Sebuah aggregator blog..
17 Aug
Saya membaca artikel kompas yang ini. Ini melahirkan pertanyaan: apa itu kesejahteraan?
Cerita ringkasnya begini. Pemkab Pati mengizinkan pembangunan pabrik semen gresik di Sukolilo. Untuk kesejahteraan warga, katanya. Namun, ada warga Sukolilo (dimotori komunitas sedulur sikep, kelanjutan gerakan saminisme) yang tak sepakat dan melawan. Kami merasa selama ini sejahtera, katanya.
Jadi apa itu kesejahteraan?
Untuk pemkab, indikator kesejahteraan adalah ketika ada investasi masuk. Investasi tentu membawa modal, memberi nilai tambah pada sumber daya yang ada, menciptakan trickle-down effect, menaikkan pendapatan daerah dari beragam pajak dan lain-lain. Lalu warga bisa memiliki lebih banyak uang, mendapat akses yang lebih baik untuk pendidikan, terjadi kenaikan kelas sosial, dan mengerek kesejahteraan warga lain. Dari sisi pemkab, tersedianya lebih banyak pendapatan juga bisa dimanfaatkan untuk fasilitas publik yang lebih baik: dibangun fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, sarana transportasi. Pada akhirnya, kesejahteraan warga & daerah meningkat.
Tentu saja ada risikonya, kata pemkab. Alam bisa rusak. Tetapi, selama Amdal dijalani, aturan ditegakkan, no problem.
Logis saja, saya kira.
Menurut penduduk sedulur sikep: ”Dari dulu warga Sedulur Sikep tidak pernah kelaparan. Kami tidak miskin. Pemerintah saja yang selalu salah tanggap, menganggap kami miskin sehingga kami dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat adat tertinggal sehingga harus diberi bantuan. Padahal, kami tidak pernah meminta bantuan,” (dari artikel yang sama).
Juga benar.
Jangan bicarakan kesejahteraan dalam konteks masyarakat atau negara. Tepri ekonomi ratusan tahun pun belum beres membahasnya. Dari sisi personal finance, misalnya, “sejahtera” berbeda dengan “kaya”. “Sejahtera” didefinisikan dengan satuan waktu, sementara “kaya” dalam satuan mata uang. Kalau nilai aset anda 2 M, dan anda punya utang 1 M, maka kekayaan anda adalah 1 M. “Kekayaan” adalah what you own. What you own is what you have minus what you owe. Tambahan lagi, kekayaan (tanpa kata yang mengikuti di belakangnya ) adalah what you own yang bisa dinilai dalam satuan mata uang.
Kesejahteraan dinilai dalam satuan waktu. Kalau anda punya 2 M, lalu biaya hidup anda setahun, dengan gaya hidup anda sekarang, adalah 20 juta, maka tingkat kesejahteraan anda adalah 100 tahun. Tentu ini perhitungan kasar yang tak melibatkan tingkat inflasi. Untuk definisi lebih detil, menurut para pakar, kesejahteraan adalah berapa lama anda bisa hidup seperti biasa tanpa bekerja dengan apa yang anda punya sekarang dan apa yang akan datang kemudian (maksudnya passive income).
Mengikuti definisi di atas, point penting dalam kesejahteraan personal ialah gaya hidup. Mereka yang berpenghasilan 30 juta sebulan tidak lebih sejahtera daripada mereka yang hanya dapat 3 juta per bulan, bila yang pertama membutuhkan 33 juta untuk hidup sebulan. Siapa yang menentukan gaya hidup anda? Ya anda sendiri. So, ujung-ujungnya menjadi sejahtera adalah seperti juga menjadi bahagia: tergantung pilihan anda. Namun bukankah ada standar? Bagaimana bisa orang yang hidup di gubug beralas tanah lebih sejahtera daripada orang di kondominium mewah? Lagi-lagi, dari segi personal, tergantung apakah anda merasa (memilih) untuk cukup berbahagia & oke-oke saja dengan kondisi itu atau tidak.
Semua yang sedang mengejar kesejahteraan sepertinya harus menjawab pertanyaan ini: “when enough is enough?”. Tidak pernah ada kata cukup, kecuali kita sendiri yang bersyukur dan bilang, “Ya, ini cukup”.
