Sebuah aggregator blog..
25 Jun
Agak basi sih, soalnya kedua bukunya terbit sekitar 2005-2006-an. Tapi tak apalah. Baru dibaca hampir selesai keduanya baru-baru ini, dan baru kepikiran serta mensintesiskan (halah bahasanya!) juga sekarang-sekarang ini.
Blink itu bukunya Malcolm Gladwell, kolumnis the New Yorker. Membaca Gladwell itu, menurut saya, asyik banget, soalnya pengetahuan yang disajikan kadang-kadang hal yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Di Tipping Point, misalnya, ia berteori tentang hukum-hukum perubahan sosial. Teorinya masih spekulatif, tapi beragam kisah-kisah nyata yang dia ceritakan membuat pembacanya bergumam, “oh iya bener juga ya...”. Sampai-sampai di buku Change kedua Rhenald Kasali, dibahas juga tentang ‘teori’ Gladwell ini. Selain itu, Gladwell juga banyak mengilustrasikan dengan cerita dan kisah-kisah (nyata), yang kalau menurut buku yang dulu saya baca, argumentasi yang paling influential (saya nggak bilang baik atau benar) adalah dalam bentuk cerita ini. Itulah kenapa, di kitab-kitab agama, ada banyak sekali cerita. Nah, dari cerita-cerita yang diceritakan di bukunya itu, Gladwell menyambungkannya, membuat generalisasi, menarik konklusi.
Begitu juga di Blink. Gladwell membukanya dengan kisah di getty museum. Tentang pakar yang dalam beberapa detik pertama bisa merasakan ketidakberesan patung kouros (patung Yunani kuno) yang akan dibeli museum itu. Ia berteori, ada cuplikan tipis yang bisa dirasakan saat kita melihat sesuatu, dan dalam banyak kasus, kesan pertama itu benar. Terbukti patung kouros itu palsu.
Pesan dalam buku ini, otak manusia, bawah sadarnya (tapi bukan subconscious mind a la freudian) sebenarnya mampu melakukan proses blink, merasakan dan memberi penilaian yang akurat dalam 2 detik pertama. Dengan persyaratan tertentu. Tapi itu kita bicarakan nanti.
Michael R. LeGault, pernah jadi kolumnis juga di Washington Times (kayaknya agak beda kubu deh dengan New Yorker), menulis Think, untuk ‘menanggapi’ Blink. Sebenarnya kata ‘tanggapan’ atau ‘kritik’ atas Blink tidak tepat juga, soalnya tentang itu cuma dibahas di bab awal. Most of the book sih bicara tentang keprihatinan dia tentang bangsa Amerika yang terdegradasi semangat dan kemampuan berpikirnya. Kemampuan bangsa Amerika untuk berpikir kritis dan menganalisa sebelum memutuskan, menurutnya, menurun jauh. Padahal, Amerika pernah punya segerombolan filsuf yang melahirkan satu school of thought sendiri, pragmatisme. Bangsa Amerika lah yang berani lepas dari Inggris dan mendirikan suatu negara baru dengan konsep dan filosofi kenegaraan yang inovatif. Bangsa ini juga yang mencapai kemajuan sedemikian rupa, sehingga sekarang menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.
Fenomena semacam blink ini, yang LeGault sebut psikologi/filosofi new age-feel good, yang salah satunya mendegradasi kemempuan berpikir bangsa Amerika. Ia juga menyebut faktor-faktor lain: egalitarian intelligence (pendidikan agar sesuai dengan benak seseorang, bukan membentuk otak seseorang), political correctness, media (terutama TV) dan kacaunya pemasaran, dan mitos tentang stress & informasi yang berlebihan. Akibatnya jelas, contohnya menurunnya peringkat siswa Amerika dalam matematika dan kemampuan membaca, serta kegagalan-kegagalan dalam keputusan publik (yang anehnya, tidak saya temukan contoh kegagalan terbesar dan terbodoh dalam public policy US gov: keputusan perang Irak).
