Sebuah aggregator blog..
28 Apr
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
27 Apr
Siang itu saya terlibat percakapan (pseudo)intelektual dengan Igun. Kalau dulu-dulu sih sering juga terlibat jenis percakapan sok intelek ini dengan Igun, Viar atau Miftah, di momen-momen pengangguran saat kerjanya nonton bioskop, download film atau TV serial, dan ikutan nongkrong gak penting di ruang server sambil menikmati nescafe cappucino 3500 perak dari Circle K.
Namun tetap saja pseudointelektual, karena sok ilmiah tapi tetap asbun...hehehe.
27 Apr
24 Apr
Pengalaman menggunakan beberapa taksi di jakarta membuat kita bisa menjadikannya referensi dalam pemilihan taksi. Inilah beberapa catatan pengalaman mengenai taksi-taksi tersebut.
Blue Bird
Tidak dipungkiri lagi, inilah taksi paling baik yang dimiliki negeri ini. Taksi Bluebird Group (Blue Bird, Silver Bird, Golden Bird) adalah taksi yang paling baik dan terpercaya dalam melayani. Citra positif terpercaya ini menempatkan blue bird menjadi pemimpin dalam jasa taksi. Makanya, jangan ragu untuk menggunakan taksi ini terutama jika kita tidak tahu betul dimana alamat tujuan kita. Karena kecil kemungkinan kita ‘diajak’ muter-muter lalu argo yang tidak wajar.
Seiring dengan baiknya pelayanan, urusan harga pun terseret juga. Blue Bird (BB) adalah taksi yang paling mahal. Dalih menggunakan tarif baru (argo buka Rp 5000, dan Rp 250 per satuan), kita pun harus menyiapkan uang cukup jika berpikir menggunakannya. Tapi untuk argo, bisa dipastikan bahwa argo nya tidak dimainkan sopirnya. Selain itu, BB pun menyediakan voucher (personal atau korporat) untuk mendukung layanan ter yahud nya itu. Call centre, 021-798 1001 / 794 1234
Express
Taksi yang paling dicari oleh orang yang tahu jakarta dan berprinsip, kalau bisa irit taksi kenapa tidak? Alasannya, karena menggunakan mobil taksi yang bagus, jumlahnya lumayan banyak (kedua terbanyak setelah Bluebird) dan pastinya karena tarif lama (argo buka Rp 4000, dan Rp 180 per satuan). Untuk tingkat kepercayaan, tentu masih kalah dibanding BB. Namun dibanding taksi non BB, setidaknya Express (Ex) masih bagus.
Jika anda dari bandara soekarno hatta, sangat lumayan bila menggunakan Taksi Express ini. Tentunya lebih terpercaya dibandingkan taksi lain non-BB disana (hati-hati, banyak yang menggunakan sistem borongan). Jadinya, tempat parkir taksi Ex sering antri penumpang untuk menunggu taksi Ex datang. Cengkareng-pancoran saja (termasuk tol), yang jika menggunakan BB minimal 100 ribu, maka jika menggunakan Ex ‘hanya’ 80 ribu. Call centre, 021-5799 0707
Putra
Taksi ini jumlahnya juga cukup banyak, mungkin ketiga atau keempat (setelah dian group). Taksi ini juga menggunakan tarif lama. Mobilnya tidak sebagus Express, tapi interiornya bersih dan kadang lebih bersih dibandingkan Express. Kaca mobil Express yang transparan (20%) sedangkan Putra lumayan tertutup (60%), sehingga Putra lebih lumayan untuk privasi.
Dan secara personal, saya lebih suka menggunakan Taksi Putra (Put) dibandingkan taksi Express. Buat saya, tampilan mobilnya serasa lebih bersahaja. Namun sayangnya, taksi ini tidak akan kita temukan di parkir arrival bandara soekarno hatta. Jika untuk mengantar saja, pilihannya selalu jatuh ke Put selain BB. Call centre, 021-781 7771
TransCab
Inilah taksi baru yang cukup meramaikan bisnis taksi di jakarta. Layanan yang disajikan tidak monoton seperti taksi lain. Dia menyajikan tv dalam mobil (sekalipun beberapanya sudah tidak bisa lagi), dan bacaan koran. Lumayan membunuh kejenuhan jika macet. Mobilnya sama yang digunakan taksi putra, tapi interior tempat duduk lebih bagus. Yang menjadikan unggul, TransCab (Cab) menggunakan tarif lama. Tentu ini kelebihan yang patut dicoba.
