Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘kehidupan’ Category

Apa Itu Kesejahteraan?

Saya membaca artikel kompas yang ini. Ini melahirkan pertanyaan: apa itu kesejahteraan?

Cerita ringkasnya begini. Pemkab Pati mengizinkan pembangunan pabrik semen gresik di Sukolilo. Untuk kesejahteraan warga, katanya. Namun, ada warga Sukolilo (dimotori komunitas sedulur sikep, kelanjutan gerakan saminisme) yang tak sepakat dan melawan. Kami merasa selama ini sejahtera, katanya.

Jadi apa itu kesejahteraan?

Untuk pemkab, indikator kesejahteraan adalah ketika ada investasi masuk. Investasi tentu membawa modal, memberi nilai tambah pada sumber daya yang ada, menciptakan trickle-down effect, menaikkan pendapatan daerah dari beragam pajak dan lain-lain. Lalu warga bisa memiliki lebih banyak uang, mendapat akses yang lebih baik untuk pendidikan, terjadi kenaikan kelas sosial, dan mengerek kesejahteraan warga lain. Dari sisi pemkab, tersedianya lebih banyak pendapatan juga bisa dimanfaatkan untuk fasilitas publik yang lebih baik: dibangun fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, sarana transportasi. Pada akhirnya, kesejahteraan warga & daerah meningkat.

Tentu saja ada risikonya, kata pemkab. Alam bisa rusak. Tetapi, selama Amdal dijalani, aturan ditegakkan, no problem.

Logis saja, saya kira.

Menurut penduduk sedulur sikep: Dari dulu warga Sedulur Sikep tidak pernah kelaparan. Kami tidak miskin. Pemerintah saja yang selalu salah tanggap, menganggap kami miskin sehingga kami dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat adat tertinggal sehingga harus diberi bantuan. Padahal, kami tidak pernah meminta bantuan, (dari artikel yang sama).

Juga benar.

Jangan bicarakan kesejahteraan dalam konteks masyarakat atau negara. Tepri ekonomi ratusan tahun pun belum beres membahasnya. Dari sisi personal finance, misalnya, sejahtera berbeda dengan kaya. Sejahtera didefinisikan dengan satuan waktu, sementara kaya dalam satuan mata uang. Kalau nilai aset anda 2 M, dan anda punya utang 1 M, maka kekayaan anda adalah 1 M. Kekayaan adalah what you own. What you own is what you have minus what you owe. Tambahan lagi, kekayaan (tanpa kata yang mengikuti di belakangnya ) adalah what you own yang bisa dinilai dalam satuan mata uang.

Kesejahteraan dinilai dalam satuan waktu. Kalau anda punya 2 M, lalu biaya hidup anda setahun, dengan gaya hidup anda sekarang, adalah 20 juta, maka tingkat kesejahteraan anda adalah 100 tahun. Tentu ini perhitungan kasar yang tak melibatkan tingkat inflasi. Untuk definisi lebih detil, menurut para pakar, kesejahteraan adalah berapa lama anda bisa hidup seperti biasa tanpa bekerja dengan apa yang anda punya sekarang dan apa yang akan datang kemudian (maksudnya passive income).

Mengikuti definisi di atas, point penting dalam kesejahteraan personal ialah gaya hidup. Mereka yang berpenghasilan 30 juta sebulan tidak lebih sejahtera daripada mereka yang hanya dapat 3 juta per bulan, bila yang pertama membutuhkan 33 juta untuk hidup sebulan. Siapa yang menentukan gaya hidup anda? Ya anda sendiri. So, ujung-ujungnya menjadi sejahtera adalah seperti juga menjadi bahagia: tergantung pilihan anda. Namun bukankah ada standar? Bagaimana bisa orang yang hidup di gubug beralas tanah lebih sejahtera daripada orang di kondominium mewah? Lagi-lagi, dari segi personal, tergantung apakah anda merasa (memilih) untuk cukup berbahagia & oke-oke saja dengan kondisi itu atau tidak.

Semua yang sedang mengejar kesejahteraan sepertinya harus menjawab pertanyaan ini: when enough is enough?. Tidak pernah ada kata cukup, kecuali kita sendiri yang bersyukur dan bilang, Ya, ini cukup.

Menjadi lebih sulit ketika dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Di masyarakat, misalnya. Standar yang digunakan berbeda. Pemkab menilai penduduk Sukolilo itu miskin dan masih perlu disejahterakan. Penduduk Sukolilo bilang, kami selama ini merasa sejahtera saja. Bisa terus hidup, selama air dan sawah terjaga. Justru ketika itu terancam atau rusak, kesejahteraan kami terganggu.

Pemkab, sebagai pemerintah/penguasa, memaksakan pandangannya akan kesejahteraan kepada rakyat yang dikuasainya. Sayangnya, ide ini tak diamini oleh sebagian warganya, karena ya itu tadi, pandangan akan kesejahteraannya berbeda.

Lalu bagaimana? Entah, saya juga bingung. Kesejahteraan itu apa ya?

Jika saya pemkab
Saya tak akan memaksakan pembangunan pabrik itu, jelas. Pemerintah hanyalah wakil, membawa suara rakyatnya. Kalau rakyatnya merasa sudah sejahtera, ya sudah. Atau, pemerintah terus berkampanye hingga seluruh warga mengubah idenya tentang kesejahteraan menjadi kesejahteraan versi pemerintah. Keadaannya tentu berbeda kalau pemerintah mendapat insentif lebih dari pendirian pabrik, dalam kerangka kesejahteraan yang mereka pahami. Kalau dengan pendirian pabrik lalu ada pemasukan-pemasukan gelap, ada tambahan dana untuk beragam fasilitas pemerintahKita jadi lebih mengerti kenapa pemkab begitu ngotot. Untuk kesejahteraan sendiri, bukan untuk kesejahteraan daerah.

Rasanya, kita perlu mendefinisikan kesejahteraan yang tak bertalian dengan materi. Lalu dengan apa? Masih belum jelas. Dengan kebahagiaan, misalnya. Atau harmoni. Kebercukupan. Keberlanjutan.

Sayang, susah mengukurnya. Ada ide lain tentang kesejahteraan?

