Sebuah aggregator blog..
17 Aug
Saya membaca artikel kompas yang ini. Ini melahirkan pertanyaan: apa itu kesejahteraan?
Cerita ringkasnya begini. Pemkab Pati mengizinkan pembangunan pabrik semen gresik di Sukolilo. Untuk kesejahteraan warga, katanya. Namun, ada warga Sukolilo (dimotori komunitas sedulur sikep, kelanjutan gerakan saminisme) yang tak sepakat dan melawan. Kami merasa selama ini sejahtera, katanya.
Jadi apa itu kesejahteraan?
Untuk pemkab, indikator kesejahteraan adalah ketika ada investasi masuk. Investasi tentu membawa modal, memberi nilai tambah pada sumber daya yang ada, menciptakan trickle-down effect, menaikkan pendapatan daerah dari beragam pajak dan lain-lain. Lalu warga bisa memiliki lebih banyak uang, mendapat akses yang lebih baik untuk pendidikan, terjadi kenaikan kelas sosial, dan mengerek kesejahteraan warga lain. Dari sisi pemkab, tersedianya lebih banyak pendapatan juga bisa dimanfaatkan untuk fasilitas publik yang lebih baik: dibangun fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, sarana transportasi. Pada akhirnya, kesejahteraan warga & daerah meningkat.
Tentu saja ada risikonya, kata pemkab. Alam bisa rusak. Tetapi, selama Amdal dijalani, aturan ditegakkan, no problem.
Logis saja, saya kira.
Menurut penduduk sedulur sikep: ”Dari dulu warga Sedulur Sikep tidak pernah kelaparan. Kami tidak miskin. Pemerintah saja yang selalu salah tanggap, menganggap kami miskin sehingga kami dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat adat tertinggal sehingga harus diberi bantuan. Padahal, kami tidak pernah meminta bantuan,” (dari artikel yang sama).
Juga benar.
Jangan bicarakan kesejahteraan dalam konteks masyarakat atau negara. Tepri ekonomi ratusan tahun pun belum beres membahasnya. Dari sisi personal finance, misalnya, “sejahtera” berbeda dengan “kaya”. “Sejahtera” didefinisikan dengan satuan waktu, sementara “kaya” dalam satuan mata uang. Kalau nilai aset anda 2 M, dan anda punya utang 1 M, maka kekayaan anda adalah 1 M. “Kekayaan” adalah what you own. What you own is what you have minus what you owe. Tambahan lagi, kekayaan (tanpa kata yang mengikuti di belakangnya ) adalah what you own yang bisa dinilai dalam satuan mata uang.
Kesejahteraan dinilai dalam satuan waktu. Kalau anda punya 2 M, lalu biaya hidup anda setahun, dengan gaya hidup anda sekarang, adalah 20 juta, maka tingkat kesejahteraan anda adalah 100 tahun. Tentu ini perhitungan kasar yang tak melibatkan tingkat inflasi. Untuk definisi lebih detil, menurut para pakar, kesejahteraan adalah berapa lama anda bisa hidup seperti biasa tanpa bekerja dengan apa yang anda punya sekarang dan apa yang akan datang kemudian (maksudnya passive income).
Mengikuti definisi di atas, point penting dalam kesejahteraan personal ialah gaya hidup. Mereka yang berpenghasilan 30 juta sebulan tidak lebih sejahtera daripada mereka yang hanya dapat 3 juta per bulan, bila yang pertama membutuhkan 33 juta untuk hidup sebulan. Siapa yang menentukan gaya hidup anda? Ya anda sendiri. So, ujung-ujungnya menjadi sejahtera adalah seperti juga menjadi bahagia: tergantung pilihan anda. Namun bukankah ada standar? Bagaimana bisa orang yang hidup di gubug beralas tanah lebih sejahtera daripada orang di kondominium mewah? Lagi-lagi, dari segi personal, tergantung apakah anda merasa (memilih) untuk cukup berbahagia & oke-oke saja dengan kondisi itu atau tidak.
Semua yang sedang mengejar kesejahteraan sepertinya harus menjawab pertanyaan ini: “when enough is enough?”. Tidak pernah ada kata cukup, kecuali kita sendiri yang bersyukur dan bilang, “Ya, ini cukup”.
Menjadi lebih sulit ketika dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Di masyarakat, misalnya. Standar yang digunakan berbeda. Pemkab menilai penduduk Sukolilo itu miskin dan masih perlu disejahterakan. Penduduk Sukolilo bilang, kami selama ini merasa sejahtera saja. Bisa terus hidup, selama air dan sawah terjaga. Justru ketika itu terancam atau rusak, kesejahteraan kami terganggu.
Pemkab, sebagai pemerintah/penguasa, memaksakan pandangannya akan kesejahteraan kepada rakyat yang dikuasainya. Sayangnya, ide ini tak diamini oleh sebagian warganya, karena ya itu tadi, pandangan akan kesejahteraannya berbeda.
Lalu bagaimana? Entah, saya juga bingung. Kesejahteraan itu apa ya?
Jika saya pemkab…Saya tak akan memaksakan pembangunan pabrik itu, jelas. Pemerintah hanyalah wakil, membawa suara rakyatnya. Kalau rakyatnya merasa sudah sejahtera, ya sudah. Atau, pemerintah terus berkampanye hingga seluruh warga mengubah idenya tentang kesejahteraan menjadi kesejahteraan versi pemerintah. Keadaannya tentu berbeda kalau pemerintah mendapat insentif lebih dari pendirian pabrik, dalam kerangka kesejahteraan yang mereka pahami. Kalau dengan pendirian pabrik lalu ada pemasukan-pemasukan gelap, ada tambahan dana untuk beragam fasilitas pemerintah…Kita jadi lebih mengerti kenapa pemkab begitu ngotot. Untuk kesejahteraan sendiri, bukan untuk kesejahteraan daerah.
Rasanya, kita perlu mendefinisikan kesejahteraan yang tak bertalian dengan materi. Lalu dengan apa? Masih belum jelas. Dengan kebahagiaan, misalnya. Atau harmoni. Kebercukupan. Keberlanjutan.
Sayang, susah mengukurnya. Ada ide lain tentang kesejahteraan?
14 Dec
Waktu zaman saya mahasiswa dulu , selalu saja ada teman-teman yang bersemangat dan bertanya-tanya ‘quo vadis mahasiswa sekarang’, ‘gimana nih kemahasiswaan’, dan lain-lain. Karena banyak juga yang heboh nanya-nanya dan membahas, dan saya hanyalah mahasiswa yang ngikut tren, jadilah pula saya memikirkan.
Saya baca sejarah. Rasakan semangat zaman di tiap eranya. Dengerin doktrin omongan senior-senior, yang bener maupun keblinger. Zaman dulu kayak apa sih? Sekarang zamannya apa ya? Kecenderungan ke depan gimana? Apa hubungannya ama mahasiswa? Jadi, seharusnya mahasiswa gimana?
Kesimpulan saya dulu sederhana: khilafah conscientizao atau consciencetization. Ada yang menerjemahkan konsaintisasi (aneh banget!). Kemarin di Kompas ada yang menggunakan kata ini dan diterjemahkan sederhana: kesadaran kritis. Yang lain-lain itu cuma pernak-pernik, dan dilakukan dalam rangka mengkampanyekan kesadaran kritis ini. Bukan membangun institusi, melakukan pergerakan bersama, apalagi melawan tirani. Emang, buat apa membangun institusi kalau arahnya juga tidak jelas? Ngapain ngotot mau gerak bareng di tengah era fundamentalisme hedonisme (istilah yang aneh...)? Tirani mana yang mau dilawan?
Conscientizao adalah tujuan pendidikan Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed. Buku yang konon jadi buku wajib mahasiswa ITB. Makanya saya cari mati-matian (susah bo nyarinya! Udah ga terbit lagi tuh buku...), akhirnya nemu di Palasari, dan saya baca *bahan untuk ngantuk menjelang tidur*.
Kesadaran kritis itu, intinya, adalah kondisi pikiran dalam mempersepsi lingkungan sekitar (dalam pengertian luas, semua hal lain yang kita hadapi) dengan melihat aspek sistem dan struktur. Bisa aware dan menganalisis secara kritis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya (termasuk pelakunya), dan jika ada (pasti ada sih...),mengidentifikasi dan menyadari ketidakadilan dalam masyarakat dan bagaimana mentransformasikannya. Misalnya kasus kemiskinan. Seharusnya kita sadar kemiskinan bukanlah masalah takdir dan kemestian (ada yang kaya, ya ada juga yang miskin...). Kalau ini sih kesadaran magis, kata Freire. Kemiskinan juga bukan karena kebodohan, kesalahan, kekurangrajinan orang-orang miskinnya sendiri (blaming the victim; kata Freire ini orang dengan kesadaran naif). Tetapi, kemiskinan harus dilihat: jangan-jangan yang terjadi adalah pemiskinan? Karena ada pembatasan akses kepada kesejahteraan, misalnya dengan sekolah yang mahal atau diprivatisasi. Atau malah ada perampokan oleh korporat yang ’berdiplomasi’ dengan pemerintah, sementara rakyat kebanyakan dibiarkan tetap miskin. Atau karena korupsi. Jadi, setiap masalah dianalisis dengan kaidah-kaidah saintifik (makanya ada kata ’science’ dalam conscientization), lalu dilihat: oh, ternyata ini yang menyebabkannya...
Sebenarnya conscientizao itu target minimal, soalnya yang lain tak kelihatan feasible untuk dilakukan saat itu. Pikiran sederhana saya waktu itu, karena kita kan pasti ga jadi mahasiswa lagi (entah lulus atau DO), minimal kesadaran kritis ini terbawa lah setelah keluar. Jadi, misalnya dia ntar kerja di KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), minimal dia tau dan sadar bahwa operasinya nanti diganti lewat cost recovery (atau mungkin gaji dan fasilitasnya? Overhead kantor juga cost recovery kan?), jadi dia kerja dengan bertanggungjawab dan seefisien mungkin, karena ntar-ntar juga diganti ama duit negara pajak rakyat. Yang jadi bos-bos di perusahaan minyak negara nanti, misalnya, bisa nurut kalau pemerintah sekarang katanya mau mengefisienkan BUMN, termasuk lewat pengurangan fasilitas pegawai. Konsekuensi yang bergerak di pemerintahan atau sektor amal sosial mah udah jelas lah ya...
Namun ternyata itu juga susah, bahkan gagal. Sampai saya lulus, ga jelas dan ga berhasil juga...Masih ga cocok dengan zamannya, mungkin?
Ini ada sebuah ide. Saya jamin cocok dengan zamannya.
Belajar yang rajin, lulus cepat, dan jadilah makhluk kaya sekaya-kayanya. Kalau ada tawaran aktivitas, timbanglah: apa manfaatnya buat saya? Apa bisa mempercantik CV saya sehingga bisa dijual ntar, apakah akan menambah jaringan saya ke politisi-cum-pemilik dana ga jelas untuk diserahkan pada proposal bisnis yang nanti saya bawa? Apa bisa mengajari skill dan keahlian sehingga saya bisa jadi engineer yang ekstra spesialis yang dibayar sejam 4000 dolar? Apa ada relasinya yang bisa jadi klien saya ntar? Kalau tidak ada manfaatnya, tolak saja! (manfaat tak harus moneter, tanya juga: apa ada yang potensial untuk menjadi pacar kamu?). Hal-hal ga jelas itu hanya akan memperlama waktu kamu di kampus! Dan kalau omongan senior-seniormu itu benar, bahwa kuliah di ITB itu dibayar PAJAK RAKYAT, maka mendingan lulus cepat bukan? Biar rakyat ga lama ngebayarin kamu. Jangan dengerin senior kamu, apalagi yang lulus 7 tahun: dia sendiri paling lama menikmati pajak rakyat. Mendingan kamu, tho? Cuma dibayarin rakyat 3,5 tahun.
Sekali lagi, jangan pernah dengerin senior-senior dengan paradigma mahasiswa lama yang kolot dan tidak progresif. Ini era fundamentalisme pasar, bung! Homo paling oeconomicus lah yang akan menang. Jadilah mahasiswa dengan paradigma masa kini, market-paradigm!
Jangan pernah mau diospek ga jelas, apalagi kalau dibilangin kalian harus berjiwa sosial, peduli sesama, dan lain-lain. Mana ada altruisme yang menyelesaikan masalah? Pasar lah yang akan mengatur dan menyelesaikan masalah, bukan kebaikan para filantrop. Berapa yang telah disumbangkan Bill dan Melinda Gates, Warren Buffet, atau orang-orang dermawan lain? Berapa jumlah penduduk yang masih miskin?
Lebih banyak yang bisa kamu lakukan kepada rakyat dengan menjadi kaya sekaya-kayanya. Buatlah korporasi besar, berapa juta jiwa yang akan kamu gaji? Dari berapa juta jiwa itu, berapa jumlah keluarganya? Belum lagi yang kena multiplier effect. Banyak sekali kan? Efeknya lebih besar daripada sumbangan 100 juta dolar sekalipun.
Lho, tapi kan nanti ada ketimpangan? Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin? Bukan salah kamu! Itu pemerintah yang gak bener. Yang gak bikin institusi dan regulasi yang baik untuk rakyat. Kamu bayar pajak, kamu taat hukum, bahkan kamu menggaji banyak karyawan. Peraturan keblinger tentang Coporate Social Responsibility juga kamu ikutin. Salah siapa? Jelas bukan kamu. Ini salah pemerintah.
Dan siapa sih pemerintah itu? Senior-senior kamu juga, dengan paradigma lama yang tidak progresif dan ketinggalan zaman dulu itu. Senior-senior kamu dulu yang menceramahi kamu untuk berjiwa sosial, yang karena gak ada kerjaan masuk partai atau LSM, lalu kebelet untuk berkuasa dan sekarang di pemerintah. Nah, keliatan kan? Mereka malah gak bener kerjanya, dan jadi pihak yang paling berpengaruh memiskinkan rakyat. Jelas, mendingan kamu, wahai mahasiswa rajin-lulus cepat-lalu kaya dahsyat.
Jadilah pegawai di perusahaan terbaik di dunia, kalau bisa ya jadi ekspatriat di negeri orang dengan gaji dollar. Lagi-lagi kamu berjasa: kamu bawa dolar dari luar negeri dan menjadi pahlawan devisa yang lebih banyak membawa duit daripada para pahlawan devisa tapi selalu disiksa pemerintah dan aparatnya itu (ingat, siapakah mereka? Senior kamu juga dulu!). Kamu membawa dolar, mengharumkan nama Indonesia sehingga tak hanya dikenal karena pemerintahnya yang aneh. Sekali lagi, siapa yang lebih nasionalis, lebih berjasa buat bangsa Indonesia?
Jadilah kritis! Skeptislah dengan omongan senior-seniormu, apalagi dengan paradigma kolot. Nanti, di masa depan, kamu yang gantian menyalahkan dia: hoi pemerintah, kerja yang bener! Makan duit pajak gw aja lu!
Bangun kesadaran kritis: lihatlah, jadi siapa yang menyengsarakan Indonesia? Pemerintah, yang isinya senior-senior kamu dulu!
Ingat, pikiran ini harus disebarkan. Ada omongan senior kamu yang benar: bahwa kampus adalah tempat kampanye beragam pemikiran. Sudah bosan kan kamu, dengan fundamentalis agama yang macem-macem, dari mulai yang apolitis sampai yang kerjanya demo nuntut khilafah? Dengan mahasiswa sosialis dari sosialis yang ‘pasar-sosial’ (istilah apa pula ini?) sampai yang kiri-utopis? Tapi masalah tak juga selesai? Bayangkan kalau mereka mewariskan pikiran-pikiran lamanya yang tak menyelesaikan masalah ke teman-teman dan adik-adik kamu! Mau jadi apa negara ini? Kamu harus bisa membuat kutub baru, para mahasiswa fundamentalis pasar. Ya, ini buat kebaikan kamu juga, tapi seperti yang telah kamu baca di atas, akhirnya bangsa dan rakyat juga untung kan? Kamu untung, bangsa untung. Pertamina aja kalah.
Sebarkan! Buat mentoring. Kuasai lembaga kemahasiswaan yang dulu jadi sarang senior kamu yang tidak progresif itu, karena strategis sekali untuk kampanye pikiranmu. Koalisi dengan rektorat, yang tampaknya lebih progresif meskipun lebih tua (siapa bilang yang muda yang progresif?) dan bisa mendukung pikiranmu. Ih egois banget! Ini buat kamu doang? Katakan dengan keras: YA! Tapi secara makro, semua nanti juga akan untung. Minimal, lebih baik daripada usulan solusi mereka, yang dari jaman mulai pergerakan mahasiswa dulu tak menyelesaikan masalah.
Salam hebat! Biarkan uang yang bekerja untuk anda!
;p
27 Oct
Naomi Klein menyodorkan sebuah kemungkinan jawaban. Ia melihat, pada satu sisi demo-demo perlawanan kini telah dibuat lebih global oleh para selebriti rock and roll, dengan pelopornya penyanyi Bono dari kelompok musik U2. Bono dan kawan-kawan telah membuat banyak kaum muda sadar akan persoalan dunia. Berkat mereka kesadaran kaum muda akan adanya ketidakadilan global kian meningkat. Ratusan ribu kaum muda hadir dalam konser-konser amal yang mereka gelar dengan tema antikemiskinan, antipemanasan global, pembebasan dari utang, dan lain-lain.
Meski demikian, konon konser-konser itu membuat banyak penggemarnya kurang terdorong mencari solusi konkret. Mereka suka "terharu" akan berbagai penderitaan dunia, tetapi tidak berminat membongkar sistem dan struktur penyebabnya.
Muncul gejala menarik. Di satu sisi kian banyak kaum muda peduli penderitaan dunia, di sisi lain banyak yang sudah puas hanya dengan merasa tersentuh akan penderitaan itu. Oleh Klein gejala itu disebut sebagai Bonoisasi (Klein: 2007).
Menurutnya, berkat inisiatif mulia yang dipelopori Bono dan kawan-kawan, kini banyak kaum muda lebih suka pergi ke lokasi-lokasi konser untuk "melawan kemiskinan" atau ke mal dan membeli gelang warna-warni bertuliskan "Anti-Globalisasi" daripada turun ke jalan menuntut tata ekonomi dunia yang lebih adil. Klein mengamati, belakangan banyak kaum muda lebih suka melampiaskan semangat aktivisme politiknya melalui fasilitas blogspot di internet. Lokasi konser, mal, dan internet tentu lebih nyaman sebagai tempat "perlawanan", tetapi perlawanan macam itu apakah mampu mengubah struktur ketidakadilan? Perlu dipertanyakan.
Saya memakai blogger (blogspot), bukan wordpress atau penyedia layanan weblog gratisan lain. Jelas saya kena bonoisasi, he33x.
Ini pengingat yang baik, dan pengisi kekosongan tulisan bulan ini.
13 Mar