Sebuah aggregator blog..
1 Aug
Awal bulan lalu, teman kantor saya sumpah-sumpah karena merasa ‘dibekuk’ dari belakang oleh Telkomsel. Ya.., Telkomsel operator GSM terbesar di indonesia itu.
Ceritanya, sekitar bulan Oktober 2007 lalu aplikasi Kartu Halo teman saya di approve. Karena dia bukan orang Jakarta, maka segala keperluan administrasi di urus via kantor (Halo Corporate). Karena pertimbangan dia sudah terlanjur menggunakan nomor Simpati saat Trip ke field, maka Halo nya tidak di aktivasi olehnya.
Dan itulah ‘kesalahan’ nya yang akhirnya pada bulan lalu ’baru’ dibuka oleh Telkomsel. Dia akhirnya menemukan surat todongan uang Rp 420,000 atas biaya abonemen (+ pajak) dengan rincian Rp 52,500 kali 8 bulan sejak Halo diserahkan. Surat itu konon baru datang kali itu, pertama kalinya. Tentu saja dia kaget, karena tidak pernah merasa di kirimkan surat teguran atau pemberitahuan selama itu.
Bagaimana menurut anda? Saya sebagai sesama teman yang sama mengajukan aplikasi Halo Corporate merasa ada yang tidak benar dengan sistem Telkomsel ini. Bukan masalah uangnya, pun teman saya akhirnya membayarnya juga (dimana mungkin salah satu pertimbangan daripada nama perusahaan juga ikut rusak).
Tapi mungkin saja dengan jangka waktu selama itu Telkomsel sudah mengirimkan surat ke teman saya itu, dan karena ada banyak lantai serta orang maka jika kurang spesifik surat pun tidak akan karuan. Tapi apa mesti selama itu baru kemudian hal ini bisa diketahui? Bukankah ada beberapa contact number (termasuk Account Representative-AR di corporate) yang tetap bisa dihubungi? Atau bahkan email untuk mengirimkan pemberitahuan? Kenapa seolah ’membiarkan’ argonya terus berjalan?
Disini saya semakin meragukan dengan keseriusan Telkomsel untuk me-maintanin pelangggannya. Oke, customer nya memang banyak, tapi itu sebuah konsekuensi untuk maintain pelanggan pada tingkat kepuasan tertentu.
Awal tahun ini saya juga sempat dibuat kesal oleh tingkah Account Executive (AE) yang lingkup area nya termasuk kantor saya. Saya mengajukan komplain tentang tagihan yang tidak pernah dikirimkan (setelah lebih dari 4 bulan pengguna Halo). Dan bulan berikutnya pun dikirimkan. Tapi bulan berikutnya lagi tidak dikirimkan, padahal saya sudah memberikan alamat lengkap pengiriman.
Saya kemudian berusaha email kepada AE dan CC ke AR. Benar-benar tidak ada respon, bahkan dengan email ke person in charge yang ada dalam autoreply si AE pun tidak ada respon. Apa Telkomsel serius dengan para customer nya??
Walau akhirnya dengan bantuan teman yang bekerja di Telkomsel regional lain untuk mengirimkan via mail tagihan Halo saya. Pun ’kesal’ saya ikut tertumpah ke teman saya tersebut (dan maaf teman, akhirnya saya menulis di Blog ini). Tapi tetap, bulan berikutnya pun tidak dikirimkan lagi. Apa ini tidak membuat semakin kesal?
Akhirnya saya menggunakan Customer Service (CS) Halo Corporate 111 untuk meminta pengiriman tagihan tiap bulan ke alamat yang sudah jelas dan lengkap itu. Dan selama 3 bulan belakang ini, tagihan itu pun datang.
Satu lagi saya akan mencermati tentang gaya CS 111 dalam berkomunikasi dengan customer nya. Saya merasa bahwa keramahan yang ditunjukan tidak alami (Ok, memang sengaja dibuat sesuai SOP nya), yang buat saya malah terkesan berbelit-belit seperti robot.
