Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for January, 2008

dan semua pun menjadi panik..

sejak Pak Harto masuk rumah sakit lagi awal taun ini, kerjaan emang berasa nambah banyak.. harus standby ber-jam2 di RSPP, meskipun kadang ga dapet berita apa2 ato yang itu2 lagi --siapa tamu yang dateng ngejenguk, apa isi press conf dr dokter, blablabla--..

sampai akhirnya beliau dipanggil Yang Maha Kuasa, kepanikan terjadi dimana2.. uuhh, klo inget hari minggu 27jan kemaren emang menggila bgt.. dateng subuh2 ke kantor buat liputan jogging di pagi hari.. beres 1 liputan digeser ke liputan lain.. siang2 balik kantor berharap bisa pulang cepet.. taunya kabar itu pun datang.. dan akhirnya terjebak harus bantuin jadi PA rep terbaru, hectic menggila di dalem control room.. tadinya tugas utama cuma muter prompter, akhirnya malah jadi ribet bolak balik ngambil kaset, ampe ngecek rundown segala --what's next, lead in nya apa (uh, berasa jadi produser aja gw)--.. dan tiba2 Teh Upit, sang AE yang baik hati muncul di depan gw sambil tersenyum seperti biasanya.. dengan tenang (padahal gw lagi he...
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • oleh-oleh dari solo-giribangun

    ini baru sedikit.. masih nungguin kiriman foto2 dari kamera yang lain
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Ibu-ibu zaman sekarang

    Pagi ini sarapan di warung dekat kontrakan. sembari melahap dengan menahan rasa, karena badan yang kurang sehat. terdengar singkat dua ibu masuk ke warung untuk membeli makanan.

    Awalnya wajar saja, mereka membeli beberapa lauk dan nasi. tapi kemudian salah satu ibu itu menyela,

    "enakan beli gini bu ya, daripada masak sedikit dan cape," kata ibu pertama

    "iya bu, saya juga suka beli daripada masak sendiri," timpal ibu kedua

    Karena perhatian sudah diarahkan ke pembicaraan dua ibu tersebut, maka sebentar melihat bahwa salah satunya membayar lauk dan nasi yang dibelinya sejumlah 15 ribu. dalam hati kemudian berpikir, memang masuk akal kalau 'hanya' 15 ribu dibandingkan cape jika masak sendiri.

    Tapi kemudian berpikir, jam sepagi ini (sekitar jam 8) dan ibu ini tidak dalam kondisi berangkat kerja (terlihatnya ibu rumah tangga biasa), apa yang dilakukan lagi kalau makanan beli terus tidak masak lagi??

    Ok, untuk perempuan yang punya aktivitas fenomena 'membeli makanan' diatas sudah jamak dan hal yang wajar. tapi bagaimana dengan dua ibu rumah tangga ini, atau banyak ibu-ibu lain yang berpikiran sama seperti itu.

    Jadi bagaimana menurut anda fenomena ini, dari kacamata laki-laki atau perempuan sendiri?
  • Comments Off
  • Filed under: Keluarga, Perempuan, Ragam
  • In Memoriam: M. Jusuf Ronodipuro

    Di minggu malam itu, Jusuf Ronodipuro, salah seorang pahlawan angkatan 45, dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kabar wafatnya beliau nyaris terlewatkan.

    Jusuf, pria kelahiran Salatiga, 30 September 1919, ini adalah orang yang berjasa dalam pembuatan dan penyiaran rekaman Proklamasi. Beliau juga merupakan salah seorang pendiri RRI dan pencipta slogan RRI “Sekali di udara, tetap di udara”. Bersama dengan Bachtiar Lubis, Jusuf pun menjadi orang pertama yang mengabarkan berita kemerdekaan RI melalui radio.

    Pada saat proklamasi, Jusuf sebenarnya tidak mengetahui kabar tersebut. Sampai sore hari pada 17 Agustus 1945, Jusuf, seorang reporter Hoso Kyoku, sebuah radio militer Jepang di Jakarta, masih belum mengetahui Soekarno telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Jusuf dan karyawan Hoso Kyoku lainnya memang dilarang untuk keluar dari kantor, untuk menghindari menyebarnya berita kekalahan Jepang yang telah diketahui oleh mereka dua hari sebelumnya.

