Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘me’ Category

Menulis Lagi

Saya benar-benar harus menulis lagi.
Rasanya otak ini menumpul.

*siyal*
  • Comments Off
  • Filed under: me
  • Pertapa

    Jangan mengganggu:
    aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau sepatah
    kata -- ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna -- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?


    Sapardi Djoko Damono, Kumpulan Sajak (1982)


  • Comments Off
  • Filed under: me
  • Mengerjakan PR

    Ada PR yang sangat kurang ajar dari Aul, disini. Resolusi 2008? Cukup lama mikirinnya, dan ternyata ga sampe 8...*pria yang gak punya keinginan*, hehehe...

    Ini yang kepikiran:

    1. Menjadi pembaca novel yang baik. Buku-buku saya kebanyakan nonfiksi (perbandingannya 70-30 lah...), padahal ada alasan saya harus banyak baca fiksi (baca nomer selanjutnya). Makanya saya pengen banyak baca novel-novel taun depan.
    2. Menjadi penulis novel. Ga usah diterbitin (syukur-syukur kalo ada penerbit yang cukup gila untuk menerbitkan). Menyelesaikan membuat satu novel saja cukup, untuk konsumsi pribadi (terutama kepuasan pribadi sih...saya pengen bisa bilang, “hey, I can write crap that much! Hehehe”). Mungkin nurut-nurutin mbak yang ini, yang udah nulis beberapa novel dan sedang berjuang untuk diterbitin. Gimana progresnya the?
    3. Menjadi pria berberat badan 65 kilogram. Sekarang baru 59-60-an euy...Tentu saja ini dilakukan demi penampilan kesehatan, bukan untuk apapun (apalagi siapapun,hi33x)
    4. Menjadi... Yang ini biar saya simpan dalam hati.

    Cuma 4 aja yang kepikiran...bukan bermaksud licik, tapi ya mo gimana lagi...lagian, banyak juga yang harus dicapai terutama untuk untuk mencapai resolusi keempat itu.

    Mohon doanya ya!

    Sekarang...lempar PR-nya! Silakan kerjakan untuk:

    1. Mas Viar. Jangan bimbang terus mas, hehehe. Jadi mau tau sayah...
    2. Loli, a-beautiful-smart -economist-in-making ;p. mo ngapain lol?
    3. Mona, penasaran dah lama tak bertukar kabar.
    4. Teh Rita. Mau tau apa ya yang ada dipikiran akhwat yang baru menikah?
    5. Ikram. Akankah postingan yang sangat personal ini ada di blog nomine ‘current issue’? hehehe
    6. Helmi. Pa kabar nih , Mi? tulis ya, selain lulus dari ITB!
    7. Dika. Mau tau apa yang dipengenin seorang new grad pharmacist
    8. Hiruta aka Jejakpena. Postingan-postingan terakhirnya ‘patah hati’. Semoga dengan mikirin apa keinginannya bisa jadi cerah (kata buku-buku how to sih bisa...)

    Selamat mengerjakan! Akan saya cek pekerjaan kalian, huahahahaha!

  • Comments Off
  • Filed under: kehidupan, me
  • On Politic

    Ini curhat. Kali ini gayanya kasual sajalah, tak perlu bungkusan teori macem-macem atau bahasa berbelat-belit.

    Karena curhat, anda bisa jadi curiga ini akan membosankan. Tolong dimaafkan. Sebelum mulai, ada yang tau gimana buat emoticon di blogger? Tolong kasih tau ya... Norak nih saya...he33x.

    Kalo anda liat di sidebar blog ini, salah satu wannabe list saya ialah ‘politician’. Alasannya sih saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain (terus terang saya kesulitan untuk menuliskannya tanpa kelihatan berlebihan...). Apa politisi bisa? Kalau bener, ya Insya ALLAH. Satu diantara dua kelemahan umat, menurut Naquib al-Attas, ialah kepemimpinan (publik). Politisi yang baik bisa sedikit menutupinya.

