Sebuah aggregator blog..
9 Nov
Ini curhat. Kali ini gayanya kasual sajalah, tak perlu bungkusan teori macem-macem atau bahasa berbelat-belit.
Karena curhat, anda bisa jadi curiga ini akan membosankan. Tolong dimaafkan. Sebelum mulai, ada yang tau gimana buat emoticon di blogger? Tolong kasih tau ya... Norak nih saya...he33x.
Kalo anda liat di sidebar blog ini, salah satu wannabe list saya ialah ‘politician’. Alasannya sih saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain (terus terang saya kesulitan untuk menuliskannya tanpa kelihatan berlebihan...). Apa politisi bisa? Kalau bener, ya Insya ALLAH. Satu diantara dua kelemahan umat, menurut Naquib al-Attas, ialah kepemimpinan (publik). Politisi yang baik bisa sedikit menutupinya.
Saya sebenarnya merasa nyaman-nyaman saja dengan hal yang namanya ‘politik’. Gak anti politik. Merasa ‘maklum’ saja kalo dipolitisasi, bahkan ketika saya sadar betul sedang dipolitisasi. Meski kadang-kadang dongkol, tapi ya wajar...namanya juga politik. Karena terkait power, buat saya politik itu ordinary, bahkan sehari-hari. Kuasa, dan relasi kuasa itu ada di tengah-tengah kita. Tak usah bicarakan tentang apa yang biasa kita sebut ‘dunia politik’; iklan, wacana, hingga obrolan ringan bisa dilihat dalam perspektif kuasa ini. Masalahnya adalah kesadaran dan pemahaman kita, akan segala peristiwa politik sehari-hari, dan kesadaran posisi: anda mempolitiki atau dipolitiki? Anda dalam kerangka hegemoni atau tirani?
Dian Sastro kelihatan cantik sekali di Lux edisi white glamour. Suaranya juga saya dengar di radio, mempromosikan tentang glam beauty. Saya membeli Lux, karena saya cinta Dian, dalam iklannya itu. See, Dian punya power yang membuat saya membuat saya membeli sabunnya (Padahal, mungkin saja Lux itu tidak bermanfaat buat saya...Toh saya gak mau jadi putih juga). Ia berkuasa atas saya. Buat saya itu politik: seni memanfaatkan kekuasaan untuk meraih tujuan. Kenapa Dian bisa lebih berkuasa dibanding SBY, misalnya (saya nggak mau beli Lux kalau di iklannya SBY mandi pake Lux!)? Ya karena Dian juga berjuang untuk meraih kekuasaannya itu. Dian memulai dari gadis sampul, terus bintang film indie, terus di momen yang tepat jadi bintang film yang jadi tonggak film Indonesia, bersamaan dengan masa late teenage saya. Klop. Dian meraih posisi kekuasaan tertinggi, minimal buat saya. See, itu juga politik: seni meraih kekuasaan.
Makanya, Dian Sastro for President! ;)
Sementara politik itu ordinary, tetapi ternyata saya baru sadar bahwa saya gak bisa terlalu nyaman dengan proses-proses politiknya. Terutama yang tidak subtil, meskipun tidak bisa dibilang vulgar juga. Sampai sekarang saya ndak tau kenapa.
Proses-proses politik di Indonesia itu mahal. Demikian tulis Kompas beberapa waktu lalu. Ada yang menyalahkan sistemnya: demokrasi kita (hampir-hampir?) liberal, yang memang menuntut high cost. Agak mirip-mirip Amerika lah...gak ada cerita presiden Amerika jaman belakangan ini yang bisa jadi Presiden dengan dana kampanye minim. Bahkan salah satu indikator kekuatan dan dukungan di Pemilu Amerika sana kan kemampuannya untuk menggalang dana. Sementara yang lain menyalahkan pelaku: elitnya aja yang ndableg. Yang nggak kreatif dalam kampanye, dan menganggap cara terbaik untuk menang, ya sediakan dana untuk fasilitas dan ‘gizi’. Pendapat lain yang bisa ditambahkan, konon ini adalah era market. Seluruh proses-proses politik pun berjalan di market, dan perlu marketing, yang tidak murah.