    Seorang teman dari kantor berita Dome kemudian menyusup ke Hoso Kyoku dan menyampaikan secarik kertas dari Adam Malik, yang isinya meminta Jusuf menyiarkan berita terlampir. Kabar terlampir dimaksud adalah naskah proklamasi yang sudah dibacakan Soekarno pukul 10 pagi.

    Setelah berunding dengan beberapa temannya, Jusuf dan kawan-kawannya lalu menyelinap ke dalam stasiun luar negeri yang sedang tidak digunakan. Saat itu, karena kekalahan jepang, pimpinan Hoso Kyoku memerintahkan agar berita luar negeri dihentikan, sehingga stasiun itu pun kosong. Tepat jam 7 malam, selama 15 menit, Jusuf melakukan siaran gelap dan menyampaikan proklamasi Indonesia ke seluruh nusantara dan dunia.

    Perjuangannya harus dibayar mahal. Ia dan kawannya kemudian di tangkap oleh Kempetai (tentara jepang) dan dipukuli. Lutut kirinya cacat akibat diinjak oleh sepatu lars tentara. Bahkan kepalanya nyaris dipenggal oleh samurai jepang. Beruntung Jusuf dapat lolos dari ancaman maut.

    Untuk mengobati luka-lukanya Jusuf kemudian menemui dokter Abdurrahman Saleh. Oleh Abdurrahman Saleh, yang kemudian menjadi Kepala RRI, Jusuf disarankan untuk membuat pemancar radio sebagai sarana komunikasi pemerintah terhadap rakyatnya.

    Tiga hari ia butuhkan untuk merakit dan memasang pemancar radio. Laboraturium Abdurrahman Salehpun pun berubah menjadi ruang siaran, tempat dimana Presiden Soekarno menyampaikan pidato-pidatonya. Saat itu radio menjadi media terpenting. Melalui siaran radio ini semangat perjuangan dikobarkan ke seluruh negri.

    Di tahun 1950 Jusuf membujuk Presiden Soekarno agar membacakan naskah proklamasi untuk direkam. Pada awalnya, Bung Karno tak menyetujui usul tersebut. Ia menganggap peristiwa proklamasi hanya sekali dan tak perlu diulang. Namun, dengan pertimbangan agar anak cucu bisa mendengar, akhirnya Bung Karno mau merekam pembacaan naskah tersebut. Rekaman itu kemudian menjadi satu-satunya dokumen audio otentik pembacaan proklamasi. Ya, rekaman suara Soekarno yang sering diperdengarkan itu memang bukan dibacakan pada saat proklamasi.

    Jusuf juga berjasa dalam proses penggubahan lagu Indonesia Raya. Kala itu, Jusuf berpikir untuk mengubah lagu Indonesia Raya ke lagu yang berirama mars, irama lagu kebangsaan yang populer. Bung Karno pun menyetujui. Jusuf kemudian meminta komposer Belanda Jos Cleber untuk menggubah lagu kebangsaan itu. Aransemen ketigalah yang kemudian disetujui oleh Bung Karno. Aransemen itu kemudian direkam dalam piringan hitam di awal 1951 di perusahaan milik RRI, tapi proses berikutnya dilakukan di Belanda.

    Jusuf yang merupakan sahabat bekas Presiden Sukarno pernah menjadi Sekjen Departemen Penerangan dan ditugaskan di Departemen Luar Negeri, antara lain di Inggris dan PBB, New York. Pada masa Orde Baru, beliau pernah dipercaya sebagai Duta Besar RI di Buenos Aires dan sempat merasakan berbagai posisi jabatan, sampai akhirnya ia pensiun pada 31 Mei 1976. Namun baginya pensiun tak berarti harus berdiam diri di rumah. Jusuf pun pernah tercatat sebagai penasehat di beberapa organisasi sosial nirlaba semacam LP3ES, Yayasan Lembaga Indonesia Amerika, dan Dewan Harian Nasional Angkatan 45.

