Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for April, 2007

4 kota, 7 musim

Saya bukan tipikal orang yang suka jalan-jalan apalagi melancong. Berpergian cukup seperlunya saja. Intinya tipikal orang rumahan. Bisa jadi ini yang membuat kemampuan spasial saya tidak terlalu bagus. Terbukti dengan seringnya saya tersasar entah dimana:). Tapi apa mau dikata, hingga kini saya telah merasakan tinggal di 4 kota. Saya lahir dan besar di Madiun. Sebuah kota dataran rendah yang ada
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • …feel like…

    After surfing through this,
    this and this...

    I really feel like taking some pictures. #_#
  • Comments Off
  • Filed under: sampah
  • Karena Hormon (?)

    Sewaktu jalan-jalan di Gunung Agung, nggak sengaja saya liat buku ini: the Female Brain. Ditulis oleh Louann Brizendine, di Indonesia diterbitkan oleh ufukpress. Saya scanning bentar, dan langsung pengen beli. Tapi apa daya, ga punya duit…

    Alhamdulillah, ternyata di kosan, Aan udah punya. Langsung deh dipinjem.

    Membaca buku ini, saya teringat guru Biologi saya di SSC, Pak Bambang, yang berhasil membuat saya (sedikit) jatuh cinta pada Biologi (mm, yang bagian hormon dan reproduksi aja sih…=p). Waktu itu beliau memberi wejangan pada para pria kalau menemui wanita yang sensitif, cepet banget marah, stress, sedih, dll. Saran beliau waktu itu sederhana: mengertilah, dan tanyakan, “sebentar lagi ‘dapet’ ya?” =p

    Menjelang menstruasi, progesterone surut, begitu juga dengan efek menenangkan yang dibuatnya. Fakta-fakta semacam itu, banyak ditemukan pada buku ini. Saya jadi lebih paham, tentu saja ALLAH menciptakan dengan sebaik-baiknya manusia, pria dan wanita. Sangat alamiah, sampai saya berani menyimpulkan, dengan argumen yang biologis-ilmiah: ini bukan hanya konstruksi sosial, tapi kodrat. Paragraf-paragraf berikut akan membahas stereotyping yang biasa kita temukan, beserta penjelasan hormonalnya dari buku ini.

    Stereotipe pertama: dalam hubungan sosial, perempuan lebih ‘emosional’ dan sensitif. Benar! Ini bahkan terjadi sejak perempuan masih bayi. Awalnya, semua otak manusia adalah otak perempuan, tapi pada perkembangannya, otak pria lebih banyak direndam testosterone sehingga mematikan sel-sel tertentu di pusat komunikasi, dan menumbuhkan lebih banyak sel di pusat seks dan agresi. Bayi perempuan lebih sensitive terhadap wajah-wajah yang dilihatnya. Mereka bahkan mengetahui emosi dari wajah yang dilihatnya, dan hanya dengan melihat wajah, ia akan menyimpulkan apakah dirinya diterima, dicintai, berharga, atau malah tak diinginkan dan menjadi beban. Menurut pengarangnya, anak-anak perempuan tak bisa menoleransi wajah yang datar. Wajah yang datar diinterpretasikan sebagai akibat dari kesalahan yang telah ia lakukan. Makanya sangat tak baik dibesarkan oleh ibu-ibu yang depresi, berwajah selalu sedih dan tak responsif. Bayi perempuan mungkin akan merasa tak diinginkan.

    Semakin besar, anak perempuan juga semakin peka terhadap wajah, nada suara, dan suasana. Kalau ada orang dewasa sedih karena persoalan yang rumit, anak perempuan akan tahu dan menghibur. Ia tahu ada yang tidak beres meskipun tak mengerti masalahnya. Saat dewasa, misalnya, kemampuan ini makin hebat lagi. Perempuan bisa mencerminkan (merasakan sendiri) apa yang dirasakan atau dipikirkan pasangan yang dicintainya bahkan saat pikiran itu belum menyeruak di kesadaran si pria! Perempuan juga 4 kali lebih mudah menangis, para perempuan di sekitarnya juga akan tahu jika teman perempuannya akan menangis (dari kemampuannya membaca wajah), tetapi para prianya hanya akan heran dan berkomentar dogol: “kok gitu aja nangis?”. Para pria baru sadar gawatnya sesuatu baru setelah melihat air mata, dan saat itu sebenarnya sulit untuknya untuk melakukan sesuatu yang meredakan tangisan perempuan. Soalnya, otaknya akan berpikir: saya telah gagal dan telah tak diterima. Jadi, ia mungkin akan menunggu atau menghibur dengan rasa bersalah, sekaligus gengsi dan tidak nyaman.

    Stereotipe kedua: perempuan tomboy karena pengasuhan. Sebenarnya, tidak! Ada sebuah kondisi defisiensi enzim yang disebut conginetal adrenal hyperplasia (CAH), yang membuat janin perempuan memproduksi testosterone, sehingga akibatnya menjadi lebih agresif, lebih tidak sensitive, dan mirip anak laki-laki. Tapi, ini cuma satu diantara sepuluh ribu bayi.

    Stereotipe ketiga: perempuan suka drama dan dramatisasi. Ya, dan yang paling bertanggungjawab adalah estrogen dan progesteron, yang makin meningkat sejak remaja. Karenanya, perempuan bereaksi berbeda-beda, membuat dramatisasi yang fluktuatif seiring fluktuasi 2 hormon tadi. Ia mulai memperhatikan tubuhnya, dan timbul pikiran-pikiran seperti: do I look good with this…? Ia menjauhi konflik, karena kontak sosial dan keharmonisan memicu oksitosin yang memberi rasa nyaman.

    Stereotipe keempat: laki-laki adalah pengejar dan perempuan pemilih. Menurut buku ini, benar. Dari perspektif evolusi, perempuan membutuhkan kondisi yang terbaik sehingga anak-ankanya bisa tumbuh dengan baik. Karenanya, ia cenderung memilih para pria yang dapat memberi keadaan ini, yang dalam kondisi zaman ini, berarti preferensi untuk pria yang kaya dan berkedudukan sosial. Ada penelitian lintas kultural yang membuktikan sterotipe ini, tidak peduli bagaimanapun kondisi finansial perempuannya. Sementara laki-laki mengejar perempuan yang menarik secara visual, dan ada penjelasan evolusionis lucu sekaligus logis dalam buku ini: menurut laki-laki, perempuan yang menarik secara visual merupakan perempuan subur dan most likely akan tak masalah dalam melahirkan keturunannya. Ini naluri purba dan bawah sadar, konon.

    Stereotip kelima: perempuan (juga laki-laki) tidak rasional saat jatuh cinta. Saat jatuh cinta, sirkuit otak untuk berpikir kritis dimatikan. Saat itu, otak banjir oleh senyawa-senyawa pemberi kesenangan seperti dopamin, estrogen, oksitosin dan testosterone. Amigdala (sistem siaga-rasa-takut) dan anterior cingulate cortex (sistem kekhawatiran dan berpikir kritis) tak berfungsi. Aktivitas-aktivitas seperti memandang, menyentuh, membelai, memeluk, mencium akan menguatkan oksitosin-dopamin, dan menyebabkan efek seperti kecanduan (minimal 6-8 bulan). Saat jauh, pasangan yang saling jatuh cinta akan merasa sangat rindu (karena oksitosin-dopamin yang bisanya ada oleh interaksi intens tiba-tiba dicabut), dan butuh untuk bertemu kembali (dan berpelukan, seperti di film-film. Kenapa? Pelukan minimal 20 detik membuat oksitosin-dopamin aktif lagi).

    Masih banyak lagi pengetahuan berharga yang bisa didapat dari buku ini. Ternyata, panjang vasopressin laki-laki berbeda-beda, dan panjang pendeknya menentukan kecenderungan seorang pria: monogamis atau poligamis (mungkin karena ini juga poligami itu dibolehkan, tapi saya gak mau ini dijadikan sejenis pembenaran). Otak seorang ibu yang sangat luar biasa, dan memang diciptakan untuk terus menjaga anaknya. Perubahan-perubahan hormon yang dialami perempuan sejak remaja, awal dewasa matang, saat jatuh cinta dan berpasangan, saat menikah dan berhubungan seksual, melahirkan, hingga saat masa matang. Saat membahas otak yang matang ini, sampai-sampai saya menyarankan seorang teman perempuan saya yang tadinya niat mau menikah lama. Mendingan segera. Soalnya, semakin tua dan mendekati kematangan, estrogen semakin melemah, naluri-naluri keperempuanan yang emosional, mementingkan hubungan dan orang lain juga semakin melemah. Masa ini, perempuan makin ‘egois’, dan akan baik untuk karir dan mencapai ambisi-ambisi pribadinya. Kan repot juga ketika waktu itu tiba, tapi anaknya masih kecil-kecil…Bukan apa-apa, kasihan anaknya, dan tak baik untuk evolusi manusia =p.

    Buku ini juga menyisakan sebuah perenungan: semua karena hormon? Jadi, perdebatan lama tentang nature atau nurture itu dimenangkan oleh nature?

    Pendapat saya sih, tidak. Saya percaya tiap manusia diberi amanah oleh ALLAH (Al-Ahzab:72), amanah yang hanya diterima manusia: untuk melakukan pilihan. Free will. Jadi, meskipun seorang pria jatuh cinta, misalnya, tapi ia tak mau jadi tak rasional dan tiba-tiba jadi dungu, ia bisa memilih untuk menjauh dahulu, tidak berinteraksi langsung, supaya dopamine-oksitosinnya tidak terkuatkan. Pada akhirnya, segala seluk beluk tentang hormon ini bukanlah suatu hal yang deterministik. Tetap berguna, minimal untuk input dalam melakukan pilihan-pilihan.

    Very recommended reading!

    Wallahu a’lam bis showaab.

    Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui

    Pada 21 April 2007, tidak diniatkan sebagai tulisan menjelang hari Kartini.

  • Comments Off
  • Filed under: Refleksi, belief, resensi buku
  • My DNA.

    See mine? It's quite a good analysis bout me. hehehe..Do yours too and see how we match.

    Grab Yours too..It's kewl. ihehe

    It turns out the longest posting..hawhehee..!! Hweehhe!
  • Comments Off
  • Filed under: sampah
  • Fumes outta Loco

    A few days ago, my mother asked me,"Have you ever talked to someone smoking?"
    I just shrugged and she added a lil more,"I've never done that.".

    "Have You?"

    "Sure ,"I'd replied. after a brief pause.

    Why would that be such a big thing? It's not big a deal.Thousand times in my high school years I'd gone home with clothes soaked with the smell of smoke. Never having mind sitting in a little cubicle of 3x3 having about 15 people smoking in it. Ewh. Sometimes I couldn't stand it and leave, but most time I'd stayed. Sometimes I thought I should've smoked myself than having had to endure twice the risk of being a passive smoker. Stupid Idea. But eversince, I'd grown into a woman who could stand smoke. Believe it or not, despite my writing here, I'd developed considerable tolerance towards smoking that most girls don't have. I..had been a victim. :-[


    But then, I'd realized her statement was an objection towards smoking guys. Whereas in fact I rarely had friend who doesn't. And even at times I do go out with those who does, even goes like a loco puffing the fumes pack a day, I wouldn't leave, though I'd speak my objection.


    But tell you what, guys. Though I wouldn't object hanging w/ you who does smoke, despite the so called people say that smoking's cool, smoking people doesn't appeal as an attraction to me. Ewh! BLAH! It might, as well eventually toren down all ideal perspective I'd had in a guy. No matter the quality of their brain or braun, the image off smoke puffing outta them is...erh...Hm...how should I describe it...The more I love you guys, the pitier I get.



    It's not that I'd deteste them who smoke. I've no objection whatsoever. It's just that I feel a pity towards them. How could they not appreciate their own body. How could they not respect people surrounds them. How could they not wanting to prolong their life. How could they sucked it till their lungs dried in pitch black colour. Aren't enough evidence showing the danger of smoking is out there? Can't they see?. Aren't they realize how (if they had) their baby would suck their smoke without any objection whatsoever.


    Are they not realizing that even narcotics are forbidden, they're in fact safer than tobacco? Yes it is. Drugs may reduce the effectiveness of your nervous system or declining your brain power. BUt they're NOT going to kill you! unless you took over dose of it of course. ihihi.. But Cigarettes! It's no way back for pitching black lungs. It's a sure body killer. Almost all heavy smokers died of lung cancer, or heart diseases. All caused by their smoking habit. Drug addict? Not some much for the prevalency! And they can cure. See the difference?


    Are they really turned on by those ironic and saturated tobacco ads on TV?! Is it that effective? Well if they do, twice the STUPPIDDITY!!


    Maybe, I'd learned that for guys under 24's, the attributes advertised-in the super ironic tobacco ads--may be one luring factor. Those who starts smoking below 20 would remain smoker more likely throughout their brief life. As the years gone by, the Ad may not as effective for those elderly with more security. But in the end It's all about habit and addiction.


    and Heck all products : Mild, light, low tar, full flavor, fruit flavored, chocolate flavored, natural, additive-free, organic cigarette, PREPS (Potentially Reduced-Exposure Products), harm-reduced… ALL are dangerous!!.


    And moreover, I put respect on myself. I wouldn't want to have the higher risk only by hanging out with smokers. I'm sorry guys. But I'd leave you with your ashtray. The relative risk of coronary heart disease associated with high levels of passive smoking is greater than that estimated by partner smoking alone, even at exposure levels of 20 cigarettes a day or more.". Fortunately the exposure in public places has been declining. =D. Hurrah.
    Whewfh. Enuft for guys.

    For girls too. It's a phenomena I'd say hehe. Well, for our culture of course Indonesian women are conspicuous in growing and processing tobacco, their rates of smoking are low in comparison with their male compatriots and internationally. Their disinclination to smoke is commonly attributed to cultural values, which stigmatise women smokers as morally flawed, while at the same time sanctioning smoking by men. The number has been increasing. especially in big cities such as Jakarta, with prevalency number of about 6.4% of women. Of course prevalency in guys outnumbers significantly, to almost 55 or 85%! ANyway, for women, it's the more pity I get than for boys. They have greater responsibility for their body. What are they thinking?!


    Hehe, but some guys I know, say that smoking women are sexy. Hm. I wouldn't object.


    I know, we may be living outta our smoke here in Indonesia. Despite the intoxicating fume, I do put high contemplation on this industry : The market is so high--esp kretek, the tax's soaring, the benefits of tobacco plants for the labour and the society in the whole is of course, undeniable. The tobacco industry is still the second largest employer after government!. Awch. And isn't it verrryy easy to gain sponsorship from tobacco company?! how lucrative they are! And mind my quoting.

    If this pattern of expenditure has continued to this day it is not feasible to argue that Indonesian people are gaining economically simply by being employed by the industry. Their income could be more fruitfully directed towards building other more worthwhile sectors of the economy. Instead, Indonesians are paying for the tobacco industry with their lives, simply sustaining the billionaires who exploit them (Catherine Reynolds)

    ***

    My family fortunately, doesn't smoke. My mom, as stated above, hate smokers. My grandfather died of lung cancer, due to his previous smoking habit. That's why she hates smokers so much, I'd say. Although, she's the one also that taught us (me and my bro), how to smoke, and show how it's not at all beneficial nor tasteful.


    So, If I ever given your my matches or ashtray, It's not that I'm ok with it. It's not that I'm NOT ok with it either. It's your body. I wouldn't mind as long I'm away from you. It's your own. I just feel a pity out of you. And the more I love you, the more pitier I felt.


    Cheers!!


    *loco in the title is for loco in spanish : crazy. or loco-locomotif...hihihi...

    **from the internet...

    ***image from an ad exhibition : It's cute ain't it.


    Anyway I love the evocative sense of kretek clove cigarettes. Hihihi..Body Shop has a parfume in that scent few years ago, I was wanting it badly but now they're not producing it no more. Ewh. Pity.


  • Comments Off
  • Filed under: good to know
  • dilema nikah syiri…

    Pas lagi dirawat di Rumah Sakit, pagi-pagi saya nonton kajian tentang Nikah Syiri. Kata pengisi acaranya ternyata akhir-akhir ini ada fenomena menarik yang melanda para selebritis Indonesia, setelah dulu rame dengan kasus perceraian, sekarang yang lagi rame adalah kasus nikah syiri (trus, saya manggut-manggut, hoo..gitu ya, maklum tak ada tipi di kosan). Dan ternyata hal ini tak hanya dijalani
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • A birthday gifts

    There are so many gifts, my dear/ Still unopened from ur birthday/ That have been sent 2u by God/ The Beloved doesn’t mind repeating/ ‘everything I have is also urs’ Alhamdulillah, nyampe juga 23 tahun. Frase diatas adalah sms milad favorit saya. Well, I can’t ask for more. Usia 23 tahun saya diawali dengan tipus, yang bagi saya adalah hadiah paling istimewa dari 4JJI. Karena dengan hadiah
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Dua Hari Minggu

    Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota 8 April kemarin saya mengikuti acara yang agak istimewa. Seminar Pra Nikah! Sebenarnya tadinya agak-agak males, soalnya kebetulan keluarga saya juga datang ke Bandung, tapi karena disuruh dianjurkan dengan sangat untuk ikut, maka dengan setengah sukarela (setengahnya lagi terpaksa, he33x) saya berangkat juga (dan kurang bayar infaknya, hihihi).

    Hari Minggu (kalau tidak salah) 2 pekan sebelumnya juga saya datang ke acara yang istimewa, minimal buat saya. Taman cinta Conello! He33x…Perlu diklarifikasi juga nih, tadinya saya agak-agak males, soalnya capek banget perjalanan abis dari syukuran Ubrit di Dago atas banget (Lembang), tapi pas mau nyampe kosan, Igun dengan susah payah dan tergopoh-gopoh (halah!) nelpon dan ngajakin, “Ki, ke taman cinta yuk!”. Demi melihat pengorbanannya (sekitar 3000-an lah buat pulsa telpon), maka saya datang juga ke Taman Cinta Conello.

    Nah, tulisan ini akan membahas 2 hari minggu yang istimewa itu. Istimewa? Bukan berarti baik atau buruk, hanya “tidak biasa” saja. Jadwal minggu saya biasanya rutin: menghabiskan koran minggu, acara keluarga, atau menghabiskan buku. 2 minggu itu berbeda, dihabiskan dengan cinta! Tiap paragraf akan menceritakan satu hari minggu, bergantian, terkadang dibandingkan. Sorry kalau bacanya nggak enak.

    Nah, setelah ditelpon Igun saya segera memarkir motor saya di depan taman Ganesha, tempat diselenggarakannya taman cinta Conello itu. Pada tahu kan, kalau Tasha (Taman Ganesha) itu yang di depan gerbang ITB, dan pas banget di sebelah masjid Salman. Agak ironis juga sih…Acara hingar bingar ini diselenggarakan di sebelah masjid. Namun, look at the bright side! Itu yang bisa saya simpulkan. Di taman cinta ini, ada pintu keluar darurat yang langsung menuju Salman. Itu pesan penting, kata Miftah, “kalau cinta udah darurat dan kebablasan, segera ke masjid!”, he33x. Maksudnya, ya kalau kebablasan atau kebelet, segera nikah lah di masjid…

    Di hari Minggu yang lain, di perjalanan sebenarnya saya masih bimbang nih, mau ke seminar pra nikah itu atau ke acara keluarga (sebenarnya ada satu acara lagi, tapi kadar kepentingannya kebetulan di bawah acara ini). Ternyata saya dapat kabar keluarga saya baru berangkat dari Cirebon, dan saya disuruh nunggu…Waduh, males dong…makanya saya langsung telpon Adit (yang sebelumnya di pagi hari dengan sangat semangat sekali menggedor kamar saya dan ngajakin saya) nanya acaranya udah mulai atau belum. Kata dia baru mulai ni…Saya segera menuju ke tempat acara, yang sebenarnya cukup jauh. Tempatnya di semacam pusat pendidikan guru, tapi sama asrinya dengan Tasha. Di sebelahnya juga ada masjid (jalan cukup jauh sih), tapi ya nggak ada masalah wong seminarnya ini formatnya Islami. Tapi pesannya juga sama, kalau abis seminar dan siap, ya segera ke masjid, he33x.

    Di Tasha setelah memarkir motor ternyata selain Igun juga ada Viar dan Miftah. Langsung semuanya cengar-cengir kuda. Tadinya kita agak gengsi buat masuk, tapi begitu melihat quote dari Ninit Yunita di depan gerbang (“cowok cool itu kaya es krim, pasti ada saatnya dia meleleh juga..”), terus terang aja, kita merasa tersindir, dan akhirnya meleleh dan ikut masuk (halah!). Kita beli Conello untuk tiket masuk (Huh! Dasar komersialisasi cinta!), Rp 5500. O iya, pas nulis ini saya jadi inget, dan saya sampaikan saja pada jagad blogosphere: Igun, Viar, bayar utangmu! = p. Dengan 5500 kita dapet tiket dan voucher untuk 3 stand: dokter cinta, games cinta, dan sepeda cinta.

    Di seminar, setelah memarkir motor saya celingak-celinguk…busyet pada gak kenal ginih! Ada ibu-ibu jualan jilbab, bapak-bapak jualan buku, dan penjaga tiket. Waduh, bayar euy…Perasaan si bos kagak bilang-bilang kudu bayar, padahal gw lagi kagak bawa duit…Jadilah saya bayar seadanya aja, cuma 10 rebu dari seharusnya 25 rebu (sorry ya panitia…). Namun, untung acaranya Islami, jadi boleh masuk juga, he33x. Dengan 10 ribu ternyata saya dapet banyak: kopi+snack di pagi hari, makan siang, kopi lagi, dan tentu saja ilmu yang Insya ALLAH manfaat. Pas masuk ke dalam saya celingak celinguk lagi buat nyari temen cekikikan. Eh, ternyata ada Ida ama Yogi, alhamdulillah. Adit ternyata semangat sekali, dia menempati jajaran tengah-depan!

    Di Tasha kita nggak nyobain satu game pun, soalnya penuh banget ama abege-abege.. Gengsi dong bareng mereka ngantri (masa’ itebe disamain ama abege! He33x). Jadinya kita cuma kelalang-keliling aja, nongkrong di depan kolam berempat dan menghabiskan Conello, sambil melihat iri sinis-skeptis pada orang-orang yang lewat berpasangan (apalagi yang sendirian). Pasang tampang cuek, heran, sinis, gak percaya dan mikir: ngapain sih mereka? Kita ke stand game cinta, males soalnya ngantri. Ke sepeda cinta, ngantri juga. Ke dokter cinta, ngantri lebih panjang (terbukti, lebih banyak orang yang bermasalah dengan cinta daripada senang bermain cinta atau sepeda-sepedaan cinta!). Ke panggung utama, dengerin lagu jadul Amy Grant, terus masuk stand lagi yang gratisan. O iya, ada juga Wishing Well. Kita bisa nulis harapan kita (kata panitianya, “harapan tentang cinta”) dan nanti ditampilin di layar yang bertebaran di Tasha. Tapi di layar yang saya baca kok rada aneh ya harapannya: IP bagus, lulus kuliah…halah…Panitia jelas salah bikin acara depan ITB!

    Di seminar nggak ada game-game-an. Cukup duduk, diam dan dengar. Ngobrol, bertanya, dan cekikikan pada saatnya. Pembicaranya ternyata asyik (yaaa…materinya juga sih). Nggak ada masalah cinta, yang ada studi kasus pernikahan. Nggak perlu juga memandang sinis-skeptis pada yang berpasangan, lah wong judul acaranya aja “Seminar Pra Nikah”…ya yang datang belum pada nikah. Jadi paling kita menertawakan nasib diri sendiri, he33x.

    Di Tasha ada Kerispatih yang tampil live. Kita berempat ke samping panggung dan nonton, tentu saja berjauhan dengan abege-abege, dan tetap dengan tampang yang sama skeptisnya. Di depan saya ada abege 25 tahun (nah lho, bingung kan? Maksudnya abege dengan tampang 25-an, he33x) dengan dandanan aneh, setidaknya menurut teman saya. Di depan kita juga ada beberapa perempuan bukan abege dengan baju seragam biru. Hoo, ternyata pegawai-pegawai di kantin Salman juga ikut nonton Kerispatih…Saya nyari anak asrama Salman, alhamdulillah nggak ada. Nggak perlu juga sih, soalnya dari jendela mereka juga panggung+kerispatih-nya keliatan = p. Karena temanya cinta banget, jelas Kerispatih juga nyanyi lagu cinta. Pas mau nyanyi lagu yang ada “Khiaaaanaaaaaatiiiiiii, sebisa dirimuuuuu mengkhianaaaaaatiiiii” (mohon maaf mungkin panjangnya huruf tak sesuai dengan hukum tajwid), si vokalisnya ceramah tentang orang-orang yang dikhianati sebenarnya sama sekali bukan LOSER! Ceramah yang bahkan bikin Viar, yang paling Don Juan diantara kita, ilfeel dan makin mengernyitkan mukanya.

    Di seminar ternyata ada…Ebith Beat*A, yang ternyata bukan dijadwalkan tampil, tapi sesama peserta, hehehe. Ebith ga nyanyi saha ngaran maneh saha tapi lagunya yang laen, dan kayaknya rada grogi. Karena mendadak kali ya? Nah, kalau disini, saya melihat anak asrama Salman, alhamdulillah. Mungkin karena kali ini Ebith ga keliatan dan ga kedengeran dari jendela mereka = p.

    Abis bosen di Tasha kita ke MTI, soalnya ada briefing untuk acara swasta. Eh, dasar kita nggak tau malu juga, udah enak-enakan di Tasha, datang telat di briefing, protes pula…hihihi. Tapi kita tau diri kok, cuma nanya-nanya dikit aja. Lagian kan kalo kita merasa benar ya sampaikan aja, di MTI juga biasa kayak gitu. Malemnya, kita tepe-tepe bertanya sebagai swasta. Igun udah males duluan dan ngabur ke LSIK (nggak sesuai briefing, katanya. Tapi Igun datang pas evaluasi), Viar juga (tapi dia nitip evaluasi ke gw), Miftah udah balik dari tadi. Tapi demi melihat 2006 yang polos-polos saya memutuskan untuk bertahan (sebenernya sih karena posisi gw aja yang salah. Gw tepat di depan 2006, jadinya susah kalo kabur, hu33x…).

    Sementara di seminar sebenarnya masih ada satu sesi lagi, sayang mamah saya udah nelponin dari tadi dan nanyain mau makan bareng atau nggak. Mengingat saya lagi gak ada duit, ya saya mau-mau aja…= p. Jadilah saya tinggalkan juga seminar itu, ke acara keluarga…

    Yah, begitulah…busyet sebenernya gak penting juga gw nulis ini tulisan segini panjang, yang isinya cuma cerita-cerita doang dan kebanyakan “he33x”-nya (kenapa 33x? biar kayak dzikir! = p). Tapi nggak apa lah. Sekalian gw ngebuktiin juga ke Nizar, you see, nothing happened Bos, tuh gw bisa nulis kan? = p.

    Sorry kalo ada salah-salah kata, terutama buat pihak-pihak yang merasa didiskreditkan dan dibunuh karakternya disini.
    Igun, Viar, segera bayar utang! = p

  • Comments Off
  • Filed under: daily, kehidupan, me
  • Second Energy Booster


    Hum. Do You remember my previous posting bout caffeine dopping?? Yah, It's my primary dope. I have the second energy booster. I don't really like the taste, but it's proven effective fuelling me up. Anyway, If a cup of coffee can make me up until 2 in the morning, and if I'd like to go until the morning comes, I'll have a sip of this. YEA, YEA. A sip is fine. And!! I can go throughout the nite, and even when the morning comes, I can still have activities until the afternoon, without even having that drowsy groggy sleepless face NOR the straining muscles. Yea! WithOUT! Whew. It's one helluva energy booster! Why does it boost energy? Well, of course there are some scientific explanation, very reasonable ones. It happens to be one kinda protein that can be absorbed as energy almost 100% into the blood stream, unlike any other protein that's inefficient hence might cause cholesterol, fat, etc etc.Hei I'm no pharmacist.Read it here, along with other testimonies or about it's benefits...here

    I'll just tell you.

    It's VCO, Virgin Coconut Oil.

    ihihi..anyway. My family is using it. We're spreading the ..er.. so called 'elixir' to our relatives elsewhere. As we know, and we have witnessed it's effectiveness in everything. You name it! Curing Diebetes, Hipertension, Gaining Weight, Dieting, Muscle Strain, Whatever maladies may go. Of course, with a taste of FAITH. no no. just kidding (but of course it's needed)... ihihi... it really works! Try a sip once a day. And you'll feel the difference. And, it's safe! It might taste a lil...icky..hehe. but it's alrite. You only take a sip a day anyway. It's not like choking yourself with a jug of 'jamu kunyit'. You can even mix it up with your dishes. Just don't cook with it. It'd be useless.

    Anyway. a lil precaution. For you who DO have illnesses. Prepare for the reaction which might be..enduring. It works like detox. If you're healthy, then It would certainly boosts your energy. But when you're not, it detox your body. VERY effectively. So people might get skeptical in their--actually--remedition. But if not...HURRAY!! Then you ARE healthy as horse! hawehah...

    er...Do I sound like a salesman? hm? Neah..Hm...

    But, it's very important to choose a good oil though. The bad ones wouldn't stay long. It changes color, and taste bad. I always buy mine from Biology ITB. Good Ones. Cheers!! FOR HEALTHIER LIFE!! HOHOHO
    *pic : grabbed from flickr, by Jan. dunno who he is, BUt he's done Great Job on his photos! Salute!! and of course. stupid editting by me. just trying new things.
  • Comments Off
  • Filed under: good to know
  • Sisihan

    Saya belum menemukan padanan kata 'sisihan' dalam bahasa Indonesia. Sisihan adalah kata dalam bahasa Jawa (setidaknya dipakai di daerah saya, Madiun) dari kata sisih yang berarti sisi. Saksisih artinya satu sisi. Untuk mengungkapkan apa itu arti sisihan, saya akan memakai sedikit ilustrasi. Jika anda masuk ke sebuah ruangan, lalu mencopot sepasang sandal anda. Lalu anda keluar dari ruangan itu
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized