Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Harian’ Category

Kenapa mulai dengan rumah?

Saya punya beberapa alasan kenapa rumah menjadi salah satu milestone penting dalam hidup seseorang dalam merangkai kehidupannya.

1. Kebutuhan rumah tinggal. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa rumah termasuk kebutuhan dasar manusia, yang kita ingat dulu terdiri atas sandang, pangan dan papan (tempat tinggal). Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal.

Bisa jadi memang tempat tinggal tidak harus berbentuk rumah, misal gua jika di hutan atau apartemen jika di kota besar zaman sekarang. Tapi pada dasarnya tetap, tidak bisa tidak, bahwa setiap manusia membutuhkan tempat tinggal (rumah).

Lalu seiring perkembangan kehidupan manusia, dunia properti pun semakin dinamis sesuai karakter manusia masa kini. Dan tren masa kini tampaknya anak muda mapan lebih suka berburu rumah dibandingkan harus tetap tinggal bersama orang tuanya.

2. Harga rumah semakin mahal. Ini kita ketahui dan patut disadari bahwa setiap tahun harga tanah dan rumah naik cukup besar (bergantung lokasinya). Dan buat kalangan yang mengandalkan kredit kepemilikan rumah dari potong pendapatan bulanan, perlu diwaspadai bahwa kemungkinan kenaikan harga tanah dan rumah per tahun selalu di atas kenaikan pendapatan per tahun.

Dengan demikian berlaku ’hukum’ bahwa semakin cepat membeli rumah, maka akan semakin menadapatkan harga rumah optimal. Apalagi untuk orang yang secara finansial mampu, sudah selayaknya untuk segera memilki rumah sedniri. Tentu saja cepat membeli rumah ini harus dibarengi dengan ilmu dan teknik dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek kehidupan masa depan.

3. Investasi stabil. Di bandingkan investasi jangka panjang lainnya, rumah paling stabil. Margin mungkin tidak akan sampai melebihi jika ’bermain saham’ atau reksadana, tapi kemungkinan loss dalam investasi rumah pun jauh lebih kecil. Dalam situasi gonjang-ganjing ekonomi dunia saat ini, maka memilki rumah cukup menjaga nilai asset kita.

Resiko mendasar dalam investasi rumah memang sulit mencairkannya kembali, dibandingkan dalam instrumen keuangan. Ini mungkin kelemahan investasi dalam rumah, tanah atau tempat tinggal. Tapi bisa juga ini dipandangn sebagai kebutuhan pertimbangan matang dalam melakukan investasi tersebut. Intinya, jika punya kecukupan dana berlebih tidak lantas diguyur untuk membeli beberapa tempat tinggal, namun cukup sesuai dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek masa depan.

4. Pengeluaran tepat orientasi asset. Ini alasan yang sangat praktis, bahwa pengeluaran dalam bentuk uang sewa tidak akan menghasilkan asset. Sewa rumah untuk tinggal atau kamar kos, selamanya tidak akan menjadi asset penyewanya.

Jadi lebih baik melakukan kredit rumah (sama-sama pengeluaran rutin bulanan) daripada pengeluaran untuk sewa tempat tinggal. Karena kredit rumah (tempat tinggal) pada periode akhir kredit akan menghasilkan asset kepemilikan penuh rumah, sedangkan sewa tidak akan menghasilkan asset selamanya.

Walaupun memang relatif lebih murah untuk sewa dibanding kredit pembelian. Tapi dengan pertimbangan sekecil apapun rumah itu kalau kepemilikannya sendiri maka akan menjadi bagian tetap asset kita.

5. Alasan Emosional. Ya..karena alasan emosional sehingga memutuskan untuk cepat membeli rumah. Bukan karena tuntutan, tapi lebih tepatnya karena tekad dan kemauan tertentu.

Misalnya, seorang suami yang ingin segera mempunyai rumah untuk tempat tinggal istri atau keluarganya. Atau, seseorang yang punya tekad ingin memiliki rumah sendiri sebelum menikah maka dia berusaha mewujudkan sungguh-sungguh tekadnya itu. Filosofinya ingin mempunyai rumah dulu, kemudian baru mencari ’yang mengurusi rumah’ tersebut.

Lalu ada juga yang tersinpirasi karena sebuah cerita pendek. Koq? Ya.. anda harus percaya bahwa ada yang salah satu inspirasi ingin memiliki rumah sendiri karena cerita tersebut. Dalam cerita tersebut memang digambarkan tentang sebuah perselingkuhan yang tidak berhasil, dimana akhirnya laki-laki kembali ke istrinya kembali. Hal itu karena sang istri mensyaratkan suami sebelum mencerainya untuk membopongnya keluar rumah setiap pagi selama 30 hari seperti halnya dulu suami membopong istrinya pertama memasuki rumah itu setelah menikah.

Masuk akal? Tidak perlu berpikir terlalu dalam tentang alasan emosional itu. Hanya sebuah alasan dan masing-masing orang juga berbeda. Dan lima alasan diatas, menurut saya sudah cukup kuat untuk menjadi pertimbangan penting memilki rumah dalam menapak tahap kehidupan.

***

Buat saya pribadi, contoh alasan kelima diatas (rumah sebelum menikah) tidak akan mengurangi sedikitpun rasa respek saya buat teman-teman yang telah berani menikah terlebih dulu. Jadi buat yang sudah di ambang pintu menuju pernikahan, harus makin mantap dengan pernikahannya tersebut.

Pun keinginan saya tersebut belum tentu tercapai (mohon do’anya ya, amin). Dan menurut saya, mengurus pembelian rumah tidaklah serumit (dan se deg-deg an) daripada menyiapkan sebuah pernikahan. Betul kan kawan? :)

  • Comments Off
  • Filed under: Finance, Harian, Keluarga
  • Dokumen Penilaian Rumah

    Penilaian rumah yang dilakukan oleh pihak ketiga (agen independent) digunakan sebagai dasar bagi yang berkepentingan. Buat yang hendak mengajukan kredit pembelian rumah kepada Bank atau perusahaan, maka penilaian rumah (appraisal) ini sangatlah penting. Karena harga yang ditawarkan penjual belum tentu menggambarkan keadaan rumah yang sebenarnya, sehingga penilaian ini menjadi dasar penentuan dana cair untuk pembelian rumah tersebut.

    Pendekatan dan metode penilaian yang digunakan adalah;
    1. Pendekatan Data Pasar
    Pendekatan ini mempertimbangkan penjualan dari properti sejenis atau pengganti dan data pasar terkait, serta menghasilkan estimasi nilai melalui proses perbandingan. Biasanya, properti yang dinilai dibandingkan dengan properti yang sebanding yang telah terjadi maupun dalam tahap penawaran penjualan dari suatu proses jual beli.

    2. Pendekatan Biaya
    Metode ini digunakan untuk menentukan suatu nilai properti berdasarkan perhitungan seluruh biaya-biaya yang diperlukan untuk pengadaan, pembangunan/penggantian properti yang identik. Nilai yang dihasilkan disebut nilai reproduksi. Dari biaya reproduksi ini, dilakukan penyesuaian berupa penyusutan akibat kerusakan fisik, kemunduran fungsional, dan kemunduran ekonomi.

    Dalam laporan penilaian, disebutkan juga uraian properti yang dinilai. Mulai dari lokasi dan peruntukan, fasilitas dan keadaan lingkungan, data kepemilikan tanah, perijinan, dan penggunaan terbaik dan tertinggi (highest and best use).

    Berikutnya adalah proses penilaian itu sendiri. Penilaian properti terdiri dari;
    Penilaian Tanah
    Dengan menggunakan perbandingan data pasar, dilakukan justifikasi properti terhadap, faktor lokasi, fakor kondisi fisik, faktor luas dan bentuk tanah, faktor best and highest use, faktor status kepemilikan, dan faktor waktu. Data transaksi yang menjadi dasar nilai adalah nilai properti sebandingm, terutama di sekitar lokasi terdekat dari properti yang dinilai.

    Penilaian Bangunan
    Penilaina bangunan berdasar kondisi bangunan menyangkut jumlah lantai, sifat bangunan permanen/tidak, konstruksi, pondasi, atap, plafon, dinding, partisi, lantai, pintu, jendela dan luas total nya. Dari kondisi bangunan ini, didapatkan nilai dari bangunan tersebut. Selain itu, ada nilai untuk sarana pelengkap, yaitu daya listrik, air bersih dan telepon.

    Terakhir, kesimpulan dari sebuah penilaian properti adalah perbandingan antara Biaya Reproduksi dan Nilai Pasar. Biaya reproduksi umumnya lebih besar dari nilai pasar, karena nilai pasar mempertimbangkan penyusutan dari fisik bangunan dan sarana pelengkap. Untuk nilai tanah, antara biaya reproduksi dan nilai pasar sama karena perhitungan dilakukan untuk saat dilakukan penilaian (tidak melihat masa lampau).

    Sebuah laporan penilaian yang lengkap juga disertai oleh peta lokasi, plot properti, dan copy sertifikat tanah. Untuk membuat sebuah laporan penilaian, sebuah agen penilai indenpenden membutuhkan waktu 2-3 hari termasuk survei asal data yang dibutuhkan lengkap (IMB, SHM, PBB).

    Jika anda punya kelebihan uang, tidak ada salahnya untuk ’iseng’ menilai berapa sebenarnya nilai properti anda. Tarifnya ’tidak terlalu’ mahal, untuk Jakarta sekitar 500 ribu sampai 1 juta. Buat yang ingin membeli rumah dengan mangandalkan kredit, penilaian ini semacam ’wajib’ dan menjadi tanggungan calon pembeli. Kecuali jika anda meminjam dana dari orang tua atau (calon) mertua, maka tidak usah repot-repot dan pusing dengan penilaian properti macam ini.

  • Comments Off
  • Filed under: Harian, Keluarga, Liput
  • Tidak Menulis, Tidak Personal

    Sungguh tidak menyenangkan saat tidak ada kesempatan untuk menulis update blog, sibuk pekerjaan atau memang tidak disempatkan. Karena dari awal blog dibuat diikrarkan bahwa blog ini tidak boleh terlalu personal, maka update pun tidak boleh sembarangan.

    Maaf, bukannya saya tidak menghargai beberapa blog yang cenderung sangan personal, yang menceritakan tentang keseharian (mirip diary online), dan hal-hal kehidupan personal yang jauh dari unsur opini membangun apalagi mencerahkan.

    Apa itu saya tidak menyukai tulisan personal? Tentu saja tidak generalisasi seperti itu. Yang jelas, ada beberapa tulisan personal yang mencerahkan dan layak menjadi konsumsi misal catatan perjalanan, pengalaman menggunakan sebuah produk, atau bercita rasa seni. Tapi kalau tentang murni curahan hati, cerita ngapain aja hari ini, atau tulisan yang tidak jelas juntrungannya, duh..capee deeh.

    Kalau berbicara tentang harga menghargai, maka saya akan tetap menghargai blogger tipe personal tersebut. Penghargaan tetap, tapi like or dislike berbeda tentu saja boleh bukan? Toh beberapa teman blogger saya (banyak) pun sering bertipe demikian daripada membuat tulisan pencerahan. Sesekali bisa saja membuat selingan, tapi kalau hampir semuanya personal, duh...

    Entahlah, mungkin lebih mudah untuk menulis hal-hal ringan seperti itu dan yang lebih mengherankan lagi akan banyak pula orang yang komen atas tulisan tersebut. Yang lebih menyebalkan lagi, banyaknya komen di tulisan personal yang dibuat oleh para blogger lajang (laki atau perempuan). Disengaja atau tidak, maka blog akhirnya menjadi sarana jual pesona dan perhatian.

    Jadi sekarang, saya pun mengalami stack menulis. Ada banyak ide, tapi karena kesibukan maka ide itu masih saja menggumpal di kepala. Lebih parah kalau terus menerus seperti ini, saya bisa tergoda menulis personal dalam kondisi stack seperti ini.

    Maka daripada saya terperosot jauh, cukup tulisan ini yang menjadi selingan. Sekaligus ajakan untuk maklumat bersama;

    Mari kurangi tulisan personal yang tidak mencerahkan!

    Terima kasih.
  • Comments Off
  • Filed under: Blognet, Harian
  • Selamat kepada Aan!

    Pertama, izinkan saya pribadi mengucapkan Selamat menempuh Hidup Baru, kepada Aulia Ardiansyah (Aan), teman dekat sesama penghuni gubuk derita. Dan jika boleh mengklaim diri, ucapan ini sekaligus mewakili rekan-rekan satu gubuk yang tidak bisa mendampingi ikrar suci di Masjid Kampus UGM, Sabtu siang tadi.

    Jujur akad yang diucapkan Aan adalah 'tamparan' buat kami. karena diantara penghuni rumah legenda itu, Aan adalah yang paling muda. Tengah tahun ini persis usianya 'baru' 23 tahun. Tapi yang paling 'menyakitkan' bukan masalah muda itu saja (karena banyak adik angkatan yang juga menikah), melainkan 'janji' untuk mempertahankan kelajangan yang akhirnya harus pecah (berlebihan :p).

    Saat melihat Aan sudah mengajak calonnya pada sebuah pernikahan akhir tahun lalu, kami sudah membatin bahwa Aan sudah menemukan calon jodohnya. tapi sungguh saya tidak menduga kalau kejadiannya akan secepat ini. Langsung melangsungkan pernikahan tahun ini. bahkan akad dan resepsi yang rencana nya Agustus ini di Jogja dimajukan dua minggu lalu menjadi akad Sabtu siang ini (ada itung-itungan hari An?).

    Mengingat persis setahun yang lalu kami masih datang bersama di pernikahan adik angkatan. Tentu saja sambil bergurau kalau 'aneh' saat nanti kita-kita saat menikah. Karena hampir 4 tahun hidup bersama dalam pahit getirnya pondok derita, saat susah senang, masa tenang dan ribut karena tugas, belajar berpolitik bahkan bersama-sama mencari Surga.

    Untuk kesekian kali, kami bangga kepada Aan (bangga pertama Aan siswa aksel, kedua kondisi keluarga di Madiun, ketiga IPK nya lebih besar dari kami :p, dll). Dan sekarang, kedewasaan dan keberanian bukan menyangkut usia, tapi memang menyangkut seberapa cepat matang seseorang untuk mengambil sikap dalam kehidupan.

    Ok Aan, saya (dan kami) mengaku kalah dalam hal ini. Dan maaf karena hari ini tidak bisa menghadiri saat mengucap janji sehidup semati dengan pasangan. Bukan apa-apa, karena seseorang membatalkan janji untuk berangkat ke Jogja. Tapi mudah-mudahan 16 Agustus nanti kami bisa bersama-sama hadir di Jogja, sekaligus kembali menyemai masa depan dalam sebuah kesahajaan.

    Sambil menikmati seruputan udara malam Bandung bersama seorang kawan, saya cuma bisa bersenandung lirih mengutip sebuah puisi favorit Chairil Anwar ;

    Kalau sampai waktuku
    'Ku mau tak seorang kan merayu
    Tidak juga kau

    Tak perlu sedu sedan itu

    Sekali lagi, Selamat buat Aan dan Mala, Barakallah..


    *Atas nama penghuni (Aa & Adit) dan simpatisan pondok derita, silahkan absen.. :)

  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Harian
  • Taksi di Jakarta

    Pengalaman menggunakan beberapa taksi di jakarta membuat kita bisa menjadikannya referensi dalam pemilihan taksi. Inilah beberapa catatan pengalaman mengenai taksi-taksi tersebut.


    Blue Bird

    Tidak dipungkiri lagi, inilah taksi paling baik yang dimiliki negeri ini. Taksi Bluebird Group (Blue Bird, Silver Bird, Golden Bird) adalah taksi yang paling baik dan terpercaya dalam melayani. Citra positif terpercaya ini menempatkan blue bird menjadi pemimpin dalam jasa taksi. Makanya, jangan ragu untuk menggunakan taksi ini terutama jika kita tidak tahu betul dimana alamat tujuan kita. Karena kecil kemungkinan kita ‘diajak’ muter-muter lalu argo yang tidak wajar.


    Seiring dengan baiknya pelayanan, urusan harga pun terseret juga. Blue Bird (BB) adalah taksi yang paling mahal. Dalih menggunakan tarif baru (argo buka Rp 5000, dan Rp 250 per satuan), kita pun harus menyiapkan uang cukup jika berpikir menggunakannya. Tapi untuk argo, bisa dipastikan bahwa argo nya tidak dimainkan sopirnya. Selain itu, BB pun menyediakan voucher (personal atau korporat) untuk mendukung layanan ter yahud nya itu. Call centre, 021-798 1001 / 794 1234


    Express

    Taksi yang paling dicari oleh orang yang tahu jakarta dan berprinsip, kalau bisa irit taksi kenapa tidak? Alasannya, karena menggunakan mobil taksi yang bagus, jumlahnya lumayan banyak (kedua terbanyak setelah Bluebird) dan pastinya karena tarif lama (argo buka Rp 4000, dan Rp 180 per satuan). Untuk tingkat kepercayaan, tentu masih kalah dibanding BB. Namun dibanding taksi non BB, setidaknya Express (Ex) masih bagus.


    Jika anda dari bandara soekarno hatta, sangat lumayan bila menggunakan Taksi Express ini. Tentunya lebih terpercaya dibandingkan taksi lain non-BB disana (hati-hati, banyak yang menggunakan sistem borongan). Jadinya, tempat parkir taksi Ex sering antri penumpang untuk menunggu taksi Ex datang. Cengkareng-pancoran saja (termasuk tol), yang jika menggunakan BB minimal 100 ribu, maka jika menggunakan Ex ‘hanya’ 80 ribu. Call centre, 021-5799 0707


    Putra

    Taksi ini jumlahnya juga cukup banyak, mungkin ketiga atau keempat (setelah dian group). Taksi ini juga menggunakan tarif lama. Mobilnya tidak sebagus Express, tapi interiornya bersih dan kadang lebih bersih dibandingkan Express. Kaca mobil Express yang transparan (20%) sedangkan Putra lumayan tertutup (60%), sehingga Putra lebih lumayan untuk privasi.


    Dan secara personal, saya lebih suka menggunakan Taksi Putra (Put) dibandingkan taksi Express. Buat saya, tampilan mobilnya serasa lebih bersahaja. Namun sayangnya, taksi ini tidak akan kita temukan di parkir arrival bandara soekarno hatta. Jika untuk mengantar saja, pilihannya selalu jatuh ke Put selain BB. Call centre, 021-781 7771


    TransCab

    Inilah taksi baru yang cukup meramaikan bisnis taksi di jakarta. Layanan yang disajikan tidak monoton seperti taksi lain. Dia menyajikan tv dalam mobil (sekalipun beberapanya sudah tidak bisa lagi), dan bacaan koran. Lumayan membunuh kejenuhan jika macet. Mobilnya sama yang digunakan taksi putra, tapi interior tempat duduk lebih bagus. Yang menjadikan unggul, TransCab (Cab) menggunakan tarif lama. Tentu ini kelebihan yang patut dicoba.


    Tapi sayangnya, jangankan ada di arrival bandara, berharap ada banyak di jalanan jakarta pun pupus. Maklum, jumlahnya sampai sekarang masih 60 moda. Sekali-kali, cobalah hubungi call center nya (021-583 55500) untuk mencoba taksi ini. Semoga anda beruntung, bisa dapat taksi dan semua fasilitasnya juga ok. Buat saya, warna mencolok (kuning dan tulisan besar di body mobil) menjadi pilihan kedua setelah Putra.


    ***

    Lalu, taksi apa lagi yang ‘bisa’ digunakan? Tentu ini bergantung dari preferensi dan kebutuhan masing-masing. Jika di pinggir jalan dan tidak terlalu mendesak, maka kita pun bisa lebih pilih-pilih taksi yang lewat. Secara biaya, kita cenderung menggunakan taksi tarif lama dibanding tarif baru. Maka pilihan saya, Putra atau Express (TransCab sangat minim). Jika lewat call centre, saya cenderung pilih Putra atau TransCab, baru Express.


    Jika di jalan sulit mendapatkan ketiganya, maka saya cenderung memilih Dian Taksi atau Celebrity. Walaupun pernah ketika di bandara, saya ditawari sistem borongan dan langsung mentah-mentah menolaknya. Pilihan lainnya jika benar-benar tidak menemukan taksi-taksi tersebut, maka saya pun naik taksi tarif lama yang ada (Sri Medali, Koperasi Taksi dll). Pastinya terlebih dulu ditanyakan tahu arah tujuan alamat kita. Jangan sampai sudah naik, argo jalan tapi kita tak ujung mencapai tujuan.


    Bagaimana jika mendesak? Maka BlueBird lah yang menjadi pilihan. Setiap detik bisa ditemukan di jalan. Dan kepercayaan yang pasti (bisa dipastikan). Buat manula, ibu hamil, keluarga besar yang tidak mau repot, atau yang tidak tahu jakarta tentu BB jadi pilihan terbaik. Kalau sudah begini, urusan tarif baru tak jadi soal.


    Mengenai tarif, secara umum patokan antara tarif lama dan baru itu setidaknya selisih sekitar 25%. Dan jika tarif lama kurangnya jauh dari itu, anda pun patut curiga terhadap argonya. Taksi tarif baru non-BB seperti Gamya, Taxiku, Primajasa bisa menjadi pilihan juga. Tapi buat saya untuk taksi tarif baru, kalau ada BlueBird, kenapa yang lain?


    Selamat memilih taksi.

  • Comments Off
  • Filed under: Harian, Liput, Perjalanan
  • Tradisional vs Medis

    Telah tumbuh di masyarakat metode-metode penyembuhan tradisional yang manjur, baik yang telah terbukti secara medis atau bahkan yang tidak bisa dibuktikan secara medis. Metode penyembuhan tersebut turun temurun, menjadi bagian dari budaya masyarakat. Dan yang menjadikan metode itu kuat mengakar, karena metode tersebut terbukti bisa menyembuhkan dengan baik.

    Lalu datanglah metode kedokteran (medis) yang sangat ilmiah, substansial dan sistematis. Kalau dari substansinya, metode medis jauh lebih menyakinkan daripada tradisional. Secara empiris, medis melalui dokter dan semua perangkatnya bisa menyembuhkan dengan baik, namun tetap tidak bisa menjanjikan 100% kesembuhan.

    Tentang usaha entah metode tradisional atau medis tentu lain dengan kesembuhan. Usaha adalah usaha, sedangkan kesembuhan sendiri banyak faktornya. Mulai dari sugesti diri hingga kuasa Tuhan.

    Masyarakat pun akhirnya masih juga banyak menggunakan tradisional sekalipun akses medis makin menyebar. Satu hal karena relatif lebih mahal, kedua karena lebih percaya tradisional yang membudaya. Pihak medis pun tidak seharusnya menjadi egois, memandang benar sendiri lalu mencampakan realita bahwa tradisional juga mampu memberikan kesembuhan yang baik.

    Ini bukan tingkat melek medis atau pendidikan yang masih rendah di masyarakat, tapi ini justru sebagai bentuk pilihan. Untuk itu lah kiranya masyarakat juga harus tahu, saat kondisi tertentu harus ke tradisional atau kondisi yang lain dimana memang mengharuskan pergi ke medis.

    ***
    Pernah mengalami jatuh, sehingga menyebabkan tulang terkilir atau keseleo? Sebagai orang awam, pasti akan menganjurkan untuk menyerahkan urusan ke tukang (ahli, dukun?) pijat untuk mengembalikan tulang atau bagian-bagiannya yang kurang tepat. Atau setidaknya dioles-oles dengan balsem peregang otot sendi. Itulah yang dinamakan dengan cara tradisional.

    Cara medisnya, maka segera lah pergi ke dokter untuk pemeriksaan. Jika sakitnya parah, maka dokter akan meminta untuk difoto bagian tulang yang sakit tersebut. Jika tidak retak atau patah, maka obat penghilang nyeri luar dalam jadi solusi. Jika retak atau patah, maka berikutnya jatah dokter orthopedi dan bisa keluar dengan 2 pilihan, di gips (benar tulisannya?) atau operasi dengan pemasangan implant (pen). Itulah secara singkat cara medis menangani tulang.

    Selasa 4 Maret sore, telunjuk kiri saya terkilir karena olahraga. Bengkak, sakit sekali. Rabu malam saya memutuskan untuk mengundang tukang pijat. Esoknya, rekan kantor menyarankan ke dokter untuk dipotret karena bengkak yang tidak hilang. Singkatnya, tulang metakarpal telunjuk kiri saya retak dan menurut dokter orthopedi disarankan operasi penanaman implant supaya hasilnya baik dan cepat.

    Kamis malam saya masuk RS dan jumat paginya operasi (pertama kalinya masuk RS, dibius, dan operasi dalam sejarah hidup saya). Alhamdulillah, lancar. Dalam rontgen tangan pasca operasi, terlihat 3 pen yang di silangkan di metakarpal kiri saya. Saya belum pernah melihat benda ini diluar tangan saya, namun membayangkan ada 3 ‘paku kecil lentur’ di telapak saya, kadang membuat perasaan bercampur.

    Sabtu 8 Maret pulang, dan diharuskan kontrol setelah 1 minggu untuk melepas perban tangan. Jujur memang manjur metode operasi medis ini. Tangan saya membaik dan berasa tidak sesakit sebelumnya. Terima kasih dok. Benar-benar ajaib! (ah, tapi tetap saja ada ‘benda asing’ dalam telapak kiri saya)

    Sebelumnya saat divonis dokter bahwa pijat yang membuat segalanya makin parah, saya mengelak, “kalau dokter menjadi saya, orang yang awam kedokteran, tidak tahu seluk beluk tentang orthopedi lalu tulangnya keseleo atau terkilir, maka saya yakin dokter juga akan memijit bagian yang sakit itu”. Dan dokter itu pun senyum mengiyakan.

    Sudahlah, yang penting sekarang tangan saya kembail, Alhamdulillah. Belum 100% memang, mudah-mudahan secepatnya akan pulih normal. Sekarang saya pun berhitung bahwa 3-5 bulan lagi, saya harus kembali operasi mencabut ‘benda asing manjur’ dalam tangan saya (many thanks to my company).

    Dan yang terpenting semakin menyadari, bahwa kesehatan itu rezeki luar biasa yang diberikan Khaliq pada kita. Maka dari itu, mari manfaatkan sehat kita sebelum datang sakit kita. Tidak ada kata terlambat.

    *terima kasih untuk do'a keluarga, teman dan sahabat.
  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Harian
  • Memasak itu seperti membaca

    Banyak yang menanggapi dengan adanya fenomena ibu-ibu zaman sekarang. Bisa memasak memang bukan syarat menjadi istri, tapi syarat menjadi koki. Memasak dan membeli makanan pun bisa dipandang dengan analisis ekonomi, mana yang lebih untung dilakukan dengan usaha yang sedikit. Maka membeli makanan dalam keseharian keluarga kecil lebih hemat daripada memasak sendiri.

    Semua logika diatas benar adanya. Namun ada pendapat yang sangat humanis, saat seorang ibu mendengar dari anaknya sendiri bahwa masakan ibunya enak. Maka segala ‘jerih payah’ memasak pun menjadi hilang.

    Dalam keluarga, memasak sebenarnya merupakan keahlian dasar. Sama halnya dengan membaca (dan berhitung), maka memasak sama halnya dengan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan yang dasar. Karena kebutuhan dasar manusia salah satunya adalah makan (kebutuhan paling dasar?), maka usaha pemenuhan kebutuhan itupun menjadi fundamental.

    Mari membayangkan sebuah analogi berikut. Jika seseorang tersesat di tengah hutan, maka keterampilan dasar yang dibutuhkan adalah membaca situasi, petunjuk jalan, atau arah angin. Membaca, itu kata kuncinya. Lalu jika semua usaha membeli makanan diluar jadi tidak ada alias tutup, maka keterampilan dasar bagi sebuah keluarga adalah memasak untuk mencegah kelaparan.

    Jadi, memasak itu seperti membaca sebagai keterampilan dasar yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia (terutama kaum hawa). Ya, semua manusia karena kebutuhan makan itu menyangkut semua manusia.

    Kemampuan memasak dalam sebuah keluarga juga penting untuk memantau asupan gizi yang diberikan kepada keluarga. Kita tidak pernah bisa pasti melihat semua makanan di luar sehat dari bahan, pemasakan dan cara penyajian. Tapi jika dilakukan sendiri, pemantauan itu dalam kontrol. Hal ini sangat penting misalnya saat-saat masa pertumbuhan anak dalam keluarga tersebut.

    Dalam sebuah survei kasar, saya amati bahwa kemampuan memasak perempuan dewasa (baca: mahasiswi) zaman sekarang jauh menurun. Kesibukan aktivitas, kuliah dan bermain. Semua memang bisa dibeli saat ini, tapi dengan analogi dan pertimbangan diatas, maka kemampuan memasak tetap penting adanya. Dalam potret keluarga di luar negeri pun, selalu ditampilkan suasana makan bersama di keluarga dengan masakan rumah.

    Tidak perlu mengernyitkan dahi karena memasak makanan yang rumit ala hotel bintang lima. Saya tidak ahli dalam menentukan kemampuan memasak apa yang sebaiknya minimal dimiliki. Setidaknya, dengan analogi tidak bisa membeli diluar diatas, maka masakan dasar pun tak jadi soal asal berasa, sehat dan pastinya enak.

    Ini bukan pemaksaan kehendak bahwa semuanya harus bisa memasak. Memang ada bakat, tapi tetap lebih besar pengaruh niat (betul kan?). Sibuk bekerja sehingga membeli makanan diluar, atau menggunakan tenaga ‘juru masak’ tak jadi soal asalkan proporsional, dan tidak berarti tidak butuh kemampuan memasak sesuai uraian diatas. Sekali lagi ini kembali tentang niat.

    Dan buat kaum adam sendiri, tentu akan lebih bahagia jika punya (calon) istri yang bisa memasak. Akhirnya, selamat belajar memasak. :)
  • Comments Off
  • Filed under: Harian, Keluarga, Perempuan
  • Semua generalisasi adalah salah

    Generalisasi secara sederhana adalah menempatkan semua masalah setipe pada opini yang sama. Generalisasi merupakan pengungkapan opini terhadap masalah secara pragmatis, tidak mau menelaah bahwa setiap masalah belum tentu mempunyai kondisi sama alias mungkin berbeda.

    Untuk sebuah opini pribadi, generalisasi sah-sah saja dan menjadi pandangan orang tersebut terhadap masalah. Namun untuk opini publik, atau opini pribadi yang dipaksakan ke publik, generalisasi menurut saya sangatlah tidak tepat.

    Contoh yang simpel dan sedang marak-maraknya terjadi, meng-generalisasi bahwa selama pemerintahan Soeharto buruk. Atau malah sebaliknya semuanya baik sehingga tidak ada yang perlu diungkit-ungkit sisi buruknya lagi, apalagi Bapak tersebut sudah seda. Opini yang semacam ini adalah generalisasi, dan ini menurut saya bahaya. Opini tersebut tidak fair, dan justru menunjukan betapa tidak dewasanya penyuara opini tersebut.

    Opini yang lebih fair dan mendewasakan bila melihat segalanya dari dua sisi, antara kebaikan dan keburukannya. Kita akui semua jasa-jasanya selama membangun indonesia (dan mungkin bisa dianugerahkan pahlawan?), dan di sisi yang lain memproses kasus-kasus yang melibatkannya dilanjutkan penyelidikan kepada pihak-pihak yang hidup ada saat ini.

    Tampaknya bangsa ini sudah terlalu ingin menyederhanakan segalanya menjadi mudah, berpikir biner alias 1-0. Artinya kalau tidak 1, ya 0. Kalau tidak baik, ya buruk. Kalau tidak pahlawan, ya penjahat. Bukankah semua persoalan hidup ini tak bisa semata dilihat dari sudut 1-0?

    Begitu pula dengan Soekarno, yang banyak dirindukan semangatnya untuk memajukan bangsa. Soekarno memang pemimpin luar biasa, sederhana dan visioner. Tapi jangan lupa, Soekarno pula yang mendefinisikan dirinya sebagai ‘aktor demokrasi terpimpin’.

    Bagaimana itu bila itu berupa opini pribadi? Satu hal, itu sekali lagi sah-sah saja. Dan hanya akan menjadi penilaian lingkungan terhadap orang tersebut. Kembali masalah kedewasaan. Namun saat itu dipaksakan kepada orang lain, itulah yang menjadi kurang bijak.

    Misalnya seperti ini, seorang teman sangat keukeuh untuk tidak menikah (atau ‘berhubungan’) dengan perempuan berjilbab. Alasanya, karena perempuan yang memakai jilbab belum tentu baik hatinya. Saya pun balik bertanya, apa semua orang yang tidak memaikai jilbab baik hatinya? Baik-tidak baik memang tidak ditentukan oleh jilbab semata, namun jilbab bagi seorang muslimah (yang menyakininya dengan benar) merupakan bentuk pelaksanaan syariat agama.

    Generalisasi yang tidak boleh dilakukan adalah yang menyangkut dengan kepercayaan (faith) dan hukum alam (law of nature). Bahwa Risalah Tuhan itu benar, tidak perlu dibantah. Bahwa air akan mendidih di suhu 100 derajat celcius, tidak perlu dicoba untuk disentuh.

    Sedangkan yang berhubungan dengan interaksi antar manusia, semua generalisasi adalah salah. Bukankah demikian?

    *
    weekend@bandung

  • Comments Off
  • Filed under: Harian, Opini