Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Opini’ Category

Apa Itu Kesejahteraan?

Saya membaca artikel kompas yang ini. Ini melahirkan pertanyaan: apa itu kesejahteraan?

Cerita ringkasnya begini. Pemkab Pati mengizinkan pembangunan pabrik semen gresik di Sukolilo. Untuk kesejahteraan warga, katanya. Namun, ada warga Sukolilo (dimotori komunitas sedulur sikep, kelanjutan gerakan saminisme) yang tak sepakat dan melawan. Kami merasa selama ini sejahtera, katanya.

Jadi apa itu kesejahteraan?

Untuk pemkab, indikator kesejahteraan adalah ketika ada investasi masuk. Investasi tentu membawa modal, memberi nilai tambah pada sumber daya yang ada, menciptakan trickle-down effect, menaikkan pendapatan daerah dari beragam pajak dan lain-lain. Lalu warga bisa memiliki lebih banyak uang, mendapat akses yang lebih baik untuk pendidikan, terjadi kenaikan kelas sosial, dan mengerek kesejahteraan warga lain. Dari sisi pemkab, tersedianya lebih banyak pendapatan juga bisa dimanfaatkan untuk fasilitas publik yang lebih baik: dibangun fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, sarana transportasi. Pada akhirnya, kesejahteraan warga & daerah meningkat.

Tentu saja ada risikonya, kata pemkab. Alam bisa rusak. Tetapi, selama Amdal dijalani, aturan ditegakkan, no problem.

Logis saja, saya kira.

Menurut penduduk sedulur sikep: Dari dulu warga Sedulur Sikep tidak pernah kelaparan. Kami tidak miskin. Pemerintah saja yang selalu salah tanggap, menganggap kami miskin sehingga kami dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat adat tertinggal sehingga harus diberi bantuan. Padahal, kami tidak pernah meminta bantuan, (dari artikel yang sama).

Juga benar.

Jangan bicarakan kesejahteraan dalam konteks masyarakat atau negara. Tepri ekonomi ratusan tahun pun belum beres membahasnya. Dari sisi personal finance, misalnya, sejahtera berbeda dengan kaya. Sejahtera didefinisikan dengan satuan waktu, sementara kaya dalam satuan mata uang. Kalau nilai aset anda 2 M, dan anda punya utang 1 M, maka kekayaan anda adalah 1 M. Kekayaan adalah what you own. What you own is what you have minus what you owe. Tambahan lagi, kekayaan (tanpa kata yang mengikuti di belakangnya ) adalah what you own yang bisa dinilai dalam satuan mata uang.

Kesejahteraan dinilai dalam satuan waktu. Kalau anda punya 2 M, lalu biaya hidup anda setahun, dengan gaya hidup anda sekarang, adalah 20 juta, maka tingkat kesejahteraan anda adalah 100 tahun. Tentu ini perhitungan kasar yang tak melibatkan tingkat inflasi. Untuk definisi lebih detil, menurut para pakar, kesejahteraan adalah berapa lama anda bisa hidup seperti biasa tanpa bekerja dengan apa yang anda punya sekarang dan apa yang akan datang kemudian (maksudnya passive income).

Mengikuti definisi di atas, point penting dalam kesejahteraan personal ialah gaya hidup. Mereka yang berpenghasilan 30 juta sebulan tidak lebih sejahtera daripada mereka yang hanya dapat 3 juta per bulan, bila yang pertama membutuhkan 33 juta untuk hidup sebulan. Siapa yang menentukan gaya hidup anda? Ya anda sendiri. So, ujung-ujungnya menjadi sejahtera adalah seperti juga menjadi bahagia: tergantung pilihan anda. Namun bukankah ada standar? Bagaimana bisa orang yang hidup di gubug beralas tanah lebih sejahtera daripada orang di kondominium mewah? Lagi-lagi, dari segi personal, tergantung apakah anda merasa (memilih) untuk cukup berbahagia & oke-oke saja dengan kondisi itu atau tidak.

Semua yang sedang mengejar kesejahteraan sepertinya harus menjawab pertanyaan ini: when enough is enough?. Tidak pernah ada kata cukup, kecuali kita sendiri yang bersyukur dan bilang, Ya, ini cukup.

Menjadi lebih sulit ketika dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Di masyarakat, misalnya. Standar yang digunakan berbeda. Pemkab menilai penduduk Sukolilo itu miskin dan masih perlu disejahterakan. Penduduk Sukolilo bilang, kami selama ini merasa sejahtera saja. Bisa terus hidup, selama air dan sawah terjaga. Justru ketika itu terancam atau rusak, kesejahteraan kami terganggu.

Pemkab, sebagai pemerintah/penguasa, memaksakan pandangannya akan kesejahteraan kepada rakyat yang dikuasainya. Sayangnya, ide ini tak diamini oleh sebagian warganya, karena ya itu tadi, pandangan akan kesejahteraannya berbeda.

Lalu bagaimana? Entah, saya juga bingung. Kesejahteraan itu apa ya?

Jika saya pemkab
Saya tak akan memaksakan pembangunan pabrik itu, jelas. Pemerintah hanyalah wakil, membawa suara rakyatnya. Kalau rakyatnya merasa sudah sejahtera, ya sudah. Atau, pemerintah terus berkampanye hingga seluruh warga mengubah idenya tentang kesejahteraan menjadi kesejahteraan versi pemerintah. Keadaannya tentu berbeda kalau pemerintah mendapat insentif lebih dari pendirian pabrik, dalam kerangka kesejahteraan yang mereka pahami. Kalau dengan pendirian pabrik lalu ada pemasukan-pemasukan gelap, ada tambahan dana untuk beragam fasilitas pemerintahKita jadi lebih mengerti kenapa pemkab begitu ngotot. Untuk kesejahteraan sendiri, bukan untuk kesejahteraan daerah.

Rasanya, kita perlu mendefinisikan kesejahteraan yang tak bertalian dengan materi. Lalu dengan apa? Masih belum jelas. Dengan kebahagiaan, misalnya. Atau harmoni. Kebercukupan. Keberlanjutan.

Sayang, susah mengukurnya. Ada ide lain tentang kesejahteraan?

  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, Opini, kehidupan
  • Telkomsel, begitu dekat?

    Awal bulan lalu, teman kantor saya sumpah-sumpah karena merasa ‘dibekuk’ dari belakang oleh Telkomsel. Ya.., Telkomsel operator GSM terbesar di indonesia itu.

    Ceritanya, sekitar bulan Oktober 2007 lalu aplikasi Kartu Halo teman saya di approve. Karena dia bukan orang Jakarta, maka segala keperluan administrasi di urus via kantor (Halo Corporate). Karena pertimbangan dia sudah terlanjur menggunakan nomor Simpati saat Trip ke field, maka Halo nya tidak di aktivasi olehnya.

    Dan itulah ‘kesalahan’ nya yang akhirnya pada bulan lalu ’baru’ dibuka oleh Telkomsel. Dia akhirnya menemukan surat todongan uang Rp 420,000 atas biaya abonemen (+ pajak) dengan rincian Rp 52,500 kali 8 bulan sejak Halo diserahkan. Surat itu konon baru datang kali itu, pertama kalinya. Tentu saja dia kaget, karena tidak pernah merasa di kirimkan surat teguran atau pemberitahuan selama itu.

