Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for November, 2008

Manado, Denyut Indonesia Utara

Dari Sabang sampai Merauke,
Dari Timor sampai ke Talaud..

Selama seminggu saya berkesempatan mengunjungi Manado, pusat kota di Sulawesi bagian selatan. Pesawat Garuda berangkat pagi jam 7 dari Cengkareng, transit di Makasar dan sampai di Bandara Sam Ratulangi sekitar jam 13 (terbang efektif 3,2 jam dari Jakarta). Langsung kami (saya bersama teman-teman kantor) meluncur ke Hotel Santika, di Tongkaina, Kecamatan Bunaken.

Namun acara menginap di Santika tidak berlangsung lama sesuai rencana karena jauhnya lokasi hotel dari kota (Santika sangat cocok yang khusus menuju ke taman laut Bunaken karena hanya 10 menit). Maka esok harinya kami berganti ke Sintesa Peninsula, hotel yang baru beroperasi 1 oktober lalu.

Ini pengalaman pertama saya ke Manado. Tampaknya Manado adalah pusat kota yang unik, karena berada persis di tepi teluk Manado. Sangat dekat sekali dengan garis laut. Memandang dari jendela hotel, maka langsung mata menuju ke paduan kota dan laut. Eksotis.

Kawasan yang sangat terkenal di Manado adalah Boulevard. Kawasan ini berada sepanjang garis laut teluk Manado sekitar 5 km. Disini akana banyak ditemukan pusat bisnis, kuliner, hiburan hingga perbelanjaan modern. Kawasan ini sebagian merupakan hasil reklamasi pantai yang di lakukan pemerintah dimana pembangunan fasilitas masih terus berjalan. Sesuai dengan slogannya visi kawasan ini adalah area B&B, Bussiness and Boulevard.

Tidak terlewatkan untuk mencicipi makanan Manado. Sesuai dengan lingkungan laut, seafood menjadi makanan pilihan setiap malam sesuai variannya. Salah satu tempat makan yang nyaman, enak dan terjangkau adalah Raja Sate, dekat dengan MegaMall.

Ada juga resto yang terkenal di Boulevard yaitu Wisata Bahari, sekitar 3 km dari Mega Mall. Dibanding Raja Sate, harga di Wisata Bahari lebih mahal karena suasana makan di ’atas laut’ yang ditawarkannya dan live music nya. Kita akan mendengar debur ombak, dan bebas kita memandang laut malam.

Terusan Boulevard sekitar 7 km dari MegaMall, terdapat kawasan khusus pusat makanan laut yang dinamakan Kalesey. Banyak restoran berjejer di pinggir jalan yang langsung menghadap laut. Dari sini, kerlip Boulevard dan Manado lebih terlihat. Selain restoran, juga ada warung-warung pinggir jalan di Kalesey ini.

Untuk harga yang lebih terjangkau, ada Tikala di dalam kota (sekitar 1 km dari Bouleverd) tempat food area dengan dilengkapi free-wifi. Bermacam-macam penjual makanan ada disini. Bubur khas Manado yang terkenal juga bisa dinikmati di Warung Wakeke di Tikala ini. Jika Resto Wisata Bahari atau Kalesey banyak pejabat, bule atau keluarga disana, maka di Tikala akan banyak anak-anak muda yang nongkrong dengan laptopnya.

Makanan terjangkau ada Tikala, maka hotel yang terjangkau dan banyak direkomendasikan Indobackpacker adalah Unique Inn, lokasinya tidak jauh dari Boulevard. Hotel ini memang unik karena berada di atas jembatan penyeberangan jalan menuju ke Pelabuhan Manado. Di pelabuhan Manado (orang biasanya menyebut Hotel Celebes), akan banyak kapal untuk ke Bunaken atau daerah-daerah lain seperti Pulau Sangir, Bunaken atau Talaud.

Dan pengembaraan berikutnya adalah Bunaken. Dari dermaga Hotel Celebes, perjalananan membutuhkan 1 jam dalam cuaca baik. Namun kami tetap saja mual-mual dalam perjalanan pagi karena melawan angin laut dan efek tabrakan aliran air laut di teluk Manado. Konon jika gunung di Pulau Manado Tua (pulau di sebelah pulau Bunaken) tertutup awan gelap, maka ombak menuju ke Bunaken bisa mencapai 2 m.