    Saya sebenarnya merasa nyaman-nyaman saja dengan hal yang namanya ‘politik’. Gak anti politik. Merasa ‘maklum’ saja kalo dipolitisasi, bahkan ketika saya sadar betul sedang dipolitisasi. Meski kadang-kadang dongkol, tapi ya wajar...namanya juga politik. Karena terkait power, buat saya politik itu ordinary, bahkan sehari-hari. Kuasa, dan relasi kuasa itu ada di tengah-tengah kita. Tak usah bicarakan tentang apa yang biasa kita sebut ‘dunia politik’; iklan, wacana, hingga obrolan ringan bisa dilihat dalam perspektif kuasa ini. Masalahnya adalah kesadaran dan pemahaman kita, akan segala peristiwa politik sehari-hari, dan kesadaran posisi: anda mempolitiki atau dipolitiki? Anda dalam kerangka hegemoni atau tirani?

    Dian Sastro kelihatan cantik sekali di Lux edisi white glamour. Suaranya juga saya dengar di radio, mempromosikan tentang glam beauty. Saya membeli Lux, karena saya cinta Dian, dalam iklannya itu. See, Dian punya power yang membuat saya membuat saya membeli sabunnya (Padahal, mungkin saja Lux itu tidak bermanfaat buat saya...Toh saya gak mau jadi putih juga). Ia berkuasa atas saya. Buat saya itu politik: seni memanfaatkan kekuasaan untuk meraih tujuan. Kenapa Dian bisa lebih berkuasa dibanding SBY, misalnya (saya nggak mau beli Lux kalau di iklannya SBY mandi pake Lux!)? Ya karena Dian juga berjuang untuk meraih kekuasaannya itu. Dian memulai dari gadis sampul, terus bintang film indie, terus di momen yang tepat jadi bintang film yang jadi tonggak film Indonesia, bersamaan dengan masa late teenage saya. Klop. Dian meraih posisi kekuasaan tertinggi, minimal buat saya. See, itu juga politik: seni meraih kekuasaan.

    Makanya, Dian Sastro for President! ;)

    Sementara politik itu ordinary, tetapi ternyata saya baru sadar bahwa saya gak bisa terlalu nyaman dengan proses-proses politiknya. Terutama yang tidak subtil, meskipun tidak bisa dibilang vulgar juga. Sampai sekarang saya ndak tau kenapa.

    Proses-proses politik di Indonesia itu mahal. Demikian tulis Kompas beberapa waktu lalu. Ada yang menyalahkan sistemnya: demokrasi kita (hampir-hampir?) liberal, yang memang menuntut high cost. Agak mirip-mirip Amerika lah...gak ada cerita presiden Amerika jaman belakangan ini yang bisa jadi Presiden dengan dana kampanye minim. Bahkan salah satu indikator kekuatan dan dukungan di Pemilu Amerika sana kan kemampuannya untuk menggalang dana. Sementara yang lain menyalahkan pelaku: elitnya aja yang ndableg. Yang nggak kreatif dalam kampanye, dan menganggap cara terbaik untuk menang, ya sediakan dana untuk fasilitas dan ‘gizi’. Pendapat lain yang bisa ditambahkan, konon ini adalah era market. Seluruh proses-proses politik pun berjalan di market, dan perlu marketing, yang tidak murah.

    Politik yang high cost, itu hal pertama yang membuat saya gak nyaman. Pertama karena saya gak punya duit (he33x), kedua karena dengan high cost politic ini juga moral politik (demi kepentingan rakyat banyak!) menjadi rentan, bahkan bisa jadi diselewengkan. Motif-motif juga jadi sulit diterka: ini duit buat kebaikan atau menjual kebaikan buat duit? Mumet.

    Hal kedua. Kemarin teman saya cerita tentang sahabat lamanya yang setelah cukup lama tidak berhubungan tiba-tiba menelepon. Bukan buat bertukar kabar, tapi dia ‘diprospek’. Kontan dia ngamuk. Bukannya nanya-nanya kabar dulu atau gimana...

