Sebuah aggregator blog..
27 Apr
Siang itu saya terlibat percakapan (pseudo)intelektual dengan Igun. Kalau dulu-dulu sih sering juga terlibat jenis percakapan sok intelek ini dengan Igun, Viar atau Miftah, di momen-momen pengangguran saat kerjanya nonton bioskop, download film atau TV serial, dan ikutan nongkrong gak penting di ruang server sambil menikmati nescafe cappucino 3500 perak dari Circle K.
Namun tetap saja pseudointelektual, karena sok ilmiah tapi tetap asbun...hehehe.
14 Dec
Waktu zaman saya mahasiswa dulu , selalu saja ada teman-teman yang bersemangat dan bertanya-tanya ‘quo vadis mahasiswa sekarang’, ‘gimana nih kemahasiswaan’, dan lain-lain. Karena banyak juga yang heboh nanya-nanya dan membahas, dan saya hanyalah mahasiswa yang ngikut tren, jadilah pula saya memikirkan.
Saya baca sejarah. Rasakan semangat zaman di tiap eranya. Dengerin doktrin omongan senior-senior, yang bener maupun keblinger. Zaman dulu kayak apa sih? Sekarang zamannya apa ya? Kecenderungan ke depan gimana? Apa hubungannya ama mahasiswa? Jadi, seharusnya mahasiswa gimana?
Kesimpulan saya dulu sederhana: khilafah conscientizao atau consciencetization. Ada yang menerjemahkan konsaintisasi (aneh banget!). Kemarin di Kompas ada yang menggunakan kata ini dan diterjemahkan sederhana: kesadaran kritis. Yang lain-lain itu cuma pernak-pernik, dan dilakukan dalam rangka mengkampanyekan kesadaran kritis ini. Bukan membangun institusi, melakukan pergerakan bersama, apalagi melawan tirani. Emang, buat apa membangun institusi kalau arahnya juga tidak jelas? Ngapain ngotot mau gerak bareng di tengah era fundamentalisme hedonisme (istilah yang aneh...)? Tirani mana yang mau dilawan?
Conscientizao adalah tujuan pendidikan Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed. Buku yang konon jadi buku wajib mahasiswa ITB. Makanya saya cari mati-matian (susah bo nyarinya! Udah ga terbit lagi tuh buku...), akhirnya nemu di Palasari, dan saya baca *bahan untuk ngantuk menjelang tidur*.
Kesadaran kritis itu, intinya, adalah kondisi pikiran dalam mempersepsi lingkungan sekitar (dalam pengertian luas, semua hal lain yang kita hadapi) dengan melihat aspek sistem dan struktur. Bisa aware dan menganalisis secara kritis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya (termasuk pelakunya), dan jika ada (pasti ada sih...),mengidentifikasi dan menyadari ketidakadilan dalam masyarakat dan bagaimana mentransformasikannya. Misalnya kasus kemiskinan. Seharusnya kita sadar kemiskinan bukanlah masalah takdir dan kemestian (ada yang kaya, ya ada juga yang miskin...). Kalau ini sih kesadaran magis, kata Freire. Kemiskinan juga bukan karena kebodohan, kesalahan, kekurangrajinan orang-orang miskinnya sendiri (blaming the victim; kata Freire ini orang dengan kesadaran naif). Tetapi, kemiskinan harus dilihat: jangan-jangan yang terjadi adalah pemiskinan? Karena ada pembatasan akses kepada kesejahteraan, misalnya dengan sekolah yang mahal atau diprivatisasi. Atau malah ada perampokan oleh korporat yang ’berdiplomasi’ dengan pemerintah, sementara rakyat kebanyakan dibiarkan tetap miskin. Atau karena korupsi. Jadi, setiap masalah dianalisis dengan kaidah-kaidah saintifik (makanya ada kata ’science’ dalam conscientization), lalu dilihat: oh, ternyata ini yang menyebabkannya...
Sebenarnya conscientizao itu target minimal, soalnya yang lain tak kelihatan feasible untuk dilakukan saat itu. Pikiran sederhana saya waktu itu, karena kita kan pasti ga jadi mahasiswa lagi (entah lulus atau DO), minimal kesadaran kritis ini terbawa lah setelah keluar. Jadi, misalnya dia ntar kerja di KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), minimal dia tau dan sadar bahwa operasinya nanti diganti lewat cost recovery (atau mungkin gaji dan fasilitasnya? Overhead kantor juga cost recovery kan?), jadi dia kerja dengan bertanggungjawab dan seefisien mungkin, karena ntar-ntar juga diganti ama duit negara pajak rakyat. Yang jadi bos-bos di perusahaan minyak negara nanti, misalnya, bisa nurut kalau pemerintah sekarang katanya mau mengefisienkan BUMN, termasuk lewat pengurangan fasilitas pegawai. Konsekuensi yang bergerak di pemerintahan atau sektor amal sosial mah udah jelas lah ya...
