Sebuah aggregator blog..
23 Jan
Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif merupakan suatu pendekatan yang utuh dan terpadu ke arah terwujudnya efektvitas pribadi dan antar pribadi. Kebiasaan adalah pola perilaku yang terdiri dari tiga unsur yang saling bertemu yaitu : pengetahuan, keinginan dan keterampilan. Kebiasaan kita peroleh dengan belajar, bukan kita warisi. Karenanya ini merupakan sifat alami kita yang kedua, bukan yang pertama. Bagaimanapun, yang kita miliki saat ini bukanlah kebiasaan kita. Kita bisa menciptakan atau melepaskan kebiasaan kita.
Kebiasaan 1 - JADILAH PROAKTIF
Kebiasaan - Visi Pribadi
Menjadi Proaktif mempunyai arti bahwa manusia bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri. Secara alami kita selalu bertindak dan bukan menjadi sasaran tindakan. Kata tanggungjawab kita artikan sebagai kemampuan untuk merespon, yaitu kemampuan untuk memilih respon anda. Orang yang sangat proaktif menngetahui tanggungjawab itu. Mereka tidak menyalahkkan keadaan dan kondisi yang mempengaruhi sikapnya. Mereka mengembangkan kemampuannya untuk memilih jawaban/respon, sehingga respon-responnya merupakan hasil dari nilai-nilainya, hasil perasaannya atau situasi.
Kebalikan dari proaktif adalah reaktif. Ciri orang reaktif selalu mengalihkan tanggungjawabnya. Bahasa orang reaktif melepaskan mereka dari tanggungjawabnya. "Itulah saya. Memang begitulah saya. Saya sudah ditakdirkan begini dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya." Dia membuat saya sangat marah!" Saya tidak bertanggungjawab. Emosi saya dipengaruhi oleh sesuatu diluar kendali saya."
Kebiasaan 2 - MERUJUK PADA TUJUAN AKHIR
Kebiasaan - Kepemimpinan Pribadi
Merujuk pada tujuan akhir berarti memulai setiap hari dan setiap tugas dengan pemahaman yang jelas mengenai tujuan yang ingn dicapai. Dengan mengusahakan titik akhir tersebut tetap jelas dalam pikiran anda dapat memastikan bahwa apapun yang anda kerjakan pada hari tertentu tidak melanggar kriteria yang sudah anda definiskan sebagai yang paling penting, dan bahwa tiap hari dari kehidupan anda menunjang visi yang anda miliki tentang seluruh hidup anda dengan cara yang berarti.
Pernyataan Misi
Bagi saya, saya ingin mengembangkan diri, mengasih diri-sendiri, dan keleluasaan diri. Saya ingin menggunakan bakat penyembuhan saya untuk memelihara harapan dan mengekspresikan visi saya dengan berani baik dalam ucapan maupun tindakan.
Dalam keluarga saya, saya ingin membangun hubungan-hubungan yang sehat, saling mencintai di mana kami membiarkan diri masing-masing mewujudkan apa yang terbaik bagi kami.
Dalam pekerjaan, saya ingin membangun lingkungann belajar yang bebas-kesalahan, dan berkesinambungan yang mendorong keinginan untuk tumbuh dan membantu orang lain berkembang; rasa ingin tahu terhadap apa-apa yang tak dikenal; ketetapan hati untuk menghadapi secara langsung; dan keinginan untuk mengerti dan bekerja bersama orang lain guna menemukan dan memenuhi tujuan bersama.
Didunia, saya ingin menumbuhkan perkembangan semua bentuk kehidupan, secara harmonis dengan hukum-hukum alam itu sendiri.
Kebiasaan 3 - DAHULUKAN YANG UTAMA
Kebiasaan - Manajemen Pribadi
Apakah yang utama? Hal yang utama adalah hal-hal yang menurut anda pribadi paling berguna untuk dilaksanakan. Ia menuntun anda ke arah yang benar dan membantu anda mencapai tujuan yang ada di pernyataan misi pribadi anda.
