Sebuah aggregator blog..
27 Aug
17 Jul
Jumlah undangannya tidak banyak. Hanya kerabat dekat dan sahabat kedua mempelai yang hadir. Pembawa acara serta pembaca doa kerabat sendiri. Musik dimainkan oleh teman-teman pengantin. Tidak ada beragam upacara adat yang rumit yang mengiringi pernikahan itu. Pakaian serta tata rias pengantin juga biasa saja. Cuma sedikit lebih formal dibanding pada hari biasanya, namun cukup anggun untuk dipandang sebagai gambaran pernikahan.
Sekali lagi, tak tampak hal luar biasa dari acara perbnikahan itu. Tetapi, saya merasa sangat nyaman berada di sana. Ada suasana yang jarang saya peroleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara tersebut. Saya merasa, suasana pernikahan itu sangat akrab. Pembawa acara dengan sangat ringan menyapa, bahkan berseloroh, pada tamu-tamunya. Hal itu wajar karena memang ia mengenalnya persis.
Antarkawan juga bisa saling dorong untuk menyanyi, atau memainkan musik. Para tamu juga saling sapa, hingga berbincang akrab. Pengantin juga tak harus terus-menerus berdiri tegak di tempatnya dengan terus-menerus memasang senyum anggun, menunggu diberi ucapan selamat. Sesekali, mereka seperti 'menjemput bola', berjalan (kadang bersama, kadang sendiri-sendiri) mendatangi tamu, bertukar kata secara ringan.
Suasana pernikahan demikian sungguh berbeda dengan pesta pernikahan yang kini lazim. Tapi, suasana itu justru mampu mengingatkan: apa makna pesta pernikahan? Kita acap merancang pesta pernikahan seagung dan semegah mungkin. Alasan kita, itu hari yang benar-benar istimewa. Lalu, kita merancang segalanya agar sempurna. Mulai dari bentuk undangan, atribut kenang-kenangan, seragam pakaian, tempat pelaminan, makanan, hiburan, dan sejuta pernak-pernik lainya.
Begitu banyak yang harus diurus, dan begitu banyak yang ingin mengurus agar benar-benar sempurna. Hasilnya, seringkali pesta pernikahan justru menjadi ajang ketegangan keluarga. Alih-alih melahirkan suasana yang hangat, pesta pernikahan banyak yang kemudian menjadi sekadar formalitas. Pesta pernikahan kita acap bergeser fungsi dari acara bersyukur dan memohon doa menjadi ajang pamer gengsi dan atribut diri. Banyak tamu hadir dengan perasaan terpaksa. Tak enak tidak datang karena sudah diundang. Jika demikian, doa restu apa yang dapat kita harapkan?
Kesederhanaan dalam pernikahan hari itu menyeret saya pada pertanyaan yang dalam. Apa ya sulitnya berpikir dan bersikap sederhana seperti itu? Jangan-jangan kerumitan kita dalam menggelar pesta perkawinan adalah refleksi dari kerumitan cara berpikir dan bersikap secara menyeluruh. Kita lebih mementingkan atribut ketimbang makna. Kita memenangkan formalitas dibanding otentitas dan spontanitas. Kita mengedepankan gengsi ketimbang esensi. Pantas jika bangsa kita masih jauh dari efektif.
.... - by: Zaim Uchrowi
***
Sebuah pernikahan yang bersahaja. Bagaimana menurut anda?
21 May
antara magetan
ku berikan segenap jiwaku
menjadi awal sebuah kehidupan
antara jogjakarta
ku semai masa depan
dalam sebuah kesahajaan
antara bandung
ku menapak pundi harap
dari sebuah prasasti kejayaan
antara jakarta
ku merangkai kisah perjuangan
untuk sebuah kemenangan
antara palembang
ku hadapi realita
arti sebuah keikhlasan
dan pada sebuah kota
kan ku labuhkan hatiku
untuk sebuah kesetiaan
19 Apr
Sewaktu mahasiswa, saya pernah terlibat obrolan dengan seorang teman (saya lupa siapa. Yang saya ingat, ada beberapa kali obrolan, masing-masing dengan seorang teman yang berbeda-beda.) tentang 20-25 tahun setelah kita semua meninggalkan kampus. Saya bisa maklum: dia berada dalam doktrin agung (“Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel Bangsa!”), berada di kampus yang bercitra terang-benderang, dan dijejali trainer atau buku-buku motivasi dengan filsafat progresifisme modern ; maka inilah kalimat heroik yang dia katakan, “coba kamu liat nanti luk, 20 atau 25 tahun lagi. Saat kita semua menjadi sesuatu”.
Saat itu saya kagum. Yakin sekali dia. Hebat!
Sekarang saya khawatir. Naif sekali dia. Kasihan.
Namun pembaca yang waras akan berkesimpulan beda: dasar megalomaniak.
Saya pernah ngobrol juga (kali ini dengan Kang Firman, BI ’97) tentang topik mirip ini. Ia berbicara tentang sebuah generasi (generasinya, saya, dan anda), dan sebuah keniscayaan bahwa suatu hari, seluruh posisi dan peran di masyarakat, berpindah ke generasi ini.
Dan itu bukan sesuatu yang hebat. Ini hanya masalah giliran: generasi sebelumnya sudah atau sedang menerima, generasi kita sedang menunggu, atau sedang belajar menjadi.
Itu cukup masuk akal dan acceptable buat saya. Namun kalau itu diteruskan dengan doktrin standar “ kalian
Pikiran ini timbul lagi setelah saya membaca The Class (Erich Segal). Ide kisahnya sederhana sekaligus cemerlang. Tentang suatu angkatan Harvard ’58, ketika mereka reuni, 25 tahun dari tahun 1958.
Khas novel Erich Segal yang tebal, kisah ini pun terdiri dari beragam tokoh yang masing-masing kompleks, dengan rentang waktu yang panjang (silakan baca, misalnya, karya Segal yang lain seperti The Doctors atau Nobel Prize). Yang juga khas Segal, Harvardisme Segal kental sekali disini. Ia sendiri adalah pengajar sastra latin di Harvard, jadi maklum saja.
