Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Finance’ Category

[Disapproved] Kartu Kredit Mandiri

–----Original Message-----
From: *****.******@m*********.com [mailto:*****.******@m*********.com]
Sent: Monday, November 03, 2008 8:47 PM
To: Customer Care
Cc: *****.******@m*********.com
Subject: Mail Contact Us Bank Mandiri, Ticket ID : CBCC/0000097.11/08
Ticket ID : CBCC/0000097.11/08
Tanggal : 11/3/2008 8:46:59 PM
Bahasa : Indonesia
Nama : TRIAN
No.Identitas : 121908190484****
Alamat : ******** Office, Jl Gatot Subroto, Jakarta
Telepon : 0811190****
Nasabah : Nasabah Perorangan
Jenis masalah : Komplain
Topik masalah : Fitur Produk
Detail masalah : Kartu Kredit Mandiri Visa

Isi masalah : sudah 3 bulan (per 6 Aug 08) pengajuan kartu kredit saya menggantung. setiap telepon ke 14000 (sudah 3x) selalu bilang akan speed up. saya mengajukan aplikasi double kartu kredit dengan platform satu.
Dan saya hanya butuh kepastian, kalau tidak approved tidak apa-apa. Saya bisa cari bank yang lain. apa sebegitu lama untuk keputusan ya/tidak??

CC : Ya Attachment File : IP : 202.173.65.68

***
From: Customer Care [mailto:customer.care@bankmandiri.co.id]
Sent: Tuesday, November 11, 2008 11:55 AM
To: Trian Hendro Asmoro
Subject: [MV] Reply from Bank Mandiri CBCC/0000097.11/08

Bapak Trian yang terhormat,

Terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada kartu kredit Mandiri.
Kami memahami ketidaknyamanan yang Bapak alami sehubungan dengan lamanya proses persetujuan pengajuan aplikasi kartu kredit Mandiri Bapak. Untuk itu perkenankan kami menyampaikan permohonan maaf.

Sehubungan dengan pertanyaan Bapak dapat kami sampaikan bahwa permohonan aplikasi kartu kredit MandiriVisa dan Mandiri MasterCard Bapak saat ini belum disetujui. Bapak dapat mengajukan kembali aplikasi kartu kredit setelah 6 bulan dari hasil pengajuan aplikasi terakhir.

Jika masih terdapat pertanyaan, Bapak dapat menghubungi kami melalui Call Mandiri (layanan 24 jam) di nomor telepon (021) 5299 7777 atau 14000 (pulsa lokal) atau melalui layanan email ini.
Demikian kami sampaikan. Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

Customer Care Kartu Kredit Bank Mandiri

***
Note: Petugas minta fax copy kartu kredit lain yang digunakan at 6 Okt 2008 (Done per 7 Okt)
Kesimpulan: ???

  • Comments Off
  • Filed under: Bisnis, Finance
  • Kenapa mulai dengan rumah?

    Saya punya beberapa alasan kenapa rumah menjadi salah satu milestone penting dalam hidup seseorang dalam merangkai kehidupannya.

    1. Kebutuhan rumah tinggal. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa rumah termasuk kebutuhan dasar manusia, yang kita ingat dulu terdiri atas sandang, pangan dan papan (tempat tinggal). Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal.

    Bisa jadi memang tempat tinggal tidak harus berbentuk rumah, misal gua jika di hutan atau apartemen jika di kota besar zaman sekarang. Tapi pada dasarnya tetap, tidak bisa tidak, bahwa setiap manusia membutuhkan tempat tinggal (rumah).

    Lalu seiring perkembangan kehidupan manusia, dunia properti pun semakin dinamis sesuai karakter manusia masa kini. Dan tren masa kini tampaknya anak muda mapan lebih suka berburu rumah dibandingkan harus tetap tinggal bersama orang tuanya.

    2. Harga rumah semakin mahal. Ini kita ketahui dan patut disadari bahwa setiap tahun harga tanah dan rumah naik cukup besar (bergantung lokasinya). Dan buat kalangan yang mengandalkan kredit kepemilikan rumah dari potong pendapatan bulanan, perlu diwaspadai bahwa kemungkinan kenaikan harga tanah dan rumah per tahun selalu di atas kenaikan pendapatan per tahun.

    Dengan demikian berlaku ’hukum’ bahwa semakin cepat membeli rumah, maka akan semakin menadapatkan harga rumah optimal. Apalagi untuk orang yang secara finansial mampu, sudah selayaknya untuk segera memilki rumah sedniri. Tentu saja cepat membeli rumah ini harus dibarengi dengan ilmu dan teknik dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek kehidupan masa depan.