Dahulukan yang utama menyatakan mengenai pengaturan waktu dan kejadian-kejadian yang berdasarkan pada prioritas pribadi yang ada pada Kebiasaan 2. Kebiasaan 2 adalah ciptaan pertama atau ciptaan mental, Kebiasaan 3 adalah ciptaan kedua atau fisik.
Kebiasaan 4 - BERPIKIR MENANG MENANG
Kebiasan - Kepemimpinan Antar Pribadi
Dalam hubungan antar pribadi ataupun dalam pekerjaan, efektivitas seringkali baru bisa tercapai jika ada usaha bersama dari dua orang atau lebih. Perkawinan dan hubungan kemitraan lainnya adalah suatu contoh kesalingketergantungan, tetapi seringkali orang berhubungan berdasarkan mental kemandirian, sepert berusaha bermain golf dengan menggunakan raket tenis-alat yang digunakan tidak cocok dengan olahraga yang dilakukan.
Kebiasaan 5 : BERUSAHA MENGERTI TERLEBIH DAHULU, BARU DIMENGERTI
Kebiasaan - Komunikasi
Komunikasi adalah keterampilan yang paling penting di dalam hidup. Kita mennghabiskan sebagian besar jam bangun kita untuk berkomunikasi. Tetapi coba pikirkan hal ini : Anda sudahh menghabiskan waktu bertahun-tahun unttuk belajar membaca dan menulis, bertahun-tahun untuk belajar bagaimana berbicara. Tapi bagaimana dengan mendengarkan? Pelatihan untuk pendidikan apa yang telah anda jalani untuk memungkinkan anda mendengarkan, sehingga anda benar-benar mengerti orang lain secara mendalam arti kerangka acuan individu itu sendiri?
Berusahalah mengerti terlebih dahulu atau mendiagnosa sebelum anda membuatkan resep, adalah prinsip yang benar yang dimanifestasikan di banyak bidang kehidupan. Sorang dokter yang bijaksana akan memeriksa pasiennya terlebih dahulu sebelum dia memberikan resep. Seorang insinyur yang ahli akan mengerti daya, tekanan yang bekerja , sebelum merancang sebuah jembatan. Salesman yang efektif akan mencoba mengerti terlebih dahulu pandangan orang lain sebelum dia dimengerti. Sebelum seseorang merasa lebih telah diperiksa dengan baik, dia tidak akan mau menerima resep tersebut.
Kebiasaan 6 : WUJUDKAN SINERGI
Kebiasaan - Kerjasama Kreatif
Prinsip dari sinergi ini adalah kebenaran dalam hubungan sosial kita. Dua orang, bekerja sama secara kreatif, akan mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada jika dilakukan oleh mereka sendiri. Sinergi mengajak kita untuk bersama-sama menemukan hal-hal yang kecil kemungkinannya kita temukan sendiri-sendiri. Ia akan timbul ketika pikiran kita saling mendorong satu sama lain dan ide-ide akan bermunculan. Saya mengucapkan sesuatu yang merangsang pikiran anda; anda merespon dengan ide yng mendorong saya. Saya membagi ide baru tersebut bersama anda, dann proses berulang terus bahkan terbentuk sendiri.
Kebiasaan 7 - ASAHLAH GERGAJI
Kebiasaan - Pembaharuan Diri
Mengasah gergaji berarti memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang anda miliki, yaitu diri anda. Kebiasaan ini memperbaharui keempat dimensi alamiah anda: fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional. Tanpa disiplin, tubuh kita menjadi lemah, pola pikir mekanik, emosi kita menjadi buruk (kasar), jiwa kita menjadi tidak sensitif, dan orang menjadi egois.
