Sebuah aggregator blog..
11 Aug
9 Feb
8 Dec
Ada PR yang sangat kurang ajar dari Aul, disini. Resolusi 2008? Cukup lama mikirinnya, dan ternyata ga sampe 8...*pria yang gak punya keinginan*, hehehe...
Ini yang kepikiran:
Cuma 4 aja yang kepikiran...bukan bermaksud licik, tapi ya mo gimana lagi...lagian, banyak juga yang harus dicapai terutama untuk untuk mencapai resolusi keempat itu.
Mohon doanya ya!
Sekarang...lempar PR-nya! Silakan kerjakan untuk:
Selamat mengerjakan! Akan saya cek pekerjaan kalian, huahahahaha!
9 Nov
Ini curhat. Kali ini gayanya kasual sajalah, tak perlu bungkusan teori macem-macem atau bahasa berbelat-belit.
Karena curhat, anda bisa jadi curiga ini akan membosankan. Tolong dimaafkan. Sebelum mulai, ada yang tau gimana buat emoticon di blogger? Tolong kasih tau ya... Norak nih saya...he33x.
Kalo anda liat di sidebar blog ini, salah satu wannabe list saya ialah ‘politician’. Alasannya sih saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain (terus terang saya kesulitan untuk menuliskannya tanpa kelihatan berlebihan...). Apa politisi bisa? Kalau bener, ya Insya ALLAH. Satu diantara dua kelemahan umat, menurut Naquib al-Attas, ialah kepemimpinan (publik). Politisi yang baik bisa sedikit menutupinya.
Saya sebenarnya merasa nyaman-nyaman saja dengan hal yang namanya ‘politik’. Gak anti politik. Merasa ‘maklum’ saja kalo dipolitisasi, bahkan ketika saya sadar betul sedang dipolitisasi. Meski kadang-kadang dongkol, tapi ya wajar...namanya juga politik. Karena terkait power, buat saya politik itu ordinary, bahkan sehari-hari. Kuasa, dan relasi kuasa itu ada di tengah-tengah kita. Tak usah bicarakan tentang apa yang biasa kita sebut ‘dunia politik’; iklan, wacana, hingga obrolan ringan bisa dilihat dalam perspektif kuasa ini. Masalahnya adalah kesadaran dan pemahaman kita, akan segala peristiwa politik sehari-hari, dan kesadaran posisi: anda mempolitiki atau dipolitiki? Anda dalam kerangka hegemoni atau tirani?
Dian Sastro kelihatan cantik sekali di Lux edisi white glamour. Suaranya juga saya dengar di radio, mempromosikan tentang glam beauty. Saya membeli Lux, karena saya cinta Dian, dalam iklannya itu. See, Dian punya power yang membuat saya membuat saya membeli sabunnya (Padahal, mungkin saja Lux itu tidak bermanfaat buat saya...Toh saya gak mau jadi putih juga). Ia berkuasa atas saya. Buat saya itu politik: seni memanfaatkan kekuasaan untuk meraih tujuan. Kenapa Dian bisa lebih berkuasa dibanding SBY, misalnya (saya nggak mau beli Lux kalau di iklannya SBY mandi pake Lux!)? Ya karena Dian juga berjuang untuk meraih kekuasaannya itu. Dian memulai dari gadis sampul, terus bintang film indie, terus di momen yang tepat jadi bintang film yang jadi tonggak film Indonesia, bersamaan dengan masa late teenage saya. Klop. Dian meraih posisi kekuasaan tertinggi, minimal buat saya. See, itu juga politik: seni meraih kekuasaan.
Makanya, Dian Sastro for President! ;)
Sementara politik itu ordinary, tetapi ternyata saya baru sadar bahwa saya gak bisa terlalu nyaman dengan proses-proses politiknya. Terutama yang tidak subtil, meskipun tidak bisa dibilang vulgar juga. Sampai sekarang saya ndak tau kenapa.