Sampai di taman laut Bunaken, perkiraan saya bahwa taman laut berada di tengah laut salah. Taman laut ini berada sekitar 1-2 km dari garis pantai Pulau Bunaken. Tips dalam perjalanan ke Bunaken, jangan mendadak berhenti setelah melawan ombak. Karena isi perut akan menyesuaikan ombak jalan dengan ombak saat kapal diam yang akhirnya bisa membuat muntah (untungnya saya hanya mual).

Taman laut Bunaken mengesankan, luar biasa. Sekalipun saya tidak diving atau snorkling, dari dek kapal sudah terlihat bahwa taman laut Bunaken memang indah. Bersih dan nyata habitatnya. Pantas saja Bunaken termasuk dalam cagar alam dunia. Namun sayangnya, di kawasan pantai wisata Pulau Bunaken sendiri masih belum terawat dan terorganisir sehingga mengesankan sedikit kumuh. Kondisi ’standar’ yang masih terjadi umumnya di kawasan wisata Indonesia.

Selain Pulau Bunaken, ada beberapa pulau tempat wisata yang lain diantaranya Siladen dan Lembeh. Jika punya cukup waktu (dan dana pastinya), agendakan untuk pulau-pulau tersebut sekaligus program diving. Dengan mengunjungi Manado ini, saya semakin sadar bahwa negeri kita adalah negeri yang besar dan bersatu dalam kemajemukan.

Sulawesi Utara sendiri merupakan ’tapal batas’ Indonesia di bagian utara, berbatasan laut dengan Filipina. Jika kita hafal lagu diatas, maka Talaud merupakan kepulauan di bagian utara Sulut dimana membutuhkan 24 jam perjalanan kapal penumpang dari dermaga Manado. Semakin tidak terbayang alangkah jauh dan luasnya Indonesia ini. Sayang sekali jika penduduk Indonesia sendiri tidak pernah saling mengunjungi di buminya yang luas nan indah.

***
Manado yang ingin menjadi kota wisata laut dunia 2010 sedang berusaha keras berbenak untuk menyambut World Ocean Conference (WOC) 2009. Giatnya pembangunan tidak akan lepas dari lingkaran-lingkaran di sekelilingnya. Jika anda berjalan menyusuri Boulevard lebih dari Jam 9 WITA, maka di titik tertentu akan ditemui ’kembang malam’. Sehingga tidak heran ada plesetan B&B menjadi Beach and Bitch.

Akhirnya saya ingat pernah dapat cerita, bahwa mengunjungi Manado ’haruslah’ mencoba 4B, yaitu pertama datang ke Boulevard, makan Bubur khasnya, jangan melewatkan berkunjung Bunaken, dan terakhir rasakan Bibir manado. Maka saya sudah mencoba sempurna 3B nya. 1B yang terakhir, pasti saya tak mau mencoba. Saya segera ingat untuk pulang ke rumah esok hari.

*sharing: Manado Album
  • Comments Off
  • Filed under: Bangsa, Perjalanan
  • Selamat Pagi Manado

    Matahari menyusup keluar balik gunung.














    Kota di pinggir laut, tersapu hembusan angin laut pagi.













    Manado, 5.34 WITA


  • Comments Off
  • Filed under: Perjalanan
  • Menjadi Warga Depok

    Awalnya proses pencarian tempat tinggal dilakukan dengan memilah beberapa lokasi di sekitar Jakarta yang potensial dijadikan hunian. Karena aktivitas kerja di Jakarta, maka prioritas utama adalah wilayah di dalam kota Jakarta sendiri.

    Karena ’harga tidak wajar’ untuk ukuran ’layak’ hunian di dalam kota, kemudian beralih di Jakarta pinggiran. Jujur sebenarnya surveinya sendiri tidak dilakukan dengan optimal karena padatnya waktu yang tersisa saat di Jakarta (dibandingkan di Palembang). Serta tentunya keinginan kuat untuk memproses sebuah rumah secepatnya (tahun ini).