  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, Opini, kehidupan
  • 25 Tahun Mendatang

    Sewaktu mahasiswa, saya pernah terlibat obrolan dengan seorang teman (saya lupa siapa. Yang saya ingat, ada beberapa kali obrolan, masing-masing dengan seorang teman yang berbeda-beda.) tentang 20-25 tahun setelah kita semua meninggalkan kampus. Saya bisa maklum: dia berada dalam doktrin agung (“Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel Bangsa!”), berada di kampus yang bercitra terang-benderang, dan dijejali trainer atau buku-buku motivasi dengan filsafat progresifisme modern ; maka inilah kalimat heroik yang dia katakan, “coba kamu liat nanti luk, 20 atau 25 tahun lagi. Saat kita semua menjadi sesuatu”.

    Saat itu saya kagum. Yakin sekali dia. Hebat!

    Sekarang saya khawatir. Naif sekali dia. Kasihan.

    Namun pembaca yang waras akan berkesimpulan beda: dasar megalomaniak.

    Saya pernah ngobrol juga (kali ini dengan Kang Firman, BI ’97) tentang topik mirip ini. Ia berbicara tentang sebuah generasi (generasinya, saya, dan anda), dan sebuah keniscayaan bahwa suatu hari, seluruh posisi dan peran di masyarakat, berpindah ke generasi ini.

    Dan itu bukan sesuatu yang hebat. Ini hanya masalah giliran: generasi sebelumnya sudah atau sedang menerima, generasi kita sedang menunggu, atau sedang belajar menjadi.

    Itu cukup masuk akal dan acceptable buat saya. Namun kalau itu diteruskan dengan doktrin standar “ kalian kan mahasiswa, 2 % dari penduduk Indonesia”, apalagi ditambah “kalian kan mahasiswa I*B”, saran saya untuk mahasiswa sekarang ialah: jangan dengarkan. Minimal, jangan dengarkan dengan serius.

    Pikiran ini timbul lagi setelah saya membaca The Class (Erich Segal). Ide kisahnya sederhana sekaligus cemerlang. Tentang suatu angkatan Harvard ’58, ketika mereka reuni, 25 tahun dari tahun 1958.

    Khas novel Erich Segal yang tebal, kisah ini pun terdiri dari beragam tokoh yang masing-masing kompleks, dengan rentang waktu yang panjang (silakan baca, misalnya, karya Segal yang lain seperti The Doctors atau Nobel Prize). Yang juga khas Segal, Harvardisme Segal kental sekali disini. Ia sendiri adalah pengajar sastra latin di Harvard, jadi maklum saja.

    The Class menceritakan tentang Andrew Eliot, entah keturunan Eliot keberapa yang masuk Harvard (Eliot sendiri menjadi nama wisma mahasiswa di Harvard) ; Danny Rossi, mahasiswa musik cemerlang ; Theodore Lambros, mahasiswa sastra latin keturunan Yunani ; Jason Gilbert, keturunan Yahudi yang dibesarkan dengan terlalu Amerika dan George Keller, imigran Hungaria yang menjadi mentee Henry Kissinger.

    Ini menarik, karena disana-sini saya menemukan hal yang analog antara alam pikiran mahasiswa Harvard (Atau MIT. Atau Stanford. Atau any other Ivy Leaguers) dengan mahasiswa ITB disini (Atau UI. Atau UGM. Atau any other state universities).

    Saat mahasiswa, mereka datang dengan sangat percaya diri (hampir-hampir arogan, kalau boleh dibilang). Dibesarkan sebagai yang terbaik (atau among the best lah) di sekolahnya, dicitrakan ‘brilian’ oleh masyarakat (dan dibenci oleh beberapa banyak orang). Pokoknya Te O Pe Be Ge Te dah. Dalam bahasa Segal, ‘ memiliki kepercayaan tak terbatas akan kemampuan mereka’. Penuh dengan impian besar. Untuk mahasiswa Harvard, ‘menjadi pemimpin-pemimpin dunia’. Untuk mahasiswa I*B, ‘calon pemimpin bangsa’. Serba menggelegar dan menggetarkan.

    Jelas ini generalisasi brutal. Tidak pernah ada penelitian yang menguatkan atau memperlemah sangkaan ini. Namun, ini dapat dirasakan, seperti bau kentut yang anda hirup di ruangan. Anda tak bisa membuktikan berapa persen sulfur yang ada di kandungan udara di ruangan tersebut, tetapi baunya tercium.

    Apa yang terjadi sejak mahasiswa hingga 25 tahun setelah lulus? Banyak hal, yang tak semua baik. Yang saya catat, dalam tokoh-tokoh Segal, apa yang dialami 25 tahun mendatang bisa dilacak sejak mahasiswa. Bukan berarti yang hebat saat mahasiswa juga hebat setelah 25 tahun, tetapi karakter yang membentuk 25 tahun berikutnya bisa di-trace sejak mereka mahasiswa. Andrew Eliot yang selalu kurang percaya diri tapi paling manusiawi , Jason Gilbert, bintang universitas yang selalu gamang akan identitas Yahudi-nya karena selalu diamerikanisasi oleh ayahnya, Ted Lambros yang sejak awal merasa ‘kurang Harvard’ dan haus sekali akan pengakuan dari almamaternya, Danny Rossi yang terobsesi musik dan ketenaran, George Keller yang seumur hidup selalu merasa sendiri.

    Eliot menjadi bankir (sekedar meneruskan usaha keluarga) dan ketua panitia reuni karena memiliki hubungan baik dan selalu tulus kepada teman-temannya. Gilbert menyelesaikan konflik identitasnya dengan menjadi Yahudi sepenuhnya, dan bahkan mati sebagai tentara Israel. Lambros akhirnya diterima di komunitas Harvard dan menjadi dekan, Rossi menjadi pianis terkemuka dunia, dan Keller menjadi calon menteri luar negeri.

    Yang pahit (atau unexpectable), perkawinan Eliot gagal dan bahkan anak lelakinya menolak menjadi seorang Eliot lagi. Gilbert, yang sangat berprestasi dan dibayangkan dapat menjadi apapun yang dia mau di Amerika malah menjadi relawan kibbutz di Israel. Hubungan cinta Lambros yang terbina sejak kuliah hancur karena dia selingkuh. Rossi menderita tremor di tangannya dan menghentikan karirnya. Keller, sang calon menlu itu, bunuh diri.