    Ini juga membuat saya gak nyaman. Saya gak enak aja kalo saya mau jadi walikota Cirebon, misalnya, terus tiba-tiba menghubungi kontak-kontak tertentu, keliling-keliling cari dukungan, bikin kongres macem-macem, bikin ikatan alumni atau organisasi macem-macem, dengan satu misi: dukung saya jadi walikota! Aduh. Kesannya koq gimanaaaa gituh...(maaf menggunakan kalimat nggak jelas mirip ABeGe. Soalnya saya juga susah menjelaskan).

    Padahal itu kan wajar saja, tho? Namanya juga politik. Maklum lah. Biasa.Tapi nggak tau kenapa saya gak enak aja. Mungkin karena basically saya pemalu (halah!), atau karena proses-proses seperti itu terlalu vulgar dan kurang intelek ;p.

    Aduh. Aduh. Aduh. Bisa gak ya kita punya proses-proses politik yang enak? Kepemimpinan dari bawah: karena kerja sosial tulusnya di masyarakat, masyarakat tersebut secara natural mengangkat dan memaksa dia menjadi pemimpin. Dia sendiri mungkin tidak mau dan keberatan, tapi terpaksa mau. Nah, karena basis sosialnya pun terbentuk tulus, yang mendukung juga banyak, kepemimpinannya pun dijalankan dengan tulus (kekuasaannya hanyalah jalan lain untuk mengabdi) ; dengan sendirinya kepemimpinan dia juga sukses. Kehidupan orang banyak menjadi lebih baik. Tentu tidak semua senang, tapi biarlah, toh musuh dia semua orang jahat. Dia meninggal, dan meskipun ia tidak mau, mau tak mau ia dikenang. Di akhirat pun masuk surga, lewat jalur pemimpin yang amanah.

    Repotnya, orang macam begini ogah masuk high politic. Lihat Al Gore sekarang. Lihat Mahatma Gandhi.

    Tapi mau gimana lagi luk...ini sistem demokrasi! Juga persoalan gak selesai dengan teriak-teriak tegakkan khilafah. Politik praktis, dengan begitu, bisa jadi salah satu alternatif jalan. For greater good.

    Tetapi adakah ‘greater good’ itu? Bagaimana menjamin ‘greater good’ itu tercapai? Assurance-nya ya...lagi-lagi, proses-proses politik. Mau tidak mau, proses-proses politik yang dijalaninya pun harus sehat dan benar, untuk mencapai greater good.

    Susah. Saya harus belajar menyamankan diri, apalagi kalo emang niat ‘berpolitik’. Pikiran lainnya, look at the bright side! Kalo gak rame politik-politik ini, kapan lagi menyapa kawan lama, menyambung silaturrahim, bertukar kabar, haha-hehe bareng, makan-makan...

    After all, in the end it was always between you and God; it was never between you and them anyway.

    _di malam hari abis pulang dari Dialog Alumni oleh IA-ITB Jakarta.

    _ my official political statement and stand :)

    _yaiyy, tulisan yang niat lagi setelah sekian lama! (tapi kok isinya jumpalitan gituh...)

  • Comments Off
  • Filed under: Opini, Refleksi, belief, me
  • Do It Anyway

    People are often unreasonable, irrational, and self-centered. Forgive them anyway.

    If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives. Be kind anyway.

    If you are successful, you will win some unfaithful friends and some genuine enemies. Succeed anyway.

    If you are honest and sincere people may deceive you. Be honest and sincere anyway.

    What you spend years creating, others could destroy overnight. Create anyway.

    If you find serenity and happiness, some may be jealous. Be happy anyway.

    The good you do today, will often be forgotten. Do good anyway.

    Give the best you have, and it will never be enough. Give your best anyway.

    In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.

    _Mother Theresa (bisa dilihat di sini)


    Saya merasa perlu mencantumkan quote diatas, karena merefleksikan apa yang seharusnya saya lakukan sekarang.

    Lagi krisis kepercayaan nih. Saya gak percaya sama "temen-temen seperjuangan" saya dulu. Gak yakin bahwa "itu adalah kebaikan".

    Tapi ya...do it anyway. In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.