Berbeda dengan buku-buku Gladwell, buku LeGault ini lebih mirip runtutan opini argumentatif dan kemarahan, dan karena ditujukan untuk publik Amerika, terasa sangat ‘patriotis’ dan amerika-sentris. Membacanya tidak terlalu fun (beda dengan Gladwell), tapi tetap penting untuk diikuti. Kadang-kadang saya sebel, karena sambil menunjukkan buruknya AS, tapi tetap aja mengagungkannya di atas bangsa lain (terutama Eropa, yang dianggap sekelas. Ya jangan tanya negara-negara dunia ketiga...). LeGault ini kayaknya jenis orang amerika yang konservatif, nasionalis-patriotis, dan republikan tradisonal. Pandangan-pandangannya mirip...
Nah, dari situ: blink atau think? Pandangan sekilas dan intuitif, cepat, dan konon bisa akurat (menurut Gladwell) atau pemikiran dan analisa mendalam dengan beragam data tetapi lebih lama?
Kasus-kasus yang dibedah Gladwell menunjukkan bahwa blink juga bisa akurat. Beberapa diantaranya malah signifikan secara statistik. Sementara conventional wisdom bilang bahwa keputusan dengan lebih banyak data dan pertimbangan lebih baik daripada keputusan intuitif.
Sebenarnya saya percaya dengan proses berpikir. Kemampuan inilah, berpikir secara mandiri yang bebas dari dogma dan mitos, yang membuat beragam penemuan, sehingga kita mencapai kemajuan sampai sekarang ini. Ada spekulasi (opini) dalam dunia Islam bahwa yang membuat peradaban Islam mundur adalah ketika muslim takut berpikir. Zaman pertengahan Islam, para ilmuwan muslim sangat terlecut untuk berpikir karena memang diperintahkan Qur’an. Sampai-sampai beberapa ilmuwan/filsuf ada yang dianggap kebablasan. Al-Ghazali, konon, sering dituduh sebagai pihak yang bertanggungjawab. Hujjatul Islam ini sebegitu cerdasnya, dengan Ihya Ulumuddin dan kitab-kitab lain, sehingga ‘mengalahkan’ para filsuf-pemikir bebas dalam dunia Islam seperti Averroes.
Opini itu,IMHO, sejenis perspektif renaissance dalam menilai sebab runtuhnya peradaban Islam. Tak perlu ditolak mentah-mentah, cukup dipikirkan secara kritis. Ketika muslim takut berpikir, semangat renaissance sendiri adalah Sapere Aude, alias berani berpikir! Semangat inilah, yang terus diwariskan dalam pendidikan Liberal Arts, yang membuat peradaban barat begitu maju. Sampai sekarang, bahkan di kurikulum sekolah bisnis pun, jenis mata kuliah seperti liberal arts ini masih ada.
Dogma atau mitos, bisa juga menyelinap dalam bentuk-bentuk lain. Inilah yang sejatinya menjadi concern LeGault. Kalau dulu yang menghambat dan membuat takut adalah otoritas gereja yang keterlaluan, sekarang adalah filosofi new age-feel good, yang dikhawatirkan LeGault makin merebak dan mendegradasi kemampuan berpikir Amerika. Juga political correctness. Ia menulis dengan ironis, masa’ iya seorang editor jurnal harus menyeleksi dengan mempertimbangkan political correctness-nya? Bagaimana dengan kebenaran ilmiah itu sendiri? Ia menyebut beberapa isu yang harus politically correct: multikulturalisme, gender/sex orientation equality. Kadang-kadang memang benar. Kalau di Indonesia, coba aja menulis di mainstream media, tentang pluralisme yang agak berbeda dengan pengertian politically correct pluralisme. Kalau dimuat bilang ke saya, ntar saya traktir =p.