    Ya, beberapa dari mereka menjadi sesuatu. Something big, malah. Dengan beragam cerita dan catatan buruk di periode 25 tahun itu. By the way, Lambros adalah mahasiswa miskin yang diremehkan, Rossi selalu ditolak di wismanya saat main piano, dan Keller adalah imigran yang kemampuan bahasa inggrisnya nol besar saat masuk Harvard.

    Apa yang dirasakan ketika reuni ke-25 itu? Segal menulis,

    Tapi siapakah orang-orang asing itu – botak, berkacamata, tambun, dan malu-malu?...

    Anehnya, sebagian besar dari mereka dilanda ketakutan lebih besar membayangkan harus kembali ke Harvard daripada ketika mereka tiba pertama kali sebagai mahasiswa baru. Sebab, kini ada yang hilang dari rohani mereka – kepercayaan tak terbatas terhadap kemampuan mereka.

    Mereka tidak lagi seperti astronaut yang menjelajahi orbit penuh harapan dengan langkah lebar, siap untuk terbang ke bulan, bahkan lebih jauh lagi. Sebagian besar dari mereka tampak seperti pelancong yang kelelahan, yang cakrawalanya berakhir di kawasan parkir kantor.

    Dan kendati segala keberhasilan mereka yang gemilang...mereka sadar telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan,...masa muda mereka.

    ...

    Kata saktinya adalah kompromi...

    Ya, setelah 25 tahun dan berusaha berkompetisi sambil saling membuktikan (dan membandingkan), pada akhirnya memang kompromi. Oh, ambisi lama itu telah pergi, entah mewujud atau tidak. Oh, kebanggaan dan kompetisi saat kuliah dan seterusnya itu sudah tak ada dan terganti dengan sejenis kepasrahan.

    Tetapi kini mereka berinteraksi dengan suatu kehangatan baru. Tidak ada tingkat-tingkat kedudukan. Mereka bertemu untuk pertama kali sebagai sesama manusia...

    Selain kompromi dan perasaan ‘yaa,,sudahlah,,’, hal lain yang pada akhirnya tersisa adalah yang paling bermakna untuk tiap perseorangan, atau sebuah tragedi. Rossi kembali setia pada istrinya setelah serangkaian petualangan, Eliot mengumpulkan kembali teman-temannya, Gilbert mati dengan senyum demi sesuatu yang ia bela, Lambros akhirnya diterima Harvard sepenuhnya. Yang tragis, Keller tetap merasa hampa dan memilih mengakhiri hidup.

    Begitu jugakah suasananya di reuni 2027 nanti?

    ***

    Dalam sebuah artikel menjelang Idul Fitri, Jalaluddin Rakhmat pernah menelisik asal kata dosa dalam bahasa arab (atau tobat? Maaf kalau ingatan saya agak samar). Ia menulis bahwa kata ‘dosa’ (atau akar katanya) juga biasa digunakan untuk menunjukkan ‘jejak’, seperti jejak kaki kita di gurun pasir. Tobat, atau ampunan, atau confession (pengakuan ikhlas akan dosa), kata kang Jalal, menghapus dosa tadi, atau jejak, hingga samar atau hilang. Seperti angin yang meniup pasir hingga menutupi jejak. Tanpa pengampunan, jejak tadi menetap. Mungkin mengeras.

    Padang Mahsyar adalah juga sebuah reuni. Mengingat kembali segala jejak kita (kita disini mengacu pada semua umat manusia), termasuk juga jejak dosa kita.

    Saya pikir saat itu kompromi sudah tidak ada.

    Astagfirullah. Ya Allah, hapuskanlah jejak dosa saya.

    Semoga kita bisa bereuni di tempat yang terbaik nanti.

    Kredit:
    - The Class
    by Erich Segal (c) 1985, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Threes Susilastuti, Oktober 2007 (Cetakan Kedua), Gramedia Pustaka Utama.
    - "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel", saya baca di blog Ika. Pernah terpasang di salah satu sudt kampus ITB.

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Refleksi, kehidupan
  • Mengerjakan PR

    Ada PR yang sangat kurang ajar dari Aul, disini. Resolusi 2008? Cukup lama mikirinnya, dan ternyata ga sampe 8...*pria yang gak punya keinginan*, hehehe...

    Ini yang kepikiran:

    1. Menjadi pembaca novel yang baik. Buku-buku saya kebanyakan nonfiksi (perbandingannya 70-30 lah...), padahal ada alasan saya harus banyak baca fiksi (baca nomer selanjutnya). Makanya saya pengen banyak baca novel-novel taun depan.
    2. Menjadi penulis novel. Ga usah diterbitin (syukur-syukur kalo ada penerbit yang cukup gila untuk menerbitkan). Menyelesaikan membuat satu novel saja cukup, untuk konsumsi pribadi (terutama kepuasan pribadi sih...saya pengen bisa bilang, “hey, I can write crap that much! Hehehe”). Mungkin nurut-nurutin mbak yang ini, yang udah nulis beberapa novel dan sedang berjuang untuk diterbitin. Gimana progresnya the?
    3. Menjadi pria berberat badan 65 kilogram. Sekarang baru 59-60-an euy...Tentu saja ini dilakukan demi penampilan kesehatan, bukan untuk apapun (apalagi siapapun,hi33x)
    4. Menjadi... Yang ini biar saya simpan dalam hati.

    Cuma 4 aja yang kepikiran...bukan bermaksud licik, tapi ya mo gimana lagi...lagian, banyak juga yang harus dicapai terutama untuk untuk mencapai resolusi keempat itu.

    Mohon doanya ya!

    Sekarang...lempar PR-nya! Silakan kerjakan untuk:

    1. Mas Viar. Jangan bimbang terus mas, hehehe. Jadi mau tau sayah...
    2. Loli, a-beautiful-smart -economist-in-making ;p. mo ngapain lol?
    3. Mona, penasaran dah lama tak bertukar kabar.
    4. Teh Rita. Mau tau apa ya yang ada dipikiran akhwat yang baru menikah?
    5. Ikram. Akankah postingan yang sangat personal ini ada di blog nomine ‘current issue’? hehehe
    6. Helmi. Pa kabar nih , Mi? tulis ya, selain lulus dari ITB!
    7. Dika. Mau tau apa yang dipengenin seorang new grad pharmacist
    8. Hiruta aka Jejakpena. Postingan-postingan terakhirnya ‘patah hati’. Semoga dengan mikirin apa keinginannya bisa jadi cerah (kata buku-buku how to sih bisa...)