    3. Investasi stabil. Di bandingkan investasi jangka panjang lainnya, rumah paling stabil. Margin mungkin tidak akan sampai melebihi jika ’bermain saham’ atau reksadana, tapi kemungkinan loss dalam investasi rumah pun jauh lebih kecil. Dalam situasi gonjang-ganjing ekonomi dunia saat ini, maka memilki rumah cukup menjaga nilai asset kita.

    Resiko mendasar dalam investasi rumah memang sulit mencairkannya kembali, dibandingkan dalam instrumen keuangan. Ini mungkin kelemahan investasi dalam rumah, tanah atau tempat tinggal. Tapi bisa juga ini dipandangn sebagai kebutuhan pertimbangan matang dalam melakukan investasi tersebut. Intinya, jika punya kecukupan dana berlebih tidak lantas diguyur untuk membeli beberapa tempat tinggal, namun cukup sesuai dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek masa depan.

    4. Pengeluaran tepat orientasi asset. Ini alasan yang sangat praktis, bahwa pengeluaran dalam bentuk uang sewa tidak akan menghasilkan asset. Sewa rumah untuk tinggal atau kamar kos, selamanya tidak akan menjadi asset penyewanya.

    Jadi lebih baik melakukan kredit rumah (sama-sama pengeluaran rutin bulanan) daripada pengeluaran untuk sewa tempat tinggal. Karena kredit rumah (tempat tinggal) pada periode akhir kredit akan menghasilkan asset kepemilikan penuh rumah, sedangkan sewa tidak akan menghasilkan asset selamanya.

    Walaupun memang relatif lebih murah untuk sewa dibanding kredit pembelian. Tapi dengan pertimbangan sekecil apapun rumah itu kalau kepemilikannya sendiri maka akan menjadi bagian tetap asset kita.

    5. Alasan Emosional. Ya..karena alasan emosional sehingga memutuskan untuk cepat membeli rumah. Bukan karena tuntutan, tapi lebih tepatnya karena tekad dan kemauan tertentu.

    Misalnya, seorang suami yang ingin segera mempunyai rumah untuk tempat tinggal istri atau keluarganya. Atau, seseorang yang punya tekad ingin memiliki rumah sendiri sebelum menikah maka dia berusaha mewujudkan sungguh-sungguh tekadnya itu. Filosofinya ingin mempunyai rumah dulu, kemudian baru mencari ’yang mengurusi rumah’ tersebut.

    Lalu ada juga yang tersinpirasi karena sebuah cerita pendek. Koq? Ya.. anda harus percaya bahwa ada yang salah satu inspirasi ingin memiliki rumah sendiri karena cerita tersebut. Dalam cerita tersebut memang digambarkan tentang sebuah perselingkuhan yang tidak berhasil, dimana akhirnya laki-laki kembali ke istrinya kembali. Hal itu karena sang istri mensyaratkan suami sebelum mencerainya untuk membopongnya keluar rumah setiap pagi selama 30 hari seperti halnya dulu suami membopong istrinya pertama memasuki rumah itu setelah menikah.

    Masuk akal? Tidak perlu berpikir terlalu dalam tentang alasan emosional itu. Hanya sebuah alasan dan masing-masing orang juga berbeda. Dan lima alasan diatas, menurut saya sudah cukup kuat untuk menjadi pertimbangan penting memilki rumah dalam menapak tahap kehidupan.

    ***

    Buat saya pribadi, contoh alasan kelima diatas (rumah sebelum menikah) tidak akan mengurangi sedikitpun rasa respek saya buat teman-teman yang telah berani menikah terlebih dulu. Jadi buat yang sudah di ambang pintu menuju pernikahan, harus makin mantap dengan pernikahannya tersebut.

    Pun keinginan saya tersebut belum tentu tercapai (mohon do’anya ya, amin). Dan menurut saya, mengurus pembelian rumah tidaklah serumit (dan se deg-deg an) daripada menyiapkan sebuah pernikahan. Betul kan kawan? :)

  • Comments Off
  • Filed under: Finance, Harian, Keluarga
  • Kiat Membiakkan Uang di Masa Sulit

    Diantara dua buku yang sudah ditulis oleh Mas Nofie Iman, saya lebih tertarik dengan Kiat-kiat Membiakkan Uang di Masa Sulit. Apa yang saya harap adalah dalam buku kecil ini sudah cukup mencakup tentang beberapa bentuk investasi sekaligus, tidak hanya satu jenis yakni Reksadana seperti dalam buku pertamanya.