Jadi, think lebih dipilih? Tidak juga. Coba bedah lagi buku Blink. Contoh-contoh di sana, yang melakukan Blink, semua adalah expert. Seoarang pakar. Yang terbiasa melatih diri, berpikir terus secara rutin dalam bidang-bidangnya. Gladwell menceritakan tentang proses blink ahli seni, para musisi profesional, pencicip makanan profesional, psikolog yang meneliti wajah lebih dari puluhan tahun. Memang, ia juga menceritakan mahasiswa-mahasiswa yang mampu secara akurat menebak dosen tertentu baik atau tidak dengan sekali pertemuan, yang hasilnya akurat dengan penilaian dengan proses yang lebih lama. Namun coba pikir lagi,mahasiswa telah mengenyam lebih dari 12 tahun pengajaran: mereka juga seorang expert dalam diajari. Contoh uji rasa Pepsi-Coca Cola menunjukkan juga kesalahan blink orang awam: penjualan Coca Cola selamanya lebih baik daripada Pepsi (meskipun saya prefer Pepsi, karena keberpihakan pada pihak tertindas, he33x).
Jadi? We can do both. Otak manusia memang mengagumkan. Dengan syarat tambahan untuk melakukan blink: jadilah expert dulu. Berlatih teratur, berpikir teratur tentang subyek itu. Ibu saya bisa memilih buah mana yang baik dari sekeranjang buah di pasar dengan sekali lihat, sementara saya selalu salah memilih buah meskipun berbelanja dengan durasi lebih lama. Itu jelas, karena Ibu saya telah lebih dari 40 tahun belanja buah.
Lakukan keduanya. Asal jangan malas berpikir aja. Ironis, karena akhir-akhir ini saya sedang mengalaminya. Semoga tulisan ini juga adalah upaya menyemangati diri.
Wallahu A’lam Bis Showaab.
20 Jun
Sebuah curhat.
Dari sini, tiba-tiba saya menemukan sebuah istilah yang cukup representatif menjelaskan apa yang sedang saya alami. Quarterlife Crisis. Dalam bahasa Indonesia, saya terjemahkan (dengan seenaknya, tentu saja. Namun, masukan perbaikan sangat dinanti!) jadi “Krisis Seperempat Baya”.
Dari ciri-ciri yang ditulis oleh Om Wiki (atau Tante Wiki. Kita tinggalkan saja perdebatan gendernya disini!), sebenarnya sih saya merasa belum sejauh itu (apalagi kalau ciri yang “desire to have children”). Cuma kalau menilik kapan biasanya ini terjadi (yang mungkin, benar atau tidaknya krisis ini terjadi juga secara ilmiah juga masih bisa diperdebatkan), rasanya saya perlu waspada. Mengutip wiki: ... they occur shortly after a young person – usually an educated professional, in this context – enters the "real world". After entering adult life and coming to terms with its responsibilities, some individuals find themselves experiencing career stagnation and/or extreme insecurity.
Oke, saya ralat. Dari pembacaan lebih jauh, ternyata saya tidak (belum?) mengalami krisis ini. Mungkin pre quarterlife crisis. Timbul saat kita lulus, saat ada begitu banyak kesempatan dan pilihan (atau sedikit kesempatan, tapi pilihan tetap banyak), dan tiba-tiba kita jadi gamang dengan kenyataan: hidup sulit!
Saya mengingat kembali keputusan-keputusan penting dalam hidup saya. Satu hal saya sadari, ternyata tidak ada sebuah keputusan yang saya ambil secara independen. Oh, ada, kemarin waktu nolak. Selain yang kemarin itu,sebenarnya agak malu juga mengakui secara publik, saya pikir sebelumnya saya percaya pada significant others dalam keputusan-keputusan penting. Saya pindah ke Cirebon dari Ciamis, ya ikut orang tua. Masuk TK-SD-SMP Islam Al-Azhar Cirebon, disuruh orang tua. Pindah ke Bandung terus masuk SMUN 3, karena saya tak menolak waktu diminta orang tua. MasukTI- ITB? Mmm, yang ini half-independent. Saya mendapat momen ‘Aha’ saya dalam memilih TI dari perbincangan sambil lalu dengan Agung (mungkin Agung juga nggak inget pernah ngobrol tentang ini...). Waktu itu lagi les SSC, kebetulan di sebelah saya Agung, dan saya nanya, “pilih apa, Gung?”
