Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for August, 2008

Menjadi laki-laki

“Aku ingin menjadi laki-laki“
Kalimat itu yang terucap saat terakhir kita bertemu di lembah itu. Dan sekejap langsung nafasku terhenti. Kupandang dirimu yang menatap kosong pada rerumputan ilalang di bawah sana. Wajahku serius menenatpnya, menunjukan sebuah keterkejutan sekaligus pertanyaan. Ingin menjadi laki-laki, apa sedari dulu kau bukan seorang laki-laki?

Hingga akhirnya kau meninggalkanku di kota itu. Bukan saja diriku, tapi juga semua kehidupan mapanmu lainnya. Kau sudah bekerja pada sebuah perusahaan multinasional, dengan jabatan yang tidak semua orang bisa mudah mendapatkannya. Gaji? Jangan kau tutup-tutupi, tapi untuk hidup, lalu menabung, dan lainnya pun masih terasa berlebihan. Kau laki-laki, tepatnya laki-laki yang sudah bisa mendapatkan kemapanan, sebuah tingkat yang jarang manusia lain bisa mencapainya di seusiamu.

Lalu, kehidupan bahagia yang disyaratkan dengan adanya rasa cinta dan kasih sayang pun sudah kau ciptakan. Orang tua atau ibumu, tentu bangga dengan apa yang raih. Lulus dari sebuah perguruan tinggi bergensi dengan predikat berprestasi, dan diteruskan dengan karir kerjamu.

Sahabat atau teman, sebuah kelompok yang harus dilihat jika ingin mengetahui pribadi seseorang. Kau punya sahabat dan teman yang menyayangi. Dan bahkan sangat menyayangimu. Yang namanya kepercayaan dan pengkhianatan adalah dua hal sekeping yang kau hati-hati disana. Hampir teman atau sahabat orang mengenalmu yakin, bahwa kau teman atau sahabat yang baik.

Jika kemudian kau rasakan bahwa kehidupan begitu hampa dan sendiri, mungkin itu karena kau tak kunjung juga menemukan belahan hatimu. Tapi itu hanya urusan waktu bukan, seperti yang pernah kau katakan. Seseorang yang mantap dengan calonnya pun belum tentu akan menjadi pasangan sejatinya karena memang bukan jodoh untuknya. Ah, aku jadi ingat bagaimana kau jatuh cinta pada seseorang dan tak tercapai cintamu itu. Dengan perempuan, laki-laki memang siap melakukan tiga hal: mencintainya, terluka karena cintanya, dan menjadikannya inspirasi karya sastra.

Pun bukan masalah besar mengenai pasangan itu. Sekali lagi, kau sedang menunggu saat yang tepat (atau orang yang tepat?). Bisa saja kau akan melupakan atau setidaknya tidak memikirkan tentang berkeluarga.Ingat yang kau katakan, manusia itu berproses dalam hidupya. Dan menikah serta berkeluarga, adalah salah satu proses kehidupan yang maha penting. Jangan kau biarkan dirimu terlena dengan kehidupan yang kau rasakan sekarang.

Dan, kau memang tidak terlena dengan kehidupan yang kau capai sekarang. Sengaja kau mengajakku ke lembah ini untuk mengucapkan kata perpisahaan. Pekerjaan dan uang adalah penting, namun semua akan sia-sia tanpa ada kepuasaan hati disana. Dan kau katakan padaku, bahwa kau ingin bekerja (atau mengabdi lebih tepatnya) di sebuah lembaga sosial yang menangani rehabilitasi Aceh pasca tsunami.

Antara bahagia dan heran aku tanggapi rencanamu itu. Bahagia, karena tidak semua orang punya itikad untuk melakukan pekerjaan sosial seperti itu. Jangankan untuk pergi ikut bersama menangani kondisi pasca bencana, untuk membuka mata hati atas ketimpangan di sekitarnya pun tidak semua orang bisa. Mulia, sungguh niat mulia yang kau punya untuk pergi ke Aceh.

Tapi aku juga heran, itu artinya kau akan meninggalkan semua yang kau dapat disini. Kehidupan mapan dengan pekerjaan yang prestis, ibu yang selalu mendo’akan dan tak berhenti mencurahkan kasihnya, teman serta sahabat yang selalu menyediakan diri berbagi dalam suka maupun duka. Kau akan tinggalkan semuanya. Benarkah, kau akan meninggalkan itu semua?

