Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Kuliah’ Category

25 Tahun Mendatang

Sewaktu mahasiswa, saya pernah terlibat obrolan dengan seorang teman (saya lupa siapa. Yang saya ingat, ada beberapa kali obrolan, masing-masing dengan seorang teman yang berbeda-beda.) tentang 20-25 tahun setelah kita semua meninggalkan kampus. Saya bisa maklum: dia berada dalam doktrin agung (“Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel Bangsa!”), berada di kampus yang bercitra terang-benderang, dan dijejali trainer atau buku-buku motivasi dengan filsafat progresifisme modern ; maka inilah kalimat heroik yang dia katakan, “coba kamu liat nanti luk, 20 atau 25 tahun lagi. Saat kita semua menjadi sesuatu”.

Saat itu saya kagum. Yakin sekali dia. Hebat!

Sekarang saya khawatir. Naif sekali dia. Kasihan.

Namun pembaca yang waras akan berkesimpulan beda: dasar megalomaniak.

Saya pernah ngobrol juga (kali ini dengan Kang Firman, BI ’97) tentang topik mirip ini. Ia berbicara tentang sebuah generasi (generasinya, saya, dan anda), dan sebuah keniscayaan bahwa suatu hari, seluruh posisi dan peran di masyarakat, berpindah ke generasi ini.

Dan itu bukan sesuatu yang hebat. Ini hanya masalah giliran: generasi sebelumnya sudah atau sedang menerima, generasi kita sedang menunggu, atau sedang belajar menjadi.

Itu cukup masuk akal dan acceptable buat saya. Namun kalau itu diteruskan dengan doktrin standar “ kalian kan mahasiswa, 2 % dari penduduk Indonesia”, apalagi ditambah “kalian kan mahasiswa I*B”, saran saya untuk mahasiswa sekarang ialah: jangan dengarkan. Minimal, jangan dengarkan dengan serius.

Pikiran ini timbul lagi setelah saya membaca The Class (Erich Segal). Ide kisahnya sederhana sekaligus cemerlang. Tentang suatu angkatan Harvard ’58, ketika mereka reuni, 25 tahun dari tahun 1958.

Khas novel Erich Segal yang tebal, kisah ini pun terdiri dari beragam tokoh yang masing-masing kompleks, dengan rentang waktu yang panjang (silakan baca, misalnya, karya Segal yang lain seperti The Doctors atau Nobel Prize). Yang juga khas Segal, Harvardisme Segal kental sekali disini. Ia sendiri adalah pengajar sastra latin di Harvard, jadi maklum saja.

The Class menceritakan tentang Andrew Eliot, entah keturunan Eliot keberapa yang masuk Harvard (Eliot sendiri menjadi nama wisma mahasiswa di Harvard) ; Danny Rossi, mahasiswa musik cemerlang ; Theodore Lambros, mahasiswa sastra latin keturunan Yunani ; Jason Gilbert, keturunan Yahudi yang dibesarkan dengan terlalu Amerika dan George Keller, imigran Hungaria yang menjadi mentee Henry Kissinger.

Ini menarik, karena disana-sini saya menemukan hal yang analog antara alam pikiran mahasiswa Harvard (Atau MIT. Atau Stanford. Atau any other Ivy Leaguers) dengan mahasiswa ITB disini (Atau UI. Atau UGM. Atau any other state universities).

Saat mahasiswa, mereka datang dengan sangat percaya diri (hampir-hampir arogan, kalau boleh dibilang). Dibesarkan sebagai yang terbaik (atau among the best lah) di sekolahnya, dicitrakan ‘brilian’ oleh masyarakat (dan dibenci oleh beberapa banyak orang). Pokoknya Te O Pe Be Ge Te dah. Dalam bahasa Segal, ‘ memiliki kepercayaan tak terbatas akan kemampuan mereka’. Penuh dengan impian besar. Untuk mahasiswa Harvard, ‘menjadi pemimpin-pemimpin dunia’. Untuk mahasiswa I*B, ‘calon pemimpin bangsa’. Serba menggelegar dan menggetarkan.

Jelas ini generalisasi brutal. Tidak pernah ada penelitian yang menguatkan atau memperlemah sangkaan ini. Namun, ini dapat dirasakan, seperti bau kentut yang anda hirup di ruangan. Anda tak bisa membuktikan berapa persen sulfur yang ada di kandungan udara di ruangan tersebut, tetapi baunya tercium.

Apa yang terjadi sejak mahasiswa hingga 25 tahun setelah lulus? Banyak hal, yang tak semua baik. Yang saya catat, dalam tokoh-tokoh Segal, apa yang dialami 25 tahun mendatang bisa dilacak sejak mahasiswa. Bukan berarti yang hebat saat mahasiswa juga hebat setelah 25 tahun, tetapi karakter yang membentuk 25 tahun berikutnya bisa di-trace sejak mereka mahasiswa. Andrew Eliot yang selalu kurang percaya diri tapi paling manusiawi , Jason Gilbert, bintang universitas yang selalu gamang akan identitas Yahudi-nya karena selalu diamerikanisasi oleh ayahnya, Ted Lambros yang sejak awal merasa ‘kurang Harvard’ dan haus sekali akan pengakuan dari almamaternya, Danny Rossi yang terobsesi musik dan ketenaran, George Keller yang seumur hidup selalu merasa sendiri.

Eliot menjadi bankir (sekedar meneruskan usaha keluarga) dan ketua panitia reuni karena memiliki hubungan baik dan selalu tulus kepada teman-temannya. Gilbert menyelesaikan konflik identitasnya dengan menjadi Yahudi sepenuhnya, dan bahkan mati sebagai tentara Israel. Lambros akhirnya diterima di komunitas Harvard dan menjadi dekan, Rossi menjadi pianis terkemuka dunia, dan Keller menjadi calon menteri luar negeri.