“TI”, kata dia.
“Kenapa?”
“Soalnya saya mau dapet yg teknik juga, tapi manajemen juga” (atau kalimat semacam ini). Kalimat ini diucapkan dengan gaya khas Agung yang tenang dan meyakinkan.
Wow. Saat itu segera saya teryakinkan, iya deh, kayaknya asyik. Pilih TI aja!
Dua tahun kemudian saya stress karena dengan bodohnya telat daftar praktikum di Mesin, dan diancam untuk di-E-kan oleh mas asisten. Saya juga bete karena TI koq kayak Mesin di awal-awal.
Dan kemana Agung? IF sodara-sodara. Setelah menjerumuskan saya, dengan seenaknya dia masuk IF (hehehe, peace Gung! =p ).
Masalah kedua dalam penentuan keputusan-keputusan penting saya ialah masalah klasik, informasi asimetris. Sekarang saya agak skeptis dengan perencanaan pribadi yang detil (tapi tetap saya buat, untuk kemudian kadang secara reguler atau seenaknya saya ubah), semata karena saya percaya informasi asimetris ini selalu terjadi, bahkan di zaman berlimpah informasi ini.
Meskipun dari dulu sampai sekarang saya selalu nurut dengan guru pengembangan diri (Tuliskan target-targetmu! Visimu! Dengan detil,dan rasakan itu hadir!), sekarang saya selalu siap untuk mereview dan mengubah-ubah lagi. Masalahnya sama, akan datang suatu masa di masa depan saat ada info atau pengetahuan baru masuk dalam kesadaran kita. Entah pengetahuan tentang diri, tentang hal yang menjadi target kita, atau tentang dunia. Ingat Johari Window? Selalu ada wilayah gelap, yang kita tidak tau dan orang lain juga tidak tau – saat ini. Di masa mendatang, ada pengetahuan-pengetahuan dari sini yang pindah kuadran, sehingga kita jadi tahu. Celakanya, atau untungnya, pertambahan ini bisa mengubah rencana kita.
Tetapi apakah visi-misi-tujuan-goal-legenda pribadi itu tidak berguna? Ya tidak juga. Mau nggak mau kan kita harus memutuskan, apalagi informasi asimetris itu niscaya. Harus ada suatu titik dimana kita merasa cukup lalu memutuskan, untuk kemudian juga harus ada fleksibilitas di masa depan untuk berani mengubah, entah realitas atau persepsi kita.
Nah, setelah lulus, kedua hal tadi makin gawat membuat bingung. Membuat semacam krisis. Tidak ada lagi yang membantu membuat keputusan penting, semua ditanggung sendiri (sebenernya dari dulu juga ditanggung sendiri...). Lalu, informasi asimetris itu selalu terjadi, ketika semua pilihan terbentang, and we think we know, but we actually don’t! Jadinya bingung.
Lho, emangnya lo nggak tau apa yang lo mau dari hidup lo? I think I know (with skeptic tone). Dan banyak yang saya inginkan, dari hal yang paling mulia hingga paling ‘sampah’ tapi bermakna buat saya.
Jadi? Pertama ya bersyukur...Ternyata momen-momen keraguan, kegelisahan, pertanyaan-pertanyaan itu datang lagi, setelah hampir 2 tahun ini hidup nyaman. Biasanya sih, setelah ini akan ada semacam insight, insya ALLAH. Bukankan setelah kesusahan ada kemudahan? Hidup yang tidak sulit juga bukan hidup yang pantas dirayakan...Terus? Mari berencana, mari menunggu apa yang akan datang, mari mengubah-ubah lagi yang kemarin. Lalu lakukan. Untuk kemudian tunggulah, berharaplah krisis berikutnya akan datang.