Misalnya, pengulangan kalimat tanya kita lebih dari satu kali (dengan nada ’robot’) menjadikan saya sering heran dengan cara berkomunikasi CS Telkomsel ini. Pun dalam mengakhiri pembicaraan dengan menanyakan apakah ada keluhan lain pun tidak membuat saya nyaman karena bertele-tele seperti akrobat, dan kadang saya menutupnya sepihak karena ada kesibukan lain (atau harus terus melayani CS?).
Hal itu tidak hanya sekali, karena hampir semua CS yang pernah saya hubungi pun demikian. Begitu sistematik, akrobatik dan robotik. Ok, saya jujur mengakui bahwa masalah kita terpecahkan dengan bantuan CS tersebut. Tapi dengan cara dan bahasa yang digunakan, saya merasa kurang meng-orang-kan (berkomunikasi dengan menganggap lawan bicaranya benar manusia, bukan bicara dengan bahasa ’terprogram’). Untuk cara berkomunikasi ini, saya pribadi masih suka dengan cara berbahasa CS Indosat. Silahkan anda bandingkan.
Pada akhirnya, tulisan kepada Telkomsel ini masih beritikad baik. Bukan mencari nama pribadi, apalagi malah menjatuhkan Telkomsel (pun sudah sangat besar dengan banyak teman beraktivitas disana). Harapannya semoga Telkomsel meningkatkan layanannya. Sekali lagi, semakin banyak pelanggan sudah merupakan konsekuensi untuk semakin banyak yang harus ditangani. Bukan karena sudah besar lalu ’jumawa’ dengan kebesarannya itu.
Dari semuanya ini saya bertanya, apakah benar Telkomsel Begitu Dekat?? Atau hanya sebatas slogan? Dan buat saya Telkomsel, i don’t prefer but i need it..
9 Jun
Sesuai dengan judulnya, dengan menggunakan metode simulasi dinamis untuk menganalisis dampak kenaikan harga BBM (solar atau High Speed Diesel, HSD) terhadap biaya operasional KA Argogede. Sekalipun time frame penelitian itu antara Januari 2005 hingga Juni 2006 dimana terjadi dua kali kenaikan harga solar yaitu pada 1 Maret 2005 dari Rp 1,650 ke Rp 2,400 dan pada 1 Oktober 2005 ke Rp 4,300 per liter.
Sekarang dengan kenaikan harga solar akhir Mei lalu ke Rp 5,500 per liter, maka secara langsung berdampak juga terhadap PT KA khususnya sesuai dengan topik TA tersebut pada KA Argogede (Jakarta-Bandung pp).
Beberapa kesimpulan yang bisa disarikan dari TA tersebut, dan masih relevan dengan kenaikan BBM sekarang adalah;
1. Kontribusi biaya BBM terhadap biaya operasional KA Argo Gede 72 – 74 %, dan kontribusinya akan mengalami kenaikan jika terjadi kenaikan harga BBM. Sedangkan rasio Biaya BBM terhadap pendapatan KA dan Biaya Operasional terhadap pendapatan KA, adalah 0,40 dan 0,55. Rasio ini akan mengalami kenaikan jika terjadi terjadi kenaikan harga BBM.
2. Biaya Operasional akan mengalami kenaikan 0,73 % setiap kenaikan harga BBM sebesar 1 %.
3. Dari simulasi yang dilakukan, Jika terjadi kenaikan harga BBM di Bulan November 2006 atau Maret 2007 dan berarti bisa berlaku setiap waktu, maka setiap 3 % kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan sebesar kurang lebih 0,01
Dari kesimpulan tersebut, kenaikan harga solar 27.91% pada Mei lalu secara langsung akan berdampak;
Pertama, biaya operasional KA Argogede naik 20.37% (sebuah kenaikan yang besar bukan?)