“Tapi, aku ingin benar-benar menjadi laki-laki“ Sekali lagi, kau ucapkan itu dalam suara mantap dan dalam. Tentu bukan tanpa alasan kaui ucapkan itu. Sebuah bahasa tersirat, bukan bahasa tersurat.

“Apa yang kau inginkan dengan manjadi laki-laki?“ sebuah pertanyaanku menyergap datang kepadamu.
“Seorang laki-laki, adalah manusia yang punya tanggung jawab, tangguh dan berani. Semuanya dalam keadaan yang lebih dan lebih lagi dalam setiap penggalan masa.“ Kau memulai untuk menjelaskan panjang lebar alasanmu.

Bagaimana laki-laki akan mempunyai tanggung jawab, jika tanggung jawab yang diemban sekarang tidak membuatnya merasa berat sehingga hidupnya benar-benar harus dipertaruhkan untuknya. Untuk tanggung jawab, kau tidak sepakat bila tanggung jawab sebagai suami atau ayah adalah jawaban. Ini adalah tanggung jawab terhadap orang lain, katamu. Dan kau katakan bahwa tanggung jawab yang paling tinggi kepada tanah yang diinjaknya. Aceh adalah bagian tanah kita yang sedang bangkit kembali, dan kau ingin mengambil tanggung jawab itu.

Lalu, laki-laki seharusnya tangguh dalam menghadapi kehidupan. Ketangguhan itu dilakukan, bukan dengan berdiam. Semakin mendapatkan sesuatu terpaan menggoncang, disitulah ketangguhan diuji. Dan kau tak merasa tangguh dalam kondisi nyaman, semua tercukupi seperti sekarang. Tidak memicu ketangguhan itu muncul, dalam wujud yang sejati. Dan laki-laki, tak pantas dalam kondisi yang seharusnya dirasakan oleh seseorang yang diayominya.

Laki-laki pun harus mempunyai keberanian, harus berani. Dan kau katakan untuk selalu menjalani hidup seperti dalam keadaan antara hidup dan mati, maka kita akan berani maju tanpa berpikir apa yang kita punya sekarang dan tidak takut untuk meninggalkan semuanya. Itulah yang dialami para serdadu, atau pejuang perang. Maju terus tanpa beban dan senantiasa menghargai hidup, karena sedetik kemudian bisa saja tertembus peluru dan nyawa pun meregang.

Tanggung jawab, tangguh dan berani. Ternyata itu kau cari, yang kau kejar dan ingin kau dapatkan. Kau ingin tanggung jawab lebih, kepada bangsamu. Kau sengaja lemparkan dirimu dalam kondisi selalu genting, sehingga tangguh itu terbentuk. Kau ingin antara ada dan tiada, lalu berani itu muncul.

Dan kau katakan yang paling membuatmu tersentak adalah ucapan pimpinan gerakan pembebasan Libanon suatu ketika, sesaat setelah Israel memborbardir daerah perbatasan hingga kota. Pimpinan itu berkata pada seluruh rakyat Libanon terutama kepada kaum prianya. “Jadilah laki-laki, sekalipun hanya untuk sehari.“

Aku diam, kau sudah katakan apa yang harus kau katakan.
“Kapan kau akan berangkat?“

”Besok. Secepatnya.“ Suaranya tercekak, dia menatapku dengan pandangan yang teduh, senyum hangat dan penuh sayang. Aku tak kuasa mendekap, memeluknya dan tak terasa kelopak mata terasa hangat oleh air mata yang mulai membasah.

Dan kau katakan lagi dengan mantap dalam dekapan.
“Aku ingin menjadi laki-laki“

***
Selamat milad...
  • Comments Off
  • Filed under: Cerita, Refleksi
  • Apa Itu Kesejahteraan?

    Saya membaca artikel kompas yang ini. Ini melahirkan pertanyaan: apa itu kesejahteraan?

    Cerita ringkasnya begini. Pemkab Pati mengizinkan pembangunan pabrik semen gresik di Sukolilo. Untuk kesejahteraan warga, katanya. Namun, ada warga Sukolilo (dimotori komunitas sedulur sikep, kelanjutan gerakan saminisme) yang tak sepakat dan melawan. Kami merasa selama ini sejahtera, katanya.

    Jadi apa itu kesejahteraan?

    Untuk pemkab, indikator kesejahteraan adalah ketika ada investasi masuk. Investasi tentu membawa modal, memberi nilai tambah pada sumber daya yang ada, menciptakan trickle-down effect, menaikkan pendapatan daerah dari beragam pajak dan lain-lain. Lalu warga bisa memiliki lebih banyak uang, mendapat akses yang lebih baik untuk pendidikan, terjadi kenaikan kelas sosial, dan mengerek kesejahteraan warga lain. Dari sisi pemkab, tersedianya lebih banyak pendapatan juga bisa dimanfaatkan untuk fasilitas publik yang lebih baik: dibangun fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, sarana transportasi. Pada akhirnya, kesejahteraan warga & daerah meningkat.

    Tentu saja ada risikonya, kata pemkab. Alam bisa rusak. Tetapi, selama Amdal dijalani, aturan ditegakkan, no problem.

    Logis saja, saya kira.

    Menurut penduduk sedulur sikep: Dari dulu warga Sedulur Sikep tidak pernah kelaparan. Kami tidak miskin. Pemerintah saja yang selalu salah tanggap, menganggap kami miskin sehingga kami dimasukkan ke dalam kelompok masyarakat adat tertinggal sehingga harus diberi bantuan. Padahal, kami tidak pernah meminta bantuan, (dari artikel yang sama).

    Juga benar.

    Jangan bicarakan kesejahteraan dalam konteks masyarakat atau negara. Tepri ekonomi ratusan tahun pun belum beres membahasnya. Dari sisi personal finance, misalnya, sejahtera berbeda dengan kaya. Sejahtera didefinisikan dengan satuan waktu, sementara kaya dalam satuan mata uang. Kalau nilai aset anda 2 M, dan anda punya utang 1 M, maka kekayaan anda adalah 1 M. Kekayaan adalah what you own. What you own is what you have minus what you owe. Tambahan lagi, kekayaan (tanpa kata yang mengikuti di belakangnya ) adalah what you own yang bisa dinilai dalam satuan mata uang.

    Kesejahteraan dinilai dalam satuan waktu. Kalau anda punya 2 M, lalu biaya hidup anda setahun, dengan gaya hidup anda sekarang, adalah 20 juta, maka tingkat kesejahteraan anda adalah 100 tahun. Tentu ini perhitungan kasar yang tak melibatkan tingkat inflasi. Untuk definisi lebih detil, menurut para pakar, kesejahteraan adalah berapa lama anda bisa hidup seperti biasa tanpa bekerja dengan apa yang anda punya sekarang dan apa yang akan datang kemudian (maksudnya passive income).

    Mengikuti definisi di atas, point penting dalam kesejahteraan personal ialah gaya hidup. Mereka yang berpenghasilan 30 juta sebulan tidak lebih sejahtera daripada mereka yang hanya dapat 3 juta per bulan, bila yang pertama membutuhkan 33 juta untuk hidup sebulan. Siapa yang menentukan gaya hidup anda? Ya anda sendiri. So, ujung-ujungnya menjadi sejahtera adalah seperti juga menjadi bahagia: tergantung pilihan anda. Namun bukankah ada standar? Bagaimana bisa orang yang hidup di gubug beralas tanah lebih sejahtera daripada orang di kondominium mewah? Lagi-lagi, dari segi personal, tergantung apakah anda merasa (memilih) untuk cukup berbahagia & oke-oke saja dengan kondisi itu atau tidak.

    Semua yang sedang mengejar kesejahteraan sepertinya harus menjawab pertanyaan ini: when enough is enough?. Tidak pernah ada kata cukup, kecuali kita sendiri yang bersyukur dan bilang, Ya, ini cukup.

    Menjadi lebih sulit ketika dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Di masyarakat, misalnya. Standar yang digunakan berbeda. Pemkab menilai penduduk Sukolilo itu miskin dan masih perlu disejahterakan. Penduduk Sukolilo bilang, kami selama ini merasa sejahtera saja. Bisa terus hidup, selama air dan sawah terjaga. Justru ketika itu terancam atau rusak, kesejahteraan kami terganggu.

    Pemkab, sebagai pemerintah/penguasa, memaksakan pandangannya akan kesejahteraan kepada rakyat yang dikuasainya. Sayangnya, ide ini tak diamini oleh sebagian warganya, karena ya itu tadi, pandangan akan kesejahteraannya berbeda.

    Lalu bagaimana? Entah, saya juga bingung. Kesejahteraan itu apa ya?