    Sejak terserang stroke bulan Juni 2007, Jusuf, tokoh penting pendiri RRI ini beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Pada hari sabtu, (27/1), pukul 23.35 WIB ia meninggal di RSPAD Gatot Subroto akibat komplikasi paru-paru dan stroke. Mendiang dimakamkan di TMP Kalibata pukul 13.10 WIB dan meninggalkan satu orang istri dan tiga orang anak.
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Slamet

    Slamet adalah teriakan, katanya.*
    Di tengah detak jantung Pak Harto
    Slamet adalah gugatan, katanya


    **
    Apa ya arti kematian seorang Slamet buat saya? Dua hari ini pertanyaan itu kerap muncul di otak saya. Di tengah-tengah era media konvergensi seperti ini, kematian seorang Slamet terasa begitu mudah berlalu. Berita kematiannya dengan cepat dikalahkan dengan berita ditemukannya mayat yang dimutilasi atau berita anjloknya nilai Indeks Harga Saham Gabungan.

    Ketika Pa Budhiana, Wapemred PR, di pelatihan jurnalistik, bercerita tentang media konvergensi dan kemutakhiran teknologi informasi saat ini, saya hanya bisa bengong. Saya terkejut dan kagum. Betapa persaingan media massa akan menjadi sedemikian ketatnya. Koran bersaing dengan TV, TV dengan Internet, Internet dengan SMS-mobile phone, semua membentuk lingkaran. Media akan hadir di tengah-tengah masyarakat 24x7x365. Ah, sungguh menyilaukan mata saja.

    Tapi saya belum tahu apa dampaknya nanti. Apakah standar nilai informasi itu sendiri akan naik?

    Saya teringat dengan tsunami yang terjadi di akhir tahun 2004. Jumlah korban bencana itu begitu fantastis. Lebih dari seratus ribu orang. Belum lagi bicara kerusakan yang ditimbulkan. Dashyat. Saya ingat setiap media begitu intens mengabarkannya.Tapi, ketika itu tsunami tak hanya mengambil nyawa orang. Ia juga mengambil sebagian sensitivitas dari diri saya. Ketika terjadi bencana alam di Papua ,Yogya dan daerah lainnya saya sudah mulai terbiasa. Walau tetap berdoa untuk mereka tapi jumlah korbannya tak lagi menggetarkan hati.

    Padahal saya sedang membicarakan nyawa manusia.

    Pun ketika tayangan berita-berita kriminal sedang banyak-banyaknya. Mereka juga mengambil sebagian sensitivitas saya lagi. Kabar seorang adik yang membunuh kakaknya saya anggap angin lalu. Apalagi kabar tentang kebakaran. Singgah sebentar untuk kemudian dilupakan.

    Padahal saya sedang membicarakan nyawa manusia.

    Maka di era media konvergensi ini saya takut sisa sensitivitas dalam diri saya akan kembali diambil. Berbagai berita dari seluruh penjuru dunia datang silih berganti. Tak mengenal waktu, tak mengenal ruang. Di dunia seperti itu teriakan Slamet berubah menjadi desahan. Tak lebih dari 1 detik. Lalu hilang.



    *Slamet, Goenawan Mohamad, Majalah Tempo edisi Januari 2007.
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Profil1: Soni Farid Maulana

    Kepalanya tersandar nyaman di pangkuan nenek. Sayup-sayup tembang cianjuran “Ceurik Rahwana” terdengar me”nina-bobo”kan. Tak lama kemudian, Soni kecil tertidur ditemani alunan suara neneknya.

    Demikian Soni Farid Maulana, penyair penting dari generasi 80-an, mengenal puisi. Ia yang sedari kecil dititipkan kepada nenek, karena perbedaan usia yang dekat dengan adiknya, belajar puisi dari lirik-lirik tembang cianjuran. Neneknya, seorang seniman tembang sunda cianjuran, kerap meminta Soni kecil untuk membacakan lirik tembang jika ia sedang menyalin ulang lirik ke buku baru.

