Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Perjalanan’ Category

Pelabuhan Ratu Bay

Weekend kemarin bersama seorang teman, saya melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Teman saya memang berniat hunting fotografi, saya hanya karena belum pernah kesana dan ingin juga menikmati pantai. Rencana kami, one day trip!

Berangkat jam 7 KRL menuju Bogor. Kami memilih KRL karena cepat (1 jam dari Tebet), murah (Rp 2,500) dan nyaman (Sabtu, tidak padat). Dari stasiun Bogor, kami langsung meluncur ke terminal Baranangsiang, dan memilih rute bus Bogor-Pelabuhan Ratu (Bus MGI, seukuran Kopaja). Dengan tarif 25 ribu (AC), kami mulai berangkat ke Pelabuhan Ratu sekitar pukul 8.30

Sebuah perjalanan yang panjang. Kalau tidak salah, saya tidur bangun sampai tiga kali dan akhirnya tiba di Pelabuhan Ratu sekitar pukul 12 (3,5 jam). Di terminalnya, begitu bus masuk langsung berdatangan para tukang ojek di sekeliling bus. Benar-benar membingungkan jika baru pertama datang kesana.

Yang kami lakukan sederhana, janjian di warung makan yang kami tunjuk lalu kami berpencar. Sementara solutif, kami terlepas dari kepungan. Tapi ternyata selama kami makan (dan bahkan saat sholat di masjid), masih ada saja tukang ojek yang ‘setia’. Tentu yang seperti ini justru membuat kami tidak nyaman dan meninggalkannya. Oiya satu lagi, di warung makan itu kami ‘sepakat’ menemukan pelayan yang ‘khas sunda’ :p.

Berdasarkan info dari sopir angkot (yang efeknya kami harus membayar ongkos ‘mahal’), maka kami menuju Pantai Karanghawu, 14 km dari kota kecamatan Pelabuhan Ratu. Karanghawu, asal kata Karang berbentuk Hawu (tungku), pada dasarnya pantainya terbagi dua, yang berkarang dan yang berpasir. Masih bersih, tidak terlalu ramai. Sayang, kami tidak menemukan fasilitas hotel atau tempat makan ‘representative’ yang banyak kami temukan di area Pantai Citepus, sekitar 4-8 km dari kecamatan.

Diantara yang hotel eksotis adalah Samudera Beach Hotel (SBH). Hotel ini satu diantara tiga hotel yang dibangun Soekarno, yakni Hotel Indonesia, Sanur dan Pelabuhan Ratu sendiri. Percaya tidak percaya, banyak ‘cerita’ yang mengiringi di hotel-hotel tersebut. Dan di Pelabuhan Ratu sendiri, hotel ini tampak dari luar kurang terawat. Padahal eksotisme bangunan lampau masih terpancar dari hotel ini (dalam hati, ingin suatu hari menginap di hotel ini).

Berikut adalah beberapa snapshot yang diambil teman saya (his courtesy).

Ini adalah view dari Karanghawu, karang yang tegak melawan ombak.









Pasir yang terhampar, menggugah keinginan untuk merasanya.









Dan inilah kami, dua orang di balik ide perjalanan ini.









Saya mulai menuliskan sesuatu di pasir, untuk sebuah nama.






Sebelum pulang, kami menemukan view yang bagus dari bukit kecil. Sebuah sawah dengan background pantai. Subhanallah, sungguh indah indonesia kita.






Kami lalu pulang jam 4 sampai terminal Pelabuhan Ratu. Harapan kami, menuju Bogor dengan bus AC. Sayangnya, bus AC sudah tidak ada setelah kami menunggu hingga jam 5. Sudah sejam terbuang, maka kami memutuskan bus AC Pelabuhan Ratu-Sukabumi. Sebenarnya bisa menggunakan yang menuju Bogor tapi non-AC. Pikir kami ideal, di Sukabumi pasti banyak bus ke Jakarta (AC). Dan karena si teman tampaknya ingin tahu Sukabumi, kotanya Vagetoz (hehe).

Jam 8 sampai di Sukabumi, terminal sudah sepi. Jangankan bus Jakarta AC, bus menuju Jakarta sudah tidak ada (yang masih banyak justru Bandung, sempat terpikir ke Bandung aja). Jadilah harapan tinggal harapan). Tapi kami bertekad, lebih baik bisa makan tidak bisa pulang daripada bisa pulang tapi tidak bisa makan. Maka, kami makan dulu. Selesai makan, kami akhirnya memutuskan naik colt L300 menuju Ciawi untuk harapan 24 jam bus menuju Jakarta.

Sempat kami di ’handover’ ke Colt yang lebih penuh penumpang di Cibadak, daerah dimana jalan percabangan ke Sukabumi dan Pelabuhan Ratu. Setelah peristiwa itu, saya tidak bisa tidur. Khawatir ada ’handover’ lagi atau malah-malah kena ’akal’ orang. Tiba di Ciawi sekitar jam 10.30, sebuah malam yang ramai.

Tapi perjalanan tidak berhenti disini. Masih harus memilih antara Bus Kampung Rambutan, Merak (ancaman turun di Slipi atau di tengah tol Pancoran), atau mobil ’omprengan’ Cawang. Sampai detik terakhir, Cawang lah yang kami pilih karena alasan lebih dekat ke tujuan. Tiba di Cawang lalau meluncur langsung dengan Taksi pilihan menuju Pancoran sampai jam 11.30.

Menurut teman, kami baru saja seperti melakukan Black Hawk Down, rencana penyerangan 15 menit namun akhirnya jadi seharian. Kami menikmatinya, seperti benar-benar tidak direncanakan, menantang. Dan berpikir bahwa dalam hidup, sekali-kali kita perlu melakukan yang seperti itu. Kuncinya, kita harus menemukan teman perjalanan yang tepat.

  • Comments Off
  • Filed under: Liput, Perjalanan
  • Taksi di Jakarta

    Pengalaman menggunakan beberapa taksi di jakarta membuat kita bisa menjadikannya referensi dalam pemilihan taksi. Inilah beberapa catatan pengalaman mengenai taksi-taksi tersebut.


    Blue Bird

    Tidak dipungkiri lagi, inilah taksi paling baik yang dimiliki negeri ini. Taksi Bluebird Group (Blue Bird, Silver Bird, Golden Bird) adalah taksi yang paling baik dan terpercaya dalam melayani. Citra positif terpercaya ini menempatkan blue bird menjadi pemimpin dalam jasa taksi. Makanya, jangan ragu untuk menggunakan taksi ini terutama jika kita tidak tahu betul dimana alamat tujuan kita. Karena kecil kemungkinan kita ‘diajak’ muter-muter lalu argo yang tidak wajar.


    Seiring dengan baiknya pelayanan, urusan harga pun terseret juga. Blue Bird (BB) adalah taksi yang paling mahal. Dalih menggunakan tarif baru (argo buka Rp 5000, dan Rp 250 per satuan), kita pun harus menyiapkan uang cukup jika berpikir menggunakannya. Tapi untuk argo, bisa dipastikan bahwa argo nya tidak dimainkan sopirnya. Selain itu, BB pun menyediakan voucher (personal atau korporat) untuk mendukung layanan ter yahud nya itu. Call centre, 021-798 1001 / 794 1234


    Express

    Taksi yang paling dicari oleh orang yang tahu jakarta dan berprinsip, kalau bisa irit taksi kenapa tidak? Alasannya, karena menggunakan mobil taksi yang bagus, jumlahnya lumayan banyak (kedua terbanyak setelah Bluebird) dan pastinya karena tarif lama (argo buka Rp 4000, dan Rp 180 per satuan). Untuk tingkat kepercayaan, tentu masih kalah dibanding BB. Namun dibanding taksi non BB, setidaknya Express (Ex) masih bagus.


    Jika anda dari bandara soekarno hatta, sangat lumayan bila menggunakan Taksi Express ini. Tentunya lebih terpercaya dibandingkan taksi lain non-BB disana (hati-hati, banyak yang menggunakan sistem borongan). Jadinya, tempat parkir taksi Ex sering antri penumpang untuk menunggu taksi Ex datang. Cengkareng-pancoran saja (termasuk tol), yang jika menggunakan BB minimal 100 ribu, maka jika menggunakan Ex ‘hanya’ 80 ribu. Call centre, 021-5799 0707


    Putra

    Taksi ini jumlahnya juga cukup banyak, mungkin ketiga atau keempat (setelah dian group). Taksi ini juga menggunakan tarif lama. Mobilnya tidak sebagus Express, tapi interiornya bersih dan kadang lebih bersih dibandingkan Express. Kaca mobil Express yang transparan (20%) sedangkan Putra lumayan tertutup (60%), sehingga Putra lebih lumayan untuk privasi.


    Dan secara personal, saya lebih suka menggunakan Taksi Putra (Put) dibandingkan taksi Express. Buat saya, tampilan mobilnya serasa lebih bersahaja. Namun sayangnya, taksi ini tidak akan kita temukan di parkir arrival bandara soekarno hatta. Jika untuk mengantar saja, pilihannya selalu jatuh ke Put selain BB. Call centre, 021-781 7771


    TransCab

    Inilah taksi baru yang cukup meramaikan bisnis taksi di jakarta. Layanan yang disajikan tidak monoton seperti taksi lain. Dia menyajikan tv dalam mobil (sekalipun beberapanya sudah tidak bisa lagi), dan bacaan koran. Lumayan membunuh kejenuhan jika macet. Mobilnya sama yang digunakan taksi putra, tapi interior tempat duduk lebih bagus. Yang menjadikan unggul, TransCab (Cab) menggunakan tarif lama. Tentu ini kelebihan yang patut dicoba.


    Tapi sayangnya, jangankan ada di arrival bandara, berharap ada banyak di jalanan jakarta pun pupus. Maklum, jumlahnya sampai sekarang masih 60 moda. Sekali-kali, cobalah hubungi call center nya (021-583 55500) untuk mencoba taksi ini. Semoga anda beruntung, bisa dapat taksi dan semua fasilitasnya juga ok. Buat saya, warna mencolok (kuning dan tulisan besar di body mobil) menjadi pilihan kedua setelah Putra.


    ***

    Lalu, taksi apa lagi yang ‘bisa’ digunakan? Tentu ini bergantung dari preferensi dan kebutuhan masing-masing. Jika di pinggir jalan dan tidak terlalu mendesak, maka kita pun bisa lebih pilih-pilih taksi yang lewat. Secara biaya, kita cenderung menggunakan taksi tarif lama dibanding tarif baru. Maka pilihan saya, Putra atau Express (TransCab sangat minim). Jika lewat call centre, saya cenderung pilih Putra atau TransCab, baru Express.


    Jika di jalan sulit mendapatkan ketiganya, maka saya cenderung memilih Dian Taksi atau Celebrity. Walaupun pernah ketika di bandara, saya ditawari sistem borongan dan langsung mentah-mentah menolaknya. Pilihan lainnya jika benar-benar tidak menemukan taksi-taksi tersebut, maka saya pun naik taksi tarif lama yang ada (Sri Medali, Koperasi Taksi dll). Pastinya terlebih dulu ditanyakan tahu arah tujuan alamat kita. Jangan sampai sudah naik, argo jalan tapi kita tak ujung mencapai tujuan.


    Bagaimana jika mendesak? Maka BlueBird lah yang menjadi pilihan. Setiap detik bisa ditemukan di jalan. Dan kepercayaan yang pasti (bisa dipastikan). Buat manula, ibu hamil, keluarga besar yang tidak mau repot, atau yang tidak tahu jakarta tentu BB jadi pilihan terbaik. Kalau sudah begini, urusan tarif baru tak jadi soal.


    Mengenai tarif, secara umum patokan antara tarif lama dan baru itu setidaknya selisih sekitar 25%. Dan jika tarif lama kurangnya jauh dari itu, anda pun patut curiga terhadap argonya. Taksi tarif baru non-BB seperti Gamya, Taxiku, Primajasa bisa menjadi pilihan juga. Tapi buat saya untuk taksi tarif baru, kalau ada BlueBird, kenapa yang lain?


    Selamat memilih taksi.

  • Comments Off
  • Filed under: Harian, Liput, Perjalanan
  • 1. Bunaken Beach
    Manado, North Sulawesi

    2. Natsepa Beach
    Suli Village, Ambon, Central Maluku

    3. Parai Tenggiri Beach
    Bangka Island, Bangka Belitung Province

    4. Pelabuhan Ratu Beach
    Sukabumi, West Java

    5. Kuta Beach
    Kuta, Denpasar, Bali

    6. Sanur Beach
    Sanur, Denpasar, Bali

    7. Dreamland Beach
    Badung, Bali

    8. Senggigi Beach
    Lombok, Mataram, West Nusa tenggara

    9. Gapang Beach
    Weh Island, Nangroe Aceh Darussalam

    10. Bintan Beaches (Trikora & Sekera)
    Bintan Island, Riau Island

    Taken from Garuda Magazine – March 08

    *so, which one firstly do you prefer to go to? :)

  • Comments Off
  • Filed under: Perjalanan
  • Pulang

    Kereta berjalan pelan masuk ke stasiun besar Madiun, stasiun kota terdekat di kampung halamanku. Jam masih menunjukan pukul 3.05 pagi hari. Jelas, naik kendaraan umum sepagi ini tidak akan membawa ke rumah ibu. Hanya ada dua pilihan. Menunggu hingga matahari agak naik lalu menuju jalur bus yang akan membawa pulang, atau naik taksi yang baru sekali aku lakukan saat lebaran kemarin.

    Tentu bukan masalah uang, dibandingkan segera bertemu dengan ibu pasti lebih berharga. Tapi cinta itu rasional. Aku belum mendapatkan tiket kembali ke Jakarta, maka sambil menunggu loket buka jam 7, tak ada salahnya tidur dan sarapan nantinya.

    Jarum jam menunjukan 3.25. Setelah memberitahu ibu tentang rencanaku, ku rebahkan tubuh di bangku peron stasiun. Untung aku segera menadapatinya sesaat turun kereta tadi, karena tak ada yang kosong lagi. Semua penuh dengan manusia yang entah menunggu pagi atau kereta pagi, terbuai dalam mimpi atau lamunnya.

    Kursi peron yang tidak bisa menampung selonjoran tubuh. Jadi ingat bahwa kursi peron inilah yang menjadi tempat favorit saat smu dulu. Duduk disini, sambil membaca. Melihat kereta dan orang lalu lalang dalam perjalanan. Selalu menyukai tempat semacam peron ini. Bahkan di Bandung pun, ukuran dan bentuk kursi peron ini tidak juga beda. Tampak sebuah mozaik.

    Tas ransel dijadikan penyangga kepala, badan direbahkan, kaki dilipat, tidur miring supaya muat dan nyaman dilihat orang. Sandal, ah..biarlah semoga tetap aman.

    Mata masih sempat melihat jarum panjang hampir menyentuh angka 11, sempat mendengar suara lokomotif kereta dari Bandung. Deru lokomotif sekali-sekali masih terlintas di telinga, namun mata tak pernah ingin membuka. Lelap sekali.

    Terperanjat, masih cukup gelap ternyata. Takut terang, ketinggalan Subuh. Jam 5 kurang, syukurlah. Bangun, lalu ke mushola stasiun.

    Pukul 5.25, masih lama juga. Beranjak keluar mushola, menemukan petugas stasiun dan ternyata katanya loket buka jam 7.30 atau malah jam 8. Duh, akan lama bengong dari sekarang. Berpikir cepat, sudahlah coba beranjak keluar stasiun.

    Ini salah satu yang tidak aku sukai saat pulang. Apalagi kalau bukan tukang bejak, ojek atau taksi yang berkerumun di gerbang keluar. Bahkan sudah ada satu, dua orang yang membuntuti sejak bangun dari peron tadi.

    Jadi ingat kejadian pulang kampung saat masih kuliah dulu. Hanya karena aku bertekad tak akan pernah menerima tawaran dari mereka-mereka, maka ku paksakan berjalan lebih dari 2 kilometer untuk mendapatkan angkutan kota. Ada satu tukang ojek yang keukeuh membuntuti dari peron sampai keluar stasiun. Semakin ditawari, semakin hati menolak. Beradu keras kepala. Dan akhirnya aku yang menang. Puas.. ingat cerpen Becaak yang ada di buku bahasa zaman SMP atau SMU dulu.

    Sekarang pasti beda, tak ingin sekejam dulu. Tapi prinsipnya tetap, penumpang adalah raja dan berhak menentukan pilihan.

    Ada satu tukang becak yang menempel dari tadi. Usianya sekitar 40an tahun. Aku bilang mau sarapan dulu, dia malah memebri saran sarapan nasi pecel di depan kiri stasiun, katanya enak. Pura-pura menuju kesana. Hmm, tidak sebegitu selera karena ingin lari dari abang ini.

    Setelah bertanya berkali-kali dari keluar tadi, akhirnya kujawab ingin ke jalur bus antar kota (ingat, aku tak boleh sekejam dulu). Dia semakin semangat menawarkan. Inilah pelajaran bagi calon penumpang yang dikejar. Saat dibuka pintu, dia akan minta lebih mendorongnya masuk. Ada kalanya lebih baik diam saat ditanya memang. Tapi dari tadi dia sangat nempel sendirian, tampak berharap mendapat rezekinya pertama pagi ini (saya tidak boleh sekejam dulu, tidak boleh!).

    Becak, tak ada salahnya dicoba. Cukup artistik. Sangat sulit ditemukan di kota besar, di Jakarta atau Bandung. Ingat saat naik becak dari Lempuyangan bersama teman ke rumahnya di Timoho. Menyusuri jalan-jalan sepi pagi hari di Jogja, sungguh menyenangkan.

    Oh berapa, 10 ribu? Dengan jarak tidak jauh, itu terlalu mahal. Itulah pelajaran kedua, setelah mendapatkan kesempatan menjadi penumpangnya, tetap berpikir logis antara jarak tempuh dan ongkosnya. Konon, setidaknya tawar sampai setengahnya dulu. Dan memang dengan 5 ribu aku berpikir ojek pun akan mau. Jadi posisiku kuat sekarang.

    Turun menjadi 8 ribu, tapi aku tak bergeming, sambil berpura-pura menatap tukang nasi pecel. Aku membalik badan dan berjalan karena tak ingin meladeninya. Toh ada ojek di depan jauh ku persis, sambil menunggu seandainya tukang becak gagal mengambil penuh hatiku.

    Lalu menjadi 6 ribu, sambil mengatakan selisih seribu buat rokok sebatang katanya. Rokok, bukan alasan yang baik pikirku. Makin hilang respek. Pun dengan seribu lagi, aku yakin dia akan mau ke angka 5 ribu. Aku hampir menang, hanya perlu sabar. Inilah pelajaran ketiga, jika sudah logis dengan sebuah angka saat menawar. Pertahankan dengan baik dan sabar.

    Berjalan sebentar, dan dia menyatakan mau. Dia masih punya posisi. Tidak apa-apa ucapnya, sekalian ingin ke pasar barang bekas. Dalam hati, setidaknya aku tidak sekejam dulu (astagfirullah..).

    Mengkhawatirkan juga, naik becak dan agak goyang-goyang saat duduk di atasnya. Kursi ini buat dua orang lebih tepatnya, hmm.. memang seharusnya bersama teman perjalanan yang menemani nantinya. Naik becak, merasakan jalan meliuk dan pagi yang cerah. Sebuah perjalanan yang artistik.

    Becak menyusur jalan anggrek, dari depan stasiun ke kiri dan bukan ke jalan biliton. Jalan-jalan perumahan, segar udara pagi Madiun. Menengok jam, masih belum jam 6. Sepanjang jalan, ada saja orang yang disapa si tukang becak itu. Mulai tegur sapa, tanya kabar anak, bisa saja jadi bahan bertemu orang sekitaran jalan. Mungkin orang daerah sini, pikirku.

    Jalan ternyata tembus ke terminal lama, dan berhenti di warung nasi pecel yang kata tukang becak enak, warung bu gito. Kuberikan 5 ribu untuknya, dan aku masuk ke warung.

    Warungnya persis di pinggir jalan, keluar nanti bisa langsung menunggu bus. Sudah lama tak makan nasih pecel. Padahal rumus nasi pecel itu sederhana. Asal sambal dan paduan daun-daunnya pas, maka itu akan membuatnya enak. Benar kata tukang becak, nasi pecelnya enak. Dengan teh hangat, daging (di Jawa dikenal dendeng ragi, di Bandung yang mirip dinamakan gepuk), serta nasi pecel menggunakan pincuk (daun pisang yang dibentuk untuk wadah makan), benar-benar membuat pagi yang menyenangkan.

    Jarum menunjuk sekitar 6.20, dan bus yang lewat tempat ibuku datang. Dalam hati berkata, rute yang layak dijadikan rute pulang kampung di masa depan. Bersama seorang istimewa, perjalanan inipun akan terasa lebih menyenangkan nantinya. Ibu, aku pulang...


  • Comments Off
  • Filed under: Cerita, Perjalanan