Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for the ‘Aku’ Category

Mencari rumah

Bulan-bulan ini saya sedang giat-giatnya mencari rumah di sekitar Jakarta. Inginnya dalam tahun ini rumah tersebut sudah terealisasi. Bukan apa-apa, buat saya rumah itu penting, bahkan lebih dulu di bandingkan menikah (maunya, realisasinya tidak tahu). Lho?

Filosofinya, saya ingin mempunyai ‘sangkar’ dahulu baru kemudian mengajak pasangan tinggal di sana. Bisa menjadi kisah masuk rumah yang indah setelah menikah nanti. Itu artinya pasangan itu juga harus mau tinggal disana. Kalau tidak mau, rumah sebagai investasi bisa di alihkan nantinya. Tapi konon, orang tua lebih tenang melepas putrinya jika calon menantunya sudah punya rumah (dan pekerjaan pastinya).

Alasan logisnya, susah nyari rumah akhir-akhir ini di Jakarta. Lahan yang makin langka. Plus, harganya yang semakin ‘tidak menusiawi’, apalagi kalau ditunda-tunda hingga tahun berganti. Dan sebagai bagian dari investasi jangka panjang, rumah salah satu jawabnya.

Awal tahun ini dalam sebuah pameran properti di JCC, muncul beberapa kandidat yang ingin di tindak lanjuti. Dari sisi budget, ada yang sesuai dengan anggaran. Kekurangannya, lokasinya yang di pesisir jakarta atau di luar jakarta yang pastinya akan membutuhkan banyak waktu dalam akses kesana. Kalau saya tidak masalah, keluarga nantinya khawatir kerepotan.

Beberapa teman karena pertimbangan lokasi lebih memilih apartemen di pusat kota, dimana harganya mirip dengan rumah di luar kota. Bedanya tentu saja lingkungan sosial, dan tanah. Setidaknya ingin mempunyai rumah utuh terlebih dulu, dan jika nanti di masa depan ingin mencoba ke apartemen bisa dipertimbangkan.

Ada tawaran tanah, maka harus siap dengan usaha membangun rumah sendiri. Adakah agen atau biro yang menyediakan jasa pembangunan rumah dari awal sampai jadi? Misalnya kita sediakan lahan 10 x 15 m, lalu memilih design dan di bangunkan oleh biro tersebut.

Ada teman yang giat untuk mencari rumah second di dalam jakarta. Harganya mahal, tapi kalau memang berjodoh maka rumah idaman bisa di dapatkan.

Kalau disuruh memilih, inginnya rumah di Jakarta yang siap pakai (means second?). Rumah tersedia minimal 2 kamar tidur dan 1 kamar tidur pembantu. Lokasinya setidaknya masih masuk kota jakarta dan mudah di akses. Kalau harga, hmm… ini rahasia. Biasa, berharap fasilitas kredit perusahaan.

Saya sedang mencari rumah. Jika ada informasi, saya akan berterima kasih sekali.

  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Keluarga
  • Selamat kepada Aan!

    Pertama, izinkan saya pribadi mengucapkan Selamat menempuh Hidup Baru, kepada Aulia Ardiansyah (Aan), teman dekat sesama penghuni gubuk derita. Dan jika boleh mengklaim diri, ucapan ini sekaligus mewakili rekan-rekan satu gubuk yang tidak bisa mendampingi ikrar suci di Masjid Kampus UGM, Sabtu siang tadi.

    Jujur akad yang diucapkan Aan adalah 'tamparan' buat kami. karena diantara penghuni rumah legenda itu, Aan adalah yang paling muda. Tengah tahun ini persis usianya 'baru' 23 tahun. Tapi yang paling 'menyakitkan' bukan masalah muda itu saja (karena banyak adik angkatan yang juga menikah), melainkan 'janji' untuk mempertahankan kelajangan yang akhirnya harus pecah (berlebihan :p).

    Saat melihat Aan sudah mengajak calonnya pada sebuah pernikahan akhir tahun lalu, kami sudah membatin bahwa Aan sudah menemukan calon jodohnya. tapi sungguh saya tidak menduga kalau kejadiannya akan secepat ini. Langsung melangsungkan pernikahan tahun ini. bahkan akad dan resepsi yang rencana nya Agustus ini di Jogja dimajukan dua minggu lalu menjadi akad Sabtu siang ini (ada itung-itungan hari An?).

    Mengingat persis setahun yang lalu kami masih datang bersama di pernikahan adik angkatan. Tentu saja sambil bergurau kalau 'aneh' saat nanti kita-kita saat menikah. Karena hampir 4 tahun hidup bersama dalam pahit getirnya pondok derita, saat susah senang, masa tenang dan ribut karena tugas, belajar berpolitik bahkan bersama-sama mencari Surga.

    Untuk kesekian kali, kami bangga kepada Aan (bangga pertama Aan siswa aksel, kedua kondisi keluarga di Madiun, ketiga IPK nya lebih besar dari kami :p, dll). Dan sekarang, kedewasaan dan keberanian bukan menyangkut usia, tapi memang menyangkut seberapa cepat matang seseorang untuk mengambil sikap dalam kehidupan.

    Ok Aan, saya (dan kami) mengaku kalah dalam hal ini. Dan maaf karena hari ini tidak bisa menghadiri saat mengucap janji sehidup semati dengan pasangan. Bukan apa-apa, karena seseorang membatalkan janji untuk berangkat ke Jogja. Tapi mudah-mudahan 16 Agustus nanti kami bisa bersama-sama hadir di Jogja, sekaligus kembali menyemai masa depan dalam sebuah kesahajaan.

    Sambil menikmati seruputan udara malam Bandung bersama seorang kawan, saya cuma bisa bersenandung lirih mengutip sebuah puisi favorit Chairil Anwar ;

    Kalau sampai waktuku
    'Ku mau tak seorang kan merayu
    Tidak juga kau

    Tak perlu sedu sedan itu

    Sekali lagi, Selamat buat Aan dan Mala, Barakallah..


    *Atas nama penghuni (Aa & Adit) dan simpatisan pondok derita, silahkan absen.. :)

  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Harian
  • Tradisional vs Medis

    Telah tumbuh di masyarakat metode-metode penyembuhan tradisional yang manjur, baik yang telah terbukti secara medis atau bahkan yang tidak bisa dibuktikan secara medis. Metode penyembuhan tersebut turun temurun, menjadi bagian dari budaya masyarakat. Dan yang menjadikan metode itu kuat mengakar, karena metode tersebut terbukti bisa menyembuhkan dengan baik.

    Lalu datanglah metode kedokteran (medis) yang sangat ilmiah, substansial dan sistematis. Kalau dari substansinya, metode medis jauh lebih menyakinkan daripada tradisional. Secara empiris, medis melalui dokter dan semua perangkatnya bisa menyembuhkan dengan baik, namun tetap tidak bisa menjanjikan 100% kesembuhan.

    Tentang usaha entah metode tradisional atau medis tentu lain dengan kesembuhan. Usaha adalah usaha, sedangkan kesembuhan sendiri banyak faktornya. Mulai dari sugesti diri hingga kuasa Tuhan.

    Masyarakat pun akhirnya masih juga banyak menggunakan tradisional sekalipun akses medis makin menyebar. Satu hal karena relatif lebih mahal, kedua karena lebih percaya tradisional yang membudaya. Pihak medis pun tidak seharusnya menjadi egois, memandang benar sendiri lalu mencampakan realita bahwa tradisional juga mampu memberikan kesembuhan yang baik.

    Ini bukan tingkat melek medis atau pendidikan yang masih rendah di masyarakat, tapi ini justru sebagai bentuk pilihan. Untuk itu lah kiranya masyarakat juga harus tahu, saat kondisi tertentu harus ke tradisional atau kondisi yang lain dimana memang mengharuskan pergi ke medis.

    ***
    Pernah mengalami jatuh, sehingga menyebabkan tulang terkilir atau keseleo? Sebagai orang awam, pasti akan menganjurkan untuk menyerahkan urusan ke tukang (ahli, dukun?) pijat untuk mengembalikan tulang atau bagian-bagiannya yang kurang tepat. Atau setidaknya dioles-oles dengan balsem peregang otot sendi. Itulah yang dinamakan dengan cara tradisional.

    Cara medisnya, maka segera lah pergi ke dokter untuk pemeriksaan. Jika sakitnya parah, maka dokter akan meminta untuk difoto bagian tulang yang sakit tersebut. Jika tidak retak atau patah, maka obat penghilang nyeri luar dalam jadi solusi. Jika retak atau patah, maka berikutnya jatah dokter orthopedi dan bisa keluar dengan 2 pilihan, di gips (benar tulisannya?) atau operasi dengan pemasangan implant (pen). Itulah secara singkat cara medis menangani tulang.

