Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Bangsa’ Category

Manado, Denyut Indonesia Utara

Dari Sabang sampai Merauke,
Dari Timor sampai ke Talaud..

Selama seminggu saya berkesempatan mengunjungi Manado, pusat kota di Sulawesi bagian selatan. Pesawat Garuda berangkat pagi jam 7 dari Cengkareng, transit di Makasar dan sampai di Bandara Sam Ratulangi sekitar jam 13 (terbang efektif 3,2 jam dari Jakarta). Langsung kami (saya bersama teman-teman kantor) meluncur ke Hotel Santika, di Tongkaina, Kecamatan Bunaken.

Namun acara menginap di Santika tidak berlangsung lama sesuai rencana karena jauhnya lokasi hotel dari kota (Santika sangat cocok yang khusus menuju ke taman laut Bunaken karena hanya 10 menit). Maka esok harinya kami berganti ke Sintesa Peninsula, hotel yang baru beroperasi 1 oktober lalu.

Ini pengalaman pertama saya ke Manado. Tampaknya Manado adalah pusat kota yang unik, karena berada persis di tepi teluk Manado. Sangat dekat sekali dengan garis laut. Memandang dari jendela hotel, maka langsung mata menuju ke paduan kota dan laut. Eksotis.

Kawasan yang sangat terkenal di Manado adalah Boulevard. Kawasan ini berada sepanjang garis laut teluk Manado sekitar 5 km. Disini akana banyak ditemukan pusat bisnis, kuliner, hiburan hingga perbelanjaan modern. Kawasan ini sebagian merupakan hasil reklamasi pantai yang di lakukan pemerintah dimana pembangunan fasilitas masih terus berjalan. Sesuai dengan slogannya visi kawasan ini adalah area B&B, Bussiness and Boulevard.

Tidak terlewatkan untuk mencicipi makanan Manado. Sesuai dengan lingkungan laut, seafood menjadi makanan pilihan setiap malam sesuai variannya. Salah satu tempat makan yang nyaman, enak dan terjangkau adalah Raja Sate, dekat dengan MegaMall.

Ada juga resto yang terkenal di Boulevard yaitu Wisata Bahari, sekitar 3 km dari Mega Mall. Dibanding Raja Sate, harga di Wisata Bahari lebih mahal karena suasana makan di ’atas laut’ yang ditawarkannya dan live music nya. Kita akan mendengar debur ombak, dan bebas kita memandang laut malam.

Terusan Boulevard sekitar 7 km dari MegaMall, terdapat kawasan khusus pusat makanan laut yang dinamakan Kalesey. Banyak restoran berjejer di pinggir jalan yang langsung menghadap laut. Dari sini, kerlip Boulevard dan Manado lebih terlihat. Selain restoran, juga ada warung-warung pinggir jalan di Kalesey ini.

Untuk harga yang lebih terjangkau, ada Tikala di dalam kota (sekitar 1 km dari Bouleverd) tempat food area dengan dilengkapi free-wifi. Bermacam-macam penjual makanan ada disini. Bubur khas Manado yang terkenal juga bisa dinikmati di Warung Wakeke di Tikala ini. Jika Resto Wisata Bahari atau Kalesey banyak pejabat, bule atau keluarga disana, maka di Tikala akan banyak anak-anak muda yang nongkrong dengan laptopnya.

Makanan terjangkau ada Tikala, maka hotel yang terjangkau dan banyak direkomendasikan Indobackpacker adalah Unique Inn, lokasinya tidak jauh dari Boulevard. Hotel ini memang unik karena berada di atas jembatan penyeberangan jalan menuju ke Pelabuhan Manado. Di pelabuhan Manado (orang biasanya menyebut Hotel Celebes), akan banyak kapal untuk ke Bunaken atau daerah-daerah lain seperti Pulau Sangir, Bunaken atau Talaud.

Dan pengembaraan berikutnya adalah Bunaken. Dari dermaga Hotel Celebes, perjalananan membutuhkan 1 jam dalam cuaca baik. Namun kami tetap saja mual-mual dalam perjalanan pagi karena melawan angin laut dan efek tabrakan aliran air laut di teluk Manado. Konon jika gunung di Pulau Manado Tua (pulau di sebelah pulau Bunaken) tertutup awan gelap, maka ombak menuju ke Bunaken bisa mencapai 2 m.