    Jika saya pemkab
    Saya tak akan memaksakan pembangunan pabrik itu, jelas. Pemerintah hanyalah wakil, membawa suara rakyatnya. Kalau rakyatnya merasa sudah sejahtera, ya sudah. Atau, pemerintah terus berkampanye hingga seluruh warga mengubah idenya tentang kesejahteraan menjadi kesejahteraan versi pemerintah. Keadaannya tentu berbeda kalau pemerintah mendapat insentif lebih dari pendirian pabrik, dalam kerangka kesejahteraan yang mereka pahami. Kalau dengan pendirian pabrik lalu ada pemasukan-pemasukan gelap, ada tambahan dana untuk beragam fasilitas pemerintahKita jadi lebih mengerti kenapa pemkab begitu ngotot. Untuk kesejahteraan sendiri, bukan untuk kesejahteraan daerah.

    Rasanya, kita perlu mendefinisikan kesejahteraan yang tak bertalian dengan materi. Lalu dengan apa? Masih belum jelas. Dengan kebahagiaan, misalnya. Atau harmoni. Kebercukupan. Keberlanjutan.

    Sayang, susah mengukurnya. Ada ide lain tentang kesejahteraan?

  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, Opini, kehidupan
  • Mencari rumah

    Bulan-bulan ini saya sedang giat-giatnya mencari rumah di sekitar Jakarta. Inginnya dalam tahun ini rumah tersebut sudah terealisasi. Bukan apa-apa, buat saya rumah itu penting, bahkan lebih dulu di bandingkan menikah (maunya, realisasinya tidak tahu). Lho?

    Filosofinya, saya ingin mempunyai ‘sangkar’ dahulu baru kemudian mengajak pasangan tinggal di sana. Bisa menjadi kisah masuk rumah yang indah setelah menikah nanti. Itu artinya pasangan itu juga harus mau tinggal disana. Kalau tidak mau, rumah sebagai investasi bisa di alihkan nantinya. Tapi konon, orang tua lebih tenang melepas putrinya jika calon menantunya sudah punya rumah (dan pekerjaan pastinya).

    Alasan logisnya, susah nyari rumah akhir-akhir ini di Jakarta. Lahan yang makin langka. Plus, harganya yang semakin ‘tidak menusiawi’, apalagi kalau ditunda-tunda hingga tahun berganti. Dan sebagai bagian dari investasi jangka panjang, rumah salah satu jawabnya.

    Awal tahun ini dalam sebuah pameran properti di JCC, muncul beberapa kandidat yang ingin di tindak lanjuti. Dari sisi budget, ada yang sesuai dengan anggaran. Kekurangannya, lokasinya yang di pesisir jakarta atau di luar jakarta yang pastinya akan membutuhkan banyak waktu dalam akses kesana. Kalau saya tidak masalah, keluarga nantinya khawatir kerepotan.

    Beberapa teman karena pertimbangan lokasi lebih memilih apartemen di pusat kota, dimana harganya mirip dengan rumah di luar kota. Bedanya tentu saja lingkungan sosial, dan tanah. Setidaknya ingin mempunyai rumah utuh terlebih dulu, dan jika nanti di masa depan ingin mencoba ke apartemen bisa dipertimbangkan.

    Ada tawaran tanah, maka harus siap dengan usaha membangun rumah sendiri. Adakah agen atau biro yang menyediakan jasa pembangunan rumah dari awal sampai jadi? Misalnya kita sediakan lahan 10 x 15 m, lalu memilih design dan di bangunkan oleh biro tersebut.

    Ada teman yang giat untuk mencari rumah second di dalam jakarta. Harganya mahal, tapi kalau memang berjodoh maka rumah idaman bisa di dapatkan.

    Kalau disuruh memilih, inginnya rumah di Jakarta yang siap pakai (means second?). Rumah tersedia minimal 2 kamar tidur dan 1 kamar tidur pembantu. Lokasinya setidaknya masih masuk kota jakarta dan mudah di akses. Kalau harga, hmm… ini rahasia. Biasa, berharap fasilitas kredit perusahaan.

    Saya sedang mencari rumah. Jika ada informasi, saya akan berterima kasih sekali.

  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Keluarga
  • Grab It While It’s Hot!

    Visual Studio 2008 Service Pack 1 is RTM.

    Download at Microsoft: http://www.microsoft.com/downloads/details.aspx?FamilyID=fbee1648-7106-44a7-9649-6d9f6d58056e&DisplayLang=en

    Share this post: | | | |
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Menulis Lagi

    Saya benar-benar harus menulis lagi.
    Rasanya otak ini menumpul.

