Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘resensi buku’ Category

Blink atau Think?

Agak basi sih, soalnya kedua bukunya terbit sekitar 2005-2006-an. Tapi tak apalah. Baru dibaca hampir selesai keduanya baru-baru ini, dan baru kepikiran serta mensintesiskan (halah bahasanya!) juga sekarang-sekarang ini.

Blink itu bukunya Malcolm Gladwell, kolumnis the New Yorker. Membaca Gladwell itu, menurut saya, asyik banget, soalnya pengetahuan yang disajikan kadang-kadang hal yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Di Tipping Point, misalnya, ia berteori tentang hukum-hukum perubahan sosial. Teorinya masih spekulatif, tapi beragam kisah-kisah nyata yang dia ceritakan membuat pembacanya bergumam, “oh iya bener juga ya...”. Sampai-sampai di buku Change kedua Rhenald Kasali, dibahas juga tentang ‘teori’ Gladwell ini. Selain itu, Gladwell juga banyak mengilustrasikan dengan cerita dan kisah-kisah (nyata), yang kalau menurut buku yang dulu saya baca, argumentasi yang paling influential (saya nggak bilang baik atau benar) adalah dalam bentuk cerita ini. Itulah kenapa, di kitab-kitab agama, ada banyak sekali cerita. Nah, dari cerita-cerita yang diceritakan di bukunya itu, Gladwell menyambungkannya, membuat generalisasi, menarik konklusi.

Begitu juga di Blink. Gladwell membukanya dengan kisah di getty museum. Tentang pakar yang dalam beberapa detik pertama bisa merasakan ketidakberesan patung kouros (patung Yunani kuno) yang akan dibeli museum itu. Ia berteori, ada cuplikan tipis yang bisa dirasakan saat kita melihat sesuatu, dan dalam banyak kasus, kesan pertama itu benar. Terbukti patung kouros itu palsu.

Pesan dalam buku ini, otak manusia, bawah sadarnya (tapi bukan subconscious mind a la freudian) sebenarnya mampu melakukan proses blink, merasakan dan memberi penilaian yang akurat dalam 2 detik pertama. Dengan persyaratan tertentu. Tapi itu kita bicarakan nanti.

Michael R. LeGault, pernah jadi kolumnis juga di Washington Times (kayaknya agak beda kubu deh dengan New Yorker), menulis Think, untuk ‘menanggapi’ Blink. Sebenarnya kata ‘tanggapan’ atau ‘kritik’ atas Blink tidak tepat juga, soalnya tentang itu cuma dibahas di bab awal. Most of the book sih bicara tentang keprihatinan dia tentang bangsa Amerika yang terdegradasi semangat dan kemampuan berpikirnya. Kemampuan bangsa Amerika untuk berpikir kritis dan menganalisa sebelum memutuskan, menurutnya, menurun jauh. Padahal, Amerika pernah punya segerombolan filsuf yang melahirkan satu school of thought sendiri, pragmatisme. Bangsa Amerika lah yang berani lepas dari Inggris dan mendirikan suatu negara baru dengan konsep dan filosofi kenegaraan yang inovatif. Bangsa ini juga yang mencapai kemajuan sedemikian rupa, sehingga sekarang menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.

Fenomena semacam blink ini, yang LeGault sebut psikologi/filosofi new age-feel good, yang salah satunya mendegradasi kemempuan berpikir bangsa Amerika. Ia juga menyebut faktor-faktor lain: egalitarian intelligence (pendidikan agar sesuai dengan benak seseorang, bukan membentuk otak seseorang), political correctness, media (terutama TV) dan kacaunya pemasaran, dan mitos tentang stress & informasi yang berlebihan. Akibatnya jelas, contohnya menurunnya peringkat siswa Amerika dalam matematika dan kemampuan membaca, serta kegagalan-kegagalan dalam keputusan publik (yang anehnya, tidak saya temukan contoh kegagalan terbesar dan terbodoh dalam public policy US gov: keputusan perang Irak).

Berbeda dengan buku-buku Gladwell, buku LeGault ini lebih mirip runtutan opini argumentatif dan kemarahan, dan karena ditujukan untuk publik Amerika, terasa sangat ‘patriotis’ dan amerika-sentris. Membacanya tidak terlalu fun (beda dengan Gladwell), tapi tetap penting untuk diikuti. Kadang-kadang saya sebel, karena sambil menunjukkan buruknya AS, tapi tetap aja mengagungkannya di atas bangsa lain (terutama Eropa, yang dianggap sekelas. Ya jangan tanya negara-negara dunia ketiga...). LeGault ini kayaknya jenis orang amerika yang konservatif, nasionalis-patriotis, dan republikan tradisonal. Pandangan-pandangannya mirip...