    Selamat mengerjakan! Akan saya cek pekerjaan kalian, huahahahaha!

  • Comments Off
  • Filed under: kehidupan, me
  • Do It Anyway

    People are often unreasonable, irrational, and self-centered. Forgive them anyway.

    If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives. Be kind anyway.

    If you are successful, you will win some unfaithful friends and some genuine enemies. Succeed anyway.

    If you are honest and sincere people may deceive you. Be honest and sincere anyway.

    What you spend years creating, others could destroy overnight. Create anyway.

    If you find serenity and happiness, some may be jealous. Be happy anyway.

    The good you do today, will often be forgotten. Do good anyway.

    Give the best you have, and it will never be enough. Give your best anyway.

    In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.

    _Mother Theresa (bisa dilihat di sini)


    Saya merasa perlu mencantumkan quote diatas, karena merefleksikan apa yang seharusnya saya lakukan sekarang.

    Lagi krisis kepercayaan nih. Saya gak percaya sama "temen-temen seperjuangan" saya dulu. Gak yakin bahwa "itu adalah kebaikan".

    Tapi ya...do it anyway. In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.

    Kalau nanti mereka, misalnya, dalam pengamatan subyektif saya, mengkhianati...Peduli amat. Pilihan saya tulus, insya ALLAH, anyway.

    Semoga berkah.

    NB: atau saya naif ya? Biarin deh.


  • Comments Off
  • Filed under: Islam, Refleksi, belief, kehidupan, me
  • Ketika Boyband Masih Berjaya

    Saya gak tahu kapan pertama kali boyband ada. Boyband modern, seingat saya, sangat ngehit sekitar tahun 90-an awal. Waktu itu, saya ingat kakak perempuan saya ngefans banget dengan Jonathan Knight, saudara dari Jordan Knight. Keduanya personil dari New Kids On The Block, belakangan sering disingkat NKOTB. Personil lainnya ialah Joe Mcintyre, Donny Wahlberg, dan Danny something (sorry ga inget). Hitsnya terutama lagu-lagu mellow atau yang ngedance. Dulu, di TPI jam setengah delapan sampe ada kartunnya, yang isinya nothing kecuali cerita bahwa personil NKOTB ini dikejer-kejer ama cewek-cewek.

    Sekarang nggak kedengeran lagi kabar mereka. Mark, adik Donny Wahlberg, malah lebih eksis sebagai bintang film. Joe sempat bikin solo. Yang lain udah pada jadi bapak-bapak kali.

    Waktu saya SMP, saya juga inget saya sampe bela-belain beli kaset (waktu itu masih zamannya kaset...) Backstreet Boys. Saya nggak ngefans-ngefans banget sih, tapi lagunya emang ringan dan earcatching koq (aduh malu ngakunya...he33x). Saya juga sempat beli Boyzone, yang ada lagu Words-nya itu lho...

    Ih, banci lo! Biarin! Namanya juga masih muda, banyak membuat kesalahan = p. Dan saya juga gak ngerasa less masculin dengan dengerin boyband. Lagian perasaan saat itu semua temen saya juga suka. Teman SMP saya yang kemudian berjumpa lagi di TI malah lebih ngefans. Dia sempet punya kaset Code Red (ada yang inget boyband ini?), dan satu boyband lagi yang saya lupa namanya, yang video klipnya itu settingnya perang vietnam (yeah right, boyband di perang Vietnam! Green Day aja kalah!), dan salah satu personilnya naksir gadis lokal sana yang seinget saya cakep banget = p. Saya gak punya, dan saya pinjem ke dia...he33x, segitunya yak?

    Awal 2000-an era boyband akhirnya surut (biarpun sekarang ada aja segerombolan pemuda yang ketinggalan jaman dan belagak boyband...hareeeee gineeeeee???). Kata yang sinis, boyband sekarang diganti ama pemuda-pemuda ’manis’ yang nyanyiin lagu sweet pop atau punk pop. Beberapa personil boyband di akhir masa jayanya bernasib mengenaskan. Selain gendut, jenggotan (tapi untungnya, gak khotbah...=p ), ada yang kecanduan alkohol, mengaku dirinya gay, dan serta merta menghancurkan ribuan pemuja wanitanya (dan sayangnya juga, segmen pendengar lain, para gay, tidak berubah jadi ngefans ama nih personil boyband. Poor him...). Ada juga yang akhirnya ngaku poligami! Hah? Oh sorry, yang itu bukan personil boyband ya? = p.

    Mode narsis: ON

    Tetapi di TI 2002, sisa kejayaan boyband itu masih ada. Ini contoh aksinya. (siap-siap kantong buat muntah).

    Ini boyband pertama yang terpotret. Dipilih lewat kontes yang mirip boyband idol, atau apalahitunamanya. Ini salah satu personilnya sedang dengan tak tahu malu berkicau. Maksudnya, sedang show.

    Boyband yang berisi trio itu sangat tidak nyaman. Bayangkan, atensi fans-fans mereka hanya terbagi untuk tiga orang! Wow. Terus terang, mereka rasa itu sangat berat. Akhirnya mereka bubar.

    Tetapi personil yang satu itu memutuskan bergabung dengan boyband lain, sehingga ada lima personil. Secara ekonomis, itu pilihan cerdas. Beban tampil terbagi lima, pangsa pasar yang diambil makin banyak (karena personilnya makin banyak dan beragam), dan terutama, atensi dan kegilaan para fans pun terbagi lima juga. Ini fotonya, dengan pose standar boyband.

    Zaman berubah, era boyband surut. Begitu juga boyband di TI 2002. Para personilnya menempuh jalan masing-masing, dan semua mengaku kapok berada lagi di dunia showbiz.

    Mode narsis: OFF

    Sebenernya kemaren ada buka bareng a la seleb (dicoret soalnya ntar yang bikin pundung = p) TI 2002 yang penuh hikmah dan kenangan, terus diliatin juga foto-foto kenangan jaman dulu.

    Dan harus saya akui, foto-foto diatas adalah yang terbaik (mode narsis: gagal di-OFF! = p).

    Mode narsis: really OFF

    Aduh, saya rindu banget masa-masa itu...

    NB: this blog is getting personal again!