Menjadi lebih sulit ketika dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Di masyarakat, misalnya. Standar yang digunakan berbeda. Pemkab menilai penduduk Sukolilo itu miskin dan masih perlu disejahterakan. Penduduk Sukolilo bilang, kami selama ini merasa sejahtera saja. Bisa terus hidup, selama air dan sawah terjaga. Justru ketika itu terancam atau rusak, kesejahteraan kami terganggu.
Pemkab, sebagai pemerintah/penguasa, memaksakan pandangannya akan kesejahteraan kepada rakyat yang dikuasainya. Sayangnya, ide ini tak diamini oleh sebagian warganya, karena ya itu tadi, pandangan akan kesejahteraannya berbeda.
Lalu bagaimana? Entah, saya juga bingung. Kesejahteraan itu apa ya?
Jika saya pemkab…Saya tak akan memaksakan pembangunan pabrik itu, jelas. Pemerintah hanyalah wakil, membawa suara rakyatnya. Kalau rakyatnya merasa sudah sejahtera, ya sudah. Atau, pemerintah terus berkampanye hingga seluruh warga mengubah idenya tentang kesejahteraan menjadi kesejahteraan versi pemerintah. Keadaannya tentu berbeda kalau pemerintah mendapat insentif lebih dari pendirian pabrik, dalam kerangka kesejahteraan yang mereka pahami. Kalau dengan pendirian pabrik lalu ada pemasukan-pemasukan gelap, ada tambahan dana untuk beragam fasilitas pemerintah…Kita jadi lebih mengerti kenapa pemkab begitu ngotot. Untuk kesejahteraan sendiri, bukan untuk kesejahteraan daerah.
Rasanya, kita perlu mendefinisikan kesejahteraan yang tak bertalian dengan materi. Lalu dengan apa? Masih belum jelas. Dengan kebahagiaan, misalnya. Atau harmoni. Kebercukupan. Keberlanjutan.
Sayang, susah mengukurnya. Ada ide lain tentang kesejahteraan?
19 Apr
Sewaktu mahasiswa, saya pernah terlibat obrolan dengan seorang teman (saya lupa siapa. Yang saya ingat, ada beberapa kali obrolan, masing-masing dengan seorang teman yang berbeda-beda.) tentang 20-25 tahun setelah kita semua meninggalkan kampus. Saya bisa maklum: dia berada dalam doktrin agung (“Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel Bangsa!”), berada di kampus yang bercitra terang-benderang, dan dijejali trainer atau buku-buku motivasi dengan filsafat progresifisme modern ; maka inilah kalimat heroik yang dia katakan, “coba kamu liat nanti luk, 20 atau 25 tahun lagi. Saat kita semua menjadi sesuatu”.
Saat itu saya kagum. Yakin sekali dia. Hebat!
Sekarang saya khawatir. Naif sekali dia. Kasihan.
Namun pembaca yang waras akan berkesimpulan beda: dasar megalomaniak.
Saya pernah ngobrol juga (kali ini dengan Kang Firman, BI ’97) tentang topik mirip ini. Ia berbicara tentang sebuah generasi (generasinya, saya, dan anda), dan sebuah keniscayaan bahwa suatu hari, seluruh posisi dan peran di masyarakat, berpindah ke generasi ini.
Dan itu bukan sesuatu yang hebat. Ini hanya masalah giliran: generasi sebelumnya sudah atau sedang menerima, generasi kita sedang menunggu, atau sedang belajar menjadi.
Itu cukup masuk akal dan acceptable buat saya. Namun kalau itu diteruskan dengan doktrin standar “ kalian
Pikiran ini timbul lagi setelah saya membaca The Class (Erich Segal). Ide kisahnya sederhana sekaligus cemerlang. Tentang suatu angkatan Harvard ’58, ketika mereka reuni, 25 tahun dari tahun 1958.
