Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘pop culture’ Category

Penguasa Pikiran

Anda suka X-MEN? Menurut Anda, siapa tokoh paling kuat di dunia X-MEN?

Apakah Wolverine, pemilik kuku adamantium yang sel-selnya bisa meregenerasi dirinya sendiri? Atau Cyclops dengan optic blast-nya? Rogue yang dapat menyakitkan jika disentuh? Mystique yang mampu mengubah-ubah tampilan? Atau Magneto si pengendali segala macam logam?

Kreator X-MEN rupanya ingin mengajarkan satu hal: kekuatan terbesar tak harus berbentuk serba fisikal dan tangible. Kekuatan terbesar di X-MEN adalah pikiran. Karena itu, Prof. Xavier adalah orang yang terkuat di dunia X-MEN. Ia bisa terluka jika diserang, tak bisa terbang atau mengeluarkan api atau mengendalikan cuaca atau menghilang, tapi ia mengetahui, dan mengendalikan pikiran. Jadi, bukan senjata nuklir yang sangat powerful, tapi pikiran yang mampu menciptakan senjata itu. Bukan AK-47 yang mengerikan, tapi pikiran Kalashnikov yang hebat mampu menciptakannya. Tentu saja untuk menjadi nyata pikiran tadi harus terejawantah dalam entitas fisik, tapi tetap saja pada mulanya adalah pikiran.

Konon, Jean Grey memiliki kekuatan pikiran yang lebih superior dibanding Xavier sekalipun. Namun mengapa ia tak menjadi yang terkuat, dan malahan tewas? Xavier mampu mengendalikan pikirannya, sementara Jean tidak. Satu hal lagi dari X-MEN: Kekuatan paling kuat adalah pikiran yang bisa jadi nyata, dan dapat dikendalikan. Percuma punya pikiran yang bervisi jauh ke depan, tetapi tak terkendalikan, sehingga lebih mirip khayalan...

Sekarang pertanyaan berikutnya: diantara kemampuan-kemampuan pikiran, mana yang paling berbahaya? Xavier bisa melacak posisi orang lain, mengetahui pikiran orang lain, bisa mengendalikan pikiran orang, bisa membuat orang lain takluk pada kemauannya. Mana yang paling mengancam?

Mengendalikan pikiran orang lain, kita akan bilang. Percuma Anda punya senjata sekuat apapun, tapi ketika berhadapan takluk dan urung menyerang.

Ternyata para kreator X-MEN (dalam cerita ini, terutama Brian Michael Bendis) berbeda pendapat. Perkenalkan Scarlet Witch, putri dari Erik Magnus aka Magneto, yang dengan pikirannya mampu mengubah (alter) realita.

Dalam House of M, serial komik 8 seri X-MEN dan the Avengers, Scarlet Witch mengubah realita semua dunia marvel. Manusia tiba-tiba menjadi minoritas dan kaum pemberontak, negeri para mutan tegak berdiri dipimpin oleh Erik Magnus. Spiderman menikah dengan Gwen Stacy dan punya anak, Paman Ben tidak mati dan mereka semua bahagia. Wolverine punya affair dengan Mystique dan mengetahui seluruh asal usulnya, yang selalu menjadi obsesi hidupnya. Semua mutan bahagia, tapi manusia tidak. Tapi peduli amat, manusia yang diubah realitanya toh tidak sadar, atau malah tidak diikutkan dalam cerita. House of M ini mirip cerita Matrix, dimana The Machine mencipta semua ‘dunia’ dari tiap manusia yang dilahirkan dan malah manusia menjadi energi, sementara tak ada manusia yang sadar (kecuali para pemberontak, Neo dan kawan-kawan).

Sederhananya, Scarlet Witch adalah TUHAN dalam dunia itu. Namun ia tuhan yang lemah, yang fragile, yang bukan Tuhan. Tak semua orang bisa diubah realita dalam pikirannya. Seorang perempuan kecil dan Wolverine bertahan dengan realita semula (realita sebenarnya?).