    Bagaimana menurut anda? Saya sebagai sesama teman yang sama mengajukan aplikasi Halo Corporate merasa ada yang tidak benar dengan sistem Telkomsel ini. Bukan masalah uangnya, pun teman saya akhirnya membayarnya juga (dimana mungkin salah satu pertimbangan daripada nama perusahaan juga ikut rusak).

    Tapi mungkin saja dengan jangka waktu selama itu Telkomsel sudah mengirimkan surat ke teman saya itu, dan karena ada banyak lantai serta orang maka jika kurang spesifik surat pun tidak akan karuan. Tapi apa mesti selama itu baru kemudian hal ini bisa diketahui? Bukankah ada beberapa contact number (termasuk Account Representative-AR di corporate) yang tetap bisa dihubungi? Atau bahkan email untuk mengirimkan pemberitahuan? Kenapa seolah ’membiarkan’ argonya terus berjalan?

    Disini saya semakin meragukan dengan keseriusan Telkomsel untuk me-maintanin pelangggannya. Oke, customer nya memang banyak, tapi itu sebuah konsekuensi untuk maintain pelanggan pada tingkat kepuasan tertentu.

    Awal tahun ini saya juga sempat dibuat kesal oleh tingkah Account Executive (AE) yang lingkup area nya termasuk kantor saya. Saya mengajukan komplain tentang tagihan yang tidak pernah dikirimkan (setelah lebih dari 4 bulan pengguna Halo). Dan bulan berikutnya pun dikirimkan. Tapi bulan berikutnya lagi tidak dikirimkan, padahal saya sudah memberikan alamat lengkap pengiriman.

    Saya kemudian berusaha email kepada AE dan CC ke AR. Benar-benar tidak ada respon, bahkan dengan email ke person in charge yang ada dalam autoreply si AE pun tidak ada respon. Apa Telkomsel serius dengan para customer nya??

    Walau akhirnya dengan bantuan teman yang bekerja di Telkomsel regional lain untuk mengirimkan via mail tagihan Halo saya. Pun ’kesal’ saya ikut tertumpah ke teman saya tersebut (dan maaf teman, akhirnya saya menulis di Blog ini). Tapi tetap, bulan berikutnya pun tidak dikirimkan lagi. Apa ini tidak membuat semakin kesal?

    Akhirnya saya menggunakan Customer Service (CS) Halo Corporate 111 untuk meminta pengiriman tagihan tiap bulan ke alamat yang sudah jelas dan lengkap itu. Dan selama 3 bulan belakang ini, tagihan itu pun datang.

    Satu lagi saya akan mencermati tentang gaya CS 111 dalam berkomunikasi dengan customer nya. Saya merasa bahwa keramahan yang ditunjukan tidak alami (Ok, memang sengaja dibuat sesuai SOP nya), yang buat saya malah terkesan berbelit-belit seperti robot.

    Misalnya, pengulangan kalimat tanya kita lebih dari satu kali (dengan nada ’robot’) menjadikan saya sering heran dengan cara berkomunikasi CS Telkomsel ini. Pun dalam mengakhiri pembicaraan dengan menanyakan apakah ada keluhan lain pun tidak membuat saya nyaman karena bertele-tele seperti akrobat, dan kadang saya menutupnya sepihak karena ada kesibukan lain (atau harus terus melayani CS?).

    Hal itu tidak hanya sekali, karena hampir semua CS yang pernah saya hubungi pun demikian. Begitu sistematik, akrobatik dan robotik. Ok, saya jujur mengakui bahwa masalah kita terpecahkan dengan bantuan CS tersebut. Tapi dengan cara dan bahasa yang digunakan, saya merasa kurang meng-orang-kan (berkomunikasi dengan menganggap lawan bicaranya benar manusia, bukan bicara dengan bahasa ’terprogram’). Untuk cara berkomunikasi ini, saya pribadi masih suka dengan cara berbahasa CS Indosat. Silahkan anda bandingkan.

    Pada akhirnya, tulisan kepada Telkomsel ini masih beritikad baik. Bukan mencari nama pribadi, apalagi malah menjatuhkan Telkomsel (pun sudah sangat besar dengan banyak teman beraktivitas disana). Harapannya semoga Telkomsel meningkatkan layanannya. Sekali lagi, semakin banyak pelanggan sudah merupakan konsekuensi untuk semakin banyak yang harus ditangani. Bukan karena sudah besar lalu ’jumawa’ dengan kebesarannya itu.

    Dari semuanya ini saya bertanya, apakah benar Telkomsel Begitu Dekat?? Atau hanya sebatas slogan? Dan buat saya Telkomsel, i don’t prefer but i need it..

  • Comments Off
  • Filed under: Bisnis, Liput, Opini
  • Kenaikan BBM dan KA Argogede

    Sekilas membuka file-file komputer, terbuka file Tugas Akhir (TA) Sarjana saya hampir 2 tahun lalu. TA tersebut berjudul “Studi Pengaruh Biaya Bahan Bakar Minyak Terhadap Biaya Operasional KA Argo Gede Dengan Pendekatan Simulasi Dinamis”.

    Sesuai dengan judulnya, dengan menggunakan metode simulasi dinamis untuk menganalisis dampak kenaikan harga BBM (solar atau High Speed Diesel, HSD) terhadap biaya operasional KA Argogede. Sekalipun time frame penelitian itu antara Januari 2005 hingga Juni 2006 dimana terjadi dua kali kenaikan harga solar yaitu pada 1 Maret 2005 dari Rp 1,650 ke Rp 2,400 dan pada 1 Oktober 2005 ke Rp 4,300 per liter.

    Sekarang dengan kenaikan harga solar akhir Mei lalu ke Rp 5,500 per liter, maka secara langsung berdampak juga terhadap PT KA khususnya sesuai dengan topik TA tersebut pada KA Argogede (Jakarta-Bandung pp).

    Beberapa kesimpulan yang bisa disarikan dari TA tersebut, dan masih relevan dengan kenaikan BBM sekarang adalah;

    1. Kontribusi biaya BBM terhadap biaya operasional KA Argo Gede 72 – 74 %, dan kontribusinya akan mengalami kenaikan jika terjadi kenaikan harga BBM. Sedangkan rasio Biaya BBM terhadap pendapatan KA dan Biaya Operasional terhadap pendapatan KA, adalah 0,40 dan 0,55. Rasio ini akan mengalami kenaikan jika terjadi terjadi kenaikan harga BBM.

    2. Biaya Operasional akan mengalami kenaikan 0,73 % setiap kenaikan harga BBM sebesar 1 %.

    3. Dari simulasi yang dilakukan, Jika terjadi kenaikan harga BBM di Bulan November 2006 atau Maret 2007 dan berarti bisa berlaku setiap waktu, maka setiap 3 % kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan sebesar kurang lebih 0,01

    Dari kesimpulan tersebut, kenaikan harga solar 27.91% pada Mei lalu secara langsung akan berdampak;

    Pertama, biaya operasional KA Argogede naik 20.37% (sebuah kenaikan yang besar bukan?)

    Kedua, Terjadi kenaikan rasio biaya operasional terhadap pendapatan sebesar 9.3%, sehingga rasio biaya operasional terhadap pendapatan KA Argogede menjadi 0.55 + 0.09 = 0.64

    Dengan hasil tersebut, lalu apa artinya? Sesuai dengan rekomendasi pada hasi penelitian TA tersebut, beberapa hal yang bisa dilakukan PT KA pada operasi KA Argogede yaitu,
    1. Perlu dikaji nomor-nomor KA Argo Gede yang kurang efisien atau okupansi rendah.
    Dimana secara umum total stamformasi 5 kereta yang terdiri dari 3 kereta eksekutif (K1), 1 kereta pembangkit (BP) dan 1 kereta makan (KM).

    2. Membuat program dan merealisasikan pengubahan BP dan KM1 KA Argo Gede yang terpisah menjadi MP1, sehingga tonase menjadi lebih kecil.
    Maksudnya digabung antara BP dan KM (dimana PT KA sudah punya jumlah sedikit) sehingga bebannya lebih ringan, konsumsi BBM lebih rendah. Jika sudah digabung, K1 bisa ditambah untuk jam yang sibuk sehingga jumlah penumpang bisa lebih banyak dengan biaya BBM yang efisien.

    3. Untuk mempertahankan atau mengurangi rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan, maka harus dikaji kenaikan harga tiket KA Argo Gede secara lebih mendalam.

    Selain rekomendasi tersebut, ada pertimbangan lain jika terjadi kenaikan harga BBM yang menyebabkan naiknya rasio biaya operaional terhadap pendapatan (dimana margin jadi lebih kecil). Pertimbangan lain itu juga disimpulkan dalam penelitian tersebut, yaitu;

    Kenaikan Biaya Operasional akibat kenaikan harga BBM menyebabkan naiknya rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan KA, sehingga margin keuntungan turun. Untuk mempertahankan rasio, bisa diberlakukan kenaikan harga tiket dan atau efisiensi Biaya Operasional. Melihat persaingan moda transportasi Jakarta – Bandung yang ketat, maka kebijakan penurunan batas margin profit dan efisiensi biaya operasional KA Argo Gede dinilai lebih sesuai.

    Di sisi lain jika sekarang anda pernah sesekali melihat atau malah mencoba KA Argogede akhir-akhir ini, maka harga tiketnya menjadi Rp 45,000 padahal pada penelitian TA diatas menggunakan harga tiket Rp 75,000 (weekend) dan Rp 70,000 (week days).

    Asumsi baik saya, PT KA memilih mengurangi banyak ketidakefisienan komponen biaya operasional daripada menaikan tiket KA karena ketatnya persaingan moda transportasi jakarta-bandung, sehingga harga tiket turun menjadi ‘hanya’ Rp 45,000

    Lalu setelah terjadi kenaikan harga BBM, apakah PT KA akan tetap bertahan pada harga tersebut? Padahal beberapa moda transport sejenis (bus dan travel) sudah ancang-ancang menaikan tarif.

    Kalau itu, saya tidak bisa menjawab. Untuk membantu menganlisis dampaknya, penelitian saya mungkin perlu di update (harapan saya bapak-bapak pejabat KA yang saya share copy TA tersebut peduli). Model penelitiannya bisa sejenis dengan penelitian tersebut, sedang nilai variabelnya disesuaikan dengan data terbaru.

    Buat adik-adik mahasiswa yang tertarik, bisa saja ini menjadi bahan topik TA yang menarik. Sekalipun saya sudah beberapa hal tentangnya lupa, tapi insyaAllah masih bisa membantu. Semua karena saya peduli kereta api. Negara modern selalu identik dengan sistem transportasi massal KA yang sangat baik. Dan secara emosional, buat saya perjalanan dengan kereta api selalu lebih menarik. :)

    Share: slide presentasi TA

  • Comments Off
  • Filed under: Bisnis, Engineer, Opini
  • Pemimpin & Jenis Kelamin

    Siang itu saya terlibat percakapan (pseudo)intelektual dengan Igun. Kalau dulu-dulu sih sering juga terlibat jenis percakapan sok intelek ini dengan Igun, Viar atau Miftah, di momen-momen pengangguran saat kerjanya nonton bioskop, download film atau TV serial, dan ikutan nongkrong gak penting di ruang server sambil menikmati nescafe cappucino 3500 perak dari Circle K.

    Namun tetap saja pseudointelektual, karena sok ilmiah tapi tetap asbun...hehehe.

    (more...)

  • Comments Off
  • Filed under: Kepemimpinan, Opini
  • Perempuan dalam cinta

    Mengerikan, mengerikan benar perempuan itu
    Mereka tak pernah bisa percaya,
    Mereka tak biasa jujur,
    Sekalipun pada diri sendiri

    ...
    -
    puisi ‘panas’ yang sudah di klarifikasi-

    ***
    Bagi laki-laki, cinta hampir selalu identik dengan perempuan. Karena dunia yang didominasi cara pandang laki-laki, maka berbicara cinta dari paradigma perempuan pun jarang ada. Hal itu yang kemudian memunculkan pertanyaan, bagaimana perempuan memandang cinta?

    Dalam khasanah indonesia, kedudukan cinta perempuan sebagian besar tidaklah istimewa. Kecuali di daerah-daerah tertentu, perempuan selalu menjadi ‘obyek’. Yang dipilih, yang dipinang, yang dilamar, yang diperebutkan atau yang tidak bisa menolak untuk dijodohkan.

    Kartini, sosok emansipasi pun tidak lepas dari perlakuan umum terhadap perempuan. Dinikahi oleh Bupati Rembang sebagai istri kesekian, adalah bentuk dari pasrah kartini sekaligus sosok perempuan umumnya kala itu. Kartini lebih beruntung, karena untuk yang berasal dari keluarga bukan ningrat maka perempuan pun hanya ‘dinikahi’ bangsawan untuk melahirkan anak lalu dikembalikan kepada orang tuanya.

    Seiring dengan perkembangan zaman, gaya feodal terhadap perempuan pun jauh berkurang. Perempuan mengenyam pendidikan sama halnya laki-laki.
    Dunia perempuan makin diakui, sebagai partner dari laki-laki bukan pelengkap saja. Intinya dalam kehidupan sekarang, kesempatan pada umumnya sama antara laki-laki dan perempuan. Tentu saja tidak melupakan peran masing-masing dalam kehidupan domestik keluarga. Walaupun dalam kaitan dengan keluarga, banyak perempuan yang akhirnya berada di ‘persimpangan’, memilih antara keluarga atau aktivitasnya.

    Jika ‘kesetaraan’ perempuan sudah berada dalam porsi yang cukup ideal dengan kebebasan untuk memilih, lalu bagaimana dengan cinta? Apakah benar bahwa perempuan merdeka dalam menentukan cinta nya?

    Pertanyaan diatas dilandasi atas dasar sederhana bahwa selama ini muncul kesan bahwa perempuan cenderung tertutup, diam-diam, tidak berani mengungkapkan (baik lisan atau tindakan) perasaan cinta atau simpatiknya terhadap seseorang. Berbeda dengan laki-laki, yang cenderung lebih ‘ofensif’ dalam mengungkapan perasaannya. Mungkin juga karena secara fitrah nya, hati peremuan sensitif nan lembut sehingga cenderung hat-hati (defensif).

    Sikap memandam rasa itu wajar karena lebih menyakitkan bagi perempuan ketika cintanya ditolak daripada laki-laki. Bagi laki-laki, cinta ditolak ibarat tamparan yang berujung pada pembuktian bahwa dirinya bisa mendapatkan yang lain. Sedangkan perempuan, konon tidak sesimpel itu. Sakit hati karena ditolak. Merasa sudah jauh melangkah memberanikan diri, dan ditolak. Malu serasa mengguyur tubuh. Seolah tidak bisa mundur. Dan parahnya, hancur.

    Dan terdapat kesan bahwa perempuan yang baik, adalah yang mempersiapkan diri untuk menyambut pangeran datang. Bersiap sebaik-baiknya untuk menunggu hingga waktu tiba. Usaha yang dilakukan adalah mempersiapkan diri, dan berdoa. Dan jika nantinya sudah di ‘ambang waktu’, maka tibalah saat ujian kesabaran.

    Tapi
    semuanya tak bisa di generalisasi, toh apa yang dipertontonkan dalam kisah kehidupan tentang perasaan perempuan tidak serta menjadi dalih bahwa begitulah perempuan apa adanya. Kondisi tersebut memang umumnya yang terjadi sekarang, namun bukan berati hal tersebut menjadi kondisi yang seharusnya.

    Sejenak ketika melihat sosok
    Khadijah, Ibu dari semua muslim, bahwa apa yang dilakukan Kahdijah saat menikah dengan Muhammad adalah mengajukan lamaran alias mengungkapkan perasaannya. Namun bukan berarti Khadijah tanpa perhitungan, karena memalui sosok pamannya, Khadijah sudah mendapatkan keterangan bahwa Muhammad dalam kondisi bisa di ajak menikah. Dalam hal ini, Khadijah tetap menjaga kehormatan seorang perempuan.

    Jadi mendalihkan apa yang terjadi pada cinta perempuan sekarang pada agama (Islam) bukanlah alasan yang berdasar. Satu-satunya alasan yang mungkin sekarang adalah dari sosok perempuan itu sendiri.

    Suatu hari saya pernah bediskusi dengan teman tentang posisi perempuan dalam memperjuangkan cinta. Seperti yang lumrah kita ketahui, banyak terjadi laki-laki yang ‘berjuang’ (baca: ofensif) dalam mencari cintanya. Lalu perempuan, bagaimana bentuk perjuangan cintanya?

    Teman saya waktu itu menjawab bahwa bentuk perjuangan cinta perempuan adalah pergolakan batinnya untuk menerima sosok laki-laki tersebut, dan membawanya ke pihak keluarga. Namun saya mengelak, bukanlah laki-laki pun secara substansi juga berdamai dengan perasaan lalu juga keluarganya? Baiklah, memang pertimbangan perasaan yang digunakan laki-laki tidaklah sedominan seperti perempuan. Karena laki-laki sebagian besar melihat dari apa yang tercitrakan.

    Kembali lagi tentang perjuangan cinta perempuan, apakah demikianlah adanya dimana perempuan harus menjaga hati, menutup perasaannya dalam-dalam dan ketika sosok laki-laki itu datang maka barulah perjuangan cinta perempuan dimulai.

    Kenapa tidak perempuan juga memperjuangkan cinta nya itu. Pastinya, dengan tetap menjaga kehormatan seperti yang diteladankan Khadijah. Jika selama ini misalnya, perempuan cenderung bisa berharap terhadap seseorang namun tak kunjung datang seseorang tersebut, tidak kah lebih baik jika melalui perantara mencari kemungkinan memulai hubungan dengan yang bersangkutan lebih serius? Ringkas, tidak ribet dan tidak lama berharap cemas. Daripada hanya berharap, dan berharap. Lalu pada akhir kesedihan, melihat dia memilih yang lain.

    Jadi tetap kembali ke perempuan sendiri, bagaimana mereka mendefinisikan perjuangan cinta nya. Perempuan lah yang memilih, dan memang harus memilih. Jangan sampai awalnya berharap romantis, lama kelamaan dramatis, lalu akhirnya menjadi ironis.

    Sudahlah, saya tidak bisa merasakan bagaimana perempuan dalam mencinta. Tapi saya percaya bahwa perempuan yang jujur dan menjaga kehormatan selalu bernilai lebih. Itu saja.

    Selamat memaknai Hari Kartini..

  • Comments Off
  • Filed under: Opini, Perempuan
  • Wealth Management

    Manajemen Kekayaan merupakan salah satu layanan yang disediakan bank dewasa ini. Garis besarnya, nasabah yang masuk kategori wealth disediakan layanan-layanan perbankan yang lengkap. Mulai dari perencanaan finansial, konsultasi keuangan hingga pilihan investasi.

    Maraknya Wealth Management (WM) di bank tidak terlepas dari adanya orang-orang kaya dan superkaya yang semakin banyak di indonesia. Kategori kaya atau superkaya itu menurut Merril Lynch & Co dan perusahaan konsultan Capgemini Lorenz pada tahun 2007 dibagi tiga.

    Kategori pertama, golongan superkaya yakni yang memilki kekayaan lebih dari 30 juta dollar AS (sekitar 270 miliar rupiah). Golongan kedua, orang kaya menengah yang kekayaannya antara 5 juta – 30 juta dollar AS (sekitar 45 – 270 miliar rupiah). Dan ketiga, golongan kaya biasa yang kekayaannya antara 1 – 5 juta dollar AS (sekitar 9 – 45 miliar rupiah).

    Untuk perbankan, WM tidak hanya menjadi sumber dana besar yang akan digunakan dalam bisnisnya tapi juga sebagai salah bentuk loyalitas nasabah kepada bank tersebut. Oleh karenanya, bentuk pelayanan WM yang disajikan pun terbilang wah.

    Untuk perencanaan finansial, nasabah WM bisa menyampaikan keinginan masa depan keuangan misalnya setelah pensiun ingin pendapatanya berapa, sekolah anak, mobil, rumah atau rencana liburan ke depan. Dengan profil keuangan (financial check up) yang ada sekarang, bank bisa memberikan konsultasi untuk menempatkan dana nasabah ke pos-pos investasi yang mungkin, misalnya saham, unitlink, asuransi, reksadana, obligasi, emas, deposito dan portofolio lainnya. Tetap saja, keinginan nasabah menjadi utama disini. Nasabah bisa menempatkan dan menggunakan uangnya kemana saja.

    Selain layanan keuangan, nasabah WM pun menadapatkan banyak kemudahan dan kenyamanan. Hotlink khusus, layanan saat di luar negeri, transaksi tanpa biaya, dan bila di bank maka akan dilayani petugas penuh senyum, internet dan telepon gratis, majalah gratis sampai memanggil bank officer ke tempat nasabah.

    Dengan layanan ciamik tersebut, bank pun pasang syarat jumlah minimal tabungan yang tidak sedikit. Sebagian besar bank (misalnya Mandiri, Citibank, Commonwealth, HSBC, Permata) mematok jumlah minimal 500 juta untuk menjadi nasabah WM. Dan setelah menjadi nasabah WM lalu jumlahnya kurang 500 juta, maka siap-siaplah untuk terkena biaya yang ‘tidak biasa’. Namun, ada beberapa bank yang mematok opsi angka di bawahnya, seperti 100 juta (Standchart) atau New to Invest Citibank yang ‘hanya’ 50 juta.

    Berdasarkan survei 2006 tentang High Net Worth Individual (HNWI), HNWI indonesia mendapatkan kekayaannya 51 persen dari bisnis, dan 15% dari pendapatan. Sebagai perbandingan di Jepang, 30 persen dari warisan dan 28% dari bisnis. Warisan menjadi sumber kekayaan kedua (pertamanya bisnis) untuk Hongkong, India dan Singapura. Selain indonesia, pendapatan menjadi sumber kekayaan kedua di Korea Selatan dan Taiwan. Sedang saham, adalah sumber kedua di Australia dan China.

    Dari data tersebut, jelas bahwa bisnis merupakan sumber kekayaan utama bagi orang-orang kaya tersebut. Benar adanya bahwa ungkapan bahwa jika ingin kaya, maka jadilah pengusaha atau wiraswasta.

    Inilah yang harus ditangkap perbankan untuk tidak hanya bergerak dalam mengelola bisnis kekayaan tapi juga menciptakan bisnis itu sendiri. Bank seharusnya semakin banyak memainkan peran penyaluran kredit ke sektor riil sebagai sumber utama pencipta orang-orang wealth tersebut. Paradigma inilah yang seharusnya dilakukan perbankan dalam jangka panjang.

    Dengan semakin banyak orang-orang kaya baru (baca: pengusaha), diharapkan juga makin mengurangi problem-problem sosial yang masih banyak di negara ini. Jika wealth management sudah mengarah kesana, maka konsep WM pun tidak hanya bisa dinikmati sejumlah kecil masyarakat elit kita. Semakin banyak yang sejahtera, bangsa kita pun akan makin sejahtera.

    Sumber: Kompas, 15 April 2008

  • Comments Off
  • Filed under: Bisnis, Finance, Opini
  • Pantas, tidak hanya benar

    Banyak orang hanya perhatian pada benar atau tidaknya suatu hal, dan tidak disertai dengan pantas atau tidaknya hal tersebut dilakukan. Antara benar dan pantas memang dua hal yang hampir sama, tapi sepenuhnya berbeda.

    Benar, berbicara tentang 1 atau 0. Mutlak, antara benar atau salah (jangan dibawa ke ranah pentafsiran agama). Benar tidak ini mengacu aturan yang umum, naluriah, sunnatullah, standard operating procedure (SOP) atau bahasa hukum. Jelas dan rigid, karena hampir semuanya mempunyai ‘aturan’ yang membuat sesuatu tindakan yang dalam lingkup aturan bisa tersebut ditimpakan kepadanya benar atau salah.

    Sedangkan pantas, lebih berbicara tentang etika, ukuran kepantasan. Bagaimana kita mengukur pantas tidaknya sebuah tindakan? Memang semuanya bisa kembli dalam standar norma masing-masing individu, tapi akan selalu ada hal yang umum atau pedoman. Baik yang paling jelas dibandingkan dengan kondisi sosial lingkungan di sekitarnya atau yang paling jujur hati nurani manusia.

    Dalam lingkungan negara, kelakuan pejabat (dan wakil rakyat) yang menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi atau kelompok bisa saja ditimpakan benar, untuk menunjang kerja kedinasan. Namun itu akan berada di jalur ketidakpantasan bila jumlah dan frekuensinya di luar batas kewajaran. Batas wajar bagi pejabat publik tentu kondisi umum masyarakat yang dipimpinnya. Apakah layak jika pejabat bergaya mewah sedangkan rakyatnya hidup dalam keterbatasan?

    Dalam lingkungan perusahaan, kepantasan seorang karyawan dalam hal menggunakan fasilitas. Contoh sederhana, menggunakan taksi untuk perjalanan Cengkareng-Bandung memang diperbolehkan, tapi rasa-rasanya itu kurang pantas karena bisa menggunakan travel yang masih juga nyaman dan safety (bukan bus umum). Tapi hal itu masih saja lebih baik, dibandingkan berbohong tentang nominal taksi itu sendiri. Atas nama pengorbanan atau apapun karena justru paling mendasar pada wilayah benar saah. Silahkan tanya ke hati nurani sendiri (atau hati nurani rekan jika diri sendiri tidak berani), apakah hal itu dibenarkan?

    Dalam Islam, kebenaran adan kepantasan menggunakan istilah benar (halal) dan baik (ahsan). Makan tidak hanya butuh makanan yang halal, tapi juga thoyyib (baik) yang menyehatkan, dan wajar/pantas. Naik haji memang halal dan sangat dianjurkan bagi yang telah mampu, tapi naik haji bagi orang yang sudah pernah haji atau pernikahan yang melebihi kemampuan, mungkin akan lebih baik jika dananya digunakan untuk hal-hal yang lebih manfaat lainnya.

    Lalu, bagaimana untuk bisa mengukur diri sendiri tentang benar dan pantas ini? Menurut saya jawabanya sederhana, mari membuka mata hati nurani kita. Hati nurani kita semua seperti cermin bersih yang akan ada kotoran penutup jika tidak sering dibersihkan. Jika cermin itu sudah penuh debu, maka pantulan dari cermin itupun tidak akan sempurna lagi. Nurani kita tidak bisa lagi membedakan kepantasan atau parahnya lagi sudah tidak bisa membedakan benar salah.

    Cermin nurani itu bisa dibersihkan kalau menurut nasehat Islam diantaranya dengan tiga cara sederhana yaitu menengok kehidupan fakir miskin (yang hidupnya lebih susah), melayat orang meninggal, dan berkumpul dengan orang sholeh. Dan cermin hati nurani adalah bahasa universal, yang secara umum sama pada siapapun orangnya, agama atau kepercayaannya.

    Karena cermin itu selayaknya bersih, sekalipun tidak bisa menjadi sungguh-sungguh bersih seperti terlahir kembali. Tapi manusia bisa berusaha, dan meminta kepada Sang Maha Pencipta untuk membuat cermin itu tetap terjaga.

    Wallahu’alam..

  • Comments Off
  • Filed under: Islam, Opini
  • Semua generalisasi adalah salah

    Generalisasi secara sederhana adalah menempatkan semua masalah setipe pada opini yang sama. Generalisasi merupakan pengungkapan opini terhadap masalah secara pragmatis, tidak mau menelaah bahwa setiap masalah belum tentu mempunyai kondisi sama alias mungkin berbeda.

    Untuk sebuah opini pribadi, generalisasi sah-sah saja dan menjadi pandangan orang tersebut terhadap masalah. Namun untuk opini publik, atau opini pribadi yang dipaksakan ke publik, generalisasi menurut saya sangatlah tidak tepat.

    Contoh yang simpel dan sedang marak-maraknya terjadi, meng-generalisasi bahwa selama pemerintahan Soeharto buruk. Atau malah sebaliknya semuanya baik sehingga tidak ada yang perlu diungkit-ungkit sisi buruknya lagi, apalagi Bapak tersebut sudah seda. Opini yang semacam ini adalah generalisasi, dan ini menurut saya bahaya. Opini tersebut tidak fair, dan justru menunjukan betapa tidak dewasanya penyuara opini tersebut.

    Opini yang lebih fair dan mendewasakan bila melihat segalanya dari dua sisi, antara kebaikan dan keburukannya. Kita akui semua jasa-jasanya selama membangun indonesia (dan mungkin bisa dianugerahkan pahlawan?), dan di sisi yang lain memproses kasus-kasus yang melibatkannya dilanjutkan penyelidikan kepada pihak-pihak yang hidup ada saat ini.

    Tampaknya bangsa ini sudah terlalu ingin menyederhanakan segalanya menjadi mudah, berpikir biner alias 1-0. Artinya kalau tidak 1, ya 0. Kalau tidak baik, ya buruk. Kalau tidak pahlawan, ya penjahat. Bukankah semua persoalan hidup ini tak bisa semata dilihat dari sudut 1-0?

    Begitu pula dengan Soekarno, yang banyak dirindukan semangatnya untuk memajukan bangsa. Soekarno memang pemimpin luar biasa, sederhana dan visioner. Tapi jangan lupa, Soekarno pula yang mendefinisikan dirinya sebagai ‘aktor demokrasi terpimpin’.

    Bagaimana itu bila itu berupa opini pribadi? Satu hal, itu sekali lagi sah-sah saja. Dan hanya akan menjadi penilaian lingkungan terhadap orang tersebut. Kembali masalah kedewasaan. Namun saat itu dipaksakan kepada orang lain, itulah yang menjadi kurang bijak.

    Misalnya seperti ini, seorang teman sangat keukeuh untuk tidak menikah (atau ‘berhubungan’) dengan perempuan berjilbab. Alasanya, karena perempuan yang memakai jilbab belum tentu baik hatinya. Saya pun balik bertanya, apa semua orang yang tidak memaikai jilbab baik hatinya? Baik-tidak baik memang tidak ditentukan oleh jilbab semata, namun jilbab bagi seorang muslimah (yang menyakininya dengan benar) merupakan bentuk pelaksanaan syariat agama.

    Generalisasi yang tidak boleh dilakukan adalah yang menyangkut dengan kepercayaan (faith) dan hukum alam (law of nature). Bahwa Risalah Tuhan itu benar, tidak perlu dibantah. Bahwa air akan mendidih di suhu 100 derajat celcius, tidak perlu dicoba untuk disentuh.

    Sedangkan yang berhubungan dengan interaksi antar manusia, semua generalisasi adalah salah. Bukankah demikian?

    *
    weekend@bandung

  • Comments Off
  • Filed under: Harian, Opini
  • Waktu zaman saya mahasiswa dulu , selalu saja ada teman-teman yang bersemangat dan bertanya-tanya ‘quo vadis mahasiswa sekarang’, ‘gimana nih kemahasiswaan’, dan lain-lain. Karena banyak juga yang heboh nanya-nanya dan membahas, dan saya hanyalah mahasiswa yang ngikut tren, jadilah pula saya memikirkan.

    Saya baca sejarah. Rasakan semangat zaman di tiap eranya. Dengerin doktrin omongan senior-senior, yang bener maupun keblinger. Zaman dulu kayak apa sih? Sekarang zamannya apa ya? Kecenderungan ke depan gimana? Apa hubungannya ama mahasiswa? Jadi, seharusnya mahasiswa gimana?

    Kesimpulan saya dulu sederhana: khilafah conscientizao atau consciencetization. Ada yang menerjemahkan konsaintisasi (aneh banget!). Kemarin di Kompas ada yang menggunakan kata ini dan diterjemahkan sederhana: kesadaran kritis. Yang lain-lain itu cuma pernak-pernik, dan dilakukan dalam rangka mengkampanyekan kesadaran kritis ini. Bukan membangun institusi, melakukan pergerakan bersama, apalagi melawan tirani. Emang, buat apa membangun institusi kalau arahnya juga tidak jelas? Ngapain ngotot mau gerak bareng di tengah era fundamentalisme hedonisme (istilah yang aneh...)? Tirani mana yang mau dilawan?

    Conscientizao adalah tujuan pendidikan Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed. Buku yang konon jadi buku wajib mahasiswa ITB. Makanya saya cari mati-matian (susah bo nyarinya! Udah ga terbit lagi tuh buku...), akhirnya nemu di Palasari, dan saya baca *bahan untuk ngantuk menjelang tidur*.

    Kesadaran kritis itu, intinya, adalah kondisi pikiran dalam mempersepsi lingkungan sekitar (dalam pengertian luas, semua hal lain yang kita hadapi) dengan melihat aspek sistem dan struktur. Bisa aware dan menganalisis secara kritis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya (termasuk pelakunya), dan jika ada (pasti ada sih...),mengidentifikasi dan menyadari ketidakadilan dalam masyarakat dan bagaimana mentransformasikannya. Misalnya kasus kemiskinan. Seharusnya kita sadar kemiskinan bukanlah masalah takdir dan kemestian (ada yang kaya, ya ada juga yang miskin...). Kalau ini sih kesadaran magis, kata Freire. Kemiskinan juga bukan karena kebodohan, kesalahan, kekurangrajinan orang-orang miskinnya sendiri (blaming the victim; kata Freire ini orang dengan kesadaran naif). Tetapi, kemiskinan harus dilihat: jangan-jangan yang terjadi adalah pemiskinan? Karena ada pembatasan akses kepada kesejahteraan, misalnya dengan sekolah yang mahal atau diprivatisasi. Atau malah ada perampokan oleh korporat yang ’berdiplomasi’ dengan pemerintah, sementara rakyat kebanyakan dibiarkan tetap miskin. Atau karena korupsi. Jadi, setiap masalah dianalisis dengan kaidah-kaidah saintifik (makanya ada kata ’science’ dalam conscientization), lalu dilihat: oh, ternyata ini yang menyebabkannya...

    Sebenarnya conscientizao itu target minimal, soalnya yang lain tak kelihatan feasible untuk dilakukan saat itu. Pikiran sederhana saya waktu itu, karena kita kan pasti ga jadi mahasiswa lagi (entah lulus atau DO), minimal kesadaran kritis ini terbawa lah setelah keluar. Jadi, misalnya dia ntar kerja di KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), minimal dia tau dan sadar bahwa operasinya nanti diganti lewat cost recovery (atau mungkin gaji dan fasilitasnya? Overhead kantor juga cost recovery kan?), jadi dia kerja dengan bertanggungjawab dan seefisien mungkin, karena ntar-ntar juga diganti ama duit negara pajak rakyat. Yang jadi bos-bos di perusahaan minyak negara nanti, misalnya, bisa nurut kalau pemerintah sekarang katanya mau mengefisienkan BUMN, termasuk lewat pengurangan fasilitas pegawai. Konsekuensi yang bergerak di pemerintahan atau sektor amal sosial mah udah jelas lah ya...

    Namun ternyata itu juga susah, bahkan gagal. Sampai saya lulus, ga jelas dan ga berhasil juga...Masih ga cocok dengan zamannya, mungkin?

    Ini ada sebuah ide. Saya jamin cocok dengan zamannya.

    Belajar yang rajin, lulus cepat, dan jadilah makhluk kaya sekaya-kayanya. Kalau ada tawaran aktivitas, timbanglah: apa manfaatnya buat saya? Apa bisa mempercantik CV saya sehingga bisa dijual ntar, apakah akan menambah jaringan saya ke politisi-cum-pemilik dana ga jelas untuk diserahkan pada proposal bisnis yang nanti saya bawa? Apa bisa mengajari skill dan keahlian sehingga saya bisa jadi engineer yang ekstra spesialis yang dibayar sejam 4000 dolar? Apa ada relasinya yang bisa jadi klien saya ntar? Kalau tidak ada manfaatnya, tolak saja! (manfaat tak harus moneter, tanya juga: apa ada yang potensial untuk menjadi pacar kamu?). Hal-hal ga jelas itu hanya akan memperlama waktu kamu di kampus! Dan kalau omongan senior-seniormu itu benar, bahwa kuliah di ITB itu dibayar PAJAK RAKYAT, maka mendingan lulus cepat bukan? Biar rakyat ga lama ngebayarin kamu. Jangan dengerin senior kamu, apalagi yang lulus 7 tahun: dia sendiri paling lama menikmati pajak rakyat. Mendingan kamu, tho? Cuma dibayarin rakyat 3,5 tahun.

    Sekali lagi, jangan pernah dengerin senior-senior dengan paradigma mahasiswa lama yang kolot dan tidak progresif. Ini era fundamentalisme pasar, bung! Homo paling oeconomicus lah yang akan menang. Jadilah mahasiswa dengan paradigma masa kini, market-paradigm!

    Jangan pernah mau diospek ga jelas, apalagi kalau dibilangin kalian harus berjiwa sosial, peduli sesama, dan lain-lain. Mana ada altruisme yang menyelesaikan masalah? Pasar lah yang akan mengatur dan menyelesaikan masalah, bukan kebaikan para filantrop. Berapa yang telah disumbangkan Bill dan Melinda Gates, Warren Buffet, atau orang-orang dermawan lain? Berapa jumlah penduduk yang masih miskin?

    Lebih banyak yang bisa kamu lakukan kepada rakyat dengan menjadi kaya sekaya-kayanya. Buatlah korporasi besar, berapa juta jiwa yang akan kamu gaji? Dari berapa juta jiwa itu, berapa jumlah keluarganya? Belum lagi yang kena multiplier effect. Banyak sekali kan? Efeknya lebih besar daripada sumbangan 100 juta dolar sekalipun.

    Lho, tapi kan nanti ada ketimpangan? Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin? Bukan salah kamu! Itu pemerintah yang gak bener. Yang gak bikin institusi dan regulasi yang baik untuk rakyat. Kamu bayar pajak, kamu taat hukum, bahkan kamu menggaji banyak karyawan. Peraturan keblinger tentang Coporate Social Responsibility juga kamu ikutin. Salah siapa? Jelas bukan kamu. Ini salah pemerintah.

    Dan siapa sih pemerintah itu? Senior-senior kamu juga, dengan paradigma lama yang tidak progresif dan ketinggalan zaman dulu itu. Senior-senior kamu dulu yang menceramahi kamu untuk berjiwa sosial, yang karena gak ada kerjaan masuk partai atau LSM, lalu kebelet untuk berkuasa dan sekarang di pemerintah. Nah, keliatan kan? Mereka malah gak bener kerjanya, dan jadi pihak yang paling berpengaruh memiskinkan rakyat. Jelas, mendingan kamu, wahai mahasiswa rajin-lulus cepat-lalu kaya dahsyat.

    Jadilah pegawai di perusahaan terbaik di dunia, kalau bisa ya jadi ekspatriat di negeri orang dengan gaji dollar. Lagi-lagi kamu berjasa: kamu bawa dolar dari luar negeri dan menjadi pahlawan devisa yang lebih banyak membawa duit daripada para pahlawan devisa tapi selalu disiksa pemerintah dan aparatnya itu (ingat, siapakah mereka? Senior kamu juga dulu!). Kamu membawa dolar, mengharumkan nama Indonesia sehingga tak hanya dikenal karena pemerintahnya yang aneh. Sekali lagi, siapa yang lebih nasionalis, lebih berjasa buat bangsa Indonesia?

    Jadilah kritis! Skeptislah dengan omongan senior-seniormu, apalagi dengan paradigma kolot. Nanti, di masa depan, kamu yang gantian menyalahkan dia: hoi pemerintah, kerja yang bener! Makan duit pajak gw aja lu!

    Bangun kesadaran kritis: lihatlah, jadi siapa yang menyengsarakan Indonesia? Pemerintah, yang isinya senior-senior kamu dulu!

    Ingat, pikiran ini harus disebarkan. Ada omongan senior kamu yang benar: bahwa kampus adalah tempat kampanye beragam pemikiran. Sudah bosan kan kamu, dengan fundamentalis agama yang macem-macem, dari mulai yang apolitis sampai yang kerjanya demo nuntut khilafah? Dengan mahasiswa sosialis dari sosialis yang ‘pasar-sosial’ (istilah apa pula ini?) sampai yang kiri-utopis? Tapi masalah tak juga selesai? Bayangkan kalau mereka mewariskan pikiran-pikiran lamanya yang tak menyelesaikan masalah ke teman-teman dan adik-adik kamu! Mau jadi apa negara ini? Kamu harus bisa membuat kutub baru, para mahasiswa fundamentalis pasar. Ya, ini buat kebaikan kamu juga, tapi seperti yang telah kamu baca di atas, akhirnya bangsa dan rakyat juga untung kan? Kamu untung, bangsa untung. Pertamina aja kalah.

    Sebarkan! Buat mentoring. Kuasai lembaga kemahasiswaan yang dulu jadi sarang senior kamu yang tidak progresif itu, karena strategis sekali untuk kampanye pikiranmu. Koalisi dengan rektorat, yang tampaknya lebih progresif meskipun lebih tua (siapa bilang yang muda yang progresif?) dan bisa mendukung pikiranmu. Ih egois banget! Ini buat kamu doang? Katakan dengan keras: YA! Tapi secara makro, semua nanti juga akan untung. Minimal, lebih baik daripada usulan solusi mereka, yang dari jaman mulai pergerakan mahasiswa dulu tak menyelesaikan masalah.

    Salam hebat! Biarkan uang yang bekerja untuk anda!

    ;p

  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, Kepemimpinan, Kuliah, Opini, Refleksi
  • On Politic

    Ini curhat. Kali ini gayanya kasual sajalah, tak perlu bungkusan teori macem-macem atau bahasa berbelat-belit.

    Karena curhat, anda bisa jadi curiga ini akan membosankan. Tolong dimaafkan. Sebelum mulai, ada yang tau gimana buat emoticon di blogger? Tolong kasih tau ya... Norak nih saya...he33x.

    Kalo anda liat di sidebar blog ini, salah satu wannabe list saya ialah ‘politician’. Alasannya sih saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain (terus terang saya kesulitan untuk menuliskannya tanpa kelihatan berlebihan...). Apa politisi bisa? Kalau bener, ya Insya ALLAH. Satu diantara dua kelemahan umat, menurut Naquib al-Attas, ialah kepemimpinan (publik). Politisi yang baik bisa sedikit menutupinya.

    Saya sebenarnya merasa nyaman-nyaman saja dengan hal yang namanya ‘politik’. Gak anti politik. Merasa ‘maklum’ saja kalo dipolitisasi, bahkan ketika saya sadar betul sedang dipolitisasi. Meski kadang-kadang dongkol, tapi ya wajar...namanya juga politik. Karena terkait power, buat saya politik itu ordinary, bahkan sehari-hari. Kuasa, dan relasi kuasa itu ada di tengah-tengah kita. Tak usah bicarakan tentang apa yang biasa kita sebut ‘dunia politik’; iklan, wacana, hingga obrolan ringan bisa dilihat dalam perspektif kuasa ini. Masalahnya adalah kesadaran dan pemahaman kita, akan segala peristiwa politik sehari-hari, dan kesadaran posisi: anda mempolitiki atau dipolitiki? Anda dalam kerangka hegemoni atau tirani?

    Dian Sastro kelihatan cantik sekali di Lux edisi white glamour. Suaranya juga saya dengar di radio, mempromosikan tentang glam beauty. Saya membeli Lux, karena saya cinta Dian, dalam iklannya itu. See, Dian punya power yang membuat saya membuat saya membeli sabunnya (Padahal, mungkin saja Lux itu tidak bermanfaat buat saya...Toh saya gak mau jadi putih juga). Ia berkuasa atas saya. Buat saya itu politik: seni memanfaatkan kekuasaan untuk meraih tujuan. Kenapa Dian bisa lebih berkuasa dibanding SBY, misalnya (saya nggak mau beli Lux kalau di iklannya SBY mandi pake Lux!)? Ya karena Dian juga berjuang untuk meraih kekuasaannya itu. Dian memulai dari gadis sampul, terus bintang film indie, terus di momen yang tepat jadi bintang film yang jadi tonggak film Indonesia, bersamaan dengan masa late teenage saya. Klop. Dian meraih posisi kekuasaan tertinggi, minimal buat saya. See, itu juga politik: seni meraih kekuasaan.

    Makanya, Dian Sastro for President! ;)

    Sementara politik itu ordinary, tetapi ternyata saya baru sadar bahwa saya gak bisa terlalu nyaman dengan proses-proses politiknya. Terutama yang tidak subtil, meskipun tidak bisa dibilang vulgar juga. Sampai sekarang saya ndak tau kenapa.

    Proses-proses politik di Indonesia itu mahal. Demikian tulis Kompas beberapa waktu lalu. Ada yang menyalahkan sistemnya: demokrasi kita (hampir-hampir?) liberal, yang memang menuntut high cost. Agak mirip-mirip Amerika lah...gak ada cerita presiden Amerika jaman belakangan ini yang bisa jadi Presiden dengan dana kampanye minim. Bahkan salah satu indikator kekuatan dan dukungan di Pemilu Amerika sana kan kemampuannya untuk menggalang dana. Sementara yang lain menyalahkan pelaku: elitnya aja yang ndableg. Yang nggak kreatif dalam kampanye, dan menganggap cara terbaik untuk menang, ya sediakan dana untuk fasilitas dan ‘gizi’. Pendapat lain yang bisa ditambahkan, konon ini adalah era market. Seluruh proses-proses politik pun berjalan di market, dan perlu marketing, yang tidak murah.

    Politik yang high cost, itu hal pertama yang membuat saya gak nyaman. Pertama karena saya gak punya duit (he33x), kedua karena dengan high cost politic ini juga moral politik (demi kepentingan rakyat banyak!) menjadi rentan, bahkan bisa jadi diselewengkan. Motif-motif juga jadi sulit diterka: ini duit buat kebaikan atau menjual kebaikan buat duit? Mumet.

    Hal kedua. Kemarin teman saya cerita tentang sahabat lamanya yang setelah cukup lama tidak berhubungan tiba-tiba menelepon. Bukan buat bertukar kabar, tapi dia ‘diprospek’. Kontan dia ngamuk. Bukannya nanya-nanya kabar dulu atau gimana...

    Ini juga membuat saya gak nyaman. Saya gak enak aja kalo saya mau jadi walikota Cirebon, misalnya, terus tiba-tiba menghubungi kontak-kontak tertentu, keliling-keliling cari dukungan, bikin kongres macem-macem, bikin ikatan alumni atau organisasi macem-macem, dengan satu misi: dukung saya jadi walikota! Aduh. Kesannya koq gimanaaaa gituh...(maaf menggunakan kalimat nggak jelas mirip ABeGe. Soalnya saya juga susah menjelaskan).

    Padahal itu kan wajar saja, tho? Namanya juga politik. Maklum lah. Biasa.Tapi nggak tau kenapa saya gak enak aja. Mungkin karena basically saya pemalu (halah!), atau karena proses-proses seperti itu terlalu vulgar dan kurang intelek ;p.

    Aduh. Aduh. Aduh. Bisa gak ya kita punya proses-proses politik yang enak? Kepemimpinan dari bawah: karena kerja sosial tulusnya di masyarakat, masyarakat tersebut secara natural mengangkat dan memaksa dia menjadi pemimpin. Dia sendiri mungkin tidak mau dan keberatan, tapi terpaksa mau. Nah, karena basis sosialnya pun terbentuk tulus, yang mendukung juga banyak, kepemimpinannya pun dijalankan dengan tulus (kekuasaannya hanyalah jalan lain untuk mengabdi) ; dengan sendirinya kepemimpinan dia juga sukses. Kehidupan orang banyak menjadi lebih baik. Tentu tidak semua senang, tapi biarlah, toh musuh dia semua orang jahat. Dia meninggal, dan meskipun ia tidak mau, mau tak mau ia dikenang. Di akhirat pun masuk surga, lewat jalur pemimpin yang amanah.

    Repotnya, orang macam begini ogah masuk high politic. Lihat Al Gore sekarang. Lihat Mahatma Gandhi.

    Tapi mau gimana lagi luk...ini sistem demokrasi! Juga persoalan gak selesai dengan teriak-teriak tegakkan khilafah. Politik praktis, dengan begitu, bisa jadi salah satu alternatif jalan. For greater good.

    Tetapi adakah ‘greater good’ itu? Bagaimana menjamin ‘greater good’ itu tercapai? Assurance-nya ya...lagi-lagi, proses-proses politik. Mau tidak mau, proses-proses politik yang dijalaninya pun harus sehat dan benar, untuk mencapai greater good.

    Susah. Saya harus belajar menyamankan diri, apalagi kalo emang niat ‘berpolitik’. Pikiran lainnya, look at the bright side! Kalo gak rame politik-politik ini, kapan lagi menyapa kawan lama, menyambung silaturrahim, bertukar kabar, haha-hehe bareng, makan-makan...

    After all, in the end it was always between you and God; it was never between you and them anyway.

    _di malam hari abis pulang dari Dialog Alumni oleh IA-ITB Jakarta.

    _ my official political statement and stand :)

    _yaiyy, tulisan yang niat lagi setelah sekian lama! (tapi kok isinya jumpalitan gituh...)

  • Comments Off
  • Filed under: Opini, Refleksi, belief, me