Politik yang high cost, itu hal pertama yang membuat saya gak nyaman. Pertama karena saya gak punya duit (he33x), kedua karena dengan high cost politic ini juga moral politik (demi kepentingan rakyat banyak!) menjadi rentan, bahkan bisa jadi diselewengkan. Motif-motif juga jadi sulit diterka: ini duit buat kebaikan atau menjual kebaikan buat duit? Mumet.
Hal kedua. Kemarin teman saya cerita tentang sahabat lamanya yang setelah cukup lama tidak berhubungan tiba-tiba menelepon. Bukan buat bertukar kabar, tapi dia ‘diprospek’. Kontan dia ngamuk. Bukannya nanya-nanya kabar dulu atau gimana...
Ini juga membuat saya gak nyaman. Saya gak enak aja kalo saya mau jadi walikota Cirebon, misalnya, terus tiba-tiba menghubungi kontak-kontak tertentu, keliling-keliling cari dukungan, bikin kongres macem-macem, bikin ikatan alumni atau organisasi macem-macem, dengan satu misi: dukung saya jadi walikota! Aduh. Kesannya koq gimanaaaa gituh...(maaf menggunakan kalimat nggak jelas mirip ABeGe. Soalnya saya juga susah menjelaskan).
Padahal itu kan wajar saja, tho? Namanya juga politik. Maklum lah. Biasa.Tapi nggak tau kenapa saya gak enak aja. Mungkin karena basically saya pemalu (halah!), atau karena proses-proses seperti itu terlalu vulgar dan kurang intelek ;p.
Aduh. Aduh. Aduh. Bisa gak ya kita punya proses-proses politik yang enak? Kepemimpinan dari bawah: karena kerja sosial tulusnya di masyarakat, masyarakat tersebut secara natural mengangkat dan memaksa dia menjadi pemimpin. Dia sendiri mungkin tidak mau dan keberatan, tapi terpaksa mau. Nah, karena basis sosialnya pun terbentuk tulus, yang mendukung juga banyak, kepemimpinannya pun dijalankan dengan tulus (kekuasaannya hanyalah jalan lain untuk mengabdi) ; dengan sendirinya kepemimpinan dia juga sukses. Kehidupan orang banyak menjadi lebih baik. Tentu tidak semua senang, tapi biarlah, toh musuh dia semua orang jahat. Dia meninggal, dan meskipun ia tidak mau, mau tak mau ia dikenang. Di akhirat pun masuk surga, lewat jalur pemimpin yang amanah.
Repotnya, orang macam begini ogah masuk high politic. Lihat Al Gore sekarang. Lihat Mahatma Gandhi.
Tapi mau gimana lagi luk...ini sistem demokrasi! Juga persoalan gak selesai dengan teriak-teriak tegakkan khilafah. Politik praktis, dengan begitu, bisa jadi salah satu alternatif jalan. For greater good.
Tetapi adakah ‘greater good’ itu? Bagaimana menjamin ‘greater good’ itu tercapai? Assurance-nya ya...lagi-lagi, proses-proses politik. Mau tidak mau, proses-proses politik yang dijalaninya pun harus sehat dan benar, untuk mencapai greater good.
Susah. Saya harus belajar menyamankan diri, apalagi kalo emang niat ‘berpolitik’. Pikiran lainnya, look at the bright side! Kalo gak rame politik-politik ini, kapan lagi menyapa kawan lama, menyambung silaturrahim, bertukar kabar, haha-hehe bareng, makan-makan...
After all, in the end it was always between you and God; it was never between you and them anyway.
_di malam hari abis pulang dari Dialog Alumni oleh IA-ITB Jakarta.
_ my official political statement and stand :)
_yaiyy, tulisan yang niat lagi setelah sekian lama! (tapi kok isinya jumpalitan gituh...)
9 Oct
People are often unreasonable, irrational, and self-centered. Forgive them anyway.If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives. Be kind anyway.
If you are successful, you will win some unfaithful friends and some genuine enemies. Succeed anyway.
If you are honest and sincere people may deceive you. Be honest and sincere anyway.
What you spend years creating, others could destroy overnight. Create anyway.
If you find serenity and happiness, some may be jealous. Be happy anyway.