    Dan akhirnya, pilihan pun jatuh ke Depok. Kenapa depok? Inilah beberapa alasannya menurut saya.
    1. Harga rumah yang ’relatif terjangkau’ dimana tetap bisa mendapatkan hunian’cukup layak’. Memang dari biaya hidup umumnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta, namun indeks harga pasti lebih rendah dibanding Jakarta.

    2. Sarana transportasi yang tidak hanya mengandalkan jalan raya, tapi juga kereta api (KRL) yang scheduled, banyak waktu dan varian. Jika bosan motor/mobil/bus, bisa sesekali naik KRL. Untuk jalan raya sendiri, konon nantinya akan dibangun jalan tol dari Simatupang sambung ke Depok. Menuju Jakarta pun bisa menggunakan jalur alternatif non Margonda (Beji-Kukusan).

    Pun alasan pribadi, dengan jadwal kerja selama ini 2 minggu di Palembang, 1 minggu kantor Jakarta dan 1 minggu off, maka praktis dalam sebulan saya hanya ’terjebak transportasi’ Depok-Jakarta selama 5 hari kerja (kadang malah cuma1 hari ke kantornya). Dengan kondisi ini tentu sangat tidak ekonomis jika meneruskan tinggal kos sekalipun di belakang kantor.

    3. Universitas Indonesia. Ya..karena UI jadi salah satu pertimbangan. Saya bukan UI (dan dari dulu tidak punya cita-cita masuk UI!), tapi lingkungan kampus (UI dan beberapa kampus lainnya) memang membuat suasana kota menjadi lebih energik dan dinamis. Secara track record akademik pun, lulusan SMU Depok masuk ke kampus unggulan. Indeks pembangunan SDM Depok selama 2006-2007 tertinggi di Jawa Barat. Jadi lingkungan akademik cukup terkondisikan, pastinya untuk masa depan anak-anak nantinya.

    4. Lingkungan kota yang relatif nyaman menurut saya dan teman yang lainnya dibandingkan ’kota satelit’ Jakarta lainnya. Depok itu kecil dan terpusat (coba bandingkan dengan Bekasi dan Tangerang), masih ada pedesaannya dan cukup kental nuansa Islamnya. Tentu ini terkait dengan pengaruh lingkungan sosial terhadap kehidupan keluarga (anak) nantinya.

    5. Alasan lainnya. Untuk yang terakhir ini, anda pun bisa membuat alasan kelima versi masing-masing.

    ***
    Akhirnya tepat 2 tahun sejak mentas dari kampus, saya membeli sebuah rumah. Sebuah rumah milik sendiri. Tentu tidak menggunakan uang sendiri, Alhamdulillah..ada kesempatan yang bisa dimanfaatkan di kantor.

    Rumahnya relatif ’tidak besar’, simpel dan siap huni (dengan sedikit perapihan). Tentu pertimbangan lokasi strategis menjadi dasar memilih lokasi hunian. Termasuk di lingkungan Kota Depok, tidak jauh dari terminal ataupun stasiun Depok Baru. Dekat SMP, SMU dan pastinya UI. Pasar tradisional hingga pasar modern, RS, dan bank juga mudah di akses.

    Saat akad di depan notaris dan akhirnya transaksi di Bank, perasaan saya deg-deg an. Saya belum pernah transaksi sebesar ini, dan yang lebih lagi karena itu sebuah rumah. Cukup mendebarkan saat dijelaskan hak dan kewajiban sebagai pembeli dan pemilik rumah. Saya belum pernah merasakan yang seperti ini, mudah-mudahan perasaan yang baik sehingga timbul tanggung jawab untuk merawat dan mengelola rumah, tidak hanya sekedar tempat pulang.

    Terima kasih atas dukungan dan do’a teman-teman semua. Suatu waktu silahkan berkunjung dan sampaikan via pesan pribadi saja. Sekarang kondisinya masih kosong karena harus dirapihkan dulu sebelum pengisian rumah (plus mengatur budget, maklum rumah pertama hehe).