Khas novel Erich Segal yang tebal, kisah ini pun terdiri dari beragam tokoh yang masing-masing kompleks, dengan rentang waktu yang panjang (silakan baca, misalnya, karya Segal yang lain seperti The Doctors atau Nobel Prize). Yang juga khas Segal, Harvardisme Segal kental sekali disini. Ia sendiri adalah pengajar sastra latin di Harvard, jadi maklum saja.
The Class menceritakan tentang Andrew Eliot, entah keturunan Eliot keberapa yang masuk Harvard (Eliot sendiri menjadi nama wisma mahasiswa di Harvard) ; Danny Rossi, mahasiswa musik cemerlang ; Theodore Lambros, mahasiswa sastra latin keturunan Yunani ; Jason Gilbert, keturunan Yahudi yang dibesarkan dengan terlalu Amerika dan George Keller, imigran Hungaria yang menjadi mentee Henry Kissinger.
Ini menarik, karena disana-sini saya menemukan hal yang analog antara alam pikiran mahasiswa Harvard (Atau MIT. Atau Stanford. Atau any other Ivy Leaguers) dengan mahasiswa ITB disini (Atau UI. Atau UGM. Atau any other state universities).
Saat mahasiswa, mereka datang dengan sangat percaya diri (hampir-hampir arogan, kalau boleh dibilang). Dibesarkan sebagai yang terbaik (atau among the best lah) di sekolahnya, dicitrakan ‘brilian’ oleh masyarakat (dan dibenci oleh beberapa banyak orang). Pokoknya Te O Pe Be Ge Te dah. Dalam bahasa Segal, ‘ memiliki kepercayaan tak terbatas akan kemampuan mereka’. Penuh dengan impian besar. Untuk mahasiswa Harvard, ‘menjadi pemimpin-pemimpin dunia’. Untuk mahasiswa I*B, ‘calon pemimpin bangsa’. Serba menggelegar dan menggetarkan.
Jelas ini generalisasi brutal. Tidak pernah ada penelitian yang menguatkan atau memperlemah sangkaan ini. Namun, ini dapat dirasakan, seperti bau kentut yang anda hirup di ruangan. Anda tak bisa membuktikan berapa persen sulfur yang ada di kandungan udara di ruangan tersebut, tetapi baunya tercium.
Apa yang terjadi sejak mahasiswa hingga 25 tahun setelah lulus? Banyak hal, yang tak semua baik. Yang saya catat, dalam tokoh-tokoh Segal, apa yang dialami 25 tahun mendatang bisa dilacak sejak mahasiswa. Bukan berarti yang hebat saat mahasiswa juga hebat setelah 25 tahun, tetapi karakter yang membentuk 25 tahun berikutnya bisa di-trace sejak mereka mahasiswa. Andrew Eliot yang selalu kurang percaya diri tapi paling manusiawi , Jason Gilbert, bintang universitas yang selalu gamang akan identitas Yahudi-nya karena selalu diamerikanisasi oleh ayahnya, Ted Lambros yang sejak awal merasa ‘kurang Harvard’ dan haus sekali akan pengakuan dari almamaternya, Danny Rossi yang terobsesi musik dan ketenaran, George Keller yang seumur hidup selalu merasa sendiri.
Eliot menjadi bankir (sekedar meneruskan usaha keluarga) dan ketua panitia reuni karena memiliki hubungan baik dan selalu tulus kepada teman-temannya. Gilbert menyelesaikan konflik identitasnya dengan menjadi Yahudi sepenuhnya, dan bahkan mati sebagai tentara
Yang pahit (atau unexpectable), perkawinan Eliot gagal dan bahkan anak lelakinya menolak menjadi seorang Eliot lagi. Gilbert, yang sangat berprestasi dan dibayangkan dapat menjadi apapun yang dia mau di Amerika malah menjadi relawan kibbutz di
Ya, beberapa dari mereka menjadi sesuatu. Something big, malah. Dengan beragam cerita dan catatan buruk di periode 25 tahun itu. By the way, Lambros adalah mahasiswa miskin yang diremehkan, Rossi selalu ditolak di wismanya saat main piano, dan Keller adalah imigran yang kemampuan bahasa inggrisnya nol besar saat masuk Harvard.