The good you do today, will often be forgotten. Do good anyway.
Give the best you have, and it will never be enough. Give your best anyway.
In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.
_Mother Theresa (bisa dilihat di sini)
Saya merasa perlu mencantumkan quote diatas, karena merefleksikan apa yang seharusnya saya lakukan sekarang.
Lagi krisis kepercayaan nih. Saya gak percaya sama "temen-temen seperjuangan" saya dulu. Gak yakin bahwa "itu adalah kebaikan".
Tapi ya...do it anyway. In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.
Kalau nanti mereka, misalnya, dalam pengamatan subyektif saya, mengkhianati...Peduli amat. Pilihan saya tulus, insya ALLAH, anyway.
Semoga berkah.
NB: atau saya naif ya? Biarin deh.
8 Aug
Saya menemukan tulisan dari jurnal ilmiah yang bagus dari cafesalemba, judulnya Beautiful Politicians (King & Leigh, 2007?). Mereka ingin membuktikan, apakah politisi yang beautiful (maksudnya disini bukan hanya cantik, tapi juga ganteng) lebih banyak untuk dipilih. Karena beragam alasan demi kepentingan penelitiannya, Australia dipilih sebagai wilayah penelitian. Hasilnya? Dalam kata-kata mereka sendiri: Beautiful candidates are indeed more likely to be elected, with a one standard deviation increase in beauty associated with a 1½ – 2 percentage point increase in voteshare. Tidak terlalu besar, tapi di Australia, dengan jumlah kandidat yang banyak dan perbedaan suara yang tipis, 1-2 persen bisa jadi sangat signifikan. Temuan lainnya lebih menarik: we find suggestive evidence that beauty matters more in electorates with a higher share of apathetic voters.
Saya mengusulkan kita menggunakan istilah charming untuk orang-orang yang tidak peduli cantik atau tidak, tetapi menarik. Berlaku untuk pria dan wanita. Istilah charming ini juga dipakai, supaya judul yang saya gunakan bagus dan berima (“charming” itu penting!)
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
14 May
Saya dulu suka banget buku-buku how to, buku-buku kepribadian/personal psychology/personal development, terutama yang berbau-bau bisnis dan manajemen (7 habits itu kategorinya buku bisnis lho…heran saya juga). Saya juga nggak tau kenapa bisa suka banget, mungkin karena perasaan kuat dan berdaya yang dirasakan setelah menghayati buku-buku semacam itu. Meskipun, tentu saja efeknya tidak selamanya. Namun, ketika efeknya hilang, cari aja buku sejenis lain, dan rasakan lagi semangatnya! Begitu terus, udah kayak candu aja.
Buku how to yang pertama kali saya baca dan benar-benar menyemangati ialah Think & Grow Rich dari Napoleon Hill. Ini buku how to klasik, yang mengawali dan menjadi long time best seller bersama buku-buku how to klasik lainnya: How to Win Friends and Influence People dari Dale Carnegie , The Best Salesman in The World dari OG. Mandino (?), Berpikir & Berjiwa Besar dari David J.Schwartz. Salah satu buku how to klasik lainnya, yang fokusnya terutama tentang berpikir positif ialah dari Norman Vincent Peale, Positive Thinking.
