dan Jack sama lah…). Tidak ada Kate yang kuat dan kekar, tapi ada banyak wanita diantara kami yang juga tak kalah kuat dan sangat membantu keseluruhan kami. Di awal-awal masa terdamparnya kami di ITB, to some extent, panitia dan orang-orang yang terlibat di PPAB MTI mungkin berperan seperti the Others dalam serial tersebut. Beberapa ada yang tetap tak bersepakat dengan ‘the Others’ itu, tapi banyak juga yang sepakat, dan itu tak mengubah apapun saya rasa.

    Nah, seperti yang saya katakan di awal, mau tidak mau kami harus bersama untuk survive. Maka dimulailah proses saling kenal mengenal. Ini juga bukan proses yang mudah, mengingat begitu beragamnya kami. Ada banyak tugas kuliah untuk dikerjakan, proses-proses ospek yang melelahkan, serta kegiatan-kegiatan bersama untuk dijalani. Ada banyak kemarahan, gerundelan, gumaman, ketidakpuasan, protes, tangisan, kebahagiaan, keharuan, gosip, bahan tertawaan, pertengkaran (?)…Ada satu cinta yang sudah dikonkretkan (selamat buat Bunga & Tony! Di foto tidak ada karena mereka berdua sedang sibuk menyiapkan pernikahan). Keseluruhan yang pernah dijalani tersebut akhirnya melahirkan semacam rasa saling pengertian, rasa maklum…semacam ungkapan, “iya lah, dia kan orangnya kayak gitu…”, tapi tanpa rasa sinis atau benci. Hanya rasa maklum, mengerti, dan insya ALLAH tetap saling membantu. Yah, mau gimana lagi? Mau nggak mau kita tetap harus survive dan bisa lolos dari jeratan pulau maut ini.

    Sudah hampir 4,67 tahun kami bersama (kalau di LOST udah season 4), dan sebagian dari kami telah lebih dahulu lolos dengan selamat dari pulau ini. Selebihnya lagi akan menyusul nanti. Kami memasuki episode-episode akhir dalam serial ini.

    Tapi kenangan, jejak yang ditinggalkan (minimal buat saya), selalu ada dan terbawa kemanapun.

    I LOVE YOU ALL!!

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri, kehidupan
  • Devil in the Detail

    : untuk Pak Abdul Hakim Halim

    Apa pelajaran yang bisa diambil setelah mengerjakan TA selama sekitar 5-6 bulanan? Mmm, bukan 5-6 bulan sih kalau waktu efektifnya…Agustus hingga Desember masih sangat santai, baru Januari akhir agak-agak sibuk. Sejak Desember juga sebenarnya pengolahan data saya sudah 90% beres, tinggal dipresentasikan ke dosen pembimbing. Nah, setelah dipresentasikan dan OK, barulah saya disuruh menulis.

    Ternyata menulis untuk TA itu susah! Beda dengan menulis di blog…=P. Setelah pertengahan Januari itu, saya kira akan bisa cepat sidang. Nyatanya tidak, malahan saya harus bolak-balik hampir tiap hari dengan beragam revisi.

    Setan ada dalam rincian. Ia bersembunyi, menunggu dengan sabar, lalu akan menyelinap cepat dan menjerumuskan. Nah, selama sekitar 2 minggu terakhir sebelum deadline itulah saya (terpaksa) melihat dalam ruang-ruang kecil dalam tulisan dan membunuhi setan-setannya…

    Saya bersyukur dibimbing dengan dosen yang sangat memperhatikan detail. Awalnya bikin frustasi sih, tapi di titik kejenuhan, tuntutan itu memaksa saya untuk mengubah paradigma saya dalam mengerjakan TA. Sebelumnya, untuk TA ini, buat saya adalah “kerjakan, yang penting cepat selesai”. Ini juga berlaku untuk tugas-tugas kuliah lain sebelumnya. Kerjakan, selesaikan. Saya tidak terlalu mencintai apa yang saya kerjakan, tapi tetap saya kerjakan, asal selesai. Tak pernah ada perhatian untuk hal-hal kecil. Makanya saya juga sering nggak sabaran kalau sekelompok dengan mahasiswi yang lebih sering mendetail dalam menyelesaikan tugas. Hasil dari paradigma itu memang sesuai dengan yang saya inginkan: selesai. Tapi sering ada banyak kesalahan, yang kalau saya beruntung tidak ketahuan sehingga bisa tetap dapat A, tapi jika sedang sial ya ketahuan dan dibantai saat presentasi. Rasanya sih, sepanjang kuliah saya menjalaninya seperti itu…