The Class menceritakan tentang Andrew Eliot, entah keturunan Eliot keberapa yang masuk Harvard (Eliot sendiri menjadi nama wisma mahasiswa di Harvard) ; Danny Rossi, mahasiswa musik cemerlang ; Theodore Lambros, mahasiswa sastra latin keturunan Yunani ; Jason Gilbert, keturunan Yahudi yang dibesarkan dengan terlalu Amerika dan George Keller, imigran Hungaria yang menjadi mentee Henry Kissinger.
Ini menarik, karena disana-sini saya menemukan hal yang analog antara alam pikiran mahasiswa Harvard (Atau MIT. Atau Stanford. Atau any other Ivy Leaguers) dengan mahasiswa ITB disini (Atau UI. Atau UGM. Atau any other state universities).
Saat mahasiswa, mereka datang dengan sangat percaya diri (hampir-hampir arogan, kalau boleh dibilang). Dibesarkan sebagai yang terbaik (atau among the best lah) di sekolahnya, dicitrakan ‘brilian’ oleh masyarakat (dan dibenci oleh beberapa banyak orang). Pokoknya Te O Pe Be Ge Te dah. Dalam bahasa Segal, ‘ memiliki kepercayaan tak terbatas akan kemampuan mereka’. Penuh dengan impian besar. Untuk mahasiswa Harvard, ‘menjadi pemimpin-pemimpin dunia’. Untuk mahasiswa I*B, ‘calon pemimpin bangsa’. Serba menggelegar dan menggetarkan.
Jelas ini generalisasi brutal. Tidak pernah ada penelitian yang menguatkan atau memperlemah sangkaan ini. Namun, ini dapat dirasakan, seperti bau kentut yang anda hirup di ruangan. Anda tak bisa membuktikan berapa persen sulfur yang ada di kandungan udara di ruangan tersebut, tetapi baunya tercium.
Apa yang terjadi sejak mahasiswa hingga 25 tahun setelah lulus? Banyak hal, yang tak semua baik. Yang saya catat, dalam tokoh-tokoh Segal, apa yang dialami 25 tahun mendatang bisa dilacak sejak mahasiswa. Bukan berarti yang hebat saat mahasiswa juga hebat setelah 25 tahun, tetapi karakter yang membentuk 25 tahun berikutnya bisa di-trace sejak mereka mahasiswa. Andrew Eliot yang selalu kurang percaya diri tapi paling manusiawi , Jason Gilbert, bintang universitas yang selalu gamang akan identitas Yahudi-nya karena selalu diamerikanisasi oleh ayahnya, Ted Lambros yang sejak awal merasa ‘kurang Harvard’ dan haus sekali akan pengakuan dari almamaternya, Danny Rossi yang terobsesi musik dan ketenaran, George Keller yang seumur hidup selalu merasa sendiri.
Eliot menjadi bankir (sekedar meneruskan usaha keluarga) dan ketua panitia reuni karena memiliki hubungan baik dan selalu tulus kepada teman-temannya. Gilbert menyelesaikan konflik identitasnya dengan menjadi Yahudi sepenuhnya, dan bahkan mati sebagai tentara
Yang pahit (atau unexpectable), perkawinan Eliot gagal dan bahkan anak lelakinya menolak menjadi seorang Eliot lagi. Gilbert, yang sangat berprestasi dan dibayangkan dapat menjadi apapun yang dia mau di Amerika malah menjadi relawan kibbutz di
Ya, beberapa dari mereka menjadi sesuatu. Something big, malah. Dengan beragam cerita dan catatan buruk di periode 25 tahun itu. By the way, Lambros adalah mahasiswa miskin yang diremehkan, Rossi selalu ditolak di wismanya saat main piano, dan Keller adalah imigran yang kemampuan bahasa inggrisnya nol besar saat masuk Harvard.
Apa yang dirasakan ketika reuni ke-25 itu? Segal menulis,
Tapi siapakah orang-orang asing itu – botak, berkacamata, tambun, dan malu-malu?...
Anehnya, sebagian besar dari mereka dilanda ketakutan lebih besar membayangkan harus kembali ke Harvard daripada ketika mereka tiba pertama kali sebagai mahasiswa baru. Sebab, kini ada yang hilang dari rohani mereka – kepercayaan tak terbatas terhadap kemampuan mereka.
Mereka tidak lagi seperti astronaut yang menjelajahi orbit penuh harapan dengan langkah lebar, siap untuk terbang ke bulan, bahkan lebih jauh lagi. Sebagian besar dari mereka tampak seperti pelancong yang kelelahan, yang cakrawalanya berakhir di kawasan parkir kantor.
Dan kendati segala keberhasilan mereka yang gemilang...mereka sadar telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan,...masa muda mereka.
...
Kata saktinya adalah kompromi...
Ya, setelah 25 tahun dan berusaha berkompetisi sambil saling membuktikan (dan membandingkan), pada akhirnya memang kompromi. Oh, ambisi lama itu telah pergi, entah mewujud atau tidak. Oh, kebanggaan dan kompetisi saat kuliah dan seterusnya itu sudah tak ada dan terganti dengan sejenis kepasrahan.
Tetapi kini mereka berinteraksi dengan suatu kehangatan baru. Tidak ada tingkat-tingkat kedudukan. Mereka bertemu untuk pertama kali sebagai sesama manusia...
Selain kompromi dan perasaan ‘yaa,,sudahlah,,’, hal lain yang pada akhirnya tersisa adalah yang paling bermakna untuk tiap perseorangan, atau sebuah tragedi. Rossi kembali setia pada istrinya setelah serangkaian petualangan, Eliot mengumpulkan kembali teman-temannya, Gilbert mati dengan senyum demi sesuatu yang ia bela, Lambros akhirnya diterima Harvard sepenuhnya. Yang tragis, Keller tetap merasa hampa dan memilih mengakhiri hidup.
Begitu jugakah suasananya di reuni 2027 nanti?
***
Dalam sebuah artikel menjelang Idul Fitri, Jalaluddin Rakhmat pernah menelisik asal kata dosa dalam bahasa arab (atau tobat? Maaf kalau ingatan saya agak samar). Ia menulis bahwa kata ‘dosa’ (atau akar katanya) juga biasa digunakan untuk menunjukkan ‘jejak’, seperti jejak kaki kita di gurun pasir. Tobat, atau ampunan, atau confession (pengakuan ikhlas akan dosa), kata kang Jalal, menghapus dosa tadi, atau jejak, hingga samar atau hilang. Seperti angin yang meniup pasir hingga menutupi jejak. Tanpa pengampunan, jejak tadi menetap. Mungkin mengeras.
