Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Cerita’ Category

Menjadi laki-laki

“Aku ingin menjadi laki-laki“
Kalimat itu yang terucap saat terakhir kita bertemu di lembah itu. Dan sekejap langsung nafasku terhenti. Kupandang dirimu yang menatap kosong pada rerumputan ilalang di bawah sana. Wajahku serius menenatpnya, menunjukan sebuah keterkejutan sekaligus pertanyaan. Ingin menjadi laki-laki, apa sedari dulu kau bukan seorang laki-laki?

Hingga akhirnya kau meninggalkanku di kota itu. Bukan saja diriku, tapi juga semua kehidupan mapanmu lainnya. Kau sudah bekerja pada sebuah perusahaan multinasional, dengan jabatan yang tidak semua orang bisa mudah mendapatkannya. Gaji? Jangan kau tutup-tutupi, tapi untuk hidup, lalu menabung, dan lainnya pun masih terasa berlebihan. Kau laki-laki, tepatnya laki-laki yang sudah bisa mendapatkan kemapanan, sebuah tingkat yang jarang manusia lain bisa mencapainya di seusiamu.

Lalu, kehidupan bahagia yang disyaratkan dengan adanya rasa cinta dan kasih sayang pun sudah kau ciptakan. Orang tua atau ibumu, tentu bangga dengan apa yang raih. Lulus dari sebuah perguruan tinggi bergensi dengan predikat berprestasi, dan diteruskan dengan karir kerjamu.

Sahabat atau teman, sebuah kelompok yang harus dilihat jika ingin mengetahui pribadi seseorang. Kau punya sahabat dan teman yang menyayangi. Dan bahkan sangat menyayangimu. Yang namanya kepercayaan dan pengkhianatan adalah dua hal sekeping yang kau hati-hati disana. Hampir teman atau sahabat orang mengenalmu yakin, bahwa kau teman atau sahabat yang baik.

Jika kemudian kau rasakan bahwa kehidupan begitu hampa dan sendiri, mungkin itu karena kau tak kunjung juga menemukan belahan hatimu. Tapi itu hanya urusan waktu bukan, seperti yang pernah kau katakan. Seseorang yang mantap dengan calonnya pun belum tentu akan menjadi pasangan sejatinya karena memang bukan jodoh untuknya. Ah, aku jadi ingat bagaimana kau jatuh cinta pada seseorang dan tak tercapai cintamu itu. Dengan perempuan, laki-laki memang siap melakukan tiga hal: mencintainya, terluka karena cintanya, dan menjadikannya inspirasi karya sastra.

Pun bukan masalah besar mengenai pasangan itu. Sekali lagi, kau sedang menunggu saat yang tepat (atau orang yang tepat?). Bisa saja kau akan melupakan atau setidaknya tidak memikirkan tentang berkeluarga.Ingat yang kau katakan, manusia itu berproses dalam hidupya. Dan menikah serta berkeluarga, adalah salah satu proses kehidupan yang maha penting. Jangan kau biarkan dirimu terlena dengan kehidupan yang kau rasakan sekarang.

Dan, kau memang tidak terlena dengan kehidupan yang kau capai sekarang. Sengaja kau mengajakku ke lembah ini untuk mengucapkan kata perpisahaan. Pekerjaan dan uang adalah penting, namun semua akan sia-sia tanpa ada kepuasaan hati disana. Dan kau katakan padaku, bahwa kau ingin bekerja (atau mengabdi lebih tepatnya) di sebuah lembaga sosial yang menangani rehabilitasi Aceh pasca tsunami.

Antara bahagia dan heran aku tanggapi rencanamu itu. Bahagia, karena tidak semua orang punya itikad untuk melakukan pekerjaan sosial seperti itu. Jangankan untuk pergi ikut bersama menangani kondisi pasca bencana, untuk membuka mata hati atas ketimpangan di sekitarnya pun tidak semua orang bisa. Mulia, sungguh niat mulia yang kau punya untuk pergi ke Aceh.

Tapi aku juga heran, itu artinya kau akan meninggalkan semua yang kau dapat disini. Kehidupan mapan dengan pekerjaan yang prestis, ibu yang selalu mendo’akan dan tak berhenti mencurahkan kasihnya, teman serta sahabat yang selalu menyediakan diri berbagi dalam suka maupun duka. Kau akan tinggalkan semuanya. Benarkah, kau akan meninggalkan itu semua?

“Tapi, aku ingin benar-benar menjadi laki-laki“ Sekali lagi, kau ucapkan itu dalam suara mantap dan dalam. Tentu bukan tanpa alasan kaui ucapkan itu. Sebuah bahasa tersirat, bukan bahasa tersurat.

“Apa yang kau inginkan dengan manjadi laki-laki?“ sebuah pertanyaanku menyergap datang kepadamu.
“Seorang laki-laki, adalah manusia yang punya tanggung jawab, tangguh dan berani. Semuanya dalam keadaan yang lebih dan lebih lagi dalam setiap penggalan masa.“ Kau memulai untuk menjelaskan panjang lebar alasanmu.

Bagaimana laki-laki akan mempunyai tanggung jawab, jika tanggung jawab yang diemban sekarang tidak membuatnya merasa berat sehingga hidupnya benar-benar harus dipertaruhkan untuknya. Untuk tanggung jawab, kau tidak sepakat bila tanggung jawab sebagai suami atau ayah adalah jawaban. Ini adalah tanggung jawab terhadap orang lain, katamu. Dan kau katakan bahwa tanggung jawab yang paling tinggi kepada tanah yang diinjaknya. Aceh adalah bagian tanah kita yang sedang bangkit kembali, dan kau ingin mengambil tanggung jawab itu.

Lalu, laki-laki seharusnya tangguh dalam menghadapi kehidupan. Ketangguhan itu dilakukan, bukan dengan berdiam. Semakin mendapatkan sesuatu terpaan menggoncang, disitulah ketangguhan diuji. Dan kau tak merasa tangguh dalam kondisi nyaman, semua tercukupi seperti sekarang. Tidak memicu ketangguhan itu muncul, dalam wujud yang sejati. Dan laki-laki, tak pantas dalam kondisi yang seharusnya dirasakan oleh seseorang yang diayominya.

Laki-laki pun harus mempunyai keberanian, harus berani. Dan kau katakan untuk selalu menjalani hidup seperti dalam keadaan antara hidup dan mati, maka kita akan berani maju tanpa berpikir apa yang kita punya sekarang dan tidak takut untuk meninggalkan semuanya. Itulah yang dialami para serdadu, atau pejuang perang. Maju terus tanpa beban dan senantiasa menghargai hidup, karena sedetik kemudian bisa saja tertembus peluru dan nyawa pun meregang.

Tanggung jawab, tangguh dan berani. Ternyata itu kau cari, yang kau kejar dan ingin kau dapatkan. Kau ingin tanggung jawab lebih, kepada bangsamu. Kau sengaja lemparkan dirimu dalam kondisi selalu genting, sehingga tangguh itu terbentuk. Kau ingin antara ada dan tiada, lalu berani itu muncul.

Dan kau katakan yang paling membuatmu tersentak adalah ucapan pimpinan gerakan pembebasan Libanon suatu ketika, sesaat setelah Israel memborbardir daerah perbatasan hingga kota. Pimpinan itu berkata pada seluruh rakyat Libanon terutama kepada kaum prianya. “Jadilah laki-laki, sekalipun hanya untuk sehari.“

Aku diam, kau sudah katakan apa yang harus kau katakan.
“Kapan kau akan berangkat?“

”Besok. Secepatnya.“ Suaranya tercekak, dia menatapku dengan pandangan yang teduh, senyum hangat dan penuh sayang. Aku tak kuasa mendekap, memeluknya dan tak terasa kelopak mata terasa hangat oleh air mata yang mulai membasah.

Dan kau katakan lagi dengan mantap dalam dekapan.
“Aku ingin menjadi laki-laki“

***
Selamat milad...
  • Comments Off
  • Filed under: Cerita, Refleksi
  • Pulang

    Kereta berjalan pelan masuk ke stasiun besar Madiun, stasiun kota terdekat di kampung halamanku. Jam masih menunjukan pukul 3.05 pagi hari. Jelas, naik kendaraan umum sepagi ini tidak akan membawa ke rumah ibu. Hanya ada dua pilihan. Menunggu hingga matahari agak naik lalu menuju jalur bus yang akan membawa pulang, atau naik taksi yang baru sekali aku lakukan saat lebaran kemarin.

    Tentu bukan masalah uang, dibandingkan segera bertemu dengan ibu pasti lebih berharga. Tapi cinta itu rasional. Aku belum mendapatkan tiket kembali ke Jakarta, maka sambil menunggu loket buka jam 7, tak ada salahnya tidur dan sarapan nantinya.

    Jarum jam menunjukan 3.25. Setelah memberitahu ibu tentang rencanaku, ku rebahkan tubuh di bangku peron stasiun. Untung aku segera menadapatinya sesaat turun kereta tadi, karena tak ada yang kosong lagi. Semua penuh dengan manusia yang entah menunggu pagi atau kereta pagi, terbuai dalam mimpi atau lamunnya.

    Kursi peron yang tidak bisa menampung selonjoran tubuh. Jadi ingat bahwa kursi peron inilah yang menjadi tempat favorit saat smu dulu. Duduk disini, sambil membaca. Melihat kereta dan orang lalu lalang dalam perjalanan. Selalu menyukai tempat semacam peron ini. Bahkan di Bandung pun, ukuran dan bentuk kursi peron ini tidak juga beda. Tampak sebuah mozaik.

    Tas ransel dijadikan penyangga kepala, badan direbahkan, kaki dilipat, tidur miring supaya muat dan nyaman dilihat orang. Sandal, ah..biarlah semoga tetap aman.

    Mata masih sempat melihat jarum panjang hampir menyentuh angka 11, sempat mendengar suara lokomotif kereta dari Bandung. Deru lokomotif sekali-sekali masih terlintas di telinga, namun mata tak pernah ingin membuka. Lelap sekali.

    Terperanjat, masih cukup gelap ternyata. Takut terang, ketinggalan Subuh. Jam 5 kurang, syukurlah. Bangun, lalu ke mushola stasiun.

    Pukul 5.25, masih lama juga. Beranjak keluar mushola, menemukan petugas stasiun dan ternyata katanya loket buka jam 7.30 atau malah jam 8. Duh, akan lama bengong dari sekarang. Berpikir cepat, sudahlah coba beranjak keluar stasiun.

    Ini salah satu yang tidak aku sukai saat pulang. Apalagi kalau bukan tukang bejak, ojek atau taksi yang berkerumun di gerbang keluar. Bahkan sudah ada satu, dua orang yang membuntuti sejak bangun dari peron tadi.

    Jadi ingat kejadian pulang kampung saat masih kuliah dulu. Hanya karena aku bertekad tak akan pernah menerima tawaran dari mereka-mereka, maka ku paksakan berjalan lebih dari 2 kilometer untuk mendapatkan angkutan kota. Ada satu tukang ojek yang keukeuh membuntuti dari peron sampai keluar stasiun. Semakin ditawari, semakin hati menolak. Beradu keras kepala. Dan akhirnya aku yang menang. Puas.. ingat cerpen Becaak yang ada di buku bahasa zaman SMP atau SMU dulu.

    Sekarang pasti beda, tak ingin sekejam dulu. Tapi prinsipnya tetap, penumpang adalah raja dan berhak menentukan pilihan.

    Ada satu tukang becak yang menempel dari tadi. Usianya sekitar 40an tahun. Aku bilang mau sarapan dulu, dia malah memebri saran sarapan nasi pecel di depan kiri stasiun, katanya enak. Pura-pura menuju kesana. Hmm, tidak sebegitu selera karena ingin lari dari abang ini.

    Setelah bertanya berkali-kali dari keluar tadi, akhirnya kujawab ingin ke jalur bus antar kota (ingat, aku tak boleh sekejam dulu). Dia semakin semangat menawarkan. Inilah pelajaran bagi calon penumpang yang dikejar. Saat dibuka pintu, dia akan minta lebih mendorongnya masuk. Ada kalanya lebih baik diam saat ditanya memang. Tapi dari tadi dia sangat nempel sendirian, tampak berharap mendapat rezekinya pertama pagi ini (saya tidak boleh sekejam dulu, tidak boleh!).

    Becak, tak ada salahnya dicoba. Cukup artistik. Sangat sulit ditemukan di kota besar, di Jakarta atau Bandung. Ingat saat naik becak dari Lempuyangan bersama teman ke rumahnya di Timoho. Menyusuri jalan-jalan sepi pagi hari di Jogja, sungguh menyenangkan.

    Oh berapa, 10 ribu? Dengan jarak tidak jauh, itu terlalu mahal. Itulah pelajaran kedua, setelah mendapatkan kesempatan menjadi penumpangnya, tetap berpikir logis antara jarak tempuh dan ongkosnya. Konon, setidaknya tawar sampai setengahnya dulu. Dan memang dengan 5 ribu aku berpikir ojek pun akan mau. Jadi posisiku kuat sekarang.

    Turun menjadi 8 ribu, tapi aku tak bergeming, sambil berpura-pura menatap tukang nasi pecel. Aku membalik badan dan berjalan karena tak ingin meladeninya. Toh ada ojek di depan jauh ku persis, sambil menunggu seandainya tukang becak gagal mengambil penuh hatiku.

    Lalu menjadi 6 ribu, sambil mengatakan selisih seribu buat rokok sebatang katanya. Rokok, bukan alasan yang baik pikirku. Makin hilang respek. Pun dengan seribu lagi, aku yakin dia akan mau ke angka 5 ribu. Aku hampir menang, hanya perlu sabar. Inilah pelajaran ketiga, jika sudah logis dengan sebuah angka saat menawar. Pertahankan dengan baik dan sabar.

    Berjalan sebentar, dan dia menyatakan mau. Dia masih punya posisi. Tidak apa-apa ucapnya, sekalian ingin ke pasar barang bekas. Dalam hati, setidaknya aku tidak sekejam dulu (astagfirullah..).

    Mengkhawatirkan juga, naik becak dan agak goyang-goyang saat duduk di atasnya. Kursi ini buat dua orang lebih tepatnya, hmm.. memang seharusnya bersama teman perjalanan yang menemani nantinya. Naik becak, merasakan jalan meliuk dan pagi yang cerah. Sebuah perjalanan yang artistik.

    Becak menyusur jalan anggrek, dari depan stasiun ke kiri dan bukan ke jalan biliton. Jalan-jalan perumahan, segar udara pagi Madiun. Menengok jam, masih belum jam 6. Sepanjang jalan, ada saja orang yang disapa si tukang becak itu. Mulai tegur sapa, tanya kabar anak, bisa saja jadi bahan bertemu orang sekitaran jalan. Mungkin orang daerah sini, pikirku.

    Jalan ternyata tembus ke terminal lama, dan berhenti di warung nasi pecel yang kata tukang becak enak, warung bu gito. Kuberikan 5 ribu untuknya, dan aku masuk ke warung.

    Warungnya persis di pinggir jalan, keluar nanti bisa langsung menunggu bus. Sudah lama tak makan nasih pecel. Padahal rumus nasi pecel itu sederhana. Asal sambal dan paduan daun-daunnya pas, maka itu akan membuatnya enak. Benar kata tukang becak, nasi pecelnya enak. Dengan teh hangat, daging (di Jawa dikenal dendeng ragi, di Bandung yang mirip dinamakan gepuk), serta nasi pecel menggunakan pincuk (daun pisang yang dibentuk untuk wadah makan), benar-benar membuat pagi yang menyenangkan.

    Jarum menunjuk sekitar 6.20, dan bus yang lewat tempat ibuku datang. Dalam hati berkata, rute yang layak dijadikan rute pulang kampung di masa depan. Bersama seorang istimewa, perjalanan inipun akan terasa lebih menyenangkan nantinya. Ibu, aku pulang...


  • Comments Off
  • Filed under: Cerita, Perjalanan
  • Menjelang tidur

    "Nak, kamu harus segera tidur. Mamamu sudah dari tadi memintamu untuk segera tidur kan?" kata sang ayah kepada putranya.

    "Ayah.., sebentar lagi ya! Ini tanggung bacanya, lagi seru-serunya. kan kata ayah, sehari 50 halaman," si anak sungguh-sungguh menjelaskan kepada ayahnya.

    "Iya.. tapi mamamu benar juga nak. besok pagi kamu harus ikut jama'ah shubuh di masjid sama ayah."

    "Aku janji deh yah, besok ikut ke masjid. Asal dibangunin..." jawab si anak sambil senyum kecil.

    "Oh, baiklah. Sekarang janji ke ayah dulu ya, segera berangkat tidur setelah 50 halaman. Sudah malam nak, mamamu khawatir. Mama sayang sama kamu."

    "Ya ayah, aku janji. Tapi ayah jangan bilang ke mama ya, kalau aku belum tidur sekarang." "hmm.., ok. Selamat tidur sayang. Besok pagi kita shubuh ke masjid, ok?"

    "Ok yah!"

    "Tapi, tapi ayah.." si anak kembali menyahut persis sebelum ayahnya beranjak dari tempat tidur.

    "Besok abis shubuh dan mengaji, boleh tidur lagi? Kan libur.. hehe," si anak senyum manja kepada ayahnya.

    "lho.. bukanya besok kita mau lari pagi?"

    "ya.. setengah jam juga lumayan ayah, membayar malam ini.. hehe"

    "Wah, kamu ini yaa. Ssssttt....!" sang ayah berkata sambil menutup jari telunjuk tangannya ke mulut.

    "Aku sayang ayah...., " sergap si anak merangkul sang ayah.

    "Jangan lupa berdo'a ya. Have a nice dream sayang!"

    ***
    padahal, tidak hanya ibu!
    selamat hari ibu..


    :)


    @ oil field, south sumatera

  • Comments Off
  • Filed under: Cerita, Keluarga, Ragam