Namun ternyata itu juga susah, bahkan gagal. Sampai saya lulus, ga jelas dan ga berhasil juga...Masih ga cocok dengan zamannya, mungkin?
Ini ada sebuah ide. Saya jamin cocok dengan zamannya.
Belajar yang rajin, lulus cepat, dan jadilah makhluk kaya sekaya-kayanya. Kalau ada tawaran aktivitas, timbanglah: apa manfaatnya buat saya? Apa bisa mempercantik CV saya sehingga bisa dijual ntar, apakah akan menambah jaringan saya ke politisi-cum-pemilik dana ga jelas untuk diserahkan pada proposal bisnis yang nanti saya bawa? Apa bisa mengajari skill dan keahlian sehingga saya bisa jadi engineer yang ekstra spesialis yang dibayar sejam 4000 dolar? Apa ada relasinya yang bisa jadi klien saya ntar? Kalau tidak ada manfaatnya, tolak saja! (manfaat tak harus moneter, tanya juga: apa ada yang potensial untuk menjadi pacar kamu?). Hal-hal ga jelas itu hanya akan memperlama waktu kamu di kampus! Dan kalau omongan senior-seniormu itu benar, bahwa kuliah di ITB itu dibayar PAJAK RAKYAT, maka mendingan lulus cepat bukan? Biar rakyat ga lama ngebayarin kamu. Jangan dengerin senior kamu, apalagi yang lulus 7 tahun: dia sendiri paling lama menikmati pajak rakyat. Mendingan kamu, tho? Cuma dibayarin rakyat 3,5 tahun.
Sekali lagi, jangan pernah dengerin senior-senior dengan paradigma mahasiswa lama yang kolot dan tidak progresif. Ini era fundamentalisme pasar, bung! Homo paling oeconomicus lah yang akan menang. Jadilah mahasiswa dengan paradigma masa kini, market-paradigm!
Jangan pernah mau diospek ga jelas, apalagi kalau dibilangin kalian harus berjiwa sosial, peduli sesama, dan lain-lain. Mana ada altruisme yang menyelesaikan masalah? Pasar lah yang akan mengatur dan menyelesaikan masalah, bukan kebaikan para filantrop. Berapa yang telah disumbangkan Bill dan Melinda Gates, Warren Buffet, atau orang-orang dermawan lain? Berapa jumlah penduduk yang masih miskin?
Lebih banyak yang bisa kamu lakukan kepada rakyat dengan menjadi kaya sekaya-kayanya. Buatlah korporasi besar, berapa juta jiwa yang akan kamu gaji? Dari berapa juta jiwa itu, berapa jumlah keluarganya? Belum lagi yang kena multiplier effect. Banyak sekali kan? Efeknya lebih besar daripada sumbangan 100 juta dolar sekalipun.
Lho, tapi kan nanti ada ketimpangan? Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin? Bukan salah kamu! Itu pemerintah yang gak bener. Yang gak bikin institusi dan regulasi yang baik untuk rakyat. Kamu bayar pajak, kamu taat hukum, bahkan kamu menggaji banyak karyawan. Peraturan keblinger tentang Coporate Social Responsibility juga kamu ikutin. Salah siapa? Jelas bukan kamu. Ini salah pemerintah.
Dan siapa sih pemerintah itu? Senior-senior kamu juga, dengan paradigma lama yang tidak progresif dan ketinggalan zaman dulu itu. Senior-senior kamu dulu yang menceramahi kamu untuk berjiwa sosial, yang karena gak ada kerjaan masuk partai atau LSM, lalu kebelet untuk berkuasa dan sekarang di pemerintah. Nah, keliatan kan? Mereka malah gak bener kerjanya, dan jadi pihak yang paling berpengaruh memiskinkan rakyat. Jelas, mendingan kamu, wahai mahasiswa rajin-lulus cepat-lalu kaya dahsyat.