    Dalam buku ini, dijelaskan dari awal tentang konsep-konsep dasar dalam investasi. Bahwa investasi bukan gambling atau judi, karena investasi adalah menaruh uang pada instrument dengan pertimbangan matang dengan harapan memberikan return memadai. Bahwa kemudian investasi menjadi ‘tercoreng’ karena dekat sekali dengan gambling (terutama di instrumen pasar uang dan saham), maka itu bukan investasi yang seperti didefinisikan dalam buku ini.

    Dan setiap investasi selalu mempunyai resiko. Resiko ini yang sering tidak disadari oleh para calon investor dan bahkan investor yang malang melintang. Makin besar tinkat pengharapan return, makin tingggi pula resiko nya. High return, high risk. Low risk, low return. No risk, no return!

    Bahasan investasi yang dicakup dalam buku ini meliputi investasi di pasar saham, yaitu transaksi saham dengan tujuan menjadi investor (atau pemilik) dari perusahaan, bukan untuk mengambil untung dari harga saham dalam periode pendek (jam atau harian). Karena orientasi menjadi pemilik, maka bersikaplah seolah-olah kita hendak memilki perusahaan tersebut. Mencermati kinerja dari laporan keuangan, bahkan jika perlu datang ke kantornya. Satu yang sangat praktis, dalam buku ini diberikan langkah dan contoh dalam menilai (valuasi) saham dan membaca kinerja perusahaan.

    Kemudian ada pembahasan tentang investasi obligasi, reksadana, emas, properti, benda seni dan koleksi. Per bagian di bahas cukup detil dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti bagi pemula. Sekali lagi, tidak hanya ditunjukan tentang keuntungan di setiap jenis investasi diatas, namun juga kemungkinan-kemungkinan resiko yang harus dihadapi oleh investor. Sebuah ungkapan yang bagus, lebih baik kehilangan waktu untuk mempelajari investasi yang akan dilakukan daripada kehilangan uang karena salah dalam keputusan investasi.

    Melihat jenis elemen investasi yang dibahas dalam buku ini, saya sendiri cukup tercerahkan karena beberapa akhirnya terbuka dengan buku ini. Namun, jenis investasi yang ‘ditawarkan’ buku ini berbasis pada ceruk pasar yang ‘sempit’ yaitu lebih dekat ke pasar finansial. Pasar yang spesifik dengan perangkat tertentu yaitu pasar saham, uang, bank, perdagangan emas, perantara atau broker. Mungkin karena background penulis sebagai seorang financial analist dengan pendidikan master ekonomi dari Inggris.

    Padahal dalam dunia investasi yang lebih umum, ada ranah investasi yang juga sangat terbuka lebar yaitu sektor riil (usaha). Namun dengan sangat terbukanya sektor riil, akan lebih baik jika penulis tidak hanya membahas investasi finansial yang fokusnya memberikan return seoptimal mungkin untuk pribadi. Sedangkan investasi dalam dunia riil, ada roda ekonomi yang riil digerakan disana untuk masyarakat, public investment.

    Mungkin penulis bermaksud fokus dalam private investment untuk para calon investor pemula. Memang ada area bank-bank umum disana, tapi sebagai khasanah bagi calon investor dan tujuan gerakan roda ekonomi tadi, pembahasan public investment juga dibutuhkan. Dan justru dengan background penulis yang kuat dalam ekonomi, saya berharap akan ada pembahasan tentang hal tersebut, entah di buku atau dalam blog nya.
  • Comments Off
  • Filed under: Finance, buku
  • Keuangan masa depan

    Setelah belajar tentang bagaimana mengelola keuangan dan mulai investasi, sekarang waktunya untuk belajar memprediksikan sumber-sumber pengeluaran masa depan yang seringkali dilupakan, padahal semakin dini dipersiapkan semakin baik.

    Menurut saya, beberapa kebutuhan penting keuangan masa depan yang harus di susun rencana nya sebagai berikut.

    Dana pensiun
    Banyak orang berpikir dana pensiun hanya cocok dipikirkan oleh orang yang berusia diatas 40 tahun. Atau pensiun cukup di cover oleh asuransi pensiun yang difasilitasi perusahaan sekarang. Padahal dana pensiun seharusnya dipersiapkan secepatnya seseorang cukup mapan dalam suatu pekerjaan, karena makin cepat dipersiapkan bebannya menjadi makin ringan.

    Jikalau dana pensiun hanya mengandalkan asuransi pensiun, maka harus dipastikan bahwa dana tersebut cukup meng-cover kebutuhan hidup pensiun per bulan kita di masa datang. Inilah yang penting dalam merencanakan pensiun, berapa biaya standar biaya hidup masa depan yang kita inginkan? Biaya hidup masa depan didapatkan dengan menormalisasikan biaya hidup sekarang dengan asumsi inflasi.

    Dana pendidikan
    Jika pensiun secepatnya dipersiapkan ketika seseorang cukup mapan dengan penghasilannya, maka dana pendidikan dipersiapkan secepatnya setelah menikah, sekalipun subyek dana pendidikan tersebut (anak) belum ada. Prinsipnya sama, semakin dini dipersiapkan maka beban masa kini juga akan semakin ringan.

    Jumlah dana pendidikan harus direncanakan untuk berapa subyek, dan menghitung kebutuhannya di masa depan. Dengan menormalisasikan biaya tiap jenjang pendidikan sekarang menggunakan asumsi inflasi, maka kebutuhan di masa depan bisa diprediksikan. Dan perusahaan asuransi pendidikan akan senang hati membantu menyiapkan dana pendidikan tersebut, dengan catatan nama subyek dikosongkan dahulu karena belum lahir.

    Dana asuransi
    Maksud dari dana asuransi ini adalah asuransi untuk menjamin ’properti’ kita, seperti rumah, mobil dan kesehatan. Konon katanya, tingkat kesejahteraan sebuah negara salah satunya bisa dilihat dari seberapa sadar masayarakat negara tersebut aktif untuk ber-asuransi. Artinya untuk Indonesia, tampaknya memang belum mencapai tingkat kesadaran pentingnya asuransi.

    Untuk rumah dan mobil (menurut orang yang berpengalaman), kita harus mempelajari dengan detil premi dan ketentuan klaim yang bermacam-macam. Kuncinya mari ditanyakan ke dalam hati kita, apa kebutuhan kita? Jangan sampai jauh under apalagi overestimated sehingga pemborosan. Inilah yang sulit, karena seringkali dengan iminng-iming akhirnya kita memilih ’berlebihan’ yang tidak melebihi kebutuhan kita.

    Begitu pula dengan asuransi kesehatan. Jika kesehatan sudah ikut ter-cover melalui kantor, maka mubazir jika masih membuat asuransi kesehatan lagi dengan alasan preventive. Sekali lagi, apa betul itu kebutuhan kita? Menurut saya, asuransi yang berkaitan dengan tubuh kita jika asuransi kesehatan pokok sudah ada adalah asuransi kecelakaan yang menyebabkan cacat permanen atau meninggal. Hal ini semacam ’biaya bertahan hidup’ kepada keluarga karena kondisi yang tidak dinginkan tersebut.

    Setelah mencoba menentukan sumber-sumber kebutuhan masa depan, maka sekarang bagaimana untuk mencapai tujuan masa depan tersebut.

    Sebagain besar dari kita mungkin akan menjawab dengan membeli asuransi pendidikan dan pensiun, sebagai cara untuk mencapai tujuan itu. Namun jangan lupa, bahwa investasi sebenarnya salah satu sarana mencapai tujuan itu. Dan jika sudah menggunakan instrumen investasi, maka kita harus jeli melihat resiko dan jangka waktunya (tidak hanya ’janji’ return atau margin).

    Satu lagi yang saya percaya, untuk tidak akan mencampuradukan antara asuransi dan investasi. Karena saat ini semakin banyak perusahaan asuransi yang membuat kombinasi, dengan iming-iming asuransi sekaligus investasi. Karena tujuan keduanya berbeda (resiko, waktu, return), fee nya kemungkinan lebih besar daripada asuransi atau investasi saja, dan pada akhirnya tidak akan bisa optimal. Asuransi adalah asuransi, investasi adalah investasi.

    Saatnya mempersiapkan dan mengkondisikan keuangan untuk masa depan. Dan jangan lupa, masa depan akhir manusia nantinya adalah akhirat. Jadi keberkahan pun harus melekat dalam persiapan ini. Wallahu’alam..

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)... [Q.S Al Hasyr 59: 18]
  • Comments Off
  • Filed under: Finance, Keluarga
  • Berhitung Zakat

    Semua muslim pasti mengenal zakat. Perintah zakat telah jelas dalam firman Allah SWT,
    "Ambillah olehmu zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (At-Taubah [9]: 103)

    Dan diantara zakat yang rutin harus ditunaikan, ada zakat yang seringkali terlalaikan, yaitu zakat mal dan profesi.

    Zakat mal adalah zakat harta kekayaan. Persyaratan harta yang wajib dizakatkan itu ada lima:
    1. Al-milk at-tam. Harta itu dikuasai secara penuh dan dimiliki secara sah, yang didapat dari usaha, bekerja, warisan, atau pemberian yang sah, dimungkinkan untuk dipergunakan, diambil manfaatnya, atau disimpan. Harta yang bersifat haram tidaklah sah dan tak akan diterima zakatnya.

    2. An-namaa. Harta yang berkembang jika diusahakan atau memiliki potensi untuk berkembang, misalnya harta perdagangan, peternakan, pertanian, deposito mudharabah, usaha bersama, obligasi, dlsb.

    3. Telah mencapai nisab. Harta itu telah mencapai ukuran tertentu. Misalnya untuk hasil pertanian telah mencapai jumlah 653kg, emas / perak telah senilai 85gr emas, peternakan sapi telah mencapai 30 ekor, dsb.

    4. Telah melebihi kebutuhan pokok. Yaitu kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarganya yang menjadi tanggungannya untuk kelangsungan hidupnya.

    5. Telah mencapai satu tahun (haul) khusus untuk harta-harta tertentu, misalnya perdagangan. Tetapi untuk harta jenis lain, misalnya pertanian, zakatnya dikeluarkan pada saat harta tersebut didapatkan.

    Ada sementara ulama yang hanya membatasi wajib zakat itu pada delapan benda saja, yaitu unta, sapi, kambing, gandum, sorgum, kurma, emas, dan perak. Pendapat ini adalah didasarkan pada kenyataan bahwa hadits-hadits yang ada hanya secara eksplisit mengatur ke delapan benda ini.

    Namun pendapat umumnya ulama saat ini adalah bahwa semua harta baik yang tersurat maupun yang tidak, selama memenuhi syarat-syarat wajib zakat, maka wajib dizakati. Alasannya, sesungguhnya keumuman dalil dari Al-Quran dan Hadits menetapkan pada setiap harta yang berkembang terdapat hak bagi orang lain. Sebagaimana firman Allah SWT:
    "Dan dalam harta mereka terdapat hak bagi orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak meminta-minta" (QS Adz-Dzariyat [51]:19).

    Oleh karena itu, semua harta benda, apa pun bentuk dan jenisnya, apabila telah memenuhi syarat-syarat wajib zakat, maka wajib dizakati. Termasuk juga zakat perniagaan, Bila telah dimiliki secara penuh selama setahun dan nilai dagangan telah mencapai seharga 85 gram emas, maka wajib dikeluarkan zakatnya 2.5%. Sabda Rasulullah s.a.w.:
    "Kain-kain yang disediakan untuk dijual, wajib dikeluarkan zakatnya." (HR.Al Hakim)
    "Rasulullah memerintahkan kepada kami mengeluarkan zakat barang yang disediakan untuk dijual." (HR.Daruquthni dan Abu Daud)

    Sedangkan zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun yang dilakukan bersama dengan orang/lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang) yang memenuhi nisab. Contohnya adalah profesi dokter, konsultan, advokat, dosen, seniman, dll.

    Kewajiban zakat ini berdasarkan keumuman kandungan makna Al-Qur'an surat Al-Baqarah [2] ayat 267
    "Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah olehmu sekalian sebaik-baik hasil usahamu ..." (Al-Baqarah: 267)

    Zakat profesi sejalan dengan tujuan disyariatkannya zakat, seperti untuk membersihkan dan mengembangkan harta serta menolong para mustahiq. Zakat profesi juga mencerminkan rasa keadilan yang merupakan ciri utama ajaran Islam, yaitu kewajiban zakat pada semua penghasilan dan pendapatan.

    Mengenai nisab, besar, dan waktu pembayarannya, ada dua pendekatan untuk zakat profesi, yaitu;
    1. Setelah diperhitungkan selama satu tahun
    Nisabnya adalah jika pendapatan satu tahun lebih dari senilai 85gr emas dan zakatnya dikeluarkan setahun sekali sebesar 2,5% setelah dikurangi kebutuhan pokok.

    2. Dikeluarkan langsung saat menerima
    pendapat ini dianalogikan pada zakat tanaman. Jika ini yang diikuti, maka besar nisabnya adalah senilai 653 kg beras dan dikeluarkan setiap menerima penghasilan/gaji sebesar 2,5% tanpa terlebih dahulu dipotong kebutuhan pokok (seperti petani ketika mengeluarkan zakat hasil panennya).

    Berhitung Zakat
    Sekarang, mari kita berhitung zakat secara sederhana.
    A. Jumlahkan semua harta dalam tabungan, deposito, surat berharga (saham, reksadana etc), perhiasan (emas, perak dll), rumah dan mobil dimana sudah dimiliki selama satu tahun.
    B. Jumlahkan semua hutang yang jatuh tempo dan dibayarkan pada tahun tsrebut.
    Maka, jumlah zakat mal yang harus di bayarkan dalam 1 tahun tersebut adalah 2.5% x (A - B)

    Sedangkan untuk zakat profesi.
    M. Jumlahkan semua pendapatan, bonus dan pendapatan lain-lain selama satu tahun.
    N. Jumlahkan pengeluaran dalam satu tahun, baik untuk rata-rata rutin tiap bulan, pendidikan, kesehatan dll.
    Maka, jumlah zakat profesi dalam 1 tahun tersebut adalah 2.5% x (M - N)

    Untuk zakat profesi, waktu ditunaikan zakat akan lebih mudah rutin per bulan atau saat mendapatkan pendapatan tersebut (setelah di kurangi dengan kebutuhan hidup).

    Sekalipun besarnya zakat ‘hanya’ 2.5% dari harta bersih kita, bukan berarti bahwa ‘kewajiban’ kita hanya sebesar itu. Minimalis, kita belum menjadi hamba yang lebih.

    ***
    Jika kita berhitung kasar dari 2.5% dari 10% pendapatan domestik bruto kita, maka potensi zakat bisa mencapai 12 Triliun per tahun. Bandingkan dengan program BLT akibat kenaikan BBM sekarang sebesar 14.1 Triliun!

    Dengan kesadaran zakat yang tinggi, serta pengelolaan yang baik maka saya optimis bahwa masalah sosial di sekitar kita bisa di tekan serendah-rendahnya. Zakat ini tentang moral, bukan kemampuan. Karena dalam harta kita selalu ada hak orang yang tidak mampu. Jadi, sudahkah kita menunaikan zakat?


    Ref zakat: http://portalinfaq.org/

  • Comments Off
  • Filed under: Finance, Islam
  • Belajar Investasi

    Apa yang diharapkan dalam sebuah investasi? Return, bagi hasil atau laba. Sebagaimana diketahui bersama bahwa mengandalkan model konvesional mengelola keuangan dalam bentuk tabungan hanya akan mengurangi nilai dari tabungan itu sendiri, karena tidak seimbangnya tingkat bunga (bagi hasil) tabungan dengan inflasi. Oleh karenanya, investasi lah jawabannya.

    Namun investasi bukanlah tindakan sporadis alias tergesa-gesa. Investasi adalah tahap selanjutnya dalam pengelolaan kekayaan. Setelah kita berhasil dengan baik dalam mengelola keuangan, barulah kita belajar untuk sedikit demi sedikit untuk mulai berinvestasi.

    Secara teori, portoflio investasi kita harus bisa terbagi dalam tiga kategori; investasi jangka panjang, menangah atau pendek. Mengetahui tujuan investai beserta resikonya lalu mengalokasikannya dalam kategori yang tepat adalah lebih dari separuh keberhasilan dalam berinvestasi.

    Investasi jangka panjang
    Dengan jangka minimal 5 tahun, maka beberapa pilihan investasi yang mungkin adalah rumah, emas, tanah, asuransi, saham atau reksadana.

    Untuk reksadana, ada baiknya menjatuhkan pilihan kepada reksadana saham disebabkan nilai masa depan yang akan bertambah. Karena secara terori, perekonomian diharapkan akan semakin baik di masa depan (termasuk kondisi perusahaan yang tercermin dari nilai sahamnya), sehingga reksadana saham pun prospektif untuk tipe jangka panjang. Selain itu, tingkat fluktuatif yang tinggi dari saham (day per day) namun secara kecenderungan akan tetap naik.

    Jika memungkinkan dan berani mengambil resiko, jatuhkan opsi pada saham sekalian (bukan hanya via reksadana). Targetnya jelas, minimal 5 tahun. Prakteknya, pilih seksama reksadana (atau saham) yang prospektif, beli dan lupakan investasi yang baru saja dilakukan!

    Untuk asuransi, jangan sampai terjebak dengan iming-iming mendapatkan claim yang besar, apalagi jika kita sudah tercover dalam asuransi di kantor. Kuncinya harus cerdas dalam memilih asuransi, tidak termakan bujukan asuransi sehingga terjadi dualisme asuransi berjalan yang mubazir. Sebisa mungkin pisahkan antara urusan asuransi dengan investasi (karena banyak yang menawarkan asuransi sekaligus investasi), supaya fokus sesuai dengan tujuan masing-masing.

    Hasil setelah periode, bisa ditujukan untuk pendidikan anak, upgrading rumah, kendaraan, atau memberbesar skala usaha.

    Investasi jangka menengah
    Dengan jangka antara 1 hingga 5 tahun, maka beberapa pilihan investasi yang mungkin adalah emas, asuransi, atau reksadana.

    Untuk reksadana, pilihan bisa jatuh pada reksadana jenis campuran. Dengan tingkat resiko yang lebih kecil dari reksadana saham (pastinya return yang lebih kecil juga), namun tingkat fluktuatif nya tidak sedramatis reksadana saham. Opsi campuran bisa disesuaikan sesuai dengan profil resiko yang ingin di ambil. Misal, untuk yang lebih berat ke high risk high return maka porsi reksadan saham yang dominan. Untuk yang bertipe konservatif, maka opsi pendapatan tetap (obligasi) yang dominan.

    Pilihannya jelas, dengan jangka yang menengah maka return yang diharapkan juga jangan terlalu tinggi. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan nilai (manfaat) dari keuangan kita dibandingkan hanya di tabungan. Hasilnya, bisa ditujukan untuk membeli rumah atau kendaraan pertama, rencana pendidikan pasca sarjana atau tambahan modal usaha baru sebelum mengundurkan diri dari perusahaan.

    Investasi jangka pendek
    Dengan jangka maksimal 1 tahun, maka pilihan investasi yang mungkin adalah deposito atau reksadana.

    Apa tujuan hasil investasi model seperti ini? Misal untuk menikah, beli rumah atau kendaraan yang direncanakan tahun depan. Sesuai dengan time bound 1 tahun, maka tujuan investasi ini untuk mendapatkan return setidaknya lebih besar dibandingkan tabungan konvensional. Sehingga sekalipun tergerus inflasi, tidak besar. Atau sebisa mungkin menjaga nilai return di atas sedikit dari prediksi inflasi.

    Untuk reksadana, pilihannya jatuh ke reksadana pendapatan tetap. Sesuai dengan namanya, obyek dari reksadana ini adalah surat utang atau obligasi yang berpendapatan tetap dimana kisaran tipis di atas rata-rata inflasi (6% per tahun).

    Untuk deposito, pilihannya daripada mandeg di tabungan biasa yang return-nya minimalis. Makanya, kita pun harus jeli menghitung profil deposito. Dan berdasarkan pengalaman, profil deposito di bank syariah secara umum masih lebih tinggi return-nya dibandingkan bank konvesional.

    Selain pertimbangan waktu diatas, ada satu pertimbangan lagi yang sebaiknya digunakan dalam berinvestasi, yaitu moral investasi. Maksudnya, tidak tamak (greedy) dalam berinvestasi dan tetap memegang norma. Baik lewat jalur amal kepada yang membutuhkan atau pilihan investasi dengan perangkat syariah. Return tinggi memang tujuan, tapi keberkahan dalam investasi adalah priceless.

    Sekali lagi, mengetahui tujuan investai beserta resikonya lalu mengalokasikannya dalam kategori yang tepat adalah lebih dari separuh keberhasilan dalam berinvestasi.

    Satu kunci terakhir untuk investasi, berani. Berani mengambil keputusan beserta resikonya. Selamat berinvestasi.

  • Comments Off
  • Filed under: Bisnis, Finance
  • Wealth Management

    Manajemen Kekayaan merupakan salah satu layanan yang disediakan bank dewasa ini. Garis besarnya, nasabah yang masuk kategori wealth disediakan layanan-layanan perbankan yang lengkap. Mulai dari perencanaan finansial, konsultasi keuangan hingga pilihan investasi.

    Maraknya Wealth Management (WM) di bank tidak terlepas dari adanya orang-orang kaya dan superkaya yang semakin banyak di indonesia. Kategori kaya atau superkaya itu menurut Merril Lynch & Co dan perusahaan konsultan Capgemini Lorenz pada tahun 2007 dibagi tiga.

    Kategori pertama, golongan superkaya yakni yang memilki kekayaan lebih dari 30 juta dollar AS (sekitar 270 miliar rupiah). Golongan kedua, orang kaya menengah yang kekayaannya antara 5 juta – 30 juta dollar AS (sekitar 45 – 270 miliar rupiah). Dan ketiga, golongan kaya biasa yang kekayaannya antara 1 – 5 juta dollar AS (sekitar 9 – 45 miliar rupiah).

    Untuk perbankan, WM tidak hanya menjadi sumber dana besar yang akan digunakan dalam bisnisnya tapi juga sebagai salah bentuk loyalitas nasabah kepada bank tersebut. Oleh karenanya, bentuk pelayanan WM yang disajikan pun terbilang wah.

    Untuk perencanaan finansial, nasabah WM bisa menyampaikan keinginan masa depan keuangan misalnya setelah pensiun ingin pendapatanya berapa, sekolah anak, mobil, rumah atau rencana liburan ke depan. Dengan profil keuangan (financial check up) yang ada sekarang, bank bisa memberikan konsultasi untuk menempatkan dana nasabah ke pos-pos investasi yang mungkin, misalnya saham, unitlink, asuransi, reksadana, obligasi, emas, deposito dan portofolio lainnya. Tetap saja, keinginan nasabah menjadi utama disini. Nasabah bisa menempatkan dan menggunakan uangnya kemana saja.

    Selain layanan keuangan, nasabah WM pun menadapatkan banyak kemudahan dan kenyamanan. Hotlink khusus, layanan saat di luar negeri, transaksi tanpa biaya, dan bila di bank maka akan dilayani petugas penuh senyum, internet dan telepon gratis, majalah gratis sampai memanggil bank officer ke tempat nasabah.

    Dengan layanan ciamik tersebut, bank pun pasang syarat jumlah minimal tabungan yang tidak sedikit. Sebagian besar bank (misalnya Mandiri, Citibank, Commonwealth, HSBC, Permata) mematok jumlah minimal 500 juta untuk menjadi nasabah WM. Dan setelah menjadi nasabah WM lalu jumlahnya kurang 500 juta, maka siap-siaplah untuk terkena biaya yang ‘tidak biasa’. Namun, ada beberapa bank yang mematok opsi angka di bawahnya, seperti 100 juta (Standchart) atau New to Invest Citibank yang ‘hanya’ 50 juta.

    Berdasarkan survei 2006 tentang High Net Worth Individual (HNWI), HNWI indonesia mendapatkan kekayaannya 51 persen dari bisnis, dan 15% dari pendapatan. Sebagai perbandingan di Jepang, 30 persen dari warisan dan 28% dari bisnis. Warisan menjadi sumber kekayaan kedua (pertamanya bisnis) untuk Hongkong, India dan Singapura. Selain indonesia, pendapatan menjadi sumber kekayaan kedua di Korea Selatan dan Taiwan. Sedang saham, adalah sumber kedua di Australia dan China.

    Dari data tersebut, jelas bahwa bisnis merupakan sumber kekayaan utama bagi orang-orang kaya tersebut. Benar adanya bahwa ungkapan bahwa jika ingin kaya, maka jadilah pengusaha atau wiraswasta.

    Inilah yang harus ditangkap perbankan untuk tidak hanya bergerak dalam mengelola bisnis kekayaan tapi juga menciptakan bisnis itu sendiri. Bank seharusnya semakin banyak memainkan peran penyaluran kredit ke sektor riil sebagai sumber utama pencipta orang-orang wealth tersebut. Paradigma inilah yang seharusnya dilakukan perbankan dalam jangka panjang.

    Dengan semakin banyak orang-orang kaya baru (baca: pengusaha), diharapkan juga makin mengurangi problem-problem sosial yang masih banyak di negara ini. Jika wealth management sudah mengarah kesana, maka konsep WM pun tidak hanya bisa dinikmati sejumlah kecil masyarakat elit kita. Semakin banyak yang sejahtera, bangsa kita pun akan makin sejahtera.

    Sumber: Kompas, 15 April 2008

  • Comments Off
  • Filed under: Bisnis, Finance, Opini