Sebuah aggregator blog..
29 Oct
27 Oct
Saya punya beberapa alasan kenapa rumah menjadi salah satu milestone penting dalam hidup seseorang dalam merangkai kehidupannya.
1. Kebutuhan rumah tinggal. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa rumah termasuk kebutuhan dasar manusia, yang kita ingat dulu terdiri atas sandang, pangan dan papan (tempat tinggal). Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal.
Bisa jadi memang tempat tinggal tidak harus berbentuk rumah, misal gua jika di hutan atau apartemen jika di kota besar zaman sekarang. Tapi pada dasarnya tetap, tidak bisa tidak, bahwa setiap manusia membutuhkan tempat tinggal (rumah).
Lalu seiring perkembangan kehidupan manusia, dunia properti pun semakin dinamis sesuai karakter manusia masa kini. Dan tren masa kini tampaknya anak muda mapan lebih suka berburu rumah dibandingkan harus tetap tinggal bersama orang tuanya.
2. Harga rumah semakin mahal. Ini kita ketahui dan patut disadari bahwa setiap tahun harga tanah dan rumah naik cukup besar (bergantung lokasinya). Dan buat kalangan yang mengandalkan kredit kepemilikan rumah dari potong pendapatan bulanan, perlu diwaspadai bahwa kemungkinan kenaikan harga tanah dan rumah per tahun selalu di atas kenaikan pendapatan per tahun.
Dengan demikian berlaku ’hukum’ bahwa semakin cepat membeli rumah, maka akan semakin menadapatkan harga rumah optimal. Apalagi untuk orang yang secara finansial mampu, sudah selayaknya untuk segera memilki rumah sedniri. Tentu saja cepat membeli rumah ini harus dibarengi dengan ilmu dan teknik dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek kehidupan masa depan.
3. Investasi stabil. Di bandingkan investasi jangka panjang lainnya, rumah paling stabil. Margin mungkin tidak akan sampai melebihi jika ’bermain saham’ atau reksadana, tapi kemungkinan loss dalam investasi rumah pun jauh lebih kecil. Dalam situasi gonjang-ganjing ekonomi dunia saat ini, maka memilki rumah cukup menjaga nilai asset kita.
Resiko mendasar dalam investasi rumah memang sulit mencairkannya kembali, dibandingkan dalam instrumen keuangan. Ini mungkin kelemahan investasi dalam rumah, tanah atau tempat tinggal. Tapi bisa juga ini dipandangn sebagai kebutuhan pertimbangan matang dalam melakukan investasi tersebut. Intinya, jika punya kecukupan dana berlebih tidak lantas diguyur untuk membeli beberapa tempat tinggal, namun cukup sesuai dengan pertimbangan kebutuhan, lingkungan dan prospek masa depan.
4. Pengeluaran tepat orientasi asset. Ini alasan yang sangat praktis, bahwa pengeluaran dalam bentuk uang sewa tidak akan menghasilkan asset. Sewa rumah untuk tinggal atau kamar kos, selamanya tidak akan menjadi asset penyewanya.
Jadi lebih baik melakukan kredit rumah (sama-sama pengeluaran rutin bulanan) daripada pengeluaran untuk sewa tempat tinggal. Karena kredit rumah (tempat tinggal) pada periode akhir kredit akan menghasilkan asset kepemilikan penuh rumah, sedangkan sewa tidak akan menghasilkan asset selamanya.
Walaupun memang relatif lebih murah untuk sewa dibanding kredit pembelian. Tapi dengan pertimbangan sekecil apapun rumah itu kalau kepemilikannya sendiri maka akan menjadi bagian tetap asset kita.
5. Alasan Emosional. Ya..karena alasan emosional sehingga memutuskan untuk cepat membeli rumah. Bukan karena tuntutan, tapi lebih tepatnya karena tekad dan kemauan tertentu.
Misalnya, seorang suami yang ingin segera mempunyai rumah untuk tempat tinggal istri atau keluarganya. Atau, seseorang yang punya tekad ingin memiliki rumah sendiri sebelum menikah maka dia berusaha mewujudkan sungguh-sungguh tekadnya itu. Filosofinya ingin mempunyai rumah dulu, kemudian baru mencari ’yang mengurusi rumah’ tersebut.