Yang pahit (atau unexpectable), perkawinan Eliot gagal dan bahkan anak lelakinya menolak menjadi seorang Eliot lagi. Gilbert, yang sangat berprestasi dan dibayangkan dapat menjadi apapun yang dia mau di Amerika malah menjadi relawan kibbutz di Israel. Hubungan cinta Lambros yang terbina sejak kuliah hancur karena dia selingkuh. Rossi menderita tremor di tangannya dan menghentikan karirnya. Keller, sang calon menlu itu, bunuh diri.

Ya, beberapa dari mereka menjadi sesuatu. Something big, malah. Dengan beragam cerita dan catatan buruk di periode 25 tahun itu. By the way, Lambros adalah mahasiswa miskin yang diremehkan, Rossi selalu ditolak di wismanya saat main piano, dan Keller adalah imigran yang kemampuan bahasa inggrisnya nol besar saat masuk Harvard.

Apa yang dirasakan ketika reuni ke-25 itu? Segal menulis,

Tapi siapakah orang-orang asing itu – botak, berkacamata, tambun, dan malu-malu?...

Anehnya, sebagian besar dari mereka dilanda ketakutan lebih besar membayangkan harus kembali ke Harvard daripada ketika mereka tiba pertama kali sebagai mahasiswa baru. Sebab, kini ada yang hilang dari rohani mereka – kepercayaan tak terbatas terhadap kemampuan mereka.

Mereka tidak lagi seperti astronaut yang menjelajahi orbit penuh harapan dengan langkah lebar, siap untuk terbang ke bulan, bahkan lebih jauh lagi. Sebagian besar dari mereka tampak seperti pelancong yang kelelahan, yang cakrawalanya berakhir di kawasan parkir kantor.

Dan kendati segala keberhasilan mereka yang gemilang...mereka sadar telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan,...masa muda mereka.

...

Kata saktinya adalah kompromi...

Ya, setelah 25 tahun dan berusaha berkompetisi sambil saling membuktikan (dan membandingkan), pada akhirnya memang kompromi. Oh, ambisi lama itu telah pergi, entah mewujud atau tidak. Oh, kebanggaan dan kompetisi saat kuliah dan seterusnya itu sudah tak ada dan terganti dengan sejenis kepasrahan.

Tetapi kini mereka berinteraksi dengan suatu kehangatan baru. Tidak ada tingkat-tingkat kedudukan. Mereka bertemu untuk pertama kali sebagai sesama manusia...

Selain kompromi dan perasaan ‘yaa,,sudahlah,,’, hal lain yang pada akhirnya tersisa adalah yang paling bermakna untuk tiap perseorangan, atau sebuah tragedi. Rossi kembali setia pada istrinya setelah serangkaian petualangan, Eliot mengumpulkan kembali teman-temannya, Gilbert mati dengan senyum demi sesuatu yang ia bela, Lambros akhirnya diterima Harvard sepenuhnya. Yang tragis, Keller tetap merasa hampa dan memilih mengakhiri hidup.

Begitu jugakah suasananya di reuni 2027 nanti?

***

Dalam sebuah artikel menjelang Idul Fitri, Jalaluddin Rakhmat pernah menelisik asal kata dosa dalam bahasa arab (atau tobat? Maaf kalau ingatan saya agak samar). Ia menulis bahwa kata ‘dosa’ (atau akar katanya) juga biasa digunakan untuk menunjukkan ‘jejak’, seperti jejak kaki kita di gurun pasir. Tobat, atau ampunan, atau confession (pengakuan ikhlas akan dosa), kata kang Jalal, menghapus dosa tadi, atau jejak, hingga samar atau hilang. Seperti angin yang meniup pasir hingga menutupi jejak. Tanpa pengampunan, jejak tadi menetap. Mungkin mengeras.

Padang Mahsyar adalah juga sebuah reuni. Mengingat kembali segala jejak kita (kita disini mengacu pada semua umat manusia), termasuk juga jejak dosa kita.

Saya pikir saat itu kompromi sudah tidak ada.

Astagfirullah. Ya Allah, hapuskanlah jejak dosa saya.

Semoga kita bisa bereuni di tempat yang terbaik nanti.

Kredit:
- The Class
by Erich Segal (c) 1985, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Threes Susilastuti, Oktober 2007 (Cetakan Kedua), Gramedia Pustaka Utama.
- "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel", saya baca di blog Ika. Pernah terpasang di salah satu sudt kampus ITB.

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Refleksi, kehidupan
  • Polemik Plagiat

    Beberapa waktu yang lalu, salah satu teman saya tertunda sidang Tugas Akhirnya karena terkena dugaan plagiat. Sampai sekarang, kasus tersebut belum juga tuntas. Dari isu yang beredar, hukuman paling ringan berupa mengulang tugas akhir sedangkan hukuman paling berat berupa dicabut status mahasiswanya alias Drop Out. Astaga! Dampak dari adanya kejadian tersebut, banyak mahasiswa TI yang [...]
  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, TI, Teknik Industri, akademik
  • Waktu zaman saya mahasiswa dulu , selalu saja ada teman-teman yang bersemangat dan bertanya-tanya ‘quo vadis mahasiswa sekarang’, ‘gimana nih kemahasiswaan’, dan lain-lain. Karena banyak juga yang heboh nanya-nanya dan membahas, dan saya hanyalah mahasiswa yang ngikut tren, jadilah pula saya memikirkan.

    Saya baca sejarah. Rasakan semangat zaman di tiap eranya. Dengerin doktrin omongan senior-senior, yang bener maupun keblinger. Zaman dulu kayak apa sih? Sekarang zamannya apa ya? Kecenderungan ke depan gimana? Apa hubungannya ama mahasiswa? Jadi, seharusnya mahasiswa gimana?