Apa yang dirasakan ketika reuni ke-25 itu? Segal menulis,
Tapi siapakah orang-orang asing itu – botak, berkacamata, tambun, dan malu-malu?...
Anehnya, sebagian besar dari mereka dilanda ketakutan lebih besar membayangkan harus kembali ke Harvard daripada ketika mereka tiba pertama kali sebagai mahasiswa baru. Sebab, kini ada yang hilang dari rohani mereka – kepercayaan tak terbatas terhadap kemampuan mereka.
Mereka tidak lagi seperti astronaut yang menjelajahi orbit penuh harapan dengan langkah lebar, siap untuk terbang ke bulan, bahkan lebih jauh lagi. Sebagian besar dari mereka tampak seperti pelancong yang kelelahan, yang cakrawalanya berakhir di kawasan parkir kantor.
Dan kendati segala keberhasilan mereka yang gemilang...mereka sadar telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan,...masa muda mereka.
...
Kata saktinya adalah kompromi...
Ya, setelah 25 tahun dan berusaha berkompetisi sambil saling membuktikan (dan membandingkan), pada akhirnya memang kompromi. Oh, ambisi lama itu telah pergi, entah mewujud atau tidak. Oh, kebanggaan dan kompetisi saat kuliah dan seterusnya itu sudah tak ada dan terganti dengan sejenis kepasrahan.
Tetapi kini mereka berinteraksi dengan suatu kehangatan baru. Tidak ada tingkat-tingkat kedudukan. Mereka bertemu untuk pertama kali sebagai sesama manusia...
Selain kompromi dan perasaan ‘yaa,,sudahlah,,’, hal lain yang pada akhirnya tersisa adalah yang paling bermakna untuk tiap perseorangan, atau sebuah tragedi. Rossi kembali setia pada istrinya setelah serangkaian petualangan, Eliot mengumpulkan kembali teman-temannya, Gilbert mati dengan senyum demi sesuatu yang ia bela, Lambros akhirnya diterima Harvard sepenuhnya. Yang tragis, Keller tetap merasa hampa dan memilih mengakhiri hidup.
Begitu jugakah suasananya di reuni 2027 nanti?
***
Dalam sebuah artikel menjelang Idul Fitri, Jalaluddin Rakhmat pernah menelisik asal kata dosa dalam bahasa arab (atau tobat? Maaf kalau ingatan saya agak samar). Ia menulis bahwa kata ‘dosa’ (atau akar katanya) juga biasa digunakan untuk menunjukkan ‘jejak’, seperti jejak kaki kita di gurun pasir. Tobat, atau ampunan, atau confession (pengakuan ikhlas akan dosa), kata kang Jalal, menghapus dosa tadi, atau jejak, hingga samar atau hilang. Seperti angin yang meniup pasir hingga menutupi jejak. Tanpa pengampunan, jejak tadi menetap. Mungkin mengeras.
Padang Mahsyar adalah juga sebuah reuni. Mengingat kembali segala jejak kita (kita disini mengacu pada semua umat manusia), termasuk juga jejak dosa kita.
Saya pikir saat itu kompromi sudah tidak ada.
Astagfirullah. Ya Allah, hapuskanlah jejak dosa saya.
Semoga kita bisa bereuni di tempat yang terbaik nanti.
Kredit:
- The Class by Erich Segal (c) 1985, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Threes Susilastuti, Oktober 2007 (Cetakan Kedua), Gramedia Pustaka Utama.
- "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel", saya baca di blog Ika. Pernah terpasang di salah satu sudt kampus ITB.
8 Dec
Ada PR yang sangat kurang ajar dari Aul, disini. Resolusi 2008? Cukup lama mikirinnya, dan ternyata ga sampe 8...*pria yang gak punya keinginan*, hehehe...
Ini yang kepikiran:
Cuma 4 aja yang kepikiran...bukan bermaksud licik, tapi ya mo gimana lagi...lagian, banyak juga yang harus dicapai terutama untuk untuk mencapai resolusi keempat itu.
Mohon doanya ya!
Sekarang...lempar PR-nya! Silakan kerjakan untuk:
Selamat mengerjakan! Akan saya cek pekerjaan kalian, huahahahaha!