Kata Rolling Stone, too much love will kill you. Namun, terlalu banyak buku how to tak akan membunuh kita, tapi bikin muak, iya. Isinya kurang lebih sama lah. Ini rumus jualan buku how to: (1) Yakinkan bahwa resepnya akan bekerja untuk semua orang, kalau diikuti. Tentu saja ini demi kepentingan pasar. Kalau dispesialkan untuk orang yang sukses, pasarnya sedikit, hanya sekitar 20% dari populasi. Buku how to adalah untuk semua orang (2) Yakinkan pembaca bahwa mereka adalah ISTIMEWA! Tak peduli siapapun pembacanya, mau remaja bau kencur seperti saya waktu itu atau nenek-nenek bau tanah, semua spesial. Nah, disini ada trik-triknya, silakan diidentifikasi. Ada yang bilang kita spesial karena: (a) Kita manusia, makhluk istimewa ciptaan Tuhan (Bener ga sih kita istimewa, diciptakan sedemikian rupa? Kata Dawkins, “ah, itu sih kita aja yang bego dan mudah kagum…”) (b) Milyaran sel-sel ada di otak kita, tapi baru sekitar 4-5% digunakan (pernyataan ini udah lama, dan terbukti kita bego karena setelah sekian lama masih segitu persen juga yang digunakan oleh kita). Bahkan ada yang keterlaluan dan bilang (c) kita lahir dari kompetisi sperma yang ketat, dari berjuta-juta sperma, hanya anda, satu-satunya, yang berhasil membuahi ovum dan lahir (Kata siapa? Siapa tahu sperma sebelah membawa gen-gen yang lebih baik? Kuatnya sperma menembus ovum tidak menutup kemungkinan bahwa ada gen-gen yang lebih baik di sebelah) (3) Yakinkan pembaca bahwa sekalipun mereka istimewa, tapi mereka tak menjalankan hidup dengan benar. Karenanya, harus mengikuti petunjuk dalam buku ini, supaya bisa sukses, karena bagaimana pun, toh anda istimewa.
Begitulah. Semacam manipulasi psikologis: yakinkan bahwa tiap orang bisa sukses, karena tiap orang itu istimewa, asal caranya diikuti dengan benar. Apakah benar? Tidak penting. Yang penting anda senang (siapa yang gak seneng dibilang spesial?) dan buku/ceramah/seminar laku.
Itu pandangan saya ketika muak dulu. Sekarang sih membaik, asyik juga memberi candu pikiran untuk diri sendiri. Halal lagi. Nikmati ajalah sajian how to, ceramah-ceramah kepribadian, training-training motivasi. Apalagi yang gratis.
Namun rupanya Kazuo Murakami, Ph.D. ( di buku the Divine Message of the DNA) , menganggap serius sajian-sajian positif seperti anjuran “positive thinking”. Dengan argumen yang scientific, meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Ternyata, gen pun bisa dipengaruhi dengan berpikir positif!
Temui E.coli, bakteri legendaris (bersel satu?) yang dulu sering kita baca di Biologi SMA. Biasanya bakteri ini memakan glukosa, tapi ketika dalam lingkungan tanpa glukosa, ternyata dia bisa juga hidup dengan memakan laktosa. Apa ia mengembangkan kemampuan baru? Ternyata tidak. Kemampuannya sudah ada di gen-nya, hanya saja gen-nya tetap dorman saat dihadapkan pada lingkungan berglukosa. Di rangkaian gen kita, ternyata, ada mekanisme on/off yang dapat diaktifkan dengan lingkungan tertentu.
Menurut Murakami, lingkungan ini juga termasuk cara kita mempersepsi lingkungan, artinya: pikiran kita! Pikiran positif, akan mengaktifkan gen-gen yang positif pula, sementara pikiran negatif membuat gen positif tersebut tetap dorman. It’s in the gene!
Murakami sendiri masih melanjutkan penelitannya. Ia membuat pusat penelitian yang menyelidiki hubungan pikiran dan gen. Nah, buat para orang sinis-skeptis yang selalu merasa man of science di luar sana, rasanya penelitian ini lumayan berhasil membuktikan, bahwa pikiran positif itu benar-benar bermanfaat, scientifically!
23 Apr
Sewaktu jalan-jalan di Gunung Agung, nggak sengaja saya liat buku ini: the Female Brain. Ditulis oleh Louann Brizendine, di Indonesia diterbitkan oleh ufukpress. Saya scanning bentar, dan langsung pengen beli. Tapi apa daya, ga punya duit…
Alhamdulillah, ternyata di kosan, Aan udah punya. Langsung deh dipinjem.
Membaca buku ini, saya teringat guru Biologi saya di SSC, Pak Bambang, yang berhasil membuat saya (sedikit) jatuh cinta pada Biologi (mm, yang bagian hormon dan reproduksi aja sih…=p). Waktu itu beliau memberi wejangan pada para pria kalau menemui wanita yang sensitif, cepet banget marah, stress, sedih, dll. Saran beliau waktu itu sederhana: mengertilah, dan tanyakan, “sebentar lagi ‘dapet’ ya?” =p
Menjelang menstruasi, progesterone surut, begitu juga dengan efek menenangkan yang dibuatnya. Fakta-fakta semacam itu, banyak ditemukan pada buku ini. Saya jadi lebih paham, tentu saja ALLAH menciptakan dengan sebaik-baiknya manusia, pria dan wanita. Sangat alamiah, sampai saya berani menyimpulkan, dengan argumen yang biologis-ilmiah: ini bukan hanya konstruksi sosial, tapi kodrat. Paragraf-paragraf berikut akan membahas stereotyping yang biasa kita temukan, beserta penjelasan hormonalnya dari buku ini.
Stereotipe pertama: dalam hubungan sosial, perempuan lebih ‘emosional’ dan sensitif. Benar! Ini bahkan terjadi sejak perempuan masih bayi. Awalnya, semua otak manusia adalah otak perempuan, tapi pada perkembangannya, otak pria lebih banyak direndam testosterone sehingga mematikan sel-sel tertentu di pusat komunikasi, dan menumbuhkan lebih banyak sel di pusat seks dan agresi. Bayi perempuan lebih sensitive terhadap wajah-wajah yang dilihatnya. Mereka bahkan mengetahui emosi dari wajah yang dilihatnya, dan hanya dengan melihat wajah, ia akan menyimpulkan apakah dirinya diterima, dicintai, berharga, atau malah tak diinginkan dan menjadi beban. Menurut pengarangnya, anak-anak perempuan tak bisa menoleransi wajah yang datar. Wajah yang datar diinterpretasikan sebagai akibat dari kesalahan yang telah ia lakukan. Makanya sangat tak baik dibesarkan oleh ibu-ibu yang depresi, berwajah selalu sedih dan tak responsif. Bayi perempuan mungkin akan merasa tak diinginkan.
Semakin besar, anak perempuan juga semakin peka terhadap wajah, nada suara, dan suasana. Kalau ada orang dewasa sedih karena persoalan yang rumit, anak perempuan akan tahu dan menghibur. Ia tahu ada yang tidak beres meskipun tak mengerti masalahnya. Saat dewasa, misalnya, kemampuan ini makin hebat lagi. Perempuan bisa mencerminkan (merasakan sendiri) apa yang dirasakan atau dipikirkan pasangan yang dicintainya bahkan saat pikiran itu belum menyeruak di kesadaran si pria! Perempuan juga 4 kali lebih mudah menangis, para perempuan di sekitarnya juga akan tahu jika teman perempuannya akan menangis (dari kemampuannya membaca wajah), tetapi para prianya hanya akan heran dan berkomentar dogol: “kok gitu aja nangis?”. Para pria baru sadar gawatnya sesuatu baru setelah melihat air mata, dan saat itu sebenarnya sulit untuknya untuk melakukan sesuatu yang meredakan tangisan perempuan. Soalnya, otaknya akan berpikir: saya telah gagal dan telah tak diterima. Jadi, ia mungkin akan menunggu atau menghibur dengan rasa bersalah, sekaligus gengsi dan tidak nyaman.
Stereotipe kedua: perempuan tomboy karena pengasuhan. Sebenarnya, tidak! Ada sebuah kondisi defisiensi enzim yang disebut conginetal adrenal hyperplasia (CAH), yang membuat janin perempuan memproduksi testosterone, sehingga akibatnya menjadi lebih agresif, lebih tidak sensitive, dan mirip anak laki-laki. Tapi, ini cuma satu diantara sepuluh ribu bayi.
Stereotipe ketiga: perempuan suka drama dan dramatisasi. Ya, dan yang paling bertanggungjawab adalah estrogen dan progesteron, yang makin meningkat sejak remaja. Karenanya, perempuan bereaksi berbeda-beda, membuat dramatisasi yang fluktuatif seiring fluktuasi 2 hormon tadi. Ia mulai memperhatikan tubuhnya, dan timbul pikiran-pikiran seperti: do I look good with this…? Ia menjauhi konflik, karena kontak sosial dan keharmonisan memicu oksitosin yang memberi rasa nyaman.
Stereotipe keempat: laki-laki adalah pengejar dan perempuan pemilih. Menurut buku ini, benar. Dari perspektif evolusi, perempuan membutuhkan kondisi yang terbaik sehingga anak-ankanya bisa tumbuh dengan baik. Karenanya, ia cenderung memilih para pria yang dapat memberi keadaan ini, yang dalam kondisi zaman ini, berarti preferensi untuk pria yang kaya dan berkedudukan sosial. Ada penelitian lintas kultural yang membuktikan sterotipe ini, tidak peduli bagaimanapun kondisi finansial perempuannya. Sementara laki-laki mengejar perempuan yang menarik secara visual, dan ada penjelasan evolusionis lucu sekaligus logis dalam buku ini: menurut laki-laki, perempuan yang menarik secara visual merupakan perempuan subur dan most likely akan tak masalah dalam melahirkan keturunannya. Ini naluri purba dan bawah sadar, konon.
Stereotip kelima: perempuan (juga laki-laki) tidak rasional saat jatuh cinta. Saat jatuh cinta, sirkuit otak untuk berpikir kritis dimatikan. Saat itu, otak banjir oleh senyawa-senyawa pemberi kesenangan seperti dopamin, estrogen, oksitosin dan testosterone. Amigdala (sistem siaga-rasa-takut) dan anterior cingulate cortex (sistem kekhawatiran dan berpikir kritis) tak berfungsi. Aktivitas-aktivitas seperti memandang, menyentuh, membelai, memeluk, mencium akan menguatkan oksitosin-dopamin, dan menyebabkan efek seperti kecanduan (minimal 6-8 bulan). Saat jauh, pasangan yang saling jatuh cinta akan merasa sangat rindu (karena oksitosin-dopamin yang bisanya ada oleh interaksi intens tiba-tiba dicabut), dan butuh untuk bertemu kembali (dan berpelukan, seperti di film-film. Kenapa? Pelukan minimal 20 detik membuat oksitosin-dopamin aktif lagi).
Masih banyak lagi pengetahuan berharga yang bisa didapat dari buku ini. Ternyata, panjang vasopressin laki-laki berbeda-beda, dan panjang pendeknya menentukan kecenderungan seorang pria: monogamis atau poligamis (mungkin karena ini juga poligami itu dibolehkan, tapi saya gak mau ini dijadikan sejenis pembenaran). Otak seorang ibu yang sangat luar biasa, dan memang diciptakan untuk terus menjaga anaknya. Perubahan-perubahan hormon yang dialami perempuan sejak remaja, awal dewasa matang, saat jatuh cinta dan berpasangan, saat menikah dan berhubungan seksual, melahirkan, hingga saat masa matang. Saat membahas otak yang matang ini, sampai-sampai saya menyarankan seorang teman perempuan saya yang tadinya niat mau menikah lama. Mendingan segera. Soalnya, semakin tua dan mendekati kematangan, estrogen semakin melemah, naluri-naluri keperempuanan yang emosional, mementingkan hubungan dan orang lain juga semakin melemah. Masa ini, perempuan makin ‘egois’, dan akan baik untuk karir dan mencapai ambisi-ambisi pribadinya. Kan repot juga ketika waktu itu tiba, tapi anaknya masih kecil-kecil…Bukan apa-apa, kasihan anaknya, dan tak baik untuk evolusi manusia =p.
Buku ini juga menyisakan sebuah perenungan: semua karena hormon? Jadi, perdebatan lama tentang nature atau nurture itu dimenangkan oleh nature?
Pendapat saya sih, tidak. Saya percaya tiap manusia diberi amanah oleh ALLAH (Al-Ahzab:72), amanah yang hanya diterima manusia: untuk melakukan pilihan. Free will. Jadi, meskipun seorang pria jatuh cinta, misalnya, tapi ia tak mau jadi tak rasional dan tiba-tiba jadi dungu, ia bisa memilih untuk menjauh dahulu, tidak berinteraksi langsung, supaya dopamine-oksitosinnya tidak terkuatkan. Pada akhirnya, segala seluk beluk tentang hormon ini bukanlah suatu hal yang deterministik. Tetap berguna, minimal untuk input dalam melakukan pilihan-pilihan.
Very recommended reading!
Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
Pada 21 April 2007, tidak diniatkan sebagai tulisan menjelang hari Kartini.