Kedua, Terjadi kenaikan rasio biaya operasional terhadap pendapatan sebesar 9.3%, sehingga rasio biaya operasional terhadap pendapatan KA Argogede menjadi 0.55 + 0.09 = 0.64
Dengan hasil tersebut, lalu apa artinya? Sesuai dengan rekomendasi pada hasi penelitian TA tersebut, beberapa hal yang bisa dilakukan PT KA pada operasi KA Argogede yaitu,
1. Perlu dikaji nomor-nomor KA Argo Gede yang kurang efisien atau okupansi rendah.
Dimana secara umum total stamformasi 5 kereta yang terdiri dari 3 kereta eksekutif (K1), 1 kereta pembangkit (BP) dan 1 kereta makan (KM).
2. Membuat program dan merealisasikan pengubahan BP dan KM1 KA Argo Gede yang terpisah menjadi MP1, sehingga tonase menjadi lebih kecil.
Maksudnya digabung antara BP dan KM (dimana PT KA sudah punya jumlah sedikit) sehingga bebannya lebih ringan, konsumsi BBM lebih rendah. Jika sudah digabung, K1 bisa ditambah untuk jam yang sibuk sehingga jumlah penumpang bisa lebih banyak dengan biaya BBM yang efisien.
3. Untuk mempertahankan atau mengurangi rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan, maka harus dikaji kenaikan harga tiket KA Argo Gede secara lebih mendalam.
Selain rekomendasi tersebut, ada pertimbangan lain jika terjadi kenaikan harga BBM yang menyebabkan naiknya rasio biaya operaional terhadap pendapatan (dimana margin jadi lebih kecil). Pertimbangan lain itu juga disimpulkan dalam penelitian tersebut, yaitu;
Kenaikan Biaya Operasional akibat kenaikan harga BBM menyebabkan naiknya rasio Biaya Operasional terhadap pendapatan KA, sehingga margin keuntungan turun. Untuk mempertahankan rasio, bisa diberlakukan kenaikan harga tiket dan atau efisiensi Biaya Operasional. Melihat persaingan moda transportasi Jakarta – Bandung yang ketat, maka kebijakan penurunan batas margin profit dan efisiensi biaya operasional KA Argo Gede dinilai lebih sesuai.
Di sisi lain jika sekarang anda pernah sesekali melihat atau malah mencoba KA Argogede akhir-akhir ini, maka harga tiketnya menjadi Rp 45,000 padahal pada penelitian TA diatas menggunakan harga tiket Rp 75,000 (weekend) dan Rp 70,000 (week days).
Asumsi baik saya, PT KA memilih mengurangi banyak ketidakefisienan komponen biaya operasional daripada menaikan tiket KA karena ketatnya persaingan moda transportasi jakarta-bandung, sehingga harga tiket turun menjadi ‘hanya’ Rp 45,000
Lalu setelah terjadi kenaikan harga BBM, apakah PT KA akan tetap bertahan pada harga tersebut? Padahal beberapa moda transport sejenis (bus dan travel) sudah ancang-ancang menaikan tarif.
Kalau itu, saya tidak bisa menjawab. Untuk membantu menganlisis dampaknya, penelitian saya mungkin perlu di update (harapan saya bapak-bapak pejabat KA yang saya share copy TA tersebut peduli). Model penelitiannya bisa sejenis dengan penelitian tersebut, sedang nilai variabelnya disesuaikan dengan data terbaru.
Buat adik-adik mahasiswa yang tertarik, bisa saja ini menjadi bahan topik TA yang menarik. Sekalipun saya sudah beberapa hal tentangnya lupa, tapi insyaAllah masih bisa membantu. Semua karena saya peduli kereta api. Negara modern selalu identik dengan sistem transportasi massal KA yang sangat baik. Dan secara emosional, buat saya perjalanan dengan kereta api selalu lebih menarik. :)
7 May
Apa yang diharapkan dalam sebuah investasi? Return, bagi hasil atau laba. Sebagaimana diketahui bersama bahwa mengandalkan model konvesional mengelola keuangan dalam bentuk tabungan hanya akan mengurangi nilai dari tabungan itu sendiri, karena tidak seimbangnya tingkat bunga (bagi hasil) tabungan dengan inflasi. Oleh karenanya, investasi lah jawabannya.