    Terakhir, saya ingin berbagi diantara sudut dalam rumah yang paling saya sukai berikut. Hmm, tidak harus pintar memasak. Tapi setidaknya ’dia’ mau belajar memasak buat saya, buat kami.. :)

  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Harian, Keluarga
  • Monitor

    Ceritanya saya sudah menyiapkan tulisan panjang tentang monitor saya yang rusak. Tentang harga-harga barang elektronik yang melambung tinggi dan tentang kronologis wafatnya si monitor, yang tanpa pemberitahuan apa-apa langsung tak bisa nyala lagi. Tapi, saat terbangun di sabtu pagi kemarin, saya kehilangan minat untuk memposting tulisan tersebut.

    Di sabtu pagi itu, saya baru sadar jika monitor yang sudah berumur 6 tahun itu adalah pusat segala kehidupan di kamar kost saya. Ia saya gunakan bersama dengan CPU, TV Turner dan pemutar DVD. Jadi, saat monitor itu pergi tanpa jejak, kamar kost saya menjadi sunyi senyap.

    Kalo kata lagu lama mah:



    "...there goes my everything..."



    Kandaga, here I come
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • My Rainbow

    Nama saya Mega. Dan saya selalu mengasosiasikan semua keindahan langit dengan nama saya. Pelangi tentu saja tidak luput darinya. Dari kecil saya sangat suka mandi hujan dengan teman-teman saya. Saya merasa bebas dan bahagia. Dan kebahagiaan itu akan semakin bertambah jika pelangi ikut hadir melengkapi. Indah nian. Lagu "pelangi-pelangi" adalah salah satu lagu favorit saya zaman TK, yang sering
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Blog Baru

    Saya, dengan seorang partner, membuat blog baru, yang paling penting dalam hidup saya.

    Silakan dikunjungi.
    Terima kasih.

    PS: mohon doa restu :D
  • Comments Off
  • Filed under: me
  • Mencari Mimpi Indonesia (1)

    Buat saya, hal paling menarik dari kemenangan Obama ialah peristiwa itu membuktikan bahwa American Dream itu ada. Mimpi bahwa jika anda, warga negara Amerika Serikat, dengan latar belakang apapun, mau bekerja keras, maka anda bisa menjadi apa saja. Termasuk menjadi Presiden Amerika. Bagaimana jika anda negro, dan muslim pula? Ya! Minimal itu yang disiratkan oleh Colin Powell. Kemenangan Obama,arguably,menginspirasi bahwa nothing is impossible (and impossible is nothing). 40 tahun yang lalu di Amerika, tak terbayang bahwa AS akan dipimpin seorang presiden afro-amerika. Sekarang terjadi. Jadi, presiden AS yang muslim, kenapa tidak? Meskipun saya juga tidak yakin dalam berapa puluh (ratus?) tahun itu akan terjadi.

    Oke, Obama adalah pencilan, extreme outlier dalam kurva probabilitas. Tetap saja warga utama Amerika adalah WASP (White-Anglo Saxon-Protestan). Namun, saya kira pesan dari kemenangan Obama, untuk seluruh warga Amerika dan dunia (sampai taraf tertentu) bisa sampai: inilah American Dream! Land of freedom, negeri harapan para pengungsi dan imigran legal maupun ilegal, negeri dimana kebebasan berusaha dijamin, pursuit of happiness tercetak jelas pada dokumen pendirian negaranya dan dijaga hingga kini, hingga setelah ratusan tahun merdeka, seorang keturunan negro bisa menjadi presiden.

    Saya jadi berpikir, adakah ada Indonesian Dream? Mimpi bersama Indonesia, sebagai sebuah bangsa?

    Ini jadi pertanyaan yang sama sulitnya dengan membincangkan tentang karakter bangsa. Pertama, bangsa yang mana? Lalu, karakter itu apa? Dan ketika ‘karakter’ berada di sebelah ‘bangsa’, apakah itu? Sama seperti karakter bangsa, perbincangan mengenai mimpi Indonesia ini juga samar-samar, meski sama-sama dapat kita rasakan. Lagi-lagi kita seperti membicarakan kentut, tak jelas terlihat namun (baunya) dirasakan semua.