    Neneknya pun menjadi inspirasi puisi pertama Soni. Rasa kehilangan mendalam karena kematian sang nenek, Oneng Rohana, mendorong Soni yang kala itu duduk di bangku SMP untuk mencurahkan perasaannya pada puisi. Terciptalah “Di Pemakaman” dan “Tembang” pada tahun 1976.

    Dorongan untuk terus menulis puisi kembali datang saat Soni berada di kelas 2 SMP. “Kamu bisa menulis puisi!” ujar Ibu Irawati, guru sastra di SMP Negeri 2 Tasikmalaya, setelah membaca karya Soni. Ibu Irawati pun kemudian memberikan buku “Empat Kumpulan Sajak” karya Rendra dan menyarankan Soni membacanya jika ia ingin menjadi penyair. Semenjak itu, Soni sering mengunjungi perpustakaan untuk membaca karya-karya Goenawan Mohammad dan Sapardi Djoko Damono. Semenjak itu pula Soni rutin menulis puisi.

    Sembilan puluh sembilan puisi ia kirimkan ke Pikiran Rakyat semenjak Februari 1980. Di bulan September, pada puisi ke seratus, barulah Saini K.M., redaktur “Pertemuan Kecil” Pikiran Rakyat, memuat karya Soni. “Lakon”, “Luh” dan “Noh” adalah contoh puisinya yang dimuat.

    Lulus dari SMA tahun 1982, Soni kemudian melanjutkan ke jurusan teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (dulu ASTI). “Biayanya sangat murah, hanya 15 ribu sebulan” ujar Soni mengomentari alasan pemilihan studinya waktu itu. Dari STSI inilah Soni berkenalan dengan Saini K.M. dan Toto Sudarto Bachtiar, orang-orang yang ikut memberikan pengaruh dalam dunia kesustraannya.

    Kebiasaannya membeli buku di perwakilan Pustaka Jaya di Jalan Banteng membawa Soni bertemu dengan almarhumah Wing Karjo. Nama yang disebutkan terakhir ini adalah orang yang mengenalkan Soni pada puisi perancis modern. Wing Karjo juga menjadi tempat Soni berdiskusi tentang puisi, penyair dan proses kreatif dalam penulisan puisi. Wing Karjo adalah guru dan sahabat bagi Soni.

    Melalui Abdul Hadi W.M., ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sekaligus pengasuh rubrik puisi di harian Berita Buana, Soni mendapat kesempatan untuk membacakan puisi pada acara DKJ. Kala itu Soni, yang berada sepanggung dengan Sutardji Calzoum Bachri dan banyak orang yang dikaguminya, membawakan puisi “Literatur seorang Buruh Pabrik di tengah Gemuruh Kota Jakarta”.

    Seusai pentas Rendra mendatanginya di belakang panggung dan mengajaknya berkenalan. Soni tidak langsung mengenali sosok tersebut sebagai Rendra penyair yang bukunya ia baca semasa kecil. Soni baru tersadar ketika melihat poster pementasan yang tergantung di rumah Rendra. Memang, pada malam itu juga, Rendra mengajak Soni ke rumahnya untuk berdiskusi tentang cara Soni membacakan puisi dan tentang dunia penyair yang tak boleh lepas dari konteks sosial. Sejak malam itu Soni dan Rendra berteman. “Hubungan kami bagai ayah dan anak,” ujar Soni sambil mengingat sosok Rendra.

    Berkat bantuan Rendra pula Soni pergi ke luar negeri untuk pertama kali. Ketika Festival Penyair Asia diadakan di Filipina pada 1990, Soni menjadi salah satu penyair yang diundang untuk membacakan puisi di sana.

