Sebuah aggregator blog..
20 Jan
Kenapa sih yang namanya jodoh itu gak langsung aja dikasih tau sesegera mungkin? Gw udah bingung ama yang namanya harus ketemu seseorang, jatuh hati, dan pada akhirnya hanya menemukan bahwa gw bukanlah yang terbaik untuk dia (atau sebaliknya), dan terus putus. Mending kalo putusnya baek2, kalo marahan dan jadi musuh? Mungkin gw juga yang bego karena gw sering punya pemikiran prematur tentang seseorang. Atau mungkin juga karena gw yang terlalu perfeksionis tentang menilai seseorang.
Look… I’m 23 now! This is an age when I though I’m gonna be married with a man of my dream. Tapi sekarang ternyata gw bahkan belom punya gambaran, "man of my dream" itu yang seperti apa..?
Pagi ini, diskusi panjang yang berlangsung antara gw, mama papa, dan adek gw, tesa (meski hanya sebagai pendengar) rasanya membuahkan banyak pikiran baru. Kita diskusi apa? Biasa, soal jodoh. Karena jodoh adalah topik hangat dan panas untuk cewek berumur 20-an. Katanya :
"Olga, yang penting dalam memilih cowok itu adalah orangnya seagama, baik, dan mapan"
Mapan disini bukan berarti si cowok ini udah punya rumah dan deposito, dan gw sebagai wanita tinggal masuk dalam hidup yang enak. Ternyata maksud mapan ini adalah, si cowok udah memiliki inner skill untuk menghadapi hidup. You know, pendidikan yang baik, moral yang baik, kepribadian yang baik.
Yah itu sih kriterianya bonyok (which is sangat beralasan dan sangat masuk akal. Now I need to set my own criteria… Any suggestion?
15 Jul
Bukan sesuatu yang luar biasa. Hanya saja.. lelaki itu baru saja mengecup keningnya! Hanya itu yang diperlukan untuk membuat seorang gadis kecil berkucir dua berjalan setengah berlari dengan riangnya. Walau jalanan gersang berpasir dan batu yang ia lewati, ia rasakan warna dan wangi bunga berada disana, di dalam hatinya.
Berulang dan berulang ia mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu itu. Berulang dan berulang ia kembali lagi ke sana, ketika keningnya merasakan basah dari bibir asing milik lelaki itu. Berulang dan berulang jantungnya berdebar kencang, seolah-olah mereka masih berdiri berdua, di bangku taman belakang sekolahan.
Gadis berkuncir beranjak dewasa. Ia tumbuh menjadi wanita. Betapa inginnya ia menaburi lagi bunga ke dalam hatinya. Merata, mewangi, mewarna… Tapi sekarang ia tahu, ia hanya menginginkan bunga segar saja. Dan sekarang ia juga tahu, hanya lelaki yang tertentu saja yang memiliki bunga semerbak dengan warna semarak. Ia tahu banyak sekarang. Hanya saja… ia tidak merasakan banyak. Hatinya sudah tertutupi oleh bunga layu yang dibiarkan disana bertahun-tahun lamanya…