    Paling mudah ya dengan menganalogikan mimpi Indonesia dengan American Dream yang saya jelaskan di paragraf awal itu. Sekarang kita balik lagi, ada nggak sih mimpi Indonesia itu?

    American Dream gampang dirasakan di pop culture-nya. Lihat film-film Amerika yang mengisahkan cerita perjuangan dan kepahlawanan, yang biasanya berfokus pada individu dan lebih personal. American Dream juga kelihatan di media-media sana. Ia hadir dalam kesimpulan saat kemenangan Obama. American dream does exist.

    Sepanjang hidup saya di sini, saya belum berhasil mengidentifikasi, apa sih Mimpi Indonesia itu? Anda punya ide atau jawaban?

    Saya melihat bahwa mimpi Indonesia itu belum definitif dan masih berada dalam medan pertarungan ide. Contestation of memes, kalau kata teman saya Galih. Sekarang ini, yang kelihatan, tanpa bermaksud untuk membandingkan apalagi mempertarungkan, setidaknya ada dua ide utama, dua kandidat mimpi Indonesia.

    Pertama, mimpi bahwa Indonesia adalah negeri keragaman. Terbentuk dari banyak suku dan latar belakang budaya, dan menjadi satu. Mimpi Indonesia yang toleran, yang pada titik ekstrem, menoleransi segala hal. Indonesia yang pluralis, di mana anda akan aman menjadi apa pun, dari suku mana pun, beragama (ataupun tidak) apapun, berorientasi seksual bagaimanapun. Makanya kita dengar ide itu di media, bahwa hal-hal seperti itu adalah Indonesia. Unity in Diversity. Bhinneka Tunggal Ika.

    Kedua adalah mimpi tentang Indonesia yang Islami. Mimpi bahwa Indonesia ialah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dan karenanya berhak diatur dengan hukum Islam, atau minimal hukum yang lebih Islami. Pada titik paling kanan, malah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi tidak relevan. Yang relevan adalah menggantinya dengan Negara Islam Indonesia. Atau malah kekhilafahan internasional sekalian.

    Dalam tahun-tahun belakangan ini dan mungkin beberapa tahun kedepan, kontestasi kedua mimpi ini akan kelihatan. Akan selalu ada kontroversi tentang aturan-aturan yang dipersepsikan “lebih Islami”, atau untuk lebih halus, “hanya untuk golongan tertentu”. Kita lihat kontroversi perda-perda syariah. Kita lihat ramainya pembahasan UU tentang pornografi. Kita lihat pada kasus Ahmadiyah. Sampai taraf tertentu, ini juga berlaku sewaktu pemilihan presiden antara kaukus “poros tengah” dan kaukus “nasionalis”.

    Dalam mengidentifikasi kedua kandidat mimpi tadi, boleh dibaca ulang, saya tidak memaksudkannya sebagai pertarungan Islam versus Nasionalis. Ini kontestasi antar warga negara dengan mimpi yang berbeda, itu saja.

    Celakanya, kontestasi itu membuat Mimpi Indonesia selalu jadi mimpi yang dalam proses, dan belum definitif. Belum menjadi kesepakatan umum seperti contoh American Dream. Lalu, tanpa mimpi yang jelas, mau kemana bangsa ini akan maju? Lebih celaka lagi, citra diri kita sebagai bangsa (jangan-jangan) sudah rusak. Anda pernah mendengar keluhan, atau malah pengakuan jujur, bahwa bangsa kita adalah korup, munafik, dimana hukum bisa dibeli, dengan warga negara yang malas dan ingin serba instan? Ini gawat: kita dikelilingin citra diri negatif, dan kita tak tahu mau kemana kita menuju.

    Saya pikir sebagai langkah awal, kita perlu membentuk konsensus dulu tentang Mimpi Indonesia. Mungkin kita perlu merekonsiliasi dulu tentang kedua mimpi tadi, dan menemukan Mimpi Bersama Indonesia. Hasil rekonsiliasi haruslah berbeda dengan kompromi, apalagi kompromi dengan satu pihak mengorbankan sesuatu dan seolah memberi “kemenangan” kepada pihak lain. Ini akan sulit kalau kedua pihak sama-sama ngotot dan tak mau dialog.