Mohon doanya.
Wallahu a’lam bis showaab.
9 Jun
7 Jun
Mentari mengucapkan salam perpisahan
Ketika itu seekor ayam jantan datang sendirian
dia bicara soal kecintaan
kau padaku, bukan khayalan
Perlukah kupercaya?
Seekor ayam jantan sering bermaksud membangunkan
tapi dia berkokok menjelang malam
6 Jun
Ada dua artikel Kompas yang sangat menarik hari ini (6 Juni 2007). Yang pertama membahas formasi dan sirkulasi Ruling Elite di Indonesia menurut Anies Baswedan (Gerak Zaman dan Sirkulasi Kepemimpinan), hasil diskusi terbatas Kompas (laporan pertama). Yang kedua, Soekarno dan Gerakan Mahasiswa, opini dari Baskara T Wardaya.
Menurut Anies, ada 4 periode kepemimpinan (masing-masing 60 tahun) berdasar jalur rekrutmennya sepanjang tahun 1900 hingga 2020 dan selanjutnya. Pertama, yang terekrut lewat pendidikan modern, dan ruling elite-nya ialah intelektual (berakhir 1960-an). Inilah generasi Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir (Natsir pun hasil pendidikan ‘modern’ kan?). Kedua, terekrut lewat masa perjuangan fisik (mulai 1940), dan ruling elite-nya adalah angkatan bersenjata (Berakhir sekitar 2000-an). Inilah masa Moerdani, Try Soetrisno, dan tentu saja Soeharto (kok dari Angkatan Darat semua?). Ketiga, jalur rekrutmennya adalah organisasi massa/politik, dan ruling elite-nya ialah aktivis (sekarang masih berlangsung, surut pada 2020). Inilah generasi Amien Rais (pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, kontributor aktif Mingguan Mahasiswa Indonesia bersama juga Goenawan Mohammad dan Dawam Rahardjo), Akbar Tanjung (sempat menjabat ketua PB HMI), hingga Yahya Zaini (!). Terakhir, baru dimulai sejak 1990, yang terekrut lewat pasar/dunia bisnis, yang baru akan memulai periode maturitasnya pada tahun 2020-an. Ruling elite-nya: Pengusaha/pelaku bisnis.
Baskara membahas tentang gerakan mahasiswa masa Soekarno dkk dan sekarang (saya pribadi berpendapat, gejalanya mulai terlihat sejak 1960-an). Masa Soekarno: kuliahnya tekun dan selesai tepat pada waktunya (artinya, secara akademis cerdas! Pernah lihat bangunan hasil Bung Karno atau baca teori ekonomi Hatta? Wow!), sangat intelek (banyak membaca selain untuk keperluan studi formal), mengakar, dan berorganisasi. Masa sekarang (sejak 1960-an?), mahasiswanya relatif tak antusias dalam studi formal, cenderung sektarian, dan kurang intelek pula…
Dengan sedikit pengetahuan dari Pak Baskara (beliau juga pernah menulis artikel yang sangat bagus tentang Supersemar), dan saya tambahkan generalisasi brutal dan pengetahuan sok tahu, mari kita kenali lebih dalam per generasi. Juga, mari membuat semacam ramalan akan seperti apa generasi para business people nanti.
Masa 1900-an adalah masa saat Hindia Belanda sedikit beruntung karena politik balas budi pemerintah Belanda. Inlander bisa sekolah, yang lebih beruntung malah bisa sekolah di Belanda. Keseriusan para founding fathers kita bersekolah juga membentuk pola pikir yang akademis dan khas intelektual, yang nantinya terlihat dalam cara berprilaku politiknya. Kedekatan dengan rakyat dan semangat kemerdekaan juga memberi pengaruh. Setiap intelektual itu hampir selalu merasa self-righteous, dan ini juga kelihatan dari konflik-konflik antara Hatta-Soekarno, Soekarno-Natsir, atau Soekarno-Syahrir. Konflik yang terjadi khas intelektual: karena perbedaan pendapat apa yang dianggap benar. Bukan konflik golongan (meskipun nantinya menjadi konflik golongan, karena masing-masing punya pengikut dan para sejarawan demi kemudahan melakukan penggolongan). Seperti juga intelektual yang fair, konflik itu tidak terseret pada konflik antar personal. Hubungan antar pribadinya memang sempat menegang, tapi kemudian baik-baik saja. Kedekatan dengan rakyat dan semangat keindonesiaan juga membuat kompromi-kompromi (sikap mengalah?) terjadi, asal Indonesia bisa merdeka dulu (ingat sidang-sidang BPUPKI atau PPKI?).