    Kepergiannya ke Filipina membawa berkah tersendiri bagi Soni. Kala itu Soni, yang harus membayar fiskal karena tidak ditanggung oleh panitia, meminjam uang kepada Pa Suradi, seorang redaktur Pikiran Rakyat. Sebagai bayarannya, Soni menjanjikan laporan lengkap festival tersebut. Dari peristiwa pinjam-meminjam itu akhirnya Soni bisa diterima bekerja di Pikiran Rakyat. Sepulangnya dari Filipina ia lantas memulai karir sebagai wartawan.

    Pada bulan dan tahun yang sama Soni menikahi Heni Hendrayani, istrinya hingga saat ini. Pernikahan tersebut tergolong istimewa karena diselenggarakan tepat saat Soni berusia 28 tahun. “Hadiah ulang tahun saya waktu itu adalah malam pertama,” kata Soni sambil tersenyum. Bagi Soni sendiri, Heni merupakan anugrah. Heni, seorang lulusan STIA Tasikmalaya, banyak memberikan pengaruh di kehidupan spiritual Soni. Sebelum mengenal Heni, Soni memang lebih banyak dipengaruhi oleh ilmu filsafat beraliran eksistensialisme.

    Saat ini 15 orang mahasiswa sudah menggunakan karya Soni sebagai sumber bagi skripsi dan disertasi, termasuk diantaranya Ian Campbell, seorang Indonesianis. Puisi-puisi Soni pun telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, diantaranya oleh Prof. Dr. A. Teeuw dan Berthold Damshäuser.

    Mengomentari puisi Soni Farid Maulana, Dr. Berthold Damshäuser mengatakan bahwa Soni adalah seorang penyair yang menyuarakan kesunyian setelah Amir Hamzah.



    Soni dan Puisi

    “Inspirasi untuk menulis puisi datang dari banyak hal,” kata Soni. Bagi dia, menulis puisi sama dengan menggali kembali pengalaman pribadinya. “Puisi yang tidak berasal dari pengalaman itu tidak ada isinya. Hanya permainan kata-kata saja,” tambahnya.

    Tema yang paling ia sukai adalah tema cinta. Hal ini banyak dipengaruhi oleh romantika lirik-lirik tembang cianjuran yang sering ia dengarkan sedari kecil. Selain itu, tema sosial dan religius pun sering ia usung.

    Soni senang membaca komik dan menonton film kartun. Ia mengaku bahwa dari genre yang dianggap orang kekanak-kanakan ini ia bisa mendapatkan inspirasi dalam membuat metafora. “Imajinasi tukang komik itu hebat-hebat” katanya.

    Saat ini Soni sedang merampungkan sebuah kumpulan puisi yang bersumber dari Haditz Nabi. Tema religius memang erat melekat pada diri Soni. Soni yang dulu banyak dipengaruhi oleh pemikiran Nietzsche dan Kierkergaard kini meletakkan filsafat hanya sebagai ilmu pengetahuan. “Filsafat itu mempertanyakan sesuatu secara radikal, filsafat juga merupakan dasar dari kebudayaan,” ujar Soni ketika ditanya alasannya menyukai filsafat.

    Tahun 2008 Soni telah mengikat kontrak untuk merampungkan dua buku kumpulan puisi. Satu buku untuk puisi berbahasa sunda dan satu lagi berbahasa Indonesia. Namun untuk kedepannya penyair yang telah menciptakan lebih dari 500 karya ini akan memusatkan perhatiannya pada penulisan cerpen. Seperti halnya ia meninggalkan dunia teater ketika memasuki dunia jurnalistik, Soni pun akan meninggalkan dunia puisinya demi cerpen.

    “Saya akan berhenti total” ujar Soni.
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif merupakan suatu pendekatan yang utuh dan terpadu ke arah terwujudnya efektvitas pribadi dan antar pribadi. Kebiasaan adalah pola perilaku yang terdiri dari tiga unsur yang saling bertemu yaitu : pengetahuan, keinginan dan keterampilan. Kebiasaan kita peroleh dengan belajar, bukan kita warisi. Karenanya ini merupakan sifat alami kita yang kedua, bukan yang pertama. Bagaimanapun, yang kita miliki saat ini bukanlah kebiasaan kita. Kita bisa menciptakan atau melepaskan kebiasaan kita.