    *siyal*
  • Comments Off
  • Filed under: me
  • Upgrade Woes

    Dear readers, I would like to extend my sincere apologies to lost images on this blog. The hosters last weekend tirelessly upgraded our system to the latest and greatest (and of course, most expensive) infrastructure. I am currently working closely with them to either restore the images, or if they can't find it, I'll have to upload the stuff back.

    Well, they never say anything about upgrade/migration woes in marketing materials, right? :D

    Cheers!

    P.S.: Visual Studio 2008 SP1 is coming today! Subscribers will be able to download tomorrow... This update is required for SQL Server 2008.

    Share this post: | | | |
  • Comments Off
  • Filed under: Life of An MVP
  • Yes, SQL Server 2008 is released to manufacture (a.k.a. completed) yesterday, so eager people like me eagerly downloaded the whole 3Gb of DVD, and just now installed it.

    Well, apparently, I hit a nasty show stopper bug, during installation!

    image

    Wah! VS 2008 is not even SP1 yet but this piece of server requires it. I am not going to the route of uninstalling VS 2008 or hacking the system in order to proceed installation.

    Good news is, VS 2008 SP1 is coming out very very very soon! I can't tell you when since it's under NDA, but it's definitely soon!

    P.S.: this is just a very stupid issue.

    Share this post: | | | |
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • In digital photography, there's a concept called raw images. These raw images is the digital analogy of a film. Any information the camera captured during photo shooting is written to this file, no changes are made, that's why it's called raw.

    The problem is, different camera vendors uses their own proprietary format. Consumer-level image processing software usually does not provide raw format reading, since they will need to pay for license to each of the camera vendors. Thus, we depend on camera vendors' bundled software (which usually very user unfriendly).

    For my shots yesterday, I tried using Nikon's bundled ViewNX software to convert raw files to JPEG, which is the de-facto image format for the web. The problem with it is that it is very slow. I have only 51 raw files, to convert all of them to JPEG allows me to do my nightly chore (taking a bath, brush teeth, recharge my gadgets, etc.) plus some half an hour more.

    Just now I remember, Microsoft Expression Studio bundled a media management software called, intuitively, Media. I browsed the Catalog Importers and found out that it capable of doing imports of Nikon raw images! I just now tried importing all my raw images, and it's completed in... 3 minutes! Now, that's what I call performance.

    While it's true that raw image processing is more than just JPEG export, I do feel that speed is the ultimate quality aspect for users.

    Nikon ViewNX is not without good thing to say though, best of all is that it's free (bundled with the camera), while Expression Media is US$199.

    Share this post: | | | |
  • Comments Off
  • Filed under: Expression Studio, photography
  • Old Hobby, New Tool

    I was a photographer. While not pro-level, at least I had fun capturing those precious moments on a sheet of paper. I am now restarting this hobby as finally, I've got a hand on Nikon D60. While the results probably won't look as good as Dondy shots, I do invite you to my photostream at flickr.

    As a teaser, this is my first shutter count; my lunch.

    Baked Rice @ N.Y.D.C.

    Share this post: | | | |
  • Comments Off
  • Filed under: photography
  • Telkomsel, begitu dekat?

    Awal bulan lalu, teman kantor saya sumpah-sumpah karena merasa ‘dibekuk’ dari belakang oleh Telkomsel. Ya.., Telkomsel operator GSM terbesar di indonesia itu.

    Ceritanya, sekitar bulan Oktober 2007 lalu aplikasi Kartu Halo teman saya di approve. Karena dia bukan orang Jakarta, maka segala keperluan administrasi di urus via kantor (Halo Corporate). Karena pertimbangan dia sudah terlanjur menggunakan nomor Simpati saat Trip ke field, maka Halo nya tidak di aktivasi olehnya.

    Dan itulah ‘kesalahan’ nya yang akhirnya pada bulan lalu ’baru’ dibuka oleh Telkomsel. Dia akhirnya menemukan surat todongan uang Rp 420,000 atas biaya abonemen (+ pajak) dengan rincian Rp 52,500 kali 8 bulan sejak Halo diserahkan. Surat itu konon baru datang kali itu, pertama kalinya. Tentu saja dia kaget, karena tidak pernah merasa di kirimkan surat teguran atau pemberitahuan selama itu.

    Bagaimana menurut anda? Saya sebagai sesama teman yang sama mengajukan aplikasi Halo Corporate merasa ada yang tidak benar dengan sistem Telkomsel ini. Bukan masalah uangnya, pun teman saya akhirnya membayarnya juga (dimana mungkin salah satu pertimbangan daripada nama perusahaan juga ikut rusak).

    Tapi mungkin saja dengan jangka waktu selama itu Telkomsel sudah mengirimkan surat ke teman saya itu, dan karena ada banyak lantai serta orang maka jika kurang spesifik surat pun tidak akan karuan. Tapi apa mesti selama itu baru kemudian hal ini bisa diketahui? Bukankah ada beberapa contact number (termasuk Account Representative-AR di corporate) yang tetap bisa dihubungi? Atau bahkan email untuk mengirimkan pemberitahuan? Kenapa seolah ’membiarkan’ argonya terus berjalan?

    Disini saya semakin meragukan dengan keseriusan Telkomsel untuk me-maintanin pelangggannya. Oke, customer nya memang banyak, tapi itu sebuah konsekuensi untuk maintain pelanggan pada tingkat kepuasan tertentu.

    Awal tahun ini saya juga sempat dibuat kesal oleh tingkah Account Executive (AE) yang lingkup area nya termasuk kantor saya. Saya mengajukan komplain tentang tagihan yang tidak pernah dikirimkan (setelah lebih dari 4 bulan pengguna Halo). Dan bulan berikutnya pun dikirimkan. Tapi bulan berikutnya lagi tidak dikirimkan, padahal saya sudah memberikan alamat lengkap pengiriman.

    Saya kemudian berusaha email kepada AE dan CC ke AR. Benar-benar tidak ada respon, bahkan dengan email ke person in charge yang ada dalam autoreply si AE pun tidak ada respon. Apa Telkomsel serius dengan para customer nya??

    Walau akhirnya dengan bantuan teman yang bekerja di Telkomsel regional lain untuk mengirimkan via mail tagihan Halo saya. Pun ’kesal’ saya ikut tertumpah ke teman saya tersebut (dan maaf teman, akhirnya saya menulis di Blog ini). Tapi tetap, bulan berikutnya pun tidak dikirimkan lagi. Apa ini tidak membuat semakin kesal?

    Akhirnya saya menggunakan Customer Service (CS) Halo Corporate 111 untuk meminta pengiriman tagihan tiap bulan ke alamat yang sudah jelas dan lengkap itu. Dan selama 3 bulan belakang ini, tagihan itu pun datang.

    Satu lagi saya akan mencermati tentang gaya CS 111 dalam berkomunikasi dengan customer nya. Saya merasa bahwa keramahan yang ditunjukan tidak alami (Ok, memang sengaja dibuat sesuai SOP nya), yang buat saya malah terkesan berbelit-belit seperti robot.

    Misalnya, pengulangan kalimat tanya kita lebih dari satu kali (dengan nada ’robot’) menjadikan saya sering heran dengan cara berkomunikasi CS Telkomsel ini. Pun dalam mengakhiri pembicaraan dengan menanyakan apakah ada keluhan lain pun tidak membuat saya nyaman karena bertele-tele seperti akrobat, dan kadang saya menutupnya sepihak karena ada kesibukan lain (atau harus terus melayani CS?).

    Hal itu tidak hanya sekali, karena hampir semua CS yang pernah saya hubungi pun demikian. Begitu sistematik, akrobatik dan robotik. Ok, saya jujur mengakui bahwa masalah kita terpecahkan dengan bantuan CS tersebut. Tapi dengan cara dan bahasa yang digunakan, saya merasa kurang meng-orang-kan (berkomunikasi dengan menganggap lawan bicaranya benar manusia, bukan bicara dengan bahasa ’terprogram’). Untuk cara berkomunikasi ini, saya pribadi masih suka dengan cara berbahasa CS Indosat. Silahkan anda bandingkan.

    Pada akhirnya, tulisan kepada Telkomsel ini masih beritikad baik. Bukan mencari nama pribadi, apalagi malah menjatuhkan Telkomsel (pun sudah sangat besar dengan banyak teman beraktivitas disana). Harapannya semoga Telkomsel meningkatkan layanannya. Sekali lagi, semakin banyak pelanggan sudah merupakan konsekuensi untuk semakin banyak yang harus ditangani. Bukan karena sudah besar lalu ’jumawa’ dengan kebesarannya itu.

    Dari semuanya ini saya bertanya, apakah benar Telkomsel Begitu Dekat?? Atau hanya sebatas slogan? Dan buat saya Telkomsel, i don’t prefer but i need it..

  • Comments Off
  • Filed under: Bisnis, Liput, Opini