Padang Mahsyar adalah juga sebuah reuni. Mengingat kembali segala jejak kita (kita disini mengacu pada semua umat manusia), termasuk juga jejak dosa kita.
Saya pikir saat itu kompromi sudah tidak ada.
Astagfirullah. Ya Allah, hapuskanlah jejak dosa saya.
Semoga kita bisa bereuni di tempat yang terbaik nanti.
Kredit:
- The Class by Erich Segal (c) 1985, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Threes Susilastuti, Oktober 2007 (Cetakan Kedua), Gramedia Pustaka Utama.
- "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel", saya baca di blog Ika. Pernah terpasang di salah satu sudt kampus ITB.
23 Jan
Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif merupakan suatu pendekatan yang utuh dan terpadu ke arah terwujudnya efektvitas pribadi dan antar pribadi. Kebiasaan adalah pola perilaku yang terdiri dari tiga unsur yang saling bertemu yaitu : pengetahuan, keinginan dan keterampilan. Kebiasaan kita peroleh dengan belajar, bukan kita warisi. Karenanya ini merupakan sifat alami kita yang kedua, bukan yang pertama. Bagaimanapun, yang kita miliki saat ini bukanlah kebiasaan kita. Kita bisa menciptakan atau melepaskan kebiasaan kita.
Kebiasaan 1 - JADILAH PROAKTIF
Kebiasaan - Visi Pribadi
Menjadi Proaktif mempunyai arti bahwa manusia bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri. Secara alami kita selalu bertindak dan bukan menjadi sasaran tindakan. Kata tanggungjawab kita artikan sebagai kemampuan untuk merespon, yaitu kemampuan untuk memilih respon anda. Orang yang sangat proaktif menngetahui tanggungjawab itu. Mereka tidak menyalahkkan keadaan dan kondisi yang mempengaruhi sikapnya. Mereka mengembangkan kemampuannya untuk memilih jawaban/respon, sehingga respon-responnya merupakan hasil dari nilai-nilainya, hasil perasaannya atau situasi.
Kebalikan dari proaktif adalah reaktif. Ciri orang reaktif selalu mengalihkan tanggungjawabnya. Bahasa orang reaktif melepaskan mereka dari tanggungjawabnya. "Itulah saya. Memang begitulah saya. Saya sudah ditakdirkan begini dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya." Dia membuat saya sangat marah!" Saya tidak bertanggungjawab. Emosi saya dipengaruhi oleh sesuatu diluar kendali saya."
Kebiasaan 2 - MERUJUK PADA TUJUAN AKHIR
Kebiasaan - Kepemimpinan Pribadi
Merujuk pada tujuan akhir berarti memulai setiap hari dan setiap tugas dengan pemahaman yang jelas mengenai tujuan yang ingn dicapai. Dengan mengusahakan titik akhir tersebut tetap jelas dalam pikiran anda dapat memastikan bahwa apapun yang anda kerjakan pada hari tertentu tidak melanggar kriteria yang sudah anda definiskan sebagai yang paling penting, dan bahwa tiap hari dari kehidupan anda menunjang visi yang anda miliki tentang seluruh hidup anda dengan cara yang berarti.
Pernyataan Misi
Bagi saya, saya ingin mengembangkan diri, mengasih diri-sendiri, dan keleluasaan diri. Saya ingin menggunakan bakat penyembuhan saya untuk memelihara harapan dan mengekspresikan visi saya dengan berani baik dalam ucapan maupun tindakan.
Dalam keluarga saya, saya ingin membangun hubungan-hubungan yang sehat, saling mencintai di mana kami membiarkan diri masing-masing mewujudkan apa yang terbaik bagi kami.
Dalam pekerjaan, saya ingin membangun lingkungann belajar yang bebas-kesalahan, dan berkesinambungan yang mendorong keinginan untuk tumbuh dan membantu orang lain berkembang; rasa ingin tahu terhadap apa-apa yang tak dikenal; ketetapan hati untuk menghadapi secara langsung; dan keinginan untuk mengerti dan bekerja bersama orang lain guna menemukan dan memenuhi tujuan bersama.
Didunia, saya ingin menumbuhkan perkembangan semua bentuk kehidupan, secara harmonis dengan hukum-hukum alam itu sendiri.
Kebiasaan 3 - DAHULUKAN YANG UTAMA
Kebiasaan - Manajemen Pribadi
Apakah yang utama? Hal yang utama adalah hal-hal yang menurut anda pribadi paling berguna untuk dilaksanakan. Ia menuntun anda ke arah yang benar dan membantu anda mencapai tujuan yang ada di pernyataan misi pribadi anda.
Dahulukan yang utama menyatakan mengenai pengaturan waktu dan kejadian-kejadian yang berdasarkan pada prioritas pribadi yang ada pada Kebiasaan 2. Kebiasaan 2 adalah ciptaan pertama atau ciptaan mental, Kebiasaan 3 adalah ciptaan kedua atau fisik.
Kebiasaan 4 - BERPIKIR MENANG MENANG
Kebiasan - Kepemimpinan Antar Pribadi
Dalam hubungan antar pribadi ataupun dalam pekerjaan, efektivitas seringkali baru bisa tercapai jika ada usaha bersama dari dua orang atau lebih. Perkawinan dan hubungan kemitraan lainnya adalah suatu contoh kesalingketergantungan, tetapi seringkali orang berhubungan berdasarkan mental kemandirian, sepert berusaha bermain golf dengan menggunakan raket tenis-alat yang digunakan tidak cocok dengan olahraga yang dilakukan.
Kebiasaan 5 : BERUSAHA MENGERTI TERLEBIH DAHULU, BARU DIMENGERTI
Kebiasaan - Komunikasi
Komunikasi adalah keterampilan yang paling penting di dalam hidup. Kita mennghabiskan sebagian besar jam bangun kita untuk berkomunikasi. Tetapi coba pikirkan hal ini : Anda sudahh menghabiskan waktu bertahun-tahun unttuk belajar membaca dan menulis, bertahun-tahun untuk belajar bagaimana berbicara. Tapi bagaimana dengan mendengarkan? Pelatihan untuk pendidikan apa yang telah anda jalani untuk memungkinkan anda mendengarkan, sehingga anda benar-benar mengerti orang lain secara mendalam arti kerangka acuan individu itu sendiri?
