Sebuah aggregator blog..
28 Nov
Dari Sabang sampai Merauke,
Kawasan yang sangat terkenal di Manado adalah Boulevard. Kawasan ini berada sepanjang garis laut teluk Manado sekitar 5 km. Disini akana banyak ditemukan pusat bisnis, kuliner, hiburan hingga perbelanjaan modern. Kawasan ini sebagian merupakan hasil reklamasi pantai yang di lakukan pemerintah dimana pembangunan fasilitas masih terus berjalan. Sesuai dengan slogannya visi kawasan ini adalah area B&B, Bussiness and Boulevard.
malam sesuai variannya. Salah satu tempat makan yang nyaman, enak dan terjangkau adalah Raja Sate, dekat dengan MegaMall.
Terusan Boulevard sekitar 7 km dari MegaMall, terdapat kawasan khusus pusat makanan laut yang dinamakan Kalesey. Banyak restoran berjejer di pinggir jalan yang langsung menghadap laut. Dari sini, kerlip Boulevard dan Manado lebih terlihat. Selain restoran, juga ada warung-warung pinggir jalan di Kalesey ini.26 Nov
Matahari menyusup keluar balik gunung.
22 Nov
Terakhir, saya ingin berbagi diantara sudut dalam rumah yang paling saya sukai berikut. Hmm, tidak harus pintar memasak. Tapi setidaknya ’dia’ mau belajar memasak buat saya, buat kami.. :)17 Nov
17 Nov
16 Nov
14 Nov
Buat saya, hal paling menarik dari kemenangan Obama ialah peristiwa itu membuktikan bahwa American Dream itu ada. Mimpi bahwa jika anda, warga negara Amerika Serikat, dengan latar belakang apapun, mau bekerja keras, maka anda bisa menjadi apa saja. Termasuk menjadi Presiden Amerika. Bagaimana jika anda negro, dan muslim pula? Ya! Minimal itu yang disiratkan oleh Colin Powell. Kemenangan Obama,arguably,menginspirasi bahwa nothing is impossible (and impossible is nothing). 40 tahun yang lalu di Amerika, tak terbayang bahwa AS akan dipimpin seorang presiden afro-amerika. Sekarang terjadi. Jadi, presiden AS yang muslim, kenapa tidak? Meskipun saya juga tidak yakin dalam berapa puluh (ratus?) tahun itu akan terjadi.
Oke, Obama adalah pencilan, extreme outlier dalam kurva probabilitas. Tetap saja warga utama Amerika adalah WASP (White-Anglo Saxon-Protestan). Namun, saya kira pesan dari kemenangan Obama, untuk seluruh warga Amerika dan dunia (sampai taraf tertentu) bisa sampai: inilah American Dream! Land of freedom, negeri harapan para pengungsi dan imigran legal maupun ilegal, negeri dimana kebebasan berusaha dijamin, pursuit of happiness tercetak jelas pada dokumen pendirian negaranya dan dijaga hingga kini, hingga setelah ratusan tahun merdeka, seorang keturunan negro bisa menjadi presiden.
Saya jadi berpikir, adakah ada Indonesian Dream? Mimpi bersama Indonesia, sebagai sebuah bangsa?
Ini jadi pertanyaan yang sama sulitnya dengan membincangkan tentang karakter bangsa. Pertama, bangsa yang mana? Lalu, karakter itu apa? Dan ketika ‘karakter’ berada di sebelah ‘bangsa’, apakah itu? Sama seperti karakter bangsa, perbincangan mengenai mimpi Indonesia ini juga samar-samar, meski sama-sama dapat kita rasakan. Lagi-lagi kita seperti membicarakan kentut, tak jelas terlihat namun (baunya) dirasakan semua.
Paling mudah ya dengan menganalogikan mimpi Indonesia dengan American Dream yang saya jelaskan di paragraf awal itu. Sekarang kita balik lagi, ada nggak sih mimpi Indonesia itu?
American Dream gampang dirasakan di pop culture-nya. Lihat film-film Amerika yang mengisahkan cerita perjuangan dan kepahlawanan, yang biasanya berfokus pada individu dan lebih personal. American Dream juga kelihatan di media-media sana. Ia hadir dalam kesimpulan saat kemenangan Obama. American dream does exist.