Lalu ada juga yang tersinpirasi karena sebuah cerita pendek. Koq? Ya.. anda harus percaya bahwa ada yang salah satu inspirasi ingin memiliki rumah sendiri karena cerita tersebut. Dalam cerita tersebut memang digambarkan tentang sebuah perselingkuhan yang tidak berhasil, dimana akhirnya laki-laki kembali ke istrinya kembali. Hal itu karena sang istri mensyaratkan suami sebelum mencerainya untuk membopongnya keluar rumah setiap pagi selama 30 hari seperti halnya dulu suami membopong istrinya pertama memasuki rumah itu setelah menikah.
Masuk akal? Tidak perlu berpikir terlalu dalam tentang alasan emosional itu. Hanya sebuah alasan dan masing-masing orang juga berbeda. Dan lima alasan diatas, menurut saya sudah cukup kuat untuk menjadi pertimbangan penting memilki rumah dalam menapak tahap kehidupan.
***
Buat saya pribadi, contoh alasan kelima diatas (rumah sebelum menikah) tidak akan mengurangi sedikitpun rasa respek saya buat teman-teman yang telah berani menikah terlebih dulu. Jadi buat yang sudah di ambang pintu menuju pernikahan, harus makin mantap dengan pernikahannya tersebut.
22 Oct
Seorang teman menulis tentang film Cinta Setaman ini dalam notes facebook nya berikut;
Cinta Setaman sebuah Komedia Absurd
Dari judulnya, seakan-akan film ini cukup menjual sebagai sebuah kisah romantis. Kenyataannya, film yang diisi sederet bintang terkemuka ini sukses membuat cengok orang yang mencari kisah mengharu biru penuh cinta dan air mata. Saya berani katakan bahwa film ini sebuah film komedi !
Lho, memang apa lucunya kisah tentang : guru PMP yang digoda muridnya, karyawan toko yang ngotot jajan di Stirbucks caffe dan bossnya yang galak, ibu yang mau naik haji tapi kemudian mengetahui uangnya berasal dari usaha haram, istri yang kehilangan suaminya dalam kecelakaan, dan istri yang dengan ikhlas dipoligami suaminya meskipun dihantam kesulitan.
Ga ada, kalau pun ada itu dibuat dengan suasana yang jauh dari komedi yang selama ini kita nikmati. Letak lucunya justru terletak dari kisah-kisah itu sendiri. Film ini menawarkan kisah yang sulit diterima akal sehat dan cenderung suatu yang absurd. Bayangkan saja, bagaimana mungkin seorang ibu yang beruntun ditimpa musibah, TK-nya kebakaran, ditinggal penghuni kostan yang malah minta ganti rugi, kecurian perhiasan, kemudian justru bahagia begitu mendengar suaminya ingin menikah lagi.
Memang sih, tidak semua orang dapat langsung menangkap inti ceritanya. Topik cerita dalam film ini sangat luas, dan kesannya tidak fokus. Kita jadi bertanya-tanya, siapa sih yang sebenarnya ingin "ditembak" dalam film ini. Parameter sulitnya film ini dicerna dapat dilihat dari respon audience.
Kami datang berenam, saya, Bram, Igun, Trian, Luki, dan Roja. Hanya satu orang yang keliatan tertawa bahagia : Luki ! :D
***
Terang saja saya tersenyum-senyum membaca coretan itu. Dan memang begitulah film Cinta Setaman itu berkisah. Absurd. Salah satu kami menyebutnya ‘Black Comedy’.
Kadang kita menolak mentah-mentah yang ditampilkan dalam film tersebut. Namun kemudian bisa saja kita berpikir mendalam bahwa gambaran film tersebut sangat ‘satire’, menyindir penonton atau masyarakat kita sendiri.
Selain kisah yang dicontohkan diatas, ada juga sketsa yang lain. Anak yang mulai beranjak remaja saat melihat instruktur senam, keributan suami istri karena ikan arwana, dan kebodohan orang jepang ‘ditipu’ perempuan yang akhirnya jadi istri kedua dari suami yang istrinya ditimpa banyak musibah diatas.
Kami yang menonton film ini cukup ‘teraduk-aduk’ perasaannya. Ada terharu, tertawa, hening, senyum getir, menyayat hati dan akhirnya (seperti kata teman diatas saya), cengok.