Namun investasi bukanlah tindakan sporadis alias tergesa-gesa. Investasi adalah tahap selanjutnya dalam pengelolaan kekayaan. Setelah kita berhasil dengan baik dalam mengelola keuangan, barulah kita belajar untuk sedikit demi sedikit untuk mulai berinvestasi.
Secara teori, portoflio investasi kita harus bisa terbagi dalam tiga kategori; investasi jangka panjang, menangah atau pendek. Mengetahui tujuan investai beserta resikonya lalu mengalokasikannya dalam kategori yang tepat adalah lebih dari separuh keberhasilan dalam berinvestasi.
Investasi jangka panjang
Dengan jangka minimal 5 tahun, maka beberapa pilihan investasi yang mungkin adalah rumah, emas, tanah, asuransi, saham atau reksadana.
Untuk reksadana, ada baiknya menjatuhkan pilihan kepada reksadana saham disebabkan nilai masa depan yang akan bertambah. Karena secara terori, perekonomian diharapkan akan semakin baik di masa depan (termasuk kondisi perusahaan yang tercermin dari nilai sahamnya), sehingga reksadana saham pun prospektif untuk tipe jangka panjang. Selain itu, tingkat fluktuatif yang tinggi dari saham (day per day) namun secara kecenderungan akan tetap naik.
Jika memungkinkan dan berani mengambil resiko, jatuhkan opsi pada saham sekalian (bukan hanya via reksadana). Targetnya jelas, minimal 5 tahun. Prakteknya, pilih seksama reksadana (atau saham) yang prospektif, beli dan lupakan investasi yang baru saja dilakukan!
Untuk asuransi, jangan sampai terjebak dengan iming-iming mendapatkan claim yang besar, apalagi jika kita sudah tercover dalam asuransi di kantor. Kuncinya harus cerdas dalam memilih asuransi, tidak termakan bujukan asuransi sehingga terjadi dualisme asuransi berjalan yang mubazir. Sebisa mungkin pisahkan antara urusan asuransi dengan investasi (karena banyak yang menawarkan asuransi sekaligus investasi), supaya fokus sesuai dengan tujuan masing-masing.
Hasil setelah periode, bisa ditujukan untuk pendidikan anak, upgrading rumah, kendaraan, atau memberbesar skala usaha.
Investasi jangka menengah
Dengan jangka antara 1 hingga 5 tahun, maka beberapa pilihan investasi yang mungkin adalah emas, asuransi, atau reksadana.
Untuk reksadana, pilihan bisa jatuh pada reksadana jenis campuran. Dengan tingkat resiko yang lebih kecil dari reksadana saham (pastinya return yang lebih kecil juga), namun tingkat fluktuatif nya tidak sedramatis reksadana saham. Opsi campuran bisa disesuaikan sesuai dengan profil resiko yang ingin di ambil. Misal, untuk yang lebih berat ke high risk high return maka porsi reksadan saham yang dominan. Untuk yang bertipe konservatif, maka opsi pendapatan tetap (obligasi) yang dominan.
Pilihannya jelas, dengan jangka yang menengah maka return yang diharapkan juga jangan terlalu tinggi. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan nilai (manfaat) dari keuangan kita dibandingkan hanya di tabungan. Hasilnya, bisa ditujukan untuk membeli rumah atau kendaraan pertama, rencana pendidikan pasca sarjana atau tambahan modal usaha baru sebelum mengundurkan diri dari perusahaan.