    Kita perlu pemimpin yang mampu me-lead the way. Menjelaskan hutan yang akan dilalui sambil menjelaskan keindahan taman yang dituju. Kita tidak perlu pemimpin yang muda, atau tua, tentara atau sipil, perempuan atau lelaki, beriklan atau tidak; kita perlu pemimpin yang bisa menangkap aspirasi dan mimpi-mimpi rakyat dan mengagregatkannya menjadi Mimpi Indonesia.

    Saya harus berhenti dulu disini. Kalau diteruskan akan kelihatan seperti buku-buku Mario Teguh atau “pembicara motivasional” lain. Paling bagus kelihatan sebagai pamflet kampanye..=p

  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, Islam, Opini, Refleksi, belief
  • Kangen

    Pengen maen gitar. Pengen maen voli. Pengen maen basket. Pengen maen tenis meja. Pengen jalan-jalan keluar kota. Pengen libur hari sabtu. Pengen nonton DVD semalem suntuk. Pengen bebek boromeus. Pengen nonton basket live. Pengen jalan dari BIP sampe KFC Riau. Pengen main game.


    Ah...lama-lama baca kata pengen ko jadi kerasa aneh.


    Arrgghh...miss those things. Badly.




    T_T
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Asuransi

    Kemarin pagi saya mendapatkan telepon dari bank niaga. Dari salah satu sales asuransinya tepatnya. Saya sendiri sebelumnya sudah tahu mengenai adanya sales asuransi yang sering menghubungi karyawan-karyawan baru PR. Tapi, karena malas, sudah beberapa kali saya menolak untuk menerima telepon dari sales niaga ini. Ternyata ia cukup konsisten juga. Nah, berhubung pagi itu saya sedang ingin iseng dan saya sudah malas menghindar, saya terima saja teleponnya.

    Sales ini memperkenalkan diri dengan nama Daniel lalu meminta waktu sebentar. Saat saya tanya berapa lama, ia menjawab sekitar lima menit. Tanpa dikomando lagi, mulailah sales ini menyerocos mempromosikan produknya. Saya sendiri hanya meng-"mmh"-kan saja setiap perkataannya sambil sesekali bertanya.

    Mulai di pertengahan, saya sudah tidak dapat menyimak perkataan mas daniel ini lagi. Saya ulangi: tidak dapat menyimak dan bukan tidak mau menyimak. Semakin lama, ia berbicara semakin cepat dan semakin tidak jelas. Memang, sesekali ia menyantumkan nama saya dalam kalimatnya (cth: bla....bla...bla...begitu ya bu vetri). Tapi saking cepatnya, saya tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Boro-boro mengingat produknya, ngerti apa yang dia ucapkan saja tidak.

    Seketika saya stop dia. Saya tanyakan apa tidak ada brosur yang dikirimkan atau iklan di website saja untuk saya baca. Saya jujur saja pada mas daniel ini kalau saya tidak menangkap sama sekali apa yang dari tadi ia omongkan. Jawabannya adalah: "ya ini promosi baru dari jakarta, bla...bla..bla (mulai lagi tidak jelasnya)" dan ia kembali nyerocos soal produknya.

    Yo wiss...saya biarkan saja dia berbicara. Mode "mmh" saya aktifkan kembali.

    Nah, sambil asik ber-mmh-mmh- ria, tiba-tiba mas daniel ini dalam suara rendah, kecepatan tinggi, berkata:"bla..bla..bla...jadi saya aktifkan ya bu asuransinya?"

    Spontan saya jawab: "haa??", dan setelah beberapa detik: "ya ngga dong!!"

    Dan orang ini, dengan luar biasa tenangnya, bisa-bisanya bertanya: "kenapa ngga?"

    Dalam hati: "yang boneng aje! Gw aja ga ngerti dari tadi lu ngomong apa, masih nanya lagi kenapa gw ga mau". Untungnya masih pagi dan otak serta emosi masih sedikit segar, jadinya dengan santai saya bilang kalau saya sudah punya asuransi.