    NB lagi: sebenernya sih ngisi kekosongan postingan aja sih (gile, bulan ini tanpa postingan berarti!)…hehehe, ketauan deh motifnya. Tulisan yang benernya ntar deh (kalo ada dan kalo niat).

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri, daily, kehidupan, me
  • Dua Hari Minggu

    Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota 8 April kemarin saya mengikuti acara yang agak istimewa. Seminar Pra Nikah! Sebenarnya tadinya agak-agak males, soalnya kebetulan keluarga saya juga datang ke Bandung, tapi karena disuruh dianjurkan dengan sangat untuk ikut, maka dengan setengah sukarela (setengahnya lagi terpaksa, he33x) saya berangkat juga (dan kurang bayar infaknya, hihihi).

    Hari Minggu (kalau tidak salah) 2 pekan sebelumnya juga saya datang ke acara yang istimewa, minimal buat saya. Taman cinta Conello! He33x…Perlu diklarifikasi juga nih, tadinya saya agak-agak males, soalnya capek banget perjalanan abis dari syukuran Ubrit di Dago atas banget (Lembang), tapi pas mau nyampe kosan, Igun dengan susah payah dan tergopoh-gopoh (halah!) nelpon dan ngajakin, “Ki, ke taman cinta yuk!”. Demi melihat pengorbanannya (sekitar 3000-an lah buat pulsa telpon), maka saya datang juga ke Taman Cinta Conello.

    Nah, tulisan ini akan membahas 2 hari minggu yang istimewa itu. Istimewa? Bukan berarti baik atau buruk, hanya “tidak biasa” saja. Jadwal minggu saya biasanya rutin: menghabiskan koran minggu, acara keluarga, atau menghabiskan buku. 2 minggu itu berbeda, dihabiskan dengan cinta! Tiap paragraf akan menceritakan satu hari minggu, bergantian, terkadang dibandingkan. Sorry kalau bacanya nggak enak.

    Nah, setelah ditelpon Igun saya segera memarkir motor saya di depan taman Ganesha, tempat diselenggarakannya taman cinta Conello itu. Pada tahu kan, kalau Tasha (Taman Ganesha) itu yang di depan gerbang ITB, dan pas banget di sebelah masjid Salman. Agak ironis juga sih…Acara hingar bingar ini diselenggarakan di sebelah masjid. Namun, look at the bright side! Itu yang bisa saya simpulkan. Di taman cinta ini, ada pintu keluar darurat yang langsung menuju Salman. Itu pesan penting, kata Miftah, “kalau cinta udah darurat dan kebablasan, segera ke masjid!”, he33x. Maksudnya, ya kalau kebablasan atau kebelet, segera nikah lah di masjid…

    Di hari Minggu yang lain, di perjalanan sebenarnya saya masih bimbang nih, mau ke seminar pra nikah itu atau ke acara keluarga (sebenarnya ada satu acara lagi, tapi kadar kepentingannya kebetulan di bawah acara ini). Ternyata saya dapat kabar keluarga saya baru berangkat dari Cirebon, dan saya disuruh nunggu…Waduh, males dong…makanya saya langsung telpon Adit (yang sebelumnya di pagi hari dengan sangat semangat sekali menggedor kamar saya dan ngajakin saya) nanya acaranya udah mulai atau belum. Kata dia baru mulai ni…Saya segera menuju ke tempat acara, yang sebenarnya cukup jauh. Tempatnya di semacam pusat pendidikan guru, tapi sama asrinya dengan Tasha. Di sebelahnya juga ada masjid (jalan cukup jauh sih), tapi ya nggak ada masalah wong seminarnya ini formatnya Islami. Tapi pesannya juga sama, kalau abis seminar dan siap, ya segera ke masjid, he33x.

    Di Tasha setelah memarkir motor ternyata selain Igun juga ada Viar dan Miftah. Langsung semuanya cengar-cengir kuda. Tadinya kita agak gengsi buat masuk, tapi begitu melihat quote dari Ninit Yunita di depan gerbang (“cowok cool itu kaya es krim, pasti ada saatnya dia meleleh juga..”), terus terang aja, kita merasa tersindir, dan akhirnya meleleh dan ikut masuk (halah!). Kita beli Conello untuk tiket masuk (Huh! Dasar komersialisasi cinta!), Rp 5500. O iya, pas nulis ini saya jadi inget, dan saya sampaikan saja pada jagad blogosphere: Igun, Viar, bayar utangmu! = p. Dengan 5500 kita dapet tiket dan voucher untuk 3 stand: dokter cinta, games cinta, dan sepeda cinta.

    Di seminar, setelah memarkir motor saya celingak-celinguk…busyet pada gak kenal ginih! Ada ibu-ibu jualan jilbab, bapak-bapak jualan buku, dan penjaga tiket. Waduh, bayar euy…Perasaan si bos kagak bilang-bilang kudu bayar, padahal gw lagi kagak bawa duit…Jadilah saya bayar seadanya aja, cuma 10 rebu dari seharusnya 25 rebu (sorry ya panitia…). Namun, untung acaranya Islami, jadi boleh masuk juga, he33x. Dengan 10 ribu ternyata saya dapet banyak: kopi+snack di pagi hari, makan siang, kopi lagi, dan tentu saja ilmu yang Insya ALLAH manfaat. Pas masuk ke dalam saya celingak celinguk lagi buat nyari temen cekikikan. Eh, ternyata ada Ida ama Yogi, alhamdulillah. Adit ternyata semangat sekali, dia menempati jajaran tengah-depan!

    Di Tasha kita nggak nyobain satu game pun, soalnya penuh banget ama abege-abege.. Gengsi dong bareng mereka ngantri (masa’ itebe disamain ama abege! He33x). Jadinya kita cuma kelalang-keliling aja, nongkrong di depan kolam berempat dan menghabiskan Conello, sambil melihat iri sinis-skeptis pada orang-orang yang lewat berpasangan (apalagi yang sendirian). Pasang tampang cuek, heran, sinis, gak percaya dan mikir: ngapain sih mereka? Kita ke stand game cinta, males soalnya ngantri. Ke sepeda cinta, ngantri juga. Ke dokter cinta, ngantri lebih panjang (terbukti, lebih banyak orang yang bermasalah dengan cinta daripada senang bermain cinta atau sepeda-sepedaan cinta!). Ke panggung utama, dengerin lagu jadul Amy Grant, terus masuk stand lagi yang gratisan. O iya, ada juga Wishing Well. Kita bisa nulis harapan kita (kata panitianya, “harapan tentang cinta”) dan nanti ditampilin di layar yang bertebaran di Tasha. Tapi di layar yang saya baca kok rada aneh ya harapannya: IP bagus, lulus kuliah…halah…Panitia jelas salah bikin acara depan ITB!