Berusahalah mengerti terlebih dahulu atau mendiagnosa sebelum anda membuatkan resep, adalah prinsip yang benar yang dimanifestasikan di banyak bidang kehidupan. Sorang dokter yang bijaksana akan memeriksa pasiennya terlebih dahulu sebelum dia memberikan resep. Seorang insinyur yang ahli akan mengerti daya, tekanan yang bekerja , sebelum merancang sebuah jembatan. Salesman yang efektif akan mencoba mengerti terlebih dahulu pandangan orang lain sebelum dia dimengerti. Sebelum seseorang merasa lebih telah diperiksa dengan baik, dia tidak akan mau menerima resep tersebut.
Kebiasaan 6 : WUJUDKAN SINERGI
Kebiasaan - Kerjasama Kreatif
Prinsip dari sinergi ini adalah kebenaran dalam hubungan sosial kita. Dua orang, bekerja sama secara kreatif, akan mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada jika dilakukan oleh mereka sendiri. Sinergi mengajak kita untuk bersama-sama menemukan hal-hal yang kecil kemungkinannya kita temukan sendiri-sendiri. Ia akan timbul ketika pikiran kita saling mendorong satu sama lain dan ide-ide akan bermunculan. Saya mengucapkan sesuatu yang merangsang pikiran anda; anda merespon dengan ide yng mendorong saya. Saya membagi ide baru tersebut bersama anda, dann proses berulang terus bahkan terbentuk sendiri.
Kebiasaan 7 - ASAHLAH GERGAJI
Kebiasaan - Pembaharuan Diri
Mengasah gergaji berarti memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang anda miliki, yaitu diri anda. Kebiasaan ini memperbaharui keempat dimensi alamiah anda: fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional. Tanpa disiplin, tubuh kita menjadi lemah, pola pikir mekanik, emosi kita menjadi buruk (kasar), jiwa kita menjadi tidak sensitif, dan orang menjadi egois.
*training 7 habits, 24-26 February 2008 @ Puncak
14 Dec
Waktu zaman saya mahasiswa dulu , selalu saja ada teman-teman yang bersemangat dan bertanya-tanya ‘quo vadis mahasiswa sekarang’, ‘gimana nih kemahasiswaan’, dan lain-lain. Karena banyak juga yang heboh nanya-nanya dan membahas, dan saya hanyalah mahasiswa yang ngikut tren, jadilah pula saya memikirkan.
Saya baca sejarah. Rasakan semangat zaman di tiap eranya. Dengerin doktrin omongan senior-senior, yang bener maupun keblinger. Zaman dulu kayak apa sih? Sekarang zamannya apa ya? Kecenderungan ke depan gimana? Apa hubungannya ama mahasiswa? Jadi, seharusnya mahasiswa gimana?
Kesimpulan saya dulu sederhana: khilafah conscientizao atau consciencetization. Ada yang menerjemahkan konsaintisasi (aneh banget!). Kemarin di Kompas ada yang menggunakan kata ini dan diterjemahkan sederhana: kesadaran kritis. Yang lain-lain itu cuma pernak-pernik, dan dilakukan dalam rangka mengkampanyekan kesadaran kritis ini. Bukan membangun institusi, melakukan pergerakan bersama, apalagi melawan tirani. Emang, buat apa membangun institusi kalau arahnya juga tidak jelas? Ngapain ngotot mau gerak bareng di tengah era fundamentalisme hedonisme (istilah yang aneh...)? Tirani mana yang mau dilawan?
Conscientizao adalah tujuan pendidikan Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed. Buku yang konon jadi buku wajib mahasiswa ITB. Makanya saya cari mati-matian (susah bo nyarinya! Udah ga terbit lagi tuh buku...), akhirnya nemu di Palasari, dan saya baca *bahan untuk ngantuk menjelang tidur*.
Kesadaran kritis itu, intinya, adalah kondisi pikiran dalam mempersepsi lingkungan sekitar (dalam pengertian luas, semua hal lain yang kita hadapi) dengan melihat aspek sistem dan struktur. Bisa aware dan menganalisis secara kritis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya (termasuk pelakunya), dan jika ada (pasti ada sih...),mengidentifikasi dan menyadari ketidakadilan dalam masyarakat dan bagaimana mentransformasikannya. Misalnya kasus kemiskinan. Seharusnya kita sadar kemiskinan bukanlah masalah takdir dan kemestian (ada yang kaya, ya ada juga yang miskin...). Kalau ini sih kesadaran magis, kata Freire. Kemiskinan juga bukan karena kebodohan, kesalahan, kekurangrajinan orang-orang miskinnya sendiri (blaming the victim; kata Freire ini orang dengan kesadaran naif). Tetapi, kemiskinan harus dilihat: jangan-jangan yang terjadi adalah pemiskinan? Karena ada pembatasan akses kepada kesejahteraan, misalnya dengan sekolah yang mahal atau diprivatisasi. Atau malah ada perampokan oleh korporat yang ’berdiplomasi’ dengan pemerintah, sementara rakyat kebanyakan dibiarkan tetap miskin. Atau karena korupsi. Jadi, setiap masalah dianalisis dengan kaidah-kaidah saintifik (makanya ada kata ’science’ dalam conscientization), lalu dilihat: oh, ternyata ini yang menyebabkannya...
Sebenarnya conscientizao itu target minimal, soalnya yang lain tak kelihatan feasible untuk dilakukan saat itu. Pikiran sederhana saya waktu itu, karena kita kan pasti ga jadi mahasiswa lagi (entah lulus atau DO), minimal kesadaran kritis ini terbawa lah setelah keluar. Jadi, misalnya dia ntar kerja di KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), minimal dia tau dan sadar bahwa operasinya nanti diganti lewat cost recovery (atau mungkin gaji dan fasilitasnya? Overhead kantor juga cost recovery kan?), jadi dia kerja dengan bertanggungjawab dan seefisien mungkin, karena ntar-ntar juga diganti ama duit negara pajak rakyat. Yang jadi bos-bos di perusahaan minyak negara nanti, misalnya, bisa nurut kalau pemerintah sekarang katanya mau mengefisienkan BUMN, termasuk lewat pengurangan fasilitas pegawai. Konsekuensi yang bergerak di pemerintahan atau sektor amal sosial mah udah jelas lah ya...
Namun ternyata itu juga susah, bahkan gagal. Sampai saya lulus, ga jelas dan ga berhasil juga...Masih ga cocok dengan zamannya, mungkin?
Ini ada sebuah ide. Saya jamin cocok dengan zamannya.
Belajar yang rajin, lulus cepat, dan jadilah makhluk kaya sekaya-kayanya. Kalau ada tawaran aktivitas, timbanglah: apa manfaatnya buat saya? Apa bisa mempercantik CV saya sehingga bisa dijual ntar, apakah akan menambah jaringan saya ke politisi-cum-pemilik dana ga jelas untuk diserahkan pada proposal bisnis yang nanti saya bawa? Apa bisa mengajari skill dan keahlian sehingga saya bisa jadi engineer yang ekstra spesialis yang dibayar sejam 4000 dolar? Apa ada relasinya yang bisa jadi klien saya ntar? Kalau tidak ada manfaatnya, tolak saja! (manfaat tak harus moneter, tanya juga: apa ada yang potensial untuk menjadi pacar kamu?). Hal-hal ga jelas itu hanya akan memperlama waktu kamu di kampus! Dan kalau omongan senior-seniormu itu benar, bahwa kuliah di ITB itu dibayar PAJAK RAKYAT, maka mendingan lulus cepat bukan? Biar rakyat ga lama ngebayarin kamu. Jangan dengerin senior kamu, apalagi yang lulus 7 tahun: dia sendiri paling lama menikmati pajak rakyat. Mendingan kamu, tho? Cuma dibayarin rakyat 3,5 tahun.
Sekali lagi, jangan pernah dengerin senior-senior dengan paradigma mahasiswa lama yang kolot dan tidak progresif. Ini era fundamentalisme pasar, bung! Homo paling oeconomicus lah yang akan menang. Jadilah mahasiswa dengan paradigma masa kini, market-paradigm!
Jangan pernah mau diospek ga jelas, apalagi kalau dibilangin kalian harus berjiwa sosial, peduli sesama, dan lain-lain. Mana ada altruisme yang menyelesaikan masalah? Pasar lah yang akan mengatur dan menyelesaikan masalah, bukan kebaikan para filantrop. Berapa yang telah disumbangkan Bill dan Melinda Gates, Warren Buffet, atau orang-orang dermawan lain? Berapa jumlah penduduk yang masih miskin?
Lebih banyak yang bisa kamu lakukan kepada rakyat dengan menjadi kaya sekaya-kayanya. Buatlah korporasi besar, berapa juta jiwa yang akan kamu gaji? Dari berapa juta jiwa itu, berapa jumlah keluarganya? Belum lagi yang kena multiplier effect. Banyak sekali kan? Efeknya lebih besar daripada sumbangan 100 juta dolar sekalipun.
Lho, tapi kan nanti ada ketimpangan? Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin? Bukan salah kamu! Itu pemerintah yang gak bener. Yang gak bikin institusi dan regulasi yang baik untuk rakyat. Kamu bayar pajak, kamu taat hukum, bahkan kamu menggaji banyak karyawan. Peraturan keblinger tentang Coporate Social Responsibility juga kamu ikutin. Salah siapa? Jelas bukan kamu. Ini salah pemerintah.
Dan siapa sih pemerintah itu? Senior-senior kamu juga, dengan paradigma lama yang tidak progresif dan ketinggalan zaman dulu itu. Senior-senior kamu dulu yang menceramahi kamu untuk berjiwa sosial, yang karena gak ada kerjaan masuk partai atau LSM, lalu kebelet untuk berkuasa dan sekarang di pemerintah. Nah, keliatan kan? Mereka malah gak bener kerjanya, dan jadi pihak yang paling berpengaruh memiskinkan rakyat. Jelas, mendingan kamu, wahai mahasiswa rajin-lulus cepat-lalu kaya dahsyat.
Jadilah pegawai di perusahaan terbaik di dunia, kalau bisa ya jadi ekspatriat di negeri orang dengan gaji dollar. Lagi-lagi kamu berjasa: kamu bawa dolar dari luar negeri dan menjadi pahlawan devisa yang lebih banyak membawa duit daripada para pahlawan devisa tapi selalu disiksa pemerintah dan aparatnya itu (ingat, siapakah mereka? Senior kamu juga dulu!). Kamu membawa dolar, mengharumkan nama Indonesia sehingga tak hanya dikenal karena pemerintahnya yang aneh. Sekali lagi, siapa yang lebih nasionalis, lebih berjasa buat bangsa Indonesia?
Jadilah kritis! Skeptislah dengan omongan senior-seniormu, apalagi dengan paradigma kolot. Nanti, di masa depan, kamu yang gantian menyalahkan dia: hoi pemerintah, kerja yang bener! Makan duit pajak gw aja lu!
Bangun kesadaran kritis: lihatlah, jadi siapa yang menyengsarakan Indonesia? Pemerintah, yang isinya senior-senior kamu dulu!
Ingat, pikiran ini harus disebarkan. Ada omongan senior kamu yang benar: bahwa kampus adalah tempat kampanye beragam pemikiran. Sudah bosan kan kamu, dengan fundamentalis agama yang macem-macem, dari mulai yang apolitis sampai yang kerjanya demo nuntut khilafah? Dengan mahasiswa sosialis dari sosialis yang ‘pasar-sosial’ (istilah apa pula ini?) sampai yang kiri-utopis? Tapi masalah tak juga selesai? Bayangkan kalau mereka mewariskan pikiran-pikiran lamanya yang tak menyelesaikan masalah ke teman-teman dan adik-adik kamu! Mau jadi apa negara ini? Kamu harus bisa membuat kutub baru, para mahasiswa fundamentalis pasar. Ya, ini buat kebaikan kamu juga, tapi seperti yang telah kamu baca di atas, akhirnya bangsa dan rakyat juga untung kan? Kamu untung, bangsa untung. Pertamina aja kalah.