Tapi sayangnya, jangankan ada di arrival bandara, berharap ada banyak di jalanan jakarta pun pupus. Maklum, jumlahnya sampai sekarang masih 60 moda. Sekali-kali, cobalah hubungi call center nya (021-583 55500) untuk mencoba taksi ini. Semoga anda beruntung, bisa dapat taksi dan semua fasilitasnya juga ok. Buat saya, warna mencolok (kuning dan tulisan besar di body mobil) menjadi pilihan kedua setelah Putra.
***
Lalu, taksi apa lagi yang ‘bisa’ digunakan? Tentu ini bergantung dari preferensi dan kebutuhan masing-masing. Jika di pinggir jalan dan tidak terlalu mendesak, maka kita pun bisa lebih pilih-pilih taksi yang lewat. Secara biaya, kita cenderung menggunakan taksi tarif lama dibanding tarif baru. Maka pilihan saya, Putra atau Express (TransCab sangat minim). Jika lewat call centre, saya cenderung pilih Putra atau TransCab, baru Express.
Jika di jalan sulit mendapatkan ketiganya, maka saya cenderung memilih Dian Taksi atau Celebrity. Walaupun pernah ketika di bandara, saya ditawari sistem borongan dan langsung mentah-mentah menolaknya. Pilihan lainnya jika benar-benar tidak menemukan taksi-taksi tersebut, maka saya pun naik taksi tarif lama yang ada (Sri Medali, Koperasi Taksi dll). Pastinya terlebih dulu ditanyakan tahu arah tujuan alamat kita. Jangan sampai sudah naik, argo jalan tapi kita tak ujung mencapai tujuan.
Bagaimana jika mendesak? Maka BlueBird lah yang menjadi pilihan. Setiap detik bisa ditemukan di jalan. Dan kepercayaan yang pasti (bisa dipastikan). Buat manula, ibu hamil, keluarga besar yang tidak mau repot, atau yang tidak tahu jakarta tentu BB jadi pilihan terbaik. Kalau sudah begini, urusan tarif baru tak jadi soal.
Mengenai tarif, secara umum patokan antara tarif lama dan baru itu setidaknya selisih sekitar 25%. Dan jika tarif lama kurangnya jauh dari itu, anda pun patut curiga terhadap argonya. Taksi tarif baru non-BB seperti Gamya, Taxiku, Primajasa bisa menjadi pilihan juga. Tapi buat saya untuk taksi tarif baru, kalau ada BlueBird, kenapa yang lain?
Selamat memilih taksi.
21 Apr
Buat saya, salah satu keuntungan menjadi periset adalah saya “dipaksa” untuk mempelajari hal-hal baru di luar keinginan saya. Membaca buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” salah satu contohnya.
21 Apr
Mengerikan, mengerikan benar perempuan itu
Mereka tak pernah bisa percaya,
Mereka tak biasa jujur,
Sekalipun pada diri sendiri
...
-puisi ‘panas’ yang sudah di klarifikasi-
***
Bagi laki-laki, cinta hampir selalu identik dengan perempuan. Karena dunia yang didominasi cara pandang laki-laki, maka berbicara cinta dari paradigma perempuan pun jarang ada. Hal itu yang kemudian memunculkan pertanyaan, bagaimana perempuan memandang cinta?
Dalam khasanah indonesia, kedudukan cinta perempuan sebagian besar tidaklah istimewa. Kecuali di daerah-daerah tertentu, perempuan selalu menjadi ‘obyek’. Yang dipilih, yang dipinang, yang dilamar, yang diperebutkan atau yang tidak bisa menolak untuk dijodohkan.
Kartini, sosok emansipasi pun tidak lepas dari perlakuan umum terhadap perempuan. Dinikahi oleh Bupati Rembang sebagai istri kesekian, adalah bentuk dari pasrah kartini sekaligus sosok perempuan umumnya kala itu. Kartini lebih beruntung, karena untuk yang berasal dari keluarga bukan ningrat maka perempuan pun hanya ‘dinikahi’ bangsawan untuk melahirkan anak lalu dikembalikan kepada orang tuanya.