    Kebiasaan 1 - JADILAH PROAKTIF

    Kebiasaan - Visi Pribadi

    Menjadi Proaktif mempunyai arti bahwa manusia bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri. Secara alami kita selalu bertindak dan bukan menjadi sasaran tindakan. Kata tanggungjawab kita artikan sebagai kemampuan untuk merespon, yaitu kemampuan untuk memilih respon anda. Orang yang sangat proaktif menngetahui tanggungjawab itu. Mereka tidak menyalahkkan keadaan dan kondisi yang mempengaruhi sikapnya. Mereka mengembangkan kemampuannya untuk memilih jawaban/respon, sehingga respon-responnya merupakan hasil dari nilai-nilainya, hasil perasaannya atau situasi.

    Kebalikan dari proaktif adalah reaktif. Ciri orang reaktif selalu mengalihkan tanggungjawabnya. Bahasa orang reaktif melepaskan mereka dari tanggungjawabnya. "Itulah saya. Memang begitulah saya. Saya sudah ditakdirkan begini dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya." Dia membuat saya sangat marah!" Saya tidak bertanggungjawab. Emosi saya dipengaruhi oleh sesuatu diluar kendali saya."

    Kebiasaan 2 - MERUJUK PADA TUJUAN AKHIR
    Kebiasaan - Kepemimpinan Pribadi

    Merujuk pada tujuan akhir berarti memulai setiap hari dan setiap tugas dengan pemahaman yang jelas mengenai tujuan yang ingn dicapai. Dengan mengusahakan titik akhir tersebut tetap jelas dalam pikiran anda dapat memastikan bahwa apapun yang anda kerjakan pada hari tertentu tidak melanggar kriteria yang sudah anda definiskan sebagai yang paling penting, dan bahwa tiap hari dari kehidupan anda menunjang visi yang anda miliki tentang seluruh hidup anda dengan cara yang berarti.

    Pernyataan Misi
    Bagi saya, saya ingin mengembangkan diri, mengasih diri-sendiri, dan keleluasaan diri. Saya ingin menggunakan bakat penyembuhan saya untuk memelihara harapan dan mengekspresikan visi saya dengan berani baik dalam ucapan maupun tindakan.

    Dalam keluarga saya, saya ingin membangun hubungan-hubungan yang sehat, saling mencintai di mana kami membiarkan diri masing-masing mewujudkan apa yang terbaik bagi kami.

    Dalam pekerjaan, saya ingin membangun lingkungann belajar yang bebas-kesalahan, dan berkesinambungan yang mendorong keinginan untuk tumbuh dan membantu orang lain berkembang; rasa ingin tahu terhadap apa-apa yang tak dikenal; ketetapan hati untuk menghadapi secara langsung; dan keinginan untuk mengerti dan bekerja bersama orang lain guna menemukan dan memenuhi tujuan bersama.

    Didunia, saya ingin menumbuhkan perkembangan semua bentuk kehidupan, secara harmonis dengan hukum-hukum alam itu sendiri.

    Kebiasaan 3 - DAHULUKAN YANG UTAMA
    Kebiasaan - Manajemen Pribadi

    Apakah yang utama? Hal yang utama adalah hal-hal yang menurut anda pribadi paling berguna untuk dilaksanakan. Ia menuntun anda ke arah yang benar dan membantu anda mencapai tujuan yang ada di pernyataan misi pribadi anda.

    Dahulukan yang utama menyatakan mengenai pengaturan waktu dan kejadian-kejadian yang berdasarkan pada prioritas pribadi yang ada pada Kebiasaan 2. Kebiasaan 2 adalah ciptaan pertama atau ciptaan mental, Kebiasaan 3 adalah ciptaan kedua atau fisik.

    Kebiasaan 4 - BERPIKIR MENANG MENANG
    Kebiasan - Kepemimpinan Antar Pribadi

    Dalam hubungan antar pribadi ataupun dalam pekerjaan, efektivitas seringkali baru bisa tercapai jika ada usaha bersama dari dua orang atau lebih. Perkawinan dan hubungan kemitraan lainnya adalah suatu contoh kesalingketergantungan, tetapi seringkali orang berhubungan berdasarkan mental kemandirian, sepert berusaha bermain golf dengan menggunakan raket tenis-alat yang digunakan tidak cocok dengan olahraga yang dilakukan.

    Kebiasaan 5 : BERUSAHA MENGERTI TERLEBIH DAHULU, BARU DIMENGERTI
    Kebiasaan - Komunikasi

    Komunikasi adalah keterampilan yang paling penting di dalam hidup. Kita mennghabiskan sebagian besar jam bangun kita untuk berkomunikasi. Tetapi coba pikirkan hal ini : Anda sudahh menghabiskan waktu bertahun-tahun unttuk belajar membaca dan menulis, bertahun-tahun untuk belajar bagaimana berbicara. Tapi bagaimana dengan mendengarkan? Pelatihan untuk pendidikan apa yang telah anda jalani untuk memungkinkan anda mendengarkan, sehingga anda benar-benar mengerti orang lain secara mendalam arti kerangka acuan individu itu sendiri?

    Berusahalah mengerti terlebih dahulu atau mendiagnosa sebelum anda membuatkan resep, adalah prinsip yang benar yang dimanifestasikan di banyak bidang kehidupan. Sorang dokter yang bijaksana akan memeriksa pasiennya terlebih dahulu sebelum dia memberikan resep. Seorang insinyur yang ahli akan mengerti daya, tekanan yang bekerja , sebelum merancang sebuah jembatan. Salesman yang efektif akan mencoba mengerti terlebih dahulu pandangan orang lain sebelum dia dimengerti. Sebelum seseorang merasa lebih telah diperiksa dengan baik, dia tidak akan mau menerima resep tersebut.

    Kebiasaan 6 : WUJUDKAN SINERGI
    Kebiasaan - Kerjasama Kreatif

    Prinsip dari sinergi ini adalah kebenaran dalam hubungan sosial kita. Dua orang, bekerja sama secara kreatif, akan mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada jika dilakukan oleh mereka sendiri. Sinergi mengajak kita untuk bersama-sama menemukan hal-hal yang kecil kemungkinannya kita temukan sendiri-sendiri. Ia akan timbul ketika pikiran kita saling mendorong satu sama lain dan ide-ide akan bermunculan. Saya mengucapkan sesuatu yang merangsang pikiran anda; anda merespon dengan ide yng mendorong saya. Saya membagi ide baru tersebut bersama anda, dann proses berulang terus bahkan terbentuk sendiri.

    Kebiasaan 7 - ASAHLAH GERGAJI
    Kebiasaan - Pembaharuan Diri

    Mengasah gergaji berarti memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang anda miliki, yaitu diri anda. Kebiasaan ini memperbaharui keempat dimensi alamiah anda: fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional. Tanpa disiplin, tubuh kita menjadi lemah, pola pikir mekanik, emosi kita menjadi buruk (kasar), jiwa kita menjadi tidak sensitif, dan orang menjadi egois.


    *training 7 habits, 24-26 February 2008 @ Puncak

  • Comments Off
  • Filed under: Refleksi, buku
  • Komentator

    Komentator ANTV saat Persik tertinggal 3-0 dari Persipura: Persik sebenarnya memiliki banyak peluang mencetak gol. Hanya keberuntungan yang membedakan mereka dengan Persipura.

    Saya : To loose 1-0 is one thing. But three goals to nil?? Baby, luck has nothing to with it!

    (sebenarnya saya juga bukan pendukung persipura, tapi geli aja ngedenger komentatornya yang berkali-kali bilang kalau Persik kurang beruntung, hehe)
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Sepakbola

    Salah satu hal yang selalu membuat saya heran sekaligus kagum di saat yang bersamaan adalah “kecintaan” seseorang akan sepakbola atau kecintaan seseorang akan klub favoritnya. Cabang olahraga lain boleh memiliki penggemar. Namun, jika berbicara tentang keanehan, buat saya tak ada yang bisa mengalahkan para football maniac.