Sebarkan! Buat mentoring. Kuasai lembaga kemahasiswaan yang dulu jadi sarang senior kamu yang tidak progresif itu, karena strategis sekali untuk kampanye pikiranmu. Koalisi dengan rektorat, yang tampaknya lebih progresif meskipun lebih tua (siapa bilang yang muda yang progresif?) dan bisa mendukung pikiranmu. Ih egois banget! Ini buat kamu doang? Katakan dengan keras: YA! Tapi secara makro, semua nanti juga akan untung. Minimal, lebih baik daripada usulan solusi mereka, yang dari jaman mulai pergerakan mahasiswa dulu tak menyelesaikan masalah.
Salam hebat! Biarkan uang yang bekerja untuk anda!
;p
26 Nov
Pertama, saat menginginkan sesuatu hal maka dengan berpikir tentang hal itu dan kebahagian yang didapatkan bila mendapatkannya, maka seseorang mempunyai harapan untuk mendapatkan sesuatu tersebut.
Kedua, saat menginginkan sesuatu hal maka dengan berpikir tentang kejadian buruk yang akan menimpa bila hal itu tidak didapatkannya, maka seseorang mempunyai ketakutan sehingga berusahan mendapatkan sesuatu tersebut.
Dilihat dari hasil (result), dua hal itu sama bukan? Dan memang pada dasarnya saat menginginkan sesuatu, kita bisa berharap kebahagian karenanya atau karena takut kehilangan darinya. Misalnya, saat mengingnkan memasuki perguruan tinggi atau perusahaan yang diidamkan, maka harapan yang dibangun adalah kesempatan yang lebih besar dan kebanggan keluarga, sedang ketakutannya bisa tidak menghambat milestone hidup berikutnya serta dicitrakan tidak mampu.
Tentang harapan, Imam Al-Ghazali memberikan tiga tipe harapan yang dibangun oleh manusia yang diceritakan dalam kisah seorang petani:
1. Seorang petani yang menanam padi pada masam tanam. Kemudian berharap bahwa pada masa panen tanaman itu akan memberikan hasil baiknya. Namun petani itu tidak mau merawat dan memelihara tanaman untuk mendapatkan hasil baik tersebut. Maka petani ini termasuk golongan pengkhayal.
2. Seorang petani yang menanam padi bukan pada masa tanam (bukan penghujan), dan dia berharap bahwa hujan yang sangat tidak pasti itu akan turun sehingga hasil tanamnya baik. Maka ketidakpastian yang didapat petani tersebut. Dan petani ini termasuk dalam golongan penjudi.
3. Seorang petani yang menanam padi di musim tanam, lalu merawat tanamannya itu dan kemudian berharap bahwa hasil tanamnya akan baik.
Dari ketiga golongan petani diatas, harapan yang sesungguhnya adalah milik petani ketiga. Harapan yang telah disertai dengan pemikiran dan usaha yang maksimal. Bukan khayalan atau perjudian.
Sedangkan ketakutan, ada pandangan dari Anthony Robbins yang melakukan penelitian terhadap harapan (hope) dan ketakutan (fearness) sebagai daya yang mendorong manusia dalam melakukan sesuatu, ternyata faktor karena ketakutan itulah yang lebih tinggi tingkat pencapaiannya (achievement).
Misalnya, pada sebuah malam seorang harus mencari uang untuk dapat membayar sekolah besok. Maka membayangkan kebahagiaan dan masa depan yang akan dicapai anaknya dengan sekolah itu adalah pendorong utama pencarian uang dalam semalam itu. Pada kasus yang sama, pendorong utama mencari uang adalah karena ketakutan jika anaknya tidak bisa bersekolah maka hilanglah masa depannya.
Ternyata diantara dua tipe pendorong tersebut, manusia lebih efektif bila terdorong oleh tipe kedua yaitu karena ketakutan. Dengan membayangkan ketakutan-ketakutan, hal-hal negatif yang akan didapatkan bila tidak mencapai sesuatu keinginan itu, maka semangat mencapainya akan lebih besar. Praktisnya, dengan mendaftar ketakutan yaitu kemungkinan-kemungkinan buruk apa saja yang mungkin terjadi bila kesempatan yang tidak datang setiap saat itu lepas.
Bila dikaitkan dengan budaya, apa yang dikatakan Robbins mungkin terlihat sangat Barat. Karena budaya Timur cenderung mengajarkan bahwa berpikir positif atau membayangkan hal-hal positif itu lebih baik daripada berpikir yang negatif, atau kemungkinan buruk.
Tapi sebenarnya dalam risalah Islam sendiri, berpikir kemungkinan negatif inipun telah dilakukan Rasul Muhammad saat menghadapi perang besar pertama dengan kaum Quraisy, yaitu Perang Badar. Dengan jumlah yang hanya 313 menghadapi 1000 maka saat itu Muhammad berdo’a kepada Allah SWT, kurang lebih menyatakan bahwa jika kaum kafir berhasil mengalahkan mereka sampai tiada tersisa, maka tidak akan ada lagi umat manusia di dunia ini yang akan menyembah Allah. Dan atas izin-NYA, perang itu dimenangkan kaum muslim.
Jadi sebenarnya, antara harapan dan ketakutan seperti sepasang sayap yang sama-sama digunakan untuk meraih sesuatu. Keduanya bisa digunakan, dan tidak perlu anti untuk memanfaatkan keduanya. Bisa jadi dengan memakai dua sayap utuh, terbang itu pun akan semakin tinggi dan tinggi.
Mari kita mencobanya.
21 Nov
Setiap kejadian dalam kehidupan kita, ujung-ujungnya selalu saja memunculkan respon antara positif dan negatif, antara suka dan tidak, antara kemauan dan realita. Tidak ada yang dalam posisi di tengah-tengah, selalu saja setidaknya menimbulkan kecenderungan.
Jika yang diterima itu adalah sesuatu yang baik, sudah barang asti tidak ada lagi yang perlu diributkan. Namun jika itu adalah hal yang tidak baik, tidak beruntung, atau keburukan pasti hati kecil pun akan mengatakan tidak menghendaki kondisi tersebut.
Dalam kondisi yang kurang baik itulah, kita seringkali lebih mengedepankan aspek yang lebih tampak (tangible) berupa materi atau uang, padahal ada aspek lain yang tidak tampak (intangble) yang dinamakan opportunity lost.