Nah, bagaimana jika Scarlet Witch mampu menjadi tuhan yang baik? Tuhan yang benar-benar Tuhan, seperti Tuhan kita semua? Praktis, dia adalah Tuhan setuhan-tuhannya (Terlalu banyak kata Tuhan ditulis disini...).

Seperti yang pernah ditulis (dengan sangat baik dan panjang!) disini, bagaimana jika Tuhan kita, yang tentu saja bukan Scarlet Witch, sebenarnya melakukan reality altering pada apa yang sekarang kita sebut ‘dunia’ sekarang ini? Wah, Anda punya harta seberapapun, istri secantik apapun, kekuasaan sebesar apapun, menjadi nothing. Saat kenyataan tersingkap, semua jadi tak berarti.

Bagaimana jika kenyataan sebenarnya itu disingkap, ketika kita, misalnya, telah dikumpulkan di akhirat, di padang mahsyar, atau di alam kubur? Saya bayangkan, kalau kita melakukan hal-hal yang sia-sia sekarang di sebuah dunia ilusi Tuhan, tentu saja kita akan serta merta merasa bodoh dan menyesal. Atau merasa bersyukur dan gembira, karena yang kita lakukan sebelumnya adalah kebaikan.

Ah, gagasan Tuhan seperti mutan sempurna yang melakukan reality altering kan spekulatif? Apa pula referensinya, House of M dan the Matrix? Hahaha.

Namun, tak ada ruginya berbuat kebaikan.

Wallahu a’lam bis showaab.
Sebagai peringatan untuk diri sendiri.

  • Comments Off
  • Filed under: Refleksi, komik, pop culture
  • “Charming” itu Penting!

    Saya menemukan tulisan dari jurnal ilmiah yang bagus dari cafesalemba, judulnya Beautiful Politicians (King & Leigh, 2007?). Mereka ingin membuktikan, apakah politisi yang beautiful (maksudnya disini bukan hanya cantik, tapi juga ganteng) lebih banyak untuk dipilih. Karena beragam alasan demi kepentingan penelitiannya, Australia dipilih sebagai wilayah penelitian. Hasilnya? Dalam kata-kata mereka sendiri: Beautiful candidates are indeed more likely to be elected, with a one standard deviation increase in beauty associated with a 1½ – 2 percentage point increase in voteshare. Tidak terlalu besar, tapi di Australia, dengan jumlah kandidat yang banyak dan perbedaan suara yang tipis, 1-2 persen bisa jadi sangat signifikan. Temuan lainnya lebih menarik: we find suggestive evidence that beauty matters more in electorates with a higher share of apathetic voters.

    Hmm...Saya segera ingat pilpres 2004 lalu. Beberapa media menyebut bahwa kandidat terpilih sangat disukai terutama oleh kalangan ibu-ibu, yang mempersepsi kandidat tersebut sebagai “ganteng dan gagah”. Saya juga ingat beberapa analisis komentator politik kita, bahwa perilaku pemilih kita sejatinya kebanyakan apatis. Ha! Pantas kandidat itu bisa menang kan?

    Jadi, tidak adil? Kandidat yang diberikan ketampanan atau kecantikan (kualitas yang given ?) bisa mendapat suara yang lebih banyak daripada yang tidak ganteng/cantik?

    Sebenarnya, that beauty matters bukan hanya di ranah politik saja. Dari prolog di tulisan itu juga saya dapatkan kesimpulan dari penelitian-penelitian sebelumnya: di pasar tenaga kerja Kanada dan AS, orang yang lebih menarik mendapat gaji lebih baik (Hamermesh dan Biddle, 1994), termasuk untuk profesi seperti pengacara (Biddle dan Hamermesh, 1998) dan eksekutif periklanan (Pfann, Bosman, Biddle, dan Hamermesh, 2000). Hal ini juga ternyata berlaku untuk pasar tenaga kerja di Australia (Borland, 2001) dan Inggris Raya (Harper, 2000). Lho, semuanya kan di negara Barat, tentu tidak di Timur kan? TIdak, ini juga berlaku di China (Hamermesh, Meng dan Zhan, 2002). Untuk menambah ‘ketidakadilan’ itu, saya tambahkan: bahwa orang yang kurang menarik more likely to commit crime (Mocan dan Tekin, 2006). Saya juga pernah baca, bahwa orang yang lebih tinggi mendapat rata-rata penghasilan yang lebih besar daripada rekan-rekannya yang lebih pendek (bisa dicari di jurnal-jurnal atau artikel-artikel economics of beauty, mungkin).