Jadilah pegawai di perusahaan terbaik di dunia, kalau bisa ya jadi ekspatriat di negeri orang dengan gaji dollar. Lagi-lagi kamu berjasa: kamu bawa dolar dari luar negeri dan menjadi pahlawan devisa yang lebih banyak membawa duit daripada para pahlawan devisa tapi selalu disiksa pemerintah dan aparatnya itu (ingat, siapakah mereka? Senior kamu juga dulu!). Kamu membawa dolar, mengharumkan nama Indonesia sehingga tak hanya dikenal karena pemerintahnya yang aneh. Sekali lagi, siapa yang lebih nasionalis, lebih berjasa buat bangsa Indonesia?
Jadilah kritis! Skeptislah dengan omongan senior-seniormu, apalagi dengan paradigma kolot. Nanti, di masa depan, kamu yang gantian menyalahkan dia: hoi pemerintah, kerja yang bener! Makan duit pajak gw aja lu!
Bangun kesadaran kritis: lihatlah, jadi siapa yang menyengsarakan Indonesia? Pemerintah, yang isinya senior-senior kamu dulu!
Ingat, pikiran ini harus disebarkan. Ada omongan senior kamu yang benar: bahwa kampus adalah tempat kampanye beragam pemikiran. Sudah bosan kan kamu, dengan fundamentalis agama yang macem-macem, dari mulai yang apolitis sampai yang kerjanya demo nuntut khilafah? Dengan mahasiswa sosialis dari sosialis yang ‘pasar-sosial’ (istilah apa pula ini?) sampai yang kiri-utopis? Tapi masalah tak juga selesai? Bayangkan kalau mereka mewariskan pikiran-pikiran lamanya yang tak menyelesaikan masalah ke teman-teman dan adik-adik kamu! Mau jadi apa negara ini? Kamu harus bisa membuat kutub baru, para mahasiswa fundamentalis pasar. Ya, ini buat kebaikan kamu juga, tapi seperti yang telah kamu baca di atas, akhirnya bangsa dan rakyat juga untung kan? Kamu untung, bangsa untung. Pertamina aja kalah.
Sebarkan! Buat mentoring. Kuasai lembaga kemahasiswaan yang dulu jadi sarang senior kamu yang tidak progresif itu, karena strategis sekali untuk kampanye pikiranmu. Koalisi dengan rektorat, yang tampaknya lebih progresif meskipun lebih tua (siapa bilang yang muda yang progresif?) dan bisa mendukung pikiranmu. Ih egois banget! Ini buat kamu doang? Katakan dengan keras: YA! Tapi secara makro, semua nanti juga akan untung. Minimal, lebih baik daripada usulan solusi mereka, yang dari jaman mulai pergerakan mahasiswa dulu tak menyelesaikan masalah.
Salam hebat! Biarkan uang yang bekerja untuk anda!
;p
6 Jun
Ada dua artikel Kompas yang sangat menarik hari ini (6 Juni 2007). Yang pertama membahas formasi dan sirkulasi Ruling Elite di Indonesia menurut Anies Baswedan (Gerak Zaman dan Sirkulasi Kepemimpinan), hasil diskusi terbatas Kompas (laporan pertama). Yang kedua, Soekarno dan Gerakan Mahasiswa, opini dari Baskara T Wardaya.
Menurut Anies, ada 4 periode kepemimpinan (masing-masing 60 tahun) berdasar jalur rekrutmennya sepanjang tahun 1900 hingga 2020 dan selanjutnya. Pertama, yang terekrut lewat pendidikan modern, dan ruling elite-nya ialah intelektual (berakhir 1960-an). Inilah generasi Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir (Natsir pun hasil pendidikan ‘modern’ kan?). Kedua, terekrut lewat masa perjuangan fisik (mulai 1940), dan ruling elite-nya adalah angkatan bersenjata (Berakhir sekitar 2000-an). Inilah masa Moerdani, Try Soetrisno, dan tentu saja Soeharto (kok dari Angkatan Darat semua?). Ketiga, jalur rekrutmennya adalah organisasi massa/politik, dan ruling elite-nya ialah aktivis (sekarang masih berlangsung, surut pada 2020). Inilah generasi Amien Rais (pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, kontributor aktif Mingguan Mahasiswa Indonesia bersama juga Goenawan Mohammad dan Dawam Rahardjo), Akbar Tanjung (sempat menjabat ketua PB HMI), hingga Yahya Zaini (!). Terakhir, baru dimulai sejak 1990, yang terekrut lewat pasar/dunia bisnis, yang baru akan memulai periode maturitasnya pada tahun 2020-an. Ruling elite-nya: Pengusaha/pelaku bisnis.
