Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for October, 2007

Terkena Bonoisasi?

Ada artikel menarik dari kolom opini kompas hari ini 27 Oktober 2007, dari Baskara T. Wardaya. Saya copy-paste saja kutipannya:

Naomi Klein menyodorkan sebuah kemungkinan jawaban. Ia melihat, pada satu sisi demo-demo perlawanan kini telah dibuat lebih global oleh para selebriti rock and roll, dengan pelopornya penyanyi Bono dari kelompok musik U2. Bono dan kawan-kawan telah membuat banyak kaum muda sadar akan persoalan dunia. Berkat mereka kesadaran kaum muda akan adanya ketidakadilan global kian meningkat. Ratusan ribu kaum muda hadir dalam konser-konser amal yang mereka gelar dengan tema antikemiskinan, antipemanasan global, pembebasan dari utang, dan lain-lain.

Meski demikian, konon konser-konser itu membuat banyak penggemarnya kurang terdorong mencari solusi konkret. Mereka suka "terharu" akan berbagai penderitaan dunia, tetapi tidak berminat membongkar sistem dan struktur penyebabnya.

Muncul gejala menarik. Di satu sisi kian banyak kaum muda peduli penderitaan dunia, di sisi lain banyak yang sudah puas hanya dengan merasa tersentuh akan penderitaan itu. Oleh Klein gejala itu disebut sebagai Bonoisasi (Klein: 2007).

Menurutnya, berkat inisiatif mulia yang dipelopori Bono dan kawan-kawan, kini banyak kaum muda lebih suka pergi ke lokasi-lokasi konser untuk "melawan kemiskinan" atau ke mal dan membeli gelang warna-warni bertuliskan "Anti-Globalisasi" daripada turun ke jalan menuntut tata ekonomi dunia yang lebih adil. Klein mengamati, belakangan banyak kaum muda lebih suka melampiaskan semangat aktivisme politiknya melalui fasilitas blogspot di internet. Lokasi konser, mal, dan internet tentu lebih nyaman sebagai tempat "perlawanan", tetapi perlawanan macam itu apakah mampu mengubah struktur ketidakadilan? Perlu dipertanyakan.

Saya memakai blogger (blogspot), bukan wordpress atau penyedia layanan weblog gratisan lain. Jelas saya kena bonoisasi, he33x.

Ini pengingat yang baik, dan pengisi kekosongan tulisan bulan ini.



  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, Refleksi
  • Menarik sebuah golongan dalam masyarakat yang dinamakan Mahasiswa. Golongan ini mempunyai keunikan karakter, aktivitas hingga pola hidup. Di satu sisi secara strata pendidikan, mahasiswa termasuk dalam bagian pendidikan yang tinggi atau bagian kaum terpelajar. Namun dalan strata sosial, mahasiswa pun sebenarnya masih bisa digolongkan dalam masyarakat tak bekerja alias pengangguran.

    Dalam dualisme pola pandang tersebut, kehidupan mahasiswa selalu lebih khas dibandingkan anak SMU yang lebih terkesan ‘ABG’, atau dibanding para karyawan muda yang terpaksa harus dimasukan dalam bagian ‘mapan’.

    Sebagai bagian kaum terpelajar, mahasiswa sering menyebut dirinya bagian dari gerakan moral masyarakat, yang non kepentingan kecuali kepentingan rakyat. Sebagai pembela rakyat atau setidak-tidaknya mempunyai nurani kerakyatan. Hal ini tentu tak bisa dilepaskan dalam kehidupan harian mahasiswa sendiri yang penuh ‘perjuangan’. Mulai dari tempat tinggal (idiom dengan anak kost), makanan ‘secukupnya’, atau setidaknya pola pikir yang ingin hemat sehemat-hematnya.

    Namun dengan dualisme ini pula sebenarnya mahasiswa menjadi pembatas, perekat atau bahkan penghubung antara golongan ‘atas’ dengan ‘bawah’. Percaya atau tidak, status mahasiswa menjadikannya mudah diterima dimana dia pergi. Mulai dari Gedung DPR hingga perumahan kolong jembatan. Dengan status itu pula, yang seringkali digunakan untuk tetap mendapatkan ‘harga pelajar’ saat menggunakan sarana umum, seperti trasnportasi yang biasa terjadi di Jogjakarta.

    Oleh karenanya, status mahasiswa bisa dikatakan sebagai status fleksibel. Saat dibutuhkan untuk naik dalam ‘strata atas’,maka ia pun bisa dengan leluasa melakukannya. Apalagi bila untuk merakyat bersama ‘strata bawah’, maka mahasiswa bisa seolah menjadi ‘dewa’ yang peduli akar rumput.