    Di seminar nggak ada game-game-an. Cukup duduk, diam dan dengar. Ngobrol, bertanya, dan cekikikan pada saatnya. Pembicaranya ternyata asyik (yaaa…materinya juga sih). Nggak ada masalah cinta, yang ada studi kasus pernikahan. Nggak perlu juga memandang sinis-skeptis pada yang berpasangan, lah wong judul acaranya aja “Seminar Pra Nikah”…ya yang datang belum pada nikah. Jadi paling kita menertawakan nasib diri sendiri, he33x.

    Di Tasha ada Kerispatih yang tampil live. Kita berempat ke samping panggung dan nonton, tentu saja berjauhan dengan abege-abege, dan tetap dengan tampang yang sama skeptisnya. Di depan saya ada abege 25 tahun (nah lho, bingung kan? Maksudnya abege dengan tampang 25-an, he33x) dengan dandanan aneh, setidaknya menurut teman saya. Di depan kita juga ada beberapa perempuan bukan abege dengan baju seragam biru. Hoo, ternyata pegawai-pegawai di kantin Salman juga ikut nonton Kerispatih…Saya nyari anak asrama Salman, alhamdulillah nggak ada. Nggak perlu juga sih, soalnya dari jendela mereka juga panggung+kerispatih-nya keliatan = p. Karena temanya cinta banget, jelas Kerispatih juga nyanyi lagu cinta. Pas mau nyanyi lagu yang ada “Khiaaaanaaaaaatiiiiiii, sebisa dirimuuuuu mengkhianaaaaaatiiiii” (mohon maaf mungkin panjangnya huruf tak sesuai dengan hukum tajwid), si vokalisnya ceramah tentang orang-orang yang dikhianati sebenarnya sama sekali bukan LOSER! Ceramah yang bahkan bikin Viar, yang paling Don Juan diantara kita, ilfeel dan makin mengernyitkan mukanya.

    Di seminar ternyata ada…Ebith Beat*A, yang ternyata bukan dijadwalkan tampil, tapi sesama peserta, hehehe. Ebith ga nyanyi saha ngaran maneh saha tapi lagunya yang laen, dan kayaknya rada grogi. Karena mendadak kali ya? Nah, kalau disini, saya melihat anak asrama Salman, alhamdulillah. Mungkin karena kali ini Ebith ga keliatan dan ga kedengeran dari jendela mereka = p.

    Abis bosen di Tasha kita ke MTI, soalnya ada briefing untuk acara swasta. Eh, dasar kita nggak tau malu juga, udah enak-enakan di Tasha, datang telat di briefing, protes pula…hihihi. Tapi kita tau diri kok, cuma nanya-nanya dikit aja. Lagian kan kalo kita merasa benar ya sampaikan aja, di MTI juga biasa kayak gitu. Malemnya, kita tepe-tepe bertanya sebagai swasta. Igun udah males duluan dan ngabur ke LSIK (nggak sesuai briefing, katanya. Tapi Igun datang pas evaluasi), Viar juga (tapi dia nitip evaluasi ke gw), Miftah udah balik dari tadi. Tapi demi melihat 2006 yang polos-polos saya memutuskan untuk bertahan (sebenernya sih karena posisi gw aja yang salah. Gw tepat di depan 2006, jadinya susah kalo kabur, hu33x…).

    Sementara di seminar sebenarnya masih ada satu sesi lagi, sayang mamah saya udah nelponin dari tadi dan nanyain mau makan bareng atau nggak. Mengingat saya lagi gak ada duit, ya saya mau-mau aja…= p. Jadilah saya tinggalkan juga seminar itu, ke acara keluarga…

    Yah, begitulah…busyet sebenernya gak penting juga gw nulis ini tulisan segini panjang, yang isinya cuma cerita-cerita doang dan kebanyakan “he33x”-nya (kenapa 33x? biar kayak dzikir! = p). Tapi nggak apa lah. Sekalian gw ngebuktiin juga ke Nizar, you see, nothing happened Bos, tuh gw bisa nulis kan? = p.

    Sorry kalo ada salah-salah kata, terutama buat pihak-pihak yang merasa didiskreditkan dan dibunuh karakternya disini.
    Igun, Viar, segera bayar utang! = p

  • Comments Off
  • Filed under: daily, kehidupan, me
  • TEKNIK INDUSTRI ITB ANGKATAN 2002 (yang tidak datang telat sewaktu difoto)
    Para pria berdiri di belakang (ki-ka): Godong, Chris, Hendry, Adit, Suntar, Fajar, Bonar, Iboy, Raja, Ismail, Komang, Krishna, Adit Solo, Aan
    Para wanita di tengah: Astri, Rina, Intan, Adita, Vetri, Dini, Elva, Mariena, Anggia, Ratna, Nadia, Aliva, Tarcil, Julie
    Duduk di depan: Saya, Roja, Trian, Ical, Bon2, Yuyut, Viar, Beben, Ubrit, Olga, Echa, Tarde, Diko, Dilla, Anis, Dissy.
    Foto bagus ini diambil di depan gedung Labtek III TI oleh temennya Ubrit (sorry, lupa namanya...)


    Suka nonton LOST? Kisah tentang penerbangan Oceanic 815 yang jatuh terdampar di pulau antah berantah yang penuh misteri. Ada beragam karakter yang menarik disana, dan interaksi antar karakter, respon mereka terhadap beragam peristiwa, melahirkan banyak episode yang sangat bagus, terkadang inspiratif.

    Saya selalu merasa keberadaan kami di ITB ini, pada suatu tahun yang akhirnya dinisbatkan kepada kami (Angkatan 2002 TI-ITB), somehow analog dengan kisah di serial favorit saya itu. Seperti penumpang Oceanic 815, kami tidak saling mengenal (OK, beberapa memang telah saling mengenal) sebelum jatuh terdampar di rimba TI-ITB. Seperti juga mereka, kami masing-masing punya beragam latar belakang dan motif sehingga terdampar di TI ini. Tapi tiba-tiba, atas kuasa-Nya, begitu saja kami dipertemukan dan bahkan diharuskan utnuk mau tidak mau bersama untuk survive, seperti juga Jack dan kawan-kawannya yang mau tidak mau harus bersama dan bekerja sama untuk tetap survive di pulau antah berantah tersebut. Sudah nasibnya…

    Kami tidak dipimpin oleh orang seperti JAck yang dokter, macho, atletis dan sangat kompeten, tapi kami juga tak pernah mengeluh dipimpin oleh JAlu yang chubby dan sangat berwibawa (yah…minimal awalan “JA” dari Jalu dan Jack sama lah…). Tidak ada Kate yang kuat dan kekar, tapi ada banyak wanita diantara kami yang juga tak kalah kuat dan sangat membantu keseluruhan kami. Di awal-awal masa terdamparnya kami di ITB, to some extent, panitia dan orang-orang yang terlibat di PPAB MTI mungkin berperan seperti the Others dalam serial tersebut. Beberapa ada yang tetap tak bersepakat dengan ‘the Others’ itu, tapi banyak juga yang sepakat, dan itu tak mengubah apapun saya rasa.

    Nah, seperti yang saya katakan di awal, mau tidak mau kami harus bersama untuk survive. Maka dimulailah proses saling kenal mengenal. Ini juga bukan proses yang mudah, mengingat begitu beragamnya kami. Ada banyak tugas kuliah untuk dikerjakan, proses-proses ospek yang melelahkan, serta kegiatan-kegiatan bersama untuk dijalani. Ada banyak kemarahan, gerundelan, gumaman, ketidakpuasan, protes, tangisan, kebahagiaan, keharuan, gosip, bahan tertawaan, pertengkaran (?)…Ada satu cinta yang sudah dikonkretkan (selamat buat Bunga & Tony! Di foto tidak ada karena mereka berdua sedang sibuk menyiapkan pernikahan). Keseluruhan yang pernah dijalani tersebut akhirnya melahirkan semacam rasa saling pengertian, rasa maklum…semacam ungkapan, “iya lah, dia kan orangnya kayak gitu…”, tapi tanpa rasa sinis atau benci. Hanya rasa maklum, mengerti, dan insya ALLAH tetap saling membantu. Yah, mau gimana lagi? Mau nggak mau kita tetap harus survive dan bisa lolos dari jeratan pulau maut ini.

    Sudah hampir 4,67 tahun kami bersama (kalau di LOST udah season 4), dan sebagian dari kami telah lebih dahulu lolos dengan selamat dari pulau ini. Selebihnya lagi akan menyusul nanti. Kami memasuki episode-episode akhir dalam serial ini.

    Tapi kenangan, jejak yang ditinggalkan (minimal buat saya), selalu ada dan terbawa kemanapun.

    I LOVE YOU ALL!!

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri, kehidupan
  • Devil in the Detail

    : untuk Pak Abdul Hakim Halim

    Apa pelajaran yang bisa diambil setelah mengerjakan TA selama sekitar 5-6 bulanan? Mmm, bukan 5-6 bulan sih kalau waktu efektifnya…Agustus hingga Desember masih sangat santai, baru Januari akhir agak-agak sibuk. Sejak Desember juga sebenarnya pengolahan data saya sudah 90% beres, tinggal dipresentasikan ke dosen pembimbing. Nah, setelah dipresentasikan dan OK, barulah saya disuruh menulis.

    Ternyata menulis untuk TA itu susah! Beda dengan menulis di blog…=P. Setelah pertengahan Januari itu, saya kira akan bisa cepat sidang. Nyatanya tidak, malahan saya harus bolak-balik hampir tiap hari dengan beragam revisi.

    Setan ada dalam rincian. Ia bersembunyi, menunggu dengan sabar, lalu akan menyelinap cepat dan menjerumuskan. Nah, selama sekitar 2 minggu terakhir sebelum deadline itulah saya (terpaksa) melihat dalam ruang-ruang kecil dalam tulisan dan membunuhi setan-setannya…

    Saya bersyukur dibimbing dengan dosen yang sangat memperhatikan detail. Awalnya bikin frustasi sih, tapi di titik kejenuhan, tuntutan itu memaksa saya untuk mengubah paradigma saya dalam mengerjakan TA. Sebelumnya, untuk TA ini, buat saya adalah “kerjakan, yang penting cepat selesai”. Ini juga berlaku untuk tugas-tugas kuliah lain sebelumnya. Kerjakan, selesaikan. Saya tidak terlalu mencintai apa yang saya kerjakan, tapi tetap saya kerjakan, asal selesai. Tak pernah ada perhatian untuk hal-hal kecil. Makanya saya juga sering nggak sabaran kalau sekelompok dengan mahasiswi yang lebih sering mendetail dalam menyelesaikan tugas. Hasil dari paradigma itu memang sesuai dengan yang saya inginkan: selesai. Tapi sering ada banyak kesalahan, yang kalau saya beruntung tidak ketahuan sehingga bisa tetap dapat A, tapi jika sedang sial ya ketahuan dan dibantai saat presentasi. Rasanya sih, sepanjang kuliah saya menjalaninya seperti itu…

    Nah, di puncak frustasi itu saya dipaksa, mau tak mau, mengubah cara berpikir saya tentang mengerjakan TA ini. Detail! Maka saya lihat lagi seluruh pengolahan data, dan kesalahan-kesalahan yang ada. Saya baca lagi seluruh tulisan, membenarkan semua kesalahan ketik, mengganti beberapa kata yang kurang pas, mengubah struktur kalimat yang sebelumnya secara akademis kurang logis atau malah ambigu, memberi nama tabel dan gambar dengan benar, dan lain-lain. Pekerjaannya berat, capek, dan stress, tapi enjoy dan setelah di-approve untuk sidang rasanya sangat puas…

    Waktu sidang juga alhamdulillah nggak grogi dan malah bisa sedikit menikmati. Pertanyaan-pertanyaan penting yang diajukan sudah pernah terpikirkan dan dibahas bareng dengan dosen pembimbing saya. Termasuk juga bagian yang membuat saya bingung, karena waktu sebelumnya dibahas pun saya dan beliau (dosen pembimbing saya itu) juga bingung…hehehe. Akhirnya memang beliau merasa bertanggungjawab dan menjelaskan, alhamdulillah…Hasilnya juga lumayan baik, untuk tulisan dapet A, seminar dapet A, sehingga apa boleh buat (ini kalimat ang dipakai dosen pembimbing saya) TI-40Z1 Tugas Akhir dapet A…

    TA selesai, sidang sudah. Lalu apa?
    Waktunya tambah bersyukur, sit back, relax, and THINK. Banyak sekali yang harus dipikirkan dan dikerjakan nanti.

    Mohon doanya.

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Refleksi, Teknik Industri, kehidupan
  • Nasib Buku-Buku Saya Sekarang

    Kalau masalah buku, saya ini benar-benar menjadi impulsive buyer. Ingat, ‘buyer’ ya, bukan ‘reader’…Rasanya nggak nahan kalau ngeliat buku-buku bagus. Kalau pulang dari toko buku atau pameran dan gak beli buku bagus itu, pasti pikiran itu menggedor-gedor terus lalu menyeruak, dan akhirnya saya kalah juga…akhirnya pasti beli kalau ada kesempatan.

    Kalau masalah baca sih…nanti dulu…Entah sekrang-sekarang ini sibuk atau emang lagi males aja, yang jelas dikit sekali yang beres apalagi telah tersintesiskan menjadi tulisan. Berikut daftar recent books dan nasibnya yang tidak jelas sekarang, hanya dionggokkan saja di meja yang dijadikan tempat buku sementara. Daftarnya dikit dan memang buku yang baru dipinjam/dibeli sejak saya pindah dari Sukarno-Hatta lalu ke Kelapa gading lalu ke Sedang Serang. Soalnya, buku-buku yang dulu ada di rumah udah dibawa semua ke Cirebon… (termasuk buku-buku pinjeman, hehehe. Beribu maaf buat Echa yang bukunya dulu banyak saya pinjem dan belum balik, buat Trian, Ikhsan, juga Miftah).

    Ali Syariati Biografi Politik: baru nyampe masa dia muda…
    Syarah Rasmul Bayan: buku ‘wajib’, isinya cuma banyak tulisan arab dan garis-garis doang…hehehe.
    Dalam Rimba Bayang-Bayang (mochtar pabottinggi): beberapa puisi saja yang dibaca. Tapi, pengantar dari Ignas Kleden tentang puisi dan pengetahuan puitik dahsyat abis!
    The 8th habit: lumayan, udah hampir selesai.
    Teluk Wengkay (Korrie Layun Rampan): ga ada satu cerpennya pun yang saya baca abis.
    Mestakung: abis, ini emang bacaan sekali duduk.
    Bagaimana mengisi hidup (bagus takwin): abis juga. How to, lagi suka sih…
    Il Principe : baru bagian awal ke tengah.
    9 Oktober 1740 (Remy Sylado): bagian adegan awal…
    Serial Komentar Peristiwa Ekonomi (1965-1969, 1970-1974, 1975-2000): not a single page!
    Ketika cinta berbuah surga: beberapa kisah saja.
    Seks tak sekedar birahi (Aam Amiruddin & dr. Hanny): entahlah, tapi yang ini hampir finish…;-p
    Dasar-dasar ilmu politik (Miriam Budiardjo): bagian sejarah awal, posisi ilmu politik, dan tentang parpol aja.
    Potret sehari-hari Imam Khomeini: abis! Buku keren nih!
    Fiqh Dakwah (Musthafa Masyhur): bagian tentang definisi doang…
    V for Vendetta: ¾-nya beres.
    How to do cultural & media studies: ½ -nya udah.
    Balairung edisi 40: not a single article!
    Business Ethics: bagian tentang “work” aja.
    The Great Train Robbery (Michael Crichton): 10 halaman pertama.
    Teori Relativitas Einstein, penjelasan populer untuk umum: ketipu judul. Baca ampe tengah tapi tetep gak ngerti.
    Sungai dari firdaus (Dawkins): baca 2 bab awal. Analoginya keren. Ini jadi mirip cerita mitologis tentang evolusi.
    A development manifesto (mubyarto): baca pengantarnya doang…
    Bali 2day: baca beberapa artikel aja.
    Islam sebagai dasar negara: pidato legendaris M. Natsir. Very recommended.
    War & Peace: baca baru 40 halaman…dari…err, 1392 halaman??!!
    Bruce Lee artist of life: some tao & philosophical related articles…menarik loh ternyata Bruce Lee itu. Dia mahasiswa filsafat dan banyak menulis esai filsafat juga, gak hanya jago berantem.
    Nyanyian Revolusi (Pablo Neruda): buku yang terjemahannya salah satunya gini bunyinya: Kebebasan dengan Medina Angarita kepantasan dengan Romulo Galegos melintasi Venezuela yang bebas seperti burung-burung dari tanah-tanah lain terus terbang dan binatang-binatang jahanam kembali menteror untuk mengembangkan ketakutan dan mengganyang. Ada yang tau maksudnya? Emang gaya dia gini ya?
    Baudolino (Umberto Eco): hampir selesai.
    Open Society-nya Soros : baru nyampe tentang konsep refleksifitas.
    Berguru pada ALLAH: baru 3 bab, tapi bagus nih buku…

    Gawat juga…Apalagi kalau dibandingkan dengan ini sodara-sodara:

    TA: telah 47 mb file TA gabung, dan total 202 mb padahal cuma file-file word dan excel.
    Toyota production System, Lean Manufacturing, dkk: dibolak-balik…

    Lebih gawat lagi kalau dibandingkan dengan ini:

    Football Manager (game keren!): nyampe tahun 2011, udah jadi manager di Inter, Arsenal, Inggris dan Brazil (tapi gw nyerah deh kalo dibandingin ama kerjaannya Aan atau Adit…).

    Sekarang saya lagi bawa-bawa The World is Flat kemana-mana, dan bertekad gak baca yang lain dulu sebelum ini beres.

    Saya juga lagi ngidam mo baca Collapse (Jared Diamond), someday saya baca deh…Terus, Menjadi Indonesia yang dari Mizan itu lho, ama buku barunya Ismail F. Alatas. Karya Lengkap Driyarkara juga kayaknya bagus tuh (minimal buat dipajang di rak), Sesudah Flsafat juga. Tapi gak terlalu worthed kalo dibeli.

    Sudahlah. TA, TA,TA!!! :-D

  • Comments Off
  • Filed under: Refleksi, buku, kehidupan