    Kalau nanti mereka, misalnya, dalam pengamatan subyektif saya, mengkhianati...Peduli amat. Pilihan saya tulus, insya ALLAH, anyway.

    Semoga berkah.

    NB: atau saya naif ya? Biarin deh.


  • Comments Off
  • Filed under: Islam, Refleksi, belief, kehidupan, me
  • Ketika Boyband Masih Berjaya

    Saya gak tahu kapan pertama kali boyband ada. Boyband modern, seingat saya, sangat ngehit sekitar tahun 90-an awal. Waktu itu, saya ingat kakak perempuan saya ngefans banget dengan Jonathan Knight, saudara dari Jordan Knight. Keduanya personil dari New Kids On The Block, belakangan sering disingkat NKOTB. Personil lainnya ialah Joe Mcintyre, Donny Wahlberg, dan Danny something (sorry ga inget). Hitsnya terutama lagu-lagu mellow atau yang ngedance. Dulu, di TPI jam setengah delapan sampe ada kartunnya, yang isinya nothing kecuali cerita bahwa personil NKOTB ini dikejer-kejer ama cewek-cewek.

    Sekarang nggak kedengeran lagi kabar mereka. Mark, adik Donny Wahlberg, malah lebih eksis sebagai bintang film. Joe sempat bikin solo. Yang lain udah pada jadi bapak-bapak kali.

    Waktu saya SMP, saya juga inget saya sampe bela-belain beli kaset (waktu itu masih zamannya kaset...) Backstreet Boys. Saya nggak ngefans-ngefans banget sih, tapi lagunya emang ringan dan earcatching koq (aduh malu ngakunya...he33x). Saya juga sempat beli Boyzone, yang ada lagu Words-nya itu lho...

    Ih, banci lo! Biarin! Namanya juga masih muda, banyak membuat kesalahan = p. Dan saya juga gak ngerasa less masculin dengan dengerin boyband. Lagian perasaan saat itu semua temen saya juga suka. Teman SMP saya yang kemudian berjumpa lagi di TI malah lebih ngefans. Dia sempet punya kaset Code Red (ada yang inget boyband ini?), dan satu boyband lagi yang saya lupa namanya, yang video klipnya itu settingnya perang vietnam (yeah right, boyband di perang Vietnam! Green Day aja kalah!), dan salah satu personilnya naksir gadis lokal sana yang seinget saya cakep banget = p. Saya gak punya, dan saya pinjem ke dia...he33x, segitunya yak?

    Awal 2000-an era boyband akhirnya surut (biarpun sekarang ada aja segerombolan pemuda yang ketinggalan jaman dan belagak boyband...hareeeee gineeeeee???). Kata yang sinis, boyband sekarang diganti ama pemuda-pemuda ’manis’ yang nyanyiin lagu sweet pop atau punk pop. Beberapa personil boyband di akhir masa jayanya bernasib mengenaskan. Selain gendut, jenggotan (tapi untungnya, gak khotbah...=p ), ada yang kecanduan alkohol, mengaku dirinya gay, dan serta merta menghancurkan ribuan pemuja wanitanya (dan sayangnya juga, segmen pendengar lain, para gay, tidak berubah jadi ngefans ama nih personil boyband. Poor him...). Ada juga yang akhirnya ngaku poligami! Hah? Oh sorry, yang itu bukan personil boyband ya? = p.

    Mode narsis: ON

    Tetapi di TI 2002, sisa kejayaan boyband itu masih ada. Ini contoh aksinya. (siap-siap kantong buat muntah).

    Ini boyband pertama yang terpotret. Dipilih lewat kontes yang mirip boyband idol, atau apalahitunamanya. Ini salah satu personilnya sedang dengan tak tahu malu berkicau. Maksudnya, sedang show.

    Boyband yang berisi trio itu sangat tidak nyaman. Bayangkan, atensi fans-fans mereka hanya terbagi untuk tiga orang! Wow. Terus terang, mereka rasa itu sangat berat. Akhirnya mereka bubar.

    Tetapi personil yang satu itu memutuskan bergabung dengan boyband lain, sehingga ada lima personil. Secara ekonomis, itu pilihan cerdas. Beban tampil terbagi lima, pangsa pasar yang diambil makin banyak (karena personilnya makin banyak dan beragam), dan terutama, atensi dan kegilaan para fans pun terbagi lima juga. Ini fotonya, dengan pose standar boyband.

    Zaman berubah, era boyband surut. Begitu juga boyband di TI 2002. Para personilnya menempuh jalan masing-masing, dan semua mengaku kapok berada lagi di dunia showbiz.

    Mode narsis: OFF

    Sebenernya kemaren ada buka bareng a la seleb (dicoret soalnya ntar yang bikin pundung = p) TI 2002 yang penuh hikmah dan kenangan, terus diliatin juga foto-foto kenangan jaman dulu.

    Dan harus saya akui, foto-foto diatas adalah yang terbaik (mode narsis: gagal di-OFF! = p).

    Mode narsis: really OFF

    Aduh, saya rindu banget masa-masa itu...

    NB: this blog is getting personal again!

    NB lagi: sebenernya sih ngisi kekosongan postingan aja sih (gile, bulan ini tanpa postingan berarti!)…hehehe, ketauan deh motifnya. Tulisan yang benernya ntar deh (kalo ada dan kalo niat).

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri, daily, kehidupan, me
  • Dua Hari Minggu

    Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota 8 April kemarin saya mengikuti acara yang agak istimewa. Seminar Pra Nikah! Sebenarnya tadinya agak-agak males, soalnya kebetulan keluarga saya juga datang ke Bandung, tapi karena disuruh dianjurkan dengan sangat untuk ikut, maka dengan setengah sukarela (setengahnya lagi terpaksa, he33x) saya berangkat juga (dan kurang bayar infaknya, hihihi).

    Hari Minggu (kalau tidak salah) 2 pekan sebelumnya juga saya datang ke acara yang istimewa, minimal buat saya. Taman cinta Conello! He33x…Perlu diklarifikasi juga nih, tadinya saya agak-agak males, soalnya capek banget perjalanan abis dari syukuran Ubrit di Dago atas banget (Lembang), tapi pas mau nyampe kosan, Igun dengan susah payah dan tergopoh-gopoh (halah!) nelpon dan ngajakin, “Ki, ke taman cinta yuk!”. Demi melihat pengorbanannya (sekitar 3000-an lah buat pulsa telpon), maka saya datang juga ke Taman Cinta Conello.

    Nah, tulisan ini akan membahas 2 hari minggu yang istimewa itu. Istimewa? Bukan berarti baik atau buruk, hanya “tidak biasa” saja. Jadwal minggu saya biasanya rutin: menghabiskan koran minggu, acara keluarga, atau menghabiskan buku. 2 minggu itu berbeda, dihabiskan dengan cinta! Tiap paragraf akan menceritakan satu hari minggu, bergantian, terkadang dibandingkan. Sorry kalau bacanya nggak enak.

    Nah, setelah ditelpon Igun saya segera memarkir motor saya di depan taman Ganesha, tempat diselenggarakannya taman cinta Conello itu. Pada tahu kan, kalau Tasha (Taman Ganesha) itu yang di depan gerbang ITB, dan pas banget di sebelah masjid Salman. Agak ironis juga sih…Acara hingar bingar ini diselenggarakan di sebelah masjid. Namun, look at the bright side! Itu yang bisa saya simpulkan. Di taman cinta ini, ada pintu keluar darurat yang langsung menuju Salman. Itu pesan penting, kata Miftah, “kalau cinta udah darurat dan kebablasan, segera ke masjid!”, he33x. Maksudnya, ya kalau kebablasan atau kebelet, segera nikah lah di masjid…