Investasi jangka pendek
Dengan jangka maksimal 1 tahun, maka pilihan investasi yang mungkin adalah deposito atau reksadana.
Apa tujuan hasil investasi model seperti ini? Misal untuk menikah, beli rumah atau kendaraan yang direncanakan tahun depan. Sesuai dengan time bound 1 tahun, maka tujuan investasi ini untuk mendapatkan return setidaknya lebih besar dibandingkan tabungan konvensional. Sehingga sekalipun tergerus inflasi, tidak besar. Atau sebisa mungkin menjaga nilai return di atas sedikit dari prediksi inflasi.
Untuk reksadana, pilihannya jatuh ke reksadana pendapatan tetap. Sesuai dengan namanya, obyek dari reksadana ini adalah surat utang atau obligasi yang berpendapatan tetap dimana kisaran tipis di atas rata-rata inflasi (6% per tahun).
Untuk deposito, pilihannya daripada mandeg di tabungan biasa yang return-nya minimalis. Makanya, kita pun harus jeli menghitung profil deposito. Dan berdasarkan pengalaman, profil deposito di bank syariah secara umum masih lebih tinggi return-nya dibandingkan bank konvesional.
Selain pertimbangan waktu diatas, ada satu pertimbangan lagi yang sebaiknya digunakan dalam berinvestasi, yaitu moral investasi. Maksudnya, tidak tamak (greedy) dalam berinvestasi dan tetap memegang norma. Baik lewat jalur amal kepada yang membutuhkan atau pilihan investasi dengan perangkat syariah. Return tinggi memang tujuan, tapi keberkahan dalam investasi adalah priceless.
Sekali lagi, mengetahui tujuan investai beserta resikonya lalu mengalokasikannya dalam kategori yang tepat adalah lebih dari separuh keberhasilan dalam berinvestasi.
Satu kunci terakhir untuk investasi, berani. Berani mengambil keputusan beserta resikonya. Selamat berinvestasi.
16 Apr
Manajemen Kekayaan merupakan salah satu layanan yang disediakan bank dewasa ini. Garis besarnya, nasabah yang masuk kategori wealth disediakan layanan-layanan perbankan yang lengkap. Mulai dari perencanaan finansial, konsultasi keuangan hingga pilihan investasi.
Maraknya Wealth Management (WM) di bank tidak terlepas dari adanya orang-orang kaya dan superkaya yang semakin banyak di indonesia. Kategori kaya atau superkaya itu menurut Merril Lynch & Co dan perusahaan konsultan Capgemini Lorenz pada tahun 2007 dibagi tiga.
Kategori pertama, golongan superkaya yakni yang memilki kekayaan lebih dari 30 juta dollar AS (sekitar 270 miliar rupiah). Golongan kedua, orang kaya menengah yang kekayaannya antara 5 juta – 30 juta dollar AS (sekitar 45 – 270 miliar rupiah). Dan ketiga, golongan kaya biasa yang kekayaannya antara 1 – 5 juta dollar AS (sekitar 9 – 45 miliar rupiah).
Untuk perbankan, WM tidak hanya menjadi sumber dana besar yang akan digunakan dalam bisnisnya tapi juga sebagai salah bentuk loyalitas nasabah kepada bank tersebut. Oleh karenanya, bentuk pelayanan WM yang disajikan pun terbilang wah.
Untuk perencanaan finansial, nasabah WM bisa menyampaikan keinginan masa depan keuangan misalnya setelah pensiun ingin pendapatanya berapa, sekolah anak, mobil, rumah atau rencana liburan ke depan. Dengan profil keuangan (financial check up) yang ada sekarang, bank bisa memberikan konsultasi untuk menempatkan dana nasabah ke pos-pos investasi yang mungkin, misalnya saham, unitlink, asuransi, reksadana, obligasi, emas, deposito dan portofolio lainnya. Tetap saja, keinginan nasabah menjadi utama disini. Nasabah bisa menempatkan dan menggunakan uangnya kemana saja.
Selain layanan keuangan, nasabah WM pun menadapatkan banyak kemudahan dan kenyamanan. Hotlink khusus, layanan saat di luar negeri, transaksi tanpa biaya, dan bila di bank maka akan dilayani petugas penuh senyum, internet dan telepon gratis, majalah gratis sampai memanggil bank officer ke tempat nasabah.
Dengan layanan ciamik tersebut, bank pun pasang syarat jumlah minimal tabungan yang tidak sedikit. Sebagian besar bank (misalnya Mandiri, Citibank, Commonwealth, HSBC, Permata) mematok jumlah minimal 500 juta untuk menjadi nasabah WM. Dan setelah menjadi nasabah WM lalu jumlahnya kurang 500 juta, maka siap-siaplah untuk terkena biaya yang ‘tidak biasa’. Namun, ada beberapa bank yang mematok opsi angka di bawahnya, seperti 100 juta (Standchart) atau New to Invest Citibank yang ‘hanya’ 50 juta.
Berdasarkan survei 2006 tentang High Net Worth Individual (HNWI), HNWI indonesia mendapatkan kekayaannya 51 persen dari bisnis, dan 15% dari pendapatan. Sebagai perbandingan di Jepang, 30 persen dari warisan dan 28% dari bisnis. Warisan menjadi sumber kekayaan kedua (pertamanya bisnis) untuk Hongkong, India dan Singapura. Selain indonesia, pendapatan menjadi sumber kekayaan kedua di Korea Selatan dan Taiwan. Sedang saham, adalah sumber kedua di Australia dan China.
Dari data tersebut, jelas bahwa bisnis merupakan sumber kekayaan utama bagi orang-orang kaya tersebut. Benar adanya bahwa ungkapan bahwa jika ingin kaya, maka jadilah pengusaha atau wiraswasta.
Inilah yang harus ditangkap perbankan untuk tidak hanya bergerak dalam mengelola bisnis kekayaan tapi juga menciptakan bisnis itu sendiri. Bank seharusnya semakin banyak memainkan peran penyaluran kredit ke sektor riil sebagai sumber utama pencipta orang-orang wealth tersebut. Paradigma inilah yang seharusnya dilakukan perbankan dalam jangka panjang.
Dengan semakin banyak orang-orang kaya baru (baca: pengusaha), diharapkan juga makin mengurangi problem-problem sosial yang masih banyak di negara ini. Jika wealth management sudah mengarah kesana, maka konsep WM pun tidak hanya bisa dinikmati sejumlah kecil masyarakat elit kita. Semakin banyak yang sejahtera, bangsa kita pun akan makin sejahtera.
Sumber: Kompas, 15 April 2008
17 Dec
Apa yang terlintas di pikiran anda saat 3 nama bank sebagai judul diatas? Apakah anda mengira saya akan membandingkan ketiganya? Kurang lebih memang perbandingan namun dari sudut pandang customer ketiganya yaitu BCA, Bank Mandiri dan Bank Syariah Mandiri(BSM), dan khususnya untuk pelayanan tabungan reguler (Tahapan BCA, Tabungan Mandiri, dan Tabungan BSM).
Pertama, tujuan menabung pada dasarnya adalah sebagai cadangan, uang yang siap digunakan sewaktu-waktu. Urusan bunga/interest bisa saja nomor dua, yang penting aman dan mudah dijangkau. Dan bunga yang menarik tentu akan semakin menambah atraktif tabungan tersebut.
