Sebuah aggregator blog..
9 Jun
Sesuai dengan judulnya, dengan menggunakan metode simulasi dinamis untuk menganalisis dampak kenaikan harga BBM (solar atau High Speed Diesel, HSD) terhadap biaya operasional KA Argogede. Sekalipun time frame penelitian itu antara Januari 2005 hingga Juni 2006 dimana terjadi dua kali kenaikan harga solar yaitu pada 1 Maret 2005 dari Rp 1,650 ke Rp 2,400 dan pada 1 Oktober 2005 ke Rp 4,300 per liter.
Sekarang dengan kenaikan harga solar akhir Mei lalu ke Rp 5,500 per liter, maka secara langsung berdampak juga terhadap PT KA khususnya sesuai dengan topik TA tersebut pada KA Argogede (Jakarta-Bandung pp).
Beberapa kesimpulan yang bisa disarikan dari TA tersebut, dan masih relevan dengan kenaikan BBM sekarang adalah;
1. Kontribusi biaya BBM terhadap biaya operasional KA Argo Gede 72 – 74 %, dan kontribusinya akan mengalami kenaikan jika terjadi kenaikan harga BBM. Sedangkan rasio Biaya BBM terhadap pendapatan KA dan Biaya Operasional terhadap pendapatan KA, adalah 0,40 dan 0,55. Rasio ini akan mengalami kenaikan jika terjadi terjadi kenaikan harga BBM.
2. Biaya Operasional akan mengalami kenaikan 0,73 % setiap kenaikan harga BBM sebesar 1 %.
3. Dari simulasi yang dilakukan, Jika terjadi kenaikan harga BBM di Bulan November 2006 atau Maret 2007 dan berarti bisa berlaku setiap waktu, maka setiap 3 % kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan sebesar kurang lebih 0,01
Dari kesimpulan tersebut, kenaikan harga solar 27.91% pada Mei lalu secara langsung akan berdampak;
Pertama, biaya operasional KA Argogede naik 20.37% (sebuah kenaikan yang besar bukan?)
Kedua, Terjadi kenaikan rasio biaya operasional terhadap pendapatan sebesar 9.3%, sehingga rasio biaya operasional terhadap pendapatan KA Argogede menjadi 0.55 + 0.09 = 0.64
Dengan hasil tersebut, lalu apa artinya? Sesuai dengan rekomendasi pada hasi penelitian TA tersebut, beberapa hal yang bisa dilakukan PT KA pada operasi KA Argogede yaitu,
1. Perlu dikaji nomor-nomor KA Argo Gede yang kurang efisien atau okupansi rendah.
Dimana secara umum total stamformasi 5 kereta yang terdiri dari 3 kereta eksekutif (K1), 1 kereta pembangkit (BP) dan 1 kereta makan (KM).
2. Membuat program dan merealisasikan pengubahan BP dan KM1 KA Argo Gede yang terpisah menjadi MP1, sehingga tonase menjadi lebih kecil.
Maksudnya digabung antara BP dan KM (dimana PT KA sudah punya jumlah sedikit) sehingga bebannya lebih ringan, konsumsi BBM lebih rendah. Jika sudah digabung, K1 bisa ditambah untuk jam yang sibuk sehingga jumlah penumpang bisa lebih banyak dengan biaya BBM yang efisien.
3. Untuk mempertahankan atau mengurangi rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan, maka harus dikaji kenaikan harga tiket KA Argo Gede secara lebih mendalam.
Selain rekomendasi tersebut, ada pertimbangan lain jika terjadi kenaikan harga BBM yang menyebabkan naiknya rasio biaya operaional terhadap pendapatan (dimana margin jadi lebih kecil). Pertimbangan lain itu juga disimpulkan dalam penelitian tersebut, yaitu;
Kenaikan Biaya Operasional akibat kenaikan harga BBM menyebabkan naiknya rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan KA, sehingga margin keuntungan turun. Untuk mempertahankan rasio, bisa diberlakukan kenaikan harga tiket dan atau efisiensi Biaya Operasional. Melihat persaingan moda transportasi Jakarta – Bandung yang ketat, maka kebijakan penurunan batas margin profit dan efisiensi biaya operasional KA Argo Gede dinilai lebih sesuai.
Di sisi lain jika sekarang anda pernah sesekali melihat atau malah mencoba KA Argogede akhir-akhir ini, maka harga tiketnya menjadi Rp 45,000 padahal pada penelitian TA diatas menggunakan harga tiket Rp 75,000 (weekend) dan Rp 70,000 (week days).
Asumsi baik saya, PT KA memilih mengurangi banyak ketidakefisienan komponen biaya operasional daripada menaikan tiket KA karena ketatnya persaingan moda transportasi jakarta-bandung, sehingga harga tiket turun menjadi ‘hanya’ Rp 45,000
Lalu setelah terjadi kenaikan harga BBM, apakah PT KA akan tetap bertahan pada harga tersebut? Padahal beberapa moda transport sejenis (bus dan travel) sudah ancang-ancang menaikan tarif.
Kalau itu, saya tidak bisa menjawab. Untuk membantu menganlisis dampaknya, penelitian saya mungkin perlu di update (harapan saya bapak-bapak pejabat KA yang saya share copy TA tersebut peduli). Model penelitiannya bisa sejenis dengan penelitian tersebut, sedang nilai variabelnya disesuaikan dengan data terbaru.
Buat adik-adik mahasiswa yang tertarik, bisa saja ini menjadi bahan topik TA yang menarik. Sekalipun saya sudah beberapa hal tentangnya lupa, tapi insyaAllah masih bisa membantu. Semua karena saya peduli kereta api. Negara modern selalu identik dengan sistem transportasi massal KA yang sangat baik. Dan secara emosional, buat saya perjalanan dengan kereta api selalu lebih menarik. :)
2 Feb
Drilling is the most critical and expensive activity in oil gas industry. That is why a drilling operation must be well programmed in accordance with time, cost and drilling target. The main job of a drilling engineer is to design a drilling program, contains of target depth, drilling time, cost, casing, and cementing program. In drilling operation at a producing field or development wells, there is a relationship between cost and depth. And by mathematical model, it can be obtained the drilling and trip time formula using the sample data. The drilling time formula can be used as guidance in creating drilling program in Kaji Field is td=0.748(e0.00121D-1), and the trip time formula is tt=(0.003)D. In order to get an optimum cost-per-foot, a 517 bit 8½ in should be better operated for about 32 hours rotating hours. While the optimum rotating hours for 117 bit 12¼ in can not be obtained because the main goal of early drilling is to direct drill string in operating directional drilling and that drilling needs to be controlled in a certain Weight on Bit (WOB) even in soft formation to maintain Rate of Penetration (ROP).