    Selasa 4 Maret sore, telunjuk kiri saya terkilir karena olahraga. Bengkak, sakit sekali. Rabu malam saya memutuskan untuk mengundang tukang pijat. Esoknya, rekan kantor menyarankan ke dokter untuk dipotret karena bengkak yang tidak hilang. Singkatnya, tulang metakarpal telunjuk kiri saya retak dan menurut dokter orthopedi disarankan operasi penanaman implant supaya hasilnya baik dan cepat.

    Kamis malam saya masuk RS dan jumat paginya operasi (pertama kalinya masuk RS, dibius, dan operasi dalam sejarah hidup saya). Alhamdulillah, lancar. Dalam rontgen tangan pasca operasi, terlihat 3 pen yang di silangkan di metakarpal kiri saya. Saya belum pernah melihat benda ini diluar tangan saya, namun membayangkan ada 3 ‘paku kecil lentur’ di telapak saya, kadang membuat perasaan bercampur.

    Sabtu 8 Maret pulang, dan diharuskan kontrol setelah 1 minggu untuk melepas perban tangan. Jujur memang manjur metode operasi medis ini. Tangan saya membaik dan berasa tidak sesakit sebelumnya. Terima kasih dok. Benar-benar ajaib! (ah, tapi tetap saja ada ‘benda asing’ dalam telapak kiri saya)

    Sebelumnya saat divonis dokter bahwa pijat yang membuat segalanya makin parah, saya mengelak, “kalau dokter menjadi saya, orang yang awam kedokteran, tidak tahu seluk beluk tentang orthopedi lalu tulangnya keseleo atau terkilir, maka saya yakin dokter juga akan memijit bagian yang sakit itu”. Dan dokter itu pun senyum mengiyakan.

    Sudahlah, yang penting sekarang tangan saya kembail, Alhamdulillah. Belum 100% memang, mudah-mudahan secepatnya akan pulih normal. Sekarang saya pun berhitung bahwa 3-5 bulan lagi, saya harus kembali operasi mencabut ‘benda asing manjur’ dalam tangan saya (many thanks to my company).

    Dan yang terpenting semakin menyadari, bahwa kesehatan itu rezeki luar biasa yang diberikan Khaliq pada kita. Maka dari itu, mari manfaatkan sehat kita sebelum datang sakit kita. Tidak ada kata terlambat.

    *terima kasih untuk do'a keluarga, teman dan sahabat.
  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Harian
  • Pupus sudah Multiply

    Setelah mengkomplain ke pihak Multiply tentang kasus pencurian account saya, maka ini lah jawabannya:

    Hi,Unfortunately, once yor account has been terminated, there is no
    way of reinstating that username. The best thing to do is go ahead and join
    again under a new username. Sorry for the inconvenience.

    Preston

    Sebenarnya sangat sangat tidak puas, jawaban yang tidak membantu. tapi bagaimana lagi? Misuh-misuh bukan sebuah solusi. tampaknya saya akan membuat account baru. jadi ingat guyonan tukang becak asal madura, "1500 koq minta selamat". gratisan koq minta baik pelayanan.

    Terima kasih kepada Rachma yang mengusulkan complaint ke MP, serta Igun atas penjelasan teknisnya. hmm, saya harus berpikir account yang unik lagi.

    *blogging from Cengkareng, starting to Palembang
  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Blognet, Ragam
  • My 1st Paper in Oil Area

    Analysis of Drilling Time and Cost per Foot at Kaji Field

    Drilling is the most critical and expensive activity in oil gas industry. That is why a drilling operation must be well programmed in accordance with time, cost and drilling target. The main job of a drilling engineer is to design a drilling program, contains of target depth, drilling time, cost, casing, and cementing program. In drilling operation at a producing field or development wells, there is a relationship between cost and depth. And by mathematical model, it can be obtained the drilling and trip time formula using the sample data. The drilling time formula can be used as guidance in creating drilling program in Kaji Field is td=0.748(e0.00121D-1), and the trip time formula is tt=(0.003)D. In order to get an optimum cost-per-foot, a 517 bit 8½ in should be better operated for about 32 hours rotating hours. While the optimum rotating hours for 117 bit 12¼ in can not be obtained because the main goal of early drilling is to direct drill string in operating directional drilling and that drilling needs to be controlled in a certain Weight on Bit (WOB) even in soft formation to maintain Rate of Penetration (ROP).