9 Oct
People are often unreasonable, irrational, and self-centered. Forgive them anyway.If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives. Be kind anyway.
If you are successful, you will win some unfaithful friends and some genuine enemies. Succeed anyway.
If you are honest and sincere people may deceive you. Be honest and sincere anyway.
What you spend years creating, others could destroy overnight. Create anyway.
If you find serenity and happiness, some may be jealous. Be happy anyway.
The good you do today, will often be forgotten. Do good anyway.
Give the best you have, and it will never be enough. Give your best anyway.
In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.
_Mother Theresa (bisa dilihat di sini)
Saya merasa perlu mencantumkan quote diatas, karena merefleksikan apa yang seharusnya saya lakukan sekarang.
Lagi krisis kepercayaan nih. Saya gak percaya sama "temen-temen seperjuangan" saya dulu. Gak yakin bahwa "itu adalah kebaikan".
Tapi ya...do it anyway. In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.
Kalau nanti mereka, misalnya, dalam pengamatan subyektif saya, mengkhianati...Peduli amat. Pilihan saya tulus, insya ALLAH, anyway.
Semoga berkah.
NB: atau saya naif ya? Biarin deh.
6 Oct
Sekarang nggak kedengeran lagi kabar mereka. Mark, adik Donny Wahlberg, malah lebih eksis sebagai bintang film. Joe sempat bikin solo. Yang lain udah pada jadi bapak-bapak kali.
Waktu saya SMP, saya juga inget saya sampe bela-belain beli kaset (waktu itu masih zamannya kaset...) Backstreet Boys. Saya nggak ngefans-ngefans banget sih, tapi lagunya emang ringan dan earcatching koq (aduh malu ngakunya...he33x). Saya juga sempat beli Boyzone, yang ada lagu Words-nya itu lho...
Ih, banci lo! Biarin! Namanya juga masih muda, banyak membuat kesalahan = p. Dan saya juga gak ngerasa less masculin dengan dengerin boyband. Lagian perasaan saat itu semua temen saya juga suka. Teman SMP saya yang kemudian berjumpa lagi di TI malah lebih ngefans. Dia sempet punya kaset Code Red (ada yang inget boyband ini?), dan satu boyband lagi yang saya lupa namanya, yang video klipnya itu settingnya perang vietnam (yeah right, boyband di perang Vietnam! Green Day aja kalah!), dan salah satu personilnya naksir gadis lokal sana yang seinget saya cakep banget = p. Saya gak punya, dan saya pinjem ke dia...he33x, segitunya yak?
Awal 2000-an era boyband akhirnya surut (biarpun sekarang ada aja segerombolan pemuda yang ketinggalan jaman dan belagak boyband...hareeeee gineeeeee???). Kata yang sinis, boyband sekarang diganti ama pemuda-pemuda ’manis’ yang nyanyiin lagu sweet pop atau punk pop. Beberapa personil boyband di akhir masa jayanya bernasib mengenaskan. Selain gendut, jenggotan (tapi untungnya, gak khotbah...=p ), ada yang kecanduan alkohol, mengaku dirinya gay, dan serta merta menghancurkan ribuan pemuja wanitanya (dan sayangnya juga, segmen pendengar lain, para gay, tidak berubah jadi ngefans ama nih personil boyband. Poor him...).
Mode narsis: ON
Tetapi di TI 2002, sisa kejayaan boyband itu masih ada. Ini contoh aksinya. (siap-siap kantong buat muntah).
Ini boyband pertama yang terpotret. Dipilih lewat kontes yang mirip boyband idol, atau apalahitunamanya. Ini salah satu personilnya sedang dengan tak tahu malu berkicau. Maksudnya, sedang show.
Boyband yang berisi trio itu sangat tidak nyaman. Bayangkan, atensi fans-fans mereka hanya terbagi untuk tiga orang! Wow. Terus terang, mereka rasa itu sangat berat. Akhirnya mereka bubar.
Zaman berubah, era boyband surut. Begitu juga boyband di TI 2002. Para personilnya menempuh jalan masing-masing, dan semua mengaku kapok berada lagi di dunia showbiz.