Proses-proses politik di Indonesia itu mahal. Demikian tulis Kompas beberapa waktu lalu. Ada yang menyalahkan sistemnya: demokrasi kita (hampir-hampir?) liberal, yang memang menuntut high cost. Agak mirip-mirip Amerika lah...gak ada cerita presiden Amerika jaman belakangan ini yang bisa jadi Presiden dengan dana kampanye minim. Bahkan salah satu indikator kekuatan dan dukungan di Pemilu Amerika sana kan kemampuannya untuk menggalang dana. Sementara yang lain menyalahkan pelaku: elitnya aja yang ndableg. Yang nggak kreatif dalam kampanye, dan menganggap cara terbaik untuk menang, ya sediakan dana untuk fasilitas dan ‘gizi’. Pendapat lain yang bisa ditambahkan, konon ini adalah era market. Seluruh proses-proses politik pun berjalan di market, dan perlu marketing, yang tidak murah.
Politik yang high cost, itu hal pertama yang membuat saya gak nyaman. Pertama karena saya gak punya duit (he33x), kedua karena dengan high cost politic ini juga moral politik (demi kepentingan rakyat banyak!) menjadi rentan, bahkan bisa jadi diselewengkan. Motif-motif juga jadi sulit diterka: ini duit buat kebaikan atau menjual kebaikan buat duit? Mumet.
Hal kedua. Kemarin teman saya cerita tentang sahabat lamanya yang setelah cukup lama tidak berhubungan tiba-tiba menelepon. Bukan buat bertukar kabar, tapi dia ‘diprospek’. Kontan dia ngamuk. Bukannya nanya-nanya kabar dulu atau gimana...
Ini juga membuat saya gak nyaman. Saya gak enak aja kalo saya mau jadi walikota Cirebon, misalnya, terus tiba-tiba menghubungi kontak-kontak tertentu, keliling-keliling cari dukungan, bikin kongres macem-macem, bikin ikatan alumni atau organisasi macem-macem, dengan satu misi: dukung saya jadi walikota! Aduh. Kesannya koq gimanaaaa gituh...(maaf menggunakan kalimat nggak jelas mirip ABeGe. Soalnya saya juga susah menjelaskan).
Padahal itu kan wajar saja, tho? Namanya juga politik. Maklum lah. Biasa.Tapi nggak tau kenapa saya gak enak aja. Mungkin karena basically saya pemalu (halah!), atau karena proses-proses seperti itu terlalu vulgar dan kurang intelek ;p.
Aduh. Aduh. Aduh. Bisa gak ya kita punya proses-proses politik yang enak? Kepemimpinan dari bawah: karena kerja sosial tulusnya di masyarakat, masyarakat tersebut secara natural mengangkat dan memaksa dia menjadi pemimpin. Dia sendiri mungkin tidak mau dan keberatan, tapi terpaksa mau. Nah, karena basis sosialnya pun terbentuk tulus, yang mendukung juga banyak, kepemimpinannya pun dijalankan dengan tulus (kekuasaannya hanyalah jalan lain untuk mengabdi) ; dengan sendirinya kepemimpinan dia juga sukses. Kehidupan orang banyak menjadi lebih baik. Tentu tidak semua senang, tapi biarlah, toh musuh dia semua orang jahat. Dia meninggal, dan meskipun ia tidak mau, mau tak mau ia dikenang. Di akhirat pun masuk surga, lewat jalur pemimpin yang amanah.
Repotnya, orang macam begini ogah masuk high politic. Lihat Al Gore sekarang. Lihat Mahatma Gandhi.
Tapi mau gimana lagi luk...ini sistem demokrasi! Juga persoalan gak selesai dengan teriak-teriak tegakkan khilafah. Politik praktis, dengan begitu, bisa jadi salah satu alternatif jalan. For greater good.