Jeleknya ialah, karena masing-masing ngotot dengan apa yang dianggap benar, dan kompromi yang terjadi tidak diikuti dengan kerja sama yang apik setelahnya, bangsa Indonesia ini dibawa ke suatu arahan sangat ambisius oleh Soekarno, dengan konflik-konflik keyakinan/ideologis elitnya yang selalu terjadi.
Yang paling sebel dengan kondisi konflik seperti itu ya para pejuang fisik, mereka yang ada di barak. Dibesarkan dengan hirarki yang ketat, ketaatan pada pimpinan, suasana yang selalu ingin teratur-disiplin, dan pengetahuan sederhana: demi NKRI, ditambah adanya kesempatan yang diantaranya didorong para mahasiswa (angkatan 1965, yang kurang intelek dibanding generasi 1900-an), jadilah ruling elite-nya kaum yang bersenjata. Cirinya ialah kepemimpinan yang kuat, dan dibuat hirarkis. Ada Kodam, ada RT-RW, ada struktur rapi hingga ke pusat. Yang penting stabil untuk pembangunan ; kekuatan-kekuatan kritis dibungkam. Masa itu juga adalah masa perang dingin, yang meskipun secara teori politik luar negeri Indonesia ialah bebas-aktif, pembangunan ekonominya lebih bercorak kapitalistis daripada sosialis (lebih dekat ke blok Barat daripada Timur). Mungkin karena dibesarkan secara militer, ya tentu saja penggunaan kekerasan juga sah-sah saja. Namun, tak bisa terus menerus riak ditahan. Pada suatu waktu yang tepat, juga didorong lagi oleh para mahasiswa (yang lagi-lagi, kurang intelek), jadilah para aktivis yang mengambil peran sebagai penguasa.
Para aktivis, bersama para scholar sejati, sebenarnya menjadi warga negara istimewa kedua setelah orang-orang berpangkat. Mereka magang menjadi teknokrat di masa kejayaan Soeharto, menempati pos-pos sebagai menteri dan staf-staf ahli. Repotnya para pemimpin aktivis ini, dibesarkan dalam lingkungan yang makin sejahtera, tetapi gamang mencari penghidupan (karena kuliahnya jelek), jadinya arena politik menjadi karir (lihatlah karir Akbar Tanjung, sarjana Teknik Sipil UI yang saya ragu apakah pernah megang proyek konstruksi atau nggak setelah lulus). Jadi full-time politician, mencari penghidupan sebagai politisi. Ada juga yang serius menjalani profesi sebagai akademisi atau bidangnya dulu, dan mereka yang terakhir ini yang relatif lebih bisa dipercaya. Nurcholis Madjid, GM, atau Amien Rais misalnya. Sayangnya, mereka-mereka ini nggak terlalu marak di politik. Mereka yang magang bersama Soeharto belajar dan membentuk kultur yang pragmatis, oportunis dan korup, mungkin karena kekurangintelekannya dan tidak terlalu jelas ideologinya. Kaum kedua yang relatif lepas dari kekuasaan malas masuk ke pemerintahan, dan lebih suka berkoar-koar di luar sistem. Ketika masuk pun ternyata somehow terpengaruh dan koruptif (Mulyana Kusumah, atau kasus-kasus intelektual lain yang aktif di politik).
