Belakangan ini postingan saya sangat personal. Kali ini tidak. Mari membahas lagi hal-hal selain tentang Lucky di luar sana.

Banyak dari anda mungkin akan merasa hal yang akan saya bahas ini tidak penting. Tak apalah. Yang penting saya senang dan merasa ini merupakan topik menarik.

Mari bicara tentang “potret pemuda idola”. Bagaimana? Tentu saja “idola” itu merupakan sebuah kesepakatan umum. Lalu bagaimana? Dari survey, gitu? Tidak, terlalu merepotkan. Karena ini tulisan yang tidak berpretensi untuk ilmiah, mari kita lihat (lagi-lagi) dari pop culture, ditambah dengan generalisasi kasar dan sangat brutal.

Mari kita lihat dari film-film Indonesia. Lingkupnya tentu saja Indonesia, dengan lingkup waktu (lagi-lagi menggunakan pembagian seenaknya) per dekade, dari 70-80-90-00-an. Jangan lupa, generalisasi yang digunakan akan sangat brutal. Namun tetap arguable.

Pemuda yang jadi idola adalah pemuda pecinta yang populer lewat film-film di zamannya. Itu tesis utamanya. Dari identifikasi peran yang dimainkan di film favorit, mari kita lihat seperti apa sih karakteristik pemuda idola itu.

(btw, saya merasa judulnya bikin ilfeel. “Pemuda idola”…halah…tak apalah. Saya tak menemukan kata-kata lain yang lebih bagus).

Tahun 70-an, zaman ibu-bapak saya muda, yang jadi potret pemuda idolanya adalah Roy Marten. Asli deh, menurut cerita yang saya dengar dan banyaknya film Roy Marten saat itu, saya mendapat gambaran bahwa dia itu bener-bener idola sejati! Nah, emang gimana karakter yang biasa dimainkan Roy di film-filmnya zaman dulu? Karena film juga representasi selera populer masyarakat, maka ini pula yang dianggap potret yang harus dicontoh oleh para pacar gadis-gadis zaman itu. Jadi gimana?

Kalau diingat-ingat lagi, citra Roy dulu itu seorang playboy…Pria ganteng, womanizer sejati, pecicilan, dengan kata-kata indah yang sekarang sih gombal banget. Biasanya nih playboy hinggap dulu di beragam bunga, sebelum ketemu dengan perempuan yang dia benar-benar cinta, dan akhirnya nih playboy takluk. Kata-kata indah, tampang ganteng dan necis: sangat penting (dulu).

Mari beranjak ke tahun 1980-an. Siapa? Tahun 70-an ada Roy, tahun 80-an hingga 90-an awal adalah masanya…si Boy. Film “Catatan si Boy” benar-benar fenomenal: ada 5 (!) seri, syutingnya di luar negeri dan sangat mewah, serta ditonton banyak orang (untuk ukuran zamannya). Emang gimana sih mas Boy ini? Mari dengarkan original soundtrack-nya dari Ikang Fawzi: Baik hati dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar, oh Boy! Kedengeran seperti Pramuka? Apa boleh buat, memang liriknya seperti itu, dan dalam film-filmnya juga dicitrakan Boy memang seperti yang dinyanyikan. Ia baik hati, kaya, tapi masih mau bergaul dengan siapa saja (tidak sombong). Jagoan pula: suka ada adegan berantemnya, dengan preman-preman atau orang jahat. Mas Boy ini dikeroyok, tapi tetap menang! Jagoan deh. Terus pintar, kuliahnya di luar negeri (kalau tidak salah di UCLA). Tambahan lagi, Boy ini biar kaya, ganteng, pintar, tapi lumayan religius: di kaca spion mobilnya selalu tergantung tasbih dan ditunjukkan stiker ALLAH-Muhammad… Kali ini senjata Boy bukan lagi tampang ganteng dan kata-kata indah, tapi sikap yang gentleman, baik hati dan tidak sombong…

Tahun 1990-an tengah…Rasanya tak ada figur yang jadi idola. Iya lah, saat itu film Indonesia dipenuhi kata-kata “ranjang”, “sex”, “gairah”, dan lain-lain. Film-film dewasa, dengan pemeran pria yang asal ada (dalam film begituan, yang penting itu aktrisnya kan?).

Nah, maraknya film Indonesia juga memulai citraan baru tentang pemuda idola. Rangga di Ada Apa dengan Cinta?, terus peran-peran yang dimainkan Samuel Rizal. Agak beda dengan idola-idola zaman dulu yang gaul, supel, terus agak-agak playboy, idola zaman 90 akhir-2000-an ini bukan tipe cowok yang asyik. Tipe-nya itu cool, agak freak, tapi tetap ngganteng, sehingga bisa tetap jadi idola dan tidak memalukan disandingkan dengan Shandy Aulia atau Dian Sastro. Rata-rata para idola baru ini tidak banyak omong (minimal pada awalnya). Tidak banyak juga mengumbar kata cinta. Jika mengumbar pun, akan keliatan groginya. Tipe pria yang agak susah mengucapkan dan tak mengobral kata-kata cinta, tapi ketika mencinta itu serius sekaleee…

Karena saya juga hidup di zaman mereka jadi idola, jadi saya bisa merasakan semangat yang ada. Buat para cewek jelas: klepak-klepek…Aduh, ganteng ya…Cool banget! Buat para cowok: benci. Dianggap banci (padahal hanya manifestasi rasa iri…hehehehe). Reaksi setiap cewek pada tiap zaman terhadap para idola ini mungkin sama: cinta! Saya tidak tahu reaksi cowok pada zaman masing-masing, tapi zaman ini saya tak pernah ketemu pria yang mengidolakan Samuel Rizal atau Nicholas Saputra…yang ada mencibir. Biasalah, iri tanda tak mampu.

Bagaimana figur idola selanjutnya? Entahlah. Kemarin saya nonton Badai Pasti Berlalu, dan citraan Leo yang ingin ditampilkan juga lebih 1990-an, daripada om Roy di film pertamanya. Sekarang gak terlalu pecicilan, dan agak-agak cool. Jadi pergeseran citraannya ke idola selanjutnya masih belum kelihatan. Oh iya, denger-denger Ayat-Ayat Cinta akan difilmkan. Kita lihat apakah figur Fahri, protagonis pria dalam kisah itu, bisa menjadi potret idola baru.

Kalau iya, kabar baik buat para pria. Poligami bisa direstui para wanita (asal anda sekualitas dengan Fahri…=p).