    Status itu juga percaya atau tidak juga mempengaruhi pola pikir, pembangunan karakter bahkan hingga perilaku. Karena mahasiswa itu fleksibel, cenderung bebas,maka para mahasiswa pun cenderung ‘seenaknya sendiri’ dengan kurang melihat situasi, atau dalam bahasa halusnya ekspresif.

    Dalam proses pendidikan di perguruan tinggi, hal itu tentu saja sangat baik untuk menumbuh-kembangkan kreatifitas dan keberanian menembus kejumudan. Namun dalam kehidupan pasca kampus, tidak semua ‘hal ekspresif’ itu bisa tetap dipelihara karena harus lebih melihat kondisi lingkungannya.

    ***

    Saya sendiri mengalami hampir semua masa yang digambarkan diatas dengan cukup. Karena enaknya menggunakan status mahasiswa itu, sempat membuat saya sering memakainya sekalipun gelar sarjana sudah tersematkan.

    Saat berbicara dengan sopir mikrolet di Jakarta yang berasal dari Bandung, maka tanpa sengaja ‘status’ itu yang lebih dikedepankan daripada mengatakan sebenarnya saya sudah lulus (saya tidak berbohong, hanya mengatakan bahwa saya kuliahnya di Bandung). Saat dalam perjalanan pun pernah saya lebih nyaman untuk mengatakan ‘kuliahnya di Bandung’ daripada jujur mengakui bahwasanya saya seorang karyawan.

    Hingga sekarang, satu tahun selesainya status mahasiswa itu, akhirnya saya harus memutuskan untuk berusaha menanggalkan ‘status’ itu. Bukannya saya tidak ingin berlama-lama dengan status yang menjadikan saya bisa lebih fleksibel, namun semata-mata karena ada beberapa hal ‘paradigma mahasiswa’ yang tidak sesuai diterapkan di lingkungan baru (baca: kerja) saya.

    Gaya ‘bebas’ versi mahasiswa harus dibenturkan dengan office-netiket. Budaya ‘ekspresif’ khas mahasisawa harus berhadapan dengan sopan santun. Mulai baju yang rapi dengan kancing kerah terpasang jika ada hingga budaya makan di acara bersama. Dari sikap bicara asertif dengan orang hingga cara mengajukan pertanyaan. Ada baiknya karena harus mulai berbudaya ‘beradab’. Tapi tetap saja, selalu ingin sebagian karakter mahasiswa yang dipertahankan.

    Mungkin salah satu fase adaptasi yang sederhana adalah dengan lebih jujur mengatakan status pekerjaan saat bertemu dengan orang, dalam perjalanan atau di transportasi umum. Dan mulai sekarang, semoga saya bisa melakukannya, mengatakan sejelasnya bahwa sudah bekerja, saya adalah karyawan di sebuah perusahaan swasta. Dengan begitu setidaknya saya ‘tidak berdusta’ (sekalipun sulit juga untuk dikatakan ‘jujur’).

    Dan tidak lupa dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya sudah berpenghasilan. Bukan untuk apa-apa, hanya menyakinkan diri sendiri sehingga 'mental mahasiswa' yang selalu mengharapkan gratisan itu mulai berubah. Namun bukan berarti pula semua harus diukur dengan materi. Hanya semoga dengan kesadaran sudah berpenghasilan itu, ada lebih kesadaran untuk berbagi dan berpikir dewasa.

    Lalu mengenai beberapa pola hidup harian yang masih ingin menggunakan ‘pola dan gaya mahasiswa’, saya tak perlu lelah memikirkannya. Saya menikmati hidup yang seperti ini, yang bisa ‘ke atas’ tapi juga bisa ‘ke bawah’. Saya hanya berusaha untuk wajar, tidak berlebihan. Karena bukankah hidup itu sendiri adalah naik-turun yang kita sendiri tak pernah bisa memprediksinya? Hidup bersahaja, mungkin itu kuncinya.

    Note:
    Karena si empunya harus ke field di daerah Sumatera Selatan, maka selama 3 minggu blog ini akan hiatus. Silahkan menikmati blog sederhana ini. Do’akan baik-baik saja, terima kasih.

  • Comments Off
  • Filed under: Aku, Keseharian
  • comic er, kinda clown


    Clown.
    The big red nose.
    White painted face
    big red smiley(or-not) painted mouth.
    Hm. Mc Donalds' clown sitting below the yellow arches everywhere. Neah.
    Kids love 'em. they take picture w/ the guy. kool guy.

    But t just strucked me of how I always don't like clowns. Unlike Bart simpson who's having traumatic nightsleep of the Krusty the clown. But yes, similar--as a kid, I hate clowns! they're somewhat horrifying.

    Once in my 7th birthday. My parents held quite a big bash over my house. all my fellow neighboor kiddos are invited. Tart cake, full decorated house w/ balloons and colourful crep papers. all parfait..--well so it seems. until the clowns came.

    Why clowns? Are they supposed to entertain kids? with their grey hair, half scalp showing off, excessive wrinkles on their rubber painted mask, the deep eye figure, the pointy or big red bulb nose, the big butt, the big foot--the clown sent to my house was waaayyyy uggliier than one shown in the picture-- Urgh. Even adults would enjoy an entertainment of one, I think. What are the parents are thinking when they send in clowns?! Well, suppose clowns today has more scary features than it used to--or it's just me being unlucky meeting such scary clown in fairly young age ;p.

    I presume they must have been more pleasent to the eyes in those days. Afterall, they've [clowns] been entertaining for the king, palaces, and noble events since the era of Egypt--so would it defines clown as.. :
    "A divine spirit -- to rejoice and delight the heart," according to a nine-year-old Egyptian Pharoah who heralded the first recorded appearance of a clown around the year 2270 B.C.
    Well, I suppose childs nowadays have more alternative icons to cheer up some party. Spongebob, Dora, Spiderman, --thousand times cuter. Lucky them.

    Anyways, feeding my sheer curiousity on my 'so-called' childhood phobe, I ask people and most agree that clowns are not cute. and It's the most favorite all-time question on Yahoo!ask "Why do most people have fear of clowns?"

    Lemme quote a bit
    One of the more interesting comes from Kathryn Cillick. She believes most people are afraid of clowns because it's impossible to gauge a clown's true emotions. Thanks to painted-on smiles, people can't distinguish if the clown is as happy as he seems or if he's actually about to bite somebody's face off.

    Hm. What a theory. Though I do NOT have fear of clown due to this--but most to their ugly-totally-misfit features hehe, pardon--er, Human clowns are scarrier. Without make ups, no white polished face nor big red nose. Those I cannot tell which is friend and which is foe. At least which is real friend, and those friends comes only in needs--who figures friends are means, to get somewhere, a sincere heart, a secret heart, a malign one, or just a plain one. No luck in reading people by their lines--especially when the mask is way thick. Is everybody wearing their clown version mask? Hm..well, if you are-- why wouldn't you wipe it off dear . I'm tired reading and fail.

    Secret Heart
    Why so mysterious
    Why so sacred
    Why so serious
    Maybe you're
    Just acting tough
    Maybe you're just not man enough

    (listening to Secret Hearts, Feist...)...
    *hugs*

    Anyways, Minal Aidin Wal Faidzin...Forgive me inside & out.

    *image :One of the most normal google-d clown image!, sorry, no photoshop, just plain paint. heee hee...







  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Bekerja dengan penuh komitmen dan motivasi akan berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Meskipun motivasi seseorang tidak bisa dilihat secara kasat mata, tetapi keberadaannya bisa ditelisik dari sikap dan perilaku orang saat bekerja. Dan keberadaan motivasi yang tinggi inilah, yang membuat seseorang -yang tak bisa saya sebut namanya karena memang saya tidak tahu yang mana orangnya- dengan
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Do It Anyway

    People are often unreasonable, irrational, and self-centered. Forgive them anyway.

    If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives. Be kind anyway.

    If you are successful, you will win some unfaithful friends and some genuine enemies. Succeed anyway.

    If you are honest and sincere people may deceive you. Be honest and sincere anyway.

    What you spend years creating, others could destroy overnight. Create anyway.

    If you find serenity and happiness, some may be jealous. Be happy anyway.

    The good you do today, will often be forgotten. Do good anyway.

    Give the best you have, and it will never be enough. Give your best anyway.

    In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.

    _Mother Theresa (bisa dilihat di sini)


    Saya merasa perlu mencantumkan quote diatas, karena merefleksikan apa yang seharusnya saya lakukan sekarang.

    Lagi krisis kepercayaan nih. Saya gak percaya sama "temen-temen seperjuangan" saya dulu. Gak yakin bahwa "itu adalah kebaikan".

    Tapi ya...do it anyway. In the final analysis, it is between you and God. It was never between you and them anyway.

    Kalau nanti mereka, misalnya, dalam pengamatan subyektif saya, mengkhianati...Peduli amat. Pilihan saya tulus, insya ALLAH, anyway.

    Semoga berkah.

    NB: atau saya naif ya? Biarin deh.


  • Comments Off
  • Filed under: Islam, Refleksi, belief, kehidupan, me
  • Ketika Boyband Masih Berjaya

    Saya gak tahu kapan pertama kali boyband ada. Boyband modern, seingat saya, sangat ngehit sekitar tahun 90-an awal. Waktu itu, saya ingat kakak perempuan saya ngefans banget dengan Jonathan Knight, saudara dari Jordan Knight. Keduanya personil dari New Kids On The Block, belakangan sering disingkat NKOTB. Personil lainnya ialah Joe Mcintyre, Donny Wahlberg, dan Danny something (sorry ga inget). Hitsnya terutama lagu-lagu mellow atau yang ngedance. Dulu, di TPI jam setengah delapan sampe ada kartunnya, yang isinya nothing kecuali cerita bahwa personil NKOTB ini dikejer-kejer ama cewek-cewek.

    Sekarang nggak kedengeran lagi kabar mereka. Mark, adik Donny Wahlberg, malah lebih eksis sebagai bintang film. Joe sempat bikin solo. Yang lain udah pada jadi bapak-bapak kali.

    Waktu saya SMP, saya juga inget saya sampe bela-belain beli kaset (waktu itu masih zamannya kaset...) Backstreet Boys. Saya nggak ngefans-ngefans banget sih, tapi lagunya emang ringan dan earcatching koq (aduh malu ngakunya...he33x). Saya juga sempat beli Boyzone, yang ada lagu Words-nya itu lho...

    Ih, banci lo! Biarin! Namanya juga masih muda, banyak membuat kesalahan = p. Dan saya juga gak ngerasa less masculin dengan dengerin boyband. Lagian perasaan saat itu semua temen saya juga suka. Teman SMP saya yang kemudian berjumpa lagi di TI malah lebih ngefans. Dia sempet punya kaset Code Red (ada yang inget boyband ini?), dan satu boyband lagi yang saya lupa namanya, yang video klipnya itu settingnya perang vietnam (yeah right, boyband di perang Vietnam! Green Day aja kalah!), dan salah satu personilnya naksir gadis lokal sana yang seinget saya cakep banget = p. Saya gak punya, dan saya pinjem ke dia...he33x, segitunya yak?

    Awal 2000-an era boyband akhirnya surut (biarpun sekarang ada aja segerombolan pemuda yang ketinggalan jaman dan belagak boyband...hareeeee gineeeeee???). Kata yang sinis, boyband sekarang diganti ama pemuda-pemuda ’manis’ yang nyanyiin lagu sweet pop atau punk pop. Beberapa personil boyband di akhir masa jayanya bernasib mengenaskan. Selain gendut, jenggotan (tapi untungnya, gak khotbah...=p ), ada yang kecanduan alkohol, mengaku dirinya gay, dan serta merta menghancurkan ribuan pemuja wanitanya (dan sayangnya juga, segmen pendengar lain, para gay, tidak berubah jadi ngefans ama nih personil boyband. Poor him...). Ada juga yang akhirnya ngaku poligami! Hah? Oh sorry, yang itu bukan personil boyband ya? = p.

    Mode narsis: ON

    Tetapi di TI 2002, sisa kejayaan boyband itu masih ada. Ini contoh aksinya. (siap-siap kantong buat muntah).

    Ini boyband pertama yang terpotret. Dipilih lewat kontes yang mirip boyband idol, atau apalahitunamanya. Ini salah satu personilnya sedang dengan tak tahu malu berkicau. Maksudnya, sedang show.

    Boyband yang berisi trio itu sangat tidak nyaman. Bayangkan, atensi fans-fans mereka hanya terbagi untuk tiga orang! Wow. Terus terang, mereka rasa itu sangat berat. Akhirnya mereka bubar.

    Tetapi personil yang satu itu memutuskan bergabung dengan boyband lain, sehingga ada lima personil. Secara ekonomis, itu pilihan cerdas. Beban tampil terbagi lima, pangsa pasar yang diambil makin banyak (karena personilnya makin banyak dan beragam), dan terutama, atensi dan kegilaan para fans pun terbagi lima juga. Ini fotonya, dengan pose standar boyband.

    Zaman berubah, era boyband surut. Begitu juga boyband di TI 2002. Para personilnya menempuh jalan masing-masing, dan semua mengaku kapok berada lagi di dunia showbiz.

    Mode narsis: OFF

    Sebenernya kemaren ada buka bareng a la seleb (dicoret soalnya ntar yang bikin pundung = p) TI 2002 yang penuh hikmah dan kenangan, terus diliatin juga foto-foto kenangan jaman dulu.

    Dan harus saya akui, foto-foto diatas adalah yang terbaik (mode narsis: gagal di-OFF! = p).

    Mode narsis: really OFF

    Aduh, saya rindu banget masa-masa itu...

    NB: this blog is getting personal again!

    NB lagi: sebenernya sih ngisi kekosongan postingan aja sih (gile, bulan ini tanpa postingan berarti!)…hehehe, ketauan deh motifnya. Tulisan yang benernya ntar deh (kalo ada dan kalo niat).

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Teknik Industri, daily, kehidupan, me