    Notes:
    - Kaji Field is here
    - Completely paper could be obtained by contacting me, please state your purpose and clear institution*

    *except my buddies :)
  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Engineer, Job
  • Welcome Oil and Gas

    Tidak mudah untuk mempelajari hal-hal baru yang tidak berkaitan dengan dasar pendidikan tinggi kita. Sekalipun itu hal baru yg menarik, setidaknya itu butuh waktu untuk lebih paham dan menjadi bagian dari pikiran utama kita.

    Lalu hal yang bisa dilakukan adalah memulai dengan berpikir positif, membuka pikiran selebar-lebarnya sehingga semakin banyak hal-hal baru yang masuk di pikiran. Karena semua ilmu pada dasarnya adalah baik, dan bermanfaat untuk manusia.

    Berpikir tertutup dengan tetap memegang dasar pendidikan yang artinya tidak merelakan adanya ilmu baru bisa diangggap sebagai orang yang egois terhadap ilmu. Tapi sekali lagi, semua butuh waktu. Tidak semudah membalik telapak tangan.

    Untuk lebih mudahnya, bisa digunakan dua konsep antara harapan dan ketakutan. Berharap bahwa semuanya untuk masa depan, mencapai tahap-tahap kehidupan selanjutnya. Sedangkan ketakutan kehilangan semua yang sudah di depan mata, menyesal, dan akhirnya harus memulai perjuangan hidup baru lagi.

    ***

    Sudah lima bulan ini, saya mempelajari hal-hal baru tentang oil and gas. Bukan sebagai background saya sebagai seorang industrial engineer, tapi bener-benar dididik untuk bisa menjadi seorang petroleum engineer. Dibandingkan dengan track records pekerjaan sebelumnya, trainee ini tentu saja sangat berbeda secara keilmuan.

    Setelah melalui tahap pembelajaran termasuk pengamatan di sebuah lapangan minyak, sedikit demi sedikit mulai tergambar sebuah gambaran lengkap kompetensi technical dalam oil and gas. Dimana secara umum, petroleum engineering terbagi dalam empat bidang kompetensi khusus, yang sangat dekat pembagian tugasnya dengan kondisi oil dan gas mulai di dalam sumur hingga sampai di sales point.

    Satu, reservoir engineering (reservoir). Reservoir bertanggung jawab terhadap reservoir (batuan yang mengandung cadangan oil dan gas). Secara singkat, seorang reservoir engineer akan menghitung cadangan dan properties dari oil atau gas tersebut. Dengan peran seorang reservoir engineer, bisa ditentukan produksi sebaiknya dilakukan dengan rate berapa, bertahan berapa lama, lalu kemudian dilakukan enhanced oil recovery (sebuah tahap meningkatkan performa sumur).

    Kedua, drilling engineering (drilling). Drilling bertugas melakukan pengeboran ke target depth untuk sebuah sumur eksplorasi (baru untuk mancari oil and gas), atau development wells. Seorang drilling engineer termasuk bagian dalam pekerjaan yang sangat kritis. Dengan melihat apa yang terjadi di Brantas Sidoarjo oleh Lapindo, maka sedemikian kritisnya pekerjaan drilling ini. Masuk ke bagian drilling ini juga operasional treatment yang dilakukan terhadap existing wells yang masuk dalam pekerjaan work over atau well services.

    Ketiga, production engineering (production) atau biasa dikenal juga subsurface. Setelah lobang sumur selesai dibor dan oil terbukti ada, maka tugas production lah untuk mengangkat sumur dari resorvoir lalu dialirkan ke stasiun. Pengaliran oil dan gas ini termasuk juga teknik yang dilakukan untuk bisa memproduksi sumur yang bertekanan rendah sehingga dibutuhkan sebuah artificial lift. Artifcial lift ini contohnya berupa gas lift, rod pump (pompa angguk yang sangat khas di oil), atau submersible pump.

    Keempat, surface fecilties engineering (surface). Setelah sampai di stasiun, maka oil and gas diolah lanjut. Stasiun disini bukanlah stasiun untuk pengolahan minyak (refinery). Stasiun ini hanya untuk mengolah untuk memenuhi kriteria dari sales. Kriteria ini misal dari aspek water content, salt content, endapan sedimen, dan tekanan uapnya. Jika reservoir setiap saat berhubungan dengan hal-hal di bawah sana yang tidak terlihat, maka surface ini sangat terlihat jelas karena bertanggung jawab pada alat-alat di permukaan dari stasiun hingga pipeline ke sales point.

    Sebenarnya ada lagi satu bagian yang tidak dimasukan dalam bagian engineering namun sangat penting, terutama dalam eksplorasi minyak-gas, yaitu bidang geology and geophisic (geoscience). Bidang ini sangat terkait erat dengan batuan, hal di bawah tanah yang sangat interpretatif. Sedangkan engineering ‘bekerja’ setelah oil dan gas terbukti ditemukan (proven). Interface antara geoscience dan engineering adalah reservoir.

    ***

    Orang boleh bilang bahwa oil and gas adalah industri yang paling attraktif dan ‘menjanjikan’. Kebutuhan engineers baru disana selalu ada setiap waktu, dalam tahun hingga mingguan! Untuk masuk kesana pun, tidak hanya dibutuhkan tekad mendapatkan ‘sesuatu yang lebih’ karena itu pun harus dibayar dengan kompetensi yang sangat spesifik pula.

    Dan untuk bisa eksis dalam sebuah bidang industri, maka harus masuk dalam core-bussiness nya. Jika masuk industri telekomunikasi, maka orang yang tau telco lah yang bisa ‘menguasai’ bisnis tersebut. Sedangkan di oil and gas, maka orang petroleum (plus suplemen manajerial) lah yang akan bisa eksis disana.

    Jadi sekarang, tidak masalah buat saya untuk ‘banting setir’ menjadi seorang (new) petroleum engineer. Di perusahaan yang proud of Indonesia senantiasa dihembuskan sehingga masih bisa proporsional dalam idealis bekerja, maka mencari ilmu baru in ‘a most wanted industrymenjadi hal yang menantang untuk belajar dan belajar.

    Saatnya bekerja, menyelesaikan masa trainee ini sebaik-baiknya. Do’akan saya, terima kasih. :)

    *Blogging from SMB II, South Sumatra

  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Job
  • Menarik sebuah golongan dalam masyarakat yang dinamakan Mahasiswa. Golongan ini mempunyai keunikan karakter, aktivitas hingga pola hidup. Di satu sisi secara strata pendidikan, mahasiswa termasuk dalam bagian pendidikan yang tinggi atau bagian kaum terpelajar. Namun dalan strata sosial, mahasiswa pun sebenarnya masih bisa digolongkan dalam masyarakat tak bekerja alias pengangguran.

    Dalam dualisme pola pandang tersebut, kehidupan mahasiswa selalu lebih khas dibandingkan anak SMU yang lebih terkesan ‘ABG’, atau dibanding para karyawan muda yang terpaksa harus dimasukan dalam bagian ‘mapan’.

    Sebagai bagian kaum terpelajar, mahasiswa sering menyebut dirinya bagian dari gerakan moral masyarakat, yang non kepentingan kecuali kepentingan rakyat. Sebagai pembela rakyat atau setidak-tidaknya mempunyai nurani kerakyatan. Hal ini tentu tak bisa dilepaskan dalam kehidupan harian mahasiswa sendiri yang penuh ‘perjuangan’. Mulai dari tempat tinggal (idiom dengan anak kost), makanan ‘secukupnya’, atau setidaknya pola pikir yang ingin hemat sehemat-hematnya.

    Namun dengan dualisme ini pula sebenarnya mahasiswa menjadi pembatas, perekat atau bahkan penghubung antara golongan ‘atas’ dengan ‘bawah’. Percaya atau tidak, status mahasiswa menjadikannya mudah diterima dimana dia pergi. Mulai dari Gedung DPR hingga perumahan kolong jembatan. Dengan status itu pula, yang seringkali digunakan untuk tetap mendapatkan ‘harga pelajar’ saat menggunakan sarana umum, seperti trasnportasi yang biasa terjadi di Jogjakarta.

    Oleh karenanya, status mahasiswa bisa dikatakan sebagai status fleksibel. Saat dibutuhkan untuk naik dalam ‘strata atas’,maka ia pun bisa dengan leluasa melakukannya. Apalagi bila untuk merakyat bersama ‘strata bawah’, maka mahasiswa bisa seolah menjadi ‘dewa’ yang peduli akar rumput.

    Status itu juga percaya atau tidak juga mempengaruhi pola pikir, pembangunan karakter bahkan hingga perilaku. Karena mahasiswa itu fleksibel, cenderung bebas,maka para mahasiswa pun cenderung ‘seenaknya sendiri’ dengan kurang melihat situasi, atau dalam bahasa halusnya ekspresif.

    Dalam proses pendidikan di perguruan tinggi, hal itu tentu saja sangat baik untuk menumbuh-kembangkan kreatifitas dan keberanian menembus kejumudan. Namun dalam kehidupan pasca kampus, tidak semua ‘hal ekspresif’ itu bisa tetap dipelihara karena harus lebih melihat kondisi lingkungannya.

    ***

    Saya sendiri mengalami hampir semua masa yang digambarkan diatas dengan cukup. Karena enaknya menggunakan status mahasiswa itu, sempat membuat saya sering memakainya sekalipun gelar sarjana sudah tersematkan.

    Saat berbicara dengan sopir mikrolet di Jakarta yang berasal dari Bandung, maka tanpa sengaja ‘status’ itu yang lebih dikedepankan daripada mengatakan sebenarnya saya sudah lulus (saya tidak berbohong, hanya mengatakan bahwa saya kuliahnya di Bandung). Saat dalam perjalanan pun pernah saya lebih nyaman untuk mengatakan ‘kuliahnya di Bandung’ daripada jujur mengakui bahwasanya saya seorang karyawan.

    Hingga sekarang, satu tahun selesainya status mahasiswa itu, akhirnya saya harus memutuskan untuk berusaha menanggalkan ‘status’ itu. Bukannya saya tidak ingin berlama-lama dengan status yang menjadikan saya bisa lebih fleksibel, namun semata-mata karena ada beberapa hal ‘paradigma mahasiswa’ yang tidak sesuai diterapkan di lingkungan baru (baca: kerja) saya.

    Gaya ‘bebas’ versi mahasiswa harus dibenturkan dengan office-netiket. Budaya ‘ekspresif’ khas mahasisawa harus berhadapan dengan sopan santun. Mulai baju yang rapi dengan kancing kerah terpasang jika ada hingga budaya makan di acara bersama. Dari sikap bicara asertif dengan orang hingga cara mengajukan pertanyaan. Ada baiknya karena harus mulai berbudaya ‘beradab’. Tapi tetap saja, selalu ingin sebagian karakter mahasiswa yang dipertahankan.

    Mungkin salah satu fase adaptasi yang sederhana adalah dengan lebih jujur mengatakan status pekerjaan saat bertemu dengan orang, dalam perjalanan atau di transportasi umum. Dan mulai sekarang, semoga saya bisa melakukannya, mengatakan sejelasnya bahwa sudah bekerja, saya adalah karyawan di sebuah perusahaan swasta. Dengan begitu setidaknya saya ‘tidak berdusta’ (sekalipun sulit juga untuk dikatakan ‘jujur’).

    Dan tidak lupa dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya sudah berpenghasilan. Bukan untuk apa-apa, hanya menyakinkan diri sendiri sehingga 'mental mahasiswa' yang selalu mengharapkan gratisan itu mulai berubah. Namun bukan berarti pula semua harus diukur dengan materi. Hanya semoga dengan kesadaran sudah berpenghasilan itu, ada lebih kesadaran untuk berbagi dan berpikir dewasa.

    Lalu mengenai beberapa pola hidup harian yang masih ingin menggunakan ‘pola dan gaya mahasiswa’, saya tak perlu lelah memikirkannya. Saya menikmati hidup yang seperti ini, yang bisa ‘ke atas’ tapi juga bisa ‘ke bawah’. Saya hanya berusaha untuk wajar, tidak berlebihan. Karena bukankah hidup itu sendiri adalah naik-turun yang kita sendiri tak pernah bisa memprediksinya? Hidup bersahaja, mungkin itu kuncinya.

    Note:
    Karena si empunya harus ke field di daerah Sumatera Selatan, maka selama 3 minggu blog ini akan hiatus. Silahkan menikmati blog sederhana ini. Do’akan baik-baik saja, terima kasih.

  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Keseharian