Sebuah aggregator blog..
14 Aug
Bulan-bulan ini saya sedang giat-giatnya mencari rumah di sekitar Jakarta. Inginnya dalam tahun ini rumah tersebut sudah terealisasi. Bukan apa-apa, buat saya rumah itu penting, bahkan lebih dulu di bandingkan menikah (maunya, realisasinya tidak tahu). Lho?
Filosofinya, saya ingin mempunyai ‘sangkar’ dahulu baru kemudian mengajak pasangan tinggal di sana. Bisa menjadi kisah masuk rumah yang indah setelah menikah nanti. Itu artinya pasangan itu juga harus mau tinggal disana. Kalau tidak mau, rumah sebagai investasi bisa di alihkan nantinya. Tapi konon, orang tua lebih tenang melepas putrinya jika calon menantunya sudah punya rumah (dan pekerjaan pastinya).
Alasan logisnya, susah nyari rumah akhir-akhir ini di Jakarta. Lahan yang makin langka. Plus, harganya yang semakin ‘tidak menusiawi’, apalagi kalau ditunda-tunda hingga tahun berganti. Dan sebagai bagian dari investasi jangka panjang, rumah salah satu jawabnya.
Awal tahun ini dalam sebuah pameran properti di JCC, muncul beberapa kandidat yang ingin di tindak lanjuti. Dari sisi budget, ada yang sesuai dengan anggaran. Kekurangannya, lokasinya yang di pesisir jakarta atau di luar jakarta yang pastinya akan membutuhkan banyak waktu dalam akses kesana. Kalau saya tidak masalah, keluarga nantinya khawatir kerepotan.
Beberapa teman karena pertimbangan lokasi lebih memilih apartemen di pusat kota, dimana harganya mirip dengan rumah di luar kota. Bedanya tentu saja lingkungan sosial, dan tanah. Setidaknya ingin mempunyai rumah utuh terlebih dulu, dan jika nanti di masa depan ingin mencoba ke apartemen bisa dipertimbangkan.
Ada tawaran tanah, maka harus siap dengan usaha membangun rumah sendiri. Adakah agen atau biro yang menyediakan jasa pembangunan rumah dari awal sampai jadi? Misalnya kita sediakan lahan 10 x 15 m, lalu memilih design dan di bangunkan oleh biro tersebut.
Ada teman yang giat untuk mencari rumah second di dalam jakarta. Harganya mahal, tapi kalau memang berjodoh maka rumah idaman bisa di dapatkan.
Kalau disuruh memilih, inginnya rumah di Jakarta yang siap pakai (means second?). Rumah tersedia minimal 2 kamar tidur dan 1 kamar tidur pembantu. Lokasinya setidaknya masih masuk kota jakarta dan mudah di akses. Kalau harga, hmm… ini rahasia. Biasa, berharap fasilitas kredit perusahaan.
Saya sedang mencari rumah. Jika ada informasi, saya akan berterima kasih sekali.
17 Jul
Jumlah undangannya tidak banyak. Hanya kerabat dekat dan sahabat kedua mempelai yang hadir. Pembawa acara serta pembaca doa kerabat sendiri. Musik dimainkan oleh teman-teman pengantin. Tidak ada beragam upacara adat yang rumit yang mengiringi pernikahan itu. Pakaian serta tata rias pengantin juga biasa saja. Cuma sedikit lebih formal dibanding pada hari biasanya, namun cukup anggun untuk dipandang sebagai gambaran pernikahan.
Sekali lagi, tak tampak hal luar biasa dari acara perbnikahan itu. Tetapi, saya merasa sangat nyaman berada di sana. Ada suasana yang jarang saya peroleh dari menghadiri kebanyakan pesta pernikahan pada acara tersebut. Saya merasa, suasana pernikahan itu sangat akrab. Pembawa acara dengan sangat ringan menyapa, bahkan berseloroh, pada tamu-tamunya. Hal itu wajar karena memang ia mengenalnya persis.
Antarkawan juga bisa saling dorong untuk menyanyi, atau memainkan musik. Para tamu juga saling sapa, hingga berbincang akrab. Pengantin juga tak harus terus-menerus berdiri tegak di tempatnya dengan terus-menerus memasang senyum anggun, menunggu diberi ucapan selamat. Sesekali, mereka seperti 'menjemput bola', berjalan (kadang bersama, kadang sendiri-sendiri) mendatangi tamu, bertukar kata secara ringan.
Suasana pernikahan demikian sungguh berbeda dengan pesta pernikahan yang kini lazim. Tapi, suasana itu justru mampu mengingatkan: apa makna pesta pernikahan? Kita acap merancang pesta pernikahan seagung dan semegah mungkin. Alasan kita, itu hari yang benar-benar istimewa. Lalu, kita merancang segalanya agar sempurna. Mulai dari bentuk undangan, atribut kenang-kenangan, seragam pakaian, tempat pelaminan, makanan, hiburan, dan sejuta pernak-pernik lainya.
Begitu banyak yang harus diurus, dan begitu banyak yang ingin mengurus agar benar-benar sempurna. Hasilnya, seringkali pesta pernikahan justru menjadi ajang ketegangan keluarga. Alih-alih melahirkan suasana yang hangat, pesta pernikahan banyak yang kemudian menjadi sekadar formalitas. Pesta pernikahan kita acap bergeser fungsi dari acara bersyukur dan memohon doa menjadi ajang pamer gengsi dan atribut diri. Banyak tamu hadir dengan perasaan terpaksa. Tak enak tidak datang karena sudah diundang. Jika demikian, doa restu apa yang dapat kita harapkan?
Kesederhanaan dalam pernikahan hari itu menyeret saya pada pertanyaan yang dalam. Apa ya sulitnya berpikir dan bersikap sederhana seperti itu? Jangan-jangan kerumitan kita dalam menggelar pesta perkawinan adalah refleksi dari kerumitan cara berpikir dan bersikap secara menyeluruh. Kita lebih mementingkan atribut ketimbang makna. Kita memenangkan formalitas dibanding otentitas dan spontanitas. Kita mengedepankan gengsi ketimbang esensi. Pantas jika bangsa kita masih jauh dari efektif.
.... - by: Zaim Uchrowi
***
Sebuah pernikahan yang bersahaja. Bagaimana menurut anda?
22 Feb
30 Jan
22 Dec