    Nah, di puncak frustasi itu saya dipaksa, mau tak mau, mengubah cara berpikir saya tentang mengerjakan TA ini. Detail! Maka saya lihat lagi seluruh pengolahan data, dan kesalahan-kesalahan yang ada. Saya baca lagi seluruh tulisan, membenarkan semua kesalahan ketik, mengganti beberapa kata yang kurang pas, mengubah struktur kalimat yang sebelumnya secara akademis kurang logis atau malah ambigu, memberi nama tabel dan gambar dengan benar, dan lain-lain. Pekerjaannya berat, capek, dan stress, tapi enjoy dan setelah di-approve untuk sidang rasanya sangat puas…

    Waktu sidang juga alhamdulillah nggak grogi dan malah bisa sedikit menikmati. Pertanyaan-pertanyaan penting yang diajukan sudah pernah terpikirkan dan dibahas bareng dengan dosen pembimbing saya. Termasuk juga bagian yang membuat saya bingung, karena waktu sebelumnya dibahas pun saya dan beliau (dosen pembimbing saya itu) juga bingung…hehehe. Akhirnya memang beliau merasa bertanggungjawab dan menjelaskan, alhamdulillah…Hasilnya juga lumayan baik, untuk tulisan dapet A, seminar dapet A, sehingga apa boleh buat (ini kalimat ang dipakai dosen pembimbing saya) TI-40Z1 Tugas Akhir dapet A…

    TA selesai, sidang sudah. Lalu apa?
    Waktunya tambah bersyukur, sit back, relax, and THINK. Banyak sekali yang harus dipikirkan dan dikerjakan nanti.

    Mohon doanya.

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Refleksi, Teknik Industri, kehidupan
  • Tentang TA saya

    Kalau tidak ada aral melintang (dan dosen menghadang, hehehe…) insya Allah Selasa 6 Februari nanti saya akan sidang sarjana. Doakan ya, teman-teman…Dalam rangka itu, saya mau cerita sedikit tentang Tugas Akhir saya. Makasih buat temen-temen yag udah ngedukung dan ngebantu. Buat Jocky yang menguji data, juga Mona untuk uji data dan lampiran. Makasih!

    Nah, sekarang saya mau rada mirip mahasiswa TI dikit. Saya mau cerita tentang TA saya. Judulnya “Perancangan Sistem Produksi Just-In-Time: Studi kasus di lini produksi disc brake PT. Tri Dharma Wisesa”. Yang saya buat itu mulai dari alokasi MPS ke stasiun kerja, rancangan aliran material dan informasi dengan kanban, jumlah kanban di lini produksi dan kanban supplier, sampai dengan penjadwalan produksi dengan mixed scheduling. Terus saya buat algoritma perencanaan sistem produksi Just in time, sama algoritma distribusi beban kerja pada 3 stasiun kerja paralel dengan kemampuan proses dan cycle time bervariasi.

    Anak-anak TI yang baik mulai dari tingkat 2 juga pasti udah sangat familiar ama istilah-istilah itu. Saya juga, hanya saya emang baru familiar dengan istilah-istilah itu pas ngerjain TA…hehehehe. Agak telat sih, tapi bukankah “better late than never”?

    Just-In-Time itu sering disangka sama dengan Toyota Production System. Nama populernya kali ya? Tapi sebenernya nggak. TPS itu sistem manufaktur terpadu, dengan Just-In-Time sebagai salah satu pilarnya. Pilar lainnya adalah “jidoka”, alias autonomation (bukan otomation!). Di house of TPS juga ada 5 S (Seiri, seiton, dll), andon (visual display), heijunka (mixed scheduling, atau levelling), TQM, dan lain-lain.

    Untuk introduksi populer dan baik tentang ini, silakan baca toyota way. Bagus tuh.

    TPS sebenernya adalah respon Jepang dikarenakan keterbatasan-keterbatasannya. Jadi, dulu tahun 1930, generasi ketiga Toyoda (Kiichiro) berangkat ke Amerika untuk melihat mass production-nya Ford. Kalau kamu suka maen Civilization, pasti kenal dengan mass production.Mass production, bersamaan dengan management science, adalah penanda abad industri yang telah berubah. Dengan mass production, conveyance system, terus scientific management-nya Frederick Taylor, seluruh keberjalanan industri berubah. Produk-produk dapat diproduksi dengan jumlah ekstensif, jauh lebih murah, dan relatif lebih cepat. Frederick Taylor sering diklaim sebagai bapak pendiri TI, meskipun ia juga sering disebut bapaknya ilmu manajemen modern. Entah, sebenernya dia bapak siapa…

    Waktu Toyoda berangkat ke Amerika, dia benar-benar terpesona dengan produksi Ford. Conveyance system-nya diterapkan di Jepang, meskipun dengan banyak keterbatasan. Itu terjadi sekitar tahun 1930-an. Terus, seperti kita tahu, Jepang hancur lebur gara-gara di bom. Juga perusahaan-perusahaannya, termasuk Toyota. Tahun 1950, Toyoda (kali ini Eiji, generasi keempat) ke Amerika lagi berkunjung ke pabrik Ford. Eh, dia kaget, kok tahun 1930 ama tahun 1950 sama aja? Tapi tetep masih lebih baik dibanding Toyota sih…Makanya dia menugaskan plant manager-nya, Taichi Ohno, untuk membuat sistem produksi yang bisa menyaingi, atau bahkan mengalahkan Ford.

    Jreng, jreng…maka berangkatlah Ohno, yang pertama kali mengkonsepkan TPS sebagai sebuah sistem lengkap, ke Amerika. Ia melihat pabrik Ford, masih terpesona, tapi menemukan hal-hal yang tak dapat diterapkan di Jepang. Sistem Ford itu terlalu massal, butuh banyak tempat untuk menyimpan persediaan bahan mentah dan barang jadinya. Padahal, tanah di Jepang mahal, dan terbatas. Dengan tingkat produksi sekaligus banyak seperti Ford juga, Ohno tahu bahwa pasar Jepang tak akan mampu menyerapnya. Jadi gimana nih? Bos minta Ohno bikin sistem buat nyaingin Ford, sementara sistemnya sendiri tidak implementable di Jepang.

    Tapi maklumlah, Ohno itu sarjana Teknik Industri yang konon cerdas-cerdas (hehehe…). Suatu saat dia ke supermarket Amerika dan lagi-lagi terpesona dengan begitu efisiennya supermarket disana. Barang-barang hanya dipajang sesuai dengan yang mampu dibeli konsumen, lalu bila kosong, baru diisi lagi. Kenapa gak menerapkan ini di pabrik manufaktur?

    Sistem Ford sekarang biasa disebut Push System. Kita merencanakan, terus memulai dari paling belakang sesuai perencanaan, dan didorong terus ke depan. Jadi, akan tersedia banyak persediaan barang pada sistem ini. Sementara Ohno merevolusi sistem ini. Seharusnya, proses setelah suatu proses tertentu itu dianggap sebagai pelanggan, yang menarik produk kita. Jadi, buatlah produk sesuai dengan rate ‘tarikan’ atau kebutuhan pelanggan. Kalo ga ada, ya ga usah. Ngapain ngebuat banyak persediaan?

    Karenanya disebut: Just-In-Time. Tepat pada waktunya. Kira-kira sama lah dengan waktu gw menyelesaikan TA ini, just-in-time alias in the deadline…hehehe.

    Tapi TPS bukan hanya Just- In-Time aja. Juga bukan temuan Ohno aja. Tapi banyak teknik lain untuk mencapai operational excellency itu. Ada 5S, atau 5R dalam bahasa Indonesia. Ada andon, heijunka, TQM atau built-in-quality, dll. Silakan melakukan pencarian Wikipedia dengan keyword Toyota Production System untuk lebih jelasnya…

    Dengan TPS, Toyota sekarang menjadi produsen mobil no 1 di dunia. Perusahaan dengan tingkat profit yang paling besar dibanding perusahaan manufaktur mobil lain. Yang menarik lagi, Toyota tidak pelit mengajarkan TPS ini ke mitra-mitra suppliernya atau ke dunia. Kenapa? Karena memang toyota berkepentingan untuk mengajarkan TPS ini, terutama ke supplier. Just-in-time, dengan sistem kanban-nya, mengisyaratkan pengertian dan kesediaan supplier untuk juga menerapkan kanban, supaya aliran material lebih lancar. Makanya Toyota juga gak ngerasa perlu pelit membagi ilmu. Ini juga perbedaan gaya manajemen Jepang dan Amerika. Manajemen Jepang lebih ‘asia’, lebih komunal, lebih menekankan tim dan kerja sama.

    Balik lagi ke TA saya…aduh, apa ya? Saya lebih seneng baca sejarah dan kisah-kisahnya sih…pokoknya begitu deh, saya merancang sistem produksi JIT di pabrik yang sebelumnya make push system, mulai dari distribusi MPS sampai penjadwalan, dengan kanban yang digunakan di bagian produksi juga di supplier. Yang lain-lainnya teknis dan tidak terlalu menyenangkan ;-p.

    Begitulah.
    *akhirnya memang sedikit sekali menyentuh tentang TA-nya…*

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri