Teknik Industri ITB 2002

Sebuah aggregator blog..

Archive for March, 2007

Just wanna lay still

Sure I'd like to know where I'll be
who I'm taking lunch with
eight to five on the reports
and how the meeting goes

Hmm but as for now I'll just lay still

Sure I'd talk bout my future
Thousands hours in the zillion light years
Have I daughter or son
Cute grandaughter and sons too

In time, my dear
I'll answer all those question

As for now, leave me alone
I'll just lay still

Some fine day we'll go walking
Giggling, idle talking, sharing every feeling and moments
May, or may not be crooked, but sure hand in hand
Who are you? sure I'd know

as for now, I'd just lay still
...and close my eyes...
... for a moment ...

Later on there’ll be time for so much more
....

(while listening to Jamie Cullum's "But For Now")

Hhmmhh *sigh*...Why's the transition seems to tough, from 21 to 22? Well, it may not be the number afterall. Though I always thought 21 as...'I'm-only-twenty-something-leave-me-do-whatever-I want'. But now, it's totally different. My priority. and All stuffs. Heck all stuffs. What stuffs?... Hey don't blame me on my jobless state!
No No, it's just this year, 2007 is supposed to be grande for me. Well, I suppose everyone in the same stage of life as I am now is or has..or had experienced the same thing. You know. As if I'm now in a middle of a big junction. There are path I'd taken and I might don't wanna look back nor enter. There are also paths I'd taken, I'd miss taking those paths but goes to totally different direction, to those paths of my new goals. There'd certainly be paths where I think I'm now aiming at. Looking so bright on the other side. Hmm...lurking me to enter it...And of course there'd be paths behind those building I just cannot see just yet.
Anyway shouldn't I be too confused, coz afterall there's only one specific path made for us, aitee?!. But hey it's hard not to! coz I never know which is meant to be.
Talking bout those paths I give up upon. There had been many of my dreams that I'd turned my head away from. Well, suppose now I'll have to try to turn my head away once again. It's hard though...
What is it? hehee..nothing important. But it has been part of my dearly life, a BASIC routine for these last 8 years. Hell I'll miss it. But So Long Dear!
  • Comments Off
  • Filed under: life
  • Potret Pemuda Idola

    Belakangan ini postingan saya sangat personal. Kali ini tidak. Mari membahas lagi hal-hal selain tentang Lucky di luar sana.

    Banyak dari anda mungkin akan merasa hal yang akan saya bahas ini tidak penting. Tak apalah. Yang penting saya senang dan merasa ini merupakan topik menarik.

    Mari bicara tentang “potret pemuda idola”. Bagaimana? Tentu saja “idola” itu merupakan sebuah kesepakatan umum. Lalu bagaimana? Dari survey, gitu? Tidak, terlalu merepotkan. Karena ini tulisan yang tidak berpretensi untuk ilmiah, mari kita lihat (lagi-lagi) dari pop culture, ditambah dengan generalisasi kasar dan sangat brutal.

    Mari kita lihat dari film-film Indonesia. Lingkupnya tentu saja Indonesia, dengan lingkup waktu (lagi-lagi menggunakan pembagian seenaknya) per dekade, dari 70-80-90-00-an. Jangan lupa, generalisasi yang digunakan akan sangat brutal. Namun tetap arguable.

    Pemuda yang jadi idola adalah pemuda pecinta yang populer lewat film-film di zamannya. Itu tesis utamanya. Dari identifikasi peran yang dimainkan di film favorit, mari kita lihat seperti apa sih karakteristik pemuda idola itu.

    (btw, saya merasa judulnya bikin ilfeel. “Pemuda idola”…halah…tak apalah. Saya tak menemukan kata-kata lain yang lebih bagus).

    Tahun 70-an, zaman ibu-bapak saya muda, yang jadi potret pemuda idolanya adalah Roy Marten. Asli deh, menurut cerita yang saya dengar dan banyaknya film Roy Marten saat itu, saya mendapat gambaran bahwa dia itu bener-bener idola sejati! Nah, emang gimana karakter yang biasa dimainkan Roy di film-filmnya zaman dulu? Karena film juga representasi selera populer masyarakat, maka ini pula yang dianggap potret yang harus dicontoh oleh para pacar gadis-gadis zaman itu. Jadi gimana?

    Kalau diingat-ingat lagi, citra Roy dulu itu seorang playboy…Pria ganteng, womanizer sejati, pecicilan, dengan kata-kata indah yang sekarang sih gombal banget. Biasanya nih playboy hinggap dulu di beragam bunga, sebelum ketemu dengan perempuan yang dia benar-benar cinta, dan akhirnya nih playboy takluk. Kata-kata indah, tampang ganteng dan necis: sangat penting (dulu).

    Mari beranjak ke tahun 1980-an. Siapa? Tahun 70-an ada Roy, tahun 80-an hingga 90-an awal adalah masanya…si Boy. Film “Catatan si Boy” benar-benar fenomenal: ada 5 (!) seri, syutingnya di luar negeri dan sangat mewah, serta ditonton banyak orang (untuk ukuran zamannya). Emang gimana sih mas Boy ini? Mari dengarkan original soundtrack-nya dari Ikang Fawzi: Baik hati dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar, oh Boy! Kedengeran seperti Pramuka? Apa boleh buat, memang liriknya seperti itu, dan dalam film-filmnya juga dicitrakan Boy memang seperti yang dinyanyikan. Ia baik hati, kaya, tapi masih mau bergaul dengan siapa saja (tidak sombong). Jagoan pula: suka ada adegan berantemnya, dengan preman-preman atau orang jahat. Mas Boy ini dikeroyok, tapi tetap menang! Jagoan deh. Terus pintar, kuliahnya di luar negeri (kalau tidak salah di UCLA). Tambahan lagi, Boy ini biar kaya, ganteng, pintar, tapi lumayan religius: di kaca spion mobilnya selalu tergantung tasbih dan ditunjukkan stiker ALLAH-Muhammad… Kali ini senjata Boy bukan lagi tampang ganteng dan kata-kata indah, tapi sikap yang gentleman, baik hati dan tidak sombong…

    Tahun 1990-an tengah…Rasanya tak ada figur yang jadi idola. Iya lah, saat itu film Indonesia dipenuhi kata-kata “ranjang”, “sex”, “gairah”, dan lain-lain. Film-film dewasa, dengan pemeran pria yang asal ada (dalam film begituan, yang penting itu aktrisnya kan?).

    Nah, maraknya film Indonesia juga memulai citraan baru tentang pemuda idola. Rangga di Ada Apa dengan Cinta?, terus peran-peran yang dimainkan Samuel Rizal. Agak beda dengan idola-idola zaman dulu yang gaul, supel, terus agak-agak playboy, idola zaman 90 akhir-2000-an ini bukan tipe cowok yang asyik. Tipe-nya itu cool, agak freak, tapi tetap ngganteng, sehingga bisa tetap jadi idola dan tidak memalukan disandingkan dengan Shandy Aulia atau Dian Sastro. Rata-rata para idola baru ini tidak banyak omong (minimal pada awalnya). Tidak banyak juga mengumbar kata cinta. Jika mengumbar pun, akan keliatan groginya. Tipe pria yang agak susah mengucapkan dan tak mengobral kata-kata cinta, tapi ketika mencinta itu serius sekaleee…

    Karena saya juga hidup di zaman mereka jadi idola, jadi saya bisa merasakan semangat yang ada. Buat para cewek jelas: klepak-klepek…Aduh, ganteng ya…Cool banget! Buat para cowok: benci. Dianggap banci (padahal hanya manifestasi rasa iri…hehehehe). Reaksi setiap cewek pada tiap zaman terhadap para idola ini mungkin sama: cinta! Saya tidak tahu reaksi cowok pada zaman masing-masing, tapi zaman ini saya tak pernah ketemu pria yang mengidolakan Samuel Rizal atau Nicholas Saputra…yang ada mencibir. Biasalah, iri tanda tak mampu.

    Bagaimana figur idola selanjutnya? Entahlah. Kemarin saya nonton Badai Pasti Berlalu, dan citraan Leo yang ingin ditampilkan juga lebih 1990-an, daripada om Roy di film pertamanya. Sekarang gak terlalu pecicilan, dan agak-agak cool. Jadi pergeseran citraannya ke idola selanjutnya masih belum kelihatan. Oh iya, denger-denger Ayat-Ayat Cinta akan difilmkan. Kita lihat apakah figur Fahri, protagonis pria dalam kisah itu, bisa menjadi potret idola baru.

    Kalau iya, kabar baik buat para pria. Poligami bisa direstui para wanita (asal anda sekualitas dengan Fahri…=p).
  • Comments Off
  • Filed under: Indonesia, film, pop culture
  • Aku Juga Sayang ia …

    Di matamu masih tersimpan
    Selaksa peristiwa
    Benturan dan hempasan terpahat
    Di kening mu

    Kau nampak tua dan lelah
    Keringat mengucur deras
    Namun kau tetap tabah

    Meski nafasmu kadang tersengal
    Memikul beban yang makin sarat
    Kau tetap bertahan

    Engkau telah mengerti
    hitam dan merah jalan ini
    Keriput tulang pipimu
    Gambaran perjuangan

    Bahumu yang dulu kekar
    Legam terbakar matahari
    Kini kurus dan terbungkuk

    Namun semangat tak pernah pudar
    Meski langkahmu kadang gemetar
    Kau tetap setia

    Ayah...
    Dalam hening sepi kurindu

    Untuk...
    Menuai padi milik kita

    Tapi kerinduan
    tinggal hanya kerinduan
    Anakmu sekarang
    banyak menanggung beban

    Titip rindu buat Ayah
    Oleh Ebiet G. Ade



    Mendengar kembali lagu yang dibawakan oleh kang ebiet ini membuka kembali memori saya ketika pulang liburan kemarin. Ketika itu, sepulangnya saya dari Islamic Book Fair di gelora Bung Karno, adik saya dengan sigapnya membuka bungkusan berisi buku-buku (novel sih lebih tepatnya) yang saya beli di book fair tersebut. Karena kocek terbatas dan memang sedang merencanakan sesuatu, saya hanya membeli dua buah novel.

    Novel pertama judulnya Ketika Cinta Bertasbih buah karya Habiburahman El-Shirazy, penulis yang selalu menghadirkan getaran ketika saya membaca karya-karyanya. Karya beliau sebelumnya yang sangat fenomenal berjudul Ayat- Ayat Cinta memberikan semangat tersendiri ketika membacanya. Tapi kali ini saya tidak ingin terlalu jauh membahas tentang kang Abik, panggilan akrab Habiburahman El-Shirazy dan karyanya.

    Novel kedua yang saya beli judulnya Moga Bunda Disayang Allah karya tere-liye ( ga tau apakah ini nama pena atau nama sebenarnya). Saya tertarik dengan novel ini karena teringat bahwa ia juga pernah menelurkan karya yang fenomenal berjudul Hafalan Shalat Delisha. Sangat fenomenal menurut saya, karena ketika membaca novel tersebut, segenap emosi saya bermain, tercampur aduk, sehingga tak jarang tenggorokan saya jadi tercekat menahan kesedihan membaca penderitaan bocah kecil korban tsunami Aceh, juga tersenyum ketika membaca tingkah lucu bocah kecil tersebut. Tapi bukan itu yang ingin saya angkat.

    Yang membuat saya menulis kali ini adalah sebuah memori ketika saya dan adik saya membuka dan membaca judul novel kedua yang saya beli, dengan spontan adik saya menyebutkan judul novelnya Moga Bunda Disayang Allah. Ketika itu, di ruang tempat kami biasa berkumpul, ternyata juga ada bapak saya yang juga dengan spontan mengatakan

    "ko cuma bunda doank sih yang disayang Allah? Bapak juga mau donk."

    Ungkapan yang sederhana, namun terasa dalam juga maknanya. Saya sempat bengong ketika itu. Memang, selama ini dalam konteks birrul walidain, berbuat baik pada orang tua, Ayah sering dianggap menempati posisi sekunder dalam hal prioritas bakti kita. Disebutkan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Bahkan Rasulullah mengatakan dalam hadits nya bahwa ia menyebutkan ibu...ibu...ibu hingga ketiga kalinya barulah menyebutkan ayah ketika Rasulullah ditanya tentang prioritas cinta kita etelah pada Allah dan Rasul-Nya.

    Bukan berarti saya hendak meremehkan peran ibu yang telah mengandung saya selama kurang lebih sembilan bulan. Juga bukan hendak meremehkan peran ibu yang menyusui saya apalagi hendak membandingkan peran antara mamah dan bapak saya. Bukan karena saya lelaki yang kelak nantinya juga akan menjadi seorang ayah.

    Saya hanya ingin mengatakan

    "Sayangi juga Ayah ku ya Allah"
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Jazzy-Frenzy!!

    the beauty of photoshop
    Wuuohhooo!!! RRAaaaahhh!!!! JAMIieee!!!!

    *euphoria mode - on*
    JavaJazz, 4th march 07
    =A Photo collage from my ewh...stupid camera...=
    = so sorry I was not armed : but It was GREAT!! FUN FUN=


    Want more photos? Also see my tabblo on the show, here
  • Comments Off
  • Filed under: rendez-vous
  • Peneliti Perempuan Muda

    Catatan dari wisuda ITB 3 Maret 2007

    Sekitar 4,67 tahun masa kuliah saya akhirnya secara resmi diakhiri pada Sabtu, 3 Maret 2007 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) . Selama kuliah di ITB, saya selalu diajarkan untuk menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya diajarkan untuk menulis kalimat-kalimat yang baik, tidak ambigu, singkat, dan tepat.Sewaktu Tahap Persiapan Bersama (TPB, tingkat satu), ada mata kuliah khusus yang menekankan tentang ini. Dulu namanya Bahasa Indonesia, sekarang namanya lebih seram lagi dalam menekankan pentingnya menulis dengan baik ini: Tata Tulis Karya Ilmiah. Saya hanya mendapat B, maka maklumi saja kalau Bahasa Indonesia saya tak terlalu baik, apalagi jika menulis.

    Tapi coba baca kalimat ini:

    Dr. Fenny, sebagai salah seorang wakil dari Asia pasifik, merupakan perempuan kedua dari Indonesia yang mendapat beasiswa serupa yang biasanya setiap tahun diberikan kepada 15 peneliti perempuan muda dari lima benua.

    Aan, teman sebelah saya ketika di Sabuga, dengan teliti segera menyadari lucunya kalimat tersebut. Peneliti perempuan muda?

    Kalimat itu saya kutip apa adanya dari Sambutan Rektor ITB pada Wisuda Lulusan ITB. Saat itu, Pak Djoko sedang bicara tentang prestasi warga ITB. FYI, Pak Djoko ini Profesor, yang terbitan karya ilmiahnya tentu lumayan banyak.

    Namun, kalau kalimatnya seperti itu sih, saya rasa itu bukan prestasi. Peneliti perempuan muda? Teman-teman pria saya yang heteroseksual pun bisa…Bahkan akan dengan senang hati meneliti perempuan muda. Topik penelitiannya pun bisa kami pertajam: meneliti perempuan muda yang menarik. Untuk lebih memperumit dan memberikan kontribusi lebih secara akademis, saya mengusulkan meneliti perempuan muda yang menarik untuk dijadikan pasangan hidup. Jadilah saya peneliti perempuan muda yang menarik untuk dijadikan pasangan hidup. Hebat!

    Lumayan, akhirnya ada yang lucu di wisuda ITB.

    Hal unik lain sewaktu wisuda di Sabuga: wisudawan HMM yang dengan tegar meneriakkan yell boys sewaktu resmi diwisuda (yang paling bertanggungjawab tentu saja orang ini), Aming Supriyatna (SR ’00), bintang Extravaganza itu, yang akhirnya lulus dan disambut meriah hadirin, serta fotografer gadungan yang menipu saya dan keluarga. Semoga diberi jalan yang benar oleh-Nya.

    Setelah itu, menunggu foto bersama, keluar dan disambut meriah anak-anak MTI, kabur dari perang air (sorry, tapi saya harus mengantar teman saya ke terminal…), makan malam bersama keluarga, acara malam wisuda MTI yang meriah, bertemu alumni tua dan menghabiskan malam di Dwi Lingga hingga jam 2.

    What a day!

    Alhamdulillah.
    Selamat buat semua wisudawan, semoga dapat menjadi alumni yang berguna.
    Mohon doa agar bisa istiqamah.

  • Comments Off
  • Filed under: Kuliah, Refleksi
  • Ruang Rindu di Kampung

    "Kamu sempetin deh pulang. Tengokin mamahnya"

    Waduh, tiba-tiba babeh nelepon beberapa menit menjelang jumatan kmaren. Ada apa ya?? Perasaan baru 3-4 minggu yang lalu saya pulang. Emang udah lama sih hehehehe

    Rada berat memang memutuskan untuk meninggalkan saat-saat berbagi kebahagiaan bersama teman-teman seperjuangan di hari yang sangat langka sekali bagi mereka. Di hari mereka dinyatakan secara resmi sebagai lulusan ITB.

    Tapi mau gimana lagi? Ridho ortu ridho Allah, gitu kata guru ngaji saya.

    Okeh, sabtu siang ikutan nyambut wisudawan, sorenya langsung ke Jakarta. Dua kewajiban terpenuhi, meski yang diharepin saya juga berkesempatan dateng acara malem tapi point utamanya sudah disampaikan di acara siang menurut saya.

    Sampe rumah Jakarta, malem,,,

    Wah, orang rumah pada kaget. Soalnye waktu ditelepon saya rada berat untuk nyanggupin pulang. Usut punya usut, ternyata babeh saya kayanye yang kanget banget ama putra keduanya ini (berdasarkan pengakuan dari adik manis saya) hehehehe…

    Seperti biasa, ketika kami berkumpul, selalu ngobrolin update tentang teman-teman masa kecil saya yang diceritakan mamah. Tentang si fulan yang berencana menikah dalam waktu dekat, tentang ibunya si fulin yang baru saja meninggal, tentang si fulon yang sudah bekerja di perusahaan x. Tentang betapa bangganya mamah ketika waktu kecil saya ditanya sama teman,"dit, sama mamahnya dikasih makan apa sih?kok bisa pinter gitu" hehehe, maklum kata orang anak ITB biar kate di kampus kaga sukses – sukses banget, kebanyakan dari mereka adalah jagoan di kampungnya :p sampe akhirnya keluar deh cerita kalo tadi siang temen-temen saya diwisuda.

    Sepertinya suasana mulai kaga enak nih ...

    Bener deh, mamah mulai mempermasalahkan keberadaan saya di kampus hehehehe

    "Padahal kan kalo mamah hari ini di bandung, mamah bisa kenalan sama orang tuanya si anu, orang tuanya si itu" begitu kata mamah.

    Waduh, ko tiba-tiba mo kenalan ama orang tuanya temen-temen??

    Akhirnya, dengan sedikit merajuk, dengan menyertakan pembenaran bahwa masih ada sepertiga dari angkatan yang masih bersama dengan saya :p jadilah resolusi pulang hari ini sebuah penyusunan kembali janji ke mamah bahwa saya usahakan akan memboyong mamah ke sabuga di bulan juli (setelah sebelumnya saya menjanjikan di bulan maret ).

    Bener kata temen

    "siapa tau pulang ke rumah bakal ngasi inspirasi buat semangat" hehehe thanx mudah-mudahan bertahan lama ...

    Ya Allah, berikanlah hamba Mu ini kekuatan, ketabahan, keistiqamahan dalam menjalankan segala rencana ini...

    Jauhkan dari rasa malas, rasa jenuh, rasa hampa...amiiiinnn
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • the beauty of photoshop

    Ihihihi....can you see the difference? I change into formal clothe in matter of layers. It's for my graduation photo. I have no mood on taking a new picture of me, So I have this instead.

    Yea Yea I'm a photoshop geek. So what?
  • Comments Off
  • Filed under: Uncategorized
  • Bits of Bliss. . . .=D

    Have you ever just sit, or drive, or walk aimlessly,
    no pretense, without rushing anything into your head...,
    or even anything outta your head...

    to be just the way all senses are supposed to be.
    just to s e e, to h e a r, and to f e e l...
    ...and to s m i l e...as your heart pleases...
    ...or disgusted...as your soul despise
    ...or to be stunned in awe...
    ...or...just..., ehm, .....nothing...

    Well, of course you have.

    Or else, you'd be a maniacly depressed...
    ... for not ever letting your senses breathes once and a while...

    No, No, Of course you're not. Well, at least for those without melancholic personality would find it a bit harder...hehe...

    Well i'm not. even little things can make me smile. and shrud for a while. People may say I'm weird for paying too much attention to such nifty things...so would they think. Hmm...

    Like I stop walking and just stand when the leaves fall from their twigs...

    Like I slow down my speed when I see bursts of sun rays shimmers in a morning haze...

    Like I always take glance to the vast green football field on my morning jog..wishing to just open my running shoes, run above it and just make both of my feet wet of morning dew...

    Like when I run in the morning, I look up upon the sky, to see whether Venus is still peeking from space out there...

    Like I shruds seeing two old couples hand in hand...

    Like I love seeing the reflection of traffic and car lights on wet asphalt in a cloudy after-rain-noon...

    Like how I could see kiddos from the street shivers behind my hazy windshield, with the red traffic light in the background...stunned. feel empty.confused.

    Like how I love to lay down during all night walk in the jungle, flexed my back and see the stars above...

    Like how I miss each full moon .... and if i get lucky, with the halo surrounds it.

    Like when I'm in high places, I imagine I jumped, rolled twice and fall like an acrobatic, paranoia, I know. I even see my body down there laying. in a very awkward position.

    Like how I could stand strenous exercise, to have my muscles all cramped up. Just to 'feel' that all are still intact. From head to toes and each finger tips.


    even a mushroom grows in a clover praire melts me down
    Like I jolted happily finding two twigs of mushrooms growing in a vast clover prairie by the seaside.

    Like I love to see plastic bag swirled by the wind caressing it...and just never hit the ground.

    Like I'm happy just to smile to a stranger, and to see their smiling face back at me.

    Like I dear to see birds flying in V-shaped formation...not over my head, please, though.

    Like I hate to see those kinda watch which slides incessantly. Not giving me any time just to stay and feel.

    Like I love to see children playing, without any burden whatsoever, smiles tugging on their innocent cute faces. So free.. hehehe...can I play too?

    Hhh...At these times, how much I wished I have my camera around, then I'd grab and capture the moment, the super brief persecond. Coz I know, my scattered brain wouldn't archive it better than my camera.

    I know it's so cliche...but It's NOT making anybody a lunatic, ain't it? --well of course there's boundaries...hehe--And anyway, everybody needs some quality idle time, don't they!

    So, Relax.

    Just sit, stay, still, or just slow down your pace and . . . . f e e l . . . .

    ***


    *ey, the list might grow...so come back later...

    we live only once on this bee-uu-teee-fyyuuuulll world. =D
  • Comments Off
  • Filed under: life, thought