Mode narsis: OFF
a la seleb (dicoret soalnya ntar yang bikin pundung = p) TI 2002 yang penuh hikmah dan kenangan, terus diliatin juga foto-foto kenangan jaman dulu.
NB: this blog is getting personal again!
NB lagi: sebenernya sih ngisi kekosongan postingan aja sih (gile, bulan ini tanpa postingan berarti!)…hehehe, ketauan deh motifnya. Tulisan yang benernya ntar deh (kalo ada dan kalo niat).
9 Apr
Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota 8 April kemarin saya mengikuti acara yang agak istimewa. Seminar Pra Nikah! Sebenarnya tadinya agak-agak males, soalnya kebetulan keluarga saya juga datang ke Bandung, tapi karena disuruh dianjurkan dengan sangat untuk ikut, maka dengan setengah sukarela (setengahnya lagi terpaksa, he33x) saya berangkat juga (dan kurang bayar infaknya, hihihi).
iri sinis-skeptis pada orang-orang yang lewat berpasangan (apalagi yang sendirian). Pasang tampang cuek, heran, sinis, gak percaya dan mikir: ngapain sih mereka? Kita ke stand game cinta, males soalnya ngantri. Ke sepeda cinta, ngantri juga. Ke dokter cinta, ngantri lebih panjang (terbukti, lebih banyak orang yang bermasalah dengan cinta daripada senang bermain cinta atau sepeda-sepedaan cinta!). Ke panggung utama, dengerin lagu jadul Amy Grant, terus masuk stand lagi yang gratisan. O iya, ada juga Wishing Well. Kita bisa nulis harapan kita (kata panitianya, “harapan tentang cinta”) dan nanti ditampilin di layar yang bertebaran di Tasha. Tapi di layar yang saya baca kok rada aneh ya harapannya: IP bagus, lulus kuliah…halah…Panitia jelas salah bikin acara depan ITB!
tepe-tepe bertanya sebagai swasta. Igun udah males duluan dan ngabur ke LSIK (nggak sesuai briefing, katanya. Tapi Igun datang pas evaluasi), Viar juga (tapi dia nitip evaluasi ke gw), Miftah udah balik dari tadi. Tapi demi melihat 2006 yang polos-polos saya memutuskan untuk bertahan (sebenernya sih karena posisi gw aja yang salah. Gw tepat di depan 2006, jadinya susah kalo kabur, hu33x…).
Sementara di seminar sebenarnya masih ada satu sesi lagi, sayang mamah saya udah nelponin dari tadi dan nanyain mau makan bareng atau nggak. Mengingat saya lagi gak ada duit, ya saya mau-mau aja…= p. Jadilah saya tinggalkan juga seminar itu, ke acara keluarga…
Igun, Viar, segera bayar utang! = p
17 Feb
TEKNIK INDUSTRI ITB ANGKATAN 2002 (yang tidak datang telat sewaktu difoto)I LOVE YOU ALL!!
10 Feb
: untuk Pak Abdul Hakim Halim Apa pelajaran yang bisa diambil setelah mengerjakan TA selama sekitar 5-6 bulanan? Mmm, bukan 5-6 bulan sih kalau waktu efektifnya…Agustus hingga Desember masih sangat santai, baru Januari akhir agak-agak sibuk. Sejak Desember juga sebenarnya pengolahan data saya sudah 90% beres, tinggal dipresentasikan ke dosen pembimbing. Nah, setelah dipresentasikan dan OK, barulah saya disuruh menulis.
Waktunya tambah bersyukur, sit back, relax, and THINK. Banyak sekali yang harus dipikirkan dan dikerjakan nanti.
Mohon doanya.
20 Jan
Kalau masalah buku, saya ini benar-benar menjadi impulsive buyer. Ingat, ‘buyer’ ya, bukan ‘reader’…Rasanya nggak nahan kalau ngeliat buku-buku bagus. Kalau pulang dari toko buku atau pameran dan gak beli buku bagus itu, pasti pikiran itu menggedor-gedor terus lalu menyeruak, dan akhirnya saya kalah juga…akhirnya pasti beli kalau ada kesempatan.