Tetapi adakah ‘greater good’ itu? Bagaimana menjamin ‘greater good’ itu tercapai? Assurance-nya ya...lagi-lagi, proses-proses politik. Mau tidak mau, proses-proses politik yang dijalaninya pun harus sehat dan benar, untuk mencapai greater good.
Susah. Saya harus belajar menyamankan diri, apalagi kalo emang niat ‘berpolitik’. Pikiran lainnya, look at the bright side! Kalo gak rame politik-politik ini, kapan lagi menyapa kawan lama, menyambung silaturrahim, bertukar kabar, haha-hehe bareng, makan-makan...
After all, in the end it was always between you and God; it was never between you and them anyway.
_di malam hari abis pulang dari Dialog Alumni oleh IA-ITB Jakarta.
_ my official political statement and stand :)
_yaiyy, tulisan yang niat lagi setelah sekian lama! (tapi kok isinya jumpalitan gituh...)
9 Oct
People are often unreasonable, irrational, and self-centered. Forgive them anyway.If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives. Be kind anyway.
If you are successful, you will win some unfaithful friends and some genuine enemies. Succeed anyway.
If you are honest and sincere people may deceive you. Be honest and sincere anyway.
What you spend years creating, others could destroy overnight. Create anyway.
If you find serenity and happiness, some may be jealous. Be happy anyway.
The good you do today, will often be forgotten. Do good anyway.
Give the best you have, and it will never be enough. Give your best anyway.
In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.
_Mother Theresa (bisa dilihat di sini)
Saya merasa perlu mencantumkan quote diatas, karena merefleksikan apa yang seharusnya saya lakukan sekarang.
Lagi krisis kepercayaan nih. Saya gak percaya sama "temen-temen seperjuangan" saya dulu. Gak yakin bahwa "itu adalah kebaikan".
Tapi ya...do it anyway. In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.
Kalau nanti mereka, misalnya, dalam pengamatan subyektif saya, mengkhianati...Peduli amat. Pilihan saya tulus, insya ALLAH, anyway.
Semoga berkah.
NB: atau saya naif ya? Biarin deh.
6 Oct
Sekarang nggak kedengeran lagi kabar mereka. Mark, adik Donny Wahlberg, malah lebih eksis sebagai bintang film. Joe sempat bikin solo. Yang lain udah pada jadi bapak-bapak kali.
Waktu saya SMP, saya juga inget saya sampe bela-belain beli kaset (waktu itu masih zamannya kaset...) Backstreet Boys. Saya nggak ngefans-ngefans banget sih, tapi lagunya emang ringan dan earcatching koq (aduh malu ngakunya...he33x). Saya juga sempat beli Boyzone, yang ada lagu Words-nya itu lho...
Ih, banci lo! Biarin! Namanya juga masih muda, banyak membuat kesalahan = p. Dan saya juga gak ngerasa less masculin dengan dengerin boyband. Lagian perasaan saat itu semua temen saya juga suka. Teman SMP saya yang kemudian berjumpa lagi di TI malah lebih ngefans. Dia sempet punya kaset Code Red (ada yang inget boyband ini?), dan satu boyband lagi yang saya lupa namanya, yang video klipnya itu settingnya perang vietnam (yeah right, boyband di perang Vietnam! Green Day aja kalah!), dan salah satu personilnya naksir gadis lokal sana yang seinget saya cakep banget = p. Saya gak punya, dan saya pinjem ke dia...he33x, segitunya yak?
Awal 2000-an era boyband akhirnya surut (biarpun sekarang ada aja segerombolan pemuda yang ketinggalan jaman dan belagak boyband...hareeeee gineeeeee???). Kata yang sinis, boyband sekarang diganti ama pemuda-pemuda ’manis’ yang nyanyiin lagu sweet pop atau punk pop. Beberapa personil boyband di akhir masa jayanya bernasib mengenaskan. Selain gendut, jenggotan (tapi untungnya, gak khotbah...=p ), ada yang kecanduan alkohol, mengaku dirinya gay, dan serta merta menghancurkan ribuan pemuja wanitanya (dan sayangnya juga, segmen pendengar lain, para gay, tidak berubah jadi ngefans ama nih personil boyband. Poor him...).
Mode narsis: ON
Tetapi di TI 2002, sisa kejayaan boyband itu masih ada. Ini contoh aksinya. (siap-siap kantong buat muntah).
Ini boyband pertama yang terpotret. Dipilih lewat kontes yang mirip boyband idol, atau apalahitunamanya. Ini salah satu personilnya sedang dengan tak tahu malu berkicau. Maksudnya, sedang show.
Boyband yang berisi trio itu sangat tidak nyaman. Bayangkan, atensi fans-fans mereka hanya terbagi untuk tiga orang! Wow. Terus terang, mereka rasa itu sangat berat. Akhirnya mereka bubar.
Zaman berubah, era boyband surut. Begitu juga boyband di TI 2002. Para personilnya menempuh jalan masing-masing, dan semua mengaku kapok berada lagi di dunia showbiz.
Mode narsis: OFF
a la seleb (dicoret soalnya ntar yang bikin pundung = p) TI 2002 yang penuh hikmah dan kenangan, terus diliatin juga foto-foto kenangan jaman dulu.
NB: this blog is getting personal again!
NB lagi: sebenernya sih ngisi kekosongan postingan aja sih (gile, bulan ini tanpa postingan berarti!)…hehehe, ketauan deh motifnya. Tulisan yang benernya ntar deh (kalo ada dan kalo niat).
9 Apr
Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota 8 April kemarin saya mengikuti acara yang agak istimewa. Seminar Pra Nikah! Sebenarnya tadinya agak-agak males, soalnya kebetulan keluarga saya juga datang ke Bandung, tapi karena disuruh dianjurkan dengan sangat untuk ikut, maka dengan setengah sukarela (setengahnya lagi terpaksa, he33x) saya berangkat juga (dan kurang bayar infaknya, hihihi).
iri sinis-skeptis pada orang-orang yang lewat berpasangan (apalagi yang sendirian). Pasang tampang cuek, heran, sinis, gak percaya dan mikir: ngapain sih mereka? Kita ke stand game cinta, males soalnya ngantri. Ke sepeda cinta, ngantri juga. Ke dokter cinta, ngantri lebih panjang (terbukti, lebih banyak orang yang bermasalah dengan cinta daripada senang bermain cinta atau sepeda-sepedaan cinta!). Ke panggung utama, dengerin lagu jadul Amy Grant, terus masuk stand lagi yang gratisan. O iya, ada juga Wishing Well. Kita bisa nulis harapan kita (kata panitianya, “harapan tentang cinta”) dan nanti ditampilin di layar yang bertebaran di Tasha. Tapi di layar yang saya baca kok rada aneh ya harapannya: IP bagus, lulus kuliah…halah…Panitia jelas salah bikin acara depan ITB!
tepe-tepe bertanya sebagai swasta. Igun udah males duluan dan ngabur ke LSIK (nggak sesuai briefing, katanya. Tapi Igun datang pas evaluasi), Viar juga (tapi dia nitip evaluasi ke gw), Miftah udah balik dari tadi. Tapi demi melihat 2006 yang polos-polos saya memutuskan untuk bertahan (sebenernya sih karena posisi gw aja yang salah. Gw tepat di depan 2006, jadinya susah kalo kabur, hu33x…).
Sementara di seminar sebenarnya masih ada satu sesi lagi, sayang mamah saya udah nelponin dari tadi dan nanyain mau makan bareng atau nggak. Mengingat saya lagi gak ada duit, ya saya mau-mau aja…= p. Jadilah saya tinggalkan juga seminar itu, ke acara keluarga…
Igun, Viar, segera bayar utang! = p