    Dunia tidak adil? Mungkin. Tapi mau gimana lagi, emang bekerjanya seperti itu...(setidaknya seperti yang ditunjukkan riset-riset).

    Hanya saja, untuk mengambil kesimpulan definitif bahwa memang benar dunia hanya baik untuk orang yang ganteng/cantik perlu melewati beberapa pemikiran terlebih dahulu.

    Sebenarnya, apa itu beautiful? Apa itu ganteng atau cantik? Lupakan perdebatan tentang apakah persepsi kita tentang kegantengan/kecantikan itu konstruksi sosial atau diberikan secara alamiah. Skripsinya Dian Sastro, katanya, menunjukkan bahwa pendefinisian cantik adalah konstruksi sosial. Saya tidak tahu, yang saya tahu ialah Dian Sastro menurut saya cukup cantik, entah itu karena konstruksi sosial atau memang pendapat alamiah saja. Yang jelas, riset tentang cross-cultural beauty ratings menunjukkan, dalam bahasa King & Leigh, beauty is not ‘in the eye of the beholder’. Tapi bukankan cantik itu relatif, seperti dalih orang-orang? Ya, di level mikro-individual. Saya menilai Mariana Renata, misalnya, cukup 7, sementara Anda menilai 9. Namun jika disurvei, pada level makro, secara aggregat bisa kita dapatkan, nilai Mariana Renata adalah X sementara Fulanita itu Y, dimana X>Y, yang berarti Mariana lebih cantik daripada Fulanita. Dan itu berlaku lintas budaya ( Langlois dkk, 2000).

    Jadi, sebenarnya cukup aman menyimpulkan pada level makro beauty is universal, tidak peduli asal-usul penilaian itu, apakah konstruksi sosial atau alamiah.

    Pertanyaan berikutnya, bagaimana yang beauty itu? Yang simetris-proporsional? Proporsional seperti apa? Atau mengikuti pendapat Oprah sewaktu mewawancara Charlize Theron, bahwa orang cantik adalah orang yang memiliki bentuk segitiga harmonis antara kedua mata, hidung dan bibir? (sudah, sudah, tak perlu mengecek diri dan melihat cermin, he33x). Atau mengikuti Pramudya, bahwa kecantikan adalah susunan tulang yang baik dengan daging yang menempel secara proporsional?

    Ini bukan hasil riset, tapi opini pribadi. Saya sendiri menganggap berbeda antara ‘cantik’, ‘manis’, ‘cute’, ‘menarik/attraktif’, dan ‘jelita’. Karena menyangkut perasaan, saya sulit membuat pembatasan jelas tentang kategori-kategorinya. Ada yang menurut saya cantik, tapi somehow, kok tidak menarik. Ada juga yang sebenarnya kurang cantik, tapi somehow lagi, kok ya sangat menarik.

    Saya mengusulkan kita menggunakan istilah charming untuk orang-orang yang tidak peduli cantik atau tidak, tetapi menarik. Berlaku untuk pria dan wanita. Istilah charming ini juga dipakai, supaya judul yang saya gunakan bagus dan berima (“charming” itu penting!)

    Nah, menurut saya, charming itu tidak terkait dengan kecantikan fisik. Intinya, charming adalah kemampuan membuat nyaman dan enak untuk orang-orang dalam melihat kita. Jadi, charming ini saya usulkan untuk mengganti beautiful dalam literatur economics of beauty.

    Seperti ditunjukkan dalam riset-riset, ternyata memang charming itu penting! Orang-orang charming mendapat penghasilan yang lebih besar, lebih sedikit berprilaku kriminal, dan lebih disukai untuk dipilih.

    Sekarang, apakah dunia tidak adil? Sementara cantik/ganteng itu fisikal, kalau anda mau sepakat, charm itu tidak terkait dengan fisik. Anda bisa saja ganteng, tapi belum tentu charming. Anda mungkin kurang cantik, tapi bisa jadi charming (bisa juga tidak). Jadi, charm itu bukan kualitas yang given, tetapi kualitas yang bisa didapatkan, bisa dipelajari. Charm terkait dengan bagaimana kita ingin menampilkan diri kita. Personal branding. personal positioning, yang bisa dirancang. Nah, kalau begitu, dunia itu tidak tak adil. Netral. Karena jadinya tergantung kita, mau belajar jadi charming atau tidak?

    Selanjutnya, bagaimana menjadi charming ? Nah, untuk yang ini saya juga masih perlu banyak belajar, he33x. Mungkin orang-orang yang telah charming di luar sana tertarik menjelaskan?

    Wallahu a’lam bis showaab.
    Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui


  • Comments Off
  • Filed under: Opini, Refleksi, belief, pop culture
  • Potret Pemuda Idola

    Belakangan ini postingan saya sangat personal. Kali ini tidak. Mari membahas lagi hal-hal selain tentang Lucky di luar sana.

    Banyak dari anda mungkin akan merasa hal yang akan saya bahas ini tidak penting. Tak apalah. Yang penting saya senang dan merasa ini merupakan topik menarik.

    Mari bicara tentang “potret pemuda idola”. Bagaimana? Tentu saja “idola” itu merupakan sebuah kesepakatan umum. Lalu bagaimana? Dari survey, gitu? Tidak, terlalu merepotkan. Karena ini tulisan yang tidak berpretensi untuk ilmiah, mari kita lihat (lagi-lagi) dari pop culture, ditambah dengan generalisasi kasar dan sangat brutal.

    Mari kita lihat dari film-film Indonesia. Lingkupnya tentu saja Indonesia, dengan lingkup waktu (lagi-lagi menggunakan pembagian seenaknya) per dekade, dari 70-80-90-00-an. Jangan lupa, generalisasi yang digunakan akan sangat brutal. Namun tetap arguable.

    Pemuda yang jadi idola adalah pemuda pecinta yang populer lewat film-film di zamannya. Itu tesis utamanya. Dari identifikasi peran yang dimainkan di film favorit, mari kita lihat seperti apa sih karakteristik pemuda idola itu.

    (btw, saya merasa judulnya bikin ilfeel. “Pemuda idola”…halah…tak apalah. Saya tak menemukan kata-kata lain yang lebih bagus).

    Tahun 70-an, zaman ibu-bapak saya muda, yang jadi potret pemuda idolanya adalah Roy Marten. Asli deh, menurut cerita yang saya dengar dan banyaknya film Roy Marten saat itu, saya mendapat gambaran bahwa dia itu bener-bener idola sejati! Nah, emang gimana karakter yang biasa dimainkan Roy di film-filmnya zaman dulu? Karena film juga representasi selera populer masyarakat, maka ini pula yang dianggap potret yang harus dicontoh oleh para pacar gadis-gadis zaman itu. Jadi gimana?

    Kalau diingat-ingat lagi, citra Roy dulu itu seorang playboy…Pria ganteng, womanizer sejati, pecicilan, dengan kata-kata indah yang sekarang sih gombal banget. Biasanya nih playboy hinggap dulu di beragam bunga, sebelum ketemu dengan perempuan yang dia benar-benar cinta, dan akhirnya nih playboy takluk. Kata-kata indah, tampang ganteng dan necis: sangat penting (dulu).

    Mari beranjak ke tahun 1980-an. Siapa? Tahun 70-an ada Roy, tahun 80-an hingga 90-an awal adalah masanya…si Boy. Film “Catatan si Boy” benar-benar fenomenal: ada 5 (!) seri, syutingnya di luar negeri dan sangat mewah, serta ditonton banyak orang (untuk ukuran zamannya). Emang gimana sih mas Boy ini? Mari dengarkan original soundtrack-nya dari Ikang Fawzi: Baik hati dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar, oh Boy! Kedengeran seperti Pramuka? Apa boleh buat, memang liriknya seperti itu, dan dalam film-filmnya juga dicitrakan Boy memang seperti yang dinyanyikan. Ia baik hati, kaya, tapi masih mau bergaul dengan siapa saja (tidak sombong). Jagoan pula: suka ada adegan berantemnya, dengan preman-preman atau orang jahat. Mas Boy ini dikeroyok, tapi tetap menang! Jagoan deh. Terus pintar, kuliahnya di luar negeri (kalau tidak salah di UCLA). Tambahan lagi, Boy ini biar kaya, ganteng, pintar, tapi lumayan religius: di kaca spion mobilnya selalu tergantung tasbih dan ditunjukkan stiker ALLAH-Muhammad… Kali ini senjata Boy bukan lagi tampang ganteng dan kata-kata indah, tapi sikap yang gentleman, baik hati dan tidak sombong…

    Tahun 1990-an tengah…Rasanya tak ada figur yang jadi idola. Iya lah, saat itu film Indonesia dipenuhi kata-kata “ranjang”, “sex”, “gairah”, dan lain-lain. Film-film dewasa, dengan pemeran pria yang asal ada (dalam film begituan, yang penting itu aktrisnya kan?).

    Nah, maraknya film Indonesia juga memulai citraan baru tentang pemuda idola. Rangga di Ada Apa dengan Cinta?, terus peran-peran yang dimainkan Samuel Rizal. Agak beda dengan idola-idola zaman dulu yang gaul, supel, terus agak-agak playboy, idola zaman 90 akhir-2000-an ini bukan tipe cowok yang asyik. Tipe-nya itu cool, agak freak, tapi tetap ngganteng, sehingga bisa tetap jadi idola dan tidak memalukan disandingkan dengan Shandy Aulia atau Dian Sastro. Rata-rata para idola baru ini tidak banyak omong (minimal pada awalnya). Tidak banyak juga mengumbar kata cinta. Jika mengumbar pun, akan keliatan groginya. Tipe pria yang agak susah mengucapkan dan tak mengobral kata-kata cinta, tapi ketika mencinta itu serius sekaleee…

    Karena saya juga hidup di zaman mereka jadi idola, jadi saya bisa merasakan semangat yang ada. Buat para cewek jelas: klepak-klepek…Aduh, ganteng ya…Cool banget! Buat para cowok: benci. Dianggap banci (padahal hanya manifestasi rasa iri…hehehehe). Reaksi setiap cewek pada tiap zaman terhadap para idola ini mungkin sama: cinta! Saya tidak tahu reaksi cowok pada zaman masing-masing, tapi zaman ini saya tak pernah ketemu pria yang mengidolakan Samuel Rizal atau Nicholas Saputra…yang ada mencibir. Biasalah, iri tanda tak mampu.

    Bagaimana figur idola selanjutnya? Entahlah. Kemarin saya nonton Badai Pasti Berlalu, dan citraan Leo yang ingin ditampilkan juga lebih 1990-an, daripada om Roy di film pertamanya. Sekarang gak terlalu pecicilan, dan agak-agak cool. Jadi pergeseran citraannya ke idola selanjutnya masih belum kelihatan. Oh iya, denger-denger Ayat-Ayat Cinta akan difilmkan. Kita lihat apakah figur Fahri, protagonis pria dalam kisah itu, bisa menjadi potret idola baru.

    Kalau iya, kabar baik buat para pria. Poligami bisa direstui para wanita (asal anda sekualitas dengan Fahri…=p).
  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, film, pop culture