    Di hari Minggu yang lain, di perjalanan sebenarnya saya masih bimbang nih, mau ke seminar pra nikah itu atau ke acara keluarga (sebenarnya ada satu acara lagi, tapi kadar kepentingannya kebetulan di bawah acara ini). Ternyata saya dapat kabar keluarga saya baru berangkat dari Cirebon, dan saya disuruh nunggu…Waduh, males dong…makanya saya langsung telpon Adit (yang sebelumnya di pagi hari dengan sangat semangat sekali menggedor kamar saya dan ngajakin saya) nanya acaranya udah mulai atau belum. Kata dia baru mulai ni…Saya segera menuju ke tempat acara, yang sebenarnya cukup jauh. Tempatnya di semacam pusat pendidikan guru, tapi sama asrinya dengan Tasha. Di sebelahnya juga ada masjid (jalan cukup jauh sih), tapi ya nggak ada masalah wong seminarnya ini formatnya Islami. Tapi pesannya juga sama, kalau abis seminar dan siap, ya segera ke masjid, he33x.

    Di Tasha setelah memarkir motor ternyata selain Igun juga ada Viar dan Miftah. Langsung semuanya cengar-cengir kuda. Tadinya kita agak gengsi buat masuk, tapi begitu melihat quote dari Ninit Yunita di depan gerbang (“cowok cool itu kaya es krim, pasti ada saatnya dia meleleh juga..”), terus terang aja, kita merasa tersindir, dan akhirnya meleleh dan ikut masuk (halah!). Kita beli Conello untuk tiket masuk (Huh! Dasar komersialisasi cinta!), Rp 5500. O iya, pas nulis ini saya jadi inget, dan saya sampaikan saja pada jagad blogosphere: Igun, Viar, bayar utangmu! = p. Dengan 5500 kita dapet tiket dan voucher untuk 3 stand: dokter cinta, games cinta, dan sepeda cinta.

    Di seminar, setelah memarkir motor saya celingak-celinguk…busyet pada gak kenal ginih! Ada ibu-ibu jualan jilbab, bapak-bapak jualan buku, dan penjaga tiket. Waduh, bayar euy…Perasaan si bos kagak bilang-bilang kudu bayar, padahal gw lagi kagak bawa duit…Jadilah saya bayar seadanya aja, cuma 10 rebu dari seharusnya 25 rebu (sorry ya panitia…). Namun, untung acaranya Islami, jadi boleh masuk juga, he33x. Dengan 10 ribu ternyata saya dapet banyak: kopi+snack di pagi hari, makan siang, kopi lagi, dan tentu saja ilmu yang Insya ALLAH manfaat. Pas masuk ke dalam saya celingak celinguk lagi buat nyari temen cekikikan. Eh, ternyata ada Ida ama Yogi, alhamdulillah. Adit ternyata semangat sekali, dia menempati jajaran tengah-depan!

    Di Tasha kita nggak nyobain satu game pun, soalnya penuh banget ama abege-abege.. Gengsi dong bareng mereka ngantri (masa’ itebe disamain ama abege! He33x). Jadinya kita cuma kelalang-keliling aja, nongkrong di depan kolam berempat dan menghabiskan Conello, sambil melihat iri sinis-skeptis pada orang-orang yang lewat berpasangan (apalagi yang sendirian). Pasang tampang cuek, heran, sinis, gak percaya dan mikir: ngapain sih mereka? Kita ke stand game cinta, males soalnya ngantri. Ke sepeda cinta, ngantri juga. Ke dokter cinta, ngantri lebih panjang (terbukti, lebih banyak orang yang bermasalah dengan cinta daripada senang bermain cinta atau sepeda-sepedaan cinta!). Ke panggung utama, dengerin lagu jadul Amy Grant, terus masuk stand lagi yang gratisan. O iya, ada juga Wishing Well. Kita bisa nulis harapan kita (kata panitianya, “harapan tentang cinta”) dan nanti ditampilin di layar yang bertebaran di Tasha. Tapi di layar yang saya baca kok rada aneh ya harapannya: IP bagus, lulus kuliah…halah…Panitia jelas salah bikin acara depan ITB!