*training 7 habits, 24-26 February 2008 @ Puncak
25 Jun
Agak basi sih, soalnya kedua bukunya terbit sekitar 2005-2006-an. Tapi tak apalah. Baru dibaca hampir selesai keduanya baru-baru ini, dan baru kepikiran serta mensintesiskan (halah bahasanya!) juga sekarang-sekarang ini.
Blink itu bukunya Malcolm Gladwell, kolumnis the New Yorker. Membaca Gladwell itu, menurut saya, asyik banget, soalnya pengetahuan yang disajikan kadang-kadang hal yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Di Tipping Point, misalnya, ia berteori tentang hukum-hukum perubahan sosial. Teorinya masih spekulatif, tapi beragam kisah-kisah nyata yang dia ceritakan membuat pembacanya bergumam, “oh iya bener juga ya...”. Sampai-sampai di buku Change kedua Rhenald Kasali, dibahas juga tentang ‘teori’ Gladwell ini. Selain itu, Gladwell juga banyak mengilustrasikan dengan cerita dan kisah-kisah (nyata), yang kalau menurut buku yang dulu saya baca, argumentasi yang paling influential (saya nggak bilang baik atau benar) adalah dalam bentuk cerita ini. Itulah kenapa, di kitab-kitab agama, ada banyak sekali cerita. Nah, dari cerita-cerita yang diceritakan di bukunya itu, Gladwell menyambungkannya, membuat generalisasi, menarik konklusi.
Begitu juga di Blink. Gladwell membukanya dengan kisah di getty museum. Tentang pakar yang dalam beberapa detik pertama bisa merasakan ketidakberesan patung kouros (patung Yunani kuno) yang akan dibeli museum itu. Ia berteori, ada cuplikan tipis yang bisa dirasakan saat kita melihat sesuatu, dan dalam banyak kasus, kesan pertama itu benar. Terbukti patung kouros itu palsu.
Pesan dalam buku ini, otak manusia, bawah sadarnya (tapi bukan subconscious mind a la freudian) sebenarnya mampu melakukan proses blink, merasakan dan memberi penilaian yang akurat dalam 2 detik pertama. Dengan persyaratan tertentu. Tapi itu kita bicarakan nanti.
Michael R. LeGault, pernah jadi kolumnis juga di Washington Times (kayaknya agak beda kubu deh dengan New Yorker), menulis Think, untuk ‘menanggapi’ Blink. Sebenarnya kata ‘tanggapan’ atau ‘kritik’ atas Blink tidak tepat juga, soalnya tentang itu cuma dibahas di bab awal. Most of the book sih bicara tentang keprihatinan dia tentang bangsa Amerika yang terdegradasi semangat dan kemampuan berpikirnya. Kemampuan bangsa Amerika untuk berpikir kritis dan menganalisa sebelum memutuskan, menurutnya, menurun jauh. Padahal, Amerika pernah punya segerombolan filsuf yang melahirkan satu school of thought sendiri, pragmatisme. Bangsa Amerika lah yang berani lepas dari Inggris dan mendirikan suatu negara baru dengan konsep dan filosofi kenegaraan yang inovatif. Bangsa ini juga yang mencapai kemajuan sedemikian rupa, sehingga sekarang menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.
Fenomena semacam blink ini, yang LeGault sebut psikologi/filosofi new age-feel good, yang salah satunya mendegradasi kemempuan berpikir bangsa Amerika. Ia juga menyebut faktor-faktor lain: egalitarian intelligence (pendidikan agar sesuai dengan benak seseorang, bukan membentuk otak seseorang), political correctness, media (terutama TV) dan kacaunya pemasaran, dan mitos tentang stress & informasi yang berlebihan. Akibatnya jelas, contohnya menurunnya peringkat siswa Amerika dalam matematika dan kemampuan membaca, serta kegagalan-kegagalan dalam keputusan publik (yang anehnya, tidak saya temukan contoh kegagalan terbesar dan terbodoh dalam public policy US gov: keputusan perang Irak).