Sepanjang hidup saya di sini, saya belum berhasil mengidentifikasi, apa sih Mimpi Indonesia itu? Anda punya ide atau jawaban?
Saya melihat bahwa mimpi Indonesia itu belum definitif dan masih berada dalam medan pertarungan ide. Contestation of memes, kalau kata teman saya Galih. Sekarang ini, yang kelihatan, tanpa bermaksud untuk membandingkan apalagi mempertarungkan, setidaknya ada dua ide utama, dua kandidat mimpi Indonesia.
Pertama, mimpi bahwa Indonesia adalah negeri keragaman. Terbentuk dari banyak suku dan latar belakang budaya, dan menjadi satu. Mimpi Indonesia yang toleran, yang pada titik ekstrem, menoleransi segala hal. Indonesia yang pluralis, di mana anda akan aman menjadi apa pun, dari suku mana pun, beragama (ataupun tidak) apapun, berorientasi seksual bagaimanapun. Makanya kita dengar ide itu di media, bahwa hal-hal seperti itu adalah Indonesia. Unity in Diversity. Bhinneka Tunggal Ika.
Kedua adalah mimpi tentang Indonesia yang Islami. Mimpi bahwa Indonesia ialah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dan karenanya berhak diatur dengan hukum Islam, atau minimal hukum yang lebih Islami. Pada titik paling kanan, malah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi tidak relevan. Yang relevan adalah menggantinya dengan Negara Islam Indonesia. Atau malah kekhilafahan internasional sekalian.
Dalam tahun-tahun belakangan ini dan mungkin beberapa tahun kedepan, kontestasi kedua mimpi ini akan kelihatan. Akan selalu ada kontroversi tentang aturan-aturan yang dipersepsikan “lebih Islami”, atau untuk lebih halus, “hanya untuk golongan tertentu”. Kita lihat kontroversi perda-perda syariah. Kita lihat ramainya pembahasan UU tentang pornografi. Kita lihat pada kasus Ahmadiyah. Sampai taraf tertentu, ini juga berlaku sewaktu pemilihan presiden antara kaukus “poros tengah” dan kaukus “nasionalis”.
Dalam mengidentifikasi kedua kandidat mimpi tadi, boleh dibaca ulang, saya tidak memaksudkannya sebagai pertarungan Islam versus Nasionalis. Ini kontestasi antar warga negara dengan mimpi yang berbeda, itu saja.
Celakanya, kontestasi itu membuat Mimpi Indonesia selalu jadi mimpi yang dalam proses, dan belum definitif. Belum menjadi kesepakatan umum seperti contoh American Dream. Lalu, tanpa mimpi yang jelas, mau kemana bangsa ini akan maju? Lebih celaka lagi, citra diri kita sebagai bangsa (jangan-jangan) sudah rusak. Anda pernah mendengar keluhan, atau malah pengakuan jujur, bahwa bangsa kita adalah korup, munafik, dimana hukum bisa dibeli, dengan warga negara yang malas dan ingin serba instan? Ini gawat: kita dikelilingin citra diri negatif, dan kita tak tahu mau kemana kita menuju.
Saya pikir sebagai langkah awal, kita perlu membentuk konsensus dulu tentang Mimpi Indonesia. Mungkin kita perlu merekonsiliasi dulu tentang kedua mimpi tadi, dan menemukan Mimpi Bersama Indonesia. Hasil rekonsiliasi haruslah berbeda dengan kompromi, apalagi kompromi dengan satu pihak mengorbankan sesuatu dan seolah memberi “kemenangan” kepada pihak lain. Ini akan sulit kalau kedua pihak sama-sama ngotot dan tak mau dialog.
Kita perlu pemimpin yang mampu me-lead the way. Menjelaskan hutan yang akan dilalui sambil menjelaskan keindahan taman yang dituju. Kita tidak perlu pemimpin yang muda, atau tua, tentara atau sipil, perempuan atau lelaki, beriklan atau tidak; kita perlu pemimpin yang bisa menangkap aspirasi dan mimpi-mimpi rakyat dan mengagregatkannya menjadi Mimpi Indonesia.
Saya harus berhenti dulu disini. Kalau diteruskan akan kelihatan seperti buku-buku Mario Teguh atau “pembicara motivasional” lain. Paling bagus kelihatan sebagai pamflet kampanye..=p
12 Nov
12 Nov
11 Nov