    Para pecinta sepakbola ini tak cukup jika hanya melihat timnya menang atau berjaya. Perlu bagi mereka untuk membagi perasaannya dengan orang lain. Lihatlah SMS-SMS yang mereka kirimkan ke tabloid Bola atau koran Pikiran Rakyat, tak jarang SMS itu akan membuat saya tersenyum sendiri.

    Bukan kata-katanya yang memancing senyum, tapi emosi yang terkandung di dalamnya. Ada yang memuji tim mereka, ada yang menghujat tim saingannya, ada yang sekedar mendukung pemain favoritnya atau sekedar berkomentar tantang sepakbola itu sendiri.

    Tapi, dari semua sms atau surat yang dikirimkan, dari yang paling sederhana sampai yang paling penuh analisis, terkandung emosi di dalamnya. Ada perasaan ingin mengatakan kepada seluruh dunia bahwa timnyalah yang terbaik. Entah itu seorang anak SD di sudut desa Cipeundey atau pengusaha galangan kapal di ujung kota Liverpool, semua tak kalah dalam membela jagoannya.

    Yang saya tak mengerti adalah: mengapa sepakbola?

    Jika berbicara tentang ketegangan, menyaksikan F1 dan Grand Prix-pun tak kalah menegangkannya. Namun, saya kira tak ada penggemar yang beremosi-emosi ria sambil mengatakan “Ayo Rossi bantai semua lawanmu! Stoner ga ada apa2nya dibandingkan kamu”.

    Kalau soal kolektivitas, basket juga permainan yang sangat membutuhkan kerjasama tim. Dua detik dalam basket dapat mengubah hasil pertandingan. Karena itu peran semua posisi menjadi penting. Tak kan ada kemenangan tanpa strategi dan kolektivitas. Halah, kenapah malah ceramah?

    Okey, balik ke topik utama.

    Bagi saya hal ini terjadi mungkin karena sepakbola yang tak hanya hidup di lapangan. Tak bisa dipungkiri, menyaksikan intrik dan perseteruan yang terjadi di balik layar sudah seperti menyaksikan sinetron atau telenovela. Sedang cerita yang beredar di cabang olahraga lainnya paling-paling hanya berputar di masalah doping dan prestasi. Berbeda dengan sepakbola.

    Ada permusuhan. Ada kesetiaan. Ada arogansi. Ada uang. Ada pengkhianatan. Ada impian.

    Ada emosi di sana.

    Penonton telah merasa menjadi bagian dari intrik tersebut. Merasa bahwa mereka memiliki pendapat yang bisa memajukan klub. Bahwa sebagai fans mereka pun memiliki hak untuk didengarkan aspirasinya oleh para petinggi klub. Bah, sudah seperti sistem demokrasi saja sepakbola ini.

    Tapi ini memang terjadi. Lihat reaksi pendukung Chelsea ketika Mourinho dipecat, atau reaksi suporter Persib ketika Nyek Nyobe dipinjamkan dan di ganti Leo Chitescu. SMS bermunculan. Berbagai spanduk pun dibentangkan. Intinya satu: ingin pendapatnya didengarkan.

    Yah, ini hanya pandangan selintas saja. Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Kenapa sepakbola bisa menjadi candu. Kenapa saya sampai rela bangun di tengah malam untuk nonton Liga Champion padahal besok paginya ada testing. Kenapa orang-orang mengirimkan sms-sms gila. Kenapa sampai ada kerusuhan antar suporter. Kenapa....kenapa....kenapa.............

    Anybody cares for an answer?

  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Too Keeee Oooooowwwwhhh!!


    *please come see, (awe- hehee).. and comment*
    Yes! got myself a great vacation last new year holiday : To Japan--Tokyo, par exact. Hm. Will get back for the details! I've got to go to work now!!
  • Comments Off
  • Filed under: photoset