    Di seminar nggak ada game-game-an. Cukup duduk, diam dan dengar. Ngobrol, bertanya, dan cekikikan pada saatnya. Pembicaranya ternyata asyik (yaaa…materinya juga sih). Nggak ada masalah cinta, yang ada studi kasus pernikahan. Nggak perlu juga memandang sinis-skeptis pada yang berpasangan, lah wong judul acaranya aja “Seminar Pra Nikah”…ya yang datang belum pada nikah. Jadi paling kita menertawakan nasib diri sendiri, he33x.

    Di Tasha ada Kerispatih yang tampil live. Kita berempat ke samping panggung dan nonton, tentu saja berjauhan dengan abege-abege, dan tetap dengan tampang yang sama skeptisnya. Di depan saya ada abege 25 tahun (nah lho, bingung kan? Maksudnya abege dengan tampang 25-an, he33x) dengan dandanan aneh, setidaknya menurut teman saya. Di depan kita juga ada beberapa perempuan bukan abege dengan baju seragam biru. Hoo, ternyata pegawai-pegawai di kantin Salman juga ikut nonton Kerispatih…Saya nyari anak asrama Salman, alhamdulillah nggak ada. Nggak perlu juga sih, soalnya dari jendela mereka juga panggung+kerispatih-nya keliatan = p. Karena temanya cinta banget, jelas Kerispatih juga nyanyi lagu cinta. Pas mau nyanyi lagu yang ada “Khiaaaanaaaaaatiiiiiii, sebisa dirimuuuuu mengkhianaaaaaatiiiii” (mohon maaf mungkin panjangnya huruf tak sesuai dengan hukum tajwid), si vokalisnya ceramah tentang orang-orang yang dikhianati sebenarnya sama sekali bukan LOSER! Ceramah yang bahkan bikin Viar, yang paling Don Juan diantara kita, ilfeel dan makin mengernyitkan mukanya.

    Di seminar ternyata ada…Ebith Beat*A, yang ternyata bukan dijadwalkan tampil, tapi sesama peserta, hehehe. Ebith ga nyanyi saha ngaran maneh saha tapi lagunya yang laen, dan kayaknya rada grogi. Karena mendadak kali ya? Nah, kalau disini, saya melihat anak asrama Salman, alhamdulillah. Mungkin karena kali ini Ebith ga keliatan dan ga kedengeran dari jendela mereka = p.

    Abis bosen di Tasha kita ke MTI, soalnya ada briefing untuk acara swasta. Eh, dasar kita nggak tau malu juga, udah enak-enakan di Tasha, datang telat di briefing, protes pula…hihihi. Tapi kita tau diri kok, cuma nanya-nanya dikit aja. Lagian kan kalo kita merasa benar ya sampaikan aja, di MTI juga biasa kayak gitu. Malemnya, kita tepe-tepe bertanya sebagai swasta. Igun udah males duluan dan ngabur ke LSIK (nggak sesuai briefing, katanya. Tapi Igun datang pas evaluasi), Viar juga (tapi dia nitip evaluasi ke gw), Miftah udah balik dari tadi. Tapi demi melihat 2006 yang polos-polos saya memutuskan untuk bertahan (sebenernya sih karena posisi gw aja yang salah. Gw tepat di depan 2006, jadinya susah kalo kabur, hu33x…).

    Sementara di seminar sebenarnya masih ada satu sesi lagi, sayang mamah saya udah nelponin dari tadi dan nanyain mau makan bareng atau nggak. Mengingat saya lagi gak ada duit, ya saya mau-mau aja…= p. Jadilah saya tinggalkan juga seminar itu, ke acara keluarga…

    Yah, begitulah…busyet sebenernya gak penting juga gw nulis ini tulisan segini panjang, yang isinya cuma cerita-cerita doang dan kebanyakan “he33x”-nya (kenapa 33x? biar kayak dzikir! = p). Tapi nggak apa lah. Sekalian gw ngebuktiin juga ke Nizar, you see, nothing happened Bos, tuh gw bisa nulis kan? = p.

    Sorry kalo ada salah-salah kata, terutama buat pihak-pihak yang merasa didiskreditkan dan dibunuh karakternya disini.
    Igun, Viar, segera bayar utang! = p

  • Comments Off
  • Filed under: daily, kehidupan, me