Seiring dengan perkembangan zaman, gaya feodal terhadap perempuan pun jauh berkurang. Perempuan mengenyam pendidikan sama halnya laki-laki. Dunia perempuan makin diakui, sebagai partner dari laki-laki bukan pelengkap saja. Intinya dalam kehidupan sekarang, kesempatan pada umumnya sama antara laki-laki dan perempuan. Tentu saja tidak melupakan peran masing-masing dalam kehidupan domestik keluarga. Walaupun dalam kaitan dengan keluarga, banyak perempuan yang akhirnya berada di ‘persimpangan’, memilih antara keluarga atau aktivitasnya.
Jika ‘kesetaraan’ perempuan sudah berada dalam porsi yang cukup ideal dengan kebebasan untuk memilih, lalu bagaimana dengan cinta? Apakah benar bahwa perempuan merdeka dalam menentukan cinta nya?
Pertanyaan diatas dilandasi atas dasar sederhana bahwa selama ini muncul kesan bahwa perempuan cenderung tertutup, diam-diam, tidak berani mengungkapkan (baik lisan atau tindakan) perasaan cinta atau simpatiknya terhadap seseorang. Berbeda dengan laki-laki, yang cenderung lebih ‘ofensif’ dalam mengungkapan perasaannya. Mungkin juga karena secara fitrah nya, hati peremuan sensitif nan lembut sehingga cenderung hat-hati (defensif).
Sikap memandam rasa itu wajar karena lebih menyakitkan bagi perempuan ketika cintanya ditolak daripada laki-laki. Bagi laki-laki, cinta ditolak ibarat tamparan yang berujung pada pembuktian bahwa dirinya bisa mendapatkan yang lain. Sedangkan perempuan, konon tidak sesimpel itu. Sakit hati karena ditolak. Merasa sudah jauh melangkah memberanikan diri, dan ditolak. Malu serasa mengguyur tubuh. Seolah tidak bisa mundur. Dan parahnya, hancur.
Dan terdapat kesan bahwa perempuan yang baik, adalah yang mempersiapkan diri untuk menyambut pangeran datang. Bersiap sebaik-baiknya untuk menunggu hingga waktu tiba. Usaha yang dilakukan adalah mempersiapkan diri, dan berdoa. Dan jika nantinya sudah di ‘ambang waktu’, maka tibalah saat ujian kesabaran.
Tapi semuanya tak bisa di generalisasi, toh apa yang dipertontonkan dalam kisah kehidupan tentang perasaan perempuan tidak serta menjadi dalih bahwa begitulah perempuan apa adanya. Kondisi tersebut memang umumnya yang terjadi sekarang, namun bukan berati hal tersebut menjadi kondisi yang seharusnya.
Sejenak ketika melihat sosok Khadijah, Ibu dari semua muslim, bahwa apa yang dilakukan Kahdijah saat menikah dengan Muhammad adalah mengajukan lamaran alias mengungkapkan perasaannya. Namun bukan berarti Khadijah tanpa perhitungan, karena memalui sosok pamannya, Khadijah sudah mendapatkan keterangan bahwa Muhammad dalam kondisi bisa di ajak menikah. Dalam hal ini, Khadijah tetap menjaga kehormatan seorang perempuan.
Jadi mendalihkan apa yang terjadi pada cinta perempuan sekarang pada agama (Islam) bukanlah alasan yang berdasar. Satu-satunya alasan yang mungkin sekarang adalah dari sosok perempuan itu sendiri.
Suatu hari saya pernah bediskusi dengan teman tentang posisi perempuan dalam memperjuangkan cinta. Seperti yang lumrah kita ketahui, banyak terjadi laki-laki yang ‘berjuang’ (baca: ofensif) dalam mencari cintanya. Lalu perempuan, bagaimana bentuk perjuangan cintanya?
Teman saya waktu itu menjawab bahwa bentuk perjuangan cinta perempuan adalah pergolakan batinnya untuk menerima sosok laki-laki tersebut, dan membawanya ke pihak keluarga. Namun saya mengelak, bukanlah laki-laki pun secara substansi juga berdamai dengan perasaan lalu juga keluarganya? Baiklah, memang pertimbangan perasaan yang digunakan laki-laki tidaklah sedominan seperti perempuan. Karena laki-laki sebagian besar melihat dari apa yang tercitrakan.
Kembali lagi tentang perjuangan cinta perempuan, apakah demikianlah adanya dimana perempuan harus menjaga hati, menutup perasaannya dalam-dalam dan ketika sosok laki-laki itu datang maka barulah perjuangan cinta perempuan dimulai.
Kenapa tidak perempuan juga memperjuangkan cinta nya itu. Pastinya, dengan tetap menjaga kehormatan seperti yang diteladankan Khadijah. Jika selama ini misalnya, perempuan cenderung bisa berharap terhadap seseorang namun tak kunjung datang seseorang tersebut, tidak kah lebih baik jika melalui perantara mencari kemungkinan memulai hubungan dengan yang bersangkutan lebih serius? Ringkas, tidak ribet dan tidak lama berharap cemas. Daripada hanya berharap, dan berharap. Lalu pada akhir kesedihan, melihat dia memilih yang lain.
Jadi tetap kembali ke perempuan sendiri, bagaimana mereka mendefinisikan perjuangan cinta nya. Perempuan lah yang memilih, dan memang harus memilih. Jangan sampai awalnya berharap romantis, lama kelamaan dramatis, lalu akhirnya menjadi ironis.
Sudahlah, saya tidak bisa merasakan bagaimana perempuan dalam mencinta. Tapi saya percaya bahwa perempuan yang jujur dan menjaga kehormatan selalu bernilai lebih. Itu saja.
Selamat memaknai Hari Kartini..
19 Apr
Sewaktu mahasiswa, saya pernah terlibat obrolan dengan seorang teman (saya lupa siapa. Yang saya ingat, ada beberapa kali obrolan, masing-masing dengan seorang teman yang berbeda-beda.) tentang 20-25 tahun setelah kita semua meninggalkan kampus. Saya bisa maklum: dia berada dalam doktrin agung (“Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel Bangsa!”), berada di kampus yang bercitra terang-benderang, dan dijejali trainer atau buku-buku motivasi dengan filsafat progresifisme modern ; maka inilah kalimat heroik yang dia katakan, “coba kamu liat nanti luk, 20 atau 25 tahun lagi. Saat kita semua menjadi sesuatu”.
Saat itu saya kagum. Yakin sekali dia. Hebat!
Sekarang saya khawatir. Naif sekali dia. Kasihan.
Namun pembaca yang waras akan berkesimpulan beda: dasar megalomaniak.
Saya pernah ngobrol juga (kali ini dengan Kang Firman, BI ’97) tentang topik mirip ini. Ia berbicara tentang sebuah generasi (generasinya, saya, dan anda), dan sebuah keniscayaan bahwa suatu hari, seluruh posisi dan peran di masyarakat, berpindah ke generasi ini.
Dan itu bukan sesuatu yang hebat. Ini hanya masalah giliran: generasi sebelumnya sudah atau sedang menerima, generasi kita sedang menunggu, atau sedang belajar menjadi.
Itu cukup masuk akal dan acceptable buat saya. Namun kalau itu diteruskan dengan doktrin standar “ kalian
Pikiran ini timbul lagi setelah saya membaca The Class (Erich Segal). Ide kisahnya sederhana sekaligus cemerlang. Tentang suatu angkatan Harvard ’58, ketika mereka reuni, 25 tahun dari tahun 1958.
Khas novel Erich Segal yang tebal, kisah ini pun terdiri dari beragam tokoh yang masing-masing kompleks, dengan rentang waktu yang panjang (silakan baca, misalnya, karya Segal yang lain seperti The Doctors atau Nobel Prize). Yang juga khas Segal, Harvardisme Segal kental sekali disini. Ia sendiri adalah pengajar sastra latin di Harvard, jadi maklum saja.
The Class menceritakan tentang Andrew Eliot, entah keturunan Eliot keberapa yang masuk Harvard (Eliot sendiri menjadi nama wisma mahasiswa di Harvard) ; Danny Rossi, mahasiswa musik cemerlang ; Theodore Lambros, mahasiswa sastra latin keturunan Yunani ; Jason Gilbert, keturunan Yahudi yang dibesarkan dengan terlalu Amerika dan George Keller, imigran Hungaria yang menjadi mentee Henry Kissinger.
Ini menarik, karena disana-sini saya menemukan hal yang analog antara alam pikiran mahasiswa Harvard (Atau MIT. Atau Stanford. Atau any other Ivy Leaguers) dengan mahasiswa ITB disini (Atau UI. Atau UGM. Atau any other state universities).
Saat mahasiswa, mereka datang dengan sangat percaya diri (hampir-hampir arogan, kalau boleh dibilang). Dibesarkan sebagai yang terbaik (atau among the best lah) di sekolahnya, dicitrakan ‘brilian’ oleh masyarakat (dan dibenci oleh beberapa banyak orang). Pokoknya Te O Pe Be Ge Te dah. Dalam bahasa Segal, ‘ memiliki kepercayaan tak terbatas akan kemampuan mereka’. Penuh dengan impian besar. Untuk mahasiswa Harvard, ‘menjadi pemimpin-pemimpin dunia’. Untuk mahasiswa I*B, ‘calon pemimpin bangsa’. Serba menggelegar dan menggetarkan.
Jelas ini generalisasi brutal. Tidak pernah ada penelitian yang menguatkan atau memperlemah sangkaan ini. Namun, ini dapat dirasakan, seperti bau kentut yang anda hirup di ruangan. Anda tak bisa membuktikan berapa persen sulfur yang ada di kandungan udara di ruangan tersebut, tetapi baunya tercium.
Apa yang terjadi sejak mahasiswa hingga 25 tahun setelah lulus? Banyak hal, yang tak semua baik. Yang saya catat, dalam tokoh-tokoh Segal, apa yang dialami 25 tahun mendatang bisa dilacak sejak mahasiswa. Bukan berarti yang hebat saat mahasiswa juga hebat setelah 25 tahun, tetapi karakter yang membentuk 25 tahun berikutnya bisa di-trace sejak mereka mahasiswa. Andrew Eliot yang selalu kurang percaya diri tapi paling manusiawi , Jason Gilbert, bintang universitas yang selalu gamang akan identitas Yahudi-nya karena selalu diamerikanisasi oleh ayahnya, Ted Lambros yang sejak awal merasa ‘kurang Harvard’ dan haus sekali akan pengakuan dari almamaternya, Danny Rossi yang terobsesi musik dan ketenaran, George Keller yang seumur hidup selalu merasa sendiri.
Eliot menjadi bankir (sekedar meneruskan usaha keluarga) dan ketua panitia reuni karena memiliki hubungan baik dan selalu tulus kepada teman-temannya. Gilbert menyelesaikan konflik identitasnya dengan menjadi Yahudi sepenuhnya, dan bahkan mati sebagai tentara
Yang pahit (atau unexpectable), perkawinan Eliot gagal dan bahkan anak lelakinya menolak menjadi seorang Eliot lagi. Gilbert, yang sangat berprestasi dan dibayangkan dapat menjadi apapun yang dia mau di Amerika malah menjadi relawan kibbutz di
Ya, beberapa dari mereka menjadi sesuatu. Something big, malah. Dengan beragam cerita dan catatan buruk di periode 25 tahun itu. By the way, Lambros adalah mahasiswa miskin yang diremehkan, Rossi selalu ditolak di wismanya saat main piano, dan Keller adalah imigran yang kemampuan bahasa inggrisnya nol besar saat masuk Harvard.
Apa yang dirasakan ketika reuni ke-25 itu? Segal menulis,
Tapi siapakah orang-orang asing itu – botak, berkacamata, tambun, dan malu-malu?...
Anehnya, sebagian besar dari mereka dilanda ketakutan lebih besar membayangkan harus kembali ke Harvard daripada ketika mereka tiba pertama kali sebagai mahasiswa baru. Sebab, kini ada yang hilang dari rohani mereka – kepercayaan tak terbatas terhadap kemampuan mereka.
Mereka tidak lagi seperti astronaut yang menjelajahi orbit penuh harapan dengan langkah lebar, siap untuk terbang ke bulan, bahkan lebih jauh lagi. Sebagian besar dari mereka tampak seperti pelancong yang kelelahan, yang cakrawalanya berakhir di kawasan parkir kantor.
Dan kendati segala keberhasilan mereka yang gemilang...mereka sadar telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan,...masa muda mereka.
...
Kata saktinya adalah kompromi...
Ya, setelah 25 tahun dan berusaha berkompetisi sambil saling membuktikan (dan membandingkan), pada akhirnya memang kompromi. Oh, ambisi lama itu telah pergi, entah mewujud atau tidak. Oh, kebanggaan dan kompetisi saat kuliah dan seterusnya itu sudah tak ada dan terganti dengan sejenis kepasrahan.
Tetapi kini mereka berinteraksi dengan suatu kehangatan baru. Tidak ada tingkat-tingkat kedudukan. Mereka bertemu untuk pertama kali sebagai sesama manusia...
Selain kompromi dan perasaan ‘yaa,,sudahlah,,’, hal lain yang pada akhirnya tersisa adalah yang paling bermakna untuk tiap perseorangan, atau sebuah tragedi. Rossi kembali setia pada istrinya setelah serangkaian petualangan, Eliot mengumpulkan kembali teman-temannya, Gilbert mati dengan senyum demi sesuatu yang ia bela, Lambros akhirnya diterima Harvard sepenuhnya. Yang tragis, Keller tetap merasa hampa dan memilih mengakhiri hidup.
Begitu jugakah suasananya di reuni 2027 nanti?
***
Dalam sebuah artikel menjelang Idul Fitri, Jalaluddin Rakhmat pernah menelisik asal kata dosa dalam bahasa arab (atau tobat? Maaf kalau ingatan saya agak samar). Ia menulis bahwa kata ‘dosa’ (atau akar katanya) juga biasa digunakan untuk menunjukkan ‘jejak’, seperti jejak kaki kita di gurun pasir. Tobat, atau ampunan, atau confession (pengakuan ikhlas akan dosa), kata kang Jalal, menghapus dosa tadi, atau jejak, hingga samar atau hilang. Seperti angin yang meniup pasir hingga menutupi jejak. Tanpa pengampunan, jejak tadi menetap. Mungkin mengeras.
Padang Mahsyar adalah juga sebuah reuni. Mengingat kembali segala jejak kita (kita disini mengacu pada semua umat manusia), termasuk juga jejak dosa kita.
Saya pikir saat itu kompromi sudah tidak ada.
Astagfirullah. Ya Allah, hapuskanlah jejak dosa saya.
Semoga kita bisa bereuni di tempat yang terbaik nanti.
Kredit:
- The Class by Erich Segal (c) 1985, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Threes Susilastuti, Oktober 2007 (Cetakan Kedua), Gramedia Pustaka Utama.
- "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel", saya baca di blog Ika. Pernah terpasang di salah satu sudt kampus ITB.
17 Apr
17 Apr
There’s a slight difference between what I can do and what I want to do. But sometimes, errr.....no.....often, my eyes set only to the things I want to do, and neglecting the important things I can do.
Darn!!
Focus, girl... focus!!!
17 Apr
Decompiling means converting a program back to the original source code. Previously, decompilation is difficult because you need to understand assembly (which is the least human readable language). Assembly code is translated into machine language (readable by CPU) by the operating system. In .NET, this is not the case. Decompiling is easy.
.NET Compilation
Before we jump into how to decompile, we need to undestand compilation first. In .NET, compilation means converting from .NET language (Visual Basic or C#) to MSIL (Microsoft Intermediate Language).

DLL and EXE file you distribute will contain MSIL. When run, the .NET runtime will do another set of compilation before execution (that's why it's called Just-In-Time Compilation) to the platform's assembly language. The assembly language then sent to the platform's operating system.
This means, one set of DLL and EXE file can be run on multiple platform without changes, since translation to the platform's instructions are done after distribution or just before execution. The .NET runtime is also called virtual machine, since it acts as an intermediate machine.
The bad thing is, since the compilation does not generate assembly language, instead a standardized intermediate language, someone can easily take this and translate it back to the original source code with little difficulty.
.NET Decompiler
In fact, the .NET Software Development Kit includes a tool to help you open up the DLL and EXE file to retrieve the MSIL code. This tool is called ildasm.exe (IL De-Assembler). For example, we will decompile a simple Hello World application.
.method private hidebysig static void Main(string[] args) cil managed
{
.entrypoint
// Code size 29 (0x1d)
.maxstack 8
IL_0000: nop
IL_0001: ldstr "Hello {0}!"
IL_0006: call string [mscorlib]System.Environment::get_UserName()
IL_000b: call string [mscorlib]System.String::Format(string,
object)
IL_0010: call void [mscorlib]System.Console::WriteLine(string)
IL_0015: nop
IL_0016: call string [mscorlib]System.Console::ReadLine()
IL_001b: pop
IL_001c: ret
} // end of method Program::Main
Why Do I Need to Worry?
So people can easily get back my source code. So what? Well, there are several reasons why source code is important.
What is Microsoft SLPS Then?
In short, Microsoft SLPS enables you to encrypt parts of your source code. The encrypted parts will not be able to be decompiled. Second part, Microsoft SLPS also enables product feature management. You may want to create three version of your product with different features (and price). You can easily do this with Microsoft SLPS.
I saved the discussion about how to use Microsoft SLPS in the next topic. For those eager to know may visit Microsoft SLPS web site at http://www.microsoft.com/slps. MSDN Subscribers can request for a limited account to try the service.