Berbeda dengan buku-buku Gladwell, buku LeGault ini lebih mirip runtutan opini argumentatif dan kemarahan, dan karena ditujukan untuk publik Amerika, terasa sangat ‘patriotis’ dan amerika-sentris. Membacanya tidak terlalu fun (beda dengan Gladwell), tapi tetap penting untuk diikuti. Kadang-kadang saya sebel, karena sambil menunjukkan buruknya AS, tapi tetap aja mengagungkannya di atas bangsa lain (terutama Eropa, yang dianggap sekelas. Ya jangan tanya negara-negara dunia ketiga...). LeGault ini kayaknya jenis orang amerika yang konservatif, nasionalis-patriotis, dan republikan tradisonal. Pandangan-pandangannya mirip...
Nah, dari situ: blink atau think? Pandangan sekilas dan intuitif, cepat, dan konon bisa akurat (menurut Gladwell) atau pemikiran dan analisa mendalam dengan beragam data tetapi lebih lama?
Kasus-kasus yang dibedah Gladwell menunjukkan bahwa blink juga bisa akurat. Beberapa diantaranya malah signifikan secara statistik. Sementara conventional wisdom bilang bahwa keputusan dengan lebih banyak data dan pertimbangan lebih baik daripada keputusan intuitif.
Sebenarnya saya percaya dengan proses berpikir. Kemampuan inilah, berpikir secara mandiri yang bebas dari dogma dan mitos, yang membuat beragam penemuan, sehingga kita mencapai kemajuan sampai sekarang ini. Ada spekulasi (opini) dalam dunia Islam bahwa yang membuat peradaban Islam mundur adalah ketika muslim takut berpikir. Zaman pertengahan Islam, para ilmuwan muslim sangat terlecut untuk berpikir karena memang diperintahkan Qur’an. Sampai-sampai beberapa ilmuwan/filsuf ada yang dianggap kebablasan. Al-Ghazali, konon, sering dituduh sebagai pihak yang bertanggungjawab. Hujjatul Islam ini sebegitu cerdasnya, dengan Ihya Ulumuddin dan kitab-kitab lain, sehingga ‘mengalahkan’ para filsuf-pemikir bebas dalam dunia Islam seperti Averroes.
Opini itu,IMHO, sejenis perspektif renaissance dalam menilai sebab runtuhnya peradaban Islam. Tak perlu ditolak mentah-mentah, cukup dipikirkan secara kritis. Ketika muslim takut berpikir, semangat renaissance sendiri adalah Sapere Aude, alias berani berpikir! Semangat inilah, yang terus diwariskan dalam pendidikan Liberal Arts, yang membuat peradaban barat begitu maju. Sampai sekarang, bahkan di kurikulum sekolah bisnis pun, jenis mata kuliah seperti liberal arts ini masih ada.
Dogma atau mitos, bisa juga menyelinap dalam bentuk-bentuk lain. Inilah yang sejatinya menjadi concern LeGault. Kalau dulu yang menghambat dan membuat takut adalah otoritas gereja yang keterlaluan, sekarang adalah filosofi new age-feel good, yang dikhawatirkan LeGault makin merebak dan mendegradasi kemampuan berpikir Amerika. Juga political correctness. Ia menulis dengan ironis, masa’ iya seorang editor jurnal harus menyeleksi dengan mempertimbangkan political correctness-nya? Bagaimana dengan kebenaran ilmiah itu sendiri? Ia menyebut beberapa isu yang harus politically correct: multikulturalisme, gender/sex orientation equality. Kadang-kadang memang benar. Kalau di Indonesia, coba aja menulis di mainstream media, tentang pluralisme yang agak berbeda dengan pengertian politically correct pluralisme. Kalau dimuat bilang ke saya, ntar saya traktir =p.
Jadi, think lebih dipilih? Tidak juga. Coba bedah lagi buku Blink. Contoh-contoh di sana, yang melakukan Blink, semua adalah expert. Seoarang pakar. Yang terbiasa melatih diri, berpikir terus secara rutin dalam bidang-bidangnya. Gladwell menceritakan tentang proses blink ahli seni, para musisi profesional, pencicip makanan profesional, psikolog yang meneliti wajah lebih dari puluhan tahun. Memang, ia juga menceritakan mahasiswa-mahasiswa yang mampu secara akurat menebak dosen tertentu baik atau tidak dengan sekali pertemuan, yang hasilnya akurat dengan penilaian dengan proses yang lebih lama. Namun coba pikir lagi,mahasiswa telah mengenyam lebih dari 12 tahun pengajaran: mereka juga seorang expert dalam diajari. Contoh uji rasa Pepsi-Coca Cola menunjukkan juga kesalahan blink orang awam: penjualan Coca Cola selamanya lebih baik daripada Pepsi (meskipun saya prefer Pepsi, karena keberpihakan pada pihak tertindas, he33x).
Jadi? We can do both. Otak manusia memang mengagumkan. Dengan syarat tambahan untuk melakukan blink: jadilah expert dulu. Berlatih teratur, berpikir teratur tentang subyek itu. Ibu saya bisa memilih buah mana yang baik dari sekeranjang buah di pasar dengan sekali lihat, sementara saya selalu salah memilih buah meskipun berbelanja dengan durasi lebih lama. Itu jelas, karena Ibu saya telah lebih dari 40 tahun belanja buah.
Lakukan keduanya. Asal jangan malas berpikir aja. Ironis, karena akhir-akhir ini saya sedang mengalaminya. Semoga tulisan ini juga adalah upaya menyemangati diri.
Wallahu A’lam Bis Showaab.
14 May
Saya dulu suka banget buku-buku how to, buku-buku kepribadian/personal psychology/personal development, terutama yang berbau-bau bisnis dan manajemen (7 habits itu kategorinya buku bisnis lho…heran saya juga). Saya juga nggak tau kenapa bisa suka banget, mungkin karena perasaan kuat dan berdaya yang dirasakan setelah menghayati buku-buku semacam itu. Meskipun, tentu saja efeknya tidak selamanya. Namun, ketika efeknya hilang, cari aja buku sejenis lain, dan rasakan lagi semangatnya! Begitu terus, udah kayak candu aja.
Buku how to yang pertama kali saya baca dan benar-benar menyemangati ialah Think & Grow Rich dari Napoleon Hill. Ini buku how to klasik, yang mengawali dan menjadi long time best seller bersama buku-buku how to klasik lainnya: How to Win Friends and Influence People dari Dale Carnegie , The Best Salesman in The World dari OG. Mandino (?), Berpikir & Berjiwa Besar dari David J.Schwartz. Salah satu buku how to klasik lainnya, yang fokusnya terutama tentang berpikir positif ialah dari Norman Vincent Peale, Positive Thinking.
Kata Rolling Stone, too much love will kill you. Namun, terlalu banyak buku how to tak akan membunuh kita, tapi bikin muak, iya. Isinya kurang lebih sama lah. Ini rumus jualan buku how to: (1) Yakinkan bahwa resepnya akan bekerja untuk semua orang, kalau diikuti. Tentu saja ini demi kepentingan pasar. Kalau dispesialkan untuk orang yang sukses, pasarnya sedikit, hanya sekitar 20% dari populasi. Buku how to adalah untuk semua orang (2) Yakinkan pembaca bahwa mereka adalah ISTIMEWA! Tak peduli siapapun pembacanya, mau remaja bau kencur seperti saya waktu itu atau nenek-nenek bau tanah, semua spesial. Nah, disini ada trik-triknya, silakan diidentifikasi. Ada yang bilang kita spesial karena: (a) Kita manusia, makhluk istimewa ciptaan Tuhan (Bener ga sih kita istimewa, diciptakan sedemikian rupa? Kata Dawkins, “ah, itu sih kita aja yang bego dan mudah kagum…”) (b) Milyaran sel-sel ada di otak kita, tapi baru sekitar 4-5% digunakan (pernyataan ini udah lama, dan terbukti kita bego karena setelah sekian lama masih segitu persen juga yang digunakan oleh kita). Bahkan ada yang keterlaluan dan bilang (c) kita lahir dari kompetisi sperma yang ketat, dari berjuta-juta sperma, hanya anda, satu-satunya, yang berhasil membuahi ovum dan lahir (Kata siapa? Siapa tahu sperma sebelah membawa gen-gen yang lebih baik? Kuatnya sperma menembus ovum tidak menutup kemungkinan bahwa ada gen-gen yang lebih baik di sebelah) (3) Yakinkan pembaca bahwa sekalipun mereka istimewa, tapi mereka tak menjalankan hidup dengan benar. Karenanya, harus mengikuti petunjuk dalam buku ini, supaya bisa sukses, karena bagaimana pun, toh anda istimewa.
Begitulah. Semacam manipulasi psikologis: yakinkan bahwa tiap orang bisa sukses, karena tiap orang itu istimewa, asal caranya diikuti dengan benar. Apakah benar? Tidak penting. Yang penting anda senang (siapa yang gak seneng dibilang spesial?) dan buku/ceramah/seminar laku.
Itu pandangan saya ketika muak dulu. Sekarang sih membaik, asyik juga memberi candu pikiran untuk diri sendiri. Halal lagi. Nikmati ajalah sajian how to, ceramah-ceramah kepribadian, training-training motivasi. Apalagi yang gratis.
Namun rupanya Kazuo Murakami, Ph.D. ( di buku the Divine Message of the DNA) , menganggap serius sajian-sajian positif seperti anjuran “positive thinking”. Dengan argumen yang scientific, meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Ternyata, gen pun bisa dipengaruhi dengan berpikir positif!
Temui E.coli, bakteri legendaris (bersel satu?) yang dulu sering kita baca di Biologi SMA. Biasanya bakteri ini memakan glukosa, tapi ketika dalam lingkungan tanpa glukosa, ternyata dia bisa juga hidup dengan memakan laktosa. Apa ia mengembangkan kemampuan baru? Ternyata tidak. Kemampuannya sudah ada di gen-nya, hanya saja gen-nya tetap dorman saat dihadapkan pada lingkungan berglukosa. Di rangkaian gen kita, ternyata, ada mekanisme on/off yang dapat diaktifkan dengan lingkungan tertentu.
Menurut Murakami, lingkungan ini juga termasuk cara kita mempersepsi lingkungan, artinya: pikiran kita! Pikiran positif, akan mengaktifkan gen-gen yang positif pula, sementara pikiran negatif membuat gen positif tersebut tetap dorman. It’s in the gene!
Murakami sendiri masih melanjutkan penelitannya. Ia membuat pusat penelitian yang menyelidiki hubungan pikiran dan gen. Nah, buat para orang sinis-skeptis yang selalu merasa man of science di luar sana, rasanya penelitian ini lumayan berhasil membuktikan, bahwa pikiran positif itu benar-benar bermanfaat, scientifically!
20 Jan
Kalau masalah buku, saya ini benar-benar menjadi impulsive buyer. Ingat, ‘buyer’ ya, bukan ‘reader’…Rasanya nggak nahan kalau ngeliat buku-buku bagus. Kalau pulang dari toko buku atau pameran dan gak beli buku bagus itu, pasti pikiran itu menggedor-gedor terus lalu menyeruak, dan akhirnya saya kalah juga…akhirnya pasti beli kalau ada kesempatan.
Kalau masalah baca sih…nanti dulu…Entah sekrang-sekarang ini sibuk atau emang lagi males aja, yang jelas dikit sekali yang beres apalagi telah tersintesiskan menjadi tulisan. Berikut daftar recent books dan nasibnya yang tidak jelas sekarang, hanya dionggokkan saja di meja yang dijadikan tempat buku sementara. Daftarnya dikit dan memang buku yang baru dipinjam/dibeli sejak saya pindah dari Sukarno-Hatta lalu ke Kelapa gading lalu ke Sedang Serang. Soalnya, buku-buku yang dulu ada di rumah udah dibawa semua ke
Ali Syariati Biografi Politik: baru nyampe masa dia muda…
Syarah Rasmul Bayan: buku ‘wajib’, isinya cuma banyak tulisan arab dan garis-garis doang…hehehe.
Dalam Rimba Bayang-Bayang (mochtar pabottinggi): beberapa puisi saja yang dibaca. Tapi, pengantar dari Ignas Kleden tentang puisi dan pengetahuan puitik dahsyat abis!
The 8th habit: lumayan, udah hampir selesai.
Teluk Wengkay (Korrie Layun Rampan): ga ada satu cerpennya pun yang saya baca abis.
Mestakung: abis, ini emang bacaan sekali duduk.
Bagaimana mengisi hidup (bagus takwin): abis juga. How to, lagi suka sih…
Il
9 Oktober 1740 (Remy Sylado): bagian adegan awal…
Serial Komentar Peristiwa Ekonomi (1965-1969, 1970-1974, 1975-2000): not a single page!
Ketika cinta berbuah surga: beberapa kisah saja.
Seks tak sekedar birahi (Aam Amiruddin & dr. Hanny): entahlah, tapi yang ini hampir finish…;-p
Dasar-dasar ilmu politik (Miriam Budiardjo): bagian sejarah awal, posisi ilmu politik, dan tentang parpol aja.
Potret sehari-hari Imam Khomeini: abis! Buku keren nih!
Fiqh Dakwah (Musthafa Masyhur): bagian tentang definisi doang…
V for Vendetta: ¾-nya beres.
How to do cultural & media studies: ½ -nya udah.
Balairung edisi 40: not a single article!
Business Ethics: bagian tentang “work” aja.
The Great Train Robbery (Michael Crichton): 10 halaman pertama.
Teori Relativitas Einstein, penjelasan populer untuk umum: ketipu judul. Baca ampe tengah tapi tetep gak ngerti.
Sungai dari firdaus (Dawkins): baca 2 bab awal. Analoginya keren. Ini jadi mirip cerita mitologis tentang evolusi.
A development manifesto (mubyarto): baca pengantarnya doang…
Islam sebagai dasar negara: pidato legendaris M. Natsir. Very recommended.
War & Peace: baca baru 40 halaman…dari…err, 1392 halaman??!!
Bruce Lee artist of life: some tao & philosophical related articles…menarik loh ternyata Bruce Lee itu. Dia mahasiswa filsafat dan banyak menulis esai filsafat juga, gak hanya jago berantem.
Nyanyian Revolusi (Pablo Neruda): buku yang terjemahannya salah satunya gini bunyinya: Kebebasan dengan
Baudolino (Umberto Eco): hampir selesai.
Open Society-nya Soros : baru nyampe tentang konsep refleksifitas.
Berguru pada ALLAH: baru 3 bab, tapi bagus nih buku…
TA: telah 47 mb file TA gabung, dan total 202 mb padahal cuma file-file word dan excel.
Football Manager (game keren!): nyampe tahun 2011, udah jadi manager di Inter, Arsenal, Inggris dan
Saya juga lagi ngidam mo baca Collapse (Jared Diamond), someday saya baca deh…Terus, Menjadi Indonesia yang dari Mizan itu lho, ama buku barunya Ismail F. Alatas. Karya Lengkap Driyarkara juga kayaknya bagus tuh (minimal buat dipajang di rak), Sesudah Flsafat juga. Tapi gak terlalu worthed kalo dibeli.