    Kesimpulan saya dulu sederhana: khilafah conscientizao atau consciencetization. Ada yang menerjemahkan konsaintisasi (aneh banget!). Kemarin di Kompas ada yang menggunakan kata ini dan diterjemahkan sederhana: kesadaran kritis. Yang lain-lain itu cuma pernak-pernik, dan dilakukan dalam rangka mengkampanyekan kesadaran kritis ini. Bukan membangun institusi, melakukan pergerakan bersama, apalagi melawan tirani. Emang, buat apa membangun institusi kalau arahnya juga tidak jelas? Ngapain ngotot mau gerak bareng di tengah era fundamentalisme hedonisme (istilah yang aneh...)? Tirani mana yang mau dilawan?

    Conscientizao adalah tujuan pendidikan Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed. Buku yang konon jadi buku wajib mahasiswa ITB. Makanya saya cari mati-matian (susah bo nyarinya! Udah ga terbit lagi tuh buku...), akhirnya nemu di Palasari, dan saya baca *bahan untuk ngantuk menjelang tidur*.

    Kesadaran kritis itu, intinya, adalah kondisi pikiran dalam mempersepsi lingkungan sekitar (dalam pengertian luas, semua hal lain yang kita hadapi) dengan melihat aspek sistem dan struktur. Bisa aware dan menganalisis secara kritis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya (termasuk pelakunya), dan jika ada (pasti ada sih...),mengidentifikasi dan menyadari ketidakadilan dalam masyarakat dan bagaimana mentransformasikannya. Misalnya kasus kemiskinan. Seharusnya kita sadar kemiskinan bukanlah masalah takdir dan kemestian (ada yang kaya, ya ada juga yang miskin...). Kalau ini sih kesadaran magis, kata Freire. Kemiskinan juga bukan karena kebodohan, kesalahan, kekurangrajinan orang-orang miskinnya sendiri (blaming the victim; kata Freire ini orang dengan kesadaran naif). Tetapi, kemiskinan harus dilihat: jangan-jangan yang terjadi adalah pemiskinan? Karena ada pembatasan akses kepada kesejahteraan, misalnya dengan sekolah yang mahal atau diprivatisasi. Atau malah ada perampokan oleh korporat yang ’berdiplomasi’ dengan pemerintah, sementara rakyat kebanyakan dibiarkan tetap miskin. Atau karena korupsi. Jadi, setiap masalah dianalisis dengan kaidah-kaidah saintifik (makanya ada kata ’science’ dalam conscientization), lalu dilihat: oh, ternyata ini yang menyebabkannya...

    Sebenarnya conscientizao itu target minimal, soalnya yang lain tak kelihatan feasible untuk dilakukan saat itu. Pikiran sederhana saya waktu itu, karena kita kan pasti ga jadi mahasiswa lagi (entah lulus atau DO), minimal kesadaran kritis ini terbawa lah setelah keluar. Jadi, misalnya dia ntar kerja di KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), minimal dia tau dan sadar bahwa operasinya nanti diganti lewat cost recovery (atau mungkin gaji dan fasilitasnya? Overhead kantor juga cost recovery kan?), jadi dia kerja dengan bertanggungjawab dan seefisien mungkin, karena ntar-ntar juga diganti ama duit negara pajak rakyat. Yang jadi bos-bos di perusahaan minyak negara nanti, misalnya, bisa nurut kalau pemerintah sekarang katanya mau mengefisienkan BUMN, termasuk lewat pengurangan fasilitas pegawai. Konsekuensi yang bergerak di pemerintahan atau sektor amal sosial mah udah jelas lah ya...

    Namun ternyata itu juga susah, bahkan gagal. Sampai saya lulus, ga jelas dan ga berhasil juga...Masih ga cocok dengan zamannya, mungkin?

    Ini ada sebuah ide. Saya jamin cocok dengan zamannya.

    Belajar yang rajin, lulus cepat, dan jadilah makhluk kaya sekaya-kayanya. Kalau ada tawaran aktivitas, timbanglah: apa manfaatnya buat saya? Apa bisa mempercantik CV saya sehingga bisa dijual ntar, apakah akan menambah jaringan saya ke politisi-cum-pemilik dana ga jelas untuk diserahkan pada proposal bisnis yang nanti saya bawa? Apa bisa mengajari skill dan keahlian sehingga saya bisa jadi engineer yang ekstra spesialis yang dibayar sejam 4000 dolar? Apa ada relasinya yang bisa jadi klien saya ntar? Kalau tidak ada manfaatnya, tolak saja! (manfaat tak harus moneter, tanya juga: apa ada yang potensial untuk menjadi pacar kamu?). Hal-hal ga jelas itu hanya akan memperlama waktu kamu di kampus! Dan kalau omongan senior-seniormu itu benar, bahwa kuliah di ITB itu dibayar PAJAK RAKYAT, maka mendingan lulus cepat bukan? Biar rakyat ga lama ngebayarin kamu. Jangan dengerin senior kamu, apalagi yang lulus 7 tahun: dia sendiri paling lama menikmati pajak rakyat. Mendingan kamu, tho? Cuma dibayarin rakyat 3,5 tahun.

    Sekali lagi, jangan pernah dengerin senior-senior dengan paradigma mahasiswa lama yang kolot dan tidak progresif. Ini era fundamentalisme pasar, bung! Homo paling oeconomicus lah yang akan menang. Jadilah mahasiswa dengan paradigma masa kini, market-paradigm!

    Jangan pernah mau diospek ga jelas, apalagi kalau dibilangin kalian harus berjiwa sosial, peduli sesama, dan lain-lain. Mana ada altruisme yang menyelesaikan masalah? Pasar lah yang akan mengatur dan menyelesaikan masalah, bukan kebaikan para filantrop. Berapa yang telah disumbangkan Bill dan Melinda Gates, Warren Buffet, atau orang-orang dermawan lain? Berapa jumlah penduduk yang masih miskin?

    Lebih banyak yang bisa kamu lakukan kepada rakyat dengan menjadi kaya sekaya-kayanya. Buatlah korporasi besar, berapa juta jiwa yang akan kamu gaji? Dari berapa juta jiwa itu, berapa jumlah keluarganya? Belum lagi yang kena multiplier effect. Banyak sekali kan? Efeknya lebih besar daripada sumbangan 100 juta dolar sekalipun.

    Lho, tapi kan nanti ada ketimpangan? Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin? Bukan salah kamu! Itu pemerintah yang gak bener. Yang gak bikin institusi dan regulasi yang baik untuk rakyat. Kamu bayar pajak, kamu taat hukum, bahkan kamu menggaji banyak karyawan. Peraturan keblinger tentang Coporate Social Responsibility juga kamu ikutin. Salah siapa? Jelas bukan kamu. Ini salah pemerintah.

    Dan siapa sih pemerintah itu? Senior-senior kamu juga, dengan paradigma lama yang tidak progresif dan ketinggalan zaman dulu itu. Senior-senior kamu dulu yang menceramahi kamu untuk berjiwa sosial, yang karena gak ada kerjaan masuk partai atau LSM, lalu kebelet untuk berkuasa dan sekarang di pemerintah. Nah, keliatan kan? Mereka malah gak bener kerjanya, dan jadi pihak yang paling berpengaruh memiskinkan rakyat. Jelas, mendingan kamu, wahai mahasiswa rajin-lulus cepat-lalu kaya dahsyat.

    Jadilah pegawai di perusahaan terbaik di dunia, kalau bisa ya jadi ekspatriat di negeri orang dengan gaji dollar. Lagi-lagi kamu berjasa: kamu bawa dolar dari luar negeri dan menjadi pahlawan devisa yang lebih banyak membawa duit daripada para pahlawan devisa tapi selalu disiksa pemerintah dan aparatnya itu (ingat, siapakah mereka? Senior kamu juga dulu!). Kamu membawa dolar, mengharumkan nama Indonesia sehingga tak hanya dikenal karena pemerintahnya yang aneh. Sekali lagi, siapa yang lebih nasionalis, lebih berjasa buat bangsa Indonesia?

    Jadilah kritis! Skeptislah dengan omongan senior-seniormu, apalagi dengan paradigma kolot. Nanti, di masa depan, kamu yang gantian menyalahkan dia: hoi pemerintah, kerja yang bener! Makan duit pajak gw aja lu!

    Bangun kesadaran kritis: lihatlah, jadi siapa yang menyengsarakan Indonesia? Pemerintah, yang isinya senior-senior kamu dulu!

    Ingat, pikiran ini harus disebarkan. Ada omongan senior kamu yang benar: bahwa kampus adalah tempat kampanye beragam pemikiran. Sudah bosan kan kamu, dengan fundamentalis agama yang macem-macem, dari mulai yang apolitis sampai yang kerjanya demo nuntut khilafah? Dengan mahasiswa sosialis dari sosialis yang ‘pasar-sosial’ (istilah apa pula ini?) sampai yang kiri-utopis? Tapi masalah tak juga selesai? Bayangkan kalau mereka mewariskan pikiran-pikiran lamanya yang tak menyelesaikan masalah ke teman-teman dan adik-adik kamu! Mau jadi apa negara ini? Kamu harus bisa membuat kutub baru, para mahasiswa fundamentalis pasar. Ya, ini buat kebaikan kamu juga, tapi seperti yang telah kamu baca di atas, akhirnya bangsa dan rakyat juga untung kan? Kamu untung, bangsa untung. Pertamina aja kalah.

    Sebarkan! Buat mentoring. Kuasai lembaga kemahasiswaan yang dulu jadi sarang senior kamu yang tidak progresif itu, karena strategis sekali untuk kampanye pikiranmu. Koalisi dengan rektorat, yang tampaknya lebih progresif meskipun lebih tua (siapa bilang yang muda yang progresif?) dan bisa mendukung pikiranmu. Ih egois banget! Ini buat kamu doang? Katakan dengan keras: YA! Tapi secara makro, semua nanti juga akan untung. Minimal, lebih baik daripada usulan solusi mereka, yang dari jaman mulai pergerakan mahasiswa dulu tak menyelesaikan masalah.

    Salam hebat! Biarkan uang yang bekerja untuk anda!

    ;p

  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, Kepemimpinan, Kuliah, Opini, Refleksi
  • Ketika Boyband Masih Berjaya

    Saya gak tahu kapan pertama kali boyband ada. Boyband modern, seingat saya, sangat ngehit sekitar tahun 90-an awal. Waktu itu, saya ingat kakak perempuan saya ngefans banget dengan Jonathan Knight, saudara dari Jordan Knight. Keduanya personil dari New Kids On The Block, belakangan sering disingkat NKOTB. Personil lainnya ialah Joe Mcintyre, Donny Wahlberg, dan Danny something (sorry ga inget). Hitsnya terutama lagu-lagu mellow atau yang ngedance. Dulu, di TPI jam setengah delapan sampe ada kartunnya, yang isinya nothing kecuali cerita bahwa personil NKOTB ini dikejer-kejer ama cewek-cewek.

    Sekarang nggak kedengeran lagi kabar mereka. Mark, adik Donny Wahlberg, malah lebih eksis sebagai bintang film. Joe sempat bikin solo. Yang lain udah pada jadi bapak-bapak kali.

    Waktu saya SMP, saya juga inget saya sampe bela-belain beli kaset (waktu itu masih zamannya kaset...) Backstreet Boys. Saya nggak ngefans-ngefans banget sih, tapi lagunya emang ringan dan earcatching koq (aduh malu ngakunya...he33x). Saya juga sempat beli Boyzone, yang ada lagu Words-nya itu lho...