Sudahlah, sudahlah. Generasi ini akan surut pada 2020. Mari kita perhatikan the rising generation, generasinya para pebisnis. Bermula pada 1990: puncak kejayaan dan kesejahteraan Orba, awal maraknya revolusi teknologi informasi, dan sejak 1998, awal demokratisasi Indonesia. Ini juga masa ekonomi pasar digdaya meng-KO sistem komunis, dan masa pop kultur yang sangat massif (sebenarnya sejak 1980-an) menghajar. Zaman sekarang pemimpin kalangan business people juga punya contoh: Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, juga Surya Paloh, Fidel Muhammad, dll. Menurut Anies, “kader pemimpin masa depan adalah anak muda yang saat ini berusia 30-an dan berada di wilayah komersial. Sebagian besar memiliki latar belakang aktivis dan memiliki basis intelektual, dan masih tersembunyi dari publik serta bukan berasal dari kerajaan bisnis yang telah ada”. Sekarang, para pebisnis ini sering disebut middle class yang sangat diam, cenderung apatis. Kalangan bisnis zaman 1990-an yang akan memuncak mulai 2020-an akan berbeda dari zaman 1970-1980-an, karena masa itu kebebasan informasi yang mencerahkan tak semarak tahun 90-an.
Saya mencoba menduga, kenapa mereka ini memilih sektor privat? Karena kecewa, mungkin, melihat senior-seniornya di kampus dulu yang sekarang menjabat. Tapi mengingat zaman yang makin materialistis, saya menduga alasannya lebih duniawi: pengen kaya. Dan alhamdulillah, secara halal. Pada satu sisi, ini akan menjadi perkembangan bagus, karena motif berpolitiknya bukan motif finansial. Pada sisi yang lain akan menjadi gawat, ketika motifnya ialah untuk pengembangan bisnis atau menjaga bisnisnya. Apalagi sering disebut kapitalisme di Asia Tenggara adalah kapitalisme semu, crony capitalism. Tahun-tahun mendatang akan menjadi milik para pemodal juga masuk akal, mengingat proses-proses politik sekarang memerlukan biaya yang sangat mahal dibandingkan dulu.
Seperti juga para generasi sebelumnya yang dipengaruhi karakteristik lingkungannya (lingkungan epistemologis, istilah Yudi Latif), kira-kira sikap bagaimana yang akan ditunjukkan pemimpin dari kalangan bisnis ini?
Mungkin akan sangat well-managed, efektif, dan efisien. Get things done. Quick learner, and dare to take new challenge, with entrepreneurial spirit (loh, kok kayak strong points buat wawancara di MNC? hehehe…). Gawatnya ialah kalau terlalu probisnis, tetapi insya Allah kalau intelek dan keberpihakan ideologisnya jelas mereka akan jadi pemimpin yang sangat baik. Pemerintahan akan tampak seperti perusahaan, yang kalau dibawa ke titik ekstrem akan tidak baik.
Ini lagi pesan Anies, “jadi kira-kiranya, kalau ada anak muda tahun 1980-an berminat menjadi pemimpin dan masuk Akademi Militer (ya) salah jalur”. Seperti juga tahun 1900-an yang tak mengecap pendidikan modern, atau tahun 1940-an yang lupa masuk Akmil. Tahun sekarang? Masuklah sektor bisnis, dengan pengalaman beraktivitas, sambil tetap membaca beragam hal, membuka mata pada dunia, dan memupuk karakter.
Kita doakan para pemimpin berikutnya (dari kalangan manapun) akan membawa Indonesia ini bangkit! Aamiin.
2 Jun
Sejenak kukecapi yang tlah kuteguk habis
Manis terasa masam, cinta terasa luka
Sejenak kukatakan hatiku ini sadis
Malas terbentur curam, cita-cita menjadi duka
Mulutku menganga tapi tak bersuara
Hatiku menangis tak berair mata
Senyum dan senyum bagi semesta
Tak tahu sudah kemana pergi gelora