Baskara membahas tentang gerakan mahasiswa masa Soekarno dkk dan sekarang (saya pribadi berpendapat, gejalanya mulai terlihat sejak 1960-an). Masa Soekarno: kuliahnya tekun dan selesai tepat pada waktunya (artinya, secara akademis cerdas! Pernah lihat bangunan hasil Bung Karno atau baca teori ekonomi Hatta? Wow!), sangat intelek (banyak membaca selain untuk keperluan studi formal), mengakar, dan berorganisasi. Masa sekarang (sejak 1960-an?), mahasiswanya relatif tak antusias dalam studi formal, cenderung sektarian, dan kurang intelek pula…
Dengan sedikit pengetahuan dari Pak Baskara (beliau juga pernah menulis artikel yang sangat bagus tentang Supersemar), dan saya tambahkan generalisasi brutal dan pengetahuan sok tahu, mari kita kenali lebih dalam per generasi. Juga, mari membuat semacam ramalan akan seperti apa generasi para business people nanti.
Masa 1900-an adalah masa saat Hindia Belanda sedikit beruntung karena politik balas budi pemerintah Belanda. Inlander bisa sekolah, yang lebih beruntung malah bisa sekolah di Belanda. Keseriusan para founding fathers kita bersekolah juga membentuk pola pikir yang akademis dan khas intelektual, yang nantinya terlihat dalam cara berprilaku politiknya. Kedekatan dengan rakyat dan semangat kemerdekaan juga memberi pengaruh. Setiap intelektual itu hampir selalu merasa self-righteous, dan ini juga kelihatan dari konflik-konflik antara Hatta-Soekarno, Soekarno-Natsir, atau Soekarno-Syahrir. Konflik yang terjadi khas intelektual: karena perbedaan pendapat apa yang dianggap benar. Bukan konflik golongan (meskipun nantinya menjadi konflik golongan, karena masing-masing punya pengikut dan para sejarawan demi kemudahan melakukan penggolongan). Seperti juga intelektual yang fair, konflik itu tidak terseret pada konflik antar personal. Hubungan antar pribadinya memang sempat menegang, tapi kemudian baik-baik saja. Kedekatan dengan rakyat dan semangat keindonesiaan juga membuat kompromi-kompromi (sikap mengalah?) terjadi, asal Indonesia bisa merdeka dulu (ingat sidang-sidang BPUPKI atau PPKI?).
Jeleknya ialah, karena masing-masing ngotot dengan apa yang dianggap benar, dan kompromi yang terjadi tidak diikuti dengan kerja sama yang apik setelahnya, bangsa Indonesia ini dibawa ke suatu arahan sangat ambisius oleh Soekarno, dengan konflik-konflik keyakinan/ideologis elitnya yang selalu terjadi.
Yang paling sebel dengan kondisi konflik seperti itu ya para pejuang fisik, mereka yang ada di barak. Dibesarkan dengan hirarki yang ketat, ketaatan pada pimpinan, suasana yang selalu ingin teratur-disiplin, dan pengetahuan sederhana: demi NKRI, ditambah adanya kesempatan yang diantaranya didorong para mahasiswa (angkatan 1965, yang kurang intelek dibanding generasi 1900-an), jadilah ruling elite-nya kaum yang bersenjata. Cirinya ialah kepemimpinan yang kuat, dan dibuat hirarkis. Ada Kodam, ada RT-RW, ada struktur rapi hingga ke pusat. Yang penting stabil untuk pembangunan ; kekuatan-kekuatan kritis dibungkam. Masa itu juga adalah masa perang dingin, yang meskipun secara teori politik luar negeri Indonesia ialah bebas-aktif, pembangunan ekonominya lebih bercorak kapitalistis daripada sosialis (lebih dekat ke blok Barat daripada Timur). Mungkin karena dibesarkan secara militer, ya tentu saja penggunaan kekerasan juga sah-sah saja. Namun, tak bisa terus menerus riak ditahan. Pada suatu waktu yang tepat, juga didorong lagi oleh para mahasiswa (yang lagi-lagi, kurang intelek), jadilah para aktivis yang mengambil peran sebagai penguasa.