    Jawab mas daniel lagi:"Asuransi ini kan safety..bla..bla..bla..bla (mode suara rendah kecepatan tinggi)...bla..bla..bla...jadi saya aktifkan ya bu asuransinya?"

    Hah sudahlah...saya bilang dengan tegas tidak terimakasih dan saya tutup telepon seketika.


    ***

    Jujur saja saya bingung melihat mode penawaran asuransi seperti itu. Dengan logika pun saya bisa tahu, kalau hanya via suara, tidak mungkin orang bisa menangkap dengan benar produk yang ditawarkan. Nah, kalau tiba-tiba disergap dengan pertanyaan: "jadi saya aktifkan ya asuransinya?", bukannya tidak adil terhadap konsumen?

    Atau taruhlah ada seorang konsumen yang benar-benar ingat apa yang dikatakan oleh sales tersebut. Apa jaminannya jika yang dikatakan sales sama dengan apa yang diterima? Toh, konsumen tidak punya rekaman suara telepon untuk dijadikan pegangan kalau terjadi apa-apa.

    Dengan segala hormat pada profesi sales, saya rasa ini bukan sistem yang baik untuk dijalankan.


    Apa si lo, vet..

  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • [Disapproved] Kartu Kredit Mandiri

    –----Original Message-----
    From: *****.******@m*********.com [mailto:*****.******@m*********.com]
    Sent: Monday, November 03, 2008 8:47 PM
    To: Customer Care
    Cc: *****.******@m*********.com
    Subject: Mail Contact Us Bank Mandiri, Ticket ID : CBCC/0000097.11/08
    Ticket ID : CBCC/0000097.11/08
    Tanggal : 11/3/2008 8:46:59 PM
    Bahasa : Indonesia
    Nama : TRIAN
    No.Identitas : 121908190484****
    Alamat : ******** Office, Jl Gatot Subroto, Jakarta
    Telepon : 0811190****
    Nasabah : Nasabah Perorangan
    Jenis masalah : Komplain
    Topik masalah : Fitur Produk
    Detail masalah : Kartu Kredit Mandiri Visa

    Isi masalah : sudah 3 bulan (per 6 Aug 08) pengajuan kartu kredit saya menggantung. setiap telepon ke 14000 (sudah 3x) selalu bilang akan speed up. saya mengajukan aplikasi double kartu kredit dengan platform satu.
    Dan saya hanya butuh kepastian, kalau tidak approved tidak apa-apa. Saya bisa cari bank yang lain. apa sebegitu lama untuk keputusan ya/tidak??

    CC : Ya Attachment File : IP : 202.173.65.68

    ***
    From: Customer Care [mailto:customer.care@bankmandiri.co.id]
    Sent: Tuesday, November 11, 2008 11:55 AM
    To: Trian Hendro Asmoro
    Subject: [MV] Reply from Bank Mandiri CBCC/0000097.11/08

    Bapak Trian yang terhormat,

    Terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada kartu kredit Mandiri.
    Kami memahami ketidaknyamanan yang Bapak alami sehubungan dengan lamanya proses persetujuan pengajuan aplikasi kartu kredit Mandiri Bapak. Untuk itu perkenankan kami menyampaikan permohonan maaf.

    Sehubungan dengan pertanyaan Bapak dapat kami sampaikan bahwa permohonan aplikasi kartu kredit MandiriVisa dan Mandiri MasterCard Bapak saat ini belum disetujui. Bapak dapat mengajukan kembali aplikasi kartu kredit setelah 6 bulan dari hasil pengajuan aplikasi terakhir.

    Jika masih terdapat pertanyaan, Bapak dapat menghubungi kami melalui Call Mandiri (layanan 24 jam) di nomor telepon (021) 5299 7777 atau 14000 (pulsa lokal) atau melalui layanan email ini.
    Demikian kami sampaikan. Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih.

    Hormat kami,

    Customer Care Kartu Kredit Bank Mandiri

    ***
    Note: Petugas minta fax copy kartu kredit lain yang digunakan at 6 Okt 2008 (Done per 7 Okt)
    Kesimpulan: ???

  • Comments Off
  • Filed under: Bisnis, Finance
  • Tags