Tapi dengan jeli melihat biaya yang dibebankan dibandingkan bunganya, nasabah akan berkerut dahi. Silahkan mengamati data historis tabungan nyata berikut, dengan penyesuaian dan pembulatan tapi dijamin tidak berbeda jauh.
| Rp | BCA | Mandiri | BSM |
| Service | Konvensional | Konvensional | Syariah |
| Interest % * | 2.0% | 2.25% | Profit Sharing |
| Min Balance Interest | Rp 1,000,000 | Rp 500,000 | - |
| Adm Fee | Rp (10,000) | Rp (7,000) | Rp (5,000) |
| Account ± | Rp 5,100,000 | Rp 5,200,000 | Rp 5,400,000 |
| Interest ± | Rp 8,500 | Rp 9,000 | Rp 24,000 |
| Balance ± | Rp (1,500) | Rp 2,000 | Rp 19,000 |
| Min Account to 0 Balance | Rp (6,000,000) | Rp (3,734,000) | Rp 1,500,000 |
*BCA; 1-10 juta(2%), 10-100 juta(2.5%), 100-1000 juta(3%), >1 M (4%)
Mandiri; 0.5-5 juta(2.5%), 5-50(3.25%, 50-100 (3.5%), 100-500(3.75%), 500-1000(4%), > 1 M (4.25%)
BSM; profit sharing (40% nasabah: 60% bank)
Dengan ‘hanya’ menyimpan 5 jutaan uang di BCA, beban > bunga artinya nasabah rugi. Di Mandiri relatif ‘lebih manusiawi’, dan BSM jauh lebih manusiawi. Jika ingin tidak rugi, setidaknya nasabah harus menyisakan uang di BCA 6 juta, Mandiri 3,75 juta sedang BSM sekitar 1,5 juta (karena BSM berbasis nisbah/bagi hasil, maka jumlah tersebut pendekatan terpercaya).
Lalu jika nasabah melihat range skema return yang ditawarkan, terlihat bahwa BCA menerapkan ‘reward’ lebih kepada si kaya, dengan batas bawah bunga 1 juta. Mandiri pun demikian (batas bawah 0.5 juta) namun tidak ‘sepelit’ BCA, sedangkan BSM semuanya sama (minimal saldo tabungan 50 ribu).
Di BCA atau Mandiri, nasabah yang tidak elligible dimana kurang dari 1 juta di BCA atau 0.5 juta di Mandiri, maka harus siap menhitung hario mengingat uangnya akan semakin habis membayar biaya admin. Di BSM pun pada dasarnya juga sama ketika dana kurang 1.5 juta dimana return lebih kecil admin cost, namun tingkat percepatan tergerusnya uang tidak ‘secepat’ BCA atau Mandiri.
Bagaimana dengan nasabah yang super kaya? dimana tabunganya kurang 1 M? Saya belum melakukan simulasi, terutama dengan rekening BSM saya yang ‘terbatas’. Namun dengan hitungan sederhana diatas, jika di angka 5 jutaan saja return-nya bisa 2.5 kali lipat, maka kenaikan bunga dari 2.5% (untuk tabungan 5 jutaan) ke 4.25% (tabungan lebih besar 1 M, interest terbesar dari Mandiri) hanya 1.7 kali, jelas tidak sebanding dengan perbedaan antara Rp 24,000 dan Rp 9,000 yang 2.7 kali!
Ok, untuk alasan hitung-hitungan keuangan sederhana diatas nasabah yang jeli sebenarnya akan tahu kemana harus mempertimbangkan penempatan dananya. Tapi ada filosof, high pain high gain, low gain low pain. Nasabah ‘dibiarkan’ punya return rendah tapi mendapatkan pelayanan terbaik. Mari kita lihat tabel berikut.
| | BCA | Mandiri | BSM |
| ATM^ | Banyak | Banyak | Terbatas, di Mandiri ambil free |
| Cash-in | Cabang banyak | Cabang banyak | Cabang terbatas ( |
| ATM setor | - | - | |
| Merchant | Sangat banyak | Banyak | Minim (via Mandiri) |
| Services | Beragam banyak | Beragam banyak | Mulai berkembang |
| M - Banking | Ya, SMS Based | Ya, SMS Based | Ya, Application Web Based |
| Net Banking | Ya | Ya | Ya |
^Banyaknya jaringan ATM yang saling terhubung membuat kendala ini tidak sangat signifikan (penambahan pengambilan uang non-ATM sendiri 5 ribu per transaksi)
Dari tabel pelayanan diatas, harus jujur diakui jika BCA sebagai bank dengan pelayanan perbankan terbaik. Menyusul Mandiri yang mulai menyaingi BCA, baru kemudian BSM sebagai salah satu bank terbaik di sektor syariah.
Namun untuk beberapa bidang layanan, semuanya tidak bisa dipukul rata BCA atau Mandiri sebagai terbaik. Untuk mobile-banking, terbukti BSM sebagai bank yang menggunakan application web based sehingga tampilan program (yang sudah didownload saat registrasi) di Hp nasabah mirip seperti halnya menu-menu di ATM. Sedangkan BCA atau Mandiri, masih sms based dimana nasabah harus mengirimkan sms ke sms center baru kemudian transaksi akan diproses. Secara biaya, BSM dan Mandiri sama-sama memberikan Rp 500 per transaction request.
Jika BSM sudah mampu memberikan layanan mobile yang lebih mudah, maka praktis semua layanan perbankan-nya bisa lebih mudah via Hp (atau via Net-banking BSM). Memang ada biaya, tapi biaya itu tidaklah sebanding dengan high return, kemudahan m-banking, dan mobile cost yang sama. Sedangkan untuk pengambilan ATM tunai bisa dilakukan dengan gratis di ATM Mandiri. Hanya mungkin jaringan merchant, dan branch-nya yang kalah jauh dibanding rivalnya disini, BCA atau Mandiri.
***
Akhirnya setelah melihat analisis diatas, ujung-ujungnya akan kembali lagi ke nasabah akan ditempatkan dimana uang tabungannya. Sebagai bahan pertimbangan, ada setidaknya 2 hal yang sebaiknya harus kita perhatikan dalam menentukan penempatan uang.
1. Fungsi tabungan
Tabungan difungsikan sebagai apa? Jika kita berbisnis dan membutuhkan bank yang punya jaringan dan pelayanan luas, maka peran bank-bank besar tetaplah harus digunakan. Jadi, bisnis tetaplah bisnis.
2. Tujuan Tabungan
Dalam rangka apa kita menabung? Jangka panjang untuk investasi-kah, atau sebagai intermediasi finansial lainnya misalkan KPR, Reksadana atau Kredit Mobil? Dengan tahu tujuan jangka panjang sebuah tabungan, maka kita bisa memberikan perlakuan sesuai dengan tujuannya tersebut. Misalnya bank sebagai alat mediasi investasi di saham atau reksadana, maka harus dipilih bank yang mempunyai program reksadana menarik misalnya Mandiri.
Lalu, bagaimana dengan BSM dengan high return-nya? Maka saran saya untuk menempatkan alokasi keuangan yang benar-benar tabungan disana. Pun kita masih bisa melacaknya dengan baik via fasilitas yang disediakan. Tabungan kita bisa saja dibanyak tempat, karena pertimbangan teknis. Namun, pasti ada satu rekening yang benar-benar menjadi tabungan kita. Apalagi dengan kombinasi pertimbangan syariah dan teknis, maka kita pun lebih bisa menyusun susunan bank yang kita gunakan.
Jika sudah punya planning dan kuasa atas tabungan-tabungan kita, tahapan selanjutnya controlling terhadapnya. Biasanya ini yang lebih sulit karena ketersediaan uang cash yang cukup di tabungan. Tapi dengan pengelolaan keuangan yang baik, kebocoran bisa ditanggulangi.
Selain itu pun, ada kendala nonteknis yang tampaknya tidak terlihat tapi cukup signifikan, yaitu perilaku ‘pasangan’ kita. Tapi untuk yang satu ini, saya tidak bisa memberikan banyak pendapat. :)