Kalau masalah baca sih…nanti dulu…Entah sekrang-sekarang ini sibuk atau emang lagi males aja, yang jelas dikit sekali yang beres apalagi telah tersintesiskan menjadi tulisan. Berikut daftar recent books dan nasibnya yang tidak jelas sekarang, hanya dionggokkan saja di meja yang dijadikan tempat buku sementara. Daftarnya dikit dan memang buku yang baru dipinjam/dibeli sejak saya pindah dari Sukarno-Hatta lalu ke Kelapa gading lalu ke Sedang Serang. Soalnya, buku-buku yang dulu ada di rumah udah dibawa semua ke
Ali Syariati Biografi Politik: baru nyampe masa dia muda…
Syarah Rasmul Bayan: buku ‘wajib’, isinya cuma banyak tulisan arab dan garis-garis doang…hehehe.
Dalam Rimba Bayang-Bayang (mochtar pabottinggi): beberapa puisi saja yang dibaca. Tapi, pengantar dari Ignas Kleden tentang puisi dan pengetahuan puitik dahsyat abis!
The 8th habit: lumayan, udah hampir selesai.
Teluk Wengkay (Korrie Layun Rampan): ga ada satu cerpennya pun yang saya baca abis.
Mestakung: abis, ini emang bacaan sekali duduk.
Bagaimana mengisi hidup (bagus takwin): abis juga. How to, lagi suka sih…
Il
9 Oktober 1740 (Remy Sylado): bagian adegan awal…
Serial Komentar Peristiwa Ekonomi (1965-1969, 1970-1974, 1975-2000): not a single page!
Ketika cinta berbuah surga: beberapa kisah saja.
Seks tak sekedar birahi (Aam Amiruddin & dr. Hanny): entahlah, tapi yang ini hampir finish…;-p
Dasar-dasar ilmu politik (Miriam Budiardjo): bagian sejarah awal, posisi ilmu politik, dan tentang parpol aja.
Potret sehari-hari Imam Khomeini: abis! Buku keren nih!
Fiqh Dakwah (Musthafa Masyhur): bagian tentang definisi doang…
V for Vendetta: ¾-nya beres.
How to do cultural & media studies: ½ -nya udah.
Balairung edisi 40: not a single article!
Business Ethics: bagian tentang “work” aja.
The Great Train Robbery (Michael Crichton): 10 halaman pertama.
Teori Relativitas Einstein, penjelasan populer untuk umum: ketipu judul. Baca ampe tengah tapi tetep gak ngerti.
Sungai dari firdaus (Dawkins): baca 2 bab awal. Analoginya keren. Ini jadi mirip cerita mitologis tentang evolusi.
A development manifesto (mubyarto): baca pengantarnya doang…
Islam sebagai dasar negara: pidato legendaris M. Natsir. Very recommended.
War & Peace: baca baru 40 halaman…dari…err, 1392 halaman??!!
Bruce Lee artist of life: some tao & philosophical related articles…menarik loh ternyata Bruce Lee itu. Dia mahasiswa filsafat dan banyak menulis esai filsafat juga, gak hanya jago berantem.
Nyanyian Revolusi (Pablo Neruda): buku yang terjemahannya salah satunya gini bunyinya: Kebebasan dengan
Baudolino (Umberto Eco): hampir selesai.
Open Society-nya Soros : baru nyampe tentang konsep refleksifitas.
Berguru pada ALLAH: baru 3 bab, tapi bagus nih buku…
TA: telah 47 mb file TA gabung, dan total 202 mb padahal cuma file-file word dan excel.
Football Manager (game keren!): nyampe tahun 2011, udah jadi manager di Inter, Arsenal, Inggris dan
Saya juga lagi ngidam mo baca Collapse (Jared Diamond), someday saya baca deh…Terus, Menjadi Indonesia yang dari Mizan itu lho, ama buku barunya Ismail F. Alatas. Karya Lengkap Driyarkara juga kayaknya bagus tuh (minimal buat dipajang di rak), Sesudah Flsafat juga. Tapi gak terlalu worthed kalo dibeli.