    Ih, banci lo! Biarin! Namanya juga masih muda, banyak membuat kesalahan = p. Dan saya juga gak ngerasa less masculin dengan dengerin boyband. Lagian perasaan saat itu semua temen saya juga suka. Teman SMP saya yang kemudian berjumpa lagi di TI malah lebih ngefans. Dia sempet punya kaset Code Red (ada yang inget boyband ini?), dan satu boyband lagi yang saya lupa namanya, yang video klipnya itu settingnya perang vietnam (yeah right, boyband di perang Vietnam! Green Day aja kalah!), dan salah satu personilnya naksir gadis lokal sana yang seinget saya cakep banget = p. Saya gak punya, dan saya pinjem ke dia...he33x, segitunya yak?

    Awal 2000-an era boyband akhirnya surut (biarpun sekarang ada aja segerombolan pemuda yang ketinggalan jaman dan belagak boyband...hareeeee gineeeeee???). Kata yang sinis, boyband sekarang diganti ama pemuda-pemuda ’manis’ yang nyanyiin lagu sweet pop atau punk pop. Beberapa personil boyband di akhir masa jayanya bernasib mengenaskan. Selain gendut, jenggotan (tapi untungnya, gak khotbah...=p ), ada yang kecanduan alkohol, mengaku dirinya gay, dan serta merta menghancurkan ribuan pemuja wanitanya (dan sayangnya juga, segmen pendengar lain, para gay, tidak berubah jadi ngefans ama nih personil boyband. Poor him...). Ada juga yang akhirnya ngaku poligami! Hah? Oh sorry, yang itu bukan personil boyband ya? = p.

    Mode narsis: ON

    Tetapi di TI 2002, sisa kejayaan boyband itu masih ada. Ini contoh aksinya. (siap-siap kantong buat muntah).

    Ini boyband pertama yang terpotret. Dipilih lewat kontes yang mirip boyband idol, atau apalahitunamanya. Ini salah satu personilnya sedang dengan tak tahu malu berkicau. Maksudnya, sedang show.

    Boyband yang berisi trio itu sangat tidak nyaman. Bayangkan, atensi fans-fans mereka hanya terbagi untuk tiga orang! Wow. Terus terang, mereka rasa itu sangat berat. Akhirnya mereka bubar.

    Tetapi personil yang satu itu memutuskan bergabung dengan boyband lain, sehingga ada lima personil. Secara ekonomis, itu pilihan cerdas. Beban tampil terbagi lima, pangsa pasar yang diambil makin banyak (karena personilnya makin banyak dan beragam), dan terutama, atensi dan kegilaan para fans pun terbagi lima juga. Ini fotonya, dengan pose standar boyband.

    Zaman berubah, era boyband surut. Begitu juga boyband di TI 2002. Para personilnya menempuh jalan masing-masing, dan semua mengaku kapok berada lagi di dunia showbiz.

    Mode narsis: OFF

    Sebenernya kemaren ada buka bareng a la seleb (dicoret soalnya ntar yang bikin pundung = p) TI 2002 yang penuh hikmah dan kenangan, terus diliatin juga foto-foto kenangan jaman dulu.

    Dan harus saya akui, foto-foto diatas adalah yang terbaik (mode narsis: gagal di-OFF! = p).

    Mode narsis: really OFF

    Aduh, saya rindu banget masa-masa itu...

    NB: this blog is getting personal again!

    NB lagi: sebenernya sih ngisi kekosongan postingan aja sih (gile, bulan ini tanpa postingan berarti!)…hehehe, ketauan deh motifnya. Tulisan yang benernya ntar deh (kalo ada dan kalo niat).

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri, daily, kehidupan, me
  • Peneliti Perempuan Muda

    Catatan dari wisuda ITB 3 Maret 2007

    Sekitar 4,67 tahun masa kuliah saya akhirnya secara resmi diakhiri pada Sabtu, 3 Maret 2007 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) . Selama kuliah di ITB, saya selalu diajarkan untuk menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya diajarkan untuk menulis kalimat-kalimat yang baik, tidak ambigu, singkat, dan tepat.Sewaktu Tahap Persiapan Bersama (TPB, tingkat satu), ada mata kuliah khusus yang menekankan tentang ini. Dulu namanya Bahasa Indonesia, sekarang namanya lebih seram lagi dalam menekankan pentingnya menulis dengan baik ini: Tata Tulis Karya Ilmiah. Saya hanya mendapat B, maka maklumi saja kalau Bahasa Indonesia saya tak terlalu baik, apalagi jika menulis.

    Tapi coba baca kalimat ini:

    Dr. Fenny, sebagai salah seorang wakil dari Asia pasifik, merupakan perempuan kedua dari Indonesia yang mendapat beasiswa serupa yang biasanya setiap tahun diberikan kepada 15 peneliti perempuan muda dari lima benua.

    Aan, teman sebelah saya ketika di Sabuga, dengan teliti segera menyadari lucunya kalimat tersebut. Peneliti perempuan muda?

    Kalimat itu saya kutip apa adanya dari Sambutan Rektor ITB pada Wisuda Lulusan ITB. Saat itu, Pak Djoko sedang bicara tentang prestasi warga ITB. FYI, Pak Djoko ini Profesor, yang terbitan karya ilmiahnya tentu lumayan banyak.

    Namun, kalau kalimatnya seperti itu sih, saya rasa itu bukan prestasi. Peneliti perempuan muda? Teman-teman pria saya yang heteroseksual pun bisa…Bahkan akan dengan senang hati meneliti perempuan muda. Topik penelitiannya pun bisa kami pertajam: meneliti perempuan muda yang menarik. Untuk lebih memperumit dan memberikan kontribusi lebih secara akademis, saya mengusulkan meneliti perempuan muda yang menarik untuk dijadikan pasangan hidup. Jadilah saya peneliti perempuan muda yang menarik untuk dijadikan pasangan hidup. Hebat!

    Lumayan, akhirnya ada yang lucu di wisuda ITB.

    Hal unik lain sewaktu wisuda di Sabuga: wisudawan HMM yang dengan tegar meneriakkan yell boys sewaktu resmi diwisuda (yang paling bertanggungjawab tentu saja orang ini), Aming Supriyatna (SR ’00), bintang Extravaganza itu, yang akhirnya lulus dan disambut meriah hadirin, serta fotografer gadungan yang menipu saya dan keluarga. Semoga diberi jalan yang benar oleh-Nya.

    Setelah itu, menunggu foto bersama, keluar dan disambut meriah anak-anak MTI, kabur dari perang air (sorry, tapi saya harus mengantar teman saya ke terminal…), makan malam bersama keluarga, acara malam wisuda MTI yang meriah, bertemu alumni tua dan menghabiskan malam di Dwi Lingga hingga jam 2.

    What a day!

    Alhamdulillah.
    Selamat buat semua wisudawan, semoga dapat menjadi alumni yang berguna.
    Mohon doa agar bisa istiqamah.

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Refleksi
  • TEKNIK INDUSTRI ITB ANGKATAN 2002 (yang tidak datang telat sewaktu difoto)
    Para pria berdiri di belakang (ki-ka): Godong, Chris, Hendry, Adit, Suntar, Fajar, Bonar, Iboy, Raja, Ismail, Komang, Krishna, Adit Solo, Aan
    Para wanita di tengah: Astri, Rina, Intan, Adita, Vetri, Dini, Elva, Mariena, Anggia, Ratna, Nadia, Aliva, Tarcil, Julie
    Duduk di depan: Saya, Roja, Trian, Ical, Bon2, Yuyut, Viar, Beben, Ubrit, Olga, Echa, Tarde, Diko, Dilla, Anis, Dissy.
    Foto bagus ini diambil di depan gedung Labtek III TI oleh temennya Ubrit (sorry, lupa namanya...)


    Suka nonton LOST? Kisah tentang penerbangan Oceanic 815 yang jatuh terdampar di pulau antah berantah yang penuh misteri. Ada beragam karakter yang menarik disana, dan interaksi antar karakter, respon mereka terhadap beragam peristiwa, melahirkan banyak episode yang sangat bagus, terkadang inspiratif.

    Saya selalu merasa keberadaan kami di ITB ini, pada suatu tahun yang akhirnya dinisbatkan kepada kami (Angkatan 2002 TI-ITB), somehow analog dengan kisah di serial favorit saya itu. Seperti penumpang Oceanic 815, kami tidak saling mengenal (OK, beberapa memang telah saling mengenal) sebelum jatuh terdampar di rimba TI-ITB. Seperti juga mereka, kami masing-masing punya beragam latar belakang dan motif sehingga terdampar di TI ini. Tapi tiba-tiba, atas kuasa-Nya, begitu saja kami dipertemukan dan bahkan diharuskan utnuk mau tidak mau bersama untuk survive, seperti juga Jack dan kawan-kawannya yang mau tidak mau harus bersama dan bekerja sama untuk tetap survive di pulau antah berantah tersebut. Sudah nasibnya…

    Kami tidak dipimpin oleh orang seperti JAck yang dokter, macho, atletis dan sangat kompeten, tapi kami juga tak pernah mengeluh dipimpin oleh JAlu yang chubby dan sangat berwibawa (yah…minimal awalan “JA” dari Jalu dan Jack sama lah…). Tidak ada Kate yang kuat dan kekar, tapi ada banyak wanita diantara kami yang juga tak kalah kuat dan sangat membantu keseluruhan kami. Di awal-awal masa terdamparnya kami di ITB, to some extent, panitia dan orang-orang yang terlibat di PPAB MTI mungkin berperan seperti the Others dalam serial tersebut. Beberapa ada yang tetap tak bersepakat dengan ‘the Others’ itu, tapi banyak juga yang sepakat, dan itu tak mengubah apapun saya rasa.

    Nah, seperti yang saya katakan di awal, mau tidak mau kami harus bersama untuk survive. Maka dimulailah proses saling kenal mengenal. Ini juga bukan proses yang mudah, mengingat begitu beragamnya kami. Ada banyak tugas kuliah untuk dikerjakan, proses-proses ospek yang melelahkan, serta kegiatan-kegiatan bersama untuk dijalani. Ada banyak kemarahan, gerundelan, gumaman, ketidakpuasan, protes, tangisan, kebahagiaan, keharuan, gosip, bahan tertawaan, pertengkaran (?)…Ada satu cinta yang sudah dikonkretkan (selamat buat Bunga & Tony! Di foto tidak ada karena mereka berdua sedang sibuk menyiapkan pernikahan). Keseluruhan yang pernah dijalani tersebut akhirnya melahirkan semacam rasa saling pengertian, rasa maklum…semacam ungkapan, “iya lah, dia kan orangnya kayak gitu…”, tapi tanpa rasa sinis atau benci. Hanya rasa maklum, mengerti, dan insya ALLAH tetap saling membantu. Yah, mau gimana lagi? Mau nggak mau kita tetap harus survive dan bisa lolos dari jeratan pulau maut ini.

    Sudah hampir 4,67 tahun kami bersama (kalau di LOST udah season 4), dan sebagian dari kami telah lebih dahulu lolos dengan selamat dari pulau ini. Selebihnya lagi akan menyusul nanti. Kami memasuki episode-episode akhir dalam serial ini.

    Tapi kenangan, jejak yang ditinggalkan (minimal buat saya), selalu ada dan terbawa kemanapun.

    I LOVE YOU ALL!!

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri, kehidupan
  • Devil in the Detail

    : untuk Pak Abdul Hakim Halim

    Apa pelajaran yang bisa diambil setelah mengerjakan TA selama sekitar 5-6 bulanan? Mmm, bukan 5-6 bulan sih kalau waktu efektifnya…Agustus hingga Desember masih sangat santai, baru Januari akhir agak-agak sibuk. Sejak Desember juga sebenarnya pengolahan data saya sudah 90% beres, tinggal dipresentasikan ke dosen pembimbing. Nah, setelah dipresentasikan dan OK, barulah saya disuruh menulis.

    Ternyata menulis untuk TA itu susah! Beda dengan menulis di blog…=P. Setelah pertengahan Januari itu, saya kira akan bisa cepat sidang. Nyatanya tidak, malahan saya harus bolak-balik hampir tiap hari dengan beragam revisi.

    Setan ada dalam rincian. Ia bersembunyi, menunggu dengan sabar, lalu akan menyelinap cepat dan menjerumuskan. Nah, selama sekitar 2 minggu terakhir sebelum deadline itulah saya (terpaksa) melihat dalam ruang-ruang kecil dalam tulisan dan membunuhi setan-setannya…

    Saya bersyukur dibimbing dengan dosen yang sangat memperhatikan detail. Awalnya bikin frustasi sih, tapi di titik kejenuhan, tuntutan itu memaksa saya untuk mengubah paradigma saya dalam mengerjakan TA. Sebelumnya, untuk TA ini, buat saya adalah “kerjakan, yang penting cepat selesai”. Ini juga berlaku untuk tugas-tugas kuliah lain sebelumnya. Kerjakan, selesaikan. Saya tidak terlalu mencintai apa yang saya kerjakan, tapi tetap saya kerjakan, asal selesai. Tak pernah ada perhatian untuk hal-hal kecil. Makanya saya juga sering nggak sabaran kalau sekelompok dengan mahasiswi yang lebih sering mendetail dalam menyelesaikan tugas. Hasil dari paradigma itu memang sesuai dengan yang saya inginkan: selesai. Tapi sering ada banyak kesalahan, yang kalau saya beruntung tidak ketahuan sehingga bisa tetap dapat A, tapi jika sedang sial ya ketahuan dan dibantai saat presentasi. Rasanya sih, sepanjang kuliah saya menjalaninya seperti itu…

    Nah, di puncak frustasi itu saya dipaksa, mau tak mau, mengubah cara berpikir saya tentang mengerjakan TA ini. Detail! Maka saya lihat lagi seluruh pengolahan data, dan kesalahan-kesalahan yang ada. Saya baca lagi seluruh tulisan, membenarkan semua kesalahan ketik, mengganti beberapa kata yang kurang pas, mengubah struktur kalimat yang sebelumnya secara akademis kurang logis atau malah ambigu, memberi nama tabel dan gambar dengan benar, dan lain-lain. Pekerjaannya berat, capek, dan stress, tapi enjoy dan setelah di-approve untuk sidang rasanya sangat puas…

    Waktu sidang juga alhamdulillah nggak grogi dan malah bisa sedikit menikmati. Pertanyaan-pertanyaan penting yang diajukan sudah pernah terpikirkan dan dibahas bareng dengan dosen pembimbing saya. Termasuk juga bagian yang membuat saya bingung, karena waktu sebelumnya dibahas pun saya dan beliau (dosen pembimbing saya itu) juga bingung…hehehe. Akhirnya memang beliau merasa bertanggungjawab dan menjelaskan, alhamdulillah…Hasilnya juga lumayan baik, untuk tulisan dapet A, seminar dapet A, sehingga apa boleh buat (ini kalimat ang dipakai dosen pembimbing saya) TI-40Z1 Tugas Akhir dapet A…

    TA selesai, sidang sudah. Lalu apa?
    Waktunya tambah bersyukur, sit back, relax, and THINK. Banyak sekali yang harus dipikirkan dan dikerjakan nanti.

    Mohon doanya.

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Refleksi, Teknik Industri, kehidupan
  • Tentang TA saya

    Kalau tidak ada aral melintang (dan dosen menghadang, hehehe…) insya Allah Selasa 6 Februari nanti saya akan sidang sarjana. Doakan ya, teman-teman…Dalam rangka itu, saya mau cerita sedikit tentang Tugas Akhir saya. Makasih buat temen-temen yag udah ngedukung dan ngebantu. Buat Jocky yang menguji data, juga Mona untuk uji data dan lampiran. Makasih!

    Nah, sekarang saya mau rada mirip mahasiswa TI dikit. Saya mau cerita tentang TA saya. Judulnya “Perancangan Sistem Produksi Just-In-Time: Studi kasus di lini produksi disc brake PT. Tri Dharma Wisesa”. Yang saya buat itu mulai dari alokasi MPS ke stasiun kerja, rancangan aliran material dan informasi dengan kanban, jumlah kanban di lini produksi dan kanban supplier, sampai dengan penjadwalan produksi dengan mixed scheduling. Terus saya buat algoritma perencanaan sistem produksi Just in time, sama algoritma distribusi beban kerja pada 3 stasiun kerja paralel dengan kemampuan proses dan cycle time bervariasi.

    Anak-anak TI yang baik mulai dari tingkat 2 juga pasti udah sangat familiar ama istilah-istilah itu. Saya juga, hanya saya emang baru familiar dengan istilah-istilah itu pas ngerjain TA…hehehehe. Agak telat sih, tapi bukankah “better late than never”?

    Just-In-Time itu sering disangka sama dengan Toyota Production System. Nama populernya kali ya? Tapi sebenernya nggak. TPS itu sistem manufaktur terpadu, dengan Just-In-Time sebagai salah satu pilarnya. Pilar lainnya adalah “jidoka”, alias autonomation (bukan otomation!). Di house of TPS juga ada 5 S (Seiri, seiton, dll), andon (visual display), heijunka (mixed scheduling, atau levelling), TQM, dan lain-lain.

    Untuk introduksi populer dan baik tentang ini, silakan baca toyota way. Bagus tuh.

    TPS sebenernya adalah respon Jepang dikarenakan keterbatasan-keterbatasannya. Jadi, dulu tahun 1930, generasi ketiga Toyoda (Kiichiro) berangkat ke Amerika untuk melihat mass production-nya Ford. Kalau kamu suka maen Civilization, pasti kenal dengan mass production.Mass production, bersamaan dengan management science, adalah penanda abad industri yang telah berubah. Dengan mass production, conveyance system, terus scientific management-nya Frederick Taylor, seluruh keberjalanan industri berubah. Produk-produk dapat diproduksi dengan jumlah ekstensif, jauh lebih murah, dan relatif lebih cepat. Frederick Taylor sering diklaim sebagai bapak pendiri TI, meskipun ia juga sering disebut bapaknya ilmu manajemen modern. Entah, sebenernya dia bapak siapa…

    Waktu Toyoda berangkat ke Amerika, dia benar-benar terpesona dengan produksi Ford. Conveyance system-nya diterapkan di Jepang, meskipun dengan banyak keterbatasan. Itu terjadi sekitar tahun 1930-an. Terus, seperti kita tahu, Jepang hancur lebur gara-gara di bom. Juga perusahaan-perusahaannya, termasuk Toyota. Tahun 1950, Toyoda (kali ini Eiji, generasi keempat) ke Amerika lagi berkunjung ke pabrik Ford. Eh, dia kaget, kok tahun 1930 ama tahun 1950 sama aja? Tapi tetep masih lebih baik dibanding Toyota sih…Makanya dia menugaskan plant manager-nya, Taichi Ohno, untuk membuat sistem produksi yang bisa menyaingi, atau bahkan mengalahkan Ford.

    Jreng, jreng…maka berangkatlah Ohno, yang pertama kali mengkonsepkan TPS sebagai sebuah sistem lengkap, ke Amerika. Ia melihat pabrik Ford, masih terpesona, tapi menemukan hal-hal yang tak dapat diterapkan di Jepang. Sistem Ford itu terlalu massal, butuh banyak tempat untuk menyimpan persediaan bahan mentah dan barang jadinya. Padahal, tanah di Jepang mahal, dan terbatas. Dengan tingkat produksi sekaligus banyak seperti Ford juga, Ohno tahu bahwa pasar Jepang tak akan mampu menyerapnya. Jadi gimana nih? Bos minta Ohno bikin sistem buat nyaingin Ford, sementara sistemnya sendiri tidak implementable di Jepang.

    Tapi maklumlah, Ohno itu sarjana Teknik Industri yang konon cerdas-cerdas (hehehe…). Suatu saat dia ke supermarket Amerika dan lagi-lagi terpesona dengan begitu efisiennya supermarket disana. Barang-barang hanya dipajang sesuai dengan yang mampu dibeli konsumen, lalu bila kosong, baru diisi lagi. Kenapa gak menerapkan ini di pabrik manufaktur?

    Sistem Ford sekarang biasa disebut Push System. Kita merencanakan, terus memulai dari paling belakang sesuai perencanaan, dan didorong terus ke depan. Jadi, akan tersedia banyak persediaan barang pada sistem ini. Sementara Ohno merevolusi sistem ini. Seharusnya, proses setelah suatu proses tertentu itu dianggap sebagai pelanggan, yang menarik produk kita. Jadi, buatlah produk sesuai dengan rate ‘tarikan’ atau kebutuhan pelanggan. Kalo ga ada, ya ga usah. Ngapain ngebuat banyak persediaan?

    Karenanya disebut: Just-In-Time. Tepat pada waktunya. Kira-kira sama lah dengan waktu gw menyelesaikan TA ini, just-in-time alias in the deadline…hehehe.

    Tapi TPS bukan hanya Just- In-Time aja. Juga bukan temuan Ohno aja. Tapi banyak teknik lain untuk mencapai operational excellency itu. Ada 5S, atau 5R dalam bahasa Indonesia. Ada andon, heijunka, TQM atau built-in-quality, dll. Silakan melakukan pencarian Wikipedia dengan keyword Toyota Production System untuk lebih jelasnya…

    Dengan TPS, Toyota sekarang menjadi produsen mobil no 1 di dunia. Perusahaan dengan tingkat profit yang paling besar dibanding perusahaan manufaktur mobil lain. Yang menarik lagi, Toyota tidak pelit mengajarkan TPS ini ke mitra-mitra suppliernya atau ke dunia. Kenapa? Karena memang toyota berkepentingan untuk mengajarkan TPS ini, terutama ke supplier. Just-in-time, dengan sistem kanban-nya, mengisyaratkan pengertian dan kesediaan supplier untuk juga menerapkan kanban, supaya aliran material lebih lancar. Makanya Toyota juga gak ngerasa perlu pelit membagi ilmu. Ini juga perbedaan gaya manajemen Jepang dan Amerika. Manajemen Jepang lebih ‘asia’, lebih komunal, lebih menekankan tim dan kerja sama.

    Balik lagi ke TA saya…aduh, apa ya? Saya lebih seneng baca sejarah dan kisah-kisahnya sih…pokoknya begitu deh, saya merancang sistem produksi JIT di pabrik yang sebelumnya make push system, mulai dari distribusi MPS sampai penjadwalan, dengan kanban yang digunakan di bagian produksi juga di supplier. Yang lain-lainnya teknis dan tidak terlalu menyenangkan ;-p.

    Begitulah.
    *akhirnya memang sedikit sekali menyentuh tentang TA-nya…*

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri