Sebuah aggregator blog..
27 Jul
Berangkat jam 7 KRL menuju Bogor. Kami memilih KRL karena cepat (1 jam dari Tebet), murah (Rp 2,500) dan nyaman (Sabtu, tidak padat). Dari stasiun Bogor, kami langsung meluncur ke terminal Baranangsiang, dan memilih rute bus Bogor-Pelabuhan Ratu (Bus MGI, seukuran Kopaja). Dengan tarif 25 ribu (AC), kami mulai berangkat ke Pelabuhan Ratu sekitar pukul 8.30
Sebuah perjalanan yang panjang. Kalau tidak salah, saya tidur bangun sampai tiga kali dan akhirnya tiba di Pelabuhan Ratu sekitar pukul 12 (3,5 jam). Di terminalnya, begitu bus masuk langsung berdatangan para tukang ojek di sekeliling bus. Benar-benar membingungkan jika baru pertama datang kesana.
Yang kami lakukan sederhana, janjian di warung makan yang kami tunjuk lalu kami berpencar. Sementara solutif, kami terlepas dari kepungan. Tapi ternyata selama kami makan (dan bahkan saat sholat di masjid), masih ada saja tukang ojek yang ‘setia’. Tentu yang seperti ini justru membuat kami tidak nyaman dan meninggalkannya. Oiya satu lagi, di warung makan itu kami ‘sepakat’ menemukan pelayan yang ‘khas sunda’ :p.
Berdasarkan info dari sopir angkot (yang efeknya kami harus membayar ongkos ‘mahal’), maka kami menuju Pantai Karanghawu, 14 km dari kota kecamatan Pelabuhan Ratu. Karanghawu, asal kata Karang berbentuk Hawu (tungku), pada dasarnya pantainya terbagi dua, yang berkarang dan yang berpasir. Masih bersih, tidak terlalu ramai. Sayang, kami tidak menemukan fasilitas hotel atau tempat makan ‘representative’ yang banyak kami temukan di area Pantai Citepus, sekitar 4-8 km dari kecamatan.
Diantara yang hotel eksotis adalah Samudera Beach Hotel (SBH). Hotel ini satu diantara tiga hotel yang dibangun Soekarno, yakni Hotel Indonesia, Sanur dan Pelabuhan Ratu sendiri. Percaya tidak percaya, banyak ‘cerita’ yang mengiringi di hotel-hotel tersebut. Dan di Pelabuhan Ratu sendiri, hotel ini tampak dari luar kurang terawat. Padahal eksotisme bangunan lampau masih terpancar dari hotel ini (dalam hati, ingin suatu hari menginap di hotel ini).
Berikut adalah beberapa snapshot yang diambil teman saya (his courtesy).
Ini adalah view dari Karanghawu, karang yang tegak melawan ombak.
Pasir yang terhampar, menggugah keinginan untuk merasanya.
Dan inilah kami, dua orang di balik ide perjalanan ini.
Saya mulai menuliskan sesuatu di pasir, untuk sebuah nama.
Sebelum pulang, kami menemukan view yang bagus dari bukit kecil. Sebuah sawah dengan background pantai. Subhanallah, sungguh indah indonesia kita.
Kami lalu pulang jam 4 sampai terminal Pelabuhan Ratu. Harapan kami, menuju Bogor dengan bus AC. Sayangnya, bus AC sudah tidak ada setelah kami menunggu hingga jam 5. Sudah sejam terbuang, maka kami memutuskan bus AC Pelabuhan Ratu-Sukabumi. Sebenarnya bisa menggunakan yang menuju Bogor tapi non-AC. Pikir kami ideal, di Sukabumi pasti banyak bus ke Jakarta (AC). Dan karena si teman tampaknya ingin tahu Sukabumi, kotanya Vagetoz (hehe).
Jam 8 sampai di Sukabumi, terminal sudah sepi. Jangankan bus Jakarta AC, bus menuju Jakarta sudah tidak ada (yang masih banyak justru Bandung, sempat terpikir ke Bandung aja). Jadilah harapan tinggal harapan). Tapi kami bertekad, lebih baik bisa makan tidak bisa pulang daripada bisa pulang tapi tidak bisa makan. Maka, kami makan dulu. Selesai makan, kami akhirnya memutuskan naik colt L300 menuju Ciawi untuk harapan 24 jam bus menuju Jakarta.
Sempat kami di ’handover’ ke Colt yang lebih penuh penumpang di Cibadak, daerah dimana jalan percabangan ke Sukabumi dan Pelabuhan Ratu. Setelah peristiwa itu, saya tidak bisa tidur. Khawatir ada ’handover’ lagi atau malah-malah kena ’akal’ orang. Tiba di Ciawi sekitar jam 10.30, sebuah malam yang ramai.
Tapi perjalanan tidak berhenti disini. Masih harus memilih antara Bus Kampung Rambutan, Merak (ancaman turun di Slipi atau di tengah tol Pancoran), atau mobil ’omprengan’ Cawang. Sampai detik terakhir, Cawang lah yang kami pilih karena alasan lebih dekat ke tujuan. Tiba di Cawang lalau meluncur langsung dengan Taksi pilihan menuju Pancoran sampai jam 11.30.
Menurut teman, kami baru saja seperti melakukan Black Hawk Down, rencana penyerangan 15 menit namun akhirnya jadi seharian. Kami menikmatinya, seperti benar-benar tidak direncanakan, menantang. Dan berpikir bahwa dalam hidup, sekali-kali kita perlu melakukan yang seperti itu. Kuncinya, kita harus menemukan teman perjalanan yang tepat.
24 Apr
Pengalaman menggunakan beberapa taksi di jakarta membuat kita bisa menjadikannya referensi dalam pemilihan taksi. Inilah beberapa catatan pengalaman mengenai taksi-taksi tersebut.
Blue Bird
Tidak dipungkiri lagi, inilah taksi paling baik yang dimiliki negeri ini. Taksi Bluebird Group (Blue Bird, Silver Bird, Golden Bird) adalah taksi yang paling baik dan terpercaya dalam melayani. Citra positif terpercaya ini menempatkan blue bird menjadi pemimpin dalam jasa taksi. Makanya, jangan ragu untuk menggunakan taksi ini terutama jika kita tidak tahu betul dimana alamat tujuan kita. Karena kecil kemungkinan kita ‘diajak’ muter-muter lalu argo yang tidak wajar.
Seiring dengan baiknya pelayanan, urusan harga pun terseret juga. Blue Bird (BB) adalah taksi yang paling mahal. Dalih menggunakan tarif baru (argo buka Rp 5000, dan Rp 250 per satuan), kita pun harus menyiapkan uang cukup jika berpikir menggunakannya. Tapi untuk argo, bisa dipastikan bahwa argo nya tidak dimainkan sopirnya. Selain itu, BB pun menyediakan voucher (personal atau korporat) untuk mendukung layanan ter yahud nya itu. Call centre, 021-798 1001 / 794 1234
Express
Taksi yang paling dicari oleh orang yang tahu jakarta dan berprinsip, kalau bisa irit taksi kenapa tidak? Alasannya, karena menggunakan mobil taksi yang bagus, jumlahnya lumayan banyak (kedua terbanyak setelah Bluebird) dan pastinya karena tarif lama (argo buka Rp 4000, dan Rp 180 per satuan). Untuk tingkat kepercayaan, tentu masih kalah dibanding BB. Namun dibanding taksi non BB, setidaknya Express (Ex) masih bagus.
Jika anda dari bandara soekarno hatta, sangat lumayan bila menggunakan Taksi Express ini. Tentunya lebih terpercaya dibandingkan taksi lain non-BB disana (hati-hati, banyak yang menggunakan sistem borongan). Jadinya, tempat parkir taksi Ex sering antri penumpang untuk menunggu taksi Ex datang. Cengkareng-pancoran saja (termasuk tol), yang jika menggunakan BB minimal 100 ribu, maka jika menggunakan Ex ‘hanya’ 80 ribu. Call centre, 021-5799 0707
Putra
Taksi ini jumlahnya juga cukup banyak, mungkin ketiga atau keempat (setelah dian group). Taksi ini juga menggunakan tarif lama. Mobilnya tidak sebagus Express, tapi interiornya bersih dan kadang lebih bersih dibandingkan Express. Kaca mobil Express yang transparan (20%) sedangkan Putra lumayan tertutup (60%), sehingga Putra lebih lumayan untuk privasi.
Dan secara personal, saya lebih suka menggunakan Taksi Putra (Put) dibandingkan taksi Express. Buat saya, tampilan mobilnya serasa lebih bersahaja. Namun sayangnya, taksi ini tidak akan kita temukan di parkir arrival bandara soekarno hatta. Jika untuk mengantar saja, pilihannya selalu jatuh ke Put selain BB. Call centre, 021-781 7771
TransCab
Inilah taksi baru yang cukup meramaikan bisnis taksi di jakarta. Layanan yang disajikan tidak monoton seperti taksi lain. Dia menyajikan tv dalam mobil (sekalipun beberapanya sudah tidak bisa lagi), dan bacaan koran. Lumayan membunuh kejenuhan jika macet. Mobilnya sama yang digunakan taksi putra, tapi interior tempat duduk lebih bagus. Yang menjadikan unggul, TransCab (Cab) menggunakan tarif lama. Tentu ini kelebihan yang patut dicoba.
Tapi sayangnya, jangankan ada di arrival bandara, berharap ada banyak di jalanan jakarta pun pupus. Maklum, jumlahnya sampai sekarang masih 60 moda. Sekali-kali, cobalah hubungi call center nya (021-583 55500) untuk mencoba taksi ini. Semoga anda beruntung, bisa dapat taksi dan semua fasilitasnya juga ok. Buat saya, warna mencolok (kuning dan tulisan besar di body mobil) menjadi pilihan kedua setelah Putra.
***
Lalu, taksi apa lagi yang ‘bisa’ digunakan? Tentu ini bergantung dari preferensi dan kebutuhan masing-masing. Jika di pinggir jalan dan tidak terlalu mendesak, maka kita pun bisa lebih pilih-pilih taksi yang lewat. Secara biaya, kita cenderung menggunakan taksi tarif lama dibanding tarif baru. Maka pilihan saya, Putra atau Express (TransCab sangat minim). Jika lewat call centre, saya cenderung pilih Putra atau TransCab, baru Express.
Jika di jalan sulit mendapatkan ketiganya, maka saya cenderung memilih Dian Taksi atau Celebrity. Walaupun pernah ketika di bandara, saya ditawari sistem borongan dan langsung mentah-mentah menolaknya. Pilihan lainnya jika benar-benar tidak menemukan taksi-taksi tersebut, maka saya pun naik taksi tarif lama yang ada (Sri Medali, Koperasi Taksi dll). Pastinya terlebih dulu ditanyakan tahu arah tujuan alamat kita. Jangan sampai sudah naik, argo jalan tapi kita tak ujung mencapai tujuan.
Bagaimana jika mendesak? Maka BlueBird lah yang menjadi pilihan. Setiap detik bisa ditemukan di jalan. Dan kepercayaan yang pasti (bisa dipastikan). Buat manula, ibu hamil, keluarga besar yang tidak mau repot, atau yang tidak tahu jakarta tentu BB jadi pilihan terbaik. Kalau sudah begini, urusan tarif baru tak jadi soal.
Mengenai tarif, secara umum patokan antara tarif lama dan baru itu setidaknya selisih sekitar 25%. Dan jika tarif lama kurangnya jauh dari itu, anda pun patut curiga terhadap argonya. Taksi tarif baru non-BB seperti Gamya, Taxiku, Primajasa bisa menjadi pilihan juga. Tapi buat saya untuk taksi tarif baru, kalau ada BlueBird, kenapa yang lain?
Selamat memilih taksi.
17 Mar
1. Bunaken Beach
2. Natsepa Beach
Suli Village, Ambon, Central Maluku
3. Parai Tenggiri Beach
Bangka Island, Bangka Belitung Province
4. Pelabuhan Ratu Beach
Sukabumi, West Java
5. Kuta Beach
Kuta, Denpasar, Bali
6. Sanur Beach
Sanur, Denpasar, Bali
7. Dreamland Beach
Badung, Bali
8. Senggigi Beach
Lombok, Mataram, West Nusa tenggara
9. Gapang Beach
Weh Island, Nangroe Aceh Darussalam
10. Bintan Beaches (Trikora & Sekera)
Bintan Island, Riau Island
Taken from Garuda Magazine – March 08
*so, which one firstly do you prefer to go to? :)
8 Feb