Para aktivis, bersama para scholar sejati, sebenarnya menjadi warga negara istimewa kedua setelah orang-orang berpangkat. Mereka magang menjadi teknokrat di masa kejayaan Soeharto, menempati pos-pos sebagai menteri dan staf-staf ahli. Repotnya para pemimpin aktivis ini, dibesarkan dalam lingkungan yang makin sejahtera, tetapi gamang mencari penghidupan (karena kuliahnya jelek), jadinya arena politik menjadi karir (lihatlah karir Akbar Tanjung, sarjana Teknik Sipil UI yang saya ragu apakah pernah megang proyek konstruksi atau nggak setelah lulus). Jadi full-time politician, mencari penghidupan sebagai politisi. Ada juga yang serius menjalani profesi sebagai akademisi atau bidangnya dulu, dan mereka yang terakhir ini yang relatif lebih bisa dipercaya. Nurcholis Madjid, GM, atau Amien Rais misalnya. Sayangnya, mereka-mereka ini nggak terlalu marak di politik. Mereka yang magang bersama Soeharto belajar dan membentuk kultur yang pragmatis, oportunis dan korup, mungkin karena kekurangintelekannya dan tidak terlalu jelas ideologinya. Kaum kedua yang relatif lepas dari kekuasaan malas masuk ke pemerintahan, dan lebih suka berkoar-koar di luar sistem. Ketika masuk pun ternyata somehow terpengaruh dan koruptif (Mulyana Kusumah, atau kasus-kasus intelektual lain yang aktif di politik).
Sudahlah, sudahlah. Generasi ini akan surut pada 2020. Mari kita perhatikan the rising generation, generasinya para pebisnis. Bermula pada 1990: puncak kejayaan dan kesejahteraan Orba, awal maraknya revolusi teknologi informasi, dan sejak 1998, awal demokratisasi Indonesia. Ini juga masa ekonomi pasar digdaya meng-KO sistem komunis, dan masa pop kultur yang sangat massif (sebenarnya sejak 1980-an) menghajar. Zaman sekarang pemimpin kalangan business people juga punya contoh: Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, juga Surya Paloh, Fidel Muhammad, dll. Menurut Anies, “kader pemimpin masa depan adalah anak muda yang saat ini berusia 30-an dan berada di wilayah komersial. Sebagian besar memiliki latar belakang aktivis dan memiliki basis intelektual, dan masih tersembunyi dari publik serta bukan berasal dari kerajaan bisnis yang telah ada”. Sekarang, para pebisnis ini sering disebut middle class yang sangat diam, cenderung apatis. Kalangan bisnis zaman 1990-an yang akan memuncak mulai 2020-an akan berbeda dari zaman 1970-1980-an, karena masa itu kebebasan informasi yang mencerahkan tak semarak tahun 90-an.
Saya mencoba menduga, kenapa mereka ini memilih sektor privat? Karena kecewa, mungkin, melihat senior-seniornya di kampus dulu yang sekarang menjabat. Tapi mengingat zaman yang makin materialistis, saya menduga alasannya lebih duniawi: pengen kaya. Dan alhamdulillah, secara halal. Pada satu sisi, ini akan menjadi perkembangan bagus, karena motif berpolitiknya bukan motif finansial. Pada sisi yang lain akan menjadi gawat, ketika motifnya ialah untuk pengembangan bisnis atau menjaga bisnisnya. Apalagi sering disebut kapitalisme di Asia Tenggara adalah kapitalisme semu, crony capitalism. Tahun-tahun mendatang akan menjadi milik para pemodal juga masuk akal, mengingat proses-proses politik sekarang memerlukan biaya yang sangat mahal dibandingkan dulu.
Seperti juga para generasi sebelumnya yang dipengaruhi karakteristik lingkungannya (lingkungan epistemologis, istilah Yudi Latif), kira-kira sikap bagaimana yang akan ditunjukkan pemimpin dari kalangan bisnis ini?
Mungkin akan sangat well-managed, efektif, dan efisien. Get things done. Quick learner, and dare to take new challenge, with entrepreneurial spirit (loh, kok kayak strong points buat wawancara di MNC? hehehe…). Gawatnya ialah kalau terlalu probisnis, tetapi insya Allah kalau intelek dan keberpihakan ideologisnya jelas mereka akan jadi pemimpin yang sangat baik. Pemerintahan akan tampak seperti perusahaan, yang kalau dibawa ke titik ekstrem akan tidak baik.
Ini lagi pesan Anies, “jadi kira-kiranya, kalau ada anak muda tahun 1980-an berminat menjadi pemimpin dan masuk Akademi Militer (ya) salah jalur”. Seperti juga tahun 1900-an yang tak mengecap pendidikan modern, atau tahun 1940-an yang lupa masuk Akmil. Tahun sekarang? Masuklah sektor bisnis, dengan pengalaman beraktivitas, sambil tetap membaca beragam hal, membuka mata pada dunia, dan memupuk karakter.
Kita doakan para pemimpin berikutnya (dari kalangan manapun) akan membawa Indonesia ini bangkit! Aamiin.