Nah, dari situ: blink atau think? Pandangan sekilas dan intuitif, cepat, dan konon bisa akurat (menurut Gladwell) atau pemikiran dan analisa mendalam dengan beragam data tetapi lebih lama?

Kasus-kasus yang dibedah Gladwell menunjukkan bahwa blink juga bisa akurat. Beberapa diantaranya malah signifikan secara statistik. Sementara conventional wisdom bilang bahwa keputusan dengan lebih banyak data dan pertimbangan lebih baik daripada keputusan intuitif.

Sebenarnya saya percaya dengan proses berpikir. Kemampuan inilah, berpikir secara mandiri yang bebas dari dogma dan mitos, yang membuat beragam penemuan, sehingga kita mencapai kemajuan sampai sekarang ini. Ada spekulasi (opini) dalam dunia Islam bahwa yang membuat peradaban Islam mundur adalah ketika muslim takut berpikir. Zaman pertengahan Islam, para ilmuwan muslim sangat terlecut untuk berpikir karena memang diperintahkan Qur’an. Sampai-sampai beberapa ilmuwan/filsuf ada yang dianggap kebablasan. Al-Ghazali, konon, sering dituduh sebagai pihak yang bertanggungjawab. Hujjatul Islam ini sebegitu cerdasnya, dengan Ihya Ulumuddin dan kitab-kitab lain, sehingga ‘mengalahkan’ para filsuf-pemikir bebas dalam dunia Islam seperti Averroes.

Opini itu,IMHO, sejenis perspektif renaissance dalam menilai sebab runtuhnya peradaban Islam. Tak perlu ditolak mentah-mentah, cukup dipikirkan secara kritis. Ketika muslim takut berpikir, semangat renaissance sendiri adalah Sapere Aude, alias berani berpikir! Semangat inilah, yang terus diwariskan dalam pendidikan Liberal Arts, yang membuat peradaban barat begitu maju. Sampai sekarang, bahkan di kurikulum sekolah bisnis pun, jenis mata kuliah seperti liberal arts ini masih ada.

Dogma atau mitos, bisa juga menyelinap dalam bentuk-bentuk lain. Inilah yang sejatinya menjadi concern LeGault. Kalau dulu yang menghambat dan membuat takut adalah otoritas gereja yang keterlaluan, sekarang adalah filosofi new age-feel good, yang dikhawatirkan LeGault makin merebak dan mendegradasi kemampuan berpikir Amerika. Juga political correctness. Ia menulis dengan ironis, masa’ iya seorang editor jurnal harus menyeleksi dengan mempertimbangkan political correctness-nya? Bagaimana dengan kebenaran ilmiah itu sendiri? Ia menyebut beberapa isu yang harus politically correct: multikulturalisme, gender/sex orientation equality. Kadang-kadang memang benar. Kalau di Indonesia, coba aja menulis di mainstream media, tentang pluralisme yang agak berbeda dengan pengertian politically correct pluralisme. Kalau dimuat bilang ke saya, ntar saya traktir =p.

Jadi, think lebih dipilih? Tidak juga. Coba bedah lagi buku Blink. Contoh-contoh di sana, yang melakukan Blink, semua adalah expert. Seoarang pakar. Yang terbiasa melatih diri, berpikir terus secara rutin dalam bidang-bidangnya. Gladwell menceritakan tentang proses blink ahli seni, para musisi profesional, pencicip makanan profesional, psikolog yang meneliti wajah lebih dari puluhan tahun. Memang, ia juga menceritakan mahasiswa-mahasiswa yang mampu secara akurat menebak dosen tertentu baik atau tidak dengan sekali pertemuan, yang hasilnya akurat dengan penilaian dengan proses yang lebih lama. Namun coba pikir lagi,mahasiswa telah mengenyam lebih dari 12 tahun pengajaran: mereka juga seorang expert dalam diajari. Contoh uji rasa Pepsi-Coca Cola menunjukkan juga kesalahan blink orang awam: penjualan Coca Cola selamanya lebih baik daripada Pepsi (meskipun saya prefer Pepsi, karena keberpihakan pada pihak tertindas, he33x).

Jadi? We can do both. Otak manusia memang mengagumkan. Dengan syarat tambahan untuk melakukan blink: jadilah expert dulu. Berlatih teratur, berpikir teratur tentang subyek itu. Ibu saya bisa memilih buah mana yang baik dari sekeranjang buah di pasar dengan sekali lihat, sementara saya selalu salah memilih buah meskipun berbelanja dengan durasi lebih lama. Itu jelas, karena Ibu saya telah lebih dari 40 tahun belanja buah.

Lakukan keduanya. Asal jangan malas berpikir aja. Ironis, karena akhir-akhir ini saya sedang mengalaminya. Semoga tulisan ini juga adalah upaya menyemangati diri.

Wallahu A’lam Bis Showaab.

  • Comments Off
  • Filed under: Islam, Opini, Refleksi, buku, resensi buku
  • Karena Hormon (?)

    Sewaktu jalan-jalan di Gunung Agung, nggak sengaja saya liat buku ini: the Female Brain. Ditulis oleh Louann Brizendine, di Indonesia diterbitkan oleh ufukpress. Saya scanning bentar, dan langsung pengen beli. Tapi apa daya, ga punya duit…

    Alhamdulillah, ternyata di kosan, Aan udah punya. Langsung deh dipinjem.

    Membaca buku ini, saya teringat guru Biologi saya di SSC, Pak Bambang, yang berhasil membuat saya (sedikit) jatuh cinta pada Biologi (mm, yang bagian hormon dan reproduksi aja sih…=p). Waktu itu beliau memberi wejangan pada para pria kalau menemui wanita yang sensitif, cepet banget marah, stress, sedih, dll. Saran beliau waktu itu sederhana: mengertilah, dan tanyakan, “sebentar lagi ‘dapet’ ya?” =p

    Menjelang menstruasi, progesterone surut, begitu juga dengan efek menenangkan yang dibuatnya. Fakta-fakta semacam itu, banyak ditemukan pada buku ini. Saya jadi lebih paham, tentu saja ALLAH menciptakan dengan sebaik-baiknya manusia, pria dan wanita. Sangat alamiah, sampai saya berani menyimpulkan, dengan argumen yang biologis-ilmiah: ini bukan hanya konstruksi sosial, tapi kodrat. Paragraf-paragraf berikut akan membahas stereotyping yang biasa kita temukan, beserta penjelasan hormonalnya dari buku ini.

    Stereotipe pertama: dalam hubungan sosial, perempuan lebih ‘emosional’ dan sensitif. Benar! Ini bahkan terjadi sejak perempuan masih bayi. Awalnya, semua otak manusia adalah otak perempuan, tapi pada perkembangannya, otak pria lebih banyak direndam testosterone sehingga mematikan sel-sel tertentu di pusat komunikasi, dan menumbuhkan lebih banyak sel di pusat seks dan agresi. Bayi perempuan lebih sensitive terhadap wajah-wajah yang dilihatnya. Mereka bahkan mengetahui emosi dari wajah yang dilihatnya, dan hanya dengan melihat wajah, ia akan menyimpulkan apakah dirinya diterima, dicintai, berharga, atau malah tak diinginkan dan menjadi beban. Menurut pengarangnya, anak-anak perempuan tak bisa menoleransi wajah yang datar. Wajah yang datar diinterpretasikan sebagai akibat dari kesalahan yang telah ia lakukan. Makanya sangat tak baik dibesarkan oleh ibu-ibu yang depresi, berwajah selalu sedih dan tak responsif. Bayi perempuan mungkin akan merasa tak diinginkan.

    Semakin besar, anak perempuan juga semakin peka terhadap wajah, nada suara, dan suasana. Kalau ada orang dewasa sedih karena persoalan yang rumit, anak perempuan akan tahu dan menghibur. Ia tahu ada yang tidak beres meskipun tak mengerti masalahnya. Saat dewasa, misalnya, kemampuan ini makin hebat lagi. Perempuan bisa mencerminkan (merasakan sendiri) apa yang dirasakan atau dipikirkan pasangan yang dicintainya bahkan saat pikiran itu belum menyeruak di kesadaran si pria! Perempuan juga 4 kali lebih mudah menangis, para perempuan di sekitarnya juga akan tahu jika teman perempuannya akan menangis (dari kemampuannya membaca wajah), tetapi para prianya hanya akan heran dan berkomentar dogol: “kok gitu aja nangis?”. Para pria baru sadar gawatnya sesuatu baru setelah melihat air mata, dan saat itu sebenarnya sulit untuknya untuk melakukan sesuatu yang meredakan tangisan perempuan. Soalnya, otaknya akan berpikir: saya telah gagal dan telah tak diterima. Jadi, ia mungkin akan menunggu atau menghibur dengan rasa bersalah, sekaligus gengsi dan tidak nyaman.

    Stereotipe kedua: perempuan tomboy karena pengasuhan. Sebenarnya, tidak! Ada sebuah kondisi defisiensi enzim yang disebut conginetal adrenal hyperplasia (CAH), yang membuat janin perempuan memproduksi testosterone, sehingga akibatnya menjadi lebih agresif, lebih tidak sensitive, dan mirip anak laki-laki. Tapi, ini cuma satu diantara sepuluh ribu bayi.

    Stereotipe ketiga: perempuan suka drama dan dramatisasi. Ya, dan yang paling bertanggungjawab adalah estrogen dan progesteron, yang makin meningkat sejak remaja. Karenanya, perempuan bereaksi berbeda-beda, membuat dramatisasi yang fluktuatif seiring fluktuasi 2 hormon tadi. Ia mulai memperhatikan tubuhnya, dan timbul pikiran-pikiran seperti: do I look good with this…? Ia menjauhi konflik, karena kontak sosial dan keharmonisan memicu oksitosin yang memberi rasa nyaman.

    Stereotipe keempat: laki-laki adalah pengejar dan perempuan pemilih. Menurut buku ini, benar. Dari perspektif evolusi, perempuan membutuhkan kondisi yang terbaik sehingga anak-ankanya bisa tumbuh dengan baik. Karenanya, ia cenderung memilih para pria yang dapat memberi keadaan ini, yang dalam kondisi zaman ini, berarti preferensi untuk pria yang kaya dan berkedudukan sosial. Ada penelitian lintas kultural yang membuktikan sterotipe ini, tidak peduli bagaimanapun kondisi finansial perempuannya. Sementara laki-laki mengejar perempuan yang menarik secara visual, dan ada penjelasan evolusionis lucu sekaligus logis dalam buku ini: menurut laki-laki, perempuan yang menarik secara visual merupakan perempuan subur dan most likely akan tak masalah dalam melahirkan keturunannya. Ini naluri purba dan bawah sadar, konon.

    Stereotip kelima: perempuan (juga laki-laki) tidak rasional saat jatuh cinta. Saat jatuh cinta, sirkuit otak untuk berpikir kritis dimatikan. Saat itu, otak banjir oleh senyawa-senyawa pemberi kesenangan seperti dopamin, estrogen, oksitosin dan testosterone. Amigdala (sistem siaga-rasa-takut) dan anterior cingulate cortex (sistem kekhawatiran dan berpikir kritis) tak berfungsi. Aktivitas-aktivitas seperti memandang, menyentuh, membelai, memeluk, mencium akan menguatkan oksitosin-dopamin, dan menyebabkan efek seperti kecanduan (minimal 6-8 bulan). Saat jauh, pasangan yang saling jatuh cinta akan merasa sangat rindu (karena oksitosin-dopamin yang bisanya ada oleh interaksi intens tiba-tiba dicabut), dan butuh untuk bertemu kembali (dan berpelukan, seperti di film-film. Kenapa? Pelukan minimal 20 detik membuat oksitosin-dopamin aktif lagi).

    Masih banyak lagi pengetahuan berharga yang bisa didapat dari buku ini. Ternyata, panjang vasopressin laki-laki berbeda-beda, dan panjang pendeknya menentukan kecenderungan seorang pria: monogamis atau poligamis (mungkin karena ini juga poligami itu dibolehkan, tapi saya gak mau ini dijadikan sejenis pembenaran). Otak seorang ibu yang sangat luar biasa, dan memang diciptakan untuk terus menjaga anaknya. Perubahan-perubahan hormon yang dialami perempuan sejak remaja, awal dewasa matang, saat jatuh cinta dan berpasangan, saat menikah dan berhubungan seksual, melahirkan, hingga saat masa matang. Saat membahas otak yang matang ini, sampai-sampai saya menyarankan seorang teman perempuan saya yang tadinya niat mau menikah lama. Mendingan segera. Soalnya, semakin tua dan mendekati kematangan, estrogen semakin melemah, naluri-naluri keperempuanan yang emosional, mementingkan hubungan dan orang lain juga semakin melemah. Masa ini, perempuan makin ‘egois’, dan akan baik untuk karir dan mencapai ambisi-ambisi pribadinya. Kan repot juga ketika waktu itu tiba, tapi anaknya masih kecil-kecil…Bukan apa-apa, kasihan anaknya, dan tak baik untuk evolusi manusia =p.

    Buku ini juga menyisakan sebuah perenungan: semua karena hormon? Jadi, perdebatan lama tentang nature atau nurture itu dimenangkan oleh nature?

    Pendapat saya sih, tidak. Saya percaya tiap manusia diberi amanah oleh ALLAH (Al-Ahzab:72), amanah yang hanya diterima manusia: untuk melakukan pilihan. Free will. Jadi, meskipun seorang pria jatuh cinta, misalnya, tapi ia tak mau jadi tak rasional dan tiba-tiba jadi dungu, ia bisa memilih untuk menjauh dahulu, tidak berinteraksi langsung, supaya dopamine-oksitosinnya tidak terkuatkan. Pada akhirnya, segala seluk beluk tentang hormon ini bukanlah suatu hal yang deterministik. Tetap berguna, minimal untuk input dalam melakukan pilihan-pilihan.

    Very recommended reading!

    Wallahu a’lam bis showaab.

    Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui

    Pada 21 April 2007, tidak diniatkan sebagai tulisan menjelang hari Kartini.

  • Comments Off
  • Filed under: Refleksi, belief, resensi buku