Opportunity lost (OL) secara bebas adalah hilangnya kesempatan lain (yang diharapkan lebih baik) karena suatu kejadian sebenarnya yang tidak dikehendaki. Itulah opportunity lost, yang secara langsung akan menyebabkan adanya opportunity cost (OC) sebagai ‘bentuk’ kalkulasi perkiraan kerugian yang diderita. Dan tampaknya, tidak semua orang tidak sadar bahwa sebenarnya OC ini lebih besar daripada biaya-biaya tampak.
Kejadian OL ini misalnya, saat kehilangan semua data di laptop karena format yang salah dalam rencana servis, maka kesempatan untuk melakukan hal-hal lain yang lebih baik jika data itu masih ada pun menjadi hilang. Ini bukan tentang jumlah uang 1-2 juta untuk biaya tangible servis dan upaya recovery data (yang seolah-olah ‘useless’) sebesar, tapi ini tentang OC yang priceless.
Dengan data yang masih ada, sumber serta bahan tulisan masih sangat banyak sehingga frekuensinya tidak terganggu. Apalagi histori data sejak mulai mengenal komputer. dari Dengan format yang dijadwalkan lancar-lancar saja, maka akan ada banyak waktu untuk silaturahim kepada kawan yang mulai tinggal se-kota, atau berkunjung ke kota sebelah yang akhirnya batal karena 10 hari waktu ‘terbuang’ mengurus servis tersebut.
Bersikap realistis, legowo, dan sedikit menghibur diri (toh masih ada barang yang lain!) mungkin bisa mengobati. Tapi sejujurnya, manusia tetap akan berat menghadapi kondisi lost macam itu. Yang menimbulkan opportunity cost dan menghilangkan kesempatan lain yang lebih baik.
Jika ingin menyesal, marah kepada orang lain, atau menangisi nasib diri sendiri bisa saja hal itu dilakukan. Tapi tetap, hal itu tidak akan mengembalikan semua opportunity lost. Akhirnya sekarang, hikmah yang didapatkan dan mengusahakan tindakan preventif sehingga kemungkinan kejadian di masa depan tidak ada. Karena kesempatan dan waktu sangat berharga, priceless.
Seperti pepatah, kesempatan yang sama belum tentu datang dua kali. Tidak perlu menyesal diri karena hilangnya sesuatu karena risalah Islam mengajarkan, cukuplah barang dunia digenggam di tangan tapi tidak dimasukan di hati. Dan selalu menghargai kesempatan (waktu) seperti kata Nabi, dua rezeki yang manusia sangat sering lupa mensyukurinya, kesehatan dan waktu.
9 Nov
Ini curhat. Kali ini gayanya kasual sajalah, tak perlu bungkusan teori macem-macem atau bahasa berbelat-belit.
Karena curhat, anda bisa jadi curiga ini akan membosankan. Tolong dimaafkan. Sebelum mulai, ada yang tau gimana buat emoticon di blogger? Tolong kasih tau ya... Norak nih saya...he33x.
Kalo anda liat di sidebar blog ini, salah satu wannabe list saya ialah ‘politician’. Alasannya sih saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain (terus terang saya kesulitan untuk menuliskannya tanpa kelihatan berlebihan...). Apa politisi bisa? Kalau bener, ya Insya ALLAH. Satu diantara dua kelemahan umat, menurut Naquib al-Attas, ialah kepemimpinan (publik). Politisi yang baik bisa sedikit menutupinya.
Saya sebenarnya merasa nyaman-nyaman saja dengan hal yang namanya ‘politik’. Gak anti politik. Merasa ‘maklum’ saja kalo dipolitisasi, bahkan ketika saya sadar betul sedang dipolitisasi. Meski kadang-kadang dongkol, tapi ya wajar...namanya juga politik. Karena terkait power, buat saya politik itu ordinary, bahkan sehari-hari. Kuasa, dan relasi kuasa itu ada di tengah-tengah kita. Tak usah bicarakan tentang apa yang biasa kita sebut ‘dunia politik’; iklan, wacana, hingga obrolan ringan bisa dilihat dalam perspektif kuasa ini. Masalahnya adalah kesadaran dan pemahaman kita, akan segala peristiwa politik sehari-hari, dan kesadaran posisi: anda mempolitiki atau dipolitiki? Anda dalam kerangka hegemoni atau tirani?
Dian Sastro kelihatan cantik sekali di Lux edisi white glamour. Suaranya juga saya dengar di radio, mempromosikan tentang glam beauty. Saya membeli Lux, karena saya cinta Dian, dalam iklannya itu. See, Dian punya power yang membuat saya membuat saya membeli sabunnya (Padahal, mungkin saja Lux itu tidak bermanfaat buat saya...Toh saya gak mau jadi putih juga). Ia berkuasa atas saya. Buat saya itu politik: seni memanfaatkan kekuasaan untuk meraih tujuan. Kenapa Dian bisa lebih berkuasa dibanding SBY, misalnya (saya nggak mau beli Lux kalau di iklannya SBY mandi pake Lux!)? Ya karena Dian juga berjuang untuk meraih kekuasaannya itu. Dian memulai dari gadis sampul, terus bintang film indie, terus di momen yang tepat jadi bintang film yang jadi tonggak film Indonesia, bersamaan dengan masa late teenage saya. Klop. Dian meraih posisi kekuasaan tertinggi, minimal buat saya. See, itu juga politik: seni meraih kekuasaan.
Makanya, Dian Sastro for President! ;)
Sementara politik itu ordinary, tetapi ternyata saya baru sadar bahwa saya gak bisa terlalu nyaman dengan proses-proses politiknya. Terutama yang tidak subtil, meskipun tidak bisa dibilang vulgar juga. Sampai sekarang saya ndak tau kenapa.
Proses-proses politik di Indonesia itu mahal. Demikian tulis Kompas beberapa waktu lalu. Ada yang menyalahkan sistemnya: demokrasi kita (hampir-hampir?) liberal, yang memang menuntut high cost. Agak mirip-mirip Amerika lah...gak ada cerita presiden Amerika jaman belakangan ini yang bisa jadi Presiden dengan dana kampanye minim. Bahkan salah satu indikator kekuatan dan dukungan di Pemilu Amerika sana kan kemampuannya untuk menggalang dana. Sementara yang lain menyalahkan pelaku: elitnya aja yang ndableg. Yang nggak kreatif dalam kampanye, dan menganggap cara terbaik untuk menang, ya sediakan dana untuk fasilitas dan ‘gizi’. Pendapat lain yang bisa ditambahkan, konon ini adalah era market. Seluruh proses-proses politik pun berjalan di market, dan perlu marketing, yang tidak murah.
Politik yang high cost, itu hal pertama yang membuat saya gak nyaman. Pertama karena saya gak punya duit (he33x), kedua karena dengan high cost politic ini juga moral politik (demi kepentingan rakyat banyak!) menjadi rentan, bahkan bisa jadi diselewengkan. Motif-motif juga jadi sulit diterka: ini duit buat kebaikan atau menjual kebaikan buat duit? Mumet.
Hal kedua. Kemarin teman saya cerita tentang sahabat lamanya yang setelah cukup lama tidak berhubungan tiba-tiba menelepon. Bukan buat bertukar kabar, tapi dia ‘diprospek’. Kontan dia ngamuk. Bukannya nanya-nanya kabar dulu atau gimana...
Ini juga membuat saya gak nyaman. Saya gak enak aja kalo saya mau jadi walikota Cirebon, misalnya, terus tiba-tiba menghubungi kontak-kontak tertentu, keliling-keliling cari dukungan, bikin kongres macem-macem, bikin ikatan alumni atau organisasi macem-macem, dengan satu misi: dukung saya jadi walikota! Aduh. Kesannya koq gimanaaaa gituh...(maaf menggunakan kalimat nggak jelas mirip ABeGe. Soalnya saya juga susah menjelaskan).
Padahal itu kan wajar saja, tho? Namanya juga politik. Maklum lah. Biasa.Tapi nggak tau kenapa saya gak enak aja. Mungkin karena basically saya pemalu (halah!), atau karena proses-proses seperti itu terlalu vulgar dan kurang intelek ;p.
Aduh. Aduh. Aduh. Bisa gak ya kita punya proses-proses politik yang enak? Kepemimpinan dari bawah: karena kerja sosial tulusnya di masyarakat, masyarakat tersebut secara natural mengangkat dan memaksa dia menjadi pemimpin. Dia sendiri mungkin tidak mau dan keberatan, tapi terpaksa mau. Nah, karena basis sosialnya pun terbentuk tulus, yang mendukung juga banyak, kepemimpinannya pun dijalankan dengan tulus (kekuasaannya hanyalah jalan lain untuk mengabdi) ; dengan sendirinya kepemimpinan dia juga sukses. Kehidupan orang banyak menjadi lebih baik. Tentu tidak semua senang, tapi biarlah, toh musuh dia semua orang jahat. Dia meninggal, dan meskipun ia tidak mau, mau tak mau ia dikenang. Di akhirat pun masuk surga, lewat jalur pemimpin yang amanah.
Repotnya, orang macam begini ogah masuk high politic. Lihat Al Gore sekarang. Lihat Mahatma Gandhi.
Tapi mau gimana lagi luk...ini sistem demokrasi! Juga persoalan gak selesai dengan teriak-teriak tegakkan khilafah. Politik praktis, dengan begitu, bisa jadi salah satu alternatif jalan. For greater good.
Tetapi adakah ‘greater good’ itu? Bagaimana menjamin ‘greater good’ itu tercapai? Assurance-nya ya...lagi-lagi, proses-proses politik. Mau tidak mau, proses-proses politik yang dijalaninya pun harus sehat dan benar, untuk mencapai greater good.
Susah. Saya harus belajar menyamankan diri, apalagi kalo emang niat ‘berpolitik’. Pikiran lainnya, look at the bright side! Kalo gak rame politik-politik ini, kapan lagi menyapa kawan lama, menyambung silaturrahim, bertukar kabar, haha-hehe bareng, makan-makan...
After all, in the end it was always between you and God; it was never between you and them anyway.
_di malam hari abis pulang dari Dialog Alumni oleh IA-ITB Jakarta.
_ my official political statement and stand :)
_yaiyy, tulisan yang niat lagi setelah sekian lama! (tapi kok isinya jumpalitan gituh...)
27 Oct
Naomi Klein menyodorkan sebuah kemungkinan jawaban. Ia melihat, pada satu sisi demo-demo perlawanan kini telah dibuat lebih global oleh para selebriti rock and roll, dengan pelopornya penyanyi Bono dari kelompok musik U2. Bono dan kawan-kawan telah membuat banyak kaum muda sadar akan persoalan dunia. Berkat mereka kesadaran kaum muda akan adanya ketidakadilan global kian meningkat. Ratusan ribu kaum muda hadir dalam konser-konser amal yang mereka gelar dengan tema antikemiskinan, antipemanasan global, pembebasan dari utang, dan lain-lain.
Meski demikian, konon konser-konser itu membuat banyak penggemarnya kurang terdorong mencari solusi konkret. Mereka suka "terharu" akan berbagai penderitaan dunia, tetapi tidak berminat membongkar sistem dan struktur penyebabnya.
Muncul gejala menarik. Di satu sisi kian banyak kaum muda peduli penderitaan dunia, di sisi lain banyak yang sudah puas hanya dengan merasa tersentuh akan penderitaan itu. Oleh Klein gejala itu disebut sebagai Bonoisasi (Klein: 2007).
Menurutnya, berkat inisiatif mulia yang dipelopori Bono dan kawan-kawan, kini banyak kaum muda lebih suka pergi ke lokasi-lokasi konser untuk "melawan kemiskinan" atau ke mal dan membeli gelang warna-warni bertuliskan "Anti-Globalisasi" daripada turun ke jalan menuntut tata ekonomi dunia yang lebih adil. Klein mengamati, belakangan banyak kaum muda lebih suka melampiaskan semangat aktivisme politiknya melalui fasilitas blogspot di internet. Lokasi konser, mal, dan internet tentu lebih nyaman sebagai tempat "perlawanan", tetapi perlawanan macam itu apakah mampu mengubah struktur ketidakadilan? Perlu dipertanyakan.
Saya memakai blogger (blogspot), bukan wordpress atau penyedia layanan weblog gratisan lain. Jelas saya kena bonoisasi, he33x.
Ini pengingat yang baik, dan pengisi kekosongan tulisan bulan ini.