Sampai di taman laut Bunaken, perkiraan saya bahwa taman laut berada di tengah laut salah. Taman laut ini berada sekitar 1-2 km dari garis pantai Pulau Bunaken. Tips dalam perjalanan ke Bunaken, jangan mendadak berhenti setelah melawan ombak. Karena isi perut akan menyesuaikan ombak jalan dengan ombak saat kapal diam yang akhirnya bisa membuat muntah (untungnya saya hanya mual).

Taman laut Bunaken mengesankan, luar biasa. Sekalipun saya tidak diving atau snorkling, dari dek kapal sudah terlihat bahwa taman laut Bunaken memang indah. Bersih dan nyata habitatnya. Pantas saja Bunaken termasuk dalam cagar alam dunia. Namun sayangnya, di kawasan pantai wisata Pulau Bunaken sendiri masih belum terawat dan terorganisir sehingga mengesankan sedikit kumuh. Kondisi ’standar’ yang masih terjadi umumnya di kawasan wisata Indonesia.

Selain Pulau Bunaken, ada beberapa pulau tempat wisata yang lain diantaranya Siladen dan Lembeh. Jika punya cukup waktu (dan dana pastinya), agendakan untuk pulau-pulau tersebut sekaligus program diving. Dengan mengunjungi Manado ini, saya semakin sadar bahwa negeri kita adalah negeri yang besar dan bersatu dalam kemajemukan.

Sulawesi Utara sendiri merupakan ’tapal batas’ Indonesia di bagian utara, berbatasan laut dengan Filipina. Jika kita hafal lagu diatas, maka Talaud merupakan kepulauan di bagian utara Sulut dimana membutuhkan 24 jam perjalanan kapal penumpang dari dermaga Manado. Semakin tidak terbayang alangkah jauh dan luasnya Indonesia ini. Sayang sekali jika penduduk Indonesia sendiri tidak pernah saling mengunjungi di buminya yang luas nan indah.

***
Manado yang ingin menjadi kota wisata laut dunia 2010 sedang berusaha keras berbenak untuk menyambut World Ocean Conference (WOC) 2009. Giatnya pembangunan tidak akan lepas dari lingkaran-lingkaran di sekelilingnya. Jika anda berjalan menyusuri Boulevard lebih dari Jam 9 WITA, maka di titik tertentu akan ditemui ’kembang malam’. Sehingga tidak heran ada plesetan B&B menjadi Beach and Bitch.

Akhirnya saya ingat pernah dapat cerita, bahwa mengunjungi Manado ’haruslah’ mencoba 4B, yaitu pertama datang ke Boulevard, makan Bubur khasnya, jangan melewatkan berkunjung Bunaken, dan terakhir rasakan Bibir manado. Maka saya sudah mencoba sempurna 3B nya. 1B yang terakhir, pasti saya tak mau mencoba. Saya segera ingat untuk pulang ke rumah esok hari.

*sharing: Manado Album
  • Comments Off
  • Filed under: Bangsa, Perjalanan
  • Kereta Api Jalan di Tempat

    Perjalanan jauh menggunakan kereta api menjadi salah satu pilihan. Pertimbangan karena lokasi stasiun dekat dengan tujuan, harga yang lebih terjangkau, cepat dan anti macet atau karena alasan emosional adalah beberapa alasan kenapa memilih kereta api menjadi moda transportasi.

    Moda kereta api merupakan moda transportasi massal yang sangat efektif dan efisien. Mampu mengangkut banyak penumpang, konsumsi bahan bakar relatif rendah, dan dapat menempuh perjalanan dengan cukup cepat.

    Dengan kelebihan yang dimiliki, kemajuan sektor transportasi sebuah negara selalu dikaitkan dengan kondisi sistem kereta api di negara tersebut. Kereta api cepat lintas daerah dan negara, serta subway adalah sistem kereta api yang menjadi andalan transportasi di negara maju.

    Di indonesia, kondisi kereta api masih sangat jauh dari sistem perkeretapian modern. Indikasi yang kentara adalah dalam aktivitas lebaran saat kemarin. Kereta ekonomi masih berjubel, bisnis di bebas-tempat-dudukan dan eksekutif harga selangit dengan pelayanan yang pelit.

    Wajah kereta api setiap tahun pun tidak mengalami perubahan berarti. Kita bisa melihat ke belakang, kereta api 10 tahun lalu dan sekarang tidaklah berbeda. Fasilitas sama, model pelayanan sama, masih keterlambatan, serta ketidaksesuaian antara harga dan pelayanan, menurut saya beberapa poin yang masih saja berulang. Artinya dalam 10 tahun (atau malah lebih), kereta api kita jalan di tempat.

    Benar-benar menyedihkan, jika tahun-tahun mendatang kita akan tetap disuguhkan potret lebaran dengan kereta api dan tidak ada perbaikan terhadapnya. Padahal dalam momen lebaran tersebut, PT Kereta Api mengantongi nilai omzet yang tidak sedikit yang bisa digunakan untuk perbaikan ke depannya.

    Di belahan dunia lain, kereta api sudah sedemikian majunya. Sedangkan kita masih membayangkan kapan Jakarta-Surabaya bia ditempuh dalam 3 jam dengan kereta api sejenis Shinkansen yang petama dioperasikan tahun 1964. Atau kapan ada subway di Jakarta yang tanahnya makin hari makin kritis.

    Memang sudah terwacana, cerita revitalisasi PT Kereta Api. Divisi Jabodetabek sudah menjadi anak perusahaan PT KA. Juga rencan revitasliasi itu akan ada anak perusahaan yang khusus mengelola aset-aset non-operasional kereta api, seperti lahan dan gedung PT KA. Dengan revitalisasi tersebut juga, dibuka peluang investor swasta dalam perkerataapian nasional.

    Tapi menurut saya, yang lebih penting seharusnya terjadi pemisahan PT KA sebagai operator sarana kereta api dan pengelola prasarana kereta api (stasiun dan rel). Dengan pemisahan tersebut, diharapkan operator swasta masuk dalam perkeratapian kita. Karena jika PT KA tetap seperti sekarang sebagai operator dan pemilik prasarana, swasta sulit masuk menjadi operator kereta api karena harus membangun dulu prasarana kereta api.

    Padahal dengan masuknya swasta dalam perkeretaapian, layanan kereta api diharapkan menjadi lebih maju. Lebih cepat, tidak terlambat, dan nyaman. Atau apakah mungkin PT KA menjadi progresif lalu mengubah ’budaya’ layanannya menjadi jauh lebih maju? Menjadi operator kereta api modern dengan sarana canggih? Saya sendiri sangsi, karena PT KA tampaknya masih lebih suka ’memainkan’ tarif seperti turunnya kereta api Jakarta-Bandung atau naik drastisnya kereta api mudik (eksekutif), di bandingkan membenahi fundamental kualitas operasi kereta api sendiri (sarana dan prasarana).

    Pemerintah pun sebenarnya sangat berperan dalam revitalisasi kereta api ini. Tapi sayangnya, pemerintah kurang komprehensif dalam menyusun kebijakan transportasinya. Proyek jalan Trans Jawa dikedepankan. Dimana sebenarnya semakin banyak jalan raya akan membuat laris kendaraan bermotor kelas menengah atas, sedangkan masyarakat umum tidak mendapatkan transportasi yang layak. Proyek itu sendiri sekarang masih alot proses pembebasan lahan di beberapa ruas. Padahal kereta api, lahan sudah siap tersedia sepanjang Jawa. Hanya membutuhkan investasi sarana dan prasarana tambahan, maka masa depan transportasi indonesia pun bisa lebih cerah.

    Lalu jika 5 tahun lagi kereta api tetap seperti ini, sampai kapan kereta api akan jalan di tempat? Saya hanya bisa berharap, suatu saat (masih) bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan dengan kereta api yang lebih modern.

  • Comments Off
  • Filed under: Bangsa, Bisnis, Opini
  • Tags