Walaupun kami sebenarnya mendamba akan menonton film yang romantis sesuai judulnya, Cinta Setaman (setaman, dekat artinya dengan satu rangkaian). Apalagi dengan banyak artis papan atas indonesia dalam film itu, seperti Slamet Rahardjo, Jajang C Noer, Nicholas Saputra, Ria Irawan, Djenas Mahesa Ayu, Inul Daratista, Julia Perez, Indi Barens, Marsha Timothy (pemeran istri tabah yang paling membuat 'terenyuh' hehe) dan lainnya.
Namun tidaklah mengapa kami akhirnya menonton film ’satire’ Cinta Setaman tersebut. Di PVJ Bandung midnight weekend lalu, setidaknya tujuan kami tercapai. Kumpul dan jalan bersama sebelum ada yang akan menggandeng pasangan nantinya :).
17 Oct
Saya bingung.
Kalau anggota dewan itu dipilih oleh rakyat dan mereka duduk di Dewan Perwakilan Rakyat, seharusnya mereka menyuarakan kepentingan rakyat kan?
Tapi, yang terjadi selama ini, mereka menyuarakan kepentingan parpol dan anggotanya. Pengawasan dan mekanisme kontrolnya juga diserahkan pada parpol. Bahkan, yang berhak me-recall anggota dewan juga hanya parpol.
Kalau begitu, kenapa tidak diganti saja jadi Dewan Perwakilan Partai Politik?
17 Oct
Sungguh, sampai sekarang saya tidak bisa mengerti masalah keterwakilan perempuan ini. Kok, seperti main-main saja.
Pertama, Undang-Undangnya sendiri sudah bermasalah. Undang-undang yang banci menurut saya. Coba baca saja pasal 53nya (satu-satunya pasal yang memuat masalah kuota keterwakilan perempuan).
Daftar bakal calon sebagaimana dimaksud dalam pasal 52 memuat paling sedikit 30% keterwakilan perempuan)
Saya memang tidak mengerti masalah hukum, tapi bukannya sesuatu yang bersifat memaksa itu ditegaskan dengan kata harus atau wajib? Kenapa tidak ditegaskan saja? Padahal, ada 49 kata harus di Undang-Undang ini. Tapi, pembuat undang-undang ini tak berkenan untuk memberikan satu saja di pasal 53.
Ok, anggap saja semua orang sama-sama mengerti kalau pasal 53 di atas berupa kewajiban, tanpa perlu ditegaskan dengan kata harus. Bagaimana dengan pasal selanjutnya? Bagaimana kalau parpol tidak memenuhi ketentuan tersebut?
Jawabanya ada di pasal 58 ayat 2.
Dalam hal daftar bakal calon tidak memuat sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan, KPU, KPU provinsi, dan KPU kabupaten/kota memberikan kesempatan kepada partai politik untuk memperbaiki daftar bakal calon tersebut.
Selanjutnya? Tak ada lagi pasal yang memuat kewajiban parpol untuk memenuhi keterwakilan perempuan ini. Jadi, kalau ada parpol yang tidak memenuhi ketentuan, ya tahu sama tahu saja. Tahu sama tahu kalau pasal ini dimuat hanya untuk main-main dan bukan untuk dituruti.
Sebagai catatan, untuk pileg DPRD Jabar, hanya ada 7 partai yang memenuhi kuota ini: PKPB, PKPI, PKS, Partai Kedaulatan, PNI-Marhaenisme, Partai Republika Nusantara, Partai Pelopor dan PNBK. Tapi, dari 7 partai ini, hanya PKS yang berhasil mendapatkan kursi di pemilu 2004. Itupun PKS tidak sepenuhnya berani untuk mencantumkan caleg perempuan di nomor urut 1,2, atau 3.
Jadi, mau berharap keterwakilan perempuan pada siapa? Golkar? PDI-P? PAN? PKB? Partai Demokrat? Jangankan berharap mereka mau memberikan nomor “cantik” pada caleg perempuannya, memenuhi kuota saja tidak!
Gah! Main-main aja semuanya ini.15 Oct
Perjalanan jauh menggunakan kereta api menjadi salah satu pilihan. Pertimbangan karena lokasi stasiun dekat dengan tujuan, harga yang lebih terjangkau, cepat dan anti macet atau karena alasan emosional adalah beberapa alasan kenapa memilih kereta api menjadi moda transportasi.
Moda kereta api merupakan moda transportasi massal yang sangat efektif dan efisien. Mampu mengangkut banyak penumpang, konsumsi bahan bakar relatif rendah, dan dapat menempuh perjalanan dengan cukup cepat.
Dengan kelebihan yang dimiliki, kemajuan sektor transportasi sebuah negara selalu dikaitkan dengan kondisi sistem kereta api di negara tersebut. Kereta api cepat lintas daerah dan negara, serta subway adalah sistem kereta api yang menjadi andalan transportasi di negara maju.
Di indonesia, kondisi kereta api masih sangat jauh dari sistem perkeretapian modern. Indikasi yang kentara adalah dalam aktivitas lebaran saat kemarin. Kereta ekonomi masih berjubel, bisnis di bebas-tempat-dudukan dan eksekutif harga selangit dengan pelayanan yang pelit.
Wajah kereta api setiap tahun pun tidak mengalami perubahan berarti. Kita bisa melihat ke belakang, kereta api 10 tahun lalu dan sekarang tidaklah berbeda. Fasilitas sama, model pelayanan sama, masih keterlambatan, serta ketidaksesuaian antara harga dan pelayanan, menurut saya beberapa poin yang masih saja berulang. Artinya dalam 10 tahun (atau malah lebih), kereta api kita jalan di tempat.
Benar-benar menyedihkan, jika tahun-tahun mendatang kita akan tetap disuguhkan potret lebaran dengan kereta api dan tidak ada perbaikan terhadapnya. Padahal dalam momen lebaran tersebut, PT Kereta Api mengantongi nilai omzet yang tidak sedikit yang bisa digunakan untuk perbaikan ke depannya.
Di belahan dunia lain, kereta api sudah sedemikian majunya. Sedangkan kita masih membayangkan kapan Jakarta-Surabaya bia ditempuh dalam 3 jam dengan kereta api sejenis Shinkansen yang petama dioperasikan tahun 1964. Atau kapan ada subway di Jakarta yang tanahnya makin hari makin kritis.
Memang sudah terwacana, cerita revitalisasi PT Kereta Api. Divisi Jabodetabek sudah menjadi anak perusahaan PT KA. Juga rencan revitasliasi itu akan ada anak perusahaan yang khusus mengelola aset-aset non-operasional kereta api, seperti lahan dan gedung PT KA. Dengan revitalisasi tersebut juga, dibuka peluang investor swasta dalam perkerataapian nasional.
Tapi menurut saya, yang lebih penting seharusnya terjadi pemisahan PT KA sebagai operator sarana kereta api dan pengelola prasarana kereta api (stasiun dan rel). Dengan pemisahan tersebut, diharapkan operator swasta masuk dalam perkeratapian kita. Karena jika PT KA tetap seperti sekarang sebagai operator dan pemilik prasarana, swasta sulit masuk menjadi operator kereta api karena harus membangun dulu prasarana kereta api.
Padahal dengan masuknya swasta dalam perkeretaapian, layanan kereta api diharapkan menjadi lebih maju. Lebih cepat, tidak terlambat, dan nyaman. Atau apakah mungkin PT KA menjadi progresif lalu mengubah ’budaya’ layanannya menjadi jauh lebih maju? Menjadi operator kereta api modern dengan sarana canggih? Saya sendiri sangsi, karena PT KA tampaknya masih lebih suka ’memainkan’ tarif seperti turunnya kereta api Jakarta-Bandung atau naik drastisnya kereta api mudik (eksekutif), di bandingkan membenahi fundamental kualitas operasi kereta api sendiri (sarana dan prasarana).
Pemerintah pun sebenarnya sangat berperan dalam revitalisasi kereta api ini. Tapi sayangnya, pemerintah kurang komprehensif dalam menyusun kebijakan transportasinya. Proyek jalan Trans Jawa dikedepankan. Dimana sebenarnya semakin banyak jalan raya akan membuat laris kendaraan bermotor kelas menengah atas, sedangkan masyarakat umum tidak mendapatkan transportasi yang layak. Proyek itu sendiri sekarang masih alot proses pembebasan lahan di beberapa ruas. Padahal kereta api, lahan sudah siap tersedia sepanjang Jawa. Hanya membutuhkan investasi sarana dan prasarana tambahan, maka masa depan transportasi indonesia pun bisa lebih cerah.
Lalu jika 5 tahun lagi kereta api tetap seperti ini, sampai kapan kereta api akan jalan di tempat? Saya hanya bisa berharap, suatu saat (